SUN FLOWER

SUN FLOWER
UNTUK MAMA DAN DINO


__ADS_3

Hari ini cuaca sangat cerah, Arka dan Kalista baru saja selesai berjalan-jalan. Tinggal menunggu waktu saja, bayi di perut Kalista itu akan keluar. Menjelang hari-hari bersalin, Arka menjadi lebih sering menemani Kalista berjalan-jalan di halaman depan rumah.


Matahari sudah mulai meninggi, keringat mulai bercucuran di dahi Kalista. Arka segera mengajak Kalista masuk ke dalam rumah, beristirahat sejenak kemudian memulai ritual mandinya.


Sementara menunggu Kalista membersihkan badannya, Arka segera menyiapkan roti panggang dan susu hangat untuk Kalista. Arka juga sudah lumayan berkeringat, sehingga ia memutuskan untuk mandi di kamarnya yang terletak di lantai dua. Mandi dalam waktu bersamaan, hanya saja berbeda kamar mandi.


Semenjak berubah status menjadi suami, hari weekend Arka selalu kosong, atau dalam kata lain Arka selalu mengosongkan kegiatan di hari weekend. Sudah tidak ada acara nongkrong bersama sahabat, ataupun pergi ke club. Arka memahami sepenuhnya sebagai suami, bahkan untuk pergi menemui Andy saja Arka selalu meminta izin Kalista. Sebenarnya bukannya tidak pernah nongkrong lagi, ketika awal-awal menikah Arka masih sering nongkrong tetapi membawa serta Kalista. Semenjak usia kandungan Kalista memasuki usia 6 bukan, barulah Arka menghentikan kegiatan nongkrongnya itu. Arka lebih fokus pada Kalista dan janinnya.


Selesai mandi Kalista langsung berpakaian, dress rumahan dengan big size itu tidak mampu menyembunyikan perutnya yang gendut. Sekarang bukan hanya perut saja yang menggendut, bahkan pipi Kalista juga berubah menjadi lebih besar. Kakinya selalu bengkak di pagi hari, tetapi pada siang hari kaki itu mulai mengempis kembali. Atas saran dokter kalista jadi lebih sering mengepel lantai, menyapu, dan berkegiatan lainnya. Katanya sih biar persalinannya semakin lancar.


Mengaplikasikan make up natural di wajahnya, menatap lekat dirinya melalui pantulan cermin. Wajah itu masih terlihat seperti Kalista yang dulu, namun beberapa bagian memang sudah melebar melebihi biasanya.


"Sarapan dulu ya." Arka masuk ke kamar dengan membawa baki di tangannya, wajahnya terlihat sangat segar, rambut basahnya terlihat gemerlapan karena terkena sinar matahari yang masuk ke dalam kamar.


Kalista menatap Arka dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tadi katanya mandinya gantian, tetapi kini suaminya malah sudah rapih dengan pakaian casual yang melekat di dirinya.


"Mandi dimana?" Tanya Kalista, tangannya masih memegang brush make up, mengoleskan blush on agar pipinya terlihat merona.


Arka sedang meletakkan baki di atas meja di dekat jendela. Dua porsi roti panggang dengan dua gelas susu hangat. Tetapi dengan formula susu yang berbeda.


"Di kamar atas." Jawab Arka singkat.


Kemudian tangan Arka meraih pergelangan tangan Kalista, menariknya pelan dan mendudukkannya di kursi. "Sarapan dulu sayang." Arka memasukkan roti panggang ke dalam mulut Kalista.


Mereka sarapan di kamar, di dekat jendela sambil memandangi langit yang hari warnanya sangat cerah. Angin sepoi-sepoi-sepoi sesekali menerpa rambut Kalista. Kicauan burung di langit terdengar sangat merdu, terbang dengan sangat indah kesana kemari bersama kawan-kawannya.


"Hari ini aku mau ke rumah mama Lisa, mau ikut nggak?" Tanya Arka, tangannya masih sibuk membersihkan meja bekas sarapan mereka berdua.


