
Benar saja dugaan Arka, ketika mereka berdua mengantarkan Nathan dan Nayla ke rumah mama Lisa. Mama Lisa menginterogasi Arka, karena melihat mata Kalista sembap. Bukan hanya mama Lisa, sini juga ikut campur mengenai hal ini. Mama Lisa dan Dino takut Arka melakukan hal bodoh seperti beberapa waktu lalu.
Arka di marahi habis-habisan, walaupun Kalista sudah berusaha menjelaskan semuanya. Bukan hanya memarahi, mama Lisa juga memberikan beberapa wejangan pada Arka.
Setelah berbicara dengan kecepatan seratus dua puluh kilometer perjam, mama Lisa pun mengizinkan Kalista dan Arka segera pergi berkencan. Mama Lisa juga mengatakan selamat menikmati waktu pacaran di sela-sela kesibukan kantor dan rumah tangga yang sudah beranak dua.
Arka dan Kalista pergi ke toko bunga, memesan buket bunga mawar dan buket bunga matahari. Serta membeli bunga tabur. Pergi ke pemakaman ayah dan bundanya Kalista, setelahnya pergi ke makam ayah dan omanya Arka.
Kalista tak kuasa menahan tangisnya, ketika curhat di pusara ayah dan bundanya. Kalista benar-benar merasa tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini, sandaran satu-satunya hanya Arka. Arka juga turut bersedih, karena Arka pun tak jauh beda dari Kalista. Arka hanya mempunyai Kalista dan mama Lisa, berbonus Dino. Mungkin kalau hubungan Arka dan mama Lisa tetap renggang seperti dulu, Arka hanya mempunyai Kalista seorang. Dan bisa di bayangkan betapa repotnya kalista mengurus Nathan dan Nayla tanpa bantuan mama Lisa.
Arka tahu, Kalista itu hebat dan cekatapan. Arka tahu banget Kalista pasti bisa mengurus Nathan dan Nayla tanpa bantuan mama Lisa. Tetapi sudah bisa di pastikan mereka tidak akan mempunyai waktu untuk pacaran seperti sekarang ini.
"Jangan nangis lagi! Percaya deh mereka semua itu tidak ingin melihat kamu bersedih. Ikhlaskan, relakan, mereka sudah tenang dan bahagia berada di sisiNya." Arka merangkul bahu Kalista, sembari keluar dari pemakaman itu.
Kalista mengangguk, punggung tangannya terangkat mengusap sisa-sisa air mata di pelupuk matanya. Mencoba menengkan dirinya, dan langsung masuk ke mobil. Selama mobil melaju, Kalista sama sekali tidak ngomong dan berbicara. Menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, terkadang memijat dahinya pelan.
Di hari weekend seperti ini sudah jadi langganan jalanan macet, kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat berjejer rapih memenuhi bahu jalan. Semuanya berhimpitan, dan menimbulkan polusi udara.
"Kenapa kamu bawa Andre ke rumah?" Tiba-tiba Kalista membuka mulutnya, mungkin Kalista merasa bosan berada di tengah kemacetan seperti ini.
Arka yang tadinya sedang fokus menatap ke depan, akhirnya menolehkan kepalanya dan menatap Kalista secara intens. "Karena aku ingin Andre mengetahui bahwa gadis cantik beranak dua yang di gemuknya di mall dan di taman itu adalah istri aku." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kok tahu? Perasaan aku belum cerita deh." Kalista menatap Arka dengan tatapan bingung.
"Karena Andre yang cerita." Jawabnya lirih.
"Cerita apa?" Suara cempreng itu nyari saja berteriak.
"Cerita suka sama wanita cantik beranak dua, rambutnya pendek, badannya bagus. Ketemu di mall, terus ketemu lagi di taman dekat perumahan yang kita tinggali. Dia berambisi banget loh buat dapatin wanita cantik itu, bahkan dia nggak perduli jika wanita itu janda dan mempunyai anak dua. Dia nggak keberatan, bahkan akan menyayangi kedua anaknya juga. Sampai pada akhirnya dia minta nginep di rumah kita, siapa tahu ketemu wanita itu lagi. Katanya sih gitu." Ujar Arka sembari memutarkan bola matanya jengah.
"Terus gimana lagi ceritanya?" Tanya Kalista anstusias.
