SUN FLOWER

SUN FLOWER
RENCANA BABYMOON


__ADS_3

"Gimana kabarnya bini lu? Sehat kan calon ponakan gue?" Tanya Riko.


"Baik, sehat!" Jawab Arka datar.


"Btw, Tiara kenapa ya perasaan tadi mukanya sendu gitu deh?" Evan memijit-mijit pelan kepalanya, dirinya sangat merasa penasaran tentang Tiara.


"Mana gue tahu! Kan gue udah bilang, gue bukan cenayang! Kalau lu mau tahu ya tanya aja sendiri, gitu aja kok di bikin repot." Arka mendelikkan matanya jengah.


"Apalagi gue nggak bakalan tahu! Gentle dong samperin tanyain halalin!" Celetuk Riko.


"Iya nanti gue tanyain!" Evan menarik napas, lalu menghembuskan ya secara perlahan.


"Pak permisi, saya izin pulang lebih dulu." Wanita yang bernama Risa, manager di Coffee shop milik Riko itu meminta izin pamit pulang.


"Iya." Jawab Riko.


Risa pun pergi meninggalkan coffee shop, langkahnya tergesa-gesa seperti sedang buru-buru.


"Gue merasa ada yang ganjal, rambutnya masih basah gue kira dia baru masuk kerja, shift 2 gitu. Lah dia malah izin pulang." Lagi-lagi Evan memberikan statement, pandangannya berfokus ke pintu sebrang jalan depan coffee shop.


"Dia tadi udah bilang, bapaknya lagi di rawat di RS, jadi dia izin pulang." Ujar Riko senormal mungkin.


"Ngapain lu? Serius amat natap layar ponsel." Evan menyikut lengan Arka, memang iya dari tadi Arka sibuk dengan ponselnya, tangannya tidak berhenti bergerak ke atas dan ke bawah, scroll scroll terus.


"Nyari tempat yang bagus buat babymoon sekalian honeymoon." Jawab Arka datar, pandangannya masih ke layar ponsel, sama sekali tidak teralihkan.


"Luar negeri atau dalam negeri?" Tanya Andy.


"Dalam negeri lah! Gue nggak berani bawa istri gue ke luar negeri dalam keadaan bunting, apalagi dia juga sering jetlag, gue nggak mau dia sakit atau menderita." Jawab Arka.


"Ini juga gue harus konsultasi dulu sama dokter kandungan, harus ke RS dulu gue. Mah tanya-tanya ke Fani takut ganggu, soalnya dia kan lagi honeymoon." Imbuhnya lagi.


"Rencananya mau kemana nih?" Tanya Riko.


"Labuan bajo keren loh." Jawab Evan antusias.


"Bali aja, gue kan ada villa di sana. Ini gue lagi cari tempat-tempat yang mau di kunjungi, gue mau bikin draftnya gitu, biar nanti di sana nggak banyak mikir dan buang-buang waktu." Ujar Arka.


"Benar tuh!" Riko.


"Pemuteran tuh keren banget, gue yakin bini lu bakal terpesona, betah, dan nyaman. Karena di Pemuteran tuh kerennya sangat-sangat real! Suasana hijau dan sejuk karena berada di kaki gunung dan suasana dekat pantai." Ujar Evan.


"Iya benar tuh! Lagian kan lu babymoon'nya sekalian honeymoon, tempatnya enak bro buat suami istri mah, kalau jomblo jangan coba-coba deh di sana dingin banget." Sahut Riko.


Arka kembali sibuk dengan ponselnya, dia langsung search Pemuteran. Dan ternyata emang benar-benar keren banget suasana disana, Arka melihat foto-foto orang saja langsung tertarik, Kalista pasti bakalan suka.


"Masuk nih ke salah satu tempat yang akan gue kunjungi." Ujar Arka yang masih memperhatikan desa tempat wisata itu yang berada di Bali barat.


"Tuh kan! Gue tuh emang paling jago rekomendasiin tempat wisata." Ujar Evan dengan sombongnya.


"Wadaw gila ini juga keren." Mata Arka membulat sempurna, terbelalak ketika melihat salah satu destinasi wisata.


Riko dan Evan pun mendekat, melihat takjub pada layar ponsel Arka.


"Keren sih, tapi yakali bini lu di ajak surfing." Riko pun mengerutkan dahinya.


