SUN FLOWER

SUN FLOWER
FIRST KISS DI BALI


__ADS_3

Kalista keluar dari kamar, langkah kaki membawanya menuju ruang tamu. Disana Arka dan Evan sedang menonton sambil menikmati secangkir teh hijau.


"Ada 25 panggilan tidak terjawab dari Oma." Kalista menyodorkan ponsel pada Arka. Kemudian ikutan duduk di sebelah Arka.


"Oh iya, telepon balik deh!" Arka menghubungi Oma, tersambung namun belum ada yang jawab.


"Hallo, nak kamu sudah sampai? Kenapa nggak ngabarin? Selamat sampai tujuan kan? Nggak terjadi apa-apa di jalan kan? Istri kamu mana? Dia baik-baik saja kan? Dia nggak sakit kan? Nggak jetlag? Atau mual-mual? Kalista sehat kan? Nggak ada pergerakan aneh dari perutnya kan?" Pertanyaan beruntun dari Oma cukup membuat telinga Arka sakit. Arka sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Nak jawab! Nak kamu nggak apa-apa kan? Arka?" Teriak Oma di sebrang telepon, suaranya berbunyi nyaring.


"Alhamdulilah semuanya baik-baik saja Oma! Oma kalau ngomong pelan-pelan dong, cepat banget kaya kereta berisik pula." Ucap Arka kesal.


"Lagian kamu sih, kan Oma sudah bilang kalau udah sampai langsung kabarin Oma. Oma tuh khawatir sama kamu dan istri kamu, lebih khawatir lagi sama calon cicit Oma." Ini bukan seperti Oma yang biasanya, Oma kali ini ngomongnya kencang banget kesannya kaya galak.


"Arka lupa, lagian begitu sampai istri cantikku langsung tidur karena kelelahan, Arka juga jadi ikutan tidur." Jawab Arka.


"Alhamdulilah, kamu tuh ya senangnya banget bikin Oma dag dig dug. Oma mau ngomong sama Kalista."


Arka langsung memberikan ponsel itu pada Kalista. "Iya hallo Oma." Kata Kalista.


"Kamu baik-baik saja kan sayang? Atau ada yang merasa sakit nggak?"


"Aku baik-baik saja Oma, Dede bayi'nya bisa di ajak kompromi, dia nggak rewel ma, dia sangat jagoan sekali." Ucap Kalista dengan tawa riang.


"Syukur lah sayang, nikmati waktu babymoon kalian ya, selamat bersenang-senang, tapi jangan lupa jaga kesehatan." Ucap Oma.


Kalista memberikan kembali ponselnya pada Arka, Arka menerimanya lalu menempelkan ponsel itu di telinganya. "Hallo nak, selama babymoon pastikan kamu menjaga istri kamu dengan ketat, pokoknya jangan sampai dia kelelahan, atau kenapa-kenapa? Pastikan asupan gizinya seimbang. Selamat bersenang-senang nak."


Tut..Tut..Tut..


Belum sempat Arka menjawab nasihat dan pesan dari pak Anggara, sambungan telepon malah langsung di matikan begitu saja.


"Dasar orang tua! Bawelnya masyaAllah." Ucap Arka sambil mengusap layar ponselnya.


"Bawel itu tandanya sayang dan perhatian." Celetuk Kalista.


"Iya kaya kamu bawel! Berarti sayang dan perhatian sama aku! Dan aku tahu kamu nggak akan bisa hidup tanpa aku, dan aku juga tahu bahwa kamu nggak akan pernah berpaling dari aku, soalnya diluaran sana nggak ada pria setampan aku, plusnya tajir." Arka menjawil pelan hidung Kalista.


"Ih pernyataan macam apa itu? Mengandung unsur kepercayaan diri terlalu tinggi, atau sedang memuji diri sendiri?" Telapak tangan Kalista menangkupkan wajah Arka.


"Emang benaran loh sayang?" Arka menatap mata bulat milik istrinya itu.


"Yang benar tuh kamu nggak akan bisa hidup tanpa aku! Secara gitu aku ini cantik, pintar, putih, tinggi, badannya bagus, matanya indah mempesona, bibirnya mungil, dan punya rasa sabar yang bagus. Coba kamu cari wanita di luaran sana! Ada nggak yang bakalan sabar sama sikap kamu ketika di kantor?" Ucap Kalista.


