
"Gue perhatiin muka lu kayanya segar banget dah." Ujar Evan.
Arka baru saja keluar dari kamarnya, rambutnya terlihat masih basah. Rona wajahnya memang terlihat beda hari ini.
"Merhatiin gue? Hati-hati nanti lu naksir." Arka mencibir, tangannya sibuk menyiapkan roti dan susu bumil untuknya sarapan. Evan dan Tiara telah sarapan lebih dulu, tadinya mau sarapan bareng-bareng tapi nunggu Arka kelamaan, nggak keluar-keluar dari kamar.
"Kalista mana pak?" Tanya Tiara yang memang tidak melihat kehadiran Kalista di meja makan.
"Masih mandi." Jawab Arka singkat.
"Ini udah hampir jam 9 loh, baru mandi? Gue curiga deh kayanya lu habis bergadang ya?" Pertanyaan Evan penuh selidik.
"Emang iya habis bergadang! Olahraga malam itu penting, biar sehat." Arka terkekeh pelan.
"Lagi pula kan tujuan utama gue kesini tuh babymoon sekaligus honeymoon. Karena tadi malam adalah malam terakhir gue di sini jadi ya kudu harus wajib honeymoon lagi." Ujar Arka sambil memperlihatkan lehernya yang terdapat beberapa noda merah.
"Karena malam terakhir jadi olahraganya nyampe subuh gitu ya?" Lagi-lagi Evan bertanya mengenai hubungan Arka dan Kalista.
"Kepo! Nggak usah urusin hubungan gue sama bini gue, mendingan lu atur Tiara agar sering-sering menjaga kebugaran tubuh, biar kuat...," Arka sengaja menggantungkan kalimatnya, kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Evan.
"Lah kok jadi gue yang kena?" Taksi mengerutkan dahinya dalam.
"Tenang bro! Bisa diatur." Evan mengacungkan ibu jarinya.
Kalista berjalan menghampiri mereka di meja makan. Dress marun yang mencetak jelas bagian perutnya itu terlihat sangat cocok menyatu dengan warna kulit Kalista. Hari ini Kalista memoles wajahnya dengan sentuhan make up flawles. Bahkan mukanya terlihat sangat glowing, shimmering, dan kinclong.
Kalista langsung saja memakan roti panggang selai cokelat, sesekali meneguk susu yang telah di siapkan oleh Arka.
"Makannya lahap banget, laper nya juga pake banget ya?" Tanya Tiara, Kalista memang memakan roti dengan kecepatan super, bahkan dalam waktu 5 menit sudah menghabiskan tiga lembar roti.
"Gimana nggak laper coba? Tenaganya udah terkuras habis akibat kegiatan tadi malam." Evan meledek Kalista.
Kalista yang sedang mengunyah roti pun langsung memicingkan matanya, menatap Evan secara intens. "Kok tahu?" Tanyanya, suaranya kurang jelas karena mulutnya penuh dengan roti.
Kini sorotan matanya menatap Arka, sebuah tatapan intimidasi Kalista berikan pada Arka.
"Gimana mereka nggak tahu, kamu aja bikin noda merah sebanyak ini di leher aku." Arka menjawab dengan sangat santai, jari telunjuknya menunjuk noda-noda merah di lehernya.
Kalista menajamkan penglihatannya, mengusap noda merah di leher Arka. "Sebenarnya ini bawaan bayi." Kalista tersenyum canggung sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Bawaan kamu juga nggak apa-apa, aku ikhlas kok, malahan kalau di kasih mah pengen lagi." Arka tersenyum menyeringai.
"Mesum banget pak suami." Kalista menjawil hidung Arka, lalu mengecup pipinya.
"Sebenarnya bukan mesum tapi doyan." Arka terkekeh sambil mengusak rambut Kalista. "Enak banget loh sayang pagi-pagi dapat morning kiss." Arka manyun-manyun sambil menatap Kalista.
"Morning kiss di pipi kah?" Tiara menautkan alisnya.
"Kalau morning kiss di pipi itu kurang enak!" Jawab Kalista cuek sambil terus memakan roti.
"Tadi?"
Oh my God, ada apa dengan Tiara? Yakin nih dia mau belajar tutorial rumah tangga? Kepo dan super bawel banget.
"Astaga Tiara bawel! Gue udah kasih morning kiss di kamar pas bangun tidur!" Sengit Kalista dengan wajah jengahnya.
