SUN FLOWER

SUN FLOWER
SUARA HATI ANDY 2


__ADS_3

"Menikmati waktu sebagai sesama pria tanpa ada gangguan dari wanita, tetapi disana juga kalian mencoba bermain-main dengan wanita. Otak kamu di taro dimana? Seorang asisten CEO otaknya dangkal? Kamu bodoh Andy?"


Deg.. suara Gina cukup membuat gue merasa tersudutkan. Apalagi ketika Gina mengatakan otak gue dangkal? Atau gue bodoh. Cukup menohok dan membuat gue sesak napas.


"Itu Evan dan Riko! Aku nggak kaya gitu Gina! Aku berani bersumpah, aku ikut karena aku juga berusaha nyari kado buat anak Arka, setelahnya memang nongkrong tapi aku nggak main wanita, nggak godain wanita! Aku selalu sadar, bahwa aku punya wanita, ada hati yang harus selalu aku jaga. Gina, aku nggak pernah bercanda soal hati, aku sepenuhnya cinta dan sayang sama kamu."


Barangkali Gina lupa dengan tujuan awal hubungan kita, maka dari itu gue mencoba menjelaskan dengan serius, karena gue juga benar-benar menyesal telah membohonginya. Gue juga mencoba menggenggamnya erat jari jemari Gina, berusaha memberitahukan Gina bahwa gue sedang gusar dan takut. Tetapi sayang, tangan gue langsung di lepaskan dan di tepis sangat kasar.


"Tapi tetap saja kamu bohongin aku! Kamu nggak jujur, dan asalkan kamu tahu ya, sekali kamu bohongin aku, selamanya aku nggak bakalan percaya lagi sama kamu! Aku mau kita putus! Dan aku lebih memilih dia si pria tajir di banding memilih kamu, dia lebih bisa membahagiakan aku, daripada nunggu kamu yang cuma bilang aku serius, aku lagi berusaha menghalalkan kamu. Alah bulshit! Semua pria sama saja, manis di mulut doang!"


Duaaaaaarrrrr.. bagai di sambar petir disiang bolong. Tubuh gue tiba-tiba kaku, dan gue speechless benar-benar kaya orang begitu. Apa yang barusan Gina katakan? Putus? Gue masih tidak percaya, dan gue sama sekali tidak bergeming dari tempat duduk gue, gue minta kepada otak, hati, dan pikiran gue untuk sinkron, tetapi ucapan Gina barusna memang benar adanya dan memang nyata!


Gue bertanya-tanya dalam hati, apakah Gina sadar dengan ucapannya barusan? Gue perhatikan raut wajah Gina, masih tetap sama seperti Gina yang biasanya, tidak terdapat rasa penyesalan ataupun rasa bersalah.


Gue kembali menatap Gina dengan tatapan yang kaya orang bodoh, keadaan gue sangat kacau balau, kepala mendadak pusing dan gue merasa ini sangat rumit. Dunia gue tiba-tiba hancur, luluh lantak, berantakan dan mungkin bisa dikatakan hati gue saat ini seperti kapal pecah.


Ingin sekali gue berontak dan memohon kepada Gina agar hubungan ini bisa terus berlanjut, tapi gue nggak bisa. Gue sadar diri, apa yang tadi Gina katakan cukup membuat gue tahu diri. Gina lebih memilih si pria tajir yang sudah pasti bisa menjamin hidupnya dan selalu membahagiakannya, sedangkan gue? Apa yang gue punya, gue cuma orang biasa, kerjaan saja cuma jadi asisten CEO di perusahaan sahabat gue, apa yang harus gue banggain? Apa yang mau Gina lihat dari gue?


Semesta memang terkadang jahat, tapi ini memang fakta dan kenyataan. Mau mengelak bagaimanapun juga gue memang bukan pria tajir, gue nggak punya perusahaan. Tapi, Gina tidak tahu saja, selama ini gue kerja banting tulang demi apa? Demi tabungan lancar, tabungan untuk pernikahan dan separonya mau gue gunakan buat modal usaha.


