SUN FLOWER

SUN FLOWER
4 ANAK


__ADS_3

"Nak kamu nggak mau ngantor? Ini udah jam 9 loh. Apa kamu nggak mau ketemu calon istri kamu?" Tanya Oma Weny sambil menepuk-nepuk punggung Arka yang masih tertidur pulas di ranjangnya.


"Sebulan lagi mau bangun rumah tangga, tapi malah malas-malasan gini. Gimana mau jadi kepala rumah tangga yang baik coba." Imbuh Oma, sambil menarik selimut yang meliliti tubuh Arka. Oma sudah membangunkan Arka dari jam 7 pagi, namun Arka tak kunjung membuka matanya.


"Oma berisik banget sih." Gumam Arka lirih.


"Yaudah nggak apa-apa kalau nggak mau ngantor, berarti nggak ketemu Kalista ya!" Oma merasa jengkel.


"Arka bangun nih, lagian udah janji mau jemput Kalista." Arka bangun dan mengerjapkan matanya perlahan.


"Mau jemput? Jam segini sih Kalista sudah ada di kantor. Siap-siap aja tuh calon istri kamu pasti marah besar."


Arka langsung melirik jam weker diatas nakas, matanya membulat sempurna ketika melihat jarum jam menunjukan angka 9. Ya, ini sudah jam sembilan, sedangkan dirinya janji mau menjemput Kalista jam 07:30.


Arka langsung mengambil ponselnya, ada beberapa pesan dari Kalista.


Calon Teman Tidur❤


06:30


Jadi jemput kan?


Calon Teman Tidur❤


06:45


Belum bangun kah?


Calon Teman Tidur❤


07:00


Udah otw belum? Mau sarapan disini nggak?


Calon Teman Tidur❤


07:10


Ko nggak balas? Yaudah gue nunggu depan gerbang apart aja.


Calon Teman Tidur❤


07:20


Matahari udah terik nih, panas kali. Bisa cepatan nggak?


Calon Teman Tidur❤


07:30


Gue kepanasan! Kalau nggak jadi jemput ngomong dong jangan kaya gini, bikin emosi aja pagi-pagi! Nyebelin banget nggak sih janji pertama tapi nggak di tepati. Gue otw kantor sekarang!


"Tuh kan Kalista jadi marah sama Arka, Oma sih kenapa nggak bangunin Arka dari pagi." Arka mengetikkan pesan balasan pada Kalista, yang isinya tidak lain adalah permintaan maaf.


"Oma tuh dari pagi udah bangunin kamu, tapi emang dasarnya aja kamu tuh tidur kaya kebo, kaya orang mati." Cibir Oma sambil berlalu dari kamar Arka.


Arka langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Lalu keluar dengan handuk yang masih melingkar di tubuh bagian bawahnya.


Arka langsung mengenakan stelan kerja yang sudah disiapkan oleh Oma, Arka bercermin sebentar sembari menata rambutnya. Mengikat dasi di lehernya, lalu memakai jas. Kemudian Arka menyemprot kan parfum berkali-kali depan belakang tubuhnya.


"Arka berangkat ya." Arka langsung menyalami Oma dan pak Anggara.


"Sarapan dulu nak." Pinta Oma.


"Nanti deh di kantor, Arka buru-buru." Arka menyempatkan diri untuk meminum segelas susu yang memang disiapkan untuknya.


"Semangat banget nak? Dulu aja ayah suruh ngurus kantor kamu malah nggak mau." Pak Anggara meledek Arka.


"Berisik yah ih, Kalista marah-marah nih." Arka melangkahkan kakinya.


"Jangan ngebut-ngebut, semarah apapun juga Kalista nggak bakalan kabur ko. Harus lembut ya sama perempuan, awas aja kalau kasar sama calon istri mu itu."


"Nggak bakalan yah tenang aja."


"Hari ini ketemu WO, biar planning pernikahan segera di urus. Kasih tau Kalista! Awas aja kalau lupa!"


"Iya, bawel deh."


