
"Aku punya kejutan sayang." Arka menarik tangan Kalista keluar dari ruangannya.
"Bentar deh, aku ke kamar mandi dulu." Kalista mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Arka.
"Ngapain?" Arka memandang Kalista.
"Aduh itu.. aku.. kebelet pipis lagi, tadi banyak minum sih." Masuk ke kamar mandi dan mengambil gayung di pojokan sudut kamar mandi.
Kalista melihat testpack yang tadi dicelupkan ke air pipisnya, disana terdapat dua garis biru, Kalista memandangnya dengan mata berkaca-kaca, tak lama kemudian dia mengusap perutnya itu. "Jangan dulu bilang sama Arka, ini baru satu testpack takutnya tidak akurat, aku nggak bisa ngasih harapan palsu." Kalista memasukkan tespack itu ke dalam tasnya, memandang dirinya di cermin kamar mandi, kemudian keluar setelah mengusap bulir air bening dipelupuk matanya.
"Ayo." Begitu keluar dari kamar mandi, Arka segera membawa Kalista keluar dari kantor. Dan segera melajukan mobilnya ke tempat yang Arka maksud sebagai kejutan itu.
Gina melihat Arka membawa Kalista keluar kantor, dirinya memandang sinis dari kejauhan "Kebiasaan, suami lagi kerja emang harus nemenin istri terus? Cih merepotkan." Berkata lirih sambil merapihkan berkas-berkas hasil rapat tadi.
"Siapa yang merepotkan?" Andy yang berada tidak jauh dari Gina, sempat mendengar gumaman lirih si Gina. "Arka yang ngajak keluar mau ngasih kejutan, bukan Kalista yang minta. Kerja aja yang benar! Jangan terlalu ikut campur urusan boss dengan istrinya." Andy berlalu meninggalkan Gina, entah mengapa Andy merasa kalau Gina tidak menyukai Kalista.
"Cih ini lagi malah belain istri boss, apa sih hebatnya wanita itu." Batin Gina, sambil melihat punggung Andy yang kian menghilang dari pandangannya.
Sementara itu, Arka masih melajukan mobilnya ke tempat yang ia maksud. Di dalam mobil Kalista sibuk ngemil snack yang tadi di belinya. Selain sibuk nyetir, Arka pun sibuk memperhatikan istrinya.
"Beli permen yuppi sebanyak itu?" Arka mengernyitkan dahinya ketika melihat banyak permen yuppi di kantong belanjaan Kalista.
"Apa? nggak suka?" Kalista sedikit nyolot sambil memicingkan matanya.
"Nanya aja sayang." Arka mengusap pelan kepala Kalista.
"Kita mau kemana sih?" Tanya Kalista yang masih sibuk menjejalkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Rahasia." Arka mengedipkan sebelah matanya.
Mobil melaju membawa Arka dan Kalista memasuki kawasan perumahan elit. Kalista menatap Arka bingung sedangkan Arka tersenyum saja melihat istrinya kebingungan.
Ketika Arka turun dari mobil banyak sekali wanita-wanita yang memandangnya dan menunjukan senyum genit. Kalista merasa geram, akhirnya Kalista keluar dari mobil dan langsung menggandeng tangan Arka.
"Kenapa sih disini banyak wanita genit?" Gerutu Kalista sambil menggandeng erat tangan Arka.
"Kenapa? Cemburu?" Arka terkekeh geli melihat perubahan wajah istrinya.
Arka memegang bahu Kalista, posisi mereka berhadapan. Sepersekian detik berikutnya Arka langsung melumat bibir Kalista secara perlahan, hanya sebentar saja. Kalista melotot karena ini di tempat terbuka, dan banyak orang yang memperhatikannya. Setelah Kalista sadar, ternyata banyak sekali teriakan para wanita genit itu melihat live streaming adegan barusan.
"Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai setelah Oma, istriku sudah sempurna begini, apa lagi yang harus aku cari? Aku tidak tertarik dengan wanita-wanita itu." Arka menatap Kalista secara intens, memeluknya kemudian mencium keningnya. Tentu saja para wanita-wanita genit yang tadi memperhatikan Arka itu menjadi semakin iri pada Kalista.
