
Setelah sampai di depan gerbang apartment, Arka langsung berlari tergesa-gesa menuju apart Kalista. Arka membuka pintu, dan langsung menuju kamar Kalista. Diatas ranjang Kalista sedang meringkuk di liliti oleh selimut.
Arka mendekatinya, kemudian menyibak selimut. "Sayang maaf." Dilihatnya mata Kalista sembap, dan hidungnya merah, pertanda dia sudah menangis.
"Maaf." Arka masih mengucapkan kata maaf, namun Kalista tidak bergeming sama sekali, posisinya masih saja meringkuk dengan mata terpejam.
"Apa ada yang sakit?" Arka mengusap lembut pipi Kalista, kemudian mengusap sisa-sisa air matanya.
"Perut aku sakit, tapi lebih sakit hati aku." Kalista membenamkan wajahnya diatas bantal, dan terdengar suara Isak tangis.
"Maaf aku salah, aku terlalu emosi. Kumohon maafkan aku." Arka mengusap lembut puncak kepala Kalista.
"Aku laper! Mau makan burger 5, minumnya fruity tea." Ucap Kalista yang sama sekali tidak melirik Arka.
"Yakin bakal di makan semua burgernya?" Arka memastikan, karena 5 burger bukanlah sedikit, kalau Arka makan burger sebanyak itu pasti deh bakal eneg.
"Tambah pizza, sama bakso pedas aja deh!" Bukannya mengurangi porsi burger, Kalista malah minta nambah.
"Baik lah tuan putri." Arka segera mengeluarkan ponselnya, dan memesan makanan yang Kalista mau.
Ternyata gampang juga meminta maaf pada Kalista, cukup dengan makanan dirinya langsung luluh. Arka masih terduduk di tepian kasur, sambil mengusap rambut Kalista.
"Maafin tadi malam aku kebawa emosi, janji deh nggak bakal kaya gitu lagi. Sumpah nyesel banget." Arka menatap manik mata Kalista.
"Iya." Kalista tersenyum lemah, dan masih meringkuk di kasurnya. "Jangan kaya gitu lagi, aku nggak suka. Di bentak itu sangat-sangat membuat hatiku sakit." Kalista menggenggam erat jemari Arka.
"Mau ke dokter?" Arka mencemaskan keadaan Kalista, karena tadi di perjalanan pun dirinya sempat bertanya pada Mbah Google mengenai wanita datang bulan. Dan itu memang banyak yang mengalami sakit di bagian perut bawah.
"Ngapain?" Kalista menatap Arka bingung.
"Periksa aja gitu, haid kamu sakit kan?"
"Nggak usah, ini normal ko. Sakitnya juga sehari doang, besok juga udah sembuh." Kalista tersenyum.
Tidak berselang lama makanan pesanan Kalista pun datang. Kalista makan dengan sangat lahap, Arka menatap Kalista heran "kenapa nafsu makannya jadi meningkat?"
Kalista yang sedang mengunyah pizza pun langsung menoleh pada Arka, dan melayangkan tatapan tajam. "Aku nggak boleh makan banyak?" Sengit Kalista berbicara dengan nada tinggi.
"Oh boleh sayang, mau makan apapun juga aku turutin ko! Kalaupun harus beli perusahaan makanan tersebut pun aku mampu sayang." Arka mengusap punggung tangan Kalista "oke baiklah harus bersabar, wanita datang bulan ternyata lebih mengerikan." Gumam Arka dalam benaknya.
Kalista langsung meneruskan makannya, pizza, bakso, dan fruity tea telah habis, sedangkan burgernya hanya dimakan satu. "Nih makan." Kalista menyodorkan 4 burger pada Arka.
Arka menatap Kalista, awalnya geram tetapi kemudian langsung tersenyum. "Makasih sayang." Arka langsung melahap burger itu, dalam hatinya Arka sebernya menggerutu karena diberi makanan sisa, walaupun burger itu memang belum disentuh oleh Kalista, tetapi karena Kalista telah selesai makan sama aja kan itu makanan sisa dia.
Ketika Arka sedang makan, Kalista meninggalkannya ke dapur. Lalu balik lagi ke kamar dengan membawa segelas susu hangat.