Arka melajukan mobilnya dengan pikiran yang berkecamuk memikirkan Kalista. Bahkan dirinya sempat menepikan mobilnya sebentar, hanya untuk search di google bagaimana caranya membujuk wanita yang marah. Setelah dirasa sudah punya cara untuk mengatasi kemarahan Kalista, Arka pun melakukan kembali mobilnya.


Begitu sampai di kantor, Arka langsung menuju lift, keluar dari lift berlari menuju ruangannya. Sapaan dari para karyawan sama sekali tidak di hiraukan oleh Arka.


"Kalista mana?" Tanya Arka dengan nafas yang tersenggal-senggal.


"Ngapain lu dikejar setan?"

__ADS_1


"Dia lagi fotokopi berkas." Imbuh Andy.


"Bukan setan lagi ini, nyawa gue juga lagi terancam." Arka menyimpan tasnya, kemudian keluar dari ruangan untuk menghampiri Kalista.


"Maaf." Ujar Arka sambil mengecup puncak kepala Kalista. Semua mata karyawan langsung tertuju pada Kalista, mereka semua kaget melihat perlakuan Arka barusan.


"Bisa lebih sopan nggak? Jangan buat gue jadi bahan bully'an semua karyawan kantor." Kalista membalikan badannya, sehingga kini berhadapan dengan Arka. Menatap Arka tajam kemudian mendelik kesal.


Kalista langsung berjalan menuju ruangannya, Arka mengikutinya dari belakang.


"Emang ada yang berani ngebully calon istri gue? Mana sih orangnya? Langsung gue pecat!" Kata Arka yang sekarang sedang berdiri di samping Kalista yang sedang sibuk dengan tumpukan berkas di meja kerjanya.


"Bisa diam nggak? Berisik banget, ganggu konsentrasi gue aja." Ketus Kalista.


"Nggak nyangka gue, ternyata karyawan gue bisa memarahi boss nya." Arka mencibir sedikit kesal.


"Duduk." Kalista menarik tangan Arka, dan mendudukkannya di kursi kerja Arka.


"Makan nih! Belum sarapan kan?" Kalista menyerahkan kotak makan yang isinya nasi goreng dengan sayuran hijau plus telur ceplok.


Arka makan dengan lahap, dalam hatinya Arka tersenyum senang. Karena Kalista walaupun marah juga masih tetap perhatian padanya. Tak perlu waktu lama, kini kotak makanan tersebut sudah kosong tak tersisa satu butir nasi pun.


"Enak banget, makasih sudah perhatian sama gue." Arka mengusak lembut puncak kepala Kalista, namun tidak ada respon dari Kalista.


"Permen kapas enak kali ya? Apalagi kalau sama eskrim durian, bakso, seblak, ah iya makan mekdi juga ah." Arka mengambil kunci mobilnya dan akan berjalan keluar ruangan.


"Ikut!" Ucap Kalista secara spontan.


"Kemana?" Tanya Arka pura-pura bingung.


"Beli permen kapas, eskrim, makan mekdi juga." Jawab Kalista dengan memamerkan deretan gigi putihnya, Arka tersenyum ternyata memang benar cara meredakan amarah seorang wanita bisa di dipancing dengan makanan kesukaannya.


"Ya ampun Kalista, masa lu lagi marah langsung luluh cuma karena permen kapas, eskrim sama mekdi? Please deh, lu minta berlian kek, minta mobil, minta rumah, atau minta shopping abisin semua saldo ATM si Arka!" Celetuk Andy.


"Saya nggak butuh itu semua, toh nanti juga kalau udah nikah semuanya bakal jadi milik saya juga kan." Kalista mengedipkan sebelah matanya pada Andy.


"Pintar calon istri lu!" Andy menepuk pundak dan Arka.


"Oh tentunya."


"Ndy handle semua kerjaan gue sama Kalista, hari ini gue mau ketemu WO dulu." Imbuh Arka.


"Bentar." Kalista merapikan dulu sebagian berkas di mejanya.


"Rapi banget kerjanya calon istri gue." Arka mencium pipi Kalista.


"Curhat ya pak? Cari cewe dong makanya." Kalista meledek Andy.


"Udah sayang jangan kaya gitu ah, kasian loh andy menjomblo sudah bertahun-tahun." Kata Arka sambil memeluk Kalista.