Kalista mendongakkan kepalanya, menatap Arka dengan intens tanpa berkedip dalam durasi beberapa detik. "Mau ngapain?" Barulah kalimat itu terlontar dari mulutnya.


"Ketemu Dino, mau memberikan perusahaan ayahnya. Karena itu haknya, dan memberikan rumahnya, itu juga bukan hak aku. Kalau kamu belum bisa memaafkan Dino dan mama Lisa, ya nggak apa-apa. Aku tahu kamu butuh waktu untuk mengeringkan luka itu, tetapi aku tidak bisa menjauhi mama. Maaf sayang kalau kamu tidak setuju dengan keputusanku, aku tidak bisa melihat mama menderita. Walaupun kamu juga tahu perlakuan mama ke aku tuh bagaimana?" Arka mengusak puncak kepala Kalista. Luka itu lumayan dalam, dan pastinya sangat menyakitkan. Wajar jika Kalista tidak bisa memaafkan mereka dengan mudah.


Kalista membulatkan manik matanya. Berusaha mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Arka. Setelah itu Kalista menangkap maksud dari ucapan Arka dan mengerti sepenuhnya. "Aku ikut! Yang salah kan Marcelino, jadi nggak ada hubungannya dengan Dino dan mama Lisa. Hati aku memang masih merasa sakit, dan belum bisa untuk memaafkan, aku butuh waktu untuk mengubur semua kenangan buruk itu. Tapi aku merasa bahagia, karena kamu telah memaafkan mamamu. Mama Lisa memang pernah salah, tapi walau bagaimanapun juga dia tetap mama kamu. Kamu harus ingat surga ada di telapak kaki ibu." Kalista tersenyum manis pada Arka.


"Dan aku bangga, karena suamiku memliki hati yang baik, hati yang bisa memaafkan sebuah kesalahan dari masa lalu." Imbuhnya lagi, kini Kalista memeluk Arka dengan sangat erat.


"Dan semua ini berkat dorongan dari istriku, aku nggak pernah tahu bagaimana hidupku tanpa dirimu. Terimakasih sudah mau menerima aku dengan apa adanya dirimu, maafkan kalau sampai saat ini aku belum bisa membahagiakan kamu seutuhnya." Arka juga membalas pelukan Kalista, memeluknya dengan erat. Tangannya sibuk mengusap rambut dan punggung Kalista


Suasana mendadak menjadi melow, mereka berpelukan dengan saking mengucap kata terimakasih. Indah sekali dua insan dengan kepribadian yang bertolak belakang itu, kini menjadi satu dalam ikatan suci pernikahan. Menjadi sepasang suami istri dengan saling menghormati, dan saling menyayangi satu sama lain. Membangun mahligai rumah tangga dengan segala macam badai menerjang. Tetapi sudah sampai tahap ini mereka masih bisa melalui badai itu dengan tenang, semoga kehidupan mereka bisa langgeng sampai maut memisahkan.


Sudah satu Minggu setelah penangkapan Marcelino, Arka ingin sekali menemui mama Lisa dan Dino. Namun, semua itu Arka urungkan sejenak. Melihat kondisi Kalista yang setiap harinya seperti di runding kesedihan membuatnya tidak tega untuk pergi beranjak meninggalkannya. Dan Arka juga tidak sanggup untuk membicarakan perihal rencananya mengenai perusahaan Marcelino dan memberikan rumah Marcelino itu kepada Dino dan mama Lisa. Namun, ternyata Kalista tetaplah menjadi Kalista yang berbaik hati. Dengan tanpa pertimbangan ini dan itu ia langsung menyetujui rencana Arka.


"Mau terus peluk-pelukan nih? Kapan ke rumah mama dong?" Tanya Kalista sambil menepuk pelan punggung Arka.


"Iya di lepas kok ini." Arka terkekeh, lalu melepaskan pelukannya.


Arka menyuruh Kalista untuk berisiap-siap. Dirinya membawa baki ke dapur. Lalu masuk ke kamarnya, dan bersiap-siap.


*****


Jalanan sangat macet, kendaraan roda 4 padat merayap memenuhi jalanan. Sedangkan para muda-mudi yang sedang di mabuk cinta berada di roda dua. Ada yang memeluk pinggang pasangannya, ada pula yang asyik bercanda tawa di tengah hiruk pikuk kemacetan.

