SUN FLOWER

SUN FLOWER
WANITA RENDAHAN


__ADS_3

Arka baru saja sampai di rumahnya, kancing kemeja atas terbuka, dasinya menempel namun sangat longgar, kemejanya keluar sebelah. Rambutnya terlihat berantakan.


"Penampilanmu nak?" Oma mengernyitkan dahinya, menatap Arka dengan bingung. Ada apa dengan cucunya ini? Tidak seperti biasanya.


"Tampan ya ma? Arka keren banget kan? Penampilan kaya gini tuh kaya tokoh anak nakal yang sebenarnya malas jadi CEO." Arka terkekeh sambil memeluk Oma.


"Nggak biasanya kamu seperti ini?" Sama seperti Oma, pak Anggara pun mengernyitkan dahinya.


"Biasalah anak muda!" Jawab Arka, tangannya sibuk mencopot dasi yang melingkar di kerah bajunya.


"Anak muda? Jangan lupa bentar lagi jadi bapak!" Oma menepuk jidat Arka sampai Arka meringis dan mengatakan iya.


"Gimana kerjaan kantor?" Tanya pak Anggara.


"Beres kok, masalahnya dikit lagi juga selesai." Arka menjawab sambil menyeret langkahnya menuju kamar.


Ketika membuka pintu kamar, dilihatnya istrinya itu tengah tertidur. Selimut putih tebal melilitkan tubuhnya bahkan sampai kepalanya tidak terlihat.


Arka menatapnya sekilas, kemudian mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Sabun pilihan Kalista memang selalu memberikan efek menengkan, beberapa saat Arka berendam di bathtube. Badannya yang seharian ini lengket oleh keringat pun akhirnya merasa segar dan wangi.


"Gue kira udah di siapin piyama, tahunya tidur nyenyak aja dia mah. Istri macam apa coba? Suami lagi cape udah kerja keras, pulang ke rumah tapi nggak di sambut. Hadeuh." Cibir Arka dengan suara pelan, sorot matanya menatap tajam pada Kalista yang sedang tertidur.


Diam-diam Arka bersyukur sudah makan di tempat Riko, jika belum makan dan sekarang melihat istrinya sedang tidur nyenyak tanpa menyambut kepulangannya mungkin Arka akan naik pitam.


Membaringkan tubuhnya di kasur tepat di sebelah Kalista, namun matanya masih enggan untuk terpejam. Tangannya sibuk berselancar dan melihat-lihat akun media sosialnya. Ketika membuka Instagram ada beberapa direct message dari Hilda. Jangankan di baca, Arka langsung saja mengabaikan pesan itu, Arka merasa bahwa Hilda seperti ingin menghancurkan rumah tangganya. Bahkan dengan tidak tahu malunya Hilda mengomentari beberapa postingan Arka, dengan mengatakan 'Handsome, My boyfriend, I love you' Arka bergidik, dan merasa jijik. Lalu Arka memblokir Hilda.


Setelah selesai bermain media sosial, Arka meletakkan ponselnya diatas nakas. Kemudian dia berusaha memejamkan matanya, hingga tertidur pulas.


*Keesokan harinya


Matahari telah keluar dari persembunyiannya, cahaya nya masuk melalui celah-celah gorden dan mengenai wajah Kalista. Kalista pun terbangun dari tempat tidurnya.


Kalista mengusak kedua bola matanya, ternyata Arka juga sudah membuka matanya hanya saja masih rebahan. Kalista segera menyibakkan selimut tebal itu, lalu masuk ke kamar mandi. Kalista kira Arka bakalan minta maaf, tetapi dari mulutnya sama sekali tidak keluar sepatah katapun.


Manik mata Kalista melihat ke jam dinding yang tergantung, waktu menunjukan pukul 07:50. Begitu keluar dari kamar mandi, Kalista langsung duduk di depan cermin rias. Berusaha mengeringkan rambutnya sendiri, biasanya kan di bantu Arka.


Arka sama sekali tidak bergerak, tubuhnya masih menempel diatas kasur dengan posisi rebahan. Sorotan matanya terus menerus menatap Kalista yang sedang bersolek di depan cermin. Hari ini tidak ada morning kiss yang di berikan oleh Arka maupun Kalista. Biasanya Arka yang akan memberikannya, jika tidak berarti Kalista yang memberikannya. Namun hari ini memang sangat-sangat berbeda, bahkan bertegur sapa saja tidak.


Dengan raut wajah kesal, dan hati yang merasa jengkel. Arka masuk ke kamar mandi, menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras, sehingga menimbulkan suara dentingan yang cukup memekikkan Telinga.