"Ya ampun antusias banget di sukai Andre." Tangan Arka tak kuasa berdiam diri, tangan itu langsung menyentil hidung Kalista.
"Udah si gitu aja. Awalnya aku juga dukung, tapi ketika tahu wanita yang dia maksud itu adalah istri aku, ubun-ubun kepalaku serasa mendidih, pengen marah dan pengen melayangkan bogem mentah. Jujur saat itu aku takut banget kamu di rebut." Manik mata itu terlihat sangat fokus menatap Kalista.
"Kamu dukung Andre? Kamu hebat banget sih mau memberikan dan merelakan istri kamu sendiri bahagia dengan rekan kerja kamu." Ledek Kalista sembari kekehan kecil.
"Aku juga nggak langsung dukung gitu. Kan dari awal aku bilang, kemungkinan wanita itu punya suami. Jangan rebut istri orang, dianya aja ngebet gitu pengen dapetin wanita cantik itu. Kan ngeselin banget, dia punya ambisi besar untuk merebut istri aku." Arka mendengus kesal.
"Emang Andre bilang wanita cantik itu namanya Kalista? Padahal ketika di taman dia ngajak kenal, aku nggak nolak loh, aku juga nggak sebutin naman aku, bahkan aku di iming-imingi materi yang berlimpah. Jadi, ingat ya sayang, kalau kamu tidak mampu mencukupi materiku aku bisa berpaling pada Andre. Cadangan yang cukup menjanjikan." Kalista tersenyum menyeringai pada Arka.
"Nggak! Orang dia juga bilang wanita itu cuek. Tapi ketika dia ketoilet, ponselnya tuh menyala karena ada notif chat. Dan aku kaget dong lihat wallpaper ponselnya itu foto istri aku lagi dorong stroller di taman lake baju minim dan ketat. Walaupun fotonya lagi nyamping, tetap aja aku tahu foto itu adalah istri aku. Saat itu aku benar-benar panik, bingung, pengen marah, resah, gelisah dan khawatir. Pengen banget teriak dan bilang wanita itu istriku. Dan yang bikin aku makin frustasi dia izin pulang lebih dulu, karena mau jemput gebetan. Aku nethink dong, aku kira dia ketemu kamu. Aku juga langsung pulang ke rumah, pelayan bilang kamu baru pergi sekitaran lima belas menit yang lalu. Di jemput oleh pria yang tidak tahu siapa? Bahkan memarkir mobilnya saja di luar." Arka menjeda kalimatnya sejenak, mengambil botol air mineral dan meneguknya. Jalanan macet di tambah terikat matahari yang bercampur dengan polusi udara cukup membuat dirinya merasa gerah dan gersang.
"Di rumah aku marah-marah, sampai semua pelayan juga kena semprot. Aku melempar sepatu, dasi, dan jas begitu saja. Mencoba merebahkan tubuhku di sofa, tetapi hati dan pikiran aku terus condong ke kamu sayang. Saat-saat seperti itu lah aku baru menyesal, aku ingin memutar waktu dan memperbaiki semuanya. Aku merasa ini adalah karma, tetapi mengapa karmanya datang begitu cepat? Entahlah gimana jadinya, pokonya aku stress parah."
"Aku sudah berusaha menghubungi kamu, tetapi nomor kamu tidak aktif. Tiba-tiba ada chat WhatsApp masuk, dia send diri kamu lagi di rangkul pria lain. Aku makin geram, aku melemparkan ponsel itu. Itu adalah puncak kemarahan dan emosi aku yang paling tinggi dan sama sekali tidak bisa di redakan."
"Ketika lihat kamu pulang dengan pakaian yang minim dan ketat sampai menampilakan lekuk tubuh kamu yang sempurna. Kamu pergi ke gym, dan pulangnya bawa mainan banyak. Ketika aku tanya kamu pergi ke mana, kamu jawabnya enteng banget sekaligus nyelekit ke hati aku. Calon ayah sambung Nathan dan Nayla. Di situ aku merasa punya siangan baru, tapi bedanya aku ini suami sah kamu, sedangkan pria itu penghancur rumah tangga kita. Apalagi ketika kamu bilang mengenai surat cerai itu, makin runyam aja pikiran aku. Pusing, pening, beras ada beban berat di kepalaku." Arka mengakhiri kalimatnya sambil menggenggam erat jari jemari Kalista.
