SUN FLOWER

SUN FLOWER
PERTENGKARAN


__ADS_3

Hari ini juga Arka kerjanya malas-malasan, renggangnya hubungannya dengan Kalista membuat dirinya kehilangan semangat.


Ini juga hari ketiga dirinya tidak saling bertegur sapa. Bahkan Arka berubah seperti menjadi monster yang menyeramkan. Semua karyawan kantor kena imbasnya, salah dikit di bentak, di marahi habis-habisan. Semuanya bekerja dengan penuh tekanan dan ketakutan.


Bahkan Andy saja merasa heran dengan perubahan sikap Arka, Arka yang biasanya rapi dan penuh wibawa itu menghilang begitu saja. Tak jarang tangan Arka juga di gunakan untuk menonjok tembok di ruangannya, terkadang membanting alat tulis kantor hingga berserakan.


Seperti siang ini, Arka memesan kopi di kantin dan di suruh diantarkan ke ruangannya. Tiba di ruangannya, ibu kantin terpeleset, kopinya tumpah bahkan gelasnya pecah mengotori ruangan kerja Arka.


Kejadian ini seperti di manfaatkan oleh Arka, Arka meluapkan emosinya. Sorotan matanya sangat tajam seperti ada bola api di dalamnya, menggertakkan giginya hingga rahangnya mengeras, membentak dan memaki ibu kantin habis-habisan. Hanya gara-gara segelas kopi, padahal ibu kantin sudah meminta maaf dan bersedia membersihkan cairan kopi yang membasahi lantai ruangan ini.


Arka segera keluar dari ruangannya, langkahnya terlihat sangat buru-buru.


"Bu, bersihkan saja ya! Mohon maaf bapak CEO kita kayanya sedang ada masalah, jangan di ambil hati ya Bu." Andy berkata sangat lembut pada ibu kantin, wanita setengah baya itu menangis tersedu-sedu karena di bentak.


Arka memang benar-benar keterlaluan, marah sih marah, tapi apa harus membentak wanita yang usianya sudah renta? Tega sekali.


Andy langsung berlari, berusaha mengejar Arka. Membuka pintu mobil dan langsung duduk di sampingnya, Arka menatap Andy tajam, lalu mengalihkan padandangan pada stir mobil.


Begitulah Arka, jika suasana hatinya sedang kacau, maka akan mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata, Andy merasakan pening di kepalanya, jantungnya seperti akan copot begitu saja.


Andy tidak banyak tanya, karena Andy cukup paham dengan suasana hati Arka sekarang ini. Kalau banyak tanya sudah bisa di pastikan Arka akan murka dan melayangkan bogem mentahnya.


Turun dari mobil saja, wajahnya tetap nggak berubah. Masih kusut dan terlihat sangat menyeramkan. Menutup pintu mobil dengan sangat keras, emang dasar Arka si orang kaya nggak takut rusak apa ya? Mobil mahal bro!


"Widih, tumben-tumbenan nih bapak CEO berkunjung siang-siang seperti ini." Riko tertawa renyah sembari menyambut kedatangan Arka dan Andy.


"Diam lu! Gue butuh ketenangan." Arka mengabaikan sapaan Riko, dan langsung duduk di kursi yang letaknya di pojokan. Spotnya menghadap taman yang sangat alami dan menyejukkan mata. Bunga-bunga juga sedang bermekaran, semakin membuat mata nyaman dan betah memandangnya.


Riko bertanya kepada Andy, menggunakan bahasa isyarat. Bukannya menjawab Andy malah mengedikkan bahunya.


"Mau makan apa? Gratis buat hari ini!" Tawar Riko, sekali-kali lah ya memberikan tlaktiran kepada para sahabat.


"Gue nggak perlu gratisan! Gue punya duit banyak, jangan rendahin gue! Bahkan gue sanggup membeli Coffee shop ini, membeli nyawa lu juga gue sanggup." Jawaban Arka begitu enteng, tetapi mempunyai makna yang sangat dalam.


"Gila gila, ngeri gue." Riko bergidik ngeri.


"Sebenarnya lu kenapa sih? Curhat lah sama gue!" Ucap Riko yang kini duduk tepat di dekan Arka, sehingga posisi mereka berhadapan.


"Curhat? Dih kaya cewe aja maen curhat-curhatan! Gue lapar!" Cibir Arka.