"Nusa Ceningan emang keren banget, tapi kan tujuan lu babymoon plus honeymoon, pikirkan juga lah keadaan bini lu." Ujar Evan.


"Gue surfing, bini gue nunggu sambil menikmati suasana pantai. Kali-kali lah gue happy-happy, udah lama juga gue nggak surfing, udah lama juga gue nggak ke club malam." Arka tersenyum menyeringai.


"Sadar diri woy, udah punya bini masih mikir pengen ke club malam." Evan menoyor kepala Arka.


"Lah kan gue ke club malam nyamperin lu, gue cuma ikutan joget doang, sama sekali nggak minum dan nggak main wanita. Lagian apa sih yang gue cari di luaran sana? Wanita? Duh sorry banget bro bini gue cakep, pinter di bidang akademik, mahir masak, mandiri, ramah, periang, suaranya bagus, lebih utamanya sayang banget sama gue! pokoknya paket komplit banget bini gue." Jawab Arka antusias, Arka sangat bangga memiliki Kalista sebagai istrinya.


"Gue juga bangga punya Tiara." Evan menjulurkan lidahnya, kemudian menatap layar ponselnya. Wallpaper screen look nya menggunakan foto Tiara, sepertinya foto itu diambil dengan diam-diam alias tanpa sepengetahuan Tiara. Tiara berpose cemberut sambil menatap langit malam.


"Udah pacaran? Udah di ikat? Udah tunangan? Selama janur kuning belum melengkung masih bisa gue pepet kan? Gue mau langsung lamar dia biar cepat-cepat sah." Celetuk Riko dengan senyum menyeringai.


"Enak aja! Gue nggak terima! Daripada Tiara nikah sama lu, gue milih bunuh diri aja! Lagian sahabat macam apa yang nikung pacar sahabatnya sendiri." Ujar Evan dengan suara sengit dan penuh penekanan!


"Terhura gue! Ternyata cinta lu dalam juga ya bro!" Arka.


"Terharu woy!" Ujar Riko.


"Yaudah lu bunuh diri aja! Gue pengen sahabat gue berkurang satu, dan mati dalam keadaan belum nikah, belum merasakan surganya dunia. Gue pengen ngucapin turut berdukacita, tetapi sesungguhnya hati gue bersukacita." Jawab Arka sekenanya sambil terkekeh.


"Setuju gue!" Riko langsung mengacungkan jempolnya pada Arka.


"Wah parah lu!" Ujar Evan kesal sambil memutarkan bola matanya.


"Bercanda bro! Gila-gila baper banget sih." Arka menepuk-nepuk punggung Evan sambil tertawa.


"Bercanda lu nggak lucu!" Evan masih jengkel terhadap Arka dan Riko.


"Btw, gue boleh ikut ke Bali nggak?" Imbuhnya.


"Ngapain?" Riko spontan langsung menyahut.


"Ya mau ikut aja!" Jawabnya asal.


"Ngapain sih? Gue kan mau babymoon sekalian honeymoon, gue maunya berduaan, nggak mau ada yang ganggu! Kalau gue ajak lu, itu namanya liburan bukan babymoon! Pokonya gue nggak akan ajak lu!" Jawab Arka.


"Tahu nih bocah malah mau gangguin lu! Kenapa nggak liburan ajak Tiara aja?" Ujar Riko.


"Gue juga maunya gitu! Tapi kan Tiara pasti nggak mau kalau di ajak liburan, apalagi cuma berdua. Nah makanya gue pengen ikut sama Arka tuh biar Tiara ikut, secara gitu Kalista dan Tiara kan sahabatan. Kalau gue ajak Tiara udah pasti dia nggak mau, beda ceritanya kalau diajak Kalista pasti mau. Lagian gue nggak bakal ngerepotin kok sumpah deh, biaya Tiara gue yang tanggung semuanya, nggak bakal make duit lu sepeser sepeser pun." Jawab Evan pasrah.


"Bukan masalah duit, masalahnya gue cuma mau berduaan dengan bini gue, lu tau sendiri kan honeymoon gue gagal, karena waktu itu cuaca buruk dan bini gue mendadak sakit. Nah sekarang gue mau babymoon sekaligus honeymoon, mumpung momentnya pas."