Manusia cuma bisa merencanakan, tetap saja Tuhan yang berkehendak atas segalanya. Kalau bukan atas izinnya tentu saja ini semua tidak akan terjadi, mimpi-mimpi dan beberapa palnning yang telah gue susun seketika menjadi ambyar dan hancur.


Kalista, Risa, dan Tiara berusaha menyadarkam Gina, barangkali barusan Gina memang kalap dan tidak bisa mengkontrol emosinya. Bahkan Tiara juga meminta Gina untuk mendinginkan hatinya.


"Gue sadar terhadap apa yang gue ucapkan." Kata Gina kepada mereka semua.


Oke, baiklah! Semuanya sudah sangat jelas, kehdariran gue di hatinya sudah tidak berarti, dan gue bagaimana caranya berjalan mundur. Gue tahu ini sangat sakit, tapi gue masih berusaha untuk positif thinking, bahwa Allah mempunyai rencana yang lebih indah untuk hidup gue. Hubungan gue dan Gina berakhir dalam sekejap.


Evan yang merasa bersalah pun, langsung ikut andil dalam menjelaskan semuanya. Evan merasa ini salahnya, karena dia yang menjemput gue ke apartment, dan dia juga yang mengajak nongkrong. Tapi gue nggak menyalahkan Evan, dan gue juga nggak merasa benci Evan. Ini semua kehendakNya.


"Udah ah jangan di perpanjang lagi! Gina sudah memperjelas semuanya!! Ingat loh kita sedang berada di kamar si bayi kembar, nggak enak dong kita pada berisik banget, malu sama pak Anggara dan Oma."


Gue berusaha kembali mencairkan suasana, karena ini suasananya sudah sangat kacau dan tidak jelas. Gue tidak mau memperkeruh suasana, karena memang nggak enak juga pada berisik di kamar si bayi, dan lebih tidak enaknya malu sama Oma dan pak Anggara.


Raut wajah gue biasa saja, bahkan gue masih bisa tersenyum dan terkekeh. Mungkin sekarang gue terlihat sebagai pria yang tidak punya hati, sama sekali tidak terlihat sedang patah hati dan galau.


Gara-gara pertengkaran gue dan Gina, semuanya sampai lupa dengan tujuan awalnya. Kita semua mau tengokin si bayi. Berusaha baik-baik saja, dan mencoba mendalam hati dengan senyum yang mengembang itu semau tidak mudah. Mungkin orang lain melihat gue baik-baik saja, tetapi yang mengetahui keadaan hati gue, hanya gue dan sang Pencipta.


Hari itu di kamar si bayi kembar hubungan gue dan Gina resmi berakhir. Sebenarnya gue malu, di putuskan di depan para sahabat gue, mana ada Risa dan Tiara juga.


Oma menyuruh kita semua makan. Semua makan di karpet dan lesehan, walaupun dalam keadaan hati kacau, tetapi makan lesehan dan bersama-sama ini cukup membuat gue rindu pada mama, gue kangen banget sama orang tua gue.


Karena hari sudah semakin sore, dan tidak enak juga telah menggangu istirahatnya Arka, Kalista, dan si bayi kembar. Semuanya memutuskan untuk pulang, mereka semua pada berdebat mengenai mau mengantar siapa terlebih dahulu. Yasudah, gue putuskan Riko yang nyetir, Evan di sampingnya, di kursi belakang para wanita. Cukup kok, tiga wanita itu kan badannya ramping.


Gue?


Mana mungkin satu mobil sama Gina, lagi pula juga nggak bakalan muat. Gue juga ingin pulang cepat, ingin mendamaikan hati.


Sebenarnya bukan ingin pulang cepat, tetapi gue mau pergi ke taman. Biasanya gue kalau lagi resah, gelisah gue selalu pergi ke taman, menatap langit taman dan termenung memikirkan semuanya.


Sore itu taman snagat ramai, tetapi hati gue tetap merasa sepi. Hati ini kembali miris ketika melihat muda mudi yang sedang menjalin kasih di taman itu, menikmati sore bersama sambil memakan cemilan. Bercanda tawa gurau dan tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Semesta benar-benar sedang mengejek gue!


Hari semakin sore, langit sudah berubah warna menjadi keorenan, matahari tenggelam terlihat sangat indah, itu loh yang orang sebut sebagai sunset.