"Uh suamiku." Kalista berjinjit untuk mencium pipi Arka.
Mereka berjalan perlahan, tiba-tiba mata Kalista membulat sempurna tatkala Arka menunjuk satu rumah yang sangat elegan. Taman bagian depannya di tumbuhi bunga-bunga matahari, dan bunga-bunga lainnya. Rumah super gede, 2 lantai, bangunannya terlihat megah dan sangat modern. Rumah ini di desain sesuai arahan Arka, khusus untuk di tempati dirinya dan Kalista.
"Rumah siapa?" Kalista masih memperhatikan bangunan megah ini, bertanya tanpa menoleh Arka.
"Rumah kita." Jawab Arka santai.
"Really?" Kalista membulatkan matanya sambil memandang Arka tajam.
"Iya sayang." Arka membuka pintu rumah tersebut, di dalam rumah itu ternyata sudah dilengkapi dengan berbagai macam perabot rumah.
Kalista memandang semua sudut rumah tersebut, sangat mewah dan elegan dua kata itulah yang ada di pikiran Kalista.
"Gimana?"
"Suka, makasih sayang." Kalista memeluk Arka dengan erat.
"Mau pindahan kapan?"
"Nanti dulu deh, ini lumayan agak jauh dari kantor kamu, dan aku takut kalau di tinggalin sendirian." Kata Kalista.
__ADS_1
"Oke." Arka mencium puncak kepala Kalista.
Setelah melihat rumah tersebut, Arka melajukan mobilnya kembali.
"Kalau kita nempatin rumah yang tadi, aku takut deh."
"Takut kenapa sayang?" Arka menatap Kalista sekilas, kemudian fokus menyetir kembali.
"Takut kamu tergoda wanita-wanita tadi." Kalista mendelikkan matanya jengah, cemberut sampai bibirnya maju.
Arka terkekeh, kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Nggak usah takut, aku tuh cintanya cuma sama istri aku doang." Arka mencium kening Kalista.
"Ko balik lagi?" Kalista bingung karena Arka putar arah.
"Mau kenalan sama wanita tadi, lupa nanya namanya, tadi kan lumayan ada satu yang cantik." Arka tersenyum genit pada Kalista.
Kalista tidak menanggapinya, matanya terasa panas, air di pelupuk matanya sudah menggenang dan terjatuh lah satu bulir air bening membasahi pipinya. Arka menoleh dan.. "Sayang kenapa nangis? Aku becanda loh, ish baper banget istriku." Arka menggenggam erat jemari Kalista.
"Aku putar arah, karena aku mengerti dengan pandangan mata istriku yang sangat menginginkan sate maranggi di ujung jalan sana." Kata Arka yang masih belum melepaskan genggaman tangan Kalista.
Mobil telah sampai, Arka dan Kalista turun dan langsung masuk ke warung makan tersebut, warung makan yang sederhana, menu utamanya adalah sate maranggi. Walaupun rumah makan ini sederhana, tapi pengunjungnya banyak loh.
"Pesankan aku sate ayam 15 tusuk, dan 20 tusuk sate sapi. Aku ke toilet dulu sayang, ingat matamu jangan genit."
"Siap." Arka mengacungkan jempolnya, kemudian memesan sate sesuai yang Kalista inginkan, dan memesan untuk dirinya.
Kalista masuk ke toilet, menampung pipisnya di gelas plastik yang Kalista temukan di dekat wastafel. Mencelupkan tespack dan mendiamkannya. Setelah 15 menit Kalista menunggu, tespack itu pun menunjukan dua garis biru.
Kalista terkejut dan mengusap perutnya. "Beneran hamil nggak ya? Duh takut juga jadi ibu muda. Nanti coba lagi dua tespack deh." Kalista menyingkap sedikit bajunya dan kemudian mengelus perutnya sambil memperhatikan dirinya dari pantulan cermin wastafel. "Masa hamil sih perut masih rata gini."