Riko menjentikkan jarinya, seorang waiters datang menghampiri. Lalu mencatat pesanan Arka dan Andy.


Arka sangat menikmati redvelvet pesanannya, sesekali tangannya mengusap pinggiran gelas kopi. Walaupun redvelvet ini tidak seenak buatan Kalista, namun redvelvet ini bisa membuatnya mengingat istrinya itu, Arka merindukan Kalista yang seperti biasanya.


"Bini gue berubah! Udah 3 hari gue nggak di layani." Suaranya Arka pun berubah menjadi sangat lirih, wajahnya sendu.


"Sabar dong bro! Wajar dia kan lagi hamil, jadi nggak boleh sering-sering berhubungan badan. Lu sebagai sua...,"


"Bukan itu! Dia berubah, nggak ada morning kiss, nggak ada siapin pakaian kerja, nggak ada siapin sarapan. Semuanya sudah berubah, Kalista sudah tidak seperti dulu lagi." Ucapan Andy di potong begitu saja oleh Arka, kali ini sangat terlihat jelas raut wajah frustasi Arka, bahkan Arka berkali-kali mengusap wajahnya gusar.


"Hah Kalista kaya gitu? Masa sih? Gue nggak percaya." Saut Riko sambil terus memperhatikan Arka.


"Lu ada salah kali sama dia?" Ucap Andy.


"Gue salah? Salah gue apa? Kan bisa negur atau di omongin baik-baik, heran aja gue, salah gue dimana sih?" Ucapnya dengan sangat geram, sesekali mulutnya menyesap moccacino pesanannya. Sampai sekarang pun Arka masih tidak menyadari kesalahannya, terlalu tidak peka? Sombong? Atau memang tidak mau mengakui kesalahannya?


"Feeling gue kayanya kalian berdua sama-sama egois deh." Tiba-tiba Evan datang dan langsung duduk bergabung dengan empat sekawan itu.


"Jadi maksudnya gue yang salah? Gitu?" Bentak Arka dan langsung menarik kerah baju Evan.


Riko dan Andy kaget setengah mati, mereka berdua berusaha melepaskan cengkraman tangan Arka dari kerah baju Evan. Beberapa pengunjung memperhatikannya, bahkan para karyawan juga sampai berkerumun menyaksikan keributan yang di ciptakan oleh Arka.


Bagaimana tidak menarik perhatian, bentakan Arka terdengar sangat keras, dan memekikkan telinga. jika waktu boleh di jeda dan kembali lagi pada lima menit sebelum Arka membentak, mungkin Andy dan Riko akan menutup telinga.


"Nah kan gini nih yang gue nggak suka dari sifat lo! Pemarah, dan nggak mau introspeksi diri!" Celetuk Evan tak kalah kencangnya dengan suara Arka.


"Gue nggak introspeksi? Nggak introspeksi di sebelah mananya? Coba tolong jelasin! Berani banget lu berbicara kaya gitu ke gue!" Arka naik pitam, emosinya meluap, bahkan wajahnya sudah memerah menahan gejolak di dadanya. Tangannya mengepal, mungkin kalau tidak di halangi oleh Andy tangan itu sudah melayang ke perut atau wajah Evan.


"Kalau lu mau tahu salahnya lu dimana? Ya lu tanya sama bini lu, omongin baik-baik dengan kepala dingin. Bukan saling cuek dan diam-diaman! Cowo kan lu? Gentle dong!" Bentak Evan di telinga Arka.


"Plaaaaaak." Satu tamparan keras mendarat di pipi Evan. Pipi itu berubah menjadi merah dan terdapat bekas tangan di sana.


"Kalista nggak beruntung menjadi bini lu." Evan masih saja berani menentang Arka, dari mulutnya mengalir darah segar.


Kepala Arka sepertinya semakin mendidih, amarahnya sangat luar biasa. Bahkan sekarang Arka bersiap akan menghajar Evan, sekuat tenaga Andy menahannya.


"Bruuuuuuuuk!" Riko menggebrak meja dengan sangat keras, bahkan gelas moccacino itu sampai terguling.


"Kalau lu berdua mau ribut! Silahkan keluar dari Coffee shop gue! Gue nggak mau semua pengunjung kafe ini merasa tidak nyaman akibat ulah kalian berdua!" Ternyata Riko juga bisa membentak dan bersuara keras. Napasnya sampai terengah-engah.