"Keluar lu, sialan!" Andy semakin panas melihat kelakuan Arka.


Arka dan Kalista keluar sambil tertawa, Arka menggandeng tangan Kalista, semua karyawan memperhatikannya.


"Aneh nggak sih? Pacaran kali ya." Celetuk Roro yang memang memperhatikan boss dan sekretarisnya itu.


"Sumpah gue kaget banget tadi pas pak Arka mencium puncak kepala bu Kalista, terus gue juga lihat cincin yang mereka pakai samaan loh. Jangan-jangan mereka udah tunangan." Fina menimpali ucapan Roro.


"Gue jadi rada curiga, jangan-jangan bener apa yang selama ini Intan katakan." Ujar Asri.


"Woy kerja jangan ngegosip terus! Belum cukup melihat kejadian Intan dan Riri? Mau nasib kalian sama kaya mereka juga?" Desy memperingati mereka.


"Malu tahu dilihatin para karyawan." Protes Kalista yang tangannya masih terus di gandeng oleh Arka.


"Emang gue nggak ganteng? Sampai malu segala di gandeng sama gue." Ujar Arka yang kemudian mengemudikan mobilnya.


"Bukan gitu, maksudnya kan kita belum ngumumin hubungan kita dikantor."


"Oh mau diumumin, mau di publish gitu? Aciyeeee mau diakui oleh semua karyawan kantor." Arka tersenyum menggoda Kalista.


"Gue mau umumin nanti, sambil menyerahkan surat undangan. Sabar dulu ya." Arka mengusap punggung tangan Kalista.


"Makan mekdi dulu atau ke kafe dulu ketemu pihak WO?" Tanya Arka.


"Kafe aja, kasian mereka udah nunggu."


"Mekdi dulu juga nggak apa-apa gue mah, tinggal suruh mereka nunggu 1 jam, siapa sih yang bakal berontak sama perintah gue? Jangan lupa gue kan tajir melintir, hancurin usaha mereka aja gampang banget."


"Nggak boleh gitu, kita tuh harus bisa menghargai waktu dan menghargai mereka juga, setajir apapun lu tetap aja kan sekarang kita lagi butuh jasa mereka. Jangan suka meremehkan orang lain, nggak baik tahu." Cerocos Kalista.


"Oh iya, calon suami gue kan tajir melintir. Yaudah berarti gue mau resepsi pernikahan kita diadakan selama 10hari 10malam, semua baju harus gue yang desain, setiap harinya tema ganti-gantian, dan tempat acaranya pun ganti-ganti, pokonya lu harus setuju ya!" Kalista nyengir kuda menatap Arka yang masih fokus mengemudi.


"Gue nggak setuju, gue resepsi cukup sekali saja, dan itu pun hanya berlangsung selama 4 jam! Nggak boleh lebih! Gue maunya honeymoon aja yang lama." Arka mengedipkan sebelah matanya.


"Tajir melintir tapi nggak mau nurutin kemauan istrinya? Dasar pelit!" Cibir Kalista.

__ADS_1


"Bukan pelit sayang, tapi kan.."


"Nggak ada tapi-tapian!" Kalista memotong ucapan Arka.


"Ayo turun sayang." Karena selama perjalanan mereka sibuk berdebat, hingga Kalista tidak menyadari bahwa kini dirinya sudah sampai di kafe.


Kalista dan Arka masuk ke kafe, mata mereka menjelajahi seisi kafe untuk mencari keberadaan orang-orang pihak WO.


"Maaf terlambat.." ujar Kalista yang disambut senyuman hangat dari orang pihak WO. Arka sama sekali tidak berbicara.


Acara pernikahan akan dilaksanakan secara indoor, awalnya Arka tidak setuju, karena Arka maunya outdoor. Setelah perdebatan panjang, dan dengan mempertimbangkan beberapa hal akhirnya Arka menyetujuinya. Karena menurut pemikiran Kalista, kalau acaranya dilakukan secara outdoor akan sangat repot kalau tiba-tiba turun hujan.