"Asyik di izinin cari wanita lain." Jawab Arka antusias. "Aku tuh cuma butuh kamu seumur hidupku, tapi kalau soal main-main sih gampang nanti aku cari wanita di club malam, mau modelan kaya gimana juga tinggal milih, secara gitu wanita mana sih yang bisa menolak pesonanya Arkana William Anggara? Kalau udah bosan main-main sama mereka, ya tinggal pulang di rumah kan aku punya istri yang super cantik." Sambungnya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kalista terlihat kesal dan murka mendengar jawaban yang keluar dari mulut Arka, raut wajahnya cemberut. "Oh gitu, yasudah! Aku juga gampang kalau mau cari cowok lain, siapa sih yang nggak mau sama aku? Dari jamannya sekolah aja yang naksir aku tuh ngantri banget, antrian panjang banget Bogor Jakarta malah lewat. Kak Gerry juga cakep, sekarang dia juga tajir! Dia sempat naksir aku? Jadi kalau nggak ada kamu, kak Gerry juga it's oke lah buat jadi pendamping hidupku." Kalista pun terpancing untuk menimpali dan memanas-manasi Arka.


Bukannya menimpali perkataan istrinya, Arka malah bergerak maju dan ******* bibir mungil milik istrinya. Awalnya Kalista kaget namun karena serangan dari Arka jauh lebih dahsyat, Kalista pun segera membalas cumbuan itu.


Tanpa mereka berdua sadari, di ruang tamu itu ada Evan dan Tiara yang tadi ikutan bergabung duduk di sofa. Evan hanya bengong saja menyaksikan kejadian itu, sedangkan Tiara segera memalingkan wajahnya menatap arah samping. Awkrad moment ini kembali terjadi.


7 menit sudah berlalu, namun pasangan suami istri itu masih belum menyelesaikan cumbuannya. Wajah Tiara sudah memerah sempurna, sedangkan Evan sudah tidak tahan lagi menyaksikan live streaming adegan yang lumayan cukup panas itu.


"Ekhmmmmmmmm... Tolong dong hargai gue dan Tiara di sini! Adegan yang kalian lakukan memancing keinginan gue untuk melakukan hal yang sama." Ucap Evan dengan berat hati, sebenarnya Evan juga tidak tega menghentikan adegan tersebut.


Kalista spontan langsung mendorong wajah Arka, Kalista segera memalingkan wajahnya, dan baru tersadar bahwa Evan dan Tiara menyaksikan kejadian barusan.


"Ah... Eh.. sorry, nggak bermaksud." Ucap Kalista, napasnya memburu dan tersenggal-senggal.


"First kiss di Bali." Arka mengecup kening Kalista.


"Sok malu-malu, biasanya kalau di kamar juga lebih agresif dari ini di sayangku." Arka dengan sengaja mencolek dagu Kalista.


Kalista langsung mencubit pinggang Arka, "Awwwwww.." Arka memekik sakit.


"Nah kan gini nih yang gue nggak suka, baru aja hari pertama lu berdua udah gangguin momen mesra gue bareng istri." Arka mendelik, ya Arka memang merasa kesal karena cumbuannya terganggu. Padahal tadi Arka sangat menikmati bibir indah istrinya.


"Sorry, nggak maksud. Tapi ya tadi tuh momen nya jadi awkrad banget bro, lu bayangin aja lah. Elu berdua mesra-mesraan, gue sama Tiara malah diam-diaman jadi pada bingung mau ngapain, salting iya, tergoda juga iya." Jawab Evan.


"Lu laki kan? Gentle dong! Sosor aja duluan! Gue juga dulu pernah nyosor Kalista kok waktu dia masih jadi sekretaris gue." Ucap Arka terang-terangan.


Kalista langsung membelalakan matanya, tatapan serem dan menusuk ia tunjukan pada Arka. Tangannya segera meninju perut Arka secara pelan.


"Gue nggak bisa kaya gitu, nanti kalau Tiara hilang respect dan nggak mau sama gue kan bahaya, merana gue!" Ucap Evan sambil meremas rambutnya.


Tiara hanya menatapnya saja. Diam-diam Tiara merasa kagum atas sikap dan perlakuan Evan, yang menurutnya sangat menjaga sopan santun terhadap dirinya.


"Udah lah ribut terus! Laper nih!" Kalista bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja makan.


Tiara, Arka, dan Evan pun mengikuti langkah Kalista. Begitu sampai di meja makan, semuanya melongo melihat masakan Sunda yang sedang pelayan hidangkan.