Dengan wajah jengah Kalista menoleh ke kamar mandi. "Marah-marah aja terus, dasar suami nggak tahu diri" bahkan Kalista hampir saja meneteskan air matanya, dirinya seperti tidak mengenali suaminya itu.


Setelah selesai merias wajahnya Kalista segera pergi ke ruang makan, menyapa Oma dan pak Anggara seraya mengucapkan selamat pagi.


Lalu Kalista pergi ke dapur, hari ini Kalista ingin sarapan nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan sosis bakar. Tetapi menu hari ini adalah roti panggang, jadi Kalista membuatnya sendiri. Hanya satu porsi, benar-benar untuk dirinya sendiri, dan tidak ada campur tangan dari pembantu. Ini real buatan Kalista dan untuk Kalista.


Hari ini Kalista benar-benar membuat Arka jengah, bagaimana tidak jengah, ketika keluar dari kamar mandi ternyata Kalista tidak menyiapkan stelan kerjanya, begitupula dengan sepatunya dan segala rupanya.


Dengan wajah kusut dan penuh emosi, Arka keluar dari kamarnya dan bergabung di meja makan. Matanya celingak-celinguk mencari keberadaan Kalista, karena kursi yang di sebelahnya masih kosong.


"Istrimu lagi di dapur, katanya nggak mau sarapan roti panggang, nggak tahu deh sekarang lagi bikin apa?" Oma memberitahukan Arka, karena Oma cukup paham dengan sorotan mata Arka yang celingak-celinguk itu.


Lima menit sudah mereka menunggu Kalista, karena di kediaman Anggara menerapkan aturan kalau sarapan harus bersama-sama. Karena Kalista belum kembali dari dapur, makanya mereka pun menunggunya.


Kalista menghampiri meja makan dengan satu tangan membawa nasi goreng, telur ceplok plus sosis bakar, dan satu tangan lainnya memegang segelas susu bumil.


Oma dan pak Anggara sudah mengambil roti panggang ke dalam piringnya, tinggal Arka doang yang belum mengambil sarapannya. Biasanya Kalista yang akan mengambilkannya, tetapi lagi-lagi hari ini berbeda, Arka melirik Kalista yang sedang menikmati nasi gorengnya. Sarapan dengan sangat lahap, dan sama sekali tidak memperdulikan Arka.


Arka mengambil satu roti panggang, mengunyahnya dengan cepat. Kemudian dia mengambil sendok, dan menyendok kan nasi goreng yang sedang Kalista makan. Jujur saja sebenarnya Arka sangat tergiur untuk mencoba nasi goreng yang sedang di makan oleh istrinya.


Tanpa kata dan mulut masih tertutup rapat, Kalista melotot dan memberikan tatapan tidak suka pada Arka. Piring segera di geserkan dan posisi duduknya berubah seperti sedang membelakangi Arka.


"Benar-benar ngajak bahu hantam nih bini gue." Gumam Arka sambil terus menatap tajam pada punggung Kalista.


"Udah biarin aja! Wajar nggak boleh, soalnya takut nggak kenyang. Maklum bumil kan makannya buat berdua sama bayi." Oma berusaha menengkan Arka. Bertahun-tahun merawat Arka, Oma sudah sangat paham dengan perilaku dan tabiatnya. Sebenarnya dari kemarin sore saja Oma sudah mengira ada yang tidak beres dari cucu dan menantunya itu.


"Pagi-pagi sekali sudah cantik, sudah rapi. Rencanya mau kemana nak?" Tanya pak Anggara. Pak Anggara pun merasa cemas dan was-was, pak Anggara sepertinya sudah bisa menebak bahwa Arka dan Kalista sedang tidak baik-baik saja. Pak Anggara khawatir kalau Kalista pergi meninggalkan rumah, apalagi ini pagi-pagi sekali sudah snagat tapi.


Kalista menoleh sebentar, memastikan bahwa pak Anggara bertanya kepadanya. "Lagi punya waktu luang yah, jadi nya mempercantik diri pagi-pagi." Jawab Kalista dengan tersenyum ramah.


Arka segera melayangkan tatapannya pada Kalista, sorotan matanya seperti akan menguliti Kalista hidup-hidup. "Punya waktu luang? Tapi nggak nyiapin stelan kerja gue? Lucu sekali." Cibir Arka dalam hatinya.


"Oma kira kamu mau keluar rumah nak." Saut Oma.


"Maunya sih gitu, gimana kalau kita ngemall. Oma mau nggak?" Kalista sangat berharap Oma mengiyakan ajakannya, karena hari ini sepertinya Kalista perlu menyegarkan pikirannya.