Arka beringsut mundur. Kini kesadarannya berangsur-angsur mulai pulih. Tetapi kalau untuk memaafkan Evan, sepertinya Arka belum bisa.


Arka lebih memilih untuk meninggalkan coffee shop dan meninggalkan Andy. Waiters langsung membersihkan meja yang ketumpahan moccacino. Riko, Andy, dan Evan pun kembali duduk. Manager kafe ini membawakan kotak obat atas perintah Riko. Karena sudut bibir Evan terluka dan mengeluarkan darah, akibat tamparan Arka yang sangat keras.


"Gimana bro? Sakit kah? Berani banget lu menantang macam yang sedang lapar." Riko menepuk bahu Evan, tawanya terbahak-bahak, Andy juga malah ikutan tertawa.


"Lumayan! Kenapa nggak berani? Awalnya gue juga cuma mau memberikan pendapat gue aja. Taunya tuh si calon bapak malah ngamuk." Evan masih mengusap-usap pipi yang bekas di tampar oleh Arka.


"Makanya dengerin dulu bro! Main nyaut-nyaut aja, lu nggak tahu aja dari awal Arka datang mukanya udah di tekuk dan serem banget." Ucap Andy.


"Bodoamat lah! Gue sekedar ngasih tahu aja! Emang benar kan kalau mau tahu salahnya dimana? Harus di tanyakan! Kalau diam-diaman terus, kapan kelarnya tuh masalah! Arka kan gitu, udah kebiasaan egois. Wanita itu sensitif, di pikir dulu aja lah Kalista nggak akan berubah kalau Arka nggak berbuat salah." Ujar Evan.


"Betul juga sih perkataan lu." Kata Riko.


"Eh gue ingat satu hal deh! 3 hari yang lalu dikantor lagi banyak banget kerjaan, ketambah lagi ada masalah sedikit. Hari itu tuh Kalista datang ke kantor, membawakan bekal makan siang untuk Arka, tapi Arka malah ngebentak Kalista di depan gue dan Gina. Wadaw baru ngeh gue, kayanya Kalista marah gara-gara itu deh." Andy langsung memijit-mijit pelan dahinya.


"Tuh kan, wanita mana bro yang mau di bentak? Apalagi di bentak di hadapan lu dan Gina, wajar marah! Dia sakit hati. Dan beg*nya si Arka tidak menyadari hal itu? Cih suami macam apa?" Evan makin nyeleneh mencibir Arka.


"Bentar-bentar deh, kenapa Kalista di bentak? Dia salah apa? Itu kan bawain makan siang?" Riko si tulalit ini kini mulai lemot, otaknya belum bisa memproses apa yang Andy katakan.


"Oh my God! Lu jelasin ke si stupid ndy!" Evan menatap Riko dengan tatapan jengah. Lagi ngobrol serius kaya gini kenapa otaknya nggak mampu untuk di sejajarkan sih?


"Arka lagi banyak kerajaan di kantor, ada sedikit masalah juga. Nah pas siang itu tuh Arka baru beres rapat, keadaanya sudah lelah tiba-tiba Kalista datang, Arka meluapkan emosinya pada Kalista." Andy menjelaskan dengan sangat serius.


"Terus Kalista buat marahnya dimana?" Ucapnya dengan wajah bingung.


Evan menoyor kepala Arka, matanya melotot. "Kalau otak lu dangkal kaya gini, gue jadi mengkhawatirkan gimana nasib coffee shop lu kedepannya, bukannya berkembang maju yang ada juga malah gulung tikar. Hadeuh!"


"Makanya bro kalau kuliah jangan molor terus!" Imbuhnya lagi menggebrak meja pelan.

__ADS_1


"Apaan sih jadi bahas kuliah! Molor terus juga yang penting kuliah gue kelar, nggak molor lulusnya kaya si berandalan!"


Jawab Evan.


"Siapa si berandalan?" Evan mengerutkan dahinya.


"Nggak tahu! Asal nyebut aja!"


"Weh dasar bocah, asbun lu ternyata nggak ilang-ilang ya!" Evan kembali lagi menoyor kepala Riko.


"Jadi gini bro! Arka lagi dalam mode capek, Kalista datang ke kantor membawakan makan siang, niatnya sih baik. Tapi kan lu tahu Kalista sedang mengandung, Arka mengkhawatirkan Kalista dan janinnya. Hanya saja cara penyampaiannya salah!" Andy kembali lagi menjelaskan, dan sangat berharap Riko mengerti akan arti dari ucapannya.