__ADS_1


Sesekali Arka melirik Kalista, berusaha memastikan bahwa istrinya merasa nyaman dan tidak merasa bosan. Arka juga memutar sebuah lagu klasik yang sangat cocok di perdengarkan untuk ibu hamil, karena lagu-lagu bisa membuat janinnya yang berada di rahim menjadi ttenan.


Harap di maklum jalanan macet, karena ini hari weekend. Kebanyakan para pengguna jalanan ingin mengisi kegiatan weekend dengan liburan, atau pergi ke puncak untuk mengistirahatkan otak yang cake karena terlalu lelah bekerja. Dan ada yang hanya sekedar nongkrong di kafe, atau mungkin jalan dengan kekasihnya, seperti para muda mudi yang sedang berboncengan di kendaraan roda dua.


Sedikit demi sedikit mobil mampu melaju, namun dengan kecepatan rendah. Lambat laun jalanan mulai kembali lenggang, semuanya berkendara dengan kecepatan 60km/jm. Jarak dari kediaman Anggara untuk sampai ke kediaman Marcelino lumayan memakan waktu sekitar 30 menit.


Mobil telah sampai tepat di depan gerbang, tidak terdapat satpam di sana. Arka sudah sepuluh kali membunyikan klakson mobilnya, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda satpam atau siapapun yang akan membukakan pintu gerbang. Arka turun dari mobil dan langsung membuka pintu gerbang itu seorang diri.


Rumah itu nampak sepi, bahkan rumah sebesar itu tidka ada satpam yang di tugaskan untuk membuka pintu gerbang? Kemana satpamnya? Cuti? Sakit? Masa iya cuma ada satu satpam? Manik mata Arka mengamati sekeliling rumah tersebut, bahkan Kalista mengatakan rumah ini nampak kosong.


Kalista mencoba menekan bell. Tidak ada yang membuka pintu, kedua kalinya menekan bell, masih tidak ada yang membuka pintu. Kalista menempelkan kedua tangannya di kaca jendela, manik matanya berusaha menembus kaca untuk melihat suasana di dalam rumah. Sepi sekali, seperti tidak ada orang, bahkan rumah ini mirip sekali dengan rumah tidak berpenghuni.


Kali ini Arka yang mencoba menekan bell, siapa tahu aja ada yang bukain. Sepuluh menit telah berlalu, dan sama sekali tidak ada yang membuka pintu. Arka menyuruh Kalista untuk duduk di kursi yang ada di halaman depan, Arka merogoh sakunya dan mengambil ponsel. Arka akan mencoba menghubungi Dino.


Klek.. suara pintu terbuka.


"Cari siapa?" Tanyanya, terdengar dari suaranya sih yang membuka pintu adalah seorang wanita.


Wajar bertanya seperti itu, karena posisi Arka sekarang sedang membelakangi pintu, sedangkan Kalista sedang duduk manik di kursi.


Mendengar suara itu, Arka langsung memutar badannya dan secara reflek menjawab. "Nyari mama." Ujar Arka dengan senyum ramah.


Ada rasa hangat dan bahagia menyusup begitu saja ketika Arka mengucapkan kalimat itu. Mama Lisa langsung menghambur ke pelukan Arka, mereka berpelukan dengan sangat erat. Seorang mama yang sangat merindukan anaknya, begitu juga sebaliknya.


Kalista yang sedang duduk hanya bisa tersenyum, Kalista merasa sangat bahagia akhirnya mama dan anak itu bisa akur seperti seharusnya. Kalista masih tetap duduk di kursinya, tidak ingin mengganggu acara peluk-pelukan dua orang yang saling merindukan, terlebih lagi kakinya memang akan terasa sakit jika berdiri lama-lama.


"Mama sehat?" Tanya Arka yang masih tetap memeluk mamanya. Suaranya terdengar bergetar, matanya berkaca-kaca. Tujuh belas tahun dirinya dan mama Lisa terpisah, bahkan Arka juga sangat membenci mama Lisa. Namun, ternyata Allah memiliki rencana lain. Arka bisa memaafkan mamanya dengan mudah, walaupun kenangan buruk di masa lalu itu sama sekali tidak bisa di hilangkan secara permanen.