Kemudian masuk seorang ibu yang menggandeng tangan putrinya ke dalam toilet "Mbak hamil ya?" Tanya nya dengan senyum ramah mengembang menghiasai pipinya.
"Nggak tahu bu." Jawab Kalista tak kalah ramah.
"Iya garis dua, tapi belum tentu akurat bu."
"Segera di periksa mbak, di luaran sana masih banyak loh orang yang pengen hamil, tapi sama yang maha kuasa masih belum dikasih juga. Jangan menyia-nyiakan kehamilan ya mbak."
"Saya cuma takut saja bu, takut hasilnya nggak akurat nanti suami saya kecewa, sebenarnya saya juga belum siap hamil, usia saya masih muda."
"Periksa saja dulu, urusan akurat atau tidaknya itu urusan nanti. Nggak apa-apa jadi ibu muda, enak loh nanti mbak sama anaknya disangka Kaka adik."
"Makasih ya bu sarannya." Kalista tersenyum kemudian keluar dari toilet.
Seraya berjalan pun Kalista tetap kepikiran kata-kata si ibu "Haruskah kuberitahu Arka, atau nanti periksa dulu? Atau tespack lagi sampai 4 kali kemudian periksa, lalu kasih tahu Arka." Kalista berjalan sambil melamun.
"Sayang.. Ko ngelamun sih." Arka menghampiri Kalista kemudian menuntunnya menuju meja makan.
"Kamu sakit perut ya? Ko lama banget ke toiletnya?" Arka mengusap keringat di kening Kalista.
"Iya perut aku lagi nggak enak." Jawab Kalista berbohong, kemudian duduk. Ketika melihat di piring Arka ada nasi Kalista merasakan mual di perutnya, sampai ingin muntah.
Kalista mengambil satenya dan duduk terpisah, Kalista meletakkan satenya di meja dan duduk di pojokan. Arka merasa heran. "Jangan-jangan istri gue... Tapi gue nggak nanya dulu deh takut dia jadi terbebani." Arka tersenyum sambil memandang Kalista dari kejauhan. Piring Arka sudah bersih tiada tersisa sebutir nasi pun. Sedangkan Kalista masih sibuk menikmati satenya, "Makannya lahap sekali." Gumam Arka lirih memperhatikan istrinya yang sedang makan, berbeda meja.
"Boleh duduk?" Seorang gadis berseragam putih abu tiba-tiba duduk di hadapan Arka.
"Jangan duduk, nanti istri saya marah."
"Oh udah beristri ya? Maaf ya om." Gadis itu berdiri akan meninggalkan meja Arka, tapi sebelum gadis itu pergi Kalista lebih dulu menghampiri Arka.
"Duduk." Raut wajah Kalista sudah berubah masam dan kecut, suaranya pun dingin.
"Aku nggak gangguin suami Kaka ko." Gadis itu terlihat ketakutan.
__ADS_1
"Kamu sadar nggak sih masa depan kamu itu masih panjang! Kenapa lakuin hal kaya gitu?" Kalista menggerutu pada gadis itu. Arka sih diam saja, Arka paham ko sama gerak-gerik gadis itu.
"Aku terpaksa kak, ini juga di kasih tahu teman. Kata teman aku, katanya kalau main sama om-om nanti dikasih uang sama iPhone, tapi aku cuma mau uang doang ko kak, dan aku nggak jadi godain suami Kaka, maaf ya kak." Gadis itu terisak, suaranya parau dan air mata telah membasahi pipinya.
"Teman kamu sesat tuh! Nggak benar jangan diikuti!" Kini Arka yang bersuara.
"Baru pertama kali?" Tanya Kalista, gadis itu pun mengangguk. "Uangnya buat apa sih kalau boleh tahu?" Kalista mengusap punggung gadis itu. "Mama aku sakit kak, aku butuh uang buat bawa mama berobat, dan untuk bayar SPP aku juga." Gadis itu menyeka sisa-sisa air matanya. Kalista membuka dompetnya, mengeluarkan pecahan seratus ribuan sebanyak 10 lembar "Segini cukup?" Kalista menyodorkan uang tersebut. "Kebanyakan kak?" Katanya. "Ambil saja semua, siapa tahu nanti ada kebutuhan mendesak." Gadis itu menangis malah semakin kencang.