"Ya kan nggak harus membentak, bisa kan di omongin baik-baik? Kalau gini sih fixs ini salahnya Arka." Riko pun mulai memberikan pendapat.


"Si beg*, kan Andy udah bilang cara penyampaiannya salah! Baru connect lu? Sumpah ya ih otak lu tuh di pake Riko, jangan cuma di jadikan pajangan doang!" Evan sangat jengkel pada Andy.


"Kemarin magrib aja Kalista menelepon gue, menanyakan Arka. Padahal Arka pulang ngantor lebih cepat, tapi nggak langsung pulang ke rumahnya. Gimana Kalista nggak makin marah coba?" Ucap Andy.


"Udah lah pusing gue mikirin masalah rumah tangga mereka, yang punya masalah kan mereka ngapain kita harus terlibat dan repot-repot memikirkan solusi sih." Kembali lagi deh otak dangkal si Riko.


"Benar-benar ya lu! Kita sebagai sahabat harus saling membantu. Ya memang sih ini sebenarnya masalah rumah tangga mereka, tapi kita sebagai sahabat juga harus bisa memberikan saran dan minimal menyadarkan Arka dari kesalahannya." Kini malah Andy yang terpancing emosi.


"Yaudah gini aja deh! Kalau besok mereka masih belum ada titik terang dari permasalahan mereka, kini musyawarah aja dan bantu mereka biar baikan. Bantu Kalista biar bisa ngomong dan menjelaskan perihal kesalahan Arka, dan bantu Arka menyadari kesalahannya, biar nggak sama-sama egois dan mau menang sendiri. Intinya salah satu dari mereka harus ada yang mengalah!" Ujar Evan dengan beberapa petuahnya.


"Oke setuju!" Andy dan Riko menyahut bersamaan.


"Gimana dong bro? Kopi gue tumpah!" Andy menatap Riko. "Btw, tadi lu bilang mau tlaktir kan? Kalau Arka sih menolak mentah-mentah, tapi kalau gue menyambut dengan sepenuh hati riang gembira. Gue mau pesanan gue yang berantakan tadi di ganti dengan yang baru, tetapi tidak di bayar!" Andy cengir kuda, seraya memohon agar Riko masih mau mentlaktir dirinya.


"Menolak mentah-mentah, akhirnya pergi tanpa membayar! Sama aja kan jadinya gratis? Oke, gue anggap gue sudah mentlaktir bapak CEO yang sedang dalam mode harimau." Ucapan Riko disambut gelak tawa oleh Andy dan Evan. Kalau di pikir-pikir memang benarkan apa yang dikatakan Riko, Arka menolak di tlaktir tapi pergi tanpa membayar?


" Lu mau apa bro?" Tanya Riko.


"Yang biasa gue pesan!"


Waiters langsung berlalu menuju dapur, Evan, Andy dan Arka memang terbiasa datang ke coffee shop ini. Waiters saja sampai hafal menu pesanan mereka.


"Sebenarnya gue nggak mau tlaktiran, gue maunya nikah! Gue kebelet nikah nih." Mungkin perkataan Evan terdengar seperti candaan, tapi jauh di lubuk hatinya Evan memang ingin cepat-cepat menikah.


"Nikah mah gampang, ajak aja Tiara ke KUA! Nikah itu nggak sulit, yang sulit tuh minta restu orang tuanya." Andy terkekeh, sengaja Andy mencibir Evan, karena Andy mengetahui dari Kalista bahwa Tiara sempat akan di jodohkan dengan konglomerat. Itu artinya Evan tidak akan mudah mendapatkan restu dari orang tuanya Tiara.


"Nah itu! Lagian bokap nyokap gue belum balik ke Indonesia, gue insecure parah takut nggak dapat restu orang tuanya Tiara." Jawab Evan pasrah.


"Makanya lu kerja yang rajin, bila perlu sampai banting tulang! Lu kan tiap hari kaya gini, mondar-mandir nggak jelas, walaupun lu punya perusahaan tapi orang memandang lu malah seperti pengangguran." Celetuk Riko.


"Tumben lu benar ko." Ledek Andy sambil terkekeh.


"Bosan gue salah terus di mata kalian, sebenarnya salah gue apa sih? Sayang tolong jelasin lah, jangan diam-diam lalu pergi menghilang tanpa sepatah kata."


