SUN FLOWER

SUN FLOWER
Episode 8


__ADS_3

"Ini kan akhir pekan? Kamu...??!! Pacaran yaa...??!" Goda sang ayah


UHKHUKKK...


"iihh.. ayah.. eng.. enggak kok ayah...!! Bereneran.. Ana lagi lembur..!!"


"Iya gak apa-apa.. kenapa sih?? Ayah ngerti kok.. putri ayah kan sudah besar, gak papa pacaran juga.. ayah gak larang kok..!" Ayah Lantana belum menunjukkan akan menyerah


"Ish.. ayah.. apaan si?? Ana bilang kan temen yah,, temen.."


"Iya.. iya.. ayah dengar.. ayah maklum kok.. asalkan, jangan sampai kebablasan aja ya..."


UKHUKK..!! UHUKK..!! UHUKK..!!


Lantana bergegas mengambil segelas air mineral ke pantri dan segera menyodorkan gelas itu pada Vino yang sedari tadi tersedak Kuwaci yang sedang iya kunyah.


"Ampe kesedek gitu.. kalian sedang ngapain Ana??" Tanya ayah dengan menaikkan nada bicaranya dengan pura-pura marah


"Kan?? Ana kan bilang Ana sedang lembur.. teman ana lagi nemenin Ana.. ayah sih godain Ana mulu.. kesedek kan dia??" Ana kesal


"Tapi kok ayah gak denger suara kamu mijitin keyboard sih?? Emang lemburnya ngapain? Lagian kan ayah godainnya Ana, kenapa dia yang keselek??"


Doeng...


"Ana lagi istirahat dulu ayah.. pegel.. lagian kan ayah nelpon makanya Ana angkat.. dan panggilannya Ana loudspeak, makanya dia dengar ayah ngegodain makanya dia keselek tuh kan" Ana menjelaskan dengan sabar


"Oh..? Dia ganteng gak? Teman kantor kamu? Atau,, bos kamu?? At--"


"Ayaaaaaaahhh...!!! udah ah Ana tutup aja telponnya.. ayah makin ngelantur deh.. ZEBEEEELLL" rengek Ana


Ayah Lantana terkekeh khas bapak-bapak "iya.. iya.. enggak lagi.. enggak lagi... Ana udah makan??" Tanyanya kembali lembut


"Belum ayah.." jawab Lantana manja


"Hei, boy!! Masih dengar ayah?? Kamu kok jahat betul? Masa ngencanin putri semata golek saya gak ngasih makan sama sekali?? Ckckck.. Ayah gak larang kok kalo kalian mau weekend-an malam ini, tapi jangan sampai terlewat makan malam.."


"Bboy??" Ana tercengang memandangi ponselnya kemudian melirik Vino di sampingnya yang menganga sambil menahan tawa mendengar celotehan ayah Lantana "ke..? Kencan?? Ayaaaaahhh...!!" Lantana merengek lagi


"Ini sudah jam 9 lewat, jangan sampai pulang terlalu  larut ya.. Ayah tunggu kamu di rumah.."


"Tu.. tunggu?? Siapa yang ayah tu..? A.. ayaaaaahh" sebelum Lantana berhasil menyelesaikan kalimatnya, androidnya berbunyi 'tut' dan panggilan di akhiri. Aaarrrggghh.. Lantana menggeram kesal

__ADS_1


"Wah.. sepertinya saya udah dapat posisi nih di rumah kamu, hmm.. manis juga" Tatapan Vino tertuju pada raut wajah Lantana yang kesal dan penampilan yang acak-acakan.


Lantana diam karena kesal sama ayahnya. Dia kembali memegang kertas data dan menatap layar monitornya lagi. Vino segera meraih mouse di hadapan Lantana dan menekan menu save pada layar komputer. Kemudian menutup lembar kerja yang sedang aktif pada layar monitor sekaligus mematikan mesin komputernya. Kertas yang masih di tangan lantana dibereskannya dan di masukkan kedalam tas lantana. Lantana terpaku dengan mengangkat tangannya di atas keyboard. Vino berdiri dengan tas lantana di tangan kanannya, merapihkan meja kerja Lantana dan meraih pergelangan tangan Lantana lalu membawanya meninggalkan ruangan.


