
Kalista mengerjapkan matanya perlahan, mengucek kedua bola matanya. Dari arah kamar mandi terdengar suara guyuran air, tangan Kalista segera meraba-raba ranjang di sebelahnya, ranjang itu kosong, tidak ada Arka di sana.
"Pagi banget mandinya." Gumam Kalista, manik matanya masih menatap jarum jam yang menunjukan pukul 05:45 WIB.
Menyibakkan selimutnya, kemudian bangun dari ranjang. Dengan mata yang masih mengantuk, Kalista berusaha menjadi seorang istri yang baik, membuka lemari dan menyiapkan stelan kerja Arka. Lalu kembali duduk di tepi ranjang.
Kini usia kandungannya sudah memasuki usia sembilan bulan, hanya tinggal menunggu waktu saja si kecil bakal terlahir ke dunia. Seiring bertambahnya usia kandungan, kaki Kalista semakin bengkak. Kadang-kadang Kalista menyebutnya kaki gajah, namun Arka selalu membantah. Seorang ibu hamil tidak boleh berkata sembarangan.
"Kok sudah bangun?" Tanya Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah dan mengucurkan air, handuk hanya melilit tubuh bagian bawahnya.
"Mau kemana?" Tanya Kalista, bukannya menjawab pertanyaan yang Arka lontarkan, Kalista malah bertanya balik.
Kalista merasa curiga, ada apa sih sebenarnya? Mandi pagi-pagi begini mau kemana? Kalista merasa ada yang janggal, namun Kalista tidak akan bertanya lebih dalam, karena sudah bisa di pastikan bahwa Arka tidak akan menjawabnya begitu saja.
"Kantor, ada meeting mendadak." Jawab Arka sedikit berkilah, kemudian mengambil stelan kerja yang telah Kalista siapkan.
Berdiri di hadapan cermin, memakai baju, kemudian memakai dasi, dan menata rambutnya.
"Di kantor ada masalah?" Tanya Kalista. Nggak biasanya ada meeting pagi-pagi sekali, kaya yang mau menyelesaikan sebuah misi saja.
"Ada sedikit." Jawab Arka sambil mengusak rambut Kalista, senyum tersungging di bibirnya.
"Masalah apa?" Tanyanya lagi.
"Bukan masalah besar, jangan khawatir ya." Jawab Arka masih dengan senyum mengembang, kemudian dia mencium pipi Kalista.
Arka masuk ke ruang kerjanya, kemudian dia mengambil beberapa dokumen yang di masukkan ke dalam tas kerjanya. Beberapa kali jarinya sibuk menari-nari di atas layar ponsel, dan beberapa kali itu juga ponselnya berbunyi.
"Mau sarapan sekarang?" Kalista bertanya pada Arka.
"Mau, tapi kamu kalau masih ngantuk mendingan tidur lagi aja. Kaki kamu juga suka kram kan kalau pagi-pagi?"
Kalista menganggukan kepalanya, kemudian dia kembali berbaring di ranjang sembari meluruskan kakinya yang terlihat sangat bengkak. Arka menghampirinya kemudian mengecup puncak kepalanya, mengecup pipi kiri dan kanannya, mengecup keningnya, kemduain Arka berbisik di telinga Kalista. Entah apa yang Arka bisikan? Namun bisikan dari Arka itu katanya mampu membuat Kalista merasa senang dan bahagia.
"Jaga diri baik-baik ya, aku berangkat kerja dulu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Arka bergegas mengambil tas kerjanya lalu keluar dari kamarnya.
Arka juga tidak menyempatkan diri untuk sarapan, mungkin di kantor sedang ada keadaan genting. Langkahnya tergesa-gesa, namun dari raut wajahnya sama sekali tidak terlihat rasa khawatir sedikitpun.
"Ma, tolong jaga Kalista. Jangan biarkan dia menonton televisi sebelum Arka pulang." Ucapnya pada Oma.
Belum sempat Oma mengajukan pertanyaan, Arka langsung melenggang pergi. Mengendarai mobilnya sendiri, tanpa menggunakan jasa sopir.