"Oma nggak bisa sayang, hari ini Oma ada arisan sama oma-oma tetangga kita. Lain kali ya, atau mungkin besok saja." Kata Oma.


Tangan Arka segera mengambil segelas susu yang tersedia di depannya, meneguknya sedikit "Kok nggak enak? Ini beda." Arka langsung meletakkan kembali gelas susu itu.


"Maaf tuan, saya kurang tahu takaran susu yang pas untuk tuan." Jawab pelayan dengan suara gemetaran.


"Jadi ini pelayan yang buat?" Ucap Arka, tatapan matanya selalu tertuju pada Kalista.


"Iya saya yang buat, sekali lagi maafkan saya." Pelayan itu masih saja gemetaran, pasti sangat merasa ketakutan.


Pantas saja susunya terasa tidak enak dan berbeda jauh sekali dengan susu yang Arka minum setiap harinya. Pelayan mana tahu takaran susu yang pas buat Arka, yang tahu hanya Kalista. Susu dengan rendah gula, airnya tidak terlalu panas, takaran airnya hanya 250cc.


"Oma sudah selesai sarapan." Oma buru-buru pergi meninggalkan meja makan.


"Ayah juga sudah selesai." Pak Anggara pun mengikuti jejak Oma.


Oma dan pak Anggara merasa tidak enak jika terus menerus berada di meja makan. Lagi pula mereka berdua seperti sedang memberikan waktu kepada Arka dan Kalista agar segera membicarakan perihal masalah yang sedang terjadi di antara mereka.


"Aku mau berangkat kerja." Arka bangun dari duduknya, menatap Kalista hingga beberapa saat. Namun Kalista sama sekali tidak merespon ucapan Arka.


"Aku mau berangkat kerja!" Sengit Arka mengulangi kembali ucapannya, suaranya lumayan menggelegar dan menggema di ruang makan. Bahkan lebih tepatnya berkata dengan penuh penekanan dan nada tinggi.


Kalista?


Masih asyik menikmati nasi goreng, telur ceplok plus sosis bakar. Tidak ada niatan sedikitpun untuk menoleh apalagi menanggapi ucapan Arka.


"Bruuuuk!" Arka menggebrak meja, kemudian kakinya menendang kursi yang sedang di duduki Kalista. Untung saja tendangannya tidak terlalu kencang, kalau kencang sudah di pastikan Kalista akan terjatuh, sangat berbahaya.


Emosi telah menguasai Arka, bahkan kepalanya seperti air yang sedang mendidih. Ingin sekali Arka meluapkan emosi nya, tapi waktunya tidak tepat.


Arka berjalan dengan tergesa-gesa. Merampas kunci mobil dari sopir, Arka mengendarai mobilnya dengan kecepatan super, seperti orang kesetanan.


Jarak tempuh antara kediaman Anggara hingga ke kantor pun menjadi sangat singkat, Arka memarkir mobilnya asal dan melemparkan kunci mobilnya kepada satpam.


Sapaan resepsionis dan para karyawan pun tidak mendapat respon dari Arka. Bahkan ada beberapa karyawan yang berbisik-bisik mengatakan bahwa Arka kembali lagi seperti dulu ketika baru menjadi CEO di perusahaan Anggara.


Jutek, cuek, dingin, kesannya adalah galak. Bahkan beberapa karyawan pun tidak berani menatap wajah Arka.

__ADS_1


"Kusut amat muka lu? Setrika kek biar rapi." Andy menepuk bahu Arka.


"Diam! Gue lagi nggak mau becanda." Arka menghempaskan kasar tangan Andy dari pundaknya.


"Gila kali galak amat! Kaya harimau siap menerkam mangsa." Andy terkekeh mentertawakan sikap sahabat sekaligus bossnya itu.


"Sekali lagi lu ngoceh, gue pecat lu!" Kali ini Arka benar-benar membentak Andy, sorotan matanya sangat tajam, bahkan tangannya sudah mengepal seperti akan melayangkan bogem mentah.


Andy baru sadar, hari ini sikap Arka sangat di luar kendali. Sikap Arka sangat arogan, emosi telah menguasai dirinya.


Baru kali ini juga Andy bekerja dengan Arka seperti sedang beradaptasi kerja dengan CEO baru. Hari ini Andy melewati hari kerja dengan penuh tekanan, bahkan Gina juga berkali-kali kena semprot Arka.


Bahkan OB yang hanya mengantarkan makanan pesanan Arka saja sampai di marahi habis-habisan cuma gara-gara kotak makanannya penyok.