"Rumah Kaka dimana? Nanti aku bantuin beres-beres ya, anggap aja aku kerja dan uang ini sebagai upahnya."
"Nggak usah sayang, ini buat kamu. Kaka ikhlas ko." Kalista tersenyum.
"Istri saya ini luar biasa loh, di rumah juga nggak pakai jasa art, semuanya dia yang kerjakan." Arka menimpali.
"Kaka makasih ya sudah baik sama aku, semoga om dan Kaka segera di karunia momongan."
"Amiin." Arka mengaminkan paling kencang, "Om dan Kaka? Berasa tua banget gue." Arka terkekeh.
"Wajar, kamu 27 tahun kan sayang? Udah tua! Aku sih masih muda." Kalista menjulurkan lidahnya pada Arka.
"Dengerin Kaka! Kamu itu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Kamu adalah sumber harapan bagi orang tua kamu, jangan merusak masa depan kamu! Ingat ya dek main sama om-om itu bukan cuma sekedar main, tapi ada tanda kutipnya! Ada maksud dan tujuan tertentu, dan ada sesuatu hal yang harus kamu lakukan! Kamu tuh terlalu polos dek, belajar yang rajin! Banggain orang tua ya dek." Kalista menasehati gadis SMA itu.
"Iya kak, makasih ya. Semoga Kaka dan suaminya banyak rezeki, di sayang semua orang, dan cepat dapat momongan."
"Amin." Jawab Arka dan Kalista barengan.
"Aku pamit kak." Gadis itu menyalami tangan Arka dan Kalista dengan muka yang berkaca-kaca.
Arka mengemudi dengan wajah berseri-seri, melirik Kalista kemudian tersenyum. "Bahagia banget aku, punya istri yang baik hati."
"Saling tolong menolong itu penting."
"Oh iya sayang, nanti malam aku ada lembur, kamu mau nemenin aku kerja atau mau nunggu di apartment?"
"Nunggu di rumah Oma aja, sekalian nginep di sana, aku kangen Oma."
"Mau nyoba di kamar aku yang di rumah Oma ya?" Arka tersenyum mesum sambil menaik turunkan alisnya seperti sedang menggoda Kalista.
"Ish mesum." Kalista mencubit pelan pinggang Arka.
Mobil terus melaju, kini telah sampai di kediaman pak Anggara. Dari luar rumah terlihat Oma sedang menyiram tanaman.
"Oma." Kalista mencium tangannya, dan memeluknya.
"Aduh cucu menantuku." Oma mencium kening Kalista.
"Oma nitip istri Arka ya,lagi banyak kerjaan, kemungkinan lembur." Arka langsung melajukan mobilnya kembali menuju kantor.
Setelah kepergian Arka, Oma dan Kalista menghabiskan waktu bersama. Menonton televisi, ngobrol santai di taman belakang, dan membuat puding bareng. Mereka membuat pudding cokelat, Oma di buat curiga oleh semua tingkah laku Kalista hari ini yang mengatakan nasinya bau, mencium aroma green tea juga bau, bahkan Kalista sampai muntah ketika Oma sedang makan potongan buah mangga di dekatnya.
Setelah seharian ini menghabiskan waktu bersama Oma, Kalista merasa capek dan tertidur. Kalista tertidur sudah 3 jam, Oma mau membangunkan Kalista tapi tidak tega.
Jarum jam menunjukan angka 20:00 WIB, suara klakson terdengar dari halaman rumah, Oma segera membuka pintu dan menghampiri Arka "Istri kamu kayanya hamil deh!" Oma berbicara serius pada Arka.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Author rilis karya baru, judulnya "HOLANG KAYA" baca ya, silahkan klik profil author😊
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1