"Kalau kamu tahu Andre sangat berambisi untuk merebut aku, kenapa kamu izinkan dia menginap di rumah kita?" Tanya Kalista dengan sebelah alis terangkat.
"Kan aku sudah bilang sayang, aku mau kenalin dia ke istri aku. Sekaligus pamer kemesraan di depannya. Aku mau dia menyadari, bahwa dia mencintai istri orang lain." Tangan itu sudah menempel di pipi Kalista, mengusapnya sangat lembut.
"Kamu emang nggak takut kalau dia macam-macam sama aku? Tadi aja kamu tiba-tiba tinggalin aku selama tiga puluh menit, kamu nggak takut dia apa-apain aku?" Kalista memicingkan matanya, Kalista sangat penasaran dengan jawaban yang akan Arka lontarkan.
"Nggak! Karena aku sudah mengaktifkan semua kamera cctv di semua sudut rumah kita. Termasuk kamar tamu yang Andre tempati, aku juga tahu Andre berbicara apa saja ketika kamu mengantarkan pakaian ganti untuknya. Bahkan si Andre brengsek itu berani mencengkal pergelangan tangan kamu. Aku bukannya diam aja sayang, semuanya aku pantau." Jawab Arka sambil menampilakan deretan gigi putihnya.
"Pantasan aja! Berarti kamu sudah rencakan ini dengan matang ya? Hebat banget nih pak suami." Kalista menjawil hidung Arka.
"Iya dong! Aku mana mungkin berikan laki-laki lain kesempatan untuk merebut wanita kesayanganku. Eh btw sayang, tadi ketik aku pergi Andre ngomong apa saja? Pasti dia berusaha untuk ngomporin kamu deh." Tanya Arka.
"Walaupun dia sekarang sudah tahu bahwa aku ini istrinya tuan Arkana William Anggara, tetapi ambisinya untuk merebut aku tetap besar dong. Ketika kamu pergi mulutnya cuap cuap terus berbicara begini begitu. Pokonya nanti kamu lihat aja deh, meja makan juga kamu pantau kan?" Ujarnya.
"Oke deh. Aku hanya izinkan dia sekali saja untuk menginap di rumah, tidak ada lain kali. Apapun alasannya, aku tidak akan izinkan." Geram Arka.
Kemacetan ini sama sekali tidak terasa untuk Arka dan Kalista, karena keduanya sibuk mengobrol tentang Andre. Dua puluh lima menit terjebak kemacetan, sama sekali tidak membuat keduanya merasa bete.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalanan mulai normal kembali. Selama perjalanan pun kepala Arka selalu menengok kanan dan kiri, mencari penjual bakso pinggir jalan. Banyak penjual bakso di pinggir jalan yang sudah Arka lewati, Arka sengaja pilih-pilih. Melihat dan mempertimbangkan tingkat kebersihannya, walaupun bakso pinggir jalan tetapi kebersihannya harus terjaga kan? Apalagi kalau pinggir jalan banget, Arka takut tercampur dengan polusi udara.
Entah ini daerah mana, Arka hanya mengikuti jalan saja. Sepertinya bukan kawasan kota, mungkin sudah masuk kabupaten. Banyak pohon besar di pinggiran jalan, sehingga jalanan terasa sejuk dan nyaman.
Arka menepikan mobilnya tepat di samping gerobak bakso. Gerobak bakso sederhana, tetapi tempatnya sangat bersih dan nyaman. Arka dan Kalista segera turun dari mobil. Kalista berdiri di depan gerobaknya, membaca menu yang tertempel di kaca gerobaknya.
"Bakso beranak isi daging pedas, tanpa cuka dan lada hitam. Paket pangsit dan kerupuk ya bu." Kalista menyebutkan pesanannya pada ibu penjual bakso tersebut.
"Kamu mau apa sayang?" Tanya Kalista.
"Samain aja!"
"Dua porsi ya bu, minumnya teh botol Sosro dingin." Kalista kembali lagi menyebutkan pesanannya.
__ADS_1
Ada yang beda di tempat bakso ini. Makan baksonya lesehan, hanya ada tikar dengan meja-meja kecil. Semilir angin segar menerpa wajah kalista, dan itu terasa sangat sejuk. Arka duduk tepat di hadapan Kalista, Arka memperhatikan Kalista yang terlihat semakin cantik.