Waktu sudah menunjukan pukul 16:00, Arka langsung pergi meninggalkan kantor. Dokumen yang berserakan di meja kerjanya sama sekali tidak di bereskan olehnya.


Pikirannya sedang kacau, Arka memutuskan untuk nongkrong di salah satu kafe tempat yang sering di singgahinya ketika Riko belum membuka coffee shop. Lagi-lagi penampilan Arka seperti kemarin sore. Kancing kemeja atas di buka, dasi di longgarkan, kemeja di keluarkan. Rambutnya sangat tidak beraturan.


"Jus jeruk, banana cake, and pudding cokelat." Arka berkata lebih dulu sebelum waiters bertanya.


Arka mengeluarkan laptopnya, lalu jari jemarinya segera menari-nari diatas keyboard laptop. Seharian ini di kantor Arka tidak bisa fokus, mungkin di kafe ini suasana hatinya bisa sedikit lebih cerah.


Setelah lima belas menit berlalu, waiters tersebut pun datang membawakan makanan pesanan Arka.


"Sendirian?"


Tanya seorang wanita cantik mengenakan dress berwarna merah marun yang panjangnya jauh diatas lutut, sehingga menampilkan pahanya yang mulus. Ukuran dadanya saja sangat besar, seperti seorang ibu yang menyusui. Entah lah dia masih gadis atau statusnya seorang istri? Jaman sekarang kan mempunyai dada besar sudah seperti tren saja.


Arka menoleh sekilas, kemudian kembali sibuk menatap layar ponsel. Arka sama sekali tidak tertarik oleh wanita tersebut, bagi Arka Kalista tetap yang terbaik. Walaupun keadaan rumah tangganya sekarang sedang renggang.


"Kerja dimana mas?" Suaranya genit sekali.


Eh tunggu tunggu, dengan lancang wanita itu duduk di kursi depan Arka, satu meja dengan Arka. Padahal Arka sama sekali tidak mengizinkannya. Sungguh wanita tidak tahu malu.


Lagi-lagi Arka malas menanggapi perkataan wanita itu. Arka menghentikan aktifitas nya sejenak, mengusap wajahnya kasar. Kemudian meneguk jus jeruk, dan memasukkan satu potongan kecil banana cake ke dalam mulutnya.


"Mas nya masih kuliah ya?" Tanyanya lagi, suaranya tetap saja masih genit. Bahkan gerakan tubuhnya terlihat jelas seperti sedang memamerkan dada besarnya.


Arka terus saja memakan banana cake. Memandang wanita sekilas dengan wajah jengahnya. "Apaan sih wanita ini? Mau menggoda gue gitu? Bawel banget! Palingan juga wanita panggilan si om om gendut perut buncit." Gumam Arka dalam hatinya.


Tiba-tiba Arka ingin tahu reaksi wanita tersebut kalau dirinya mengaku orang biasa dan tidak punya apa-apa. "Saya sudah lulus kuliah mba, tapi masih nganggur sama sekali belum bekerja dan tidak ada penghasilan sama sekali." Jawab Arka.


Dari wajah sumringah kini wajah wanita itu terlihat kusut, bahkan sudah terlihat sangat jutek. "Oh pengangguran, modal tampan doang? Cih." Dari suara genit dan halus kini malah berubah menjadi ketus.


Arka tersenyum kecut, seperti dugaannya wanita ini butuh duit, mancingnya modal dada besar doang. "Lah emangnya kenapa mbak? Soal saya pengangguran tetapi muka tampan? Apa hubungannya coba? Lagian saya memang sudah tampan dari lahir." Jawab Arka dengan kekehan-kekehan kecil.


"Anda sama sekali bukan tipe saya! Lagi pula saya tidak terbiasa satu meja dengan pria rendahan dan tidak berduit." Ketusnya, matanya bahkan melotot menatap Arka.


"Mbak juga tidak termasuk tipe wanita idaman saya. Lagi pula saya tidak menyuruh mbak duduk di situ kan? Mbaknya saja tidak punya etika, duduk begitu saja tanpa saya izinkan." Arka berkata lantang dengan senyuman mengejek.


"Saya duduk di sini harus ada persetujuan anda? Begitu? Helow lu siapa? Berkaca dong! Sadar diri! Level lu rendahan nggak sebanding dengan gue." Ucapnya sengit, bahkan sorot matanya menatap Arka seperti seorang yang sangat menjijikan.


"Judes banget nih mbaknya." Arka menatapnya dengan menaik turunkan sebelah alisnya.


"Menjijikan!" Dia bangkit dan akan pergi meninggalkan Arka.