"Istriku pengertian." Arka langsung meneguk susu hangat itu.
"Biasanya pms berapa hari sayang?"
"4 hari." Ucapnya datar.
"Hmmm, tinggal 3 hari lagi dong." Arka tersenyum menyeringai pada Kalista, muka Kalista langsung merah padam.
"Nggak usah malu, nanti malah kamu yang minta loh." Arka mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar mesum." Kalista memukul lengan Arka. "Mesum sama istri sendiri nggak boleh kah?" Tanya Arka masih dengan senyum menggoda andalannya.
Arka kemudian membawa Kalista balik lagi ke apartment nya. Kalista merasa perutnya kembali sakit, Arka sigap siaga mengusap perut Kalista, sampai Kalista tertidur karena merasa nyaman oleh pijitan tangan Arka.
4 hari sudah mereka jalani sebagai pasangan suami istri. Namun Arka masih belum menerima haknya karena Kalista datang bulan. Selama datang bulan Kalista hanya merasakan sakit di hari pertama saja. Hari ke-2 3 dan 4 sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.
Berangkat honeymoon rencananya akan dilaksanakan setelah seminggu pernikahan mereka. 4 hari ini pun Arka memang tidak berangkat ke kantor, tetapi di apartment pun Arka masih saja sibuk dengan laptop nya, mengecek semua kerjaan kantor.
Kalista menghampiri Arka, membawakan segelas teh hijau dan cemilan. "Sibuk banget?" Ujar Kalista yang duduk disebelah Arka, setelah meletakkan secangkir teh manis dan kue kering di atas meja.
Perhatian Arka masih saja tidak teralihkan dari laptop yang di depannya. "Lagi banyak kerjaan kantor, keteter banget nggak ada sekretaris." Katanya.
"Aku balik kerja lagi aja." Kalista antusias, karena Kalista akan sangat merasa bosan jika terus-terusan berada di apartment.
Arka langsung menutup laptop nya, kemudian memandang Kalista dengan tatapan tajam yang lumayan cukup membuat Kalista bergidik ngeri. "Kamu itu nyonya Arka, sama sekali tidak diperbolehkan untuk bekerja! You know?" Arka menyentil hidung Kalista, kemudian mencium bibirnya sekilas.
Kalista mendorong tubuh Arka, karena kalau sudah begini Arka bakalan terus-terusan menikmati bibir Kalista, dan itu sangat susah untuk di hentikan. "Nyonya Arka merasa bosan berada di apartment sepanjang hari, please ya bolehin aku bekerja kembali." Kalista menempel telapak tangannya kemudian membungkuk di hadapan Arka.
Arka terkekeh melihat perlakuan Kalista, kemudian menariknya untuk duduk kembali di sampingnya. "Boleh saja, tapi ada syaratnya nya loh!" Arka memandang Kalista dengan senyum seringainya.
__ADS_1
"Really?" Kemudian Kalista melihat senyum seringai Arka, dan Kalista merasa bahwa syaratnya pasti berhubungan dengan yang mesum-mesum. "Awas aja kalau syaratnya pakai yang mesum-mesum!" Kalista cemberut sembari mencubit lengan Arka.
Arka semakin tertawa lebar, istrinya dengan mudahnya bisa menebak isi pikirannya. "Berikan hakku setiap malam, dan itu sudah menjadi kewajibanmu melayani suami, ingat tidak boleh menolak! Dosa loh sayang." Arka menatap Kalista sambil menaik turunkan alisnya, sebenarnya Arka juga bercanda ko, mana mungkin dia meminta jatah setiap malam.
"Nggak mau!" Kalista berdiri, akan beranjak meninggalkan Arka. Namun Arka lebih dulu menarik tangan Kalista hingga kini Kalista berada dalam pelukan Arka.
Arka memeluk Kalista sangat erat, sambil terus-terusan mencium pipi dan leher Kalista. "Udah nggak pms kan? Nanti malam boleh ya." Arka menatap Kalista sambil memencet pipinya gemas.
"Aku belum siap." Kalista menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Arka menghembuskan nafas nya pasrah, Arka ingin haknya segera di berikan, namun ia juga tidak mau memaksa Kalista. Apalagi kalau sampai membuatnya takut.
