
"KEPO!" Kalista langsung menjejalkan satu sendok penuh bubur kedalam mulut Arka dengan paksa.
Arka berusaha mengunyah dan menelan bubur itu dengan susah payah, dan bubur itu lah yang membuat mulut Arka penuh sehingga sulit untuk berbicara.
"Suami pengen tahu wajar kan? Bukan masalah kepo, tapi ini mengenai hubungan dalam rumah tangga." Lirih Arka setelah menelan habis bubur di mulutnya.
Kalista mendelikkan matanya jengah, kemudian tersenyum sinis seraya berkata "Suami? Suami itu seharusnya bertanggung jawab terhadap istri dan kedua anaknya kan? Apakah kamu menjalankan peran sekaligus kewajiban kamu sebagai seorang suami selama lebih dari dua bulan ini?" Sarkas Kalista dengan tenang, sebenarnya Kalista ingin sekali berkata kasar dengan bentakan, tetapi Kalista masih menghormati Arka sebagai suaminya, lagi pula Arka juga sedang terbaring lemah.
Arka terdiam, yang di katakan Kalista tidak salah. Arka juga menyadari kesalahannya, jika saja dirinya bisa menerima keadaan dan tidak terpuruk terlalu lama, mungkin hubungannya dengan Kalista tetap harmonis seperti biasanya.
"Aku minta maaf, aku tahu aku salah. Aku telah mentelantarkan kamu dan kedua anak kita. Ini semua bukan mau aku, kamu bayangin aja deh, dari kecil hingga sesukses sekarang aku berada di bawah asuhan ayah dan Oma, tiba-tiba mereka pergi di panggil sang maha kuasa. Saat itu aku merasa hidupku benar-benar hancur, aku seperti kehilangan cahaya dalam kehidupanku itu. Tapi, aku terlalu bodoh, selain mereka berdua aku juga masih mempunyai cahaya yang lain, yaitu kamu, Nathan, Nayla, dan aku juga masih punya mama. Aku terlalu larut dalam kesedihan, sampai-sampai aku tidak memperdulikan yang lainnya." Suara Arka makin melemah, isak tangisnya semakin pecah. Saat ini Arka kembali mengingat ayah dan Oma, dan Arka juga kembali mengingat perlakuannya yang dingin terhadap kedua anaknya.
"Dari pas ayah dan Oma meninggal, aku selalu berusaha meyakinkan kamu bahwa ini semua merupakan takdir dan ketetapan dari-Nya. Kamunya aja yang keras kepala, sampai menyalahkan aku terus. Saat itu aku repot banget, harus ngantor dan ninggalin kedua anak aku. Pulang ngantor langsung ngurus anak, kamu ngapain aja? Diam di rumah, terpuruk, bersedih, tiduran. Setelah kembali kerja lagi ke kantor, eh enak banget makan siang bareng wanita cantik." Cibir Kalista, bibir itu semakin mencebik. Jujur saja, saat mengingat dan menyebut wanita cantik yang makan bareng Arka, hati Kalista bergetar dan emosinya mendadak meluap.
"Iya, tapi saat itu hati aku beneran lagi kalut banget. Bersedih atas kematian orang yang kita sayang itu sangat wajar bukan?" Arka berbalik tanya, tetapi pernyataan Kalista mengenai wanita cantik yang makan bareng itu sama sekali belum di tanggapi.
"Wajar, tapi terpuruk dan bersedih berkepanjangan itu tidak bagus. Kamu pikir alm.Ayah dan alm.oma bahagia melihat kamu seperti itu? Coba tolong berpikir jernih, di sini bukan aku saja yang menjadi korban, Nathan dan Nayla juga jadi korban. Tentunya kamu masih ingat kan dengan Nathan dan Nayla, oh iya takutnya kamu lupa, Nathan dan Nayla itu anak kamu, darah daging kamu, mereka berdua tuh butuh kasih sayang kamu." Ujar Kalista masih dengan nada juteknya.
"Iya aku salah! Aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada kamu dan kedua anak kita." Ucapnya dengan cairan yang menggenang di sudut matanya.