"Tunggu mbak! Saya masih ingin berbincang-bincang dengan mbak, yakin deh nanti mbak bakalan suka." Arka mencegah wanita itu pergi, karena Arka belum membuka identitas yang sebenarnya.


Wanita itu pun kembali terduduk, mungkin dirinya juga masih penasaran terhadap Arka.


Wanita itu mengamati cincin yang di pakai Arka, mengamati hanya satu menit saja. "Cincin ini? Murahan! Palingan cincin biasa di pasaran, gatal banget gue pakai cincin kaya gini, mungkin malah jadi kutu air maklum cincin kaya gini banyak kumannya." Katanya sambil mendorong jemari Arka dengan sangat kasar.


"Ya ampun mbak, mulutnya jujur amat." Lagi-lagi Arka tersenyum menyeringai,


"Mbak kan ngerti fashion ya? Coba perhatiin stelan yang sedang saya pakai dong, mulai dari kemeja, celana, dasi, pantofel, dan ikat pinggang yang saya gunakan juga ya."


"Sebenarnya gue udah malas, udah muak banget pokonya!" Ucapnya dengan judes, tapi tetap saja dia mengikuti arahan Arka. "Apalagi yang harus gue perhatiin sih? Stelan murahan ala si pengangguran udah pasti lah ya harga nya merakyat, kualitas dibawah standar." Wanita berbaju merah marun itu memutarkan bola matanya dengan sangat jengah.


"Mulutnya pedas banget kaya cabe jablay." Arka terkekeh pelan.


"Kalau seandainya saya mampu membeli kafe ini, kira-kira mbak mau nggak sama saya?" Arka berkata ceplas ceplos, dan sangat penasaran dengan jawaban si wanita seksi itu.


"Kamu beli kafe ini? Haha rakyat jelata lagi berhalusinasi gitu ya? Ya ampun orang miskin kaya kamu mana mampu beli kafe ini? Bangun jangan mimpi terus! Buat makan aja susah sosoan mau beli kafe." Tawanya semakin kencang, terbahak-bahak sedang mentertawakan orang miskin yang mempunyai mimpi konyol.


Arka semakin menyadari bahwa wanita yang sedang duduk di kursi di hadapannya ini memang wanita yang sangat matre, haus akan uang dan kekayaan. Justru dari wanita ini Arka sangat bersyukur mempunyai istri seperti Kalista, yang sederhana dan tidak silau harta.


"Emang kalau orang miskin nggak boleh bermimpi ya mbak?" Tanya Arka.


"Mimpi boleh aja sih! Tapi itu loh lu tuh menggelikan sekali, daripada mimpi mendingan kerja deh biar besok bisa makan." Saut wanita itu, tawanya masih saja terdengar, dia tertawa karena mengejek Arka.


"Hmmmmm." Arka tersenyum manis. "Mbak ko ke kafe ini nggak pesan makan? Mbak kan wanita sosialita dan memakai barang branded, masa bayar makanan di sini nggak mampu?" Tanya Arka dengan skakmat.


"Haha gue tuh bukannya nggak mampu! Cuma malas aja, selera makan gue ilang gara-gara ketemu pria kere." Perkataannya selalu tajam seperti sebilah belati yang mengiris hati.


"Oh gitu, kirain saya mbaknya nggak makan karena salah menghampiri target." Arka meledek wanita itu.


Satu kalimat dari Arka cukup membuat si wanita tersebut naik pitam, matanya melotot menatap Arka. Bahkan tangannya mengepal diatas meja. Tatapannya seperti mengintimidasi atau mungkin tatapan akan menerkam.


"Fakta nya gitu ya mbak! Hehe." Bisa-bisanya Arka tertawa hehe di hadapan wanita yang sedang akan mengamuk.


"Tutup mulut sampah lu! Gue bisa saja berteriak di sini, bahwa lu akan melecehkan gue, dan bisa di pastikan lu akan mendekam busuk di penjara." Ancamnya.


"Ih ngeri banget sih mbak, jangan gitu lah mbak terhadap saya." Arka berkata santai, kini tangannya sibuk memotong pudding cokelat.


"Mbaknya nggak penasaran apa ya sama saya? Saya kan orang miskin tapi kok bisa ya saya makan di kafe ini? Pilih menu yang kata orang-orang sangat enak dan tidak bisa di bandingkan dengan restoran atau kafe-kafe lain (Banana cake nya sangat spesial, di buat menggunakan metode rahasia)." Arka masih saja bersandiwara sebagai pria miskin.


Kemudian wanita itu pun memikirkan perkataan Arka. Benar juga kenapa si miskin bisa makan di kafe ini, bahkan menu paling murah saja harganya lumayan cukup tinggi dan fantastis. Orang biasa akan mikir dua puluh kali lipat jika ingin makan di sini.