"Gue lihat Tiara hari ini berbeda, kaya lagi ada masalah gitu. Tapi kalau gue tanya dia pasti jawabnya nggak apa-apa, nah sekarang gue pengen ajak dia liburan, hitung-hitung menghibur hatinya gitu. Please izinin gue sama Tiara ikut, gue berani sumpah gue nggak akan gangguin lu!" Evan mengiba pada Arka.


Helaan napas berat dan pasrah keluar begitu saja dari mulut Arka. "Yaudah nanti gue nanya Kalista dulu, kalau dia ngizinin ya gue bisa apa?" Jawab Arka sambil mengedikkan bahunya.


"Thanks you bro! Gue yakin bini lu ngizinin, secara kan bini lu orang baik." Evan memeluk Arka sangat erat.


"Lepasin beg*, gila kali nanti gue di bilang gay." Arka melepas paksa pelukan Evan.


"Sorry-sorry!" Jawab Evan yang langsung meneguk habis moccacino pesanannya.


"Btw, gimana penyelidikan lu tentang kecelakaan orang tua Kalista?" Tiba-tiba Riko bertanya perihal itu.


"Baru 70%, dan 70% ini pun mengarah pada seseorang yang memang sangat gue benci! Kalau udah sampai 100% dan gue udah cukup ngumpulin bukti gue usut kasus ini sampai ke pihak berwajib, tapi saat ini gue sewa detektif aja diam-diam. Untuk saat ini Kalista nggak begitu tahu, gue takut batinnya terganggu dan berimbas pada janinnya." Arka menarik napas, kemudian menghembuskannya secara kasar.


"Semoga cepat kelar, dan pelakunya di hukum dengan seadil-adilnya. Gue paham sama posisi lu, semoga bini lu selalu sehat." Riko menepuk punggung Arka.


"Thank you bro! The best emang lu!" Arka pun menepuk pundak Riko.


"Btw gue balik kantor ya bro! Jangan lupa lu cari cewe, jangan kelamaan jomblo!" Ujar Arka.

__ADS_1


"Main solo itu nggak enak bro!" Sahut Evan sambil mentertawakan Riko.


"Lu kali yang main solo? Gue mah nggak!" Ujar Riko tersenyum simpul.


Arka dan Evan pun meninggalkan coffee shop itu, Evan melajukan mobilnya menuju perusahaan Anggara. Karena selama perjalanan Arka sibuk dengan ponselnya, hingga kini ternyata mobil telah sampai di parkiran kantor.


Arka langsung melangkahkan kakinya menuju lift, keluar dari lift langsung berjalan menuju ruangannya.


"Permisi pak, ibu telah menunggu bapak di dalam?" Kata Gina.


"Istri saya?" Tanya Arka.


"Iya, ibu Kalista istri bapak." Jawab Gina sambil tersenyum.


Arka langsung masuk, begitu membuka pintu ternyata benar istri cantiknya itu sedang duduk di sofa sambil membaca majalah.


"Udah lama sayang? Kok nggak ngabarin sih!" Tanya Arka yang langsung mencium puncak kepala Kalista, lalu duduk di samping Kalista.


"Udah 35 menit, mau ngabarin tapi takut ganggu. Jadi lebih baik aku nunggu aja." Kalista menutup buku majalah fashion tersebut, lalu sorot matanya menatap Arka.


"Lain kali nggak boleh gini, istri cantikku nggak boleh nunggu, apalagi sampai merasa bosan. Merasa bersalah banget aku." Arka mengecup kening Kalista, lalu memeluknya sekilas.


"Akhmmmm." Arka dan Kalista tidak menyadari kehadiran Evan, padahal sejak turun dari mobil Evan mengikuti langkah Arka.


"Ganggu aja!" Kalista memutarkan bola matanya jengah.


"Tahu nih si jomblo!" Ujar Arka.


"Gue nggak jomblo ya! Ada Tiara!" Jawab Evan.


"Tiara mau di jodohin samapta bokapnya!"


"Serius? Gue nggak terima?" Sengit Evan.


"Dulu sih mau di jodohin! Nggak tahu feh kalau sekarang." Jawab Kalista.


"Makanya lu secepatnya ungkapan perasaan lu, terus lamar dia."


"Iya!" Jawab Evan. Kini Evan tengah duduk di sofa, pikirannya melayang memikirkan soal Tiara yang akan di jodohkan.


"Tumben banget datang ke kantor sayang."