Ikan peda, lalapan timun, sambel terasi, tempe goreng, bakwan jagung, sayur bayam, tumis kangkung, capcay, dan minumnya teh tawar hangat.


Kalista secepat kilat melangkahkan kakinya ke kamar, Arka menatapnya bingung tidak lama kemudian Kalista kembali lagi ke meja makan. Sekarang Kalista sibuk dengan ponselnya, memotret semua makanan yang tersedia di meja makan.


"Harus gitu di foto dulu!" Arka mengerutkan dahinya.


"Wajib! Buat feed Instagram!" Ujar Kalista yang masih sibuk memotret.


"Mantap nih! Selera makan ku meningkat pesat." Ujar Kalista yang langsung mengambil piring, dan mengambil nasi. Ponsel telah ia jauhkan dari meja makan.

__ADS_1


Kalista mengambil piring yang lain. "Mau makan sama apa suamiku?" Tanya ramah, Kalista memang tidak pernah melupakan perannya sebagai istri.


"Samain sama kamu! Tapi nasinya jangan banyak-banyak! Aku diet." Ujar Arka dengan cengir kuda.


"Halah sok diet-diet!" Kalista mengambilkan nasi untuk Arka, lauk dan sayurnya semua Kalista ambil beserta sambal terasi dan lalapan.


Tiara pun segera mengambil nasi ke piringnya. Evan juga begitu, mereka memang mengambil nasi masing-masing. Sebenarnya Tiara mau mengambilkan untuk Evan namun malu, dan Evan pun sebenarnya sangat berharap Tiara mengambilkan nasi untuknya.


Semuanya nampak tenang dalam makannya, mereka makan dengan sangat lahap. Makanan khas Sunda memang tiada duanya, apalagi sambal terasinya selalu pedas dan lezat.


Kalista makan sampai nambah, Arka memperhatikannya. Sebenarnya Arka merasa khawatir melihat Kalista makan sambal terlalu banyak, takut bayi di perutnya diare.


"Kenyang." Ujar Kalista setelah menyeruput teh tawar, tangannya mengusap-usap perutnya.


"Gimana nggak kenyang coba? Seporsinya aja banyak, nambah pula." Ujar Tiara sambil terkekeh geli memperhatikan Kalista yang makannya sangat banyak.


"Hey! Nggak boleh meledek! Gimana nggak nambah coba? Gue kan berbadan dua, jangan lupa ada kehidupan lain nih di perut buncit." Kalista membela dirinya dengan memamerkan perut buncitnya.


"Iya nggak apa-apa, di maklum kok untuk bumil." Kata Evan, Evan pun tersenyum memperhatikan Kalista yang sekarang sibuk memakan buah pisang.


"Nggak geli gitu makan buah pisang?" Pertanyaan Evan ini cukup membuat Kalista mengerutkan dahinya, lalu manik matanya menatap Evan bingung seolah meminta penjelasan.


"Maksudnya?" Suaranya hampir tidak terdengar, Karen Kalista sibuk mengunyah buah pisang.


"Haha nggak deh! Becanda gue!" Ujarnya sambil terkekeh, kemudian pergi ke kamarnya.


Kalimat itu keluar dari mulut Evan, Arka langsung memelototinya karena Arka tahu kemana arah pertanyaan itu.


"Sudah selesai nyonya makannya?" Bibi pelayan tiba-tiba muncul dan bertanya.


"Sudah bi, makasih ya bi makannya enak banget, aku sampai nambah dan perutku langsung buncit loh bi." Ujar Kalista sambil bercanda.


"Bibi bersihkan ya?" Bibi mulai menumpuk piring-piring kotor bekas makan tadi.


"Aku bantuin ya bi." Tawar Tiara.


"Ah nggak usah non."


"Biarin bi, sekalian saya belajar buat jadi calon ibu rumah tangga yang baik dan serba bisa." Kata Tiara.


"Iya bi biarin dia belajar! Saya juga mau bantuin, mau belajar jadi calon suami yang baik." Tiba-tiba Evan muncul dan ikutan membersihkan meja makan.


"Bibi mendingan pulang aja bi, tugas ini tugas terakhir bibi hari ini kan? Biasanya bibi pulang sore kan? Nah sekarang ada mereka yang akan membersihkan piring dan membereskan meja makan, jadi tugas bibi hari ini telah selesai." Arka melirik Evan dan Tiara sekilas, senyum seringai muncul begitu saja.