Hari ini Kalista menyadari ada yang aneh dengan suaminya itu, Kalista juga menyadari bahwa suaminya berbohong. Pernikahan mereka sudah berjalan sekitar sepuluh bulan lebih, Kalista cukup paham dengan gerak gerik suaminya, namun kali ini gelagatnya sedikit berbeda. Kalista tidak banyak protes, membiarkannya begitu saja bukan berarti tidak peduli. Namun, Kalista lebih memilih untuk bersabar, iya Kalista tahu ada yang sedang di sembunyikan oleh Arka. Kalista sangat yakin bahwa itu merupakan sesuatu hal yang besar, Kalista lebih menunggu di kasih tahu ketimbang harus kepo tingkat tinggi. Apapun yang Arka lakukan, Kalista akan selalu support, asalkan itu sesuatu hal yang positif.
Ternyata bukan cuma Kalista yang menyadari ada gelagat aneh dari Arka, Oma juga menyadarinya. Oma sih wajar menyadari, toh selama tujuh belas tahun ini Oma lah yang mengasuh Arka. Segala macam ekspresi dan gerak-gerik Arka Oma paham semuanya.
Tidak ingin terus menerus berasumsi yang tidak baik mengenai suaminya, Kalista lebih memilih menyibukkan diri dengan hal yang berguna. Karena usia kandungannya sudah memasuki usia sembilan bulan, akhirnya Kalista memutuskan untuk packing semua keperluan bayi yang harus di bawa ke rumah sakit bersalin.
Setelah selesai, Kalista memilih untuk membereskan tempat tidurnya. Menatap barang-barang di kamarnya, Kalisat mengubah tata letak hampir semua barang, selama ini tata letaknya gitu-gitu aja, Kalista merasa bosan dan sepertinya harus menemukan suasana yang baru.
Kalista juga meminta bantuan pelayan untuk memindahkan foto maternity'nya Kedinding tepat yang menghadap ke ranjang. Kalista inginnya ketika bangun tidur langsung melihat foto dirinya yang tengah mengandung, dan ada Arka di sebelahnya. Segar banget nggak sih? Fresh aja gitu kayanya.
Finally, semua kamar Arka dan kalista telah berubah. Siapapun yang masuk ke kamar ini pastinya menemukan suasana yang baru. Kalista juga memajang beberapa foto masa kecilnya bersama almarhum ayah dan bundanya. Ada juga foto masa kecilnya bersama Arka ketika bermain di taman. Kalista sempat kaget dari mana foto itu? Siapa yang mengambilnya? Namun semuanya terjawab tuntas, pak Anggara yang diam-diam memfoto mereka berdua, bahkan pak Anggara juga baru menyadari bahwa gadis kecil di samping Arka itu adalah Kalista. Kebetulan yang sangat manis.
Kalista kembali berpikir, sekarang apa yang harus di lakuannya? Sarapan? Tentu saja ini masih sangat lagi, Kalista belum merasa lapar. Lagipula, Kalista juga belum membersihkan badannya.
"Suami kamu mau kemana nak?" Tiba-tiba Oma muncul, Kalista kaget karena tidak mendengar suara pintu di ketuk ataupun di buka. Karena biasanya pintu kamar Kalista mengeluarkan suara dentingan ketika di buka.
Kalista yang terperanjat pun segera mengeluarkan suaranya. "Katanya ada meeting mendadak." Jawab Kalista sambil tersenyum.
Tangan Kalista masih sibuk menata baju-baju di lemari Arka, karena merasa tidak ada pekerjaan lain, akhirnya Kalista membongkar lemari suaminya. Kalista juga berusaha memilih dan memilah baju mana saja yang masih sering di pakai oleh Arka, dan baju mana saja yang sudah tidak terpakai, agar tidak terjadi penumpukan baju.
"Meeting pagi-pagi gini?" Tanya Oma yang kini duduk di sebelah Kalista.
__ADS_1
"Kalista juga bingung ma, tapi Kalista sih support aja. Toh semua yang Arka lakukan pasti yang terbaik." Tersenyum ramah, tangannya masih sibuk mengeluarkan kemeja-kemeja Arka yang tidak terpakai, memasukkannya kedalam kardus kosong.
Oma tersenyum mengembang, sangat bahagia sekali mendengar kalimat dari Kalista. Arka benar-benar menemukan wanita yang tepat, wanita yang selalu mendukungnya dalam segala hal. Beruntung sekali Arka memiliki Kalista sebagai istrinya, bukan persoalan cantik, namun kedewasaannya dan tabiatnya lah yang membuat Oma dan pak Anggara selalu merasa kagum.
