SUN FLOWER

SUN FLOWER
GINA MATI RASA


__ADS_3

Pagi itu sangat cerah, kicauan burung terdengar sangat merdu. Arka dan Kalista sedang terduduk di bangku taman rumahnya. Membawa Nathan dan Nayla berjalan-jalan seligus memberikannya vitamin D dari sinar matahari.


Hari ini juga katanya sahabatnya Arka akan berkunjung sekaligus ingin kumpul. Bukan hanya sahabatnya Arka saja, kalista pun mengundang para sahabatnya.


Kalista juga sudah meminta pelayan untuk masak banyak, kalista akan menjamu mereka dengan makanan yang enak-enak.


Setelah selesai berjemur, Kalista meminta dua orang pelayan untuk menjaga Nathan dan Nayla. Sekarang Kalista masuk ke kamar mandi, menyelesaikan ritual bersih-bersihnya, kemudian berpakaian, dan berdandan ala kadarnya.


"Nggak usah cantik-cantik, hari ini kita nggak kemana-mana sayang." Arka tiba-tiba masuk ke kamar, dan langsung memeluk Kalista dari belakang.


Kalista sedang duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya, pantulan cermin di depannya memperlihatkan Arka yang sedang bergelayut manja di belakang Kalista, tangannya melingkar sempurna di leher Kalista. Arka juga mengambil alih sisir di tangan Kalista, Arka menyisirkan rambut Kalista dengan lembut.


"Terimakasih sayang." Kalista bangun, berbalik badan dan langsung mencium pipi Arka.


Arka tentu saja merasa sangat bahagia, Arka juga membalas kecupan itu. Bagi Arka, Kalista adalah segalanya. Pelengkap dalam hidupnya. Tidak ada satu detik pun di hidup Arka tanpa memikirkan Kalista. Kalista selalu membuat Arka jatuh cinta berkali-kali.


Kalista mulai sibuk memoleskan lipstik di bibirnya, entah sudah berapa banyak lipstik yang di poles di bibirnya itu, dan entah mengapa juga Kalista sampai mengganti warna lipstiknya berkali-kali. Sedangkan Arka sedang sibuk bermain dengan Nathan dan Nayla.


Sesekali manik mata Arka melirik kesana-kemari, melihat apakah salah satu sahabatnya sudah datang atau belum?


"Cantiknya anak bunda." Kalista menghampiri Nayla dan mencium pipinya dengan sangat lembut. Kalista juga mencubit-cubit pelan pipinya.


Arka merasa cemburu melihat Kalista hanya memuji dan memperhatikan Nayla saja, padahal kan Nathan juga anaknya. "Anak ayah juga ganteng, ganteng banget malahan. Pasti nanti banyak cewe yang menempel padamu nak, sama seperti ayah yang selalu diinginkan oleh banyak wanita." Suara terdengar agak keras, Arka juga mencium pipi Nathan dan berusaha merapihkan rambut Nathan.


Kalista menatap Arka bingung, ada apa dengan Arka? Kok tiba-tiba seperti itu. Lipatan di dahinya menandakan bahwa Kalista sedang merasa bingung. Lalu senyum merekah hadir tersungging di bibirnya "Nggak ada yang namanya anak ayah, nggak ada yang namanya anak bunda. Kalian berdua adalah anak ayah dan bunda, satu ganteng satu cantik. Kasih sayang bunda sama kalian berdua sama besarnya, bunda tidak akan membedakan kalian berdua soal apapun. Bunda juga sayang sama ayah, walaupun ayah sering genit." Kalista terkekeh di akhir kalimatnya itu.


"Nah gitu dong Bun, kalau seperti tadi kan nanti Nathan merasa di bedakan, nanti Nathan merasa bundanya hanya sayang pada Nayla. Tapi bun, ayah nggak genit ko." Arka langsung jadi mencium pipi Kalista.


"Jadi ngundang kita kesini tuh cuma buat nonton kalian mesra-mesraan aja gitu? Nyebelin juga lu bro." Ujar Evan yang baru aja datang sambil menggenggam tangan Tiara.


