SUN FLOWER

SUN FLOWER
RENCANA MARCELINO


__ADS_3

"Balik ke kantor!" Marcelino berkata sedikit berteriak pada Dino.


Dino tidak menanggapinya, dia langsung pergi meninggalkan restoran tersebut. Pikirannya berkecamuk, hari ini terbuka sudah topeng yang selalu menempel di wajah ayahnya. Selama ini Dino merasa bahwa ayahnya adalah sosok sempurna, memang kata sempurna itu telah menghilang semenjak Dino sering melihat memar dan lebam di wajah mama tirinya. Dan sekarang sudah jelas bahwa ayahnya memang seorang monster.


Setelah Dino pergi, Marcelino langsung menarik tangan mama Lisa. Membentaknya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Marcelino melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, bahkan tangannya berkali-kali memukul-mukul kemudi mobilnya. Mama Lisa hanya bisa diam dan menunduk, sama sekali tidak berani membuka mulut.


Laju mobil membawa Marcelino dan mama Lisa ke sebuah perumahan yang cukup megah. Disana berdiri seorang wanita cantik dan seorang pria, yang tidak lain adalah Yoora dan Randy.


"Gimana? Apa si Arka masih arogan?" Tanya Randy tanpa basa basi.


"Nggak! Sekarang dia jauh lebih kalem di banding waktu masih bocah yang gampang banget ke pancing emosi." Ucap Marcelino dengan tegas.


"Jebak sekali lagi! Kasih dia minum sampai mabuk lalu bawa ke hotel, nanti seolah-olah dia meniduri gue, kalian rekam! Rekamannya unggah di sosmed! Biarkan Arka sialan hancur, gue sih bodoamat toh nama gue udah di hancurin sama dia." Ujar Yoora.


"Jangan! Kalian semua binatang." Mama Lisa berkata dengan teriakannya yang cukup histeris.


"Plak plak." Tangan Marcelino mendarat di pipi kiri dan kanan mama Lisa. "Mulut lu bisa diam nggak? Apa peduli lu sama anak lu itu? Hahaha nggak ingat lu dulu ninggalin dia." Marcelino tertawa sambil mengejek mama Lisa.


"Nggak perlu pake cara Yoora, itu kuno! Sekarang gue tahu kelemahan Arka, yaitu istrinya! Kalista Bunga Pertiwi istrinya Arkana William Anggara! Menurut penglihatan gue Arka tuh cinta banget sama istrinya, apalagi sekarang istrinya lagi hamil. Bakalan seru kalau kita culik atau tabrak mati, yang mati bukan cuma istrinya Arka tapi sekaligus sama janinnya!" Marcelino menyeringai pada Randy dan Yoora.


"Gila sadis tapi keren." Randy tersenyum seperti sedang membayangkan datangnya hari itu.


"Istri lu jangan sampai buka mulut!" Ketus Yoora.


"Semakin dia buka mulut semakin gue ingin menghancurkan anak dan mantan suaminya itu." Marcelino terkekeh mengejek istrinya.


"Senyum dong sayang." Marcelino menekan pipi mama Lisa, dan di rebutlah ponsel dari genggaman mama Lisa.


"Kalau lu buka mulut, gue nggak akan segan-segan untuk mematikan Arka, Anggara dan bahkan mantan mertua lu. Camkan itu baik-baik ya sayang!" Dengan tidak tahu malunya Marcelino mencium pipi mama Lisa, tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Marcelino langsung melajukan mobilnya, sesampainya di kediamannya ia langsung menurunkan mama Lisa, berbagai macam ancaman telah ia lontarkan sebelum mama Lisa turun.


Mama Lisa langsung berlari ke dalam kamarnya, ia menangis tersedu-sedu. Ia tidak ingin Arka menderita sekali lagi, tidaklah cukup penderitaan Arka di masa kecil? Haruskah Arka menderita kedua kalinya yang disebabkan olehnya? Pikiran-pikiran buruk terus saja menghampiri benak mama Lisa.

__ADS_1


Terdengar suara klakson mobil dari dalam rumahnya. Mama Lisa langsung berlari kedepan, karena ia tahu pasti bahwa itu adalah Dino.


"Dino.. tolong mama." Sambil terisak-isak mama Lisa mencoba berbicara.


"Ada apa ma? Mama diapain? Mama nggak kenapa-kenapa kan?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar begitu saja dari mulut Dino, tangan Dino memegang bahu mama tirinya itu.


Bukannya menjawab mama Lisa malah semakin terisak-isak, tangisnya semakin deras. Dino semakin bingung sekaligus penasaran terhadap sikap mamanya. Mamanya itu seperti ingin menceritakan sesuatu, tetapi seperti merasa takut.


"Ma, bilang sama Dino." Dino masih berusaha agar mamanya buka mulut.


