
Arka sedang berada di depan apartment nya, hatinya gelisah karena apartment Kalista masih gelap. Arloji yang melingkar dipergelangan tangannya menunjukan angka 00:01 malam. Dari tadi Arka hanya mondar mandir saja seperti setrikaan.
"Semua ini gara-gara Yoora, coba aja kalau Yoora tadi sore nggak manja-manjaan ke gue, pake minta shopping segala, cih dasar ular matre!"
Arka mengambil ponselnya, lalu menekan nomor yang akan di hubungi.
"Hallo, Kalista belum pulang. Gue khawatir banget, bantu gue cari Kalista!" Begitu sambungan teleponnya di angkat, Arka langsung berbicara tanpa basa basi.
"Gila ini jam berapa? Lu tuh ganggu jam tidur gue, sana lu cari aja sendiri!" Andy berteriak setengah kesal, karena sedang asyik dengan tidurnya malah diganggu oleh panggilan telpon. Andy pun langsung memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
"Nggak ada yang bisa diandalkan! Arrrrghh sialan! Kemana sih lu Kalista?" Arka menggerutu, lalu masuk ke dalam apartmentnya, berniat untuk mengambil kunci mobil.
Kalista telah sampai di depan gedung apartment, berjalan masih dengan bertelanjang kaki dan mulutnya sibuk mengemut permen kapas yang di beli di taman tadi. Perih luka ditangannya sudah tak di hiraukan lagi.
Ketika Kalista sampai di depan apartment nya dan hendak membuka pintu, Arka pun keluar dari apartment nya.
"Dari mana aja? Gue khawatir banget." Arka akan memeluk Kalista, tetapi Kalista menolak.
"Ini diluar jam kantor, berarti urusan pribadi saya! Dan tolong ya bapak Arka jaga sikap anda! Jangan semena-mena peluk karyawan, itu tindakan tidak sopan." Ketus Kalista dengan jengah.
Arka tidak banyak bicara, ia hanya menatap Kalista yang semakin menghilang ketika memasuki apartment nya. Baju Kalista kotor, kakinya tidak pake hells, dan rambutnya acak-acakan, hal itu pun tidak luput dari pandangannya Arka.
"Jam segini baru pulang dari mana coba? Dengan penampilan sekusut itu? Jangan-jangan dia cemburu kali ya gara-gara gue sama Yoora? Ah gadisku tunggu dulu ya sayang, sebentar lagi kita akan bersama." Arka senyum-senyum sendiri di depan apartment nya, udah kaya orang gila aja.
*****
"Permisi mba, apakah bapak Arka ada di ruangannya?" Tanya nya pada mba resepsionis.
"Dengan bapak siapa ini? Apakah sudah ada janji?" Resepsionis itu berbalik tanya dengan ramah dan senyum manis menghiasi pipinya.
"Saya sahabatnya sama seperti Andy, nggak ada janji sih."
"Sebentar saya telpon sekretarisnya dulu." Resepsionis itu tengah bersiap menekan beberapa digit angka yang akan di hubungi.
"Nggak usah mba, biar saya langsung samperin saja, tenang aja Arka tidak akan marah ko saya kan sahabatnya."
"Baiklah, Ruangan bapak Arka ada di lantai 5."
Pria itu kini sudah sampai di lantai 5, setelah bertanya kepada karyawan yang ada di lantai 5 akhirnya kini telah sampai didepan ruangan Arka.
"Adakah yang kangen gue?" Itulah kalimat yang di ucapkannya saat membuka pintu ruangan Arka.
__ADS_1
Arka dan Riko yang sibuk sedang berdiskusi masalah kantor, seketika terperanjat ketika melihat kedatangannya sahabatnya itu.
"Wiiiiih bro, kapan nyampe?" Andy langsung menghampiri pria itu dan merangkulnya.
"Tadi malem." Katanya "Woy boss besar, lu nggak kangen gue?"
"Gue sih kangen kumpul." Arka pun merangkulnya.
"Lu datang kenapa nggak bilang-bilang Van?" Tanya Arka.
Ya, Pria itu bernama Evan. Evan merupakan sahabat Arka, Andy, dan Riko. Mereka adalah 4 sekawan dari semasa kuliah.
"Panjang deh ceritanya." Evan lalu duduk di kursi kerja Kalista yang berhadapan dengan meja kerja Arka.
"Personil sudah lengkap nih, nongki kuy coffee shop!" Andy antusias dan langsung merapikan meja kerjanya.
"Meja kerja lu disitu ndy, terus ini yang gue duduki tempat kerja siapa?" Evan penasaran.
"Itu meja kerja sekretaris pribadi gue." Jawab Arka datar.