"Aku juga minta maaf perihal malam itu, sumpah aku menyesal seumur hidupku. Mungkin kamu berpikir aku adalah monster yang sangat dingin, tapi sayang ketahuilah, saat itu aku tidak mengira bahwa luka di dahi kamu itu cukup serius, dan aku semakin menyesal lagi tatkala mendengar dirimu pingsan di bawah guyuran air shower." Kali ini Arka benar-benar menangis, bulir-bulir air bening itu berjatuhan mengingat malam yang mengerikan itu.
Tetapi Kalista juga belum mau mengusap air mata suaminya, semua ini belum kelar. Kalista juga masih menginginkan beberapa penjelasan dari Arka.
"Soal wanita yang makan siang bareng aku itu? Dia klien aku, kita membahas bisnis kerja sama, setelahnya makan bareng. Tidak ada yang kita lakukan selain makan bareng itu." Arka mencoba menjelaskan mengenai wanita yang Kalista pergoki mereka sedang makan berduaan.
"Bukannya bertemu klien membahas kerja sama bisnis harus di hadiri Andy selaku Asisten pribadi, dan Gina selaku sekretaris. Kok cuma berduaan doang?" Sarkas Kalista dengan senyum sinisnya.
"Saat itu kerjaan kantor lagi numpuk banget, kalau misalkan Andy dan Gina ikutan sama aku, nanti kerjaan kantor malah semakin tertunda. Saat itu kita bagi tugas, Andy mengurus semua pekerjaan aku yang di kantor, aku pergi bertemu klien, dan Gina memang mengurus pekerjaannya." Arka berusaha menjelaskan dan meyakinkan Kalista.
"Oh gitu. Oke aku ngerti? Lalu malam-malam pergi kemana? Kok bau parfum kamu berbeda? Parfum dari siapa?" Tanya Kalista semakin mendetail.
"Pergi makan malam sekalian jalan bersama klien yang makan bareng aku itu, aku kan nggak enak kalau nolak ajakannya. Toh dia sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan Anggara, dan di sana juga terdapat keuntungan yang besar. Parfum itu juga dia yang belikan. Tapi, sumpah deh cuma makan malam sekalian jalan sebentar. Kami tidak melakukan apapun selain itu." Arka bersumpah agar Kalista percaya, apapun yang barusan di katakan Arka semuanya benar.
__ADS_1
Walaupun Arka telah bersumpah, tetapi pernyataannya barusan tetap saja menyakitkan bagi Kalista. Kalista merasa hatinya sesak, Arka begitu tenang menceritakan semua itu, tidak bisakah Arka tahu, bahwa Kalista merasa cemburu sebagai seorang istri. Istri mana yang bisa menerima suaminya makan dan jarang bareng dengan perempuan lain, sekalipun itu dalam konteks bisnis dan rekan kerja, tetap saja Kalista cemburu. Apalagi mengingat parfum itu, Kalista semakin merasa geram.
"Oh gitu. Parfum juga harus dia yang belikan kah? Parfum yang selalu aku pilihkan buat kamu, kamu sudah tidak suka? Selera parfum kamu berubah begitu saja karena wanita itu? Tapi, malam itu juga kamu pulang dengan wajah ceria. Wajah yang sudah lama tidak kamu perlihatkan padaku semenjak Oma dan ayah meninggal dunia." Sinis Kalista.
"Dia bilang sebagai hadiah kerja sama, masa aku nolak? Aku kan nggak enak sayang, parfumnya aku pake karena parfumku sudah habis, ini semua tidak lebih hanya untuk sekedar menghargai pemberian orang lain. Aku juga nggak bisa nolak ajakannya untuk makan malam bareng, lagi pula aku berpikir sudah seharusnya aku kembali menatap dunia yang luas ini. Malam itu aku merasa bahagia, bukan karena wanita itu. Tapi aku bahagia karena sudah lama tidak merasakan hatiku menghangat, dengan perlahan aku mulai bisa kembali lagi ke dunia nyata. Tapi ketika aku melihatmu, rasa sakit itu tetap masih ada, walaupun tidak sesakit dulu. Tapi aku..,"
"Cukup!" Kalista langsung bangkit dari duduknya, menaruh bubur diatas nakas. Kedua telapak tangannya terangkat menutupi daun telinganya.
Arka ini sebenarnya punya hati nggak sih? Katanya cuma menghargai pemberian orang lain, katanya nggak bisa nolak karena nggak enak. Tapi dari penjelasannya dia sangat bahagia jalan dengan wanita itu. Arka itu bodoh atau apa sih? Semua pernyataan itu kembali terngiang-ngiang di telinga Kalista. Tidak kah Arka tahu? Semua penjelasannya meremuk redamkan hati dan pikirannya.