"Aku disini ma, waduh nggak kelihatan ya?" Celetuk Kalista yang masih tidak beranjak sedikitpun dari kursinya.


Mama Lisa tersenyum, melepaskan pelukannya pada Arka. Kemudian memeluk Kalista sama erat seperti memeluk Arka. Mama Lisa menangis ketika memeluk Kalista, dari mulutnya terdengar puluhan kali kata maaf. Padahal Kalista sama sekali tidak menyalahkan mama Lisa, Kalista tahu dalam hal ini Marcelino lah yang sebenarnya bersalah.


"Masuk yuk." Ajak mama Lisa yang langsung menggandeng Arka dan Kalista untuk masuk ke dalam rumah.


Rumah luas ini nampak kosong melompong, padahal sebelumnya Kalista mengira lagi isinya banyak, tapi ternyata tidak. Hanya ada sofa, dan satu televisi. Sepertinya di rumah ini pun tidak terdapat barang berharga. Benar-benar hanya ada sedikit perabotan rumah tangga.


Arka juga menyadari hal yang sama, manik mata Arka menatap menelisik Setipa sudut di semua ruangan. Isinya tidak ada yang aneh dan tidak ada yang mewah. Bahkan Arka juga tidak melihat satu pun perhiasan yang menempel di tubuh mamanya. Tidak ada anting di telinganya, tidak ada kalung yang menggantung di leher, dan tidak ada pula cincin yang tersemat di jari manis mamanya.


"Duduk dulu! Mama ambilin minum." Ujarnya menyuruh Arka dan Kalista duduk di ruang tamu.


Arka dan Kalista duduk di sofa, sementara makannya mengambilkan minum. Benar-benar tidak ada yang spesial di ruang tamu ini. Tidak ada pajangan yang cantik terpajang di dinding, ataupun Gucci antik yang biasanya terdapat di sudut pojok dekat sofa.


Tidak lama kemudian mama Lisa membawakan dua gelas jus jeruk. Hanya jus saja, tidak ada makanan ringan, ataupun kue kering atau kue basah, intinya sih tidak di suguhi makanan.


"Dino kemana ma?" Tanya Arka pada mama Lisa.


Mama Lisa menunduk, dan malah mengalihkan perhatian Arka. Mama Lisa malah bertanya tentang sesuatu hal yang tidak terlalu penting. Arka menyadari bahwa mamanya tidak ingin menjawab pertanyaannya, namun hal itu justru membuat Arka semakin penasaran.


"Dino kemana ma?" Arka bertanya sekali lagi, kali ini manik matanya menatap mama Lisa sangat intens, sehingga mama Lisa sulit untuk menghindari tatapan itu, dan sulit juga untuk tidak menjawabnya.


Pandangannya tertunduk, tangannya mengusap-usap paha dan lututnya. "Dino lagi nyari kosan, soalnya kalau hari biasa Dino sibuk masukin lamaran kerja." Ucapnya dengan lirih.

__ADS_1


Barulah Arka dan Kalista menyadari bahwa kehidupan ekonomi mama Lisa merosot jauh atau mungkin sangat anjlok. Karena kasus Marcelino begitu berat sehingga beberapa asetnya di sita, kekayaannya juga di ambil untuk membayarkan sejumlah kerugian kepada para rekan bisnisnya, ataupun pada negara. Ternyata bukan hanya aset yang di sita, barang-barang berharga yang berada di rumah juga di ambil. Semua ATM dan kartu kredit langsung di blokir. Mereka hanya mempunyai uang cash yang jumlahnya tidak seberapa, tetapi mereka gunakan dengan sebaiknya untuk menyambung hidup sebelum Dino mendapatkan pekerjaan.


"Telepon Dino ma, suruh pulang." Perintah Arka pada mamanya.