"Tapi tuan, nanti kalau malam-malam tuan atau nyonya mau makan siapa yang masakin? Biar bibi menginap saja selama tuan dan nyonya ada di villa ini." Bibi pelayan enggan untuk meninggalkan villa.


"Kalau malam nanti kita delivery, udah biarin bibi pulang aja, kasian kan nanti anaknya nggak ada yang ngurus." Ucap kalista.


"Terimakasih tuan, nyonya. Saya pamit undur diri!" Bibi segera melangkahkan kakinya keluar dari villa ini, bibi pelayan bergegas pulang.


"Serius ini gue di jadiin pembokat?" Evan mengerutkan dahinya, berharap jawaban dari Arka.


"Harusnya lu tuh ber-terimakasih sama gue! Karena gue udah memberikan waktu untuk lu dan Tiara berduaan! Udah cuci piring sana, belajar tutorial rumah tangga." Ledek Arka pada Evan, tawa terbahak-bahak telah keluar dari mulut Arka.


"Sekarang mending kita tiduran di kamar, menyusun rencana untuk hari esok, atau membahasa tema maternity, atau mesra-mesraan juga boleh sayang." Sambungnya lagi, Arka kemudian menggandeng tangan istrinya, membawanya ke kamar.


Kamar ini sangat luas, spring bed dengan ukuran king, memakai sprei putih bersih. Kamar ini pun tidak jauh berbeda dengan bagain depan villa, menggunakan warna putih dengan perpaduan warna mocca. Banyak sekali lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.


Di kamar ini pula terdapat sofa, televisi, rak buku dengan berbagai macam novel dan buku-buku sejarah berjejer rapi di sana. Ada kulkas kecil di sudut kamar, dan yang bikin Kalista kagum adalah terdapat satu figura dengan ukuran besar menampilkan foto pernikahannya dengan Arka.


"Ini kok bisa ada di sini?" Tanya Kalista, manik matanya sibuk memperhatikan figura itu.


"Bisa lah, apa sih yang nggak bisa Arka lakuin?"


"Kapan? Kan setelah nikah kamu nggak pernah ke sini?" Tanya Kalista bingung.


"Untuk memajang sebuah figura apakah aku harus datang kesini? Tidak begitu ya istriku, jadi begini kita tinggal suruh orang, kirim fotonya via email, mereka cetak, figurain, lalu tempel di dinding." Arka mencubit gemas pipi Kalista.


"Oh iya lupa! Suamiku kan orang tajir." Ucap Kalista dengan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


"Cantik banget ya aku di foto itu!" Kalista masih asyik memperhatikan figura itu, pose mereka ketika resepsi sedang berhadap-hadapan dan saling tersenyum. Pose kesukaan Arka.


"Kapanpun dimanapun dalam keadaan apapun istriku memang cantik terus, always beautifull." Arka mencium kening Kalista.


"Foto pernikahan kita memang sengaja aku pasang di setiap kamar di villa ini, bahkan di kamar yang Evan dan Tiara tempati juga ada foto kita sayang?" Sambungnya lagi.


"Serius?" Tanya Kalista.


"Serius banget sayang!" Jawab Arka.


Mereka berdua pun asyik berbincang-bincang sambil merebahkan dirinya di ranjang, Arka memainkan ponselnya, mencari tempat-tempat yang akan di kunjunginya selama di Bali. Sebenarnya Arka sudah mempunyai draft tempat yang akan di kunjungi, namun Arka ingin menambahnya lagi.


Kebersamaan dengan istrinya memang sangat langka, apalagi biasanya terganggu oleh pekerjaan. Walaupun weekend dan sedang bersama Kalista, namun email masuk perihal pekerjaan masih sering mengganggunya.


Berbeda dengan hari ini dan beberapa hari ke depan. Arka menyerahkan perusahaannya untuk di handle Andy dan Gina. Kalau tidak ada Gina mungkin Andy menolak mati-matian, tapi karena ada Gina Andy malah makin semangat kerjanya. Memang terkadang wanita adalah segalanya.


Dari arah dapur terdengar suara berisik, tertawa dan cekikikan sangat kencang.


"Ngapain sih mereka? Berisik banget?" Kalista menyibak selimutnya, turun dari ranjang lalu berjalan ke arah dapur. Arka mengikutinya dari belakang.


Dua manusia yang sedang di mabuk cinta itu sedang asyik bermain ciprat-cipratan air di dapur. Piring kotor masih menumpuk sama sekali belum di cuci.