Evan menggenggam tangan Tiara seolah-olah Tiara tidak boleh jauh dari sisinya. Sedangkan Tiara yang berada di sampingnya cuma senyum-senyum aja.


"Kenapa? Lu iri? Makanya nikahin Tiara." Celetuk Arka sambil memandang Evan dengan sinis. "Tiara juga mau-maunya diajak pacaran terus, minta di halalin dong." Arka kembali nyeletuk, dan mencoba untuk mengompori Tiara.


"Belum waktunya!" Jawab Evan lirih.


"Btw, Andy sama Riko mana?" Manik mata Evan celingak-celinguk memperhatikan ruang tamu yang memang hanya ada Arka, Kalista dan kedua bocah kembarnya.


"Belum pada datang. Ayo silahkan duduk dulu sembari menunggu kedatangan yang lain." Ujar Kalista.


Pelayan sudah datang membawakan minuman dan berbagai macam cemilan. Lalu mereka sibuk mengobrol, Arka dan Evan mengobrol tentang bisnis. Entah mengapa mereka membahas bisnis diacara santai seperti ini, sedangkan Tiara sibuk mengambil foto Nathan dan Nayla.


Dari yang tadinya hanya ada Arka, Kalista, Evan dan Tiara, kini sudah bergabung Riko dan Risa. Pasangan pengantin baru itu wajahnya nampak berseri, raut wajah kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya itu. Merekapun langsung asyik nimbrung mengobrol, sedangkan Risa langsung bergabung kepada kubu wanita.


"Selamat pagi." Tiba-tiba Gina masuk ke ruang tamu itu. Ucapan Gina sedikit tertahan, karena Gina merasa kaget dengan perkumpulan itu. Gina kira Kalista hanya mengundang para perempuan saja, ternyata ada juga Evan dan Riko.


Manik mata Gina telah menelusuri orang-orang yang berada di ruang tamu tersebut, Gina menarik napas lega, syukurlah tidak ada Andy disana. Karena jika ada Andy, sudah pasti juga ada Karin. Ya, walaupun kemarin ketika ngantor Gina sudah kembali bertemu dengan Andy.


"Eh gin, sini gabung." Ujar Risa yang menyambut kedatangan Gina.


Gina pun segera bergabung, walaupun di hati kecilnya Gina merasa sedih dan resah. Semua orang yang berada di ruang tamu ini berpasang-pasangan, hanya dirinya saja yang tidak ada pasangannya. Namun Gina langsung mengenyahkan pikiran tersebut, karena justeru disini terdapat dua kubu antara wanita dan pria. Mereka tidak sibuk dengan masing-masing pasangannya.


"Jadi ternyata gue ini yang paling telat datangnya?" Ucapnya sambil berjalan ke ruang tamu.


Semua manik mata tertuju pada sumber suara yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Andy.


Tiba-tiba manik mata Andy membulat sempurna, manik mata itu menangkap sesosok perempuan cantik yang sedang menepuk-nepuk pelan pipi Nayla. Andy langsung menggenggam erat jari jemari Karin, Andy tidak tahu menahu bahwa Gina pun ada disini. Tiba-tiba Andy merasa menemukan ide yang bagus.


Gina berusaha menyibukkan diri dengan Nayla, sejak Andy dan Karin tiba pun Gina sudah melihatnya, tetapi Gina langsung mengalihkan pandangannya. Pemandangan itu cukup membuat dada Gina sesak.


Sembari berjalan kearah sofa, Andy terus menggenggam erat jemari Karin. Andy bermain isyarat mata kepada para sahabatnya itu.


"Woho Karin cakep juga ya." Riko mengambil peran pertama untuk akting kali ini.


"Sudah besar ya Karin, makin cantik aja deh." Puji Kalista sambil tersenyum ramah menatap Karin yang sedang berjalan.