Oma juga mambantu Kalista membereskan baju-baju di lemari Arka. Karena ini juga masih pagi, Oma mengajak Kalista untuk berjalan-jalan di halaman depan. Ini juga atas anjuran dokter sih, bumil harus banyak-banyak berjalan. Selain agar persalinannya lancar, berjalan-jalan pagi juga membuat badan terasa segar dan bugar.
Angin sepoi-sepoi yang sangat sejuk langsung menampar pipi Kalista, terasa sangat segar karena udara di pagi hari belum tercampur polusi. Siang dikit saja, udara sudah tidak bersih lagi.
Matahari juga belum memunculkan barang hidungnya, mungkin masih asyik beristirahat di tempat persembunyiannya. Biasanya kalau sinar matahari sudah terpancar, taman di halaman depan kediaman Anggara terlihat sangat cantik. Pancaran sinarnya menerpa berbagai macam bunga dan pohon-pohon, bagus sekali jika berfoto di balik bayangan daun-daun atau bunga, seperti yang waktu lalu sempat hits di laman Instagramable.
Sepuluh kali berjalan-jalan memutari taman halaman depan, kaki Kalista merasa pegal. Lalu mereka kembali masuk ke dalam rumah, bergegas untuk membersihkan badannya.
*****
Arka dan Andy sudah berada di ruangannya. Kantor masih sangat sepi, para karyawan belum pada datang. Hanya ada beberapa ob yang sedang sibuk dengan tugasnya.
Arka sepertinya sedang sibuk dengan komputernya, menggabungkan semua info dan video yang telah di kirim oleh detektif andalannya. Arka juga telah menghubungi beberapa media untuk menyaksikan pertunjukan yang akan di gelarnya.
Para wartawan yang mengetahui mengenai hal itu pun langsung saja berkerumun di depan kantor Anggara. Padahal pertunjukan bukan di lakukan di kantor ini, melainkan di suatu tempat yang berada lumayan jauh dari kantor.
Andy juga sedang sibuk menulis sebuah artikel khusus yang akan di keluarkan nanti siang. Bukan sembarang artikel, isinya saja memerlukan riset yang sangat banyak dan teliti, bahkan untuk mendapat hasil dari riset itu sendiri saja sangat susah. Bukan artikel biasa, artikel ini sangat istimewa dan bisa menggemparkan media Indonesia, mungkin sampai mancanegara.
"Kalista gimana?" Tanya Andy, namun dirinya tetap masih fokus menulis artikel khusus.
Arka juga sibuk sendiri dengan komputernya, "Tenang, gue udah bilang Oma, agar di rumah tidak menyalakan televisi." Jawab Arka tanpa memalingkan pandangannya.
Lalu mereka berdua pun kembali sibuk, di luar ruangan sepertinya sudah mulai ramai, para karyawan mulai berdatangan. Mereka pun bingung dan bertanya-tanya karena banyak wartawan yang berkumpul di depan kantornya. Bahkan sampai ada yang merasa dag dig dug karena merasa cemas, dan khawatir ada masalah di kantor ini.
Para karyawan semakin was-was ketika melihat seorang pria berperawakan tegap, badannya berisi namun tidak gendut, kacamata hitam bertengger di hidungnya. Tidak ada senyum di wajahnya, jika kacamatanya di buka, yakin deh semua wanita pastinya akan terpesona olehnya. Memakai jas hitam dan celana hitam, ada dasi juga melingkar di lehernya. Rambutnya di tata rapi, dan sangat mengkilat. Pria ini terlihat sangat tampan walaupun sorot matanya tidak terlihat karena terhadang oleh kaca mata hitam yang di kenakannya.
Berjalan dengan tegap, tanpa menyapa. Bahkan sebuah pertanyaan dari resepsionis pun tidak di gubrisnya. Terkesan sangat sombong, namun auranya memang berbeda. Masuk ke dalam lift khusus CEO, lalu berjalan ke ruangan Arka tanpa permisi. Bukannya tidak sopan, tapi ini perintah dari Arka sendiri.
Para karyawan melongo, mereka kaget dan tidak habis pikir. Siapa pria itu? Mengapa dia sangat berani naik lift khusus CEO? Bahkan dia juga masuk ke ruangan CEO tanpa izin terlebih dahulu pada Gina selaku sekretaris bapak Arka.
"Permisi, selamat pagi." Sapanya, tetap saja tidak ada senyum yang menghiasi pipi dan wajahnya.