Mama Lisa langsung menuruti semua perintah Arka, menelpon Dino dan menyuruhnya pulang. Dalam keadaan terjepit seperti ini, memang apa yang bisa Dino lakuksn selain mencari pekerjaan? Apalagi Dino juga tahu rumah yang sekarang sedang di tempatnya sudah sepenuhnya menjadi hak milik Arka, perusahaan juga sudah menjadi hak milik Arka. Apa yang sekarang Dino punya? Jawabannya Dino tidak mempunyai apa-apa, mobil dan motor yang selalu di gunakannya? Sudah di sita oleh pihak kepolisian, semua pengurus rumah saja sudah di pecat, mulai dari satpam, tukang kebun, art dan yang lainnya. Krisis ekonomi ini memang benar terjadi di hidup Dino dan mama Lisa.


Mama Lisa mencoba lebih akrab dengan Arka, anak laki-laki yang terlahir dari rahimnya itu kini sudah sangat dewasa, berbeda dengan Arka yang sebelumnya. Banyak sekali pertanyaan yang mama Lisa tanyakan, mereka asyik mengobrol, mencoba bernostalgia masa-masa Arka berusia 5 tahun. Bahkan jika yang maha kuasa mengizinkan mama Lisa sangat ingin sekali menebus semua kebahagiaan Arka yang terenggut olehnya.


Tidak hanya Arka dan mama Lisa saja yang mengobrol, sesekali Kalista pun ikut menimpali obrolan mereka. Mama Lisa juga sangat menyayangi Kalista. Mama Lisa ini benar-benar sangat bawel, awal mulanya ia bertanya kapan perkiraan lahiran? Tiba-tiba mama Lisa memberikan banyak sekali wejangan pada Kalista, mulai dari cara merawat tubuh pasca lahiran, cara merawat bayi, cara memandikan bayi dengan cara simple tetapi tetap memperhatikan kebersihan, sampai cara memilih baju bayi yang nyaman pun mama Lisa beritahukan pada Kalista. Mereka terus saja mengobrol tanpa henti, ada saja topik yang di bicarakannya.


"Loh ada kalian?" Ucap Dino yang baru saja masuk ke ruang tamu. Wajahnya terlihat sendu dan cemas. Entah apa yang sekarang ada di pikirannya? Atau mungkin sekarang Dino mengira bahwa Arka akan mengambil alih rumah yang sedang di tempatnya detik ini juga?


Mama Lisa, Arka dan Kalista langsung menoleh kepada sumber suara. Keringat terlihat membasahi dahi dan pelipis Dino. Gurat kelelahan juga terlihat jelas di wajahnya.


"Sini duduk." Arka melambaikan tangannya pada Dino. Dino langsung menurut begitu saja, lagipula di sini juga ada Kalista. Dino sangat merasa bersalah pada Kalista.


"Minum dulu nih! Capek banget kayanya." Tangan Arka menyodorkan segelas jus jeruk yang dingin, jus jeruk itu cukup membuat tenggorokan Dini terasa adem dalam sesaat.


"Kasih gue waktu please! Gue udah muter-muter kawasan Jaktim tapi belum nemuin juga kostan yang cocok dengan harga terjangkau. Kasih gue waktu satu Minggu lagi please." Kedua telapak tangannya menyatu dan berujar memohon pada Arka dengan wajah memelas. Memohon dan memelas ini real, bukan acting ataupun di buat-buat.


"Apaan sih lu? Santai aja kali. Gue kesini mau memberitahukan perihal perusaahan ayah lu, jadi perusahaan itu gue serahin sama lu, kelola dengan benar dan jujur. Gue sih ogah ngurus dua perusahaan, nanti yang ada gue malah semakin sibuk dan jarang ketemu istri. Rumah ini juga silahkan kalian tempati, gue nggak berhak atas perusahaan dan rumah ini. Karena menurut gue semua ini haknya lu yang belum tersampaikan oleh ayah lu." Arka berkata santai, tangannya juga menepuk-nepuk bahu Dino.


Dino membelalakan matanya, bibirnya melongo begitu saja. Speechless dalam beberapa detik, otak dan pikirannya sibuk mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Arka. Dino tidak menyangka ternyata Arka sangat murah hati. Mata dini memanas dan berkaca-kaca, ia terharu atas kebaikan hati Arka dan Kalista.