"Silahkan pak, bu." Ibu penjual bakso itu mengantarkan pesanan Arka dan Kalista ke meja kecil, tidak lupa dengan teh botol Sosro dingin.
Tempat bakso ini kecil, tetapi pengunjungnya banyak dan selalu ramai. Penjual baksonya juga hanya seorang diri, tidak ada karyawan atau yang membantunya. Jadi semuanya benar-benar di kerjakan oleh si ibu.
Arka dan Kalista menikmati bakso tersebut dengan lahap. Makan bakso di tempat seperti ini malah membuat Kalista bahagia, tempatnya, suasananya dan rasa baksonya pun berbeda dari bakso-bakso di luaran sana.
Banyak orang yang diam-diam memperhatikan Arka dan Kalista. Cantik dan tampan? Itu sudah pasti, mereka datang dengan mobil mewah, baju mereka couple dan sama sekali tidak terlihat seperti orang biasa. Bahkan hampir semua orang yang berada di tempat itu memperhatikan Arka dan Kalista yang menikmati bakso sambil mengobrol santai.
Ketika Arka kepedasan karena sambal, Kalista langsung menyodorkan teh botol Sosro dingin dan mengusap keringat yang keluar dari dahi Kalista. Keduanya terlihat sangat harmonis, dan malah terlihat seperti orang yang sedang pacaran.
Selain ingin menikmati waktu berdua dengan sebutan pacaran atau kencan, Kalista juga ingin berbagi sedikit rezeki. Ketika membayar dua kursi bakso dengan dua botol teh sisro, Kalista melebihkan bayarannya itu. Si ibu sempat menolak, tetapi Kalista dan Arka memaksa.
Sekarang malah Kalista yang menyetir, Arka lemas karena kepedasan dan perutnya terasa mulas. Untung saja tadi setelah dari pemakaman, Arka sempat mampir ke mini market membeli beberapa macam cemilan.
Kalista fokus menyetir, sedangkan Arka sibuk memakan cemilan. Arka berharap dengan memakan cemilan-cemilan itu rasa pedasnya segera hilang, dan perutnya tidak mulas lagi.
Namun, ternyata Kalista juga tidak bisa fokus menyetir. Kalista takut Arka sakit perut, dan Kalista segera menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.
"Masih sakit? Maafin aku ya." Kalista menatap Arka dengan iba. Wajah Arka terlihat sangat lemas.
"Iya sakit." Arka menjawab manja.
"Minum lagi deh! Kan kamu mau menemani aku menjelajahi pasar, mencari jajan pasar yang enak-enak." Bibir Kalista mencebik, sesuai dengan rencannya mau pacaran sampai sore berduaan tanpa Nathan dan Nayla. Masa iya baru makan bakso doang, Arka sudah menyerah karena pedas.
"Nggak mau! Aku butuh kamu yang bakalan bisa menyembuhkan aku." Jawabnya masih dengan nada manja.
Butuh kamu?
Kalista langsung peka terhadap ucapan Arka, Kalista memutar bola matanya jengah.
Kalista menatap jalanan sekitar, kemudian menutup gorden mobil. Ketika semuanya dirasa aman, Kalista langsung menyerang Arka. Kalista mainkan lidahnya di dalam mulut Arka, Kalista paham kok, ini yang Arka inginkan.
Mendapat serangan yang cukup membuat dirinya enak, Arka tentunya tidak tinggal diam. Arka membalas semua cumbuan yang di berikan oleh Kalista, Arka mendekap tubuh Kalista agar menempel di badannya. Ruang gerak di dalam mobil seperti ini terbatas.
Tok.. tok.. "Permisi."
Entah sudah berapa menit bibir mereka bersatu dengan lidah yang menari-nari di dalamnya. Kalista juga sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa kancing bajunya terbuat dan rambutnya terlihat berantakan. Intinya ketika di jendela mobilnya cukup membuat keduanya menghentikan aktifitas yang sangat di gemari itu.
Arka sebagai tersadar, Arka juga segera menarik gorden itu. Arka menurunkan setengah kaca mobilnya. Di luar sana berdiam seorang pak polisi yang sedang patroli di tempat tersebut.