"Aku buat pudding cokelat spesial buat kamu." Kalista langsung menyodorkan kotak makanan.


Arka mengambil, lalu membuka kotak makanan itu "woow, enak nih kayanya." Air liur Arka hampir menetes melihat pudding cokelat buatan istrnya.


"Lu mau nggak?" Tanya Arka pada Evan, namun sama sekali tidak ada jawaban dari Evan. Separuh jiwa Evan seperti sedang berada entah dimana.


"Lagi mikirin Tiara dia! Sampai ngelamun, ngenes banget." Kalista terkekeh.


"Udah kamu abisin dulu puddingnya, baru nanti ngomong lagi." Imbuhnya lagi.


Arka mulai memasukan sesendok demi sesendok pudding cokelat itu kedalam mulutnya. Sebenarnya Arka merasa kenyang karena telah minum kopi dan makan pancake di Coffee shop. Tetapi Arka akan selalu menghargai istrinya, ada waktu yang di habiskan untuk membuat pudding cokelat, dan ada waktu yang harus di bayar juga istrinya rela jauh-jauh dari rumah datang ke kantor membawakan pudding itu khusus untuk Arka.


Arka selalu merasa bersyukur mendapatkan istri seperti Kalista, dan Kalista juga lah yang bisa menghilangkan mimpi buruk yang dialaminya selama bertahun-tahun itu. Kalista tidak pernah mengeluh perihal jam tidurnya yang terganggu oleh mimpi buruk Arka, malahan ketika Arka mimpi buruk Kalista akan membuatkan teh hangat, lalu menenangkannya sampai tertidur kembali.


"Pelan-pelan aja! Nggak bakal ada yang nyomot kok." Ujar Kalista sambil mengelap sudut bibir Arka, karena Arka makan terburu-buru sehingga meninggalkan bekas di pipi dan bibirnya.


"Enak banget sayang, makasih loh." Kata Arka yang mutunya masih di penuhi pudding cokelat, kemudian menutup kembali kotak makan itu.


"Terimakasih istriku." Arka mengecup kening Kalista.


Evan gelagapan, lalu tersadar kembali. "Mikiran Tiara." Jawabnya lirih.


"Ngapain di pikirin? Samperin aja sana!" Kata Kalista.


"No no no! Ini jam kerja sayang, nggak boleh di ganggu! Lagian nanti apa kata karyawan yang lain? Imbasnya ke Tiara juga kan pasti jadi bahan pergunjingan sesama karyawan." Ujar Arka.


"Hmm iya juga sih." Kalista.


"Sayang babymoon sekaligus honeymoon yuk." Ajak Arka.


Seketika wajah Kalista berubah menjadi cerah seperti matahari ketika baru muncul di pagi hari, senyum manis itu telah menghiasai wajahnya. "Babymoon? Mau banget sayang." Jawabnya antusias.


"Ke Bali tapi ya! Kalau ke luar negeri aku takut kamu dan janin mu nggak kuat." Arka berkata pelan, Arka takut Kalista marah.


"Bali? Wow aku emang pengen ke sana." Kalista masih sangat antusias.


"Kita kesana seminggu ya! Destinasi wisata apa saja yang pengen banget kamu kunjungi?" Tanya Arka.


"Hmmm apa ya? Belum kepikiran sih. Tapi aku pengen banget makan di restoran Laci Bali, restoran milik chef Arnold, cheft terkenal itu loh." Ucap Kalista dengan senyum sumringah.


"Iya sayang. Nanti kita di sana babymoon, honeymoon, foto maternity, jalan-jalan, kulineran, pokonya explore seluruh tempat di Bali." Ujar Arka.


"Jangan lupa shopping!"


"Iya dong harus itu." Arka mengusak gemas puncak kepala istrinya.


"Aku boleh surfing nggak nanti?" Tanya Arka dengan ragu.


"Boleh lah, kenapa nggak? Surfing itu seru." Jawab Kalista.


"Serius"


"Iya serius?"


"Nanti kamu bosan sayang nunggu aku surfing?"


"Nggak bakalan, kamu aja berusaha membuat aku bahagia, masa aku ngelarang kamu surfing? Itu sama saja aku ngelarang kamu buat bahagia."


"Duh the best banget nih istri gue." Arka langsung ******* bibir Kalista secara singkat.