Vino mematikan lampu yang masih menyala di ruangan itu dan bergegas memasuki elevator dan menekan tombol sampai bashmant. Tangan Lantana masih di genggamnya tanpa tanda-tanda akan dilepaskan dalam waktu dekat


"Malam sudah semakin larut, saya harus ngasih makan putri ayah sebelum ayah menarik izin untuk mengencaninya lagi di lain waktu" tuturnya santai dengan menunjukkan seringai yang tidak lantana pahami


Lantana masih terjebak dengan tatapannya pada Vino dari samping. Lelaki ini sudah tidak pantas disebut Boy, karena beberapa tahun lagi usianya menginjak angka 30. Lantana bengong lantaran Vino malah menanggapi candaan ayahnya. Kali ini Lantana menyesal lahir dari ayah yang humoris. Kadang ayahnya gak lihat tempat dan gak ingat waktu kalo menggoda Lantana. Wajar, Lantana adalah putri semata wayangnya. Seharusnya Ana punya dua saudara, sayangnya satu abangnya meninggal sejak dalam kandungan, dan satunya lagi meninggal karena sakit waktu masih bayi.


Ayahnya memang tidak pernah segan untuk memanjakan Lantana, dan memberikan apapun yang Lantana minta. Sebab itulah Lantana menjadi gadis yang manja, meski ia mandiri dan cerdas karena didikan bundanya.


Vino menarik tangan Lantana hingga sampai di samping mobilnya. Ia membukakan pintu dan mendudukan lantana di dalamnya kemudian memberikan tasnya. Setelah menutup pintu, ia berlari kecil ke arah pintu kemudi. Kemudian duduk, menutup pintu dan memasang sabuk pengaman.


"Jadi makan apa malam ini??" Tanya Vino setelah gadis di sampingnya diam tanpa bicara


"Pulang aja.." jawab Lantana singkat


"Oke..." Vino menjalankan mobilnya keluar dari parkiran dan melesat di jalanan yang sudah mulai lengang.


Vino memasuki sebuah restoran yang buka sampai jam 12 malam. Ia mamarkir mobilnya di dekat pintu masuk dan melepas sabuk pengaman.


"Ayok..!" Ajaknya pada gadis yang sedari tadi diam


Saat ini jam sudah lebih dari jam 10, lewat 30 menit dari jadwal Lantana tidur. Dengan mata yang dipaksakan tetap terbuka, Lantana berusaha keras memakan makanannya. Matanya berbinar kembali ketika suapan pertama menyentuh lidahnya. Ahirnya Lantana makan dengan semangat tanpa bicara.


Setengah jam kemudian, Vino kembali mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota yang sudah semakin sepi. Perjalanan kali ini terasa sangat sepi, hanya terdengar deru mesin mobil yang menemani perjalananan mereka. Vino melirik Lantana yang sedari tadi anteng duduk di sampingnya.


Dilihatnya lantana dengan rambut yang acak-acakan namun tetap rapih. Ikat rambut dengan bandul bunga matahari bertengger lesu di atas rambut coklatnya. Kepalanya terkulai ke samping dengan tangan memegang tas di pangkuannya. Vino tersenyum melihat kegemasan Lantana. Bahkan di usianya yang sekarang Lantana masih bertingkah seperti anak kecil.


Vino memberhentikan mobilnya di halaman rumah Lantana yang tidak di lindungi pagar. Ia membunyikan klakson mobilnya sebanyak dua kali. Lampu ruang tamu terlihat menyala dari luar dan seorang lelaki berusia matang membuka pintu dan menghampiri Vino yang tengah menggendong Lantana menuju pintu rumahnya.


"Oh.. ya ampun.. ada apa dengan Lantana??" suara yang tadi terdengar dari telpon Lantana menghampiri dengan khawatir


