
Gerry adalah Kakak senior sewaktu Kalista kuliah. Berusia 25 tahun dengan tinggi badan seratus delapan puluh dua sentimeter. Kalista kenal Gerry secara tidak sengaja, mereka kenal di kantin kampus, waktu itu Gerry terpleset dikantin dan Kalista yang menolongnya. Berawal dari situ hingga akhirnya mereka kenal dan dekat sampai sekarang, Gerry menganggap Kalisa sebagai adiknya, ketika Kalista sedang kerepotan atau membutuhkan sesuatu, Gerry selalu hadir untuk membantunya. Sekarang Gerry adalah seorang direktur diperusahaan ternama.
"kangen." Kalista terus saja memeluk erat seorang pria yang di panggilnya kak Gerry itu, dia melupakan Arka yang berada di sampingnya.
"Bocil gue udah gede ya lu." Ucap Gerry yang enggan untuk melepaskan pelukan Kalista.
"Ih udah dewasa! Kalista bocil sudah menghilang!" Gerutu Kalista sambil melepaskan pelukan Gerry.
"Iya udah gede, dadanya juga berisi ya sekarang mah." Gerry memperhatikan Kalista dengan senyum menyeringai.
"Mesum lu!" Sarkas Arka tajam, lalu menggenggam erat jemari Kalista.
"Pak Arka, ini kak Gerry senior Kalista waktu kuliah, dan sering banget bantuin Kalista kalau lagi kesusahan." Kalista memperkenalkan Gerry pada Arka.
"Kak Gerry, ini pak Arka, CEO di tempat Kalista bekerja." Kalista memperkenalkan Arka pada Gerry.
"Gerry." Gerry mengulurkan tangannya.
"Arka." Arka menyambut uluran tangan Gerry tetapi dengan muka tidak ramah.
"Duduk yu, ngobrol-ngobrol dulu." Kalista mengajak Arka dan Gerry untuk duduk, mereka berjalan menuju kursi tamu yang telah disediakan untuk acara ini.
"Ista, gimana kak Willi udah ketemu belum?" Tanya Gerry memecah keheningan diantara mereka.
__ADS_1
Arka yang tadinya tidak tertarik dengan percakapan mereka, seketika matanya membulat sempurna dan menajamkan pendengarannya ketika mendengar nama "Kak Willi." Arka berpikir apakah Kalista itu Bunga? Dan kak Willi itu adalah dirinya?
"Belum, nggak jodoh sih kayanya, makanya sampai sekarang masih belum ketemu." Ucap Kalista pasrah dengan wajah sendu.
"Belum kali ya." Gerry langsung mengusap puncak kepala Kalista.
"Kalau nggak ketemu, kamu harus buka hati untuk pria lain! Jangan nunggu terus, nanti jadi perawan tua loh cil." Gerry memperingatkan Kalista sambil meledek.
"Emang ada yang mau sama aku?" Tanya Kalista.
"Ada, tuh disebelah! Dia sebenarnya suka sama kamu cil, tapi dia gengsinya tinggi! Kalau gue sih ada cewe secantik Ista ya langsung di embat aja, sayang banget kan nanti keburu jadi milik orang lain." Sarkas Gerry terang-terangan menyindir Arka.
"Masa? Nggak mau ah dia seram." Bisik Kalista ditelinga Gerry, sesekali diselingi dengan canda tawa, namun masih terdengar di telinga Arka.
"Sekarang kan malam kak?" Tanya Kalista.
"Iya balik sekarang! Soalnya besok pagi harus ngantor, dan kerjaannya banyak." Kata Gerry sambil tersenyum pada Kalista.
"Jaga diri baik-baik ya! Semoga cepat berjumpa dengan kak Willi." Gerry mengelus puncak kepala Kalista, lalu memeluknya sebentar.
*****
Selepas kepulangan Gerry, Arka langsung menggenggam erat jemari Kalista, dan menuntun nya menuju kamar hotel. Ketika tiba di kamar hotel, Arka langsung mengunci pintu, dan mendorong tubuh Kalista hingga terjatuh di kasur. Arka menindihnya dan terus mencium bibirnya dengan kasar. Kalista menangis dan meronta-ronta agar terlepas dari Kungkungan Arka.
__ADS_1
"Lepas! Aku bukan wanita murahan!" Kalista berteriak sambil meneteskan Air mata. Tetapi Arka amarahnya sudah memuncak tatkala Kalista memeluk Gerry, dan sekarang telah dikuasai nafsu, sehingga sulit untuk mengendalikan dirinya.
"Apa? Bukan murahan? Lalu tadi meluk Gerry dengan erat? Itu apa??" Arka berteriak tak kalah kencang dari Kalista, emosinya membara.
"Gue bukan gay! Gue normal! Sekarang gue akan buktikan!"
Arka berkali-kali melumat habis bibir Kalista, menyusupkan lidahnya, mencumbunya dengan kasar. Mencium, menjilat, dan menggigit-gigit kecil bibir bawah kalista. Arka bahkan memberikan tanda-tanda merah dileher Kalista yang jumlahnya lebih dari 10. Perlahan turun dari leher menuju dada Kalista, melorotkan sedikit gaun Kalista sehingga terpampang jelas gundukan daging sintal itu. Arka semakin bernafsu dan tidak bisa mengendalikan dirinya, ia melahap dada Kalista, mencium dan menjilatinya. Tanda merah pun ia tinggalkan di dada Kalista. Kalista menangis, menjerit, meronta-ronta dan berteriak, tetapi hal itu tidak dihiraukan oleh Arka. Kalista merasa dirinya hancur, dan tidak ada tenaga lagi untuk berteriak, sehingga ketika Arka sedang menghisap dada nya, Kalista tiba-tiba memejamkan matanya dan tidak bergeming sama sekali.
Arka menyadari hal tersebut, sehingga mengakhiri kebrutalan nya itu.
"Kalista.. Kalista.." Arka menepuk-nepuk pipi Kalista, tetapi tidak ada respon. Arka mengecek denyut nadi pergelangan tangannya Kalista, ternyata masih berdenyut. "Dosa banget gue, nih bocah sampai pingsan." Arka bergumam sambil membenarkan gaun Kalista dibagian dadanya, lalu menyelimuti tubuh Kalista dengan selimut tebal.
Arka kemudian merebahkan dirinya di sofa, lalu ia teringat dengan kata-kata Gerry dan Kalista, tentang kak Willi yang sedang Kalista cari. Arka memijit-mijit kecil keningnya, lalu menarik jam diatas nakas menunjukan pukul dua belas tengah malam. Lalu Arka mengambil ponselnya dan menekan salah satu nomor.
"Hallo, gue mau lu cari tahu tentang Kalista secara detail dari kecil hingga sekarang! Dan gue mau hasil penyelidikan itu diserahkan ke gue secepatnya." Arka langsung mematikan sambungan telepon itu, tanpa mempedulikan ocehan Andy yang terbangun dari tidurnya karena di telpon Arka.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1