Mau tak mau Karin pun harus mengikuti alur yang Andy ciptakan, Karin berperan sebagai wanita manja nan centil. Karin hanya tersenyum saja sambil menggenggam erat jari jemari Andy. Sebenarnya Karin pun tidak ingin melakukan ini semua, mengingat beberapa waktu lalu Gina sampai menumpahkan makanannya di hadapan Karin.


"Biasalah sayang, dia kan emang pintar nyari daun muda." Arka terkekeh pelan.


"Tapi Karin mah kemudaan bro." Evan langsung menepuk pundak Arka, tak lupa kekehannya terdengar.


Gina?


Gina pura-pura sibuk dengan Nayla, berusha berkompromi dengan telinga pura-pura tidak mendengar. Diam-diam Gina merasakan sesak di dadanya, Arka dan semuanya telah mengenal Karin. Gina kira selama ini Andy masih mengharapkannya, tapi ternyata tidak.


"Eh gin, apa kabar?"

__ADS_1


Susah payah Gina mengalihkan perhatiannya pada Nayla, Andy dengan sengaja malah menyapa Gina.


"Seperti yang kakak lihat, gue baik-baik saja." Gina menolah, menjawab sambil tersenyum. Tapi siapa yang apa yang ada di lubuk hati Gina yang paling dalem.


"Syukur deh, jangan sakit lagi gin. Kewalahan gue dikantor, kerjaan makin numpuk nggak ada lu." Ujar Andy.


"Hallo kak Gina? Masih ingat aku." Suara cempreng milik Karin menyapa Gina, Karim juga melambaikan kedua tangannya dengan ekspresi wajah ceria mirip seperti remaja pada umumnya.


"Hallo, masih ko. Karin yang cantik dengan muka bantalnya dengan baju minim di apartment kak Andy." Bibir itu tersenyum sinis, Gina seperti sengaja ingin mempermalukan.


Andy tersenyum penuh kemenangan, aktingnya berhasil. Gina terpancing emosi dan terbawa suasana.


"Wait, jadi Karin pernah nginep di rumah Andy?" Tiara bertanya lancang, disini Tiara pun sama seperti yang lain, hanya mengikuti alur yang sedang di mainkan oleh mereka.


"Yaampun sayang, itu mah udah biasa kali. Karin yang daun muda aja mau nginep di apartment Andy, kamu yang udah dewasa malah nggak mau." Evan mengacak-acak rambut Tiara dengan gemes.


Dua kubu itu pun sibuk mengobrol, kubu pria sibuk membahas seputar olahraga, sedangkan kubu wanita sibuk membahas make up keluaran terbaru dari suatu brand yang cukup terkenal.


Sembari mengobrol pun manik mata Andy selalu memperhatikan kubu wanita, yang Andy lihat adalah Gina dan Karin sama sekali tidak akrab. Ketika Karin mengajaknya mengobrol Gina malah sibuk memperhatikan Nayla.


Jujur saja, Gina merasa terasingkan berada disini. Bagaimana tidak terasingkan? Kalista, Tiara dan Risa sibuk bertanya banyak hal pada Karin, entah itu mengenai pendidikan, fashion dan seputar kehidupannya. Sedangkan Gina merasa tak ada selera sekedar untuk bercakap-cakap pun.


Satu jam telah berlalu, pelayan menyuruh Arka dan para tamu untuk segera makan. Dikawatirkan makanan keburu dingin.


Semuanya telah duduk di meja makan, pormasinya duduk di sebelah pasangannya masing-masing. Lagi-lagi Gina merasa asing, disini hanya Gina saja yang tidak ada pasangannya.


Gina merasa tidak nyaman, hatinya terasa sedih dan pilu. Tepat di hadapan dan di sampingnya para pria mengambilkan makanan kedalam piring pasangannya masing-masing. Gina hanya tersenyum kecut sembari mengambil makanan kedalam piringnya.


Ruangan itu sebenarnya sangat ramai dan hangat oleh canda tawa mereka. Ada yang menyuapi pasangannya, ada yang saling suap-suapan mesra, dan Karin terlihat sangat manja. Steak yang akan di makan olehnya sedang di potong-potong oleh Andy.