"Iwh jijik gue jijik! Neng tolong lah, coba di jelaskan dulu salah Abang di mana? Abang cinta mati sama neng nya." Andy juga malah ikut-ikutan gesrek seperti Riko.


"Udah deh! Jijik beneran gue, mual nih pengen muntah." Evan menepuk pundak Andy dan Riko.


Waiters datang membawakan makanan yang telah mereka pesan, mereka makan dengan sangat lahap. Makanan terasa sangat lezat karena gratisan. Makan bersama sahabat di selingi canda tawa, mereka sangat bersuka cita, hanya saja masih ada yang kurang, yaitu Arka.


Setelah kepergiannya dari Coffee shop, Arka melajukan mobilnya menuju jalanan buntu dan sepi. Keluar dari mobil, kakinya menendang-nendang rumput liar di pinggir jalan. "Brengsek!" Arka berteriak berkata brengsek, tangannya menjambak rambutnya kasar.


ARKA (POV)


Pantas nggak sih seorang istri berkelakuan seperti itu? Bukannya seorang istri harus patuh terhadap suami? Gue tahu istri gue itu pintar, masa iya harus gue ajarin dulu gimana caranya menghargai dan melayani seorang suami.


Babymoon? Gue turuti! Maternity shoot? Gue juga turuti. Bahkan gue rela merogoh kocek sangat dalam demi siapa? Demi istri gue tercinta. Demi milihatnya senang dan bahagia.


Udah tahu di kantor lagi ada masalah, gue sangat-sangat butuh support dari istri gue. Kalau kaya gini keadaannya sih masalah kantor nggak kelar-kelar, yang ada malah pusing mikirin masalah rumah tangga.


Salah gue dimana coba? Bilang dong! Gue bukan dukun ataupun sang maha pencipta yang mengetahui segalanya. Bilang aja susah gitu? Susah benar tuh mulut buat ngomong.


Pokonya gue nggak akan ngomong dan akan terus mendiamkannya, selama dia tidak ngomong salah gue apa? Harus gue tegur dulu? Nggak deh! Nantinya kebiasaan. Lagi pula dia egois banget sih, udah mau jadi seorang ibu juga, sifat egois kok nggak ilang-ilang.


Hari ini mumet banget di kantor, kerjaan numpuk tapi otak malah mikirin bini terus. Pergi ke coffee shop berharap gue mendapatkan ketenangan jiwa di sana. Tahu nya malah membuat onar dan keributan, kalau saja si Evan brengsek itu bisa menjaga mulutnya. Mungkin saat ini gue masih menikmati secangkir moccacino.


Kepala gue lagi mendidih, emosi sedang menguasai diri gue. Gue nggak paham sebenarnya keributan tadi salah gue atau Evan? Yang pasti untuk saat ini gue nggak bisa memikirkannya. Pusing masalah rumah tangga, kerjaan kantor, Evan malah ikut-ikutan nambahin beban pikiran gue.


Kampret banget kan si Evan. Nggak tahu malu, dan nggak tahu ber-terimakasih. Udah gue izinin ikut babymoon sekaligus honeymoon nya gue. Balasan yang dia berikan malah kaya gini, sahabat macam apa?


*****


Kalista sedang meringkuk di kamarnya, sambil menangis seperti anak bayi. Otaknya sudah berusaha berpikir positif, tapi wangi parfum wanita yang melekat di kemeja Arka sungguh menggangu ketenangan jiwanya.


Saat ini yang Kalista sedang rasakan adalah rasa takut. Takut kalau Arka selingkuh, padahal Kalista sedang mengandung. Kalista juga tidak mau kalau sampai anaknya lahir tetapi tidak mempunyai ayah.


Seharian ini Kalista terus menerus menangis, hatinya ingin sekali berontak dan menjerit pilu, rasa sesak di dadanya tak kunjung menghilang. Kalista menatap pigura yang terpajang di sudut kamar, foto pernikahannya dengan Arka, mereka tampak tersenyum bahagia di foto itu.


"Gue nggak sanggup hidup, kalau lu beneran selingkuh Arka." Bulir-bulir bening di pelupuk matanya itu kembali terjatuh lagi.


