
Matahari bersinar terang di pagi hari, awan-awan bergelantung seperti cutton candy memantulkan cahaya pink dan keemasan dari sang raja siang. Lantana berjalan dengan semangat menuruni tangganya menuju ruang makan tempat ayahnya duduk menikmati teh dan koran di tangannya.
"Hari gini masih baca koran.." sapa Ana
"Wah.. Tuan putri ayah sudah bangun.." Ayah melipat dan meletak korannya di pinggir meja makan "Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanyanya
"Hm? Lumayan..." jawab Ana setelah meneguk susu yang baru saja dituangnya
"Pasti nyenyak lah, Yah.. Kan yang nge boboin tuan raja" celetus Bunda dari dapur
"Apaan sih bun?" Lantana bingung dengan kelakuan bundanya
"Halah.. Pura-pura gak ingat kan? Haduh.. Kapanlah kamu beneran punya suami, biar manjanya sama suami kamu aja.." judes bunda
"Bunda kenapa sih, Yah? Sinisnya gak ilang-ilang.." Lantana mulai kesal karena bundanya sudah memulai pertarungan dengannya. Ayah hanya mengangkat bahu sambil memasukkan pisang goreng yang baru saja di letakkan bunda di atas meja ke dalam mulutnya.
"Siapa juga yang mau sama gadis manja kayak gini? Bahkan lelaki semalam aja lebih suka mengenalkan dirinya sebagai bos dari pada sebagai pacar.. Dia juga gak mau kan pacaran sama kamu?" celoteh khas ibu-ibu di pagi hari
"Ayah.. Kuaci Ana habis,,, kita ke super market yu.. Kan hari minggu, sekalian jalan-jalan.." Ajak Lantana pada ayahnya setelah mengecek kuaci di rak tanpa memperdulikan celotehan bundanya.
"Ayok.. Apa sih yang engga buat tuan putri ayah.." ayah setuju
"Et dah.. Bunda lagi ngomong gak ada yang denger.." Bunda mulai naik tensi "ampunn gusti!! Apakah ini karma dari-Mu karena sewaktu hamil dulu hamba gak sengaja ngebunuh hemster?? Jadi kau memberikan anak yang udah kayak hemster suka makanin kuwaci.." keluh bunda. Ayah hanya tersenyum dengan tingkah istrinya
Bunda sebenarnya adalah perempuan yang manja, karena dia anak perempuan satu-satunya di keluarganya. Dia selalu di manja oleh orang tua dan abang-abangnya. Setelah menikah, dia mendapat perlakuan lebih dimanjakan lagi oleh suaminya. Namun setelah Lantana lahir, suaminya jadi lebih menyayangi Lantana dan jarang memanjakan dia. Padahal itu hanya perasaan bunda saja. Itu menyebabkan bunda selalu ketus dan sinis pada Lantana. Apalagi Lantana selalu di bela oleh ayahnya dan selalu diturutkan apa yang jadi keinginannya.
"Kita jalan-jalan aja ke taman hiburan pusat kota aja gimana? Bertiga.." ajak Ayah
"Tapi pulangnya beli kuwaci ya yah.." pinta Lantana
"Gak ada..!! Kamu harus ngerjain tugas rumah.. Tuh baju kamu sudah numpuk di tempat cucian!! Kamu juga gak boleh makan kuwaci lagi.. Kalo kamu beli bunda buang!!" bunda marah-marah.
"Bunda kenapa sih? Kok benci banget sama Ana? Ana salah apa sih bunda? Kan yang tiap hari nyuci baju juga Ana.. Yang tiap hari ngepel rumah juga Ana.. Sekali-kali dong Ana pengen jalan-jalan.. Masa gak boleh??" Rengek Lantana
"Kamu berani ya ninggiin suara di depan bunda!!? Kamu emang anak yang gak tau di untung.. Berani bantah ibunya sendiri.. Manjanya gak karuan.. Pemalas! Pemarah!! Dan..---"
"Iya!! Ana memang bukan anak yang baik..!" Lantana memotong perkataan bundanya. Dia berdiri dari duduknya dan lari menuju kamarnya. Setelah itu dia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
"Tuh kan!?? Orang tua belum beres ngomong udah di bentak.. Dasar anak nakal..!!" bunda masih marah
"Bunda,, honey.. Stop.." Ayah menenangkan bunda yang sudah naik pitam. Ayah tau kenapa istrinya marah-marah. Dia cemburu sama lantana lantaran suaminya selalu memanjakan putrinya. "Dia kan putri kita satu-satunya... Jangan gitu dong sayang, kasihan dia.. kita pergi sama-sama ya.. Mau kemana? Ke taman hiburan? Water park? Kebun binatang? Atau ke pantai gimana?" ajak ayah
"Ke pantai aja deh.. Udah lama kita gak ke pantai.." bunda berubah luluh dengan bujukan ayah
"Oke.. Kita ke pantai, ayak ajak Ana dulu kalo gitu.." Ayah baru saja akan menaiki tangga, Lantana berlari turun dengan pakaian yang sudah rapih. "Nak, sayang kamu mau kemana?? Ayah dan bunda mau ke pantai, kamu sarapan dulu sayang!!"