Gue memutuskan untuk pulang ke apartment, Andy you know? Apartment gue super duper berantakan, apalagi tadi pagi gue di bangunkan paksa sehingga gue tidak sempat membereskan apartment.


Hal yang pertama gue lakuin adalah membereskan kamar, menyapu lantai dan mengepel lantai. Gue berharap kegiatan ini bisa membuat gue melupakan Gina, tetapi tidak bisa. Hati gue tetap masih condong pada Gina, sangat sulit untuk melupakannya.


Keranjang cucian gue sangat numpuk, setengah dari isi lemari gue sudah berpindah ke keranjang cucian itu. Gue memasukkan semuanya pada kantong plastik, lalu gue membawanya ke laundry.


Untung saja gue sudah makan sore di rumah Arka, karena sekarang gue sama sekali tidak punya selera makan, jangankan makan untuk masaknya saja gue malas banget.


Merebahkan tubuh di kasur, menatap langit-langit kamar. Ucapan Gina semuanya terngiang-ngiang di telinga gue, gue bahkan menjambak rambut gue sendiri. Gue benci kepada gue di lahiran dengan ekonomi yang biasa saja, kenapa gue nggak tajir, kenapa gue nggak berbeda dengan para sahabat gue.


Manik mata gue lambat laun mulai terpejam, mata lelah ini ingin segera beristirahat. Jujur saja, malam ini gue menangis tersedu-sedu. Usia semakin bertambah setiap tahunnya, kapan gue nikah? Sekarang malah nggak ada calonnya.


*****


Matahari sudah keluar dari tempat persembunyiannya, sinar dan cahayanya masuk menerpa wajah Andy. Manik mata Andy terbelalak melihat jam di dinding menunjukan angka 07:45 WIB, itu artinya Ansy hanya punya waktu 15 menit untuk mandi, sarapan, intinya untuk siap-siap pergi ke kantor.


"Alarm gue nggak nyala! Aaaaarrrrggghh sialan, ternyata ponsel gue mati." Andy menjambak rambutnya frustasi, bagaimana mungkin dirinya hanya mempunyai waktu 15 menit untuk pergi ke kantor.


Andy langsung menyambar handuk dan bergegas pergi ke kamar mandi. Menggosok gigi terlebih dahulu, karena menggosok gigi merupakan ritual yang paling lama menyita waktu. Walaupun sudah hampir telat, Andy tetap mandi.


Setelah mandi, Andy baru ingat ternyata dirinya belum menyetrika untuk ngantor. Entah ada apa dengan Andy hari ini, sudah tahu hampir telah tetapi dirinya masih tetap santai. Ada waktu untuk nyetrika, ada waktu bikin sarapan, bahkan Andy juga mengubah style rambutnya hari ini.


Setelah meneguk segelas susu, dan memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya. Andy langsung menyambar kunci mobilnya, mengendarai mobil dengan tenang. Jalanan lumayan macet, biasalah hari Senin adalah puncak dimana semua orang memulai aktivitasnya kembali.


Dengan durasi yang lumayan lambat, bahkan kini Andy sudah terlambat sekitar 30 menit, Andy langsung memarkirkan mobilnya telah di samping mobil Arka.


Andy masuk ke kantor, beberapa karyawan dan resepsionis di lantai dasar memperhatikannya. Ada yang berbeda dengan asisten CEO, hari ini terlihat lebih tampan.


"Enak banget tuh sekretarisnya CEO, bisa memiliki hubungan dengan pak Andy." Ujar salah satu pelayan.


Kata-kata itu masih terdengar jelas di telinga Andy, sebelum langkah kakinya benar-benar membawanya masuk ke dalam lift. Andy bahkan tersenyum kecut ketika mendengar kalimat itu, kalimat yang menurut orang sangat beruntung, mereka semua tidak tahu saja hubungan Andy dengan Gina sudah berakhir kemarin.


Sama seperti para karyawan di lantai bawah, karyawan di lantai 5 pun terkagum menatap Andy, penampilan Andy berubah hari ini.