"Cih dasar manja! Nyari calon istri tuh harusnya yang mandiri." Celetuk Gina tanpa sadar, sebenarnya Gina hanya ingin membatin saja, tapi entah kenapa kalimat itu malah terlontar jelas dan sangat kencang. Sehingga mereka semua menoleh kepada Gina.


Andy meletakan pisau dan garfu, menatap Gina sejenak lalu mengusap pipi Karin dengan lembut seraya berkata "Tak perlu mendengar apa yang Gina katakan, aku memilihmu dengan setulus hatiku. Manja? Tidak masalah, toh semua perempuan pun inginnya dimanja, kecuali Gina mungkin. Lagipula Gina itu pekerja keras, mandiri, ulet, tekun, rajin, Gina tuh sama sekali tidak membutuhkan pria untuk menemani kehidupannya." Andy mencoba menenangkan Karin.


Seketika itu juga Gina terdiam membisu, Gina ingin marah pada Andy atas ucapannya barusan. Tetapi Gina juga menyadari ucapan Gina pun salah dan lumayan memancing emosi Andy. Gina berusha setenang mungkin dan mengabaikan dua makhluk dihadapannya yang sedang kasmaran. Suasana kembali seperti semula, dan semuanya kembali sibuk mengunyah makanan.


"Sorry gue selesai duluan, kayanya Nayla nangis tuh." Ucap Gina yang langsung bangkit dari kursinya.


"Biarin aja gin, ada pengasuhnya kok." Kalista mencoba menghentikan Gina agar tetap melanjutkan makan.


"Nggak apa-apa bu, saya sudah kenyang kok." Ujar Gina sembari tersenyum ramah, entah mengapa Gina masih sering memanggil Kalista dengan embel-embel "Bu" walaupun ini diluar jam kerjanya, tetapi Gina merasa canggung dan tak enak jika harus memanggil nama.


*****


"Gimana guys akting gue keren kan?" Andy menaik turunkan alisnya sembari terkekeh.


"Akting akting, kasian kak Gina tau." Karin mencubit pinggang Andy dengan sangat kuat, sehingga Andy meringis menahan sakit.


"Biarin aja, biar dia memahami isi hatinya sepenuhnya." Ujar Andy dengan santai.


"Tapi gue suka sih lihat ekspresi Gina yang terbakar api cemburu, lu semua lihat kan reaksi dia ketika di meja makan. Padahal kalau cemburu bilang aja cemburu, gengsian Gina mah." Tambah Andy, bibirnya masih merekah menampilakan senyuman bahagianya.


"Mana ada wanita cemburu ngaku, apalagi mantan pacarnya membawa pacar barunya, ya walaupun cuma akting. Jangankan Gina, kalau posisi itu ada di gue, gue pun bakalan emosi dan cemburu lah." Celetuk Tiara sambil mendelikkan matanya, Tiara merasa Andy tuh sangat keterlaluan.


"Namanya juga acting sayang." Evan mengusap kepala punggung tangan Tiara dengan lembut.


"Jangan acting mulu, planning selanjutnya mau kaya gimana?" Tanya Riko to the point.


"Ada lah, gue udah ada planning ko. Acting ini juga tidak akan berlangsung lama, karena jujur gue sangat sangat tidak tega melihat wanita yang gue cinta terlihat menderita." Telapak tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, helaan nafas terdengar jelas dari mulutnya.


"Iya jangan lama-lama, kalau bisa langsung halalin aja Gina." Kalista mencoba memberi petuah pada Andy.


"Segera Bu boss." Andy tersenyum sembari mengacungkan ibu jarinya pada Kalista.


"Enak ya Andy, walaupun cuek jutek dan sedang acting tapi planningnya jelas. Nggak kaya gue, hubungan baik-baik aja tapi sama sekali nggak ada rencana buat kejenjang yang serius." Bibir Tiara mencebik, ekor matanya melirik Evan sekilas.