Kalista bisa mengambil kesimpulan, bahwa Arka sebenarnya belum menyadari kesalahannya. Dan Kalista pun tidak akan meminta maaf atas kepergiannya dari rumah, toh ini semua kesalahannya juga kan? Kalista malah semakin geram pada Arka, Kalista menyiapkan obat yang akan di minum oleh Arka. Ini semua Kalista siapkan sebagai kewajiban seorang istri mengurus suaminya yang sedang sakit.
"Lalu kamu pergi kemana bersama Nathan dan Nayla? Siapa yang menjemput kamu? Kenapa kamu memotong rambutmu dan mengganti warna rambutmu? Siapa yang membelikan kedua anakku banyak mainan dengan brand ternama? Apakah kamu tahu status kamu itu masih istri sah aku?" Tanya Arka dengan murka, Arka juga menatap sorot mata Kalista tajam.
"Pergi ke mall, di jemput seseorang yang sangat menyanyi aku dan tidak pernah sedikitpun menyakiti aku, bahkan dia juga sangat sayang kepada Nathan dan Nayla. Dia bilang rambutku jelek, lebih baik ganti style dan warna juga. Yang membelikan banyak mainan Nathan dan nyala juga dia, Nathan dan Nayla tuh bukan cuma anak kamu, tapi anak aku juga. Kalau mereka berdua tidak ada di rahim aku, mana mungkin mereka berdua ada di dunia ini? Aku tahu, statusku masih istri sah dari tuan Arkana William Anggara." Kalista tersenyum manis ketika mengucapkan itu semua, jika Arka bisa jalan dengan wanita lain, Kalista juga bisa membuat Arka cemburu dan mati kutu walaupun sebenarnya yang jalan bersama Kalista itu adalah Gerry.
"Brengsek! Berani sekali pria itu membawa kabur istriku?" Teriak Arka dengan tangan mengepal.
"Kok kabur sih? Dia tuh jemput aku dan anakku, untuk diajak senang-senang, bukan kabur loh, dia juga anterin aku dan anak-anak pulang dengan selamat. Kaburnya dari mana sih?" Tanya Kalista sambil menatap Arka penuh kemenangan. Dalam hati Kalista bilang "Nah loh, cemburu kan?"
"Oh begitu! Silahkan! Aku akan bela dia mati-matian, nanti aku bilang saja, akulah yang menyuruhnya menjemputku." Ujar Kalista dengan senyum yang semakin lebar.
"Sebegitu pentingnya dia buat kamu? Lalu kamu anggap aku suami kamu tidak?" Bentak Arka sambil mencengkram rahang Kalista dengan kuat.
"Lalu wanita itu juga penting kan buat kamu? Kamu bahkan tidak bisa menolak ajakannya? Apakah kamu pernah berpikir bawah status kamu itu masih suami aku? Kamu itu tokoh pebisnis, kalau ada wartawan yang memergoki kamu sedang makan malam dan jalan bareng berduaan, apakah kamu tidak berpikir bahwa itu akan menjadi berita besar? Skandal seorang CEO perusahaan Anggara, lambat laun publik akan mencari tahu kerenggangan hubungan kita. Dengan perlahan perusahaan kamu dan sahamnya anjlok. Pernahkah kamu berpikir sampai sejauh itu Arka?" Ucap Kalista dengan bengis, bahwa Kalista juga melepaskan cengkraman tangan Arka pada rahangnya.
Arka melemah, matanya kembali berkaca-kaca, lagi-lagi apa yang telah di ucapkan Kalista semuanya benar. Arka tidak berpikir sampai sejauh itu. Arka kembali membaringkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit-langit kamar. Semua kesalahannya telah di ungkapkan dengan gamblang.
"Tapi, kamu juga tidak seharusnya menceritakan masalah keluarga kita pada pria itu, sama mama juga seharusnya nggak boleh cerita. Pahit manisnya rumah tangga kita, seharusnya kita telan bersama-sama, tanpa ada seorang pun yang tahu." Tutur Arka dengan lembut, Arka merasa Kalista juga bersalah karena telah menceritakan masalahnya.