Evan merangkul Tiara, Evan bahkan menatap Kalista sebal, kenapa nada bicaranya sengit sih.
Ponsel Arka yang tergelatak tidak jauh dari meja makan pun berbunyi, Arka meraihnya.
"Oma video call."
Wajah Oma langsung tersenyum sumringah, di sampingnya sedang duduk pak Anggara.
"Nak, sehat? Apa kabar? Kapan pulang? Mana istri kamu?" Suara Oma melengking, pertanyaan beruntun pun keluar dari mulutnya.
"Sehat ma, pulang sore ini."
"Kalista mana?"
Arka merangkul Kalista, sehingga wajah Arka dan Kalista pun menempel.
"Hi, Oma." Kalista melambaikan tangannya ke layar ponsel, mulutnya masih terus saja mengunyah.
"Lagi makan nak? Oma ganggu ya?" Tanya Oma dengan wajah tidak enak merasa bersalah.
"Lagi sarapan, nggak kok. Ini udah selesai." Kalista meneguk susu sampai habis.
__ADS_1
"Sarapan? Ini sudah siang sayang."
"Iya sarapan, bangunnya kesiangan hehe." Kalista tersenyum canggung.
"Ini ma." Arka menunjukan leher merahnya. "Paham kan kenapa kesiangan?" Arka tersenyum, wajah bahagianya sangat terlihat jelas oleh Oma dan pak Anggara.
"Aduh enak nih honeymoon terus." Ledek pak Anggara dengan suara khas miliknya.
"Enak dong yah. Ayah kapan nikah?"
"Ayah nikah? Ngapain sih nikah? ayah sudah tua, malahan bentar lagi juga punya cucu." Ucap pak Anggara sambil terkekeh.
" Ya biarin aja! Nikah mah nggak tua nggak muda semuanya juga suka nikah. Kakek-kakek jaman sekarang aja bisa dapetin istri yang usianya belasan tahun, asalkan banyak uang, mau wanita kaya gimana juga gampang."
"Berarti cintanya nggak tulus tuh, cuma mandang harta. Istri kamu gimana? Mandang uang ya? Kalau nggak dia juga nggak mau nikah sama kamu yang usianya 5 tahun lebih tua." Sebenarnya pak Anggara bukan mau menjelekkan Kalista, hanya saja pak Anggara sedang membalikkan perkataan Arka. Menurut pak Anggara tentang Arka memandang wanita dan uang itu salah, memang sih ada beberapa wanita seperti itu, tapi pak Anggara percaya tidak semua wanita tergoda oleh uang, wanita yang berakal sehat tidak akan memilih seorang kakek yang sudah tua untuk menjadi suaminya.
Kalista yang mendengar perkataan pak Anggara pun, mukanya langsung berubah dalam mode jutek. "Ayah dengarkan aku sebagai menantumu, ayah aku benar-benar mencintai anak ayah dengan setulus hati dan jiwaku, aku sama sekali tidak tertarik dengan uangnya. Menurutku cinta adalah sebuah rasa bahagia, nyaman, dan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Uang itu bersifat sementara, hari ini kita berlimpah uang, bisa jadi besok kita jatuh miskin. Segalanya bisa terjadi atas kehendak yang maha kuasa. Jika patokan kita untuk mencintai seseorang adalah karena uang, maka cintai itu akan luntur sampai uang itu habis. Sedangkan uang habisnya bisa kapan saja kan? Maka dari itu mencintai seseorang harus di mulai dari hal-hal kecil dulu, cintai kepribadiannya, cintai hobi dan kebiasannya, dukung semua pekerjaannya, jika cinta itu sudah bersemi dan kita sama-sama saling mencintai, menghargai, dan saling takut kehilangan, berarti kita memang murni mencintai pasangan kita. Bagiku Arka adalah segalanya, pelindung sekaligus partner dalam menjalani kehidupan ini. Aku siap jika Arka kehilangan semua uangnya, uang bisa di cari bersama-sama. Yang terpenting aku bahagia mengarungi bahtera rumah tangga dengan suamiku ini." Ucap Kalista panjang lebar, lalu setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya Kalista langsung mengecup pipi Arka.
Satu bulir air bening lolos begitu saja dari mata Arka. Arka mengusapnya dengan punggung tangan, lalu mendekap Kalista dalam pelukannya. Selama ini Arka selalu memandang rendah wanita, menurut Arka semua wanita tergila-gila uang sama seperti mamanya yang meninggalkan dirinya dan ayahnya hanya karena uang. Tapi kini Arka menemukan wanita yang benar-benar tulus mencintainya tanpa ada embel-embel uang di dalamnya.
