
"Bibi.. buang kue ini!" Arka berteriak emosi, mata Oma sudah berkaca-kaca.
"Ada apa ini ribut-ribut." Tiba-tiba pak Anggara muncul dengan masih memakai pakaian rapi, karena ia baru pulang dari rapat dinas.
"Ayah lihat saja diatas meja!" Ketus Arka dengan nafas ngos-ngosan karena emosi nya yang meluap-luap.
"Loh Bu, ibu kan tahu Arka tidak suka Red Velvet." Ucap pak Anggara pada Oma.
"Jangan dibuang, sesendok aja cobain dulu rasanya." Oma mengiba karena perjuangan untuk membuat Red Velvet tidaklah mudah.
"Iya jangan di buang, itu Red Velvet dibuat penuh dengan rasa kasih sayang, dan Oma membuatnya pun penuh perjuangan, membuat Red Velvet bukanlah hal mudah bagi orang yang memang sama sekali belum pernah membuatnya." Kini Kalista keluar dari toilet, dengan muka yang fresh tanpa ada sentuhan make up sedikit pun. Sejujurnya Kalista kaget melihat cucu yang Oma maksud itu adalah Arka.
"Heran deh gue, kenapa Kalista ada dimana-mana ya?" Bisik Riko di telinga Andy.
"Bisa sulap kali ya dia." Kini Evan pun menimpali ucapan Riko.
"Dari pada berdiri, lebih baik duduk terlebih dahulu ya." Kalista mengajak mereka semua untuk duduk. Eh tunggu dulu deh.. Kalista kan disini juga sebagai tamu, kenapa jadi seperti tuan rumahnya ya?
Setelah semuanya duduk, kini Kalista memberikan segelas air mineral pada Arka. Arka menerima dan meneguknya sampai habis.
"Jangan marah-marah nanti tambah tua, cobain dulu deh ini tuh enak banget." Kalista menyuapkan sesendok kue Red Velvet kedalam mulut Arka.
"Jika kita punya pengalaman buruk di masalalu, sebaiknya dengan perlahan kenangan buruk itu dilupakan saja. Jika dirasa memang sulit untuk di lupakan, maka diri kita harus bisa memaafkan dan mengikhlaskan semua kejadian buruk itu. Karena terkadang memaafkan dan mengikhlaskan membuat hati menjadi lebih tenang. Apapun yang terjadi dengan masalalu itu, tetap saja kue Red Velvet tidak pernah salah." Kini Kalista memamerkan deretan giginya.
Arka tersenyum menatap Kalista. Gadis yang kini berada di sampingnya itu memang paling bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
"Maka dari itu, dua wanita kesayangan Arka pun harus mencicipinya." Arka merangkul Oma dan Kalista, Oma tersenyum lebar, sedangkan Kalista merasa gugup, karena dirangkul Arka dan karena ucapan Arka mengenai wanita kesayangan.
Arka menyuapkan Red Velvet ke mulut Oma, lalu ketika Arka akan menyuapkan ke mulut Kalista, Kalista menolak.
"Sebaiknya kan pak Anggara terlebih dahulu." Tolak Kalista karena merasa tidak enak oleh pak Anggara.
"Ini untuk ayah." Arka menyuapi pak Anggara. "Happy birthday nak." Kini pak Anggara merangkul Arka.
"Lu cobain lah, gue tahu ko Red Velvet ini elu yang bikin. Oma sih palingan bantuin ngancurin." Arka menyuapi Kalista, sambil bercanda melirik Oma.
"Memang betul seperti itu, Kalista sih jago banget ngoprek dapur. Wanita idaman untuk menjadi calon istri." Seru Oma dengan antusias.
"Oma setuju kan kalau Kalista jadi istri Arka?" Oma memangguk begitu juga dengan pak Anggara. "Oma sama ayah sudah setuju, tinggal tunggu tanggal mainnya aja Arka lamar Kalista."
Kalista kaget mendengar semua ucapan itu, sehingga kini Kalista menganga dengan mulut terbuka. Hal itu dimanfaatkan oleh Arka untuk menyuapi Kalista lagi.
__ADS_1
"Nah kan masih mau Red Velvet." Kata Arka yang berhasil memasukan kembali potongan Red Velvet.
"Ekhemmmm... Kita gimana ini nasibnya? Di undang jadi penonton doang? Masa kita nggak di suapi kue?" Protes Evan yang memang ingin mencicipi kue buatan Kalista.
"Ya ampun Oma lupa kalau disini ada kalian, silahkan sayang potong sendiri saja ya kue nya." Oma tersenyum pada Evan, Andy, dan Riko.