Wanita itu kembali lagi memperhatikan Arka, laptopnya menggunakan merk yang paling mahal sedunia, ponselnya juga yang paling mahal sedunia, tiba-tiba manik matanya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan Arka. Arloji keluaran terbaru dari sebuah brand ternama di dunia.


"Lu sebenarnya siapa sih?" Suaranya sedikit melunak, bahkan tatapan matanya sedikit menyendu.


"Mbak nanya saya? Kan mba sudah tahu kalau saya ini si pengangguran yang miskin." Mulut arak terus saja menikmati pudding cokelat, matanya sama sekali enggan untuk menatap si wanita sombong.


"Serius?" Katanya dengan suara kencang.


"Jangan mau serius sama saya! Saya cuma sebatas orang miskin, nanti mbak nyesel loh! Buat makan aja susah mbak." Arka sengaja merendahkan martabatnya.


"Sana pergi cari kursi lain, kalau duduk di sini terus nanti mbaknya malah semakin nggak nafsu makan."


"Lu orang punya ya?" Tanya dengan gamblang.


Arka mengernyitkan dahinya "Dasar wanita matre, baru nyadar gue orang berada? Tadi aja gue ngaku nggak punya pekerjaan malah di katakan miskin. Tuhan.... Mengapa engkau menciptakan wanita seperti ini?" Gumam Arka dalam hatinya.

__ADS_1


"Bawa ponsel?" Tanya Arka.


Wanita berbaju marun langsung tersenyum sumringah, dan langsung mengeluarkan ponselnya. "Nomor lu mana? Biar gue save." Suaranya sangat terdengar ramah dan bersahabat.


"Nomor gue? Sorry gue bukan mau bagiin nomor ponsel, wanita sosialita jangan menyimpan nomor pria miskin, nanti ponselnya rusak." Arka terkekeh geli.


"Lu foto cincin yang melingkar di jari manis gue, terus googling deh! Sapa tahu pernyataan lu tentang cincin murah ini bisa bikin gatal dan kutu air ini benar." Imbuhnya lagi.


Wanita itu menuruti perintah Arka. Ketika sedang memotret cincin di jari manis Arka, Arka melihat bahwa ponsel wanita itu sangat jelek, tidak seharusnya di miliki oleh seorang wanita yang katanya sosialita.


"Katanya sosialita dan ngerti fashion, masa ponselnya gitu? Merk apa sih? Keluaran tahun berapa? Harganya berapa? Jelek banget! Sama sekali nggak cocok untuk wanita sosialita." Mulut Arka mulai pedas, dan bahkan perkataannya lebih ke mengejek.


Sebenarnya wanita itu sangat-sangat terpancing emosinya ketika Arka mengatakan ponselnya jelek, namun ia berusaha menahan amarahnya soalnya ia baru menyadari barang-barang elektronik dan arloji yang melingkar di pergelangan tangan Arka adalah barang-barang mahal dengan kualitas super.


Manik mata si wanita berbaju marun yang seksi itu pun membulat sempurna. Tenggorokannya seperti tercekat, cincin sederhana yang ada di pergelangan tangan Arka itu harganya sangat fantastis, orang biasa tidak akan mampu membelinya.


"Cincinnya sederhana, tapi harga melangit." Ucapnya antusias, bahkan kini tangannya meraih jemari Arka, memperhatikan kembali cincin yang sedang Arka kenakan.


Dengan semangat 45 wanita seksi itu berusaha melepaskan cincin di jari manis Kalista.


"Ngapain mbak? Jangan di buka lah nanti kumannya nempel di jari mbak." Arka menarik tangannya, menghempaskan kasar tangan si wanita itu. Arka bahkan sampai geleng-geleng kepala terhadap si wanita matre.


"Tadi ngerendahin gue! Bilang cincin di jari manis gue murahan dan bisa memicu kutu air karena banyak kumannya." Gumam Arka dalam hatinya, dia masih terus saja memperhatikan si wanita itu, demi menjilat Arka apapun pasti di lakukannya.


"Tadi katanya cincinnya buat saya." Jawabnya terang-terangan dengan gamblang dan tidak ada rasa malu sama sekali di dirinya.


"Sejak kapan wanita soalista merendahkan harga dirinya?" Cibir Arka.


"Sejak ketemu pria tampan seperti kamu." Suaranya sangat genit, bahkan memberikan kedipan mata.


"Mbak tahu perusahaan Anggara nggak?"


"Tahu!"