"Nanti aku bikin draft dulu, tempat-tempat yang akan kita kunjungi."


"Iya, terserah kemana saja! Asalkan sama kamu, aku pasti ikut."


Arka tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya itu.


"Gue boleh ikut nggak sih? Tolong lah! Gue nggak akan ganggu kok." Evan mengusap rambutnya gusar.


"Kenapa?" Tanya Kalista, bingung melihat sikap Evan yang frustasi.


"Gue mau ajak Tiara biar dia nggak murung."


"Eh Tiara kenapa? Gue belum ketemu dia hari ini."


"Nggak tahu! Tapi auranya beda aja, kaya lagi ada masalah gitu."

__ADS_1


"Hmmm, boleh?" Kalista melirik Arka.


"Terserah kamu! Aku ngikut aja! Asalkan honeymoon kita nggak ke ganggu!" Jawab Arka acuh tak acuh.


"Yaudah boleh." Kata Kalista.


"Seriusan? Ih gila benar-benar emang nyonya Arka tuh selain cantik tapi baik hati juga." Evan tersenyum sumringah, aura kebahagiaan muncul disana. "Terimakasih bro! Keren banget emang bini lu." Evan memeluk Arka sekilas.


"Itu juga kalau Tiaranya mau!" Ujar Kalista.


"Pasti mau kalau di ajak Kalista." Evan mengedipkan sebelah matanya.


"Widih ada apaan nih?" Andy baru saja masuk ke ruangan ini.


"Gue mau babymoon tapi si kampret malah mau ikut, sebal banget sumpah." Ujar Arka.


"Lu kalau mau ya ajak Tiara aja, buntingin dulu baru babymoon." Andy menoyor pelan kepala Evan.


"Yang ini beda urusannya." Jawab Evan.


"Ayo dong bilang sama Tiara! Gue butuh kepastian." Imbuhnya lagi.


"Sok-sok'an kepastian, Tiara lebih butuh kepastian! Sebenarnya Tiara lu jadiin apa? Lu ada rasa nggak sama Tiara? Kok perasan stalk di tempat aja." Cerocos Andy.


"Sabar dikit napa! Momentnya belum pas."


"Udah nggak usah ribut, berisik tahu! Sekarang minta tolong Gina panggilan Tiara biar ke ruangan ini." Perintah Kalista.


"Oke." Evan langsung melangkahkan kakinya ke luar ruangan, setelah selesai berbicara pada Gina Evan kembali masuk.


Kalista menyuruh Evan untuk masuk ke kamar, karena kalau sampai Tiara melihat Evan disini, sudah pasti Tiara nggak bakal mau ikut, Tiara pasti bakalan mengira bahwa Evan lah yang menyuruh. Walaupun memang Evan yang sebenarnya menyuruh.


Tok.. tok.. (suara pintu di ketuk)


"Masuk!" Perintah Arka.


Begitu Tiara membuka pintu, di ruangannya itu ada Kalista yang sedang duduk di sofa. "Bapak manggil saya?" Katanya sopan.


"Iya! Lebih tepatnya istri saya!" Jawab Arka sambil tersenyum. Kemudian Arka kembali ke kursi kerjanya, bergelut dengan setumpuk dokumen.


Tiara tersenyum, kemudian menghampiri Tiara dan langsung memeluknya. Kalista mempersilahkan Tiara duduk di sebelahnya.


"Liburan yu ke Bali!" Ajak Kalista.


"Hah." Tiara membelalakan matanya, kemudian terdiam untuk beberapa saat. "Kapan?" Tanya Tiara.


"2 hari lagi."


"Gue kerja kan ta, lagian lu liburan bareng pak Arka kan? Nggak mau ah gue takut ganggu." Ujar Tiara.


"Saya izinkan! Lagian saya takut istri saya merasa bosan, jadi saya butuh kamu di sana untuk menemaninya shopping, tahu sendiri kan pria selalu ambigu dan tidak asyik saat di ajak shopping." Kata Arka sambil terkekeh.


"Yaudah gue ikut! Makasih pak." Ujar Tiara tersenyum sumringah.


Tiara memeluk Kalista, Tiara membisikan sesuatu tepat di telinga Kalista. "Gila parah suami lu baik banget, ganteng pula." Ucapnya, "Awas lu kalau naksir! Gue mutilasi ya lu!"