"Berkas tertulis ada di dalam mobil, namun di micro chip ini terdapat banyak sekali bukti yang bakal menggemparkan Indonesia. Bapak Arka tenang saja, tidak ada satupun bukti yang terbantahkan. Dia pasti akan segera di ringkus dan meringkuk busuk di dalam jeruji besi." Ucapnya dengan sangat yakin, benar-benar detektif yang sangat handal dan profesional.
Lima menit kemudian mereka bertiga keluar dari ruangan CEO. Berjalan beriringan, mereka bertiga tampil dengan stelan jas yang senada. Tidak janjian, tapi ini memang suatu kebetulan.
Semua karyawan pun kembali melongo, mata mereka masih asyik menatap tiga pria tampan yang sedang berjalan beriringan menuju lift. Benar-benar sempurna, tiga-tiganya berperawakan bagus, wajahnya juga pada tampan.
"Gila, demi apapun barusan trio cogan lewat di depan muka gue. Rasanya tuh nano-nano banget." Ucap salah satu karyawan wanita dari devisi keuangannya, sorot matanya masih menatap tajam ke arah lift.
"Pria tadi siapa sih? Jomblo nggak ya?"
"Devinisi cowok tampan ala-ala roti sobek gitu, lumer banget, meleleh kaya cokelat batangan di panaskan." Ucapnya dengan sorot mata berbinar.
"Kok gue kaya lagi lihat aktor Korea ya? Sumpah tuh asisten Andy saja terlihat sangat tampan."
Para karyawan wanita masih sibuk membicarakan perihal trio pria tampan, bukan hanya tampan mereka bertiga juga mapan. Mereka benar-benar terpesona bahkan sampai lupa untuk bekerja.
"Akhmmm.. semuanya silahkan kembali pada rutinitasnya. Bapak Arka memerintah saya untuk menghandle kantor, jika ada karyawan yang kerjanya leha-leha maka akan saya laporkan pada Arka." Ucap Gina tegas kepada seluruh karyawan kantor di lantai 5.
Gina juga langsung masuk ke dalam lift, tujuannya sekarang adalah pergi ke lantai dasar. Di lantai 5 saja seheboh ini, di lantai dasar juga pasti nggak kalah heboh. Dan, Gina merasa perlu untuk memantau situasi dan kondisi di lantai satu, agar kondusif dan kembali fokus pada rutinitasnya maisng-masing.
Benar saja di lantai dasar semuanya pada heboh, bahkan sampai ada yang bilang ingin menjadi kekasih Andy.
Gina?
Merasa cemburu, ingin sekali teriak di kupingnya karyawan wanita tersebut, bahwa dirinya lah kekasihnya Andy. Untuk bermimpi menjadi kekasih Arka, itu adalah suatu ketidakmungkinan, sangat mustahil. Karena Arka telah beristri, istrinya cantik dan berpendidikan. Lagipula Arka juga teramat sangat mencintai dan menyayangi istrinya, tidak ada celah sedikitpun bagi siapapun yang ingin masuk dan merusak rumah tangga Arka dan Kalista. Jadi, yang punya niat jadi pelakor mah jauh-jauh deh! Kalian bakal terhempas begitu saja. Jadilah mereka memilih untuk menjadi kekasih Andy saja.
Bukan hanya para karyawan wanita saja, tetapi sebenarnya Gina juga sangat terpesona pada Andy. Entah kenapa, melihat sosok Andy dengan wajah serius tanpa senyum sedikitpun malah membuat ketampanannya meningkat pesat, sangat cool. Gina saja kembali terpesona pada Andy, ada segelintir rasa yang sangat hangat menyuap di dada Gina. Tapi, segelintir rasa hangat itu tiba-tiba menghilang ketika Gina menyadari ada sosok wanita lain yang juga terpesona pada Andy. Bahkan mereka memuji Andy dengan terang-terangan. Gina merasa geram, bagaimana mungkin kekasihnya menjadi topik utama pembicaraan wanita lain?
__ADS_1
*****
Ada tiga mobil yang sedang melaju di jalanan, di kawal oleh beberapa mobil dari kepolisian. Iring-iringan mobil itu sempat membuat para pengguna jalan saling menepi, mereka memberikan jalan terlebih dahulu untuk iring-iringan itu. Berasa kaya presiden banget, di kawal lalu di beri jalan begitu saja.
Setelah menempuh perjalannya yang lumayan cukup lama, akhirnya iring-iringan mobil itu berhenti di salah satu rumah mewah.