Kalista dan Arka melewatkan hari ini dengan kegiatan masak memasak di dapur, menonton, Arka mengecek pekerjaannya, dan Kalista sibuk membaca novel.
Kalista merasa bosan karena Arka sibuk dengan laptopnya, Kalista membaca novel sampai ketiduran di sofa. Jarum jam menunjukan pukul 20:00 malam. Arka memindahkan Kalista ke kasur.
Ketika Arka akan menyelimuti Kalista, Arka melihat kancing piyama kalista bagian atasnya kebuka, sehingga terlihatlah belahan dadanya. Awalnya Arka berniat untuk mengaitkan kembali kancing piyama Kalista, namun tidak tahan oleh nafsunya.
Arka mencium pipi Kalista, kemudian mencium bibirnya sekilas, secara perlahan kecupannya itu berpindah ke leher, dan semakin turun. Kancing piyama Kalista sudah terbuka semua, terpampang lah kain merah pembungkus benda bulat dan sintal itu. Arka menelan ludahnya, kemudian langsung menggigit-gigit kecil benda kenyal itu. "Arrrgggghh." Kalista menjerit ketika merasakan ada sesuatu yang menggigit dadanya. Kalista membuka matanya, kemudian melotot pada Arka. "Tenang sayang, ini nggak bakalan sakit ko." Bisik Arka di telinga Kalista. Arka meneruskan kegiatannya. "Katanya nggak sakit?" Kalista terisak-isak. "Sakitnya bentaran doang, nanti juga kamu bakal menikmatinya." Arka mengusap air mata Kalista, kemudian mengecup kedua mata Kalista.
Terbayar sudah hak yang selalu Arka minta. Mereka melakukannya sampai 3 kali, hingga kelelahan dan tertidur. Kalista mengerjapkan matanya, kemudian dirinya melihat Arka yang sudah rapi dengan stelan kerjanya.
"Mau kemana?" Tanya Kalista yang langsung merubah posisinya dari telentang jadi duduk. Kalista tidak menyadari bahwa tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
"Kantor." Arka masih menatap cermin, dari pantulan cermin terlihat lah Kalista yang sedang terduduk dengan menampilkan tubuh bagian atasnya.
Arka menghampiri Kalista di kasur. "Good morning, my beautifull wife." Arka mengecup puncak kepala Kalista. "Ini apaan nih? Ngajak melanjutkan yang tadi malam." Arka mengusap lembut dada Kalista.
"Ish mesum." Kalista baru menyadarinya, kemudian menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
"Ko ngantor sih? Kan masih cuti"
"Hari ini akan dilakukan perekrutan sekretaris baru." Arka sibuk melihat layar ponselnya.
"Ikut!"
"Boleh!" Arka menoleh "Sana mandi dulu."
Kalista berjalan menuju kamar mandi, sedikit kesulitan karena tubuhnya dililit oleh selimut tebal, dan berjalan dengan perlahan karena merasa sakit akibat ulah Arka semalam. Arka memperhatikannya kemudian tersenyum tipis.
Arka duduk ditepian kasur sambil memainkan ponselnya. Kemudian matanya menangkap noda merah di sprei. Arka tersenyum-senyum di tutupi oleh handuk. Arka tersenyum melihat leher dan dada bagian atas Kalista. "Nih." Arka memberikan sebuah kunci pada Kalista, entahlah itu kunci apa Kalista tidak tahu.
"Kunci lemari." Arka menunjukan lemari yang dimaksud.
Kalista memasukan kunci itu dan memutarnya secara perlahan. Lemari terbuka dan "Wow!" Kalista menatap takjub isi lemari tersebut, ada beberapa baju yang memang sangat Kalista inginkan, namun Kalista tidak membelinya karena hanya dengan melihat price tag nya aja sudah ASTAGFIRULLAH!
"Terimakasih suamiku." Kalista memeluk Arka dengan mata yang berkaca-kaca. "Sama-sama sayang, ingat ya suami ini uangnya banyak, lain kali mau beli yang seperti apapun juga beli aja! Jangan lihat price tag nya! Semahal apapun akan aku beli untuk nyonya Arka tersayang." Arka pun membalas pelukan Kalista dengan erat.