"Sekretaris pribadi? Cantik nggak? Kalau cantik buat gue aja!" Ujar Evan dengan santainya.
"Wuah berbahaya tuh bro, jangan coba-coba loh nanti boss besar marah." Celetuk Andy.
"Gue suruh ketemu sama klien." Jawab Arka datar.
Setelah percakapan di ruangan Arka, akhirnya mereka bertiga berangkat ke coffee shop. Riko yang melihat kedatangannya para sahabatnya itu pun langsung bergegas menghampiri, apalagi ketika ia melihat Evan.
"Apa kabar bro?" Riko langsung merangkul Evan.
"Baik, lu gimana?" Evan bertanya balik.
"Seperti yang lu lihat." Kemudian Riko menulis beberapa pesanan untuk sahabatnya, waiters dengan segera membawakan pesanan mereka.
Arka, Andy, dan Riko mereka saling bermain mata seperti sedang mengisyaratkan sesuatu, tetapi mereka ragu untuk bertanya.
"Hmmm.. Bro gimana Shafa? Udah kelar?" Hingga akhirnya Andy lah yang memberanikan diri untuk bertanya.
"Shafa? Haha ular berbisa! Di dunia ini wanita berserakan dimana-mana, cuma ngarepin Shafa? Sorry gue nggak sebucin dan setol*l itu!" Kata Evan sambil menyesap capuccino miliknya.
Arka, Andy, dan Riko membelalakkan matanya, pasalnya Evan cinta mati pada Shafa, tapi sekarang? Semuanya begitu cepat berubah.
__ADS_1
"Ini lu lagi serius kan?" Arka langsung memegang dahi Evan.
"Iya gue serius!" Jawab Evan santai.
"Gue sih bersyukur kalau lu udah bisa move on dari Shafa!" Ujar Andy.
"Tapi gue penasaran bro, bisa dijelasin nggak!" Celetuk Riko.
"Ceritanya panjang, intinya tadi malam gue sempat punya niatan untuk bunuh diri, tapi gue di tolong sama wanita cantik, dia masih muda tapi sikapnya dewasa banget, sumpah ya tuh wanita bawel banget, tapi berkat dia gue nggak jadi bunuh diri. Dia ceramahin gue panjang lebar hingga akhirnya gue sadar, dan dia kasih saran ke gue untuk blok semua ATM yg gue kasih ke Shafa, stop tagihan kartu kredit, dan usir Shafa di apartment gue!" Ucapannya berhenti sejenak, ia menyeruput kembali capuccino nya.
"Gue bersalah banget sama wanita itu, tangannya terluka karena nolongin gue, tapi gue lupa nggak nanya namanya. Arghhhh bangke banget kan gue." Evan sedikit berteriak frustasi.
"Jadi gitu ceritanya, gue sih bersyukur kalau lu udah rela ngelepasin Shafa! Ingat bro selama ini Shafa cuma numpang hidup dan numpang fasilitas di lu!" Arka menepuk-nepuk punggung Evan.
"Coba deskripsikan wanita cantik yang nolongin lu, kali aja gue kenal." Kata Andy.
"Pokonya dia cantik! Nanti kalau ketemu lagi mau gue ajak nikah!" Sahut Evan yang langsung disambut gelak tawa oleh mereka.
"Kalian gimana bro? Masih kah pada jomblo? Evan berbalik tanya.
"Masih." Jawab Andy dan Riko barengan.
"Wuah kompak lu berdua, jangan-jangan lu berdua berjodoh." Evan tersenyum menyeringai.
"Najis, amit-amit 7 turunan." Lagi-lagi Andy dan Riko menjawab berbarengan, tentu saja hal itu semakin mengundang tawa.
"Gue sekarang emang masih jomblo! Tapi bentar lagi nikah." Arka tersenyum simpul.
"Sama siapa lu?" Evan penasaran, karena yang ia tahu selama ini Arka hanya mempunyai teman kencan saja.
"Gadis kecil gue sudah ketemu." Lagi-lagi senyum itu muncul menghiasai wajah Arka.
"Hati-hati ya bro lu lu pada jangan kelamaan jomblo! Bahaya nanti pedang kalian jadi karatan, ntar malah gabisa punya keturunan. Ngeri gue." Ujar Arka sarkas.
"Sialan lu, mentang-mentang gadis kecil lu udah ketemu malah jadi songong gini nih si tua bangka." Riko langsung menoyor kepala Arka.
Mereka berempat pun melanjutkan obrolan-obrolan nya, bernostalgia seperti semasa kuliah. Tidak lupa mereka pun menceritakan kisah hidupnya selama ini, begitu juga dengan Arka, ia menjelaskan si gadis kecilnya, dan ia pun menjelaskan mengenai rencananya pada Yoora.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