"Telat lu! Ngapain aja si apartment? Ngangis Bombay sampe kejer ya lu." Arka terkekeh melihat asisten sekaligus sahabatnya itu yang hari ini benar-benar resmi menyandang status jomblo.


"Gue kesiangan, sialan banget alarm gue nggak nyala, ternyata ponsel gue lowbat. Semalam gue beres-beres apartment, pergi ke laundry, setelahnya gue ngerasa capek banget, ketiduran deh. Bangun kesiangan, lupa lagi belum nyetrika baju." Celetuk Andy sambil mengambil beberapa berkas di meja Gina.

__ADS_1


Gina terdiam menatap Andy, manik mata itu sungguh tidak berkedip menatap mantan kekasihnya. Mantan kekasihnya terlihat lebih tampan hari ini.


"Balikan deh gin, kasian tuh sahabat gue galau parah." Ujar Arka sambil menatap Gina dan Andy bergantian.


"Jangan suka maksa! Kalau Gina sudah nggak mau ya biarin saja, jangan suka menyiksa hati dan pikiran orang lain." Jawab Andy sambil berlalu berlalu melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


"Tapi dengan berakhirnya hubungan kalian, secara tidak langsung Gina juga menyiksa hati, pikiran, batin dan jiwa raga lu."


"Bisa aja lu!" Andy terkekeh mendengar perkataan Andy.


"Semalam lu mewek ya, makanya kesiangan." Arka masih mencoba mencari tahu semuanya.


"Kepo!" Andy mendelikkan matanya jengah, bibirnya mencebik. Andy tidak suka terhadap apapun yang Arka katakan, karena itu memang merupakan kenyataan. Lalu Andy pun masuk ke ruangannya dan langsung menutup pintu.


Gina terdiam, semalam Gina menunggu chat dari Andy. Tetapi Andy sama sekali tidak menghubunginya. Gina juga berharap Andy akan memaksa dan memintanya untuk kembali lagi pada pelukannya, namun ternyata tidak. Bahkan Gina merasa sesak di hatjnya, ketika melihat Andy merubah style rambutnya. Apakah Andy sedang berusaha menarik perhatian wanita lain?


Hari ini Gina benar-benar tidak fokus kerjanya, dia banyak melamun dan memikirkan Andy. Bahkan beberapa dokumen dan berkas sudah menggunung di mejanya.


"Gina, sorry dong tolong gandakan berkas yang ini." Andy membawa selembaran kertas di tangannya, dan berbicara pada Gina.


"Gina." Andy melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Gina.


"Ah iya apa?" Tanya Gina dengan gelagapan, malu banget nggak sih ke-gep sama mantan sedang melamun di jam kerja.


"Kenapa ngelamun?" Tanya Andy, nada bicaranya sangat lembut. Andy memang seperti itu, Andy itu sangat pintar memperlakukan wanita dengan nyaman.


"Ah nggak apa-apa." Jawab Gina senormal mungkin.


Apa katanya barusan? Kak? Ya ampun hubungan diantara mereka berdua benar-benar sudah berakhir, bahkan Gina kembali memanggil Andy dengan panggilan kak, seperti awal dulu mereka saling mengenal.


"Tolong gandakan berkas ini ya, kalau sudah bawa ke ruangan saya." Andy tersenyum ramah sambil menyerahkan beberapa lembar berkas di tangannya.


"Oke." Jawab Gina singkat.


Kemudian Gian menggandakan beberapa berkas tersebut, Gina juga mengambil beberapa bekas di mejanya yang harus di tandatangani oleh Arka. Untuk bisa di tandatangani oleh Arka, biasanya berkas itu harus melalui Andy terlebih dahulu. Bisa dikatakan Andy lah yang menyortir, karena khawatir terdapat sebuah kesalahan.


"Kak, ini berkas yang sudah di gandakan. Dan ini beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh bapak Arka." Ujar Gina.


"Letakkan di meja saya! Dan kami silahkan kembali bekerja." Jawab Andy cuek, bahkan Andy sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang sedang di tatapnya.


Melihat Andy dalam mode serius bekerja, tiba-tiba Gina merasa bahwa Andy sangat tampan, wajah tampan di tambah dengan wajah serius. Sudah deh wanita manapun lagi bakalan ngiler melihatnya.