"Permisi, sedang apa bapak dan gadis kecil di dan mobil ini. Mengapa mobilnya berhenti, dan kaca mobilnya di tutup." Seorang polisi dengan perawakan tinggi menginterogasi Arka dan Kalista.
Kalista bahkan membulatkan bola matanya ketika mendengar Arka menjawab seperti itu. Kalista benar-benar merasa malu. Rambutnya yang berantakan terlihat sangat jelas, bentakan kancing bajunya terbuka, bahkan bibirnya terlihat bengkak dan berwarna merah.
"Kalian berdua sedang berbuat asusila? Kalian berdua sedang mesum di pinggir jalan?" Tanya seorang pak polisi yang satunya lagi.
"Kiss-kissan doang pak, lagian sentuh-sentuh dikit mah nggak apa-apa kali." Jawabnya Arka semakin nyeleneh, dan itu cukup membuat Kalista geram.
"Silahkan kalian berdua keluar dari mobil, dan ikut kami ke kantor. Tinggalkan mobil di sini, nanti ada beberapa petugas yang akan membawanya." Polisi itu memerintahkan Arka dan Kalista agar turun dan mematuhi yang telah di ucapkan olehnya.
"Saya tidak mau! Salah saya apa?" Arka memutarkan bola matanya jengah. Arka memang merasa geram, karena dua polisi itu telah menghentikan aktifitas bercumbunya. Sedang enak-enaknya memainkan lidah Kalista, eh malah terhenti karena ketukan di kaca mobilnya.
"Anda melawan! Anda tidak tertib, hati-ahti and..,"
"Ini!" Polisi itu belum sempat mengakhiri kalimatnya, tetapi Arka langsung memotongnya begitu saja. Arka menyerahkan ktp dirinya dan ktp Kalista. Arka juga menyerahkan buku nikah dirinya dan Kalista.
"Kalian pasangan suami istri? Jika kalian berdua sudah sah mengapa kalian melakukannya di pinggir jalan seperti ini? Apakah kalian berdua tidak sanggup pergi ke hotel yang berbintang? Mengapa harus di pinggiran seperti ini?" Dari pertanyaannya terdapat sebuah sindiran atau mungkin ejekan.
"Bosan sih! Di rumah udah sering, hotel? Bahkan hampir semua hotel dalam negeri telah saya kunjungi. Bapak tahu mall di pusat kota? Itu pemiliknya saya! Bapak tahu perusahaan Anggara? Itu juga pemiliknya saya! Pak, saya ini seorang pengusaha sukses di negeri ini. Mau tidur hotel bintang lima juga gampang dan tidak akan melumpuhkan kantung saya, tetapi istri saya yang cantik ini lagi hamil. Orang hamil tuh istilahnya ngidam, kalau nggak salah turutin kemauannya nanti bahaya dong kalau anak saya ileran. Saya juga nggak mau di sini, tapi ini permintaan istri saya." Arka menjawab dan menjelaskan sambil menyombongkan statusnya sebagai pengusaha.
"Dan gadis kecil yang bapak maksud itu adalah istri saya, dia memang terlihat Loly karena usianya juga baru dua puluh tiga tahun, tetapi dia merupakan istri yang baik dan cekatan. Dari rahim gadis ini telah keluar dua bocah kembar, hasil persilangan saya dan dirinya."
"Oke, baiklah! Tetapi melakukan tindakan asulisa di pinggir jalan tetapi tidak di benarkan. Silahkan lanjutkan lagi perjalanannya." Ujarnya.
Kalista langsung melanjutkan menyetir dengan wajah kusut, bibirnya manyun dan tatapannya fokus ke depan.
"Kenapa? Nggak puas tadi? Masih mau? Yaudah nanti kita lanjutkan di rumah aja sayang." Arka tersenyum menyeringai.