__ADS_1


"Tolong jangan kotori villa saya! Apalagi membuatnya becek seperti ini." Tegas Kalista, kalista tidak suka melihat dapurnya sangat berantakan dan becek.


Evan dan Tiara langsung berbalik badan, mereka langsug melihat Kalista dan Arka sedang berdiri dengan sorot mata tajam.


"Maaf, tapi ralat ya ini villanya pak Arka bukan villa nya ibu Kalista." Ucap Tiara dengan senyum meledek.


"Arka tuh suami gue! Apapun punya dia berarti punya gue juga! Dih dasar bucin otaknya langsung nggak beres!" Kalista menjewer pelan telinga Tiara.


"Duh sakit bumil, iya-iya ampun deh." Tiara mengiba agar jeweran nya di lepaskan.


"Gue nggak mau tahu! Pokonya beresin sampai bersih, kinclong, shimmering, dan glowing." Kalista mendelikkan matanya.


"Kinclong? Glowing? Biar dapurnya ngalahin pesona muka lu ya? Haha." Tiara terkekeh.


Tiara dan Evan pun berkolaborasi membersihkan dapur dan mencuci piring. Tiara yang menggosok piring, Evan yang mencucinya. Keduanya tampak sibuk, karena ini pertama kalinya Evan terjun ke dapur, jadi dia agak sedikit kewalahan.


Setelah selesai mencuci piring, Tiara pun segera mengepel lantai. Tiara sadar betul bahwa sahabatnya itu sedang mengandung, lantai licin atau basah akan sangat membahayakannya.


Evan memperhatikan Tiara. Wanita cantik yang sedang mengepel lantai itu selalu saja membuatnya tersenyum, tingkah lakunya, gaya bicaranya, bahkan ketika sedang diam pun Tiara sangat mengagumkan. Evan bersyukur untuk hari ini, mencuci piring bersama menjadikannya lebih dekat dengan Tiara, bahkan walaupun tangan mereka sibuk tapi mulut mereka terus saja berbincang-bincang, dari mulai yang nggak penting sampai yang penting sekalipun mereka bahas. Candaan demi candaan Evan lontarkan demi Tiara tersenyum.


"Gue bikin minum dulu." Evan membuka kulkas, ternyata isi kulkasnya kosong melompong, hanya ada sebotol jus jeruk saja.


Evan segera menuangkan jus jeruk, membawanya lalu meletakkannya di meja dapur.


"Kalau udah selesai ngepel, langsung minum ya jusnya!" Ujar Evan, kemudian Evan masuk ke kamar mandi.


Kalista dan Arka sedang menikmati angin sore di halaman depan villa. Kalista sangat menikmati pemandangan di villa ini, bunga-bunga bermekaran itu teramat sangat menarik perhatiannya. Kalista berjongkok, namun karena perutnya sudah membuncit jadi Kalista memutuskan untuk duduk tepat di hadapan mawar merah yang sedang bermekaran. Manik mata Kalista tertuju pada tanah di bagian tangkai mawar merah, ada beberapa tangkai mawar yang mati karena kekeringan.


"Hati-hati kena durinya!" Arka memperingatkan Kalista, karena Arka melihat Kalista sedang memegang tangkai mawar itu.


"Banyak yang mati, ada yang layu juga. Padahal lagi pada mekar, sayang sekali." Ucapnya sedih sambil memperhatikan tangkai mawar itu. "Aku mau siram deh! Boleh ya?" Sambungnya lagi.


Sebelum menyiram bunga, Kalista lebih dulu membersihkan tangkai-tangkai mawar yang mati. Membersihkan daun-daunnya yang kering. Lalu menyiramnya dengan telaten dan hati-hati.


Sementara Kalista sibuk menyiram bunga, Arka sibuk dengan kameranya. Arka berencana akan mengabadikan moment-moment kemahilan istrinya, dan akan di buatkan album untuk kenangan ketika anak mereka sudah besar nanti.


Foto dengan berbagai macam pose, namun foto itu sangat alami dan natural karena tidak di buat-buat. Arka hanya menjepretnya saja, Kalista pun sama sekali tidak bergaya.


"Aaaaaaaaaw." Kalista memekik kesakitan, tangannya tertusuk duri mawar.