"Lantana tertidur, Ayah.." jawab Vino dengan sopan


Ayah Lantana bergegas membuka pintu rumahnya lebar-lebar


"Oh iya ayah, tas Lantana masih di dalam mobil saya" kata Vino lagi


Ayah Lantana bergegas mengambil tas Lantana dan kembali menghampiri Vino, dan menunjukkan Vino ke kamar Lantana di Lantai dua. Rumah ini sangat sederhana dengan desain minimalis. Tidak terlalu luas tapi terdapat empat kamar tidur. Namun, yang dijadikan kamar tidur hanya tiga. Satu kamar di peruntukkan ruang kerja atau ruang santai. Kamar Lantana tidak terlalu besar. Hanya terdiri dari satu tempat tidur queen size yang menempel ke dinding. Satu lemari pakaian tiga pintu, cermin berdiri di sudut dan meja lipat di bawah lengkap dengan laptop dan terminal listrik di dekat tempat tidur. Jendela kamar cukup besar dan berpintu menuju balkon. Dan kamar ini dihiasi dengan banyak lampu tumblr berbentuk bunga matahari dan bercahaya kuning teduh. Sehingga ruangannya terasa hangat dan teduh. Di sudut lain terdapat pintu menuju kamar mandi.

__ADS_1


Vino meletakkan Lantana di tempat tidurnya dengan sangat hati hati. Seolah Lantana adalah benda lunak yang bisa hancur jika diletakkan terlalu Kasar. Ayah Lantana menyimpan tas lantana di gantungan tas yang tergantung di balik pintu kamarnya. Di sampingnya ada rak yang berisi beberapa buku terlihat dari kacanya yang transparan.


Vino mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar dan terperangah dengan kamarnya yang diprnuhi ornamen bunga matahari. Sampai-sampai ia melihat satu pot bunga matahari yang tersimpan di sudut dekat jendela. Setelah beberapa menit, Vino berpamitan pulang kepada ayah Lantana. Setelah keluar dari kamar kamar, Vino melihat seorang wanita dewasa dengan gaun tidurnya keluar dari dalam kamar di sebrang kamar lantana yang terhalang rak tv dan karpet berbulu dengan beberapa bantal di atasnya.


"Selamat malam, Bunda" sapa Vino sopan


"Malam" jawab wanita itu singkat "katanya Lantana lembur? Dia bohong kan?" Ada nada ketus yang mengiring kata-katanya


"Lantana memang lembur, Bunda" jawab Vino jujur


"Kamu siapanya Ana? Kok bisa pulang bareng kamu"


"Bunda, honey.. jangan galak gitu dong. Ini pria yang tadi nemenin Lantana sepertinya" Ayah membujuk bunda dengan halus "ternyata dia bukan boy, Bun. Udah dewasa ternyata" Bisik ayah yang jelas terdengar oleh Vino


Vino berdehem kemudian menjawab "saya adalah bosnya Lantana, Ayah Bunda. Tadi sebelum pulang kerja saya melihat Lantana masih berkutat di hadapan komputernya. Makanya saya temani dia dulu karena semua karyawan sudah pulang semua. Setelah ayah nelpon saya langsung mengajak Lantana pulang agar gak kemaleman. Ternyata Lantana tertidur di mobil setelah makan malam tadi sebelum pulang" Jelas Vino panjang lebar


"Kamu hanya bos anak saya?" Selidik Bunda


Vino hanya mengangguk


"Hm.. saya ragu juga kalo Lantana punya pacar. Dia kan kaya anak kecil ya ampun siapa yang akan mau sama perempuan yang manja banget kaya dia??" Bunda memijat batang hidungnya prustasi. "Oh ya! Kamu eh tuan udah mau pulang?" Tanya bunda dengan nada yang lebih ramah


"Panggil Vino aja bunda" kata Vino sopan


"Oh? Nak Vino.. oh ya, kok kita malah berdiri di sini?? Ayo Bunda sampe lupa nawarin minum" Bunda bergegas turun dari tangga yang berada di sampingnya.


Ayah dan Vino mengikuti dari belakang


"Hm.. tidak perlu  Bunda. Saya mau pulang saja" cegah Vino setelah sampai di lantai dasar


"Loh..? Kok udah mau pulang? Oh bentar lagi tengah malam ya?? Ya udah atuh maaf ya ngerepotin" Bunda mengantar Vino hingga ke pintu depan.


Vino membungkuk berpamitan lagi "tidak apa bunda, saya tidak repot kok" Vino tersenyum samar


Setelah membungkuk lagi Vino masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan klakson dua kali dan meninggalkan halama rumah Lantana.


Tbc


***


Sudah dulu yaa... udah kebanyakan nih...

__ADS_1


see ya next chap.. babay


 


__ADS_2