"Emang kalian itu tidak bisa balikan? Daripada cuma menatap kagum secara diam-diam, mendingan say hai, terus kalian bicarakan kembali mengenai hubungan kalian." Arka menepuk bahu Gina yang ternyata masih berada di ruangan itu, Andy sama sekali tidak menyadarinya karena memang dirinya sangat sibuk oleh pekerjaan yang Arka berikan.


"Jadi Gina diam-diam menatap gue kagum?" Andy mengalihkan pandangannya dari layar laptop, kemudian menatap Gina dengan alis yang dinaik turunkan, kemudian tersenyum ramah.


Gina tampak kikuk, lagi-lagi dia ke-gep. "Ah itu bukan.." Gina berusaha mencari pembelaan atas dirinya.


"Bukan apa Gina? Kalau wanita gitu sih ya, suka nggak mau ngaku." Celetuk Arka yang semakin membuat Gina merasa tersudutkan.


Deg.. Gina terdiam sesaat. Gina sepertinya baru menyadari ucapannya. Gina terdiam lalu menatap Andy dengan tatapan intens, tetapi Andy malah cuek saja dan langsung meneruskan pekerjaannya.


Gina langsung pamit undur diri, dan kembali lagi ke ruangannya. Dalam hati Gina merutuki kebodohannya, apa jangan-jangan gara-gara itu sehingga Andy tidak menghubunginya semalam.


Jarum jam terus bergerak sesuai dengan porosnya, Andy dan Gina masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, lebih tepatnya mereka sama-sama menyibukkan diri. Andy bahkan sampai memesan makan siang yang dikirim langsung ke ruangannya, Andy sangat ingin menghindari Gina.


"Bapak manggil saya?" Tanya Gina ketika membuka pintu ruangan Arka dan Andy.


"Duduk dulu di sofa gin." Perintah Arka, karena saat ini Arka sedang membahas suatu kerjaan dengan Andy.


"Jadi hari ini saya akan pulang cepat, karena istri saya di rumah kewalahan mengurus dua bayi kembar. Sedangkan hari ini ibu Eva dari perusahaan Suka Jaya mengajak saya makan siang, dan akan menawarkan sebuah kerja sama."


"Dan sayang meminta Andy yang menggantikan saya, dan kamu selalu sekretaris harus ikut serta dengan Andy." Imbuhnya lagi.


"Oke." Jawab Andy singkat, Andy sih terima-terima saja ketika mendapat tugas dari Arka.


Gina pun menyetujuinya, emang Gina siapa? Emang Gina juga punya hak apa untuk menolak perintah dari bossnya?


Arka langsung pulang, karena Kalsita memang menghubunginya. Sedangkan Andy dan Gina kembali di sibukkan untuk mengurus berkas-berkas apa saya yang sekiranya akan di bawanya ketika bertemu dengan ibu Eva.


Ketika Andy dan Gina berjalan bersamaan menuju lantai dasar, beberapa karyawan menatapnya kagum. Pasangan yang sangat serasi, bahkan resepsionis bertanya kapan mereka akan menikah? Andy tetap cuek dan melanjutkan jalan, sedangkan Gina merasa deg-degan.


Andy membawa mobil kantor, dan duduk di kemudi setir. Gina tampak ragu dan bingung harus duduk dimana? Di sebelah Andy ataukah di belakang?


Gina membuka pintu mobil belakang, Andy menatapnya heran, lalu "Di depan aja Gina, gue bukan sopir." Andy berkata dengan cukup jelas.


Gina duduk di sebelah Andy, keduanya sama-sama saling terdiam. Andy fokus menyetir, sedangkan Gina tampak sibuk mengalihkan perhatiannya pada layar ponsel, dan sesekali Gina juga melihat kondisi jalan melalui kaca mobil.


"Kak?" Gian mencoba membuka mulut dan mencairkan suasana.


"Apa?" Tanya Andy lirih, pandangannya tetap terfokus pada kemudi setir dan jalan.


"Nggak jadi deh." Jawab Gina pekan, sebenarnya Gina juga bingung mau ngomong apa?