"Ah Oma kita di lupakan." Sekarang Andy yang protes.
"Lebay deh! Udah sana cobain kue buatan calon istri gue." Arka kini terang-terangan menyebut Kalista sebagai calon istrinya.
"Calon istri apaan woy? Belum tentu Kalista mau." Andy mencibir.
"Tentu saja tidak mau, karena pak Arka kan sudah mempunyai calon istri, apalagi kan Bu Yoora itu model terkenal mana bisa di bandingkan sama saya?" Kata Kalista sambil tersenyum simpul.
"Kamu masih kencan sama wanita Korea itu?" Sorot mata Oma menatap tajam Arka.
"Ayah tidak suka! Putusin hubungan kalian!" Kini pak Anggara berbicara tegas dengan penuh wibawa.
"Ngaco deh kalian ini, siapa sih Yoora? Gue nggak kenal." Jawab Arka santai sambil terus-terusan menjejalkan Red Velvet kedalam mulutnya.
"Udah-udah mending sekarang kita makan aja, sayang loh nanti makanannya keburu dingin." Lagi-lagi Kalista lah yang mengambil alih dan mengatur mereka semua.
Kini semuanya nampak sibuk dengan makanannya, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berduet menyelesaikan tugas mereka. Mereka semua makan dengan sangat lahap, bahkan kini di meja hampir tidak ada sedikitpun makanan yang tersisa.
"Enak banget masakan cah ayu." Oma memuji masakan Kalista.
"Arka aja sampai nambah berkali-kali tuh ma." Celetuk Evan.
"Elu juga sampai nambah kan bodoh? Diam dah gue sedang menikmati makanan enak." Gerutu Arka yang memang belum menyelesaikan makan nya.
"Aduh kalian ini ribut terus." Protes oma.
"Eh ini gimana ceritanya cucu Oma kenal sama Kalista? Coba Oma pengen dengar"
"Kalista sekretaris di kantor Anggara ma." Ucap Arka.
"Oh jadi ini sekretaris cantik itu, nah Kalista juga sudah berkali-kali tolongin Oma loh."
"Setelah Arka jadi CEO, Kalista jadi sekretaris pribadi, itu loh bu anakku modus biar bisa dekat-dekat dengan sekretaris cantik itu." Pak Anggara makin menggoda Arka.
"Wah cucu Oma pinter juga ya taktiknya." Kemudian mereka semua tertawa, sedangkan Kalista merasa malu dan mukanya menjadi merah.
__ADS_1
"Kalista malu ya, mukanya merah." Ledek Andy.
"Bukan malu itu ndy, dia alergi Red Velvet makanya mukanya merah." Arka tersenyum menyeringai ke arah Kalista.
"Oma, Kalista pamit undur diri ya." Kalista bangun dari duduknya.
"Udah larut sayang, nginep aja ya." Pinta Oma sedikit memohon, karena Oma merasa senang hampir seharian ini menghabiskan waktu bersama Kalista.
"Nggak bisa Oma, besok kan ngantor." Kalista tersenyum.
"Kan bisa cuti dulu, ini nih yang punya perusahaan ada disini." Tunjuk Oma pada pak Anggara dan Arka.
"Bu, Kalista kan capek. Dia butuh istirahat, kalau disini kayanya nggak nyaman soalnya di godain Arka terus." Ujar pak Anggara.
"Yaudah nak, anterin Kalista pulang harus selamat sampai tujuan, pokonya harus aman dan nggak boleh lecet sedikit pun." Perintah Oma Weny pada Arka.
"Siap laksanakan!" Arka mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Ah nggak usah, Kalista nebeng di pak Evan aja."
"Ayo." Jawab Evan antusias.
"Nggak boleh! Harus gue yang anterin." Arka langsung mencekal pergelangan tangan Kalista.
Setelah berpamitan kepada Oma, kini Kalista sedang berada di mobil menuju apartment nya. Arka mengemudi dengan kecepatan rendah, palingan Arka modus biar bisa berlama-lama jalan bareng Kalista.
"Nanti balik lagi ke rumah ya pak?" Tanya Kalista berbasa-basi, karena Kalista cukup bosan berada satu mobil dengan Arka tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang memulai percakapan.
"Iya balik lagi ke rumah, kenapa kangen gue ya?" Kini Arka menaik turunkan alisnya dengan senyum seringai.
"Gila kali gue kangen sama playboy!" Cibir Kalista.
"Gue bukan playboy!" Sengit Arka.
"Oh iya, terimakasih ya untuk hari ini. Ini adalah ulang tahun gue yang paling berkesan dalam sejarah hidup gue." Arka tersenyum kemudian mengusap rambut Kalista.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