Arka menghampirinya, memencet ibu jari Kalista yang tertusuk duri mawar. Arka berusaha mengeluarkan darah dari ibu jari itu. Tiara dan Evan langsung berlari menghampirinya, mereka pun sama paniknya seperti Arka.


Tiara segera mencari plester dan obat pencuci luka di kotak obat. Tiara sedikit kesulitan karena isi kotak obat tersebut sangat banyak.


"Cuci dulu pak lukanya, agar tidak infeksi." Tiara mengulurkan obat pencuci luka dan plester.


Arka langsung menurut, mencuci ibu jari Kalista, lalu memasangkan plester. "Jangan nyiram bunga lagi, aku nggak mau istri aku terluka. Bahkan aku sampai panik setengah mati." Deru napas Arka tersenggal-senggal dan ngos-ngosan, Arka merangkul Kalista dalam dekapannya sangat erat.


"Luka kecil doang ini mah! Lagian nggak terlalu sakit kok." Bantah Kalista, karena menurut Kalista Arka ini sedikit lebay dalam mengkhawatirkan dirinya.


"Udah deh nurut aja lu sama suami! Jangankan suami lu, gue aja panik banget ngedengarnya." Tegas Tiara.


Arka masih saja mendekap Kalista, dekapannya itu sama sekali belum terlepas. Bahkan Kalista masih mendengar deru napas yang keluar dari mulut Arka.


"Tenang sayang, aku baik-baik saja." Kalista tersenyum, lalu mengecup kening suaminya.


*****


Bel telah berbunyi, itu menandakan bahwa jam kerja telah usia. Andy langsung membereskan semua berkas, dan mematikan komputer.


Gina menutup jendela, dan menarik tirainya. Gina pun melakukan hal yang sama dengan yang Andy lakukan. Bahkan Gina ini menyapu lantai terlebih dahulu sebelum pulang.


Andy mengernyitkan dahinya. "Kenapa nyapu dulu?" Tanya Andy penasaran.


"Kira-kira lantainya di sapuin biar apaan?" Bukannya menjawab, Gina malah berbalik nanya.


"Biar bersih!" Jawab Andy.


"Nah betul! Biar bersih, lagian kan enak kalau besok masuk kerja ruangannya sudah bersih! Tahu sendiri kan di ruangan ini terdapat sejumlah dokumen-dokumen penting. Nggak baik juga membiarkan ob membersihkan ruangan ini, sebenarnya bukan nggak baik sih tapi kalau semisal ob nya lagi khilaf atau punya rencana jahat, kan bahaya juga?" Gina menjelaskan panjang lebar perihal pikiran yang ada di kepalanya.


Andy mangut-mangut, selama ini Andy nggak kepikiran sampai ke situ. Pantas saja Arka tidak membolehkan ob membersihkan ruangannya pagi-pagi, ob selalu membersihkan ruangan ini ketika Arka dan Andy di ruangan. Sebelumnya Andy sudah pernah protes, karena Andy merasa tidak nyaman. Namun sekarang Andy tahu alasannya.


"Udah selesai kak, ayo pulang." Ajak Gina. Namun tidak ada tanggapan dari Andy. Ternyata Andy melamun, bahkan Gina sampai melambaikan tangannya berkali-kali kehadapan wajah Andy.


"Ah apaan?" Tanyanya ketika baru sadar dari lamunannya.


"Ayo pulang!" Gina langsung melangkahkan kakinya keluar kantor.


Andy mengikuti langkah kaki Gina, sebelum benar-benar meninggalkan kantor, Andy terlebih dahulu memeriksa seluruh ruangan kantor. Memastikan sudah terkunci atau belum? Karena sekarang kantor menjadi tanggung jawab Andy. Bahkan Andy menambah beberapa security untuk berjaga di malam hari.


"Masuk!" Andy membukanya pintu mobil untuk Gina. Gina langsung masuk begitu saja.


"Gue bisa buka pintu mobil sendiri loh, jangan lakukan hal kaya gitu lagi ya." Ujar Gina sambil memasang safety bell, ketika Andy masuk dan duduk di sampingnya.


"Oke." Jawab Andy singkat. Andy tidak terlalu banyak berkomentar.


Andy mulai melajukan mobilnya ke komplek kawasan rumah Gina. Selama perjalan Gina sibuk dengan ponselnya, Andy sempat melirik sekilas. Ternyata Gina sedang asyik berselancar melihat-lihat barang-barang di online shop. Bahkan tangannya bergerak terus ke atas dan ke bawah! Scroll scroll scroll.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2