"Haha nggak bakalan! Yaudah gue balik kerja lagi ya, nggak enak lah gue santai-santai di sini, sementara karyawan yang lain sibuk dengan kerjaannya masing-masing."


"Bentar! Gue mau nanya!" Kalista mencekal pergelangan tangan Tiara, sehingga Tiara pun duduk kembali.


"Ada apaan?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.


"Lu kenapa hari ini? Cerita sama gue!"


"Kenapa apanya? Gue baik-baik aja, apanya yang mau di ceritain." Ujarnya sambil tersenyum.


Namun Kalista tahu bahwa senyum itu senyum penuh kepalsuan.


"Jangan bohong sama gue!" Kalista menatap masuk ke dalam manik mata Tiara.


Tiara menghempaskan napasnya pasrah! "Iya nanti gue cerita! Tapi nggak sekarang ya. Ini masih jam kerja, gue karyawan di sini. Nggak enak lah sama pak Arka." Katanya, Tiara mengusap pelan punggung tangan Kalista.


"Yaudah kalau gitu, cerita apa-apa tuh, jangan di pendam!"


"Iya, terimakasih. Bangga banget punya sahabat kaya lu." Tiara memeluk Kalista, mencium pipi Kalista sambil cengir kuda.


"Pak terimakasih ya." Tiara membungkukkan badannya pada Arka, kemudian keluar dari ruangan itu.


Evan yang sedang bersembunyi di kamar, hatinya merasa senang dan bahagia, bagaikan banyak bunga bermekaran, senyum sumringah terpancar dari wajahnya. Karena sejak Tiara masuk dan berbincang dengan Kalista, Evan telah menanamkan telinganya dan mencuri dengar perbincangan mereka.


Evan keluar dari kamar, lalu duduk di sofa di sebelah Kalista. "Terimakasih ya nyonya Arka atas kemurahan hatinya, semoga persalinan nya nanti berjalan lancar." Ucap Evan.


"Iya pak Evan, lagian Tiara juga sahabat saya kan, akan saya lakukan yang terbaik untuknya."


"Nih dengar bini gue, kalau bukan karena bini gue, gue kayanya nggak bakal ngizinin sih. Ogah banget honeymoon gue di ganggu." Arka mendelikkan matanya jengah dan kesal.


"Sumpah ya pak boss gue nggak bakalan gangguin lu honeymoon, yakali lu lagi ena-ena gue gangguin, auto pengen dong gue. Lu mah berduaan aja terus sama bini lu, biarkan gue sama Tiara menikmati waktu berdua." Evan.


"Ingat ya! Kalian belum halal! Jadi nanti di sana sewajarnya aja, terus kamarnya harus terpisah." Celetuk Kalista.


"Nah benar tuh!" Arka.


"Astagfirullah yaAllah Gusti, iya gue tahu gue paham gue mengerti! Gue nggak bakalan apa-apain anak gadis orang." Evan berkata setengah kesal.


"Bagus kalau lu paham!" Arka.


"Btw gue kapan di kasih waktu berduaan sama Gina? Tiara hanya karyawan biasa loh? Enak banget dia dapat liburan ke Bali, gue yang notabene nya asisten pribadi lu, kok nggak di ajak liburan?" Sahut Andy, tapi matanya sama sekali tidak melirik Arka, Kalista, dan Evan. Jari jemarinya pun sibuk menari-nari diatas keyboard komputer.


"Sirik aja si kampret." Evan terkekeh mentertawakan Andy yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan karena sirik.


"Bukan sirik! Ini tuh lebih tepatnya meminta keadilan?" Ujarnya.


"Tenang aja bro! Bulan depan ada proyek di luar kota, dan karena semakin hari perut istri gue semakin besar dan gue pun nggak akan tega meninggalkan dia, jadi gue kasih proyek itu lu yang tanganin di bantu Gina. Kalian di luar kota sekitaran 10 harian, ya pokonya sampai proyek itu berjalan lancar dan selesai." Ucap Arka.


"Nah selama proyek itu berlangsung, lu nikmati waktu berdua ya! Sekalian cari tahu tentang Gina, biar makin kenal aja." Imbuhnya.


"Serius?" Tanya Andy.


"Seratus rius! Ada bonus juga buat kalian berdua."


"Thank banget bro! Terbaik banget nih sahabat sekaligus boss gue ini."


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2