"Kalista hanya datang ke rumah ini, bilangnya sih suruh menginap sama kamu, karena katanya kamu lagi banyak kerjaan di kantor. Udah gitu aja! Tapi di hari kedua dirinya berada di rumah ini, mama dan Dino merasa curiga. Karena selama dua hari itu dia tidak terlihat makan, kalau mama ataupun Dino yang ngajak makan, selalu saja alasan begini lah, begitu lah. Lalu mama mendesaknya dan memaksanya untuk bercerita pada mama. Jadi kesimpulannya, dia bercerita karena mama yang memaksanya. Dan di hari ketiga ini lah dirinya baru bisa ceria, dia pergi juga karena mama yang nyuruh. Karena mama lihat dia tuh kurang bahagia, di usianya yang masih muda ini Kalista terlalu banyak menyimpan beban. Bahkan wanita seusianya masih sibuk nongki-nongki bareng teman-temannya." Mama Lisa tiba-tiba masuk dan mengatakan yang sebenarnya pada Arka.
Arka terdiam mendengar penjelasan dari mama Lisa, Arka semakin malu pada dirinya yang terus menerus menyalahkan Kalista. Dulu Arka mengejek Kalista karena bercerita pada dokter Rian, ternyata Kalista tidak cerita. Sekarang Arka mengejek Kalista karena bercerita pada mama Lisa, ternyata Kalista bercerita karena desakan mama Lisa. Dan ada satu kemungkinan lagi, Kalista pasti tidak bercerita pada pria itu.
__ADS_1
"Maaf." Ujar Arka dengan manik mata sendu, Arka juga menggenggam erat jari jemari Kalista.
"Permisi Kaka ipar, kedua bocah kembar mulai rewel nih. Kayanya lapar sekaligus haus deh." Ujar Dino, yang baru saja datang dan menghampiri mereka bertiga. Di pangkuan Dino itu ada Nathan dan Nayla.
"Bisa minta tolong nggak ma, suapin mereka berdua makan. Sesudahnya kasih susu formula aja. Aku capek, badanku lengket mau mandi dulu." Ujar Kalista yang langsung melepaskan tangan Arka yang sedang menggenggam erat jari jemarinya.
Kalista langsung pergi tanpa ada persetujuan dari mamanya, Kalista juga sama sekali tidak mempedulikan tatapan mengiba dari Arka. Kalista masih merasakan sesak di hatinya, Kalista merasa sakit hati dengan semua ini.
"Dino, ambilkan MP ASI di dapur, selain itu bilang bibi bikinkan susu formula buat Nathan dan Nayla." Pinta mama Lisa.
"Emang bibi sudah bikin MP ASI nya ma?" Tanya Dino dengan alis terangkat sebelah.
"Sudah, tadi mama sudah suruh waktu kalian berangkat."
"Oke." Jawab Dino, Dino pun langsung keluar dari kamar ini.
Selepas kepergian Dino, Arka langsung bangun dan menciumi Nathan dan Nayla. Arka merasa telah kehilangan momentum kebersamaan dengan kedua anaknya, Arka kehilangan momen tumbuh kembang kedua anaknya.
Senyum Arka mengembang tatkala melihat Nathan dan Nayla begitu gembira berada di pangkuannya. Arka sama sekali tidak merasakan lemas di tubuhnya. Melihat Kalista dan kedua anaknya baik-baik saja juga sudah membuat energinya kembali bangkit.
"Sama siapa sayang? Sama ayah ya?" Tanya mama Lisa pada kedua bocah kembar itu.
"Ma, Kalista masih jutek. Kayanya Kalista belum memaafkan Arka deh." Ucap Arka pada mamanya dengan wajah sendu.
"Itu artinya dia tidak puas dengan penjelasan kamu! Coba di renungkan barang kali ada kata-kata kamu yang kurang berkenan di hatinya, atau memang kamu menyakiti hatinya?" Mama Lisa mencoba menjelaskan pada Arka, padahal mama Lisa dari tadi diam di balik pintu berusaha mencuri dengar semuanya. Dan sangat wajar sekali, Kalista masih jutek, toh penjelasan Arka ada yang menyakiti hatinya.
----------------------------------🌻🌻
Maaf agak pendek, tadinya juga mau up tadi malam, tapi ketiduran karena capek🙏
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