Kalista speechless di depan cermin, dirinya sangat kaget dan benar-benar shock banget. Terdapat beberapa tanda kissmark di sekitar area dada. "Tanda cinta dan kasih sayang." Arka tersenyum melihat Kalista. "Bukan ini tandanya aku udah tidak gadis lagi, udah resmi jadi Sitti kamu." Kata Kalista "Mesum banget ya suamiku, dada ku jadi bonyok mirip banget seperti macan tutul ." Imbuhnya lagi.
Kalista mengenakan dress berwarna peach yang dia ambil dari lemari itu, memakai high hells berwarna gold dengan aksen bunga-bunga kecil di pinggiran hells tersebut. "Ini baju dan hells yang aku mau, sampai terjadi keributan di mall." Kalista memutar-mutar badannya di depan cermin, kemudian tersenyum mengingat kejadian itu. "Eh tunggu, kenapa kamu beliin semua baju yang aku sentuh di mall kala itu?" Kalista menatap Arka heran. "Karena aku mulai jatuh cinta pada sekretarisku ini" Arka mencubit gemas pipi Kalista "Tapi waktu itu aku masih kekeuh untuk mencintai bunga si gadis kecil itu, eh ternyata Kalista adalah bunga! Nggak sia-sia kan aku beli semua baju ini." Arka memeluk Kalista, dan ******* bibirnya sekilas.
"Aduh enaknya punya istri." Kalista sedang melilitkan dasi di kerah baju Arka, "Kenapa gue nggak nikah dari dulu aja sih?" Kata Arka.
Sebenarnya ini udah siang, namun karena Kalista tidak masak, jadinya mereka hanya makan roti panggang selai coklat dan meminum susu hangat. Mereka akan makan nanti di kantin kantor.
Sebelum sampai di kantor, Arka ke laundry terlebih dahulu. "Sprei nya di cuci? Kenapa? Kotor ya?" Tanya Kalista. "Sprei nya sudah menjadi saksi tanda cinta kita, makanya harus di cuci." Jawab Arka. Sebenarnya Kalista tidak puas dengan jawaban Arka, sedangkan Arka malah menatap Kalista gemas dengan kepolosannya.
Arka berjalan menggandeng tangan Kalista, pasangan pengantin baru itu menjadi pusat perhatian semua karyawan. Hari ini Kalista tidak menata rambutnya, hanya di biarkan tergerai indah.
"Selamat pagi pak bu?" Selama berjalan menuju ruangan, banyak sekali karyawan yang menyapa Arka dan Kalista. Sekarang semuanya menghormati Kalista, tidak terlihat karyawan yang berbisik-bisik dulu.
"Selamat pagi nyonya Arka." Sapa Andy, begitu Kalista dan Arka masuk ke ruangannya.
"Kalista aja! Geli banget dipanggil nyonya." Kemudian Kalista duduk di sofa.
"Mantu cantinya ayah sudah datang?" Ujar pak Anggara yang baru saja keluar dari kamar mandi di ruangan Arka.
Kalista langsung menghampiri dan mencium punggung tangannya. "Sehat pak?" Tanya Kalista.
"Panggil ayah, jangan bapak!"
"Eh iya ayah." Kata Kalista sambil tersenyum.
"Arka buas banget ya pak?" Andy tersenyum menyeringai, pak Anggara juga tersenyum bahkan hampir terkekeh.
"Enak sih." Kini Arka yang terkekeh, sedangkan Kalista tidak paham akan arti dari ucapan mereka.
__ADS_1
"Aku laper, ke kantin dulu ya." Bisik Kalista di telinga Arka.
"Aku anterin."
"Jangan, ini kan jam istirahat. Nanti di kantin aku gabung sama sahabat aku." Kalista mengedipkan sebelah matanya pada Arka.
Kini walaupun kalista sedang berjalan sendiri, tanpa ada Arka di sebelahnya. Para karyawan tetap menghormati Kalista, menyapa dengan senyum ramah.
"Kalista bukan sih?" Bimo mengalihkan pandangannya pada wanita yang kini sedang berjalan ke arah mejanya. Tiara Bima, dan Rangga pun langsung menoleh kepadanya.
