
GINA (POV)
Semalam di chatting sama kak Andy. Katanya hari ini mau ngajak jalan. Awalnya sempat bingung sih gimana izinnya sama mama? Soalnya mama suka ngelarang gue buat keluar rumah.
Tapi akhirnya mama ngizinin, katanya jangan pulang diatas jam 8 malam. Mungkin mama kasian kali sama gue, soalnya kan hari ini mama ada arisan, dan otomatis gue di rumah sendirian.
Nggak tahu apa tujuan kak Andy ngajak jalan? Tapi ini kesempatan gue untuk menunjukan siapa diri gue yang sebenarnya, iya gue jujur nih akhir-akhir ini gue emang baper banget sama semua perlakuan kak Andy terhadap gue.
Gue memilih untuk memakai dress merah dan sepatu putih, menyampirkan tas kecil di bahu. Memakai make up natural dan membiarkan rambut tergerai indah. Sengaja gue membuat penampilan berbeda dengan Gina di kantor, gue mau kak Andy tahu "Ini loh Gina kalau di luar rumah!"
Untung saja mama sudah pergi, coba kalau ada mama, mati gue di interogasi tentang penampilan gue hari ini. Mama orangnya peka, kalau gue centil dikit kaya jatuh cinta gitu, pasti langsung ketahuan.
Mama gue galak, bukan galak sih lebih ke tegas! Protektif dan selektif terhadap laki-laki yang mendekati gue. Gue paham, orang tua gue kan broken home. Mama nggak mau apa yang mama alami, dialami gue juga.
Sudah telat 10 menit dari waktu yang di janjikan. Gue juga udah berdiri nunggu di depan teras rumah. Tidak berselang lama kak Andy pun datang bawa Alphard. Gue langsung melambaikan tangan, soalnya dia kaya kebingungan gitu nyari rumah gue.
Begitu kak Andy keluar dari mobil. Sumpah ya Tuhan siapa laki-laki ini? Begitu tampan dan mempesona dengan kaos putih, celana jeans hitam, sepatu all star, rambutnya tertata rapi. Tenggorokan gue tercekat, saking terpesonanya oleh makhluk tuhan yang paling ganteng ini, jas yang selalu menempel di badannya sudah terhempas.
"Kak, ih ko bengong sih?"
Gue melambai-lambaikan tangan gue di depan wajahnya.
"Ah sorry!"
Kak Andy menjawab gelagapan. Kok gue ngerasa kalau kak Andy terpesona sama gue, gue yang kepedean atau cuma halu aja? Nggak deh kenapa dia bengong.
Katanya dia mau izin dulu sama orang tua gue, tapi kan mama nggak ada lagian gue juga udah dapat izin. Jadi kita langsung on the way.
Gue duduk di sebelahnya, kak Andy sedang fokus menyetir. Diam-diam gue meliriknya, gue terpukau oleh pesonanya, laki-laki di sebelah gue ini begitu gagah dengan pakaian casualnya, aroma parfum maskulin tercium sangat menusuk hidung gue.
"Sekarang kita kemana ya gin?"
Sempat kesal sih gue, dia yang ngajak jalan tapi kenapa dia nanya gue? Harusnya dia sudah tahu tempat apa yang akan di tuju!
Ternyata dia mengajak gue pergi ke festival jajanan pasar. Gue nggak paham ini acara apaan? Perasaan baru dengar juga. Maklum, gue jarang jalan-jalan.
Kak Andy menepikan mobilnya di pinggir jalan, selain macet ternyata festival ini juga membuat jalanan menjadi padat oleh manusia-manusia yang sedang berburu jajanan favorit nya masing-masing.
Kak Andy mencondongkan badannya ke gue, gue? Shock kaget sampai terperanjat, debaran jantung ini begitu dahsyat, sampai-sampai hati gue berasa kaya mau copot. Emang dasar otak guenya aja mesum! Kak Andy cuma mau melepas sabuk pengaman, lah otak gue mikirnya mau di cium. Oh Tuhan malu banget gue.
Boleh tau nggak, pas gue bukain sabuk pengaman lu mikirin apaaan?"
Kak Andy mungkin menyadari sesuatu, dia bertanya pakai nunjukin senyum menggoda.
__ADS_1
"Nggak mikirin apa-apa!"
Gue berbicara ketus dan datar, coba tolong siapapun itu kalau di tanya seperti itu jawabnya gimana? Yakali kalau gue jujur, harga diri dong!
Tangan gue di genggamnya, gue nggak nolak. Soalnya takut kesasar disini, aslinya sih emang mau aja di genggam sama kak Andy hehe.
Kak Andy membawa gue ke kedai bakso bakar bumbu balado, dari kejauhan saja wanginya sangat menggoda. Sebelumnya belum pernah mencicipinya. Tapi antriannya sangat panjang. Tapi kak Andy punya caranya sendiri, sehingga gue dan dirinya sudah berada di barisan paling depan.
"Ada diskon untuk pasangan kekasih!"
Si ibu penjual bakso itu mengira gue dan kak Andy sepasang kekasih alias pacaran.
"Sayang mau berapa tusuk!"
Andy berkata sayang? My God belum selesai otak gue mencerna perkataan si ibu, sekarang Andy malah manggil gue sayang.
Setelah mendapatkan bakso bakar itu, Andy membawa gue ke sebuah pohon rindang, Andy tahu gue kecapean sampai keringatan, karena cuaca panas plus berdesakan. Di lap lah keringat di dahi gue oleh telapak tangannya. Coba tolong kalau tidak ada rasa jangan perlakukan gue seperti ini, ini hati gue bisa baper berkepanjangan.
Panas ya! Maaf ya gue bawa lu ke tempat gini."