Kalista bangun, duduk di depan cermin seraya berkata kepada dirinya sendiri. "Gue kurang apa sih? Cantik? Cantik itu relatif, body gue kurang bagus? Wajar semua manusia di ciptakan berbeda-beda! Apa sih spesialnya wanita yang meninggalkan aroma parfumnya di bajumu? Gue kurang apa?" Kalista menjambak rambutnya frustasi. Seluruh make up yang berjejer rapi itu di hempas begitu saja oleh Kalista, semuanya tumpah, pecah, dan sangat berantakan.


Keadaan kamarnya sudah seperti kamar pecah, selimut, bantal, guling, semuanya sudah berserakan di bawah. Penampilan Kalista sudah tidak karuan, wajahnya terlihat jelek sekali dengan mata bengkak dan hidung merahnya.


Semuanya menjadi sangat kacau untuk Kalista, jika memang benar Arka selingkuh Kalista tidak bisa memilih antara bertahan atau bercerai. Kedua pilihan itu akan sangat menyakitkan untuk di jalani. Kalista merasa sangat lelah pikirannya, juga hatinya.


"Ya ampun, kamu kenapa nak?" Oma masuk ke kamar Kalista, dan sangat kaget melihat kamar Kalista yang sangat berantakan.


Pak Anggara melihat wajah menantunya, wajah itu sedang tidak baik-baik saja. Pak Anggara paham, pasti ini semua berkaitan dengan Arka.


"Bawa keluar ma, biar kamarnya di bereskan dulu." Ucap pak Anggara.


Beberapa pelayan masuk dan membereskan kamar Kalista, pak Anggara mencoba menghubungi Arka namun ponselnya tidak aktif, padahal ini sudah lebih dari jam ngantor. Ketika menghubungi Andy, Andy menjelaskan semuanya tentang tadi siang. Akhirnya pak Anggara menyuruh Andy untuk mencari Arka.


"Bocah keparat, dimana kau?" Pak Anggara saat ini sangat geram terhadap kelakukan Arka.


Pak Anggara dan Oma sangat cemas dan gelisah, Kalista tidak keluar kamar sejak pagi tadi. Kamarnya terkunci, pak Anggara dan Oma mencoba mengintip melalui celah kunci, betapa kagetnya ketika melihat Kalista sedang ngamuk, semuanya di lempar-lempar, make up-nya hancur dan berantakan.


"Bisa di jelaskan sebenarnya ada apa?" Pak Anggara duduk di sebelah Kalista, tangannya mengusap pelan rambut Kalista. Pak Anggara begitu sangat menyayangi Kalista, bahkan sudah dianggap anaknya sendiri, bukan menantu.


Kalista geleng-geleng kepala, Isak tangisnya masih saja belum berhenti. Tangannya sudah berusaha menahan laju air mata, tapi tidak bisa.


"Ngomong aja nak, nggak usah canggung." Ucap Oma.


"Kemarin Arka pulangnya larut malam, pas Kalista bangun Kalista mencium wangi parfum wanita di kemejanya." Susah payah kalista mengucapkan kalimat itu, itu pun bicaranya dengan sesenggukan.

__ADS_1


"Brengsek!" Pak Anggara menggertakkan giginya, rahangnya mengeras. Pak Anggara tidak akan terima kalau Arka mengkhianati istrinya.


Dulu pak Anggara menikah dengan orang yang salah, dirinya di khianati dan di tinggalkan. Beberapa bulan ini pak Anggara sangat bersyukur karena Arka memiliki istri yang baik, pintar, mencintainya, dan setia padanya.


Kini Arka malah mengkhianati istrinya, wajar saja pak Anggara marah. Karena pak Anggara tahu bagaimana rasanya di khianati.


"Tenangkan Kalista ma, aku ada urusan sebentar." Pak Anggara mengambil kunci mobil dan langsung pergi meninggalkan rumah megah itu.


Kalista bilang sama Oma, kalau dirinya sudah tidak apa-apa. Kalista di izinkan kembali ke kamarnya setelah kamarnya sudah rapi kembali. Dengan sayarat pintunya tidak boleh di kunci.


*****


Hingar bingar musik yang sangat memekikan telinga, wanita maupun pria semuanya berjoget ria dan sangat menikmati suasana club malam ini.


Setelah berkelana dengan pikirannya di ujung jalan buntu nan sepi, Arka memutuskan untuk merefresh otaknya dengan pergi ke club malam.


Arka telah meneguk beberapa gelas bir, kini dirinya merasa badannya mulai ringan. Kesadarannya mulai pudar.