"Ko makin cantik ya pas udah jadi bini miliarder." Celetuk Bima.
"Ko ke kantor?" Tanya Tiara pada Kalista yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Pertanyaan macam apa itu? Lu lupa siapa CEO di kantor ini?" Cetus Kalista dengan sombongnya.
"Songong ya lu." Tiara menoyor kepala Kalista.
"Bercanda sayang. Suami gue ngantor, ya gue ikut aja. Bete di apartment mulu." Kalista memeluk Tiara, kemudian bibi kantin membawakan pesanan Kalista.
"Suka sama kado nya?" Rangga kini memperhatikan wajah Kalista.
"Suka. Makasih ya." Kalista tersenyum simpul.
Kalista sibuk memakan makanannya itu, Rangga Bima dan Bimo yang dudukna tepat berhadapan dengan Kalista, memperhatikan Kalista.
"Belum makan?" Tanya Tiara. "Iya, nggak sempat masak gue." Jawab Kalista.
"Nggak sempat masak karena sibuk melayani suami ya?" Kini Bimo tengah menyeringai menatap Kalista.
"So tahu!" Ketus Kalista sambil memutarkan bola matanya jengah.
"Dih nggak mau ngaku dia, tanda di leher lu aja udah cukup jadi bukti!" Celetuk Bima yang disambut gelak tawa Tiara dan Bimo. Rangga hanya tersenyum simpul.
Kalista langsung mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya "Arggggghhbhh, Arka mesum sialan." Jerit Kalista ketika melihat tanda merah di lehernya. Pantasan saja tadi Andy berbicara seperti itu, dan para karyawan pun tersenyum melihat ke arah leher Kalista.
"Nggak boleh gitu sama suami." Ujar Tiara.
"Nah benar! Nggak boleh ngomong gitu sama suami." Arka tiba-tiba muncul dan duduk disebelah Kalista.
Arka mengambil foundation dari dalam tas Kalista. Kemudian mengoleskannya di leher Kalista yang ada tanda kissmark nya. "Diam dong." Kalista gerak-gerak terus, "geli!"
"Kamu nggak sadar apa ya ada ini di leher kamu? Padahal pas udah mandi langsung ngaca, itu pun lama banget berdiri depan cermin." Tangan Arka masih lincah mengoleskan foundation.
"Malu." Kalista menutup wajahnya dengan telapak tangan, tidak terasa sebutir air bening lolos dari mata Kalista.
"Hey, ngapain malu? Toh kamu punya suami." Arka memeluk kalista. "Duh gemasnya punya istri kaya gini, jangan nangis." Arka mengusap mata Kalista, kemudian mencium pipinya.
"Pak kita disini jomblo loh!" Protes Bimo yang merasa tidak kuat melihat kemesraan Kalista dan Arka.
"Makanya cari pacar, tapi ingat nyari yang single, jangan dekati yang udah bersuami." Celetuk Arka yang sebenarnya menyindir Rangga.
"Tadi malam berapa kali pak?" Bima penasaran.
Sebelum Arka menjawab, Kalista terlebih dahulu menjejalkan sesendok makanan kedalam mulut Arka. Arka mengacungkan jari telunjuk, tengah, dan manis yang mengartikan angka 3.
"Wah hebat, kuat ya." Bimo menimpali.
"Siapa yang minta?" Kini Tiara tertarik untuk membicarakan sesuatu hal yang ambigu.
"Arka lah! Gue kan cantik! Dia mana tahan!" Kalista mendelikkan matanya.
"Pertama dan yang kedua aku yang minta, ke tiga nya kamu kan yang...." Belum selesai Arka berbicara, Kalista langsung menarik tangan Arka untuk meninggalkan kantin.
"Mereka tuh jomblo! Jangan membicarakan sesuatu hal yang ambigu, kasian tahu.." kata Kalista sambil berlalu menggandeng tangan Arka.
Tanpa mereka sadari, diam-diam Rangga mengepalkan tangannya, emosi sudah menguasai dirinya. Melihat Kalista bermesraan dengan Arka, Rangga semakin membulatkan tekadnya untuk merebut Kalista dari Arka.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1