"Googling deh mbak, katanya CEO nya masih muda, tampan dan yang terpenting katanya dia merupakan pewaris tunggal. Siapa tahu suka sama CEO itu."


Emang dasar si wanita matre, haus uang dan kekuasaan. Dia pun segera Googling, berusaha mencari tahu tentang CEO di perusahaan Anggara.


"Wah keren." Ucapnya dengan berteriak sehingga pengunjung kafe menoleh padanya. Suaranya melengking bahkan matanya membulat sempurna. Mungkin saat ini dimatanya terlihat gepokan uang.


"Masih muda, tampan, seorang CEO, benar-benar keren tingkat dewa, nikahin gue." Kakinya di silangkan sehingga bajunya itu mengangkat dan semakin ter-ekpose lah paha itu. Bahkan beberapa kali wanita itu menggoyangkan tubuhnya, sehingga dadanya pun ikut bergerak.


"Nikah sama gue! Jangan mimpi!" Arka tersenyum kecut, ini adalah saatnya Arka untuk membalikkan semua perkataan si wanita seksi.


"Simpanan juga no problem! Ayolah, di jamin akan memberikan pelayanan yang terbaik!" Kini suaranya di buat serak-serak basah, tubuhnya masih saja tidak berhenti bergerak.


"Saya sudah beristri! Istri saya sekarang sedang mengandung. Istri saya sangat cantik dan cerdas, mbak sih nggak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan istri saya." Ucap Arka.


"Saya kasih dia apartment, rumah mewah dengan luas sekian, mobil mewah ganti tiap 3 bulan! Perhiasan berlian selalu up to date! Ngemall setiap hari, ATM tanpa limit juga saya kasih dia 3 biji, belum lagi kartu kredit, semua surat tanah juga saya buat atas nama istri saya. Karena istri saya adalah belahan jiwa dan penerang kehidupan saya." Arka sangat antusias menceritakan istrinya, padahal sebenarnya Arka dan Kalista sedang tidak baik-baik saja.


"Istri lagi hamil kan biasanya pelayanannya kurang enak, ayolah gue bisa memuaskan hasrat lu."


Benar-benar uratnya malunya sudah putus, dengan gamblangnya dia mengatakan seperti itu. Wanita macam apa yang merendahkan harga dirinya demi uang? Ternyata memang benar insting Arka bahwa wanita yang ada di hadapannya itu adalah mainan om om berperut gendut.


"Sorry gue nggak suka jajan! Apalagi bekas om-om jijik banget." Arka menatapnya dengan tatapan menjijikan.


"Gue bukan simpanan om-om! Gue berani jamin" katanya, dia terus menerus memaksa Arka agar berhubungan dengannya.


"Haha! Mau ngeles mbaknya? Sudah berapa banyak om-om yang meniduri mbaknya?" Arka tertawa mengejek.


"Dari awal mbaknya masuk ke kafe ini sebenarnya mbaknya nggak ada duit, ya kan? Bahkan saya berani menebak bahwa mbaknya setiap kali masuk ke kafe ini sebenarnya mbak sedang mencari mangsa, di tlaktir makan oleh orang yang terjerat, pulangnya bobo di hotel, besoknya transferan masuk. Benar begitu bukan?" Arka tersenyum kecut, dengan mudahnya Arka berbicara seperti itu. Bahkan wanita di hadapannya itu tidak bisa berkutik.


"Mbaknya laper ya? Soalnya nggak di pesanin makan sama saya." Imbuhnya lagi, senyuman meledek itu masih terus Arka berikan.


"Katanya wanita soaislita, tapi nggak tahu cincin yang saya kenakan harganya berapa? Satu cincin ini bahkan mampu membeli pasar dengan segala macam isinya, puluhan toko emas juga mampu jika di tukar dengan cincin ini. Tapi sayang cincin berlian ini terlalu berharga untuk di jual apalagi di berikan kepada wanita ******, karena cincin ini di desain sesuai dengan yang istri saya mau."


"Katanya soalialita, tapi nggak paham baju branded? Padahal baju, celana, dasi yang melekat di tubuh saya ini adalah karya desainer ternama, harganya? Nggak usah di tanya lah ya saya nggak suka pamer, tapi yang pasti harganya mahal deh!"


"Wanita sosialita yang tidak suka berteman dengan rakyat jelata? Mbaknya sadar nggak? Mbaknya juga rakyat jelata, cuma bedanya mbaknya maksa pengen sosialita dengan cara manjat status sosial melalui om-om yang haus akan ranjang. Benar begitu bukan?" Lagi-lagi semua yang Arka lontarkan memang sesuai dengan fakta.