Bodohnya kak Andy, ngapain minta maaf? Toh gue suka tempat ini kok, lebih tepatnya suka jalan bareng dia.
Gus di suruh duduk di bawah pohon rindang itu, daunnya yang rindang mampu menghalangi sinar matahari. Sehingga di bawahnya sangat terasa teduh. Andy sempat meninggalkan gue sebentar, ternyata dia membeli es kelapa muda.
Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya. Gue sempat bertanya kemana tujuan dia selanjutnya? Katanya rahasia!
Sebuah hamparan air yang sangat jernih, pasir-pasir yang bersih dan udaranya yang terasa sejuk dengan angin sepoi-sepoi. Sudah lama nggak ke pantai, pemandangan ini indah sekali.
Kebahagian itu tidak bertahan lama, karena gue nggak bawa sunblock. Gue panik dong takut kulit gue terbakar sinar matahari.
"Nih!"
Kak Andy mengulurkan sunblock sama gue, demi tuhan ini pria keren banget sih, siap siaga. Sosok yang sangat sempurna, alangkah bahagianya jika dia jodoh gue.
Setelah memakai sunblock, gue lebih leluasa dan tidak takut terkena paparan sinar matahari. Gue sibuk bermain pasir, dan membuat istana pasir. Sudah sekian lama nggak ke pantai, semenjak ayah berselingkuh dan memilih bercerai dengan mama karena lebih memilih si pelakor, mama jadi jarang banget keluar rumah, mama sedih dan kecewa, gue juga di larang ke rumah sama mama. Karena mungkin sekarang gue adalah tanggung jawab mama sepenuhnya. Kalau jalan sama mama mentoknya ya ke pasar, super market, atau ke mall.
Cukup lama gue bermain pasir, ternyata hari sudah pegang. Kak Andy pun mengajak pulang. Gue kecewa, soalnya pengen lihat sunset.
Nanti gue bakalan ngajak lu lihat sunset, kalau sekarang waktunya mepet, lagi pula masih ada satu tempat terakhirnya yang akan kita kunjungi."
Satu tempat lagi? Pasti seru! Hari ini kak Andy membawa gue ke tempat-tempat yang menyenangkan.
Karena baju kotor akibat bermain pasir, kak Andy sempat menawarkan untuk ganti baju. Tapi gue menolak, gue takut mama mikir aneh-aneh.
__ADS_1
Mobil terus melaju menuju bioskop, Kak Andy mengajak gue menonton bioskop. Karena ini weekend, bioskop sangat ramai. Untuk membeli tiket pun antriannya sangat panjang.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak gue ketika gue berbalik badan dan menatapnya. Hati ini rasanya sakit sekali melihat wanita yang di sebelahnya itu, wanita yang berhasil menyingkirkan mama di hati ayah.
"Gitu dong keluar rumah, main! Masa anak gadis selalu berada di kamar. Darimana sih baju kotor banget, mamamu nggak belikan baju baru? Jangan terlalu nurut sama mama!"
Sudah meninggalkan gue dan mama, terus masih berani berkata kalau mama nggak mampu belikan gue baju. Gue nggak paham kenapa tuhan menciptakan laki-laki sebrengsek ayah gue.
"Apa pedulimu huh! Kalau nggak nurut sama mama terus gue nurut sama siapa hah? Sama kamu? Pria yang sudah meninggalkan mama dan gue! Dasar pria nggak punya hati!"
Sesak di dada, dan mata yang memanas rasanya sudah tidak mampu gue bendung. Untung saja kak Andy orangnya sangat peka, dia lebih memilih meninggalkan gedung bioskop dan membawa gue ke taman.
Gue menangis di bahunya, baru kali ini gue menangis sangat nyaman di bahu seorang pria, biasnya gue mengangis diam-diam sambil menenggelamkan kepala gue di bantal.
Nggak terasa gue menangis sangat lama, Kaka ndy juga sempat membelikan permen kapas. Tanpa gue sadari, ternyata waktu semakin larut.
Ponsel gue berdering, mama dengan segala ketegannya menyuruh gue pulang. Hati gue udah was-was, pasti nyampe rumah di marahin, apalagi dianterin cowo kaya gini.
Kak Andy ternyata sopan, bukannya kabur melihat berdiri dengan muka judesnya. Dia menghampiri mama dan mencium punggung tangan mama.
"Ini jam berapa? Kamu sadar nggak sudah bawa kabur anak saya!"
Ya ampun mama, please deh kalau gue di bawa kabur, nggak mungkin sekarang gue aja disini.
Mama judes banget, mukanya juga ketus. Gue di suruh masuk, mandi lalu tidur. Gue sempat mengintip sebentar, ternyata mama mempersilahkan Kak Andy masuk. Setelah itu nggak tahu apa yang terjadi, karena gue langsung pergi mandi.
Begitu gue keluar dari kamar mandi, mama masuk ke ruangan gue. Feeling gue mama pasti mendadak jadi Mama Dedeh, kan berceramah panjang lebar.
Ternyata mama nggak marah, dan nanya-nanya sedikit tentang Andy. Terus mama nanya panah gue ketemu ayah? Mungkin Andy cerita sama mama tentang yang terjadi di bioskop.
Intinya hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan, bisa pergi ke festival jajanan pasar, ke pantai, ke bioskop walaupun nggak jadi, dan ke taman.
"Terimakasih kak Andy, semoga nanti ngajak jalan lagi, syukur-syukur kalau ngajak ke pelaminan." Ucap Tiara dalam hatinya.
----------------------------------🌻🌻
Capek capek capek, pegal-pegal tangan, jari tangan udah kek cabe keriting😂😂 semoga kalian suka! Kalau nggak suka sih nggak apa-apa! Aku nggak maksa! Hehe😁
Jangan lupa like dan coment yang banyak biar author semakin rajin up!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1