"Kamu ini gin, masih suka membuat orang penasaran." Andy terkekeh pelan.


"Tumben banget tadi kesiangan?" Tanya Gina lagi.


"Karena kecapean habis beres-beres."


"Oh gitu."

__ADS_1


"Jutek banget sih gin?" Arka menatap Gina sekilas.


"Biasanya juga gini kan?"


"Iya biasa, kembali ke kebiasaan kamu yang dulu. Kita yang hanya rekan kantor dan saling cuek-cuekan dalam berbicara." Andy mencoba memperjelas lagi semuanya.


"Hmmmmm." Gina mendesah pelan.


Karena mereka sibuk bercakap-cakap singkat, sehingga perjalanan sama sekali tidak terasa. Andy memarkirkan mobilnya di basement. Kemudian turun dan langsung masuk ke restoran, matanya celingak-celinguk mencari meja nomor 5, sesuai dengan apa yang Arka katakan.


Andy langsung berjalan ke arah meja nomor 5, Gina mengikuti langkahnya dari belakang. Semua manik mata tertuju pada Andy, sosok pria yang sangat tampan, badan tegapnya terbalut stelan kantor yang sangat pas dan terlihat bagus.


"Selamat siang, dengan ibu Eva?" Andy mengulurkan tangannya pada wanita yang usianya mungkin sekitar 25 tahun.


"Betul, bapak Andy asistennya bapak Arka, dari perusahaan Anggara?" Tanyanya dengan senyum mengembang, manik matanya menatap Andy dengan tatapan kagum.


"Benar, mohon maaf bapak Arka tidak bisa hadir. Beliau sedang ada keperluan yang sangat mendesak, karena istrinya juga baru melahirkan seminggu yang lalu." Ujar Andy.


"Baik, saya mengerti." Ujar ibu Eva dengan sangat sopan dan ramah.


Mereka kemudian membahas bisnis dan kerjasama. Andy dan Gina berdiskusi sebentar, setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya Andy dengan sangat berani langsung menandatangani dokuemen kerjasama bisnis itu.


Tidak selesai sampai di situ saja, Andy juga menerima ajakan ibu Eva untuk makan dan mengobrol sebentar. Andy sih terima saja, kapan lagi kan bisa nongkrong dan makan di restoran selagi jam ngantor? Daripada terus-terusan berkutat dengan sejumlah dokumen, yang ada hati, otak, dan pikiran terasa mumet.


"Sudah punya calon?" Tanya ibu Eva dengan terang-terangan, bahkan di wajahnya tidak terdapat rasa malu sedikitpun.


Gina membulatkan matanya dengan sempurna, kemudian menatap Andy dengan tatapan yang menusuk. Hubungan mereka menang sudah berakhir, tetapi Gina juga sepertinya tidak rela melihat Andy bersama orang lain.


"Ibu Gina kenapa?" Tanya ibu Eva, ibu Eva cukup membantu memperjelas menegbai tatapan Gina, padahal Andy kira dirinya salah lihat.


"Saya calonnya!" Jawab Gina dengan serius, bahkan di wajahnya terdapat senyuman mengembang.


"Wah berhubungan dengan ibu sekretaris, congrats ya. Kalau nikah ngundang ya, padahal tadi saya kira bapak Andy masih single loh." Terdapat raut wajah kekecewaan di wajah ibu Eva, wajah yang tadinya sangat semangat mengobrol dengan Evan, tiba-tiba saja wajahnya menjadi lesu.


"Iya Bu." Jawab Gina ramah.


Lalu, ibu Eva pamit undur diri. Andy masih tetap melanjutkan makan, Gina juga ikutan melanjutkan makannya.


"Gina?" Andy yang baru selesai menghabiskan makannya itu pun langsung berbicara pada Gina.


"Iya?" Tanyanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Maksudnya tadi apaan? Bukannya kemarin hubungan kita sudah berakhir?" Tanya Andy to the point.


Enak banget Gina bilang calonnya, sedangkan kemarin Gina sudah berhasil meluluhkan lantakkan hati Andy.