Di layar ponsel, Kalista melihat Oma dan pak Anggara matanya berkaca-kaca. "Ini yang ayah suka dari kamu nak, kamu tidak silau harta, tidak seperti wanita pada umumnya. Terimakasih sudah mencintai anak ayah dengan setulus hati." Pak Anggara tersenyum hangat.
"Kamu adalah bidadari tanpa sayap yang dikirim untuk melengkapi keluarga kami, terimakasih sudah mau menikah dengan Arka, hidup seatap dan insyaAllah akan menua bersama cucu Oma yang emosian, tapi sekarang dia lebih lembut karena mempunyai istri seperti kamu." Oma mengucap syukur dan senyumnya terlihat sumringah.
"Terimakasih sayang, kamu tidak hanya membawa kebahagiaan untukku, tapi juga untuk ayah dan Oma ku." Arka mengecup kening Kalista.
"Dengerin Arka nih, laki-laki yang sangat mencintai wanitanya tidak akan membuat wanitanya itu menderita, Arka akan selalu bekerja agar menghasilkan uang untuk biaya kehidupan Arka, Kalista, dan anak-anakku kelak, nggak peduli gimanapun susahnya cari uang, asalkan ada Kalista di samping Arka dan selalu menemani Arka selama hidup Arka. Kalista adalah penawar dahaga ketika Arka lelah bekerja, Kalista adalah bidadari tak bersayap yang wajahnya selalu ingin Arka lihat ketika bangun tidur. So, Kalista adalah segalanya. I love you so much my wife." Lagi-lagi Arka memberikan kecupan di pipi kiri kanan dan kening Kalista.
"Nah itu baru Arka anaknya ayah." Pak Anggara mengacungkan ibu jarinya.
"Oma sama ayah mau di beliin oleh-oleh apa? Hari ini aku dan suamiku mau belanja buat oleh-oleh nih." Ujar Kalista yang telah mengambil alih ponsel Arka, sehingga wajahnya terpampang jelas memenuhi layar ponsel.
"Terserah kamu saja nak, apapun yang kamu belikan Oma pasti suka."
"Masih sempat belanja dulu kah? Nanti kamu kecapean nak." Ucap pak Anggara.
"Sempat yah, tenang saja yah nanti kalau aku kecapean kan bisa minta gendong sama pak suami." Kalista terkekeh geli.
"Arka kuat menggendong istri yang sedang buncit yah, lihat nih otot tangan Arka." Arka menggulung lengan bajunya, memperlihatkan otot tangannya.
"Yasudah kalau gitu, kalian hati-hati. Ayah nggak request oleh-oleh apapun, jadi terserah kalian saja."
"Cinta kalian sejati, kaya bapak Habibie dan ibu Ainun." Tiara menatap Kalista dengan mata penuh binar.
"Gue juga mau seperti lu bro! Mencintai wanita dengan tulus, dan selalu memanjakan istri." Evan bangkit dan merangkul bahu Arka.
Setelah itu mereka bersiap akan pergi berbelanja oleh-oleh, seperti biasa jika mereka pergi berempat berarti mereka tidak menggunakan jasa sopir. Karena kapasitas mobil ini hanya menampung empat orang saja. Evan yang menyetir, Tiara duduk di sampingnya. Arka dan Kalista duduk di kursi belakang.
Tiara memperhatikan Kalista dan Arka melalui kaca, pasangan suami istri yang serasi nan romantis itu sedang mengobrol, Kalista menyenderkan kepalanya di bahu Arka, sedangkan Arka merangkul Kalista. Tangan Arka henti-hentinya mengusap rambut lembut Kalista.
"Romantis ya mereka? Nanti kita juga harus kaya gitu ra." Evan mengusap punggung tangan Tiara.
Tiara yang ke gep sedang memperhatikan Arka dan Kalista, sama sekali tidak menanggapi perkataan Evan. Tiara malah mengalihkan pandangannya, menatap pinggiran jalan melalui jendela mobil.
"Kayanya bayi aku pengen makan jeruk kintamani yang langsung di petik dari pohonnya, di makan langsung di sana, segar banget kayanya." Kalista mengusap perutnya, air liur seolah-olah akan menetes ketika membayangkan hal tersebut.