Lantana terus berlari dan mengenakan sepatunya di rak depan pintu. Bertepatan dengan itu, ojek yang biasa mengantar jemput warga perumahan itu setelah di telpon, sudah menunggu di depan rumah. Lantana bergegas keluar, namun tak lama balik lagi untuk mencium tangan ayah dan bundanya setelah itu dia pergi bersama tukang ojek.
"Ana mau ke mana? Duuhh.. Kenapa sih? Dua perempuan yang ayah cinta gak bisa hidup dengan damai?" ayah frustasi karena anaknya pergi tanpa bilang mau kemana.
Bunda memasang wajah sedih karena takut di salahkan. Ayah langsung merasa tidak enak, dia langsung membujuk bunda lagi. "Oke,, oke.. Bunda sayang siap-siap yaa.. Kita ke pantai sekarang.."
Bunda langsung sumringah dan mencium pipi ayah, setelah itu bergegas menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke pantai. Ayah hanya menggeleng kepala.
***
Lantana berjalan menyusuri jalan berbatu di salah satu taman kota di kota itu. Dia berkali-kali menciumi bunga yang ada di sekitar situ dan kadang memfotonya untuk menghilangkan ke jengkelan di hatinya. Dia terus berkeliling menikmati udara panas yang diterpa angin sejuk membelai pipinya lembut. Lantana duduk di salah satu kursi di bawah pohon yang sangat rindang. Jarang orang yang datang ke sini, karena posisinya jauh dari tempat indah. Lantana duduk dan menangis tersedu-sedu. Dia tidak tau alasan kenapa bundanya sangat membencinya.
Setelah puas menangis, Lantana beranjak membawa kakinya keluar dari taman dan menuju mall yang berada tidak jauh dari taman itu. Ia membeli biji bunga matahari siap makan dalam beberapa rasa. Setelah puas dia pulang menggunakan kendaraan umum.
Sesampai di rumah, Lantana mengendap seperti maling yang mau mencuri isi rumah itu. Ternyata rumahnya kosong, mobilnya pun tidak ada di garasi. Lantana berlari menuju kamarnya dan menata ulang kamar dia. Mengosongkan beberapa rak dan memasukkan kuwaci yang dibelinya ke dalam laci tersebut. Setelah itu dia berganti pakaian lebih santai, mencuci pakaian sembari mengepel lantai.. Ya.. Karena dia mencucinya di mesin cuci, jadi gak usah di tungguin kan?
Matahari sudah condong ke barat. Angin musim panas berhembus sejuk menggoyangkan daun-daun bunga matahari lantana di halaman. Lantana membereskan kebunnya setelah menjemur pakaian. Beberapa tetangga menyapanya dan lantana balik menyapa. Tak terasa hari terus beranjak petang. Tiba-tiba sebuah mobil sport merah berhenti di halaman rumah lantana. Lantana berdiri mematung memperhatikan mobil itu, dengan gaya khas tukang kebun dengan sarung tangan taman melekat di tangannya dan tanah yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Vino keluar dari mobil dan menghampiri Lantana yang masih bengong. "Kenapa bengong begitu??" ucapnya
Lantana mengerjapkan matanya dan tersadar dari lamunan. "Kok tuan ada di sini?" tanya Lantana polos
"Saya punya kaki, bebas dong saya mau kemana aja.. Ayah ada??" ucapnya lagi
"Ayah sama bunda lagi ke pantai.. Tuan ada perlu sama ayah?" lantana melepas sarung tangannya dan mencuci tangan di keran dekat halaman.