"Wanita sosialita itu nggak butuh pengakuan bahwa dirinya sosialita, cukup menggunakan barang-barang barnded, aksesoris berlian mahal, uangnya banyak. Dan nggak perlu pamer sana-sini!"


"Dari awal mbak berbicara dan merendahkan bahwa saya seorang pria miskin, pengangguran dan rendahan, saya sangat geli sekali. Sebenarnya mbak sedang membicarakan diri mbak sendiri." Arka tersenyum kaku dengan menampilakan deretan gigi putihnya.


"Lalu setelah tahu identitas dan status sosial saya, lantas mbak pengen saya nikahin, atau di jadikan simpanan, bahkan rela di jadikan wanita satu malam gitu? Ya ampun rendahan sekali hidup anda, bahkan tubuh anda sama sekali tidak berharga karena banyak om-om yang telah menjamah tubuh mbak. Saya pribadi merasa jijik dengan tubuh mbak, bahkan sampai merasa mual pengen muntah."


"Mbak bilang selera makan mbak hilang karena bertemu dengan pria kere, sebenarnya selera makan saya yang hilang karena bertemu dengan wanita matre, murahan, rendahan, ******, bayaran om-om. Tapi karena saya merasa sangat laper jadi saya terus kan makan, soalnya kerjaan saya cukup berat hari ini."


"Memamg benar apa yang telah mbak katakan, rakyat jelata jangan mimpi terus! Mendingan bangun, terus kerja biar bisa makan. Buat makan aja susah sosoan jadi wanita sosialita." Di bagian perkataan ini Arka sengaja sedang membalikan semua perkataan wanita tadi.


"Mbak mau saya nikahin, atau jadi simpanan saya? Haha jangan Mimpi! Bangun woy!" Arka tertawa terbahak-bahak, tangannya mengetuk-ngetuk meja sampai menimbulkan suara.


Setalah Arka berbicara panjang lebar, si wanita itu akhirnya bersiap akan membuka mulutnya. Namun Arka sama sekali enggan untuk menatapnya, Arka segera menutup laptopnya.


"Gue nggak kaya gitu! Gue bisa jelasin kok! Wajar dong tadi gue berbicara seperti itu, karena gue nggak mau di bilang rendahan atau terlalu murah." Si wanita berbaju marun berdada besar itu masih saja mencari pembelaan mengenai dirinya.


"Lalu harus dikatan seperti apa wanita yang suka bobo sama om-om booking kamar hotel, tlaktir makan, setelah kelar terima transferan! M E N J I J I K A N !" Jawab Arka tegas dan penuh penekanan.


Arka menjentikkan jarinya, seorang waiters menghampiri. Dan membawa bill nya.


"Saya mau tangan saya di bersihkan menggunakan tissue basah, lalu tolong usapkan hand sanitizer. Saya merasa tangan saya banyak kumannya, tertular dari wanita sosialita yang ternyata rakyat jelata." Ucap Arka.


Awalnya waiters itu bingung dengan ucapan Arka, namun setelah melihat wanita yang berada di hadapan Arka, waiters itu cukup paham. Karena dia telah lama bekerja di sini, sehingga hafal dengan tabiat wanita seksi yang datang hanya untuk mencari pria kaya, bahkan om-om berperut buncit pun jadi sasarannya. Bahkan waiters itu sangat paham sekali bahwa wanita berbaju marun memang selalu datang mencari gratisan makanan.


"Tunggu sebentar tuan." Ucapnya dengan sopan.


Waiters pergi ke belakang, mengambil tissue basah dan hand sanitizer. Kemudian datang kembali menghampiri Arka, mengelap jari jemari Arka dengan tissue basah lalu mengusapkan hand sanitizer.


"Terimakasih mbak, mbaknya jangan lupa cuci tangan ya." Arka berkata sangat ramah kepada waiters itu.


"Ini bayar makanan saya! Dan ini ucapan terimakasih saya karena mbaknya telah membantu membersihkan tangan saya." Arka memberikan segepok uang berwarna merah, entah lah nominalnya berapa? Yang pasti jumlahnya sangat banyak.


Tepat ketika Arka akan melangkah keluar dari kafe, wanita seksi berbaju marun itu berdiri dan menabrakkan tubuhnya kepada Arka. Lalu terjatuh dan meringis kesakitan.


"Anda pikir saya akan tergoda oleh tubuh anda? Anda pikir saya akan tertarik? Anda pikir dengan melihat anda terduduk di lantai saya akan simpati? Sorry saya nggak level dengan wanita rendahan!"


Arka kemudian berjalan melangkahi wanita seksi yang sedang terduduk di lantai.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2