Kalista sempat melihat vlog seorang youtuber asal Bali, youtuber itu sedang memetik jeruk kintamani di halaman rumahnya yang sedang berbuah. Sebenarnya Kalista melihat vlog itu sudah sangat lama, sebelum dia menikah dengan Arka. Dulu Kalista berpikir nggak mungkin pergi ke Bali, soalnya hutangnya masih banyak. Jadi nggak ada duit untuk sekedar menikmati liburan. Namun kini nasib kehidupannya telah berubah, jangankan Bali keliling dunia juga bisa Kalista lakukan bersama Arka.
Arka menoleh pada Kalista, mengusap perut Kalista dengan senyum mengembang. "Iya kita makan jeruk kintamani."
"Istri gue ngidam makan jeruk kintamani yang di petik langsung dari pohonnya. Sekarang kita pergi ke wisata kebun jeruk kintamani." Ucap Arka tegas, tangannya sibuk dengan ponselnya.
"Arahkan mobil menuju kintamani, tepatnya di desa Catur, Kintamani. Akses jalannya pun tidak sulit, begitu menurut salah satu artikel di google. Selanjutnya lu atur deh, pakai google map biar nggak nyasar." Arka kembali meletakkan ponselnya.
Kalista tersenyum menatap Arka, kehidupannya setelah menikah ternyata sangat bahagia. Memiliki suami yang sangat memanjakannya, dan selalu berusaha menuruti apa yang dirinya inginkan.
Tiara segera membuka google map, dan memberitahukan rute perjalanan yang harus di tempuh untuk menuju wisata kebun kintamani.
Ternyata keikutsertaan Evan dan Tiara lumayan berguna juga, padahal awalnya Arka merasa jengkel karena merasa honeymoonnya bakalan terganggu oleh mereka.
Berkat bantuan google map akhirnya mobil telah sampai di kawasan wisata kebun jeruk kintamani. Deretan pohon-pohon jeruk itu sedang berbuah, jeruknya sangat lebat dan berwarna kuning semu-semu oranye, dan ada beberapa jeruk yang masih berwarna hijau.
Beruntung sekali hari ini bertepatan dengan musim panen buah jeruk, beberapa pekerja sedang memetik buah jeruk dan memasukannya ke dalam keranjang dengan sangat hati-hati.
Setelah membayar tiket, Kalista langsung menggandeng tangan Arka masuk ke perkebunan itu. Tapi sebenarnya sebelum turun Arka sudah mengolesi sunblock di kaki, tangan, leher, dan wajah Kalista. Cuaca hari ini sangat cerah, mungkin sinar matahari mampu untuk membakar kulit mereka jika tidak menggunakan sunblock.
Di kepala mereka bertengger sebuah topi atau mungkin namanya tudung yang selalu di pakai oleh para petani. Kalista berkali-kali menyempatkan foto di dekat pohon jeruk kintamani.
__ADS_1
Beberapa petani yang sedang memetik buah jeruk pun menyapanya, dan tersenyum ramah. Ternyata masyarkat Bali memang ramah-ramah.
Gurat wajah kebahagiaan begitu terpancar dari wajah Kalista, senyumnya mengembang. Tanyanya sibuk memetik jeruk kintamani. Ketika Kalista akan mengupas, jeruk itu langsung Arka rebut. Arka menuangkan hand sanitizer di telapak tangan Kalista.
"Suamiku selalu siap siaga." Kalista mengecup pipi Arka, padahal Arka lagi sibuk mengupas jeruk kintamani.
Kalista memejamkan matanya begitu satu selai jeruk masuk kedalam mulutnya. "Enak banget, segar. Beda jauh sama jeruk-jeruk yang di beli di pasar, ataupun supermarket." Kalista sangat antusias.
"Ternyata seenak ini makan buah jeruk yang di petik langsung dari pohonnya." Kalista masih berceloteh ria, kini dirinya pun menyuapi Arka untuk mencicipi buah jeruk itu.
Selanjutnya Kalista dan Arka di bawa untuk melihat aktifitas para petani kebun di sana. Suasana kebun yang sesungguhnya sangat indah, suasana yang seperti ini sudah susah untuk Arka dan Kalista nikmati. Karena di kawasan kota sudah jarang ada sawah maupun kebun, sekelilingnya hanya bangunan pencakar langit yang tinggi menjulang.