"Ya,, tadinya saya ada perlu sama ayah.." jawab Vino
"Perlu apa? Biar saya sampaikan" tawar Lantana
"Saya ada perlu sama ayah, saya mau meminta izin untuk membawa puterinya jalan-jalan.." jelas Vino
"Oh.. Gitu..? Sebentar saya telpon ayah dulu.. Tuan duduk dulu, mau saya ambilkan minum?" tawar Lantana berikutnya
"Saya duduk di sini saja, kamu izin gih sama ayah.." perintah Vino
"Oke.." lantana masuk ke rumah dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja ruang tamu. Tak lama dia keluar lagi. "Tuan tadi mau perlu apa?? Izin? Izin bawa putrinya pergi jalan-jalan? Saya dong?" Lantana panik
"Kamu kok koneknya lama banget.." Vino bangkit dari duduk dan mencubit pipi Lantana. "Ayok mau jalan-jalan gak? Sana izin sama ayah.."
"Ih.. Kok dadakan..? Saya kan belum mandi, belum nyetrika baju belum makan belum.."
"Syut..! Jadi jalan gak? Udah gak usah mandi gak usah ganti baju, gini juga udah cantik kok.." Vino menilai Lantana dari atas ke bawah. Khas gadis rumahan yang manja. Hot pant, sendal jepit, kuncir cepol, dan kaos kebesaran.
"Yaudah tunggu sebentar, aku mau mandi dulu.." Lantana ngiprit lari menuju kamarnya.
Sepuluh menit kemudian dia sudah turun lagi. Dengan pakaian rapih. Blouse peach, celana jeans yang pas di kakinya yang mungil, tas selempang kecil jam tangan dan rambut kepang membentuk bando.
"Kok cepet banget?" Vino kaget dengan penampilan Lantana yang benar-benar sebentar
"Kan aku bilang sebentar.." lantana memasang sepatu yang terletak di rak sepatu depan pintu
"Yaa.. Biasanya anak gadis itu kalau sebentar ya kira-kira 30 menitan lah.. Kamu gak mandi?"
"Oh.. Baguslah.. Yuk siap?" ajak Vino
"Bentar, saya mau ngunci pintu dulu.."
Setelah Lantana mengunci pintu, mereka pun pergi bersama mobil Vino keluar dari komplek.
"Tuan gak papa nih bawa saya pergi jalan-jalan?" tanya Lantana ragu
"Tuan tuan!! Saya bilang apa kalau kita hanya berdua?" protes Vino
"Oh iya lupa.. Jadi saya harus ngulangin pertanyaannya lagi dong?" balas Lantana
"Gak usah.. Emang kenapa kalau saya bawa kamu pergi?" Vino balik bertanya
"Yaa.. Takutnya pacar kamu marah gitu.."
"Gak takut.." Vino tersenyum "orang pacarnya saya bawa jalan" lanjutnya
"Mana?" lantana langsung celingukkan
"Nih.. Kamu harus lihat kesini.." Vino menunjukkan cermin yang tergantung di atas mobil
"Ih.. Apaan sih.. Itu mah muka saya.." Lantana kesal
"Lah emang iya kan?" Vino tertawa melihat kekonyolan Lantana yang belum juga sadar
"Maksudnya..?" Lantana masih memasang wajah yang tidak mengerti
__ADS_1
"Kamu kan pacar saya.." Vino gak tahan, ahirnya dia mengacak kepala atas lantana
"Iihh.. Apaan sih? Main klaim klaim orang aja.." Lantana cemberut sembari berusaha melepaskan tangan Vino di kepalanya. "Gimana kalau saya gak setuju?"
"Kamu harus setuju, gak boleh enggak.. Ini perintah" ucap Vino
"Ih.. Gak boleh maksa dong.."
"Gak peduli, kamu harus jadi pacar saya.." Vino meraih tangan Lantana dan membawanya ke ujung bibirnya untuk dikecup.
"Kok maksa? Gini amat nembaknya.." ucap Lantana dengan pandangan mengikuti arah tangannya. "Iihh.. Main kecup kecup aja.. Gak sopan tau.." Lantana berusaha melepaskan tangannya namun Vino mempererat genggamannya.
"Baiklah, kamu mau yang romantis?? Lantana, putri ayah, maukah kamu menjadi pacar saya?" Vino menatap Lantana. Saat ini mobilnya sedang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah.
"Apaan sih.. Becandanya jangan gitu dong.. Gak lucu tau.." Lantana memalingkan wajahnya. Dia yakin kali ini wajahnya sudah seperti si cepot.
"Saya serius.." yakin Vino
"Mengemudi aja yang bener.." Lantana menarik tangannya
Mobil yang mereka tumpangi pun melesat kembali setelah lampu berwarna hijau. Matahari senja mewarnai langit di ujung barat. Vino membawa Lantana ke sebuah taman rekreasi di kota itu. Lantana terlihat gembira menyaksikan matahari terbenam di atas sini. Wajah mungilnya mengembang membentuk senyum dengan lollypop di tangannya. Vino duduk tidak jauh di belakangnya, sembari memperhatikan gadis itu yang sedang asyik berselfee.