"Sabar, nanti juga di halalin sayang." Tangan Evan merangkul pundak Tiara, memeluknya gemas dan mencium puncak kepalanya. Tetapi tetap saja raut wajah Tiara sama sekali tidak berubah, tetap masam dan kecut.


"Kebelet nikah lu?" Kalista mencolek dagu Tiara sembari menggodanya.


"Enak loh nikah tuh, ibadah paling nikmat." Arka pun berusaha menggoda Tiara.


"Tau morning kiss nggak ra? Beuh enak banget dikasih morning kiss tuh. Bangun tidur bisa lihat wajah tampan suami, apalagi Risa tuh suka manja, ke kamar mandi aja pengen di gendong." Kini giliran Riko yang mencoba menggoda dan memanasi Tiara.


"Ih jangan buka kartu!" Risa melotot pada Riko.


"Stop deh! Ada anak di bawah umur loh disini." Akhirnya Karin bersuara, dari tadi Karin hanya nyimak saja.

__ADS_1


"Loh masih dibawah umur? Padahal udah mau nikah loh sama Andy." Ucap Kalista becanda.


Selepas makan, mereka kembali lagi keruang tamu. Gina belum bergabung, kata salah satu pelayan Karin sedang mengasuh Nayla dan Nathan di taman. Entah Gina memang suka anak kecil, atau hanya ingin menghindari Andy. Tetapi itu hal bagus, karena Andy bisa membicarakan mengenai planning kedepannya dengan leluasa.


"Bu, Nayla bobo." Tiba-tiba Gina menghampiri semuanya di ruang tamu, suara Gina terdengar lirih perlahan, karena takut membangunkan Nayla yang ada di pangkuannya.


"Duuuuh anakku, kecapekan nih pasti udah main sama Tante cantik." Kalista langsung mengambil Nayla di pangkuan Gina, dan menidurkannya di kamarnya.


"Oh iya, saya pamit pulang duluan bu. Punya janji mau nemenin mama ke mall." Gina berusaha menghindari Andy dan Karin, karena melihat mereka berduaan tuh cukup membuat hati Gina terluka.


"Oh mau pulang? Sekalian aja yu, kita juga pamit duluan soalnya mau ke butik, fitting gaun pengantin hehe." Tiba-tiba saja Karin berkata seperti itu, berdiri dan langsung menggandeng tangan Andy.


"Ah nggak usah, kita kan tidak searah. Biar saya nanti taksi saja." Ujar Gina gelagapan karena kaget Karin menawarkan tumpangan padanya.


"Udahlah gin, ikut aja. Karin orangnya baik kok, nggak usah sungkan. Daripada lu naik taksi, mendingan ngikut kita." Andy pun mengajak Gina agar menumpang dimobilnya.


"Ayo ya kak Gina, please! Nanti Karin pengen nanya-nanya juga sama Kakak mengenai sifat dan sikap calon suami Karin." Karin sedikit memaksa, Karin juga ingin melihat reaksi Gina yang kesekian kalinya.


"Hmm, yaudah deh." Jawab Gina lirih, Gina terpaksa mengiyakan tawaran mereka, karena jika tidak diiyakan sudah bisa di pastikan mereka akan menilai Gina cemburu.


Gina, Andy dan Karin pun berpamitan, mereka langsung berjalan ke halaman depan rumah Arka, sementara Andy mengambil mobilnya terlebih dahulu di parkiran rumah Arka.


Sambil menunggu Andy mengambil mobil, Karin sibuk berceloteh, Karin ingin memamerkan Andy di hadapan Gina. Namun di luar dugaan Karin, Gina hanya mendengarkan saja, tanpa ada niatan untuk menanggapi celotehan tersebut.


Andy terlihat begitu romantis, memperlakukan Karina sangat spesial, membukakan pintu mobil untuk Karin dan mempersilahkan masuk. Begitu Karin sudah masuk ke dalam mobil, Gina pun langsung masuk ke dalam mobil, bedanya Karin duduk di sebelah Andy, sedangkan Gina duduk di kursi belakang.