Setelah memetik buah, berkeliling kebun melihat aktifitas petani kebun, Kalista dan Arka pun keluar dari kebun itu, namun sebelum keluar Kalista menyempatkan membeli 5kg jeruk untuk di bawah pualng sebagai oleh-oleh. Arka menatapnya heran, Kalista tahu apa yang Arka pikirkan. Kalista jelaskan pada Arka bahwa jeruk kintamani itu berbeda, dan hanya ada di Bali. Lalu Arka mengangguk tanda mengerti.
"*****, satu jam gue nunggu. Nggak takut item apa lu bro lama-lama di kebun buah?" Celetuk Evan dengan wajah jengahnya. Evan dan Tiara memang tidak ikut masuk ke perkebunan karena takut dengan kepanasan, dan lebih memilih menunggu di mobil.
"Seharusnya lu berterimaksih, karena gue sudah memberikan waktu satu jam untuk lu berduaan dengan Tiara. Di manfaatkan dengan baik nggak?" Arka bertanya sambil memasangkan safety belt.
"Tiara mana mau di tempat umum kaya gini?" Kalimat yang keluar dari mulut Evan terdengar pelan dan lirih.
"Lu cowo kan? Sosor aja langsung! Lembek banget kaya kerupuk basah." Sahut Arka.
Sebenarnya Tiara mendengarkan dengan cukup jelas percakapan Evan dan Arka, namun Tiara lebih memilih diam dan pura-pura nggak dengar. Sementara Kalista merasa kecapean, sehingga dia tidak ikutan menanggapi percakapan Evan dan Tiara.
Arka sibuk memilih-milih baju yang akan dibeli untuk Oma dan pak Anggara. Suasana pasar ini sangat ramai, dan penuh sesak. Karena memang pasar seni Sukawati ini sangat terkenal. Tiara dan Evan terpisah dari Arka dan Kalista, mereka berdua pun sedang mencari oleh-oleh yang akan di bawanya pulang.
"Wow sepertinya kita memang berjodoh, takdir saja sampai mempertemukan kita di pasar ini." Ashila berkata dengan nada genitnya, pakaiannya sangat seksi dengan menampilkan belahan dadanya, celananya bahkan hanya sampai pangkal paha, mungkin bisa di katakan bahwa itu lebih cocok jadi celana dalam.
Hilda si wanita parasit yang selalu menempel dengan Ashila sejak jaman SMA itu pun kini masih ada dan berdiri di sampingnya.
Arka menatapnya jengah, dan tidak memperdulikannya. Kini tangannya malah menggandeng mesra tangan Kalista. Arka memilihkan beberapa dated yang cocok untuk Kalista.
"Apa sih yang lu lihat dari wanita gendut ini? Seluruh dunia juga tahu Ashila lebih cantik dari istri lu. Gue kasih kesempatan lu untuk jadi pacar gue, dengan catatan dan syarat lu harus ceraikan istri ku itu." Tangannya terlihat tepat di bawah dadanya, raut wajahnya sombong banget.
"Ucap amit-amit sayang." Arka mengelus pelan perut Kalista. "Nak kamu harus jadi anak yang cerdas, jangan jadi gila kata wanita itu." Arka menunjuk Ashila.
Arka menatap Kalista sangat intens dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan deruan napas Arka pun terdengar jelas oleh Kalista, tidak lama setelah itu Arka pun sibuk ******* habis bibir Kalista, Kalista berjengit kaget. Ciuman itu sangat dahsyat, lebih ganas dari biasanya.
Mereka berdua seolah lupa sedang berada di mana? Bahkan banyak puluhan pasang mata yang memperhatikannya. Tapi begitulah, namanya juga di Bali hal-hal yang seperti itu seperti lumrah untuk di lakukan. Bahkan banyak para turis yang masuk pasar ini hanya mengenakan bikini saja.
Ashila sangat geram melihat Arka begitu dahsyat mencium Kalista, bahkan Kalista juga sangat menikmati setiap lumayan yang Arka berikan. Keduanya sama-sama larut dalam ciuman memabukkan itu.
Tangan Kalista menepuk bahu Arka berulang kali, Kalista seperti merasakan pasokan udara di dalam mulutnya mulai habis. Deruan napasnya memburu, bahkan dahinya sampai keringatan banyak.
Setelah bibir mereka terlepas, keduanya sibuk berlomba-lomba mengambil napas. Entah mengapa Kalista merasa ciuman Arka kali ini terasa sangat dahsyat, namun Kalista menyukai ciuman ganas seperti ini. Menurutnya ini sangat menantang.