'Apa aku sudah siap membuka hati lagi untuk perempuan lain??' batin Vino pada dirinya sendiri. 'Apa aku sudah siap untuk terluka lagi? Tapi, gadis ini tidak mungkin melukai aku kan? Dia terlihat sangat manja dan rapuh. Tapi dia juga terlihat mandiri, tidak suka menyusahkan orang lain. Gadis yang baik.. Tapi kenapa bundanya semalam sangat ketus? Apa dia bunda tirinya ya..?'
"Hayoo... Ngelamunin apa sih? Serius amat??" tiba-tiba Lantana sudah berdiri di hadapan Vino. Vino gelagapan karena kaget. Namun tak lama ia sudah memasang tampangnya yang cool kembali. "Mikirin apa? Mataharinya udah terbenam tuh.. Pulang yuk.." ajak Lantana
Vino berdiri dan menggenggam tangan Lantana lalu membawanya pergi ke salah satu restoran mewah di sekitar situ.
"Kok ke sini?" tanya Lantana polos
"Kan kita mau makan malam.. Saya sampai lupa kalau kamu tadi siang belum makan.." ucap Vino setelah mengingat celotehan Lantana sebelum ia mengajaknya pergi
"Oh.." jawab Lantana singkat
Tak lama pramusaji datang membawakan buku menu. Vino memesan beberapa makanan begitupun dengan Lantana. Setelah mencatat pesanan mereka, pramusaji itu kembali meninggalkan mereka.
"Kamu udah izin kan sama ayah kamu?" tanya Vino memulai percakapan. Lantana menggeleng. "Kenapa?"
"Sebenarnya, tadi pagi saya kabur dari rumah.. Saya pergi tanpa bilang mau pergi kemana.. Pas pulang, ayah sama bunda sudah gak ada di rumah.. Jadi sekalian aja kan? Gak usah izin.." jawab Lantana seraya menunduk dan memainkan kuku di jarinya
"kenapa kamu kabur? Ada masalah?" ada nada cemas pada pertanyaan Vino
"Saya berantem lagi sama bunda.." jawab Lantana berkaca-kaca
Vino berpindah tempat duduk, kini ia duduk di dekat Lantana. "Cup cup.. Kenapa bertengkar? Kalian kan ibu dan anak?" Vino membelai lembut kepala Lantana
"Entahlah.. Dari dulu, bunda gak suka sama Ana. Dia selalu marah-marah.. Apalagi kalau Ana sedang minta dipeluk sama ayah.. Atau Ana sedang minta ditemenin jalan-jalan sama ayah, bunda pasti marah sama Ana.." Lantana mulai menitikkan air matanya.
Vino merasa iba dengan keadaan Lantana. "Apa dia ibu tiri kamu?" tanya Vino hati-hati
"Bukan, bunda adalah ibu kandung Ana.. Setidaknya itu yang semua orang katakan.." jawab Lantana.
Vino meraih tisu di atas meja dan mengusap air mata Lantana yangengalir di pipinya. "Lalu, kenapa bunda selalu marah-marah? Kamu nakal ya??" goda Vino
"Enggak...!! Ana anak baik kok.. Ana selalu ngerjain pekerjaan rumah. Ana selalu bersihin rumah, nyci baju, beresin taman, nyuci mobil ayah, buangin sampah, nyetrika, dan lain-lain.. Ana selalu nurut sama perintah ayah sama bunda.." protes Lantana dengan nada manja "tapi, bunda selalu memarahi Ana.." lanjutnya dengan nada yang lebih lesu
"Kamu mengerjakan itu semua? Dengan tanganmu sendiri?" Vino hampir tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Lantana mengangguk lagi. "Ana mau melakukan apapun asal bunda berubah baik sama Ana.. Tapi, bunda selalu marah.. Makanya Ana kerja, soalnya kalau di rumah, pasti berantem sama bunda.." jawab Lantana
Pramusaji datang membawa pesanan mereka. Lantana buru-buru menghapus air matanya dan bangkit dari duduk. Ia pamit ke kamar mandi untuk membasuh mukanya
"saya ke toilet dulu ya.." tanpa menunggu persetujuan Vino, Lantana melarikan diri dari hadapannya. Vino menatap kepergian lantana sampai sosoknya hilang di balik dinding.
__ADS_1
"Look!! Siapa yang kita temukan di sini..?!" seorang lelaki western seusia Vino berdiri di hadapannya menyapa dengan menggunakan bahasa inggris.
to be Continue