Tidak terasa sudah 2 jam mereka membicarakan tentang rangkaian pernikahan, dari mulai akad nikah, resepsi, pelaminan, catering, rias pengantin, dokumentasi dan lokasi pernikahan. Semuanya telah di bahas secara detail, dan semua itu sesuai keinginan Kalista, Arka sama sekali tidak ikut campur, karena Kalista pasti punya konsep pernikahannya impiannya sendiri, dan Arka tidak keberatan akan hal itu.


"Jadi makan mekdi?" Tanya Arka.


"Nggak mau, mau makan softcake durian aja yang ada di coffee shop pak Riko."


"Nah kalau gitu gue setuju, lagian jangan kebanyakan makan mekdi ya, makanan sampah cuma nambahin lemak doang, nggak bergizi." Arka mengusap pipi Kalista.


"Nyetir yang benar, kalau nabrak nanti kita nggak jadi nikah loh."


"Ih amit-amit."


Kini mereka sudah sampai di Coffee shop Riko, karena perjalan dari kafe tadi menuju coffee shop ini tidak memakan waktu lama.


"Calon pengantin, nggak sibuk kah sampai bisa mampir dulu kesini?" Riko merangkul pundak Arka.


"Nemenin yang ngidam pengen makan softcake durian di coffee shop ini." Ujar Arka, kemudian Riko memanggil waiters menyuruh membawa softcake durian yang Kalista mau.


"Serius ngidam? Emang udah isi ya? Gila bro lu brengsek juga ya!" Riko menoyor kepala Arka.


"Mau gimana lagi sekali coba langsung jadi. Gue bisa apa selain tanggung jawab." Jawab Arka santai.


"Stop! Gue nggak ngidam, gue nggak lagi isi. Dan gue belum pernah melakukan sesuatu yang tidak semestinya dengan Arka." Gerutu Kalista yang sedang menikmati softcake.


"Nggak usah malu sayang, Riko doang ko yang dengar." Arka terkekeh.


"Arka!" Kalista menggebrak meja di depannya "Bisa nggak serius dikit, jangan menyebarkan gosip yang tidak benar."


"Bercanda sayang." Arka langsung mengusak puncak kepala Kalista, sehingga beberapa helai rambutnya terjatuh ke bagian depan wajahnya.


"Marah juga masih tetap cantik ya." Arka memandang Kalista, tetapi Kalista malah memutarkan bola matanya jengah.


"Abis ini cari rumah dulu yuk."


"Ngapain?"


"Buat nanti kita kalau udah nikah."


"Kan ada apartment, apart juga udah luas ko." Kini Kalista menatap Arka.


"Gue mau pindah ke rumah kalau udah nikah, apart terlalu sempit, lagian pemandangan apart nggak begitu bagus. Jadi gue mau cari rumah yang punya view nya bagus, indah, nyaman, dan asri sama pepohonan. Biar lu betah tinggal sama gue." Arka tersenyum simpul.


"Di apart aja! Nanti kalau udah mau punya anak baru deh cari rumah."


"Lagian apart nggak sempit ko, view nya lumayan bagus." Imbuh Kalista.


"Yaudah sih nurut aja lah gue, daripada nggak jadi nikah." Ucap Arka perlahan.


"Emang Kalista mau punya anak berapa?" Tanya Riko kemudian, karena dari tadi Riko hanya menyimak perdebatan sang calon pengantin.


"4." Kalista masih sibuk mengunyah softcake durian.


"Gila bro 4 anak, harus rajin bikinnya lu." Awalnya Riko membelalakkan matanya kaget, kemudian tersenyum menyeringai sambil menepuk pundak Arka.


"Nggak usah di suruh, gue pasti sering bikin ko." Arka tersenyum sumringah.


"Ayo cepat abisin, udah ini langsung balik kantor lagi."


"Balik kantor? Kirain balik ke apart."


"Ngapain balik ke apart? Ini masih siang loh sayang, nanti malam aja ya." Arka menggoda Kalista.


"Apaan sih! Stop mikir mesum!" Kalista menggerutu.


"Mikir apaan sih lu bro? Kalem lah sebulan lagi." Riko meledek Arka.


"Gue kira dia minta jatah." Arka dan Riko kemudian tertawa terbahak-bahak.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2