Kalista mengusap bibirnya yang sedikit bengkak, pikirannya mulai sadar kembal. Kalista menengok kiri-kanan, semua orang yang berada di pasar ini sepertinya cuek-cuek saja, yang setia menyaksikan live streaming hanya Ashila dan Hilda.
"Seperti biasa bibirmu selalu menjadi candu untukku, memiliki adalah anugerah terbesar di hidupku." Bibir Arka mendarat di kening Kalista, lalu Arka berjalan meninggalkan Ashila dan Hilda.
Arka merasa sepertinya sejak bertemu dengan Ashila kemarin di pantai, Ashila sengaja membuntutinya, bahkan Arka baru ngeh Ashila pun ikut ke wisata kebun jeruk kintamani. Arka tahu sejak tadi sampai di kebun jeruk kintamani, ada wanita yang mengamati dari dalam mobil putih, namun Arka tidak melihat jelas siapa wanita tersebut. Kini Arka tahu bahwa wanita itu adalah Ashila.
"Kamu sengaja mau buat aku mati hah? Nggak lucu banget mati karena kehabisan napas akibat ciuman paksa yang begitu dahsyat." Mulut Kalista terus saja bercerocos, Kalista kesal dengan tindakan Arka tadi. Apalagi ini tempat umum, Kalista merasa malu, dan takut ada yang memotretnya.
Arka hanya tertawa saja, memang selama ini Arka selalu memberikan ciuman lembut, tali kali ini berbeda ciumannya begitu kasar dan agresif.
Tetapi tetap saja acara belanja oleh-olehnya masih tetap berlanjut, Kalista membeli beberapa daster untuknya, beberapa baju yang akan di berikan ya pada ban bemo, ibu kost, tentunya untuk Oma dan pak Anggara. Untuk dokter Rian dan dokter Fani pun ada. Jumlah belanjaan kali ini sangat banyak, sebelumnya Kalista sudah minta izin Arka terlebih dahulu. Arka sih tidak masalah, belanja segitu doang tidak akan menguras brankas duitnya, bahkan untuk membeli pasar ini saja Arka snagat-snagat mampu.
Tidak lupa mereka pun mengunjungi Krisna Bali, Krisna Bali adalah toko yang menjual oleh-oleh aneka makanan ringan khas Bali. Kalista memberi beberapa kue kering, keripik, dan cemilan-cemilan lainnya.
Setelah itu mereka kembali ke villa, Arka dan Evan langsung packing oleh-oleh yang telah di beli oleh para wanitanya. Sedangkan kedua wanita itu malah asyik tidur siang.
Pukul 15:00 WITA, mereka sedang berada di bandara Ngurah Rai. Mereka telah masuk ke dalam pesawat, pesawat belum take off saja Kalista sudah tertidur nyenyak. Arka sampai geleng-geleng kepala dengan kelakuan istrinya, tadi di villa tidur siang, sekarang di pesawat pun tidur.
"Oh pantesan bini gue tidur, kan tadi udah gue kasih minum obat yang dari bidan. Biar nggak jetlag ataupun merasa mual atau pusing." Arka bergumam dalam hatinya, pandangan matanya selalu tertuju pada Kalista.
Pesawat landing dengan selamat, Arka segera keluar dan mengambil koper dan berbagi macam oleh-oleh yang di bawanya. Kemudian menggandeng tangan Kalista. Pak Jaka telah menunggunya di depan bandara. Evan meminta seseorang untuk menjemputnya, mengantarkan Tiara terlebih dahulu lalu mengantarkannya.
Mobil melaju dengan kecepatan rendah, Arka sengaja meminta pak Jaka untuk merendahkan kecepatan mobilnya, Arka takut Kalista merasa pusing, terlebih lagi Arka takut janinnya terguncang akibat perjalanan udara tadi.
Oma dan pak Anggara telah berdiri di halaman depan rumah mewah kediaman Anggara. Begitu mobil sampai di halaman, Arka langsung turun menuntun Kalista.
Oma langsung memeluk Kalista, terbiasa bersama setiap hari, kini telah terpisah selama seminggu. Rasa kangennya tidak bisa terbendung lagi, Oma bahkan berkali-kali mencium pipi Kalista. Bagikan sekarang ibunya gue telah lama tidak bertemu dengan anaknya.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