Tidak hanya Arka, Andy, detektif, dan beberapa orang dari pihak kepolisian saja yang datang ke tempat ini. Para wartawan yang tadi berkerumun di depan kanto, langsung mengikuti Arka ke tempat ini.
Para awak media telah berkumpul, bahkan sampai ada yang sengaja live berita langsung di tempat ini.
Tok tok tok..
Salah satu polisi mengetuk pintu itu.
"Selamat lagi, apakah benar ini kediaman bapak Marcelino?" Tanya polisi, ketika melihat salah satu orang muncul dan membuka pintu.
"Iya betul." Jawab Dino, kemudian Dino memperhatikan keadaan sekitar, terdapat banyak awak media, wartawan dan ternyata ada Arka juga.
"Bisa tolong panggilan bapak Marcelino?" Perintah bapak polisi pada Dino.
Belum sempat Dino menjawab, tiba-tiba.. "Ada sih rame banget?" Tanyanya ketus.
Mata Marcelino terbelalak, polisi? Awak media? Wartawan? Ada apa sebenarnya?
"Bapak Marcelino, anda kami tangkap. Anda terlibat dalam pembunuhan terencana lima tahun silam, anda juga merupakan dalang dari kejadian kecelakaan di tepi jalan beberapa waktu yang lalu, anda juga terlihat dalam kegelapan mafia. Masih banyak bukti-bukti kejahatan lain yang telah anda lakukan."
"Tidak saya tidak bersalah! Kalian salah orang! Saya bukan penjahat, saya hanya seorang pembisnis." Marcelino berontak dan berteriak ketika beberapa orang polisi memborgol tangannya.
"Tidak bersalah? Saya mempunyai bukti yang cukup banyak. Sudah saya bilang bukan, sebelum perusahaan saya jatuh ke tangan anda, perusahaan anda lah yang terlebih dahulu jatuh ke tangan saya. Anda kalah dan saya menang." Arka tersenyum penuh kemenangan
"Anda pikir saya bodoh? Anda pikir saya tidak curiga dengan saham perusahaan saya yang tiba-tiba saja merosot? Saya sih santai saja, toh saya juga memasang perangkap di situ. Dan dengan gampangnya si bodoh langsung terperangkap masuk dalam jabakan. Jadi siapa yang hebat?" Berbicara sangat tegas, wajahnya terlihat sangat nyeleneh. Arka menyombongkan dirinya.
"Arka! Sialan! Keparat! Gue balas semuanya." Marcelino berteriak,wajahnya terlihat geram bahkan kuku-kuku tangannya memutih karena menahan emosi yang tidak bisa di keluarkannya.
Arka becih kesal, bahkan kini senyum seirngai muncul di wajahnya. Tetapi kali ini emosinya mendadak memuncak.
PLAAAAAAAK
Arka menampar Marcelino dengan sangat keras, sepertinya tamparan itu menggunakan tenaga yang cukup ekstra.
"Ini tamparan untuk anda, karena anda telah melenyapkan nyawa dari orang tua istri saya!" Arka berteriak, suaranya menggelegar, bahkan sorot matanya sangat tajam seperti akan menusuk.
"Hahaha! ******! Saya sangat bahagia melakukan itu semua." Tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, Marcelino benar-benar seperti orang gila, tidak ada otak sedikitpun.
Polisi segera membawa Marcelino ke kantor polisi, Andy dan detektif ikut serta ke kantor polisi. Arka meminta waktu sejenak, nanti akan menyusul ke kantor polisi.
"Maafin gue ya." Arka menepuk bahu Dino, walau bagaimana pun juga Dino adalah anak kandung Marcelino.
"Nggak apa-apa, dia pantas mendapatkan itu semua." Wajah Dino terlihat sendu, namun di wajah itu Arka melihat sebuah rasa lega.
"Ma, maafin Arka." Arka memeluk mama Lisa, tangisnya pecah di bahu mama Lisa.
"Nggak apa-apa, mama justru bangga banget sama kamu nak." Mama Lisa juga menangis, bukan menangis karena Marcelino di ringkus polisi, namun menangis karena Arka memeluknya.
"Sampaikan maaf atas kelakuan ayah saya pada Kalista, saya benar-benar baru tahu bahwa ayah saya lah yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal." Ucap Dino.
Arka mengganggukkan kepalanya.
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€