"Hi, wanita seksi menghampiri Arka, memeluk dan menciumnya sangat mesra." Arka mendorongnya sekuat tenaga, hingga wanita itu terjatuh. Wanita itu tersenyum menyeringai dan langsung berlalu meninggalkan Arka.


Arka mulai bergabung dengan sekumpulan orang yang sedang berjoget, berjoget dengan asyik seakan-akan tidak mempunyai beban di hidupnya.


Tiba-tiba satu tangan itu menyeretnya keluar dari club malam tersebut. Ya, dia adalah Andy. Andy dengan susah payah mencari tahu keberadaan Arka, tahunya Arka sedang berjoget di club malam.


Andy mengambil kunci mobil di saku jas Arka, memasukkan Arka kedalam mobil dengan sedikit kasar. Kemudian melajukan mobilnya ke kediaman Anggara.


"Ta, salah gue apa sih? Bilang dong ta, jangan kaya gini." Ucapnya setengah sadar.


"Mau diam-diaman aja? Lu tahu nggak sih gue tersiksa dengan kediaman lu, ranjang yang biasanya hangat juga malah terasa dingin, seperti ada dinding es yang memisahkan jarak antara kita. Satu hal yang harus lu tahu, gue sangat menyayangi lu ta, sangat-sangat mencintai lu." Gumamnya, Andy meliriknya sekilas.


"Harus nunggu mabuk dulu gitu baru lu bisa ngomong? Lu cowo kan gentle dong!" Andy menoyor pelan kepala Arka.


Andy berani berkata seperti itu karena Arka sedang mabuk.


Selama berjalan Arka terus saja mengoceh, bahkan sampai keluar kata maaf dari mulutnya. Andy yang mendengarnya sampai mencibir bahwa Arka mempunyai gengsi yang sangat tinggi.


"Di hadapan Kalista so cool, so cuek jutek. Aslinya apa? Perasaan tidak bisa di bohongi! Jujur itu penting." Andy berkata dengan tegas tepat di telinga Arka.


"Apaan sih lu bro? Sakit kuping gue." Jawabnya, matanya tetap terbuka namun Kandangan kabur dan menjadi dua.


Mobil telah sampai di halaman depan kediaman Anggara, Andy memapah Arka untuk masuk ke dalam rumahnya. Beberapa kali memencet bell, tetapi tidak ada yang membuka pintu. Mungkin semuanya sudah pada tidur, soalnya ini sudah larut malam.


Manik mata Kalista membulat sempurna ketika melihat Arka yang di papah oleh Andy. Kalista meraih tubuh Arka, tetapi tangan Arka langsung menghempaskannya dengan sangat kencang, hingga Kalista hampir terjatuh.


"Arka! Istri lu lagi hamil!" Bentakan Andy menggelegar dan menggema di pintu depan rumah ini, bahkan sampai terdengar sampai pintu belakang. Beberapa pelayan bangun dan menyaksikannya dari jauh.


"Istri? Istri yang nggak tahu diri!" Arka kemudian tertawa mengejek.


Kalista tahu sekarang Arka dalam pengaruh minuman keras, namun kalista juga tidak terima di katakan istri nggak tahu diri. "Siapa yang nggak tahu diri? Aku atau kamu hah? Suami macam apa yang pergi ke club malam, sedangkan istrinya sedang mengandung. Kamu menghargai aku tidak?" Kalista terpancing emosinya, sehingga berani berteriak-teriak di larut malam begini.


Arka maju dan langsung memencet pipi Kalista dengan sangat kasar. "Lalu siapa yang tidak tahu diri? Aku? Kamu sebagai seorang istri harusnya kamu sadar peranan kamu dalam rumah tangga seperti apa?"


Kalista meringis menahan sakit di pipinya, Andy berusaha membantu namun malah di tendang oleh Arka hingga terpental. Walaupun dalam keadaan mabuk, tetapi tenaga Arka masih terjaga.


"Lepasin! Istri lu kesakitan!" Andy menendang kaki Arka.


Arka sangat murka, menatap Andy dengan sangat bengis. "Lu pulang sana! Ini bukan rumah lu!" Kaki Arka sibuk menendang-nendang tubuh Andy yang berada di lantai, akibat terpental tadi.


Beberapa layanan sangat panik, sehingga mereka memberanikan diri untuk membangunkan pak Anggara dan Oma.


"Kamu seharusnya minta maaf sama aku!" Kalista berbicara sambil terisak.