"Nggak ada maksud apa-apa, tapi aku nggak suka pada bu Eva. Lebih nggak suka lagi karena bu Eva suka kamu." Jawab Gina terang-terangan.


Andy?


Seneng sih mendengarnya, itu berarti Gina masih menaruh rasa padanya.


"Tapi nggak bisa seenaknya gitu doang, kita sudah tidak terlibat hubungan asmara. Kalau kaya gitu terus kapan aku dapat calon istri, kamu sih enak sudah punya yang tajir. Lain kali nggak boleh egois." Andy berkata tajam, sesekali bolehkah ya membuat Gina marah. Toh hubungan mereka juga sudah berakhir.


"Iya!" Jawab Gina singkat.


Wajahnya ditekuk, cemburu dan terlihat kusut. Bahkan makannya saja sampai menimbulkan dentingan suara sendok dan garpu.


Andy sebenarnya ingin tertawa melihat wajah cemburu yang hina tunjukan, tetapi Andy tetap menahan diri agar tidak tertawa. Walau bagaimana pun juga Andy masih sayang pada Gian, kehadiran ibu Eva cukup membuat Andy paham mengenai segalanya. Andy sengaja akan memberikan pelajaran pada Gina, biar Gina bisa merasakan apa yang kemarin Andy rasakan. Cemburu itu tidak enak kan?


"Ayo pulang! Jangan lama-lama disini, kesini kan bukan buat makan ataupun nongkrong, kita kesini atas perintah pak Arka dalam urusan bisnis." Gina mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan Andy terlebih dahulu.


Andy semakin mengembangkan senyumnya, hak yang sangat Andy sukai dari Gina adalah cemburunya dan ngambeknya. Pengecilan untuk ngambek yang kemari, karena itu berakibat sangat fatal.


Membuka pintu mobil, dan menutupnya dengan keras. Gina memilih duduk di kursi belakang, sedangkan Andy yang menyetir. Mirip sekali dengan sopir pribadi yang sedang mengantarkan nyonya nya ke suatu tempat.


"Kamu dalam siklus menstruasinya ya? Perasaan dari tadi uring-uringan terus. Mau aku belikan kirain?" Ujar Andy yang masih fokus menyetir, sebenarnya Andy sedang meledek Gina.


"Berisik! Kamu tahu apa sih soal menstruasi? Nggak usah sok tahu! Aku uring-uringan juga karena kamu!" Gina berteriak judes di dalam mobil.


"Hah gara-gara aku? Perasaan tadi aku nggak buat salah deh, baikan aku mengalah. Karena perempuan selalu benar." Andy semakin meledek dan memojokkan Gina.


"Nyebelin?" Gina mendengus sekalian mendelikkan matanya.


"Kamu lebih nyebelin! Semoga calon suami kamu yang tajir itu bisa menerima sikap nyebelin dan egoisnya diri kamu, dan semoga bisa mencintaimu setulus aku mencintaimu." Ujar Andy.


"Ih apaan sih?" Jawab Gina kesal, karena pria tajir itu sama sekali tidak ada, hanya angan-angan yang Gina gunakan untuk membuat Andy cemburu kemarin.


"Harusnya kamu bilang Amin dong! Aku berdo'a yang baik-baik buat kamu." Andy langsung menimpali perkataan Gina.


"Kamu nggak mau mendoakan aku? Biar aku dapat jodoh yang cantik, nyebelin dan egois. Tetapi tidak mudah marah, dan memutuskan hubungan begitu saja." Andy mencoba mengingatkan Gina pada kejadian kemarin.


Bingung nggak sih pada Andy? Jelas-jelas sekarang Andy tahu Gina masih mencintainya, tetapi Andy malah sibuk menyindir dan meledeknya.


Jangan benci dulu pada Andy! Andy melajukan semua juga mempunyai alasannya tersendiri. Alasan utamanya adalah agar Gina mengerti arti dari kata mencintai dan cemburu. Agae Gina bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, agar Gina bisa belajar dari kesalahannya. Lada intinya, agar Gian berubah menjadi wanita yang lebih baik.


Andy tetap fokus menyetir, tetapi hatinya tidak segalu kemarin. Andy saat ini lebih ceria, dan lebih bahagia.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2