"Nggak bisa." Mama Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya, air mata terus menerus membasahi pipinya.


*****


Setelah keluar dari restoran, Arka melajukan mobilnya menuju kantor. Sepanjang perjalanan Arka sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun. Kalista menyadari ada yang tidak beres dengan suaminya itu.


Begitu sampai di kantor, Arka langsung masuk ke ruangannya. Kali ini Kalista tidak di gandeng, tidak seperti biasanya. Sehingga banyak karyawan yang berbisik-bisik, dan bahkan sampai ada yang mengira Kalista dan Arka sedang cekcok.


"Pak, kerjaan bapak..."


"Baik bu." Jawab Gina patuh.


"Kenapa dia?" Andy bertanya tanpa bersuara, bingung juga melihat ekspresi wajah Arka.


"Panjang deh ceritanya." Kata Kalista yang langsung menyusul Arka masuk ke kamar.


Bendung pertahanan Arka langsung tumpah begitu saja, pipinya sudah menjadi aliran air mata. Arka yang biasanya selalu bersikap dingin dan jutek, kini dirinya seperti sedang tidak berdaya. Dia menangis sesenggukan sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal.


Kalista mengusap-usap punggung Arka, berusaha menenangkannya. Kalista mengambil air minum, di suruhnya Arka untuk minum.


Setelah beberapa saat, Arka pun merasa lebih tenang. "Mama pantas nggak sih ngalamin semua itu?" Arka memandang Kalista dengan intens.


"Nggak pantas!" Jawab Kalista singkat.

__ADS_1


"Itu karma bukan sih?" Tanya Arka lagi.


"Kalau pun itu karma tetap aja mama kamu nggak pantas mengalami semua itu! Itu konteksnya kdrt! Kekerasan banget loh itu mah."


"Selama ini aku sangat-sangat membenci mama, tapi melihat kondisi mama kaya gitu, entah kenapa hati aku sakit." Cairan bening di pelupuk matanya kembali tumpah.


Kalista tersenyum menatap Arka, tangannya mengusap sisa-sisa air mata di pipi Arka. "Itu artinya, di hati kecil kamu, kamu masih menyayangi mama kamu."


"Tapi kita juga nggak bisa bantu, itu rumah tangganya, kita nggak berhak ikut campur. Lebih baik kita do'akan saja, semoga mama Lisa bisa mempunyai keberanian untuk melapor pada pihak yang berwajib, dan semoga hidupnya bahagia." Imbuhnya lagi.


"Amin." Arka tersenyum.


"Aku kebelet."


"Pelan-pelan jalannya! Jangan sampai terpeleset!"


Ketika Kalista sedang berada di kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Arka meraih ponsel Kalista. Ada satu direct message dari akun yang bernama @dino.celino18.


(Nak ini mama Lisa pakai ponsel Dino, ponsel mama disita oleh suami mama, mama sama sekali tidak di berikan alat komunikasi. Kamu, Arka dan semua keluarga Anggara berhati-hati ya, suami mama beserta 2 orang lainnya yang mama tidak kenal berencana akan mencelakai kamu dan Arka, gerak-gerik kalian sedang di awasi! Waspada ya! Mama tidak ingin kejadian buruk menghampiri kalian. Semoga kalian semua selalu berada dalam lingkungan sang pencipta.)


Arka mengetikkan pesan balasan, kemudian menghapus pesan itu. Dalam hati Arka bersyukur mamanya telah memberikan informasi, sekaligus bersyukur bahwa pesan ini di baca olehnya. "Kalista jangan sampai tahu, takutnya dia stress dan berdampak pada bayinya." Arka bergumam pelan. "Gue harus cari bodyguard nih buat bini gue."


"Kok bengong? Kok ponsel aku ada di tanganmu? Bunyi ya tadi?" Kalista baru saja keluar dari kamar mandi.


"Lihat-lihat doang, takut istriku punya simpanan." Kilah Arka.


"Ya ampun mana mungkin simpanan, suami aku aja tampan++." Jawab Kalista dengan mengedipkan sebelah matanya.


Dino di buat semakin penasaran oleh sikap mama tirinya, terus menangis tanpa mengatakan apapun. Akhirnya Dino membawa mamanya ke taman belakang yang letaknya lumayan agak jauh dari rumah. Entah mengapa feeling Dino mengatakan bahwa mamanya takut terekam kamera cctv. Begitu sampai di taman mamanya langsung menceritakan semua rencana suaminya itu, awalnya mama Lisa dan Dino sempat panik karena mereka sama-sama tidak mempunyai kontak Arka maupun Kalista. Dino berinisiatif mencari akun Instagram nya Kalista, dan akhirnya ketemu, lalu mamanya mengirim pesan.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2