
Riko benar-benar menikmati nasi goreng kecap beserta telur ceplok yang di masak oleh Risa. Setelah beberapa jam terhebat hujan deras dengan kondisi perut yang sangat keroncongan, akhirnya cacing-cacing di perut itu merasa merdeka setelah di berikan asupan makanan.
"Sa, nasi gorengnya enak." Ucap Riko dengan senyum sumringah, suaranya tidak terdengar jelas karena mulutnya terisi penuh oleh nasi goreng itu sendiri.
Risa sama sekali tidak menanggapinya, karena Risa juga sibuk menyuapi Dennis makan. Risa juga merasa gelisah karena Haikal belum juga kembali dari RS selepas mengantar ibunya.
"Sa?" Riko mencoba memanggil Risa yang wajahnya nampak pucak dan gelisah.
"Sa.." kali ini