"Dasar gila! Bayangin dong tadi itu lagi mesum di pinggir jalan dan ke-gep sama pak polisi yang lagi patroli. Mana kamu menyebutkan kamu adalah seorang pengusaha, dan menyombongkan mall di pusat kota. Kalau kita masuk berita gimana coba? Malu dong! Gimana kalau bapak polisnya bikin thread di Twitter, kita bakalan viral dan banyak yang menghujat. Nanti karir kamu jatuh, saham menurun, investor mengundurkan diri. Bagaimana tuh? Aku tuh mikirin ke depannya loh? Kamu sih? Coba aja kalau kamu nggak minta yang aneh-aneh, ini tuh nggak bakalan terjadi. Padahal aku tuh maunya hati ini tuh senang-senang, kalau kaya gini sih jatuhnya badmood, kesal, pengen marah." Mulut mungil itu bercerocos tanpa henti. Melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Aku punya istri keren banget ya, dalam keadaan malu pun masih memikirkan masa depan. Kita nggak bakalan masuk berita sayang, lagian pak polisi itu juga sibuk sama tugasnya, mana punya waktu untuk bikin thread. Karir aku akan selalu baik-baik saja, saham di perusaan akan tetap aman. Lagi pula kalau misalkan kita masuk berita, ya tinggal klarifikasi aja. Gampang kan? Toh kita ini pasangan suami istri, punya buku nikah, sah di mata hukum dan agama. Apa yang kamu takutin sayang?" Tanya Arka.
"Aku kan malu! Kamu juga bilang aku ngidam? Emang siapa yang hamil?" Sewot kalista.
"Kamu kan telat datang bulan, kemungkinan itu hamil. Lagian waktu itu kita tidur bareng kan?"
"Datang bulan bukan berarti hamil. Bisa aja kan siklus haid aku bergeser?" Kalista masih saja ketus.
"Yaudah tenang aja deh! Kalau misalkan nanti ada berita miring tentang kita, biar aku yang ngurus. Kamu terima beres aja." Arka mencoba menengkan Kalista.
__ADS_1
"Terima beres? Aku mau tahu dong gimana nanti cara kamu menyelesaikan makalah ini?" Sengit Kalista, di pikiran Kalista saat ini pasti Arka akan bermain curang.
"Nanti aku tunjukin aja rekaman cctv yang ada di dalam mobil ini. Toh kita hanya bercumbu saja, tidak ada hal lain yang menjurus ke yang lebih intim. Emang siapa sih yang mau gosipin pengusaha ternama? Toh aku juga mencumbu istri aku, bukan wanita lain ataupun wanita malam."
"Tapi kan, ih malu tahu." Kalista memukul strir dengan keras sekali.
"Kamu enteng banget sih ngomong?" Rasa geram di diri Kalista masih belum belum menghilang.
"Fokus nyetir sayang! Aku masih mau hidup lama dengan kamu, ada Nathan dan Nayla di rumah mama yang sedang menunggu kita. Ayo fokus, nggak usah pikirkan kejadian yang barusan deh." Tangan Arka merangkul bahu Kalista, berusaha menyalurkan energi di tubuhnya agar Kalista merasa tenang dan dapat menyetir dengan fokus.
Kalista melajukan mobilnya ke pasar tradisional, pasar yang alasannya tanah dan ada beberapa tempat yang becek. Bau aroma pasar menyengat masuk ke hidung Arka, bahkan Arka sampai menggunakan masker.
Berbeda dengan Arka, Kalista malah tampak seperti biasa saja. Kalista masuk dan menerobos kerumunan orang-orang di pasar. Kalista mencari ikan dan ayam, menawarnya layaknya kebanyakan orang yang berbelanja di pasar tradisional.
Namun, kedatangan Arka dan Kalista juga menjadi pusat perhatian. Di pasar itu memang banyak orang yang mengenali Kalista dan Arka. Tetapi yang sangat mencolok adalah penampilannya. Arka yang begitu rapi dan tampan, dan Kalista yang menggunakan dress selutut dengan wajah cantik dan rambut sangat indah. "Kok bisa wanita cantik dan pria tampan masuk pasar tradisional?" Kalimat itu telah Kalista dengar lebih dari sepuluh kali.
Jiwa emak-emak yang berbelanja di pasar benar-benar Kalista tunjukan, blusukan sana-sini menerobos kerumunan orang, memilih ikan, daging dan sayur-sayuran. Kalista juga tawar menawar dengan harga rendah, tetapi tetap saja Kalista membayarnya tiga kali lipat dari harga sebenarnya. Tawar menawar hanya iseng saja, karena kan sudah di bilangin Kalista ingin berbagi sedikit rezeki hari ini.