"Terimakasih. Tapi gue janji, suatu saat nanti kalau gue udah ada uang gue bakalan ganti semua kerugian lu atas apa yang telah ayah gue perbuat." Dino berjanji pada Arka, kemudian ia melirik Kalista. "Dan untuk bumil cantik ini, gue minta maaf yang sebesar-besarnya, gue tahu kesalahan ini sangat fatal dan sama sekali tidak bisa di maafkan, tapi gue sangat berharap bumil mau menerima permintaan maaf ini." Satu bulir kristal lolos begitu saja dari mata Arka, terjatuh hingga membasahi pipinya.


"Kesalahan itu memang fatal, bahkan aku pribadi aja pernah punya pikiran seperti ini 'andaikan dulu bunda dan ayah nggak di celakai Marcelino, mungkin sekarang aku masih menikmati kehidupan ini dengan penuh canda tawa bersama mereka' tapi, aku mencoba berpikir positif. Ketika kita lahir kita telah membuat perjanjian dan kesepskatan dengan yang maha pencipta, garis takdir hidup Ita telah di tentukan oleh yang maha kuasa. Lalu aku menyimpulkan semua ini adalah kehendak-Nya, semua ini adalah takdir dari-Nya." Kalista tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba detik ini juga teringat momen-momen kebersamaan dirinya dengan ayah dan bundanya.


"Terimakasih nak, kamu sungguh mempunyai hati yang baik. Mama turut bahagia karena anak mama mempunyai istri yang secantik dan semulia ini. Mama bangga sekali mempunyai menantu seperti kamu." Mama Lisa memeluk Kalista, bukan hanya memeluk mama Lisa juga mengecup dahi dan puncak kepala Kalista.


"Terimakasih banyak." Dino juga merangkul Arka, dan dia mengatakan terimakasih lagi pada Kalista.


"Gue udah niat banget kesini mau membahas itu, tapi ternyata dokumennya ketinggalan di rumah. Besok atau lusa aja kali ya gue anterin kesini."


"Santai aja! Kalau lagi sibuk dan ada kerjaan nanti saja, nggak usah terburu-buru." Dino langsung menyaut.


Setalah acara melow ini, mama Lisa menyuruh semuanys untuk makan siang. Menunya memang hanya nasi goreng dan telor ceplok, tidak ada ikan, daging, sayuran, ataupun buah. Budget yang sangat pas-pasan, dan ternyata mama Lisa dan Dino telah seminggu makan dengan menu seperti ini.


Arka makan sangat lahap, walaupun menunya hanya nasi goreng dan telor ceplok, tali karena ini adalah makanan mamanya tentu saja ini terasa sangat nikmat. Kalista juga sangat menikmati menu makanan ini, karena Kalista juga dulunya adalah seorang anak kost, makan dengan menu seperti ini tuh sudah menjadi hal yang lumrah baginya, malahan Kalista merasa sedang bernostalgia pada masa-masa ngekost.


Ternyata kehidupan mama Lisa dan Dino selama seminggu ini lumayan menderita, atau mungkin sangat miris. Mereka jarang sekali di kasih uang cash oleh Marcelino, mereka di berita kartu ATM dan kredit, makanya dalam masa-masa seperti ini mereka malah sedang tidak memegang uang. Sedangkan dmeua kartu ATM, kredit, dan yang lainnya sudah di sita oleh pihak berwajib.


Sebelum benar-benar meninggalkan rumah ini, Arka memberikan satu kartu ATM pada mamanya dan Dino. Pada awalnya mereka menolak dan terlihat sungkan, namun arak terus menerus memaksa, walau bagaimanapun juga Arka tidak ingin melihat mamanya menderita atau hidupnya kekurangan. Mereka menerimanya, lagi-lagi Dino berjanji akan mengembalikannya nanti ketika keadaan ekonominya sudah stabil.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❀ tambahkan favorit πŸ™πŸ€—


Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanπŸ™πŸ€—

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❀


__ADS_2