"Minta maaf, aku salah apa?" Teriak Arka.


"Kamu nggak sadar salah kamu dimana hah? Dasar suami nggak punya hati." Kalista merasakan hatinya sangat sakit, sudah tiga hari berlalu namun suaminya masih tidak menyadari kesalahannya.


"Plak!" Arka menampar pipi Kalista, pipi putih itu seketika berubah warna menjadi merah, sudut bibirnya berdarah.


"Praaaaaang!" Arka menendang guci yang ada di sebuah Kalista. Sehingga Kalista terlonjak kaget, pecahan piring itu ada mengenai kakinya, menggoresnya sampai mengeluarkan darah.


"Bruuuuuuuuugh" Andy bangkit, menendang Arka dengan sekuat tenaga. Andy tidak bisa berdiam diri melihat Arka menyakiti Kalista. Andy terus menerus memukul Arka, walaupun berkali-kali dirinya juga kena tinju dari Arka.


Oma keluar dari kamar dan menjerit histeris, melihat ada darah dan pecahan beling di kaki Kalista. Oma menghampiri Kalista dan memeluknya, seraya menenangkannya.


"Pelayan! Panggil Anggara!" Oma masih berteriak-teriak, sudah sekacau ini dan pak Anggara masih belum keluar dari kamarnya.


Agak susah membangunkan pak Anggara di larut malam seperti ini, karena pak Anggara tidurnya sangat pulas. Pak Anggara mengerjapkan matanya dengan perlahan, kemduian telinganya menangkap suara Oma sedang menjerit sambil menangis.


"Arka hentikan!" Pak Anggara begitu murka melihat Arka yang sedang meninju Andy tanpa ampun.


"H E N T I K A N!" Ucapnya lantang.


Andy beringsut mundur, kemduain menyenderkan punggungnya di pintu.


Pak Anggara bergerak maju, menatap Arka dengan penuh kebenciannya. Aroma minuman keras sangat tercium di hidung pak Anggara. "Brengsek! Kamu pergi ke club? Ingat nggak kamu punya istri, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah! Apa kata anak kamu nanti ketika mengetahui ayahnya pergi ke club, meninggalkan istrinya yang sedang mengandung?" Setelah selesai berbicara pak Anggara menampar Arka sangat keras.


"Kaya gitu namanya istri?" Arka menunjuk Kalista. "Istri macam apa yang tidak melayani suaminya, tidak mempersiapkan segala kebutuhan suaminya? Kaya begitu istri? Mendingan happy-happy sama wanita malam." Arka nyeneh sebagai, bahkan sampai terkekeh.


"Bruuuuuuuugh!" Satu pukulan dari pak Anggara mengenai perut Arka.


"Kamu yang tidak tahu diri! Bukannya mengakui kesalahan dan meminta maaf, malah terus saja menyalah-nyalahkan aku." Kalista menatap Arka dengan lelehan air mata.


"Diam!" Arka menendang pecahan beling, pecahan beling itu berhenti tepat di telinga kaki Kalista.


Kemudian manik mata pak Anggara melihat kaki kalista yang berlumuran darah, pecahan beling masih menempel di kaki Kalista.


Setelah itu pak Anggara dan Arka saling baku hantam. Pak Anggara sudah tidak bisa menerima konsekuensinya apapun, semua yang di lakukannya pada Kalista sangat salah, bahkan bisa jerat UU tentang penganiayaan dalam rumah tangga. Andy sudah tidak mempunyai tenaga untuk bangkit, dia hanya bisa menyaksikan dengan perasaan ngeri.


"Ayah, Arka, S T O P!" Kalista berteriak dengan sangat kencang, berusaha meraih tubuh Arka dan menjauhkannya dari amukan pak Anggara.


Setalah itu Arka malah tepar, di lantai. Entah Arka menyadari semuanya atau tidak, soalnya dia masih di bawah pengaruh alkohol.


Pak Anggara langsung memanggil dokter pribadi kepercayaannya, di suruh mengobati kaki Kalista yang terluka. Dan memeriksa tubuh Andy, takut ada luka dalam karena di hajar oleh Arka.


Serta memeriksa kondisi tubuh Arka, semuanya terlihat normal dan baik-baik saja. Hanya Kalista yang keadaannya mengkhawatirkan, karena kakinya penuh luka dan kemungkinan besok akan bengkak.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2