Selama berada di pasar itu juga, Kalista menggenggam erat jari jemari Arka. Arka kan belum pernah masuk ke pasar tradisional, mungkin pernah tetapi itu dulu ketika dirinya masih kecil. Maka dari itu, Kalista takut Arka akan tertinggal di pasar.
"Uhuk.. uhuk.." ketika keluar dari pasar, Arka langsung memuntahkan isi perutnya. Arka tak kuat dengan bau pasar tradisional yang menyengat. Arka merasakan kepalanya pening, rasa mual itu masih ada.
"Ketika bapak CEO tidak kuat masuk ke pasar tradisional. Kalau ada thread dengan judul seperti itu, sudah bisa di pastikan isi komentarnya 99% hujatan." Celetuk Kalista.
Semua belanjaan Kalista masukkan kw kursi bagian belakang mobil. Kali ini juga Kalista yang menyetir, Arka sibuk kenormalan penciumannya. Bahkan Arka susah menghirup aroma berbagai macam snack, tapi menurutnya bau pasar itu telah melekat di hidungnya.
Arka mencari-cari sesuatu di dashboard mobil, tangannya terus meraba-raba. Ternyata yang Arka cari adalah benda kecil pembunuh kuman. Entah sudah berapa banyak Arka menuangkan hand sanitizer ke tangannya, Arka juga menuangkan hand sanitizer itu ke tangan Kalista. Arka takut kuman-kuman di pasar akan terbawa olehnya dan Kalista.
Masih ada satu tempat yang ingin Kalista kunjungi, kemana lagi bukan mencari jajanan pasar yang sangat di rindukannya. Kalau untuk jajakan pasar itu sendiri, pasarnya sangat bersih. Walaupun pedagangnya pada lesehan, kebersihan tetap di utamakan.
Menjelajahi jajan pasar Nusantara mempunyai kebahagiaan tersendiri untuk Kalista. Kalista sangat menyukai Bugis, kue klepon, nagasari, lupis ketan, kue pisang Banjar, kue cincin Bangka, serabi durian, lupis, lemper, getuk, putu ayu, onde-onde dan lain semacamnya.
Kalista benar-benar mencicipi semua jajan pasar itu di tempatnya, Kalista sangat rindu sekali dengan masa-masa kecil ketika ikut bundanya ke pasar. Bundanya selalu membelikannya berbagai macam aneka jajan pasar. Overall, semuanya enak. Arka juga doyan dan ketagihan. Setelah menikmati beragam jajanan pasar, mereka berdua minum es jendol gula merah dan es kepala segar. Dua minyak sederhana yang sangat melegenda itu cukup memanjakan tenggorokannya.
Jajanan pasar? Kalista yang masih berusia dua puluh tiga tahun saja doyan, apalagi mama Lisa yang usianya sudah setengah abad. Jajanan pasar pasti pernah nge-hits pada jamannya mama Lisa, maka dari itu kalista dan Arka membeli banyak jajakan pasar untuk oleh-oleh mama Lisa dan Dino yang sudah merelakan Weekensnya di rampas untuk mengurus Nathan dan Nayla.
"Aku udah lelah! Mari kita pulang! Kita akhiri masa pacaran kita, sekarang kita back to reality. Menjadi sepasang suami istri yang telah beranak dua." Ucap Kalista berjalan dan menenteng plastik besar yang isinya aneka jajanan pasar.
"Jangan dulu dong! Masih ada waktu beberapa jam lagi menuju sore. Kata mama kan kita boleh sampai sore, jadi kita gunakan waktu ini untuk lanjut beroacaran ya kekasih hatiku." Arka menggandeng kalsita, mencium dahi dan puncak kepalanya.
Kali ini Arka yang menyetir, Kalista duduk di sampingnya sambil menyandarkan punggungnya. Perutnya terlihat sedikit membuncit karena terisi penuh oleh makanan. Kalista sih inginnya segera pulang saja, toh makan jajanan pasar juga sudah sangat surga dunia baginya. Apalagi yang mau Arka cari? Padahal Kalista sudah kangen sekali pada Nathan dan Nayla.
"Kita mau kemana sih? Aku capek loh." Rengek Kalista.
"Ayo tebak, kita mau kemana coba?" Bukannya menjawab pertanyaan Kalista, Arka malah berbalik tanya.