Dua sejoli itu tampak sangat asyik bercengkrama, banyak sekali topik obrolannya, the real Gina cuma jadi nyamuk diantara keuwuan mereka berdua. Daripada bete, Gina pun menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Fitting baju jangan lama-lama ya sayang, nggak usah ribet, kamu cantik dan body mu juga bagus, jadi mau pakai baju seperti apapun juga pasti cantik sayang." Andy mengusap pipi Karin dengan lembut, namun tetap sambil fokus menyetir.


Gina yang berada di kursi belakang menyaksikan adegan tersebut dengan gemuruh di dadanya, matanya terasa panas dan perih. Namun Gina berpura-pura tidak melihat.


"Iya sayang, aku juga nggak mau ribet. Simple aja, yang penting sah." Karin tersenyum sangat manis sambil menatap Andy yang sedang fokus dengan kemudi setir.


"Terimakasih sayang kamu tidak meribetkan banyak hal, kamu langka, unik, beda, dan tentunya sangat cantik." Tiba-tiba saja Andy mendaratkan bibirnya di pipi Karin.


Gemuruh di dada Gina semakin memuncak, Gina bersandar pada kursi dan memijat-mijat keningnya.


"Kenapa Gina?" Tanya Andy, sepertinya Andy memperhatikan gerak-gerik Gina.


"Sakit hati kak." Jawab Gina spontan, namun jawaban itu juga sengaja Gina lontarkan.


"Sakit hati sama siapa kak?" Tanya Karin dengan suara cemprengnya.


"Ada yang janji mau nikahin, tapi keburu putus. Eh nikahnya malah sama anak kecil." Jawab Gina dengan bibir mencebik dan tersenyum sinis.


"Ini tuh salah kamu loh gin, coba aja kalau kamu nggak kay..."


Gina tersenyum kecut, dan langsung memotong ucapan Andy "Yaelah, becanda doang kali kak. Tenang aja, gue udah move on. Malahan gue mau ngomong serius nih buat kalian berdua." Gina tertawa kecil sembari menjerat kalimatnya.


"Teruntuk kalian berdua, pernikahan itu adalah hal yang sakral, bukan main-main dan kalau bisa sekali seumur hidup. Jika nanti sudah sah, badai sehebat apapun di pernikahan kalian, pasti bisa kalian lewati. Gue berharap kehidupan kalian berdua bahagia sampai maut memisahkan." Dengan setulus hati Gina mengucapkan kalimat itu, ini bukan sandiwara, ini real dari hatinya. Mungkin Gina memang tidak berjodoh dengan Andy, itu artinya Tuhan mempunyai jodoh terbaik untuk Gina.


"Udah ikhlas gin?" Tanya Andy sambil cengengesan.


"Sialan lu kak, dari dulu juga udah ikhlas. Gue yakin dan percaya, jodoh gue lebih baik daripada lu." Sungut Gina dengan sambil mendelikkan matanya.


"Kalau jodohnya tetap gue, gimana tuh?" Tanya Andy dengan mimik wajah serius, Andy ingin mendengar jawaban Gina.


"Nggak bisa, ogah gue dijadikan istri ke-dua." Gina menoyor kepala belakang Andy. "Lu harus banyak-banyak bersyukur, calon bini lu cakep gini mana masih muda, yakali lu mau poligami." Ujar Gina.


"Dih, lagian Karin juga nggak mau di poligami. Nggak mau berbagi suami, apalagi berbaginya sama kak Gina." Karin pun tersulut emosi dan berbicara dengan nada tinggi.


"Nggak lah, keep calm." Ujar Gina sambil tersenyum pada Karin.


"Gimana gin, udah calon?" Tanya Andy.


"Mati rasa gue sama cowok."


Gina pun langsung turun, karena terlalu sibuk berbincang-bincang tanpa disadari ternyata mobil telah sampai di halaman depan rumah Gina.


"Makasih kak, hati-hati di jalan." Gina melambaikan tangannya dan langsung berbalik badan, berjalan masuk ke rumahnya.


Andy hanya diam sambil memperhatikan punggung Gina yang kian menghilang.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2