"Mana aku tahu! Kamu kan misterius, susah di tebak, dan kadang suka aneh juga." Ucap Kalista.
"Aneh-aneh gini juga aku tuh suami kamu loh sayang. Ini loh aku yang lengannya suka di lierin sama kamu." Ledek Arka, tetapi Kalista malas untuk menanggapinya.
"Kita mau ke hotel bintang lima, lumayan ada waktu dua jam untuk olahraga sambil mengeluarkan keringat." Arka menikah, menatap kalsita dengan senyum menyeringai, lebih tepatnya senyum mesum.
"Aku nggak mau! Aku nggak ada selera, aku nggak gairah, aku kangen Nathan dan Nayla. Kalau kamu mau kan kita bisa ngelakuinnya di rumah mama atau di rumah kita sayang." Awalnya Kalista sedikit emosi, tetapi Kalista mencoba berbicara lembut agar Arka mengurungkan niatnya untuk pergi ke hotel.
Arka tidak mengidahkan perkataan kalsita, Arka terus fokus menyetir. Entah ini laju mobil menuju kemana? Kalista merasa asing dengan jalan di sekitarnya. Jalannya cukup sempit, banyak pohon rindang dan pesawahan yang masih hijau segar menyejukkan mata. Pemandangan ini sudah jarang di temukan di ibu kota, bahkan Kalista meminta Arka untuk menurunkan kaca mobilnya. Kalista mencoba mengintip udara segar jalan tersebut.
Arka memarkir mobilnya asal, meminta Kalista untuk turun. Lalu berjalan sembari menggenggam erat jari jemari Kalista, setelah menempuh perjalanan kaki sekitar lima belas menit..
Kalista di buat takjub oleh pemandangan sekitar, kini Kalista dan Arka berada diatas bukit. Menikmati hijaunya pemandangan, dan satu petak tanah yang tanami dengan bunga matahari. Ada spot foto yang Instagramable juga, banyak orang datang ke tempat ini khusus untuk memadu kasih.
Baik Arka maupun kalsita keduanya sudah sibuk dengan ponselnya, mengabadikan pemandangan indah nan cantik ini. Arka juga menari Kalista untuk foto si spot paling cantik di dekat tanaman bunga matahari.
"Terimakasih sayang." Kalista memeluk Arka dengan sangat erat.
"Terimakasih untuk apa?" Tanya Arka bingung.
"Terimakasih sudah membaca aku ke tempat seperti ini, terimakasih sudah menemani aku sehariam full, terimakasih sudah menjadi suami sekaligus pacar untuk hari ini. Aku cinta kamu suamimu." Kepala Kalista bersandar di dada bidang Arka, semilir angin segar menerpa pasangan suami istri tersebut. Kalista juga berjinjit untuk bisa mencium pipi Arka.
Ketika Kalista sebagai asyik menikmati pemandangan sambil melakukan recording, tiba-tiba tak memakaikan kalung berlian di lehernya. Kalsita kaget dan speechless, tidak bisa berkata apa-apa dan hanya diam mematung.
"Hey, are you okey?" Tanya Arka sembari membalikan tubuh Kalista.
Wajah itu sama sekali tidak bergeming, hanya ada bulir-bulir air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Cuma hadiah kecil, tapi aku sendiri yang mendesainnya. Semoga kamu suka sayang. Dan, maaf untuk kesalahan-kesalahan bodoh yang lemah aku lakuin. Teruslah hidup untuk aku dan kedua bocah kembar kita sayang. Terimakasih sudah menyempurnakan kehidupan aku. Sampai kapanpun aku cinta kamu, tak akan pernah luntur dan tak akan lekang oleh waktu." Mencium dahi Kalista, mencium kedua pipinya juga, lalu mendekapnya lagi dengan erat.
Kalista hanya bisa menangis di pelukan Arka, menangis bahagia karena perlakuan Arka. Walaupun Kalista tahu, Arka belum sepenuhnya menjadi suami yang baik. Kalista juga sadar, dirinya masih belum menjadi istri yang sempurna. Tetapi Kalista berjanji pernikahannya dengan Arka tidak akan terpisahkan sampai maut memisahkan. Apapun ombak dan badai datang mengujinya, mereka berdua sepakat untuk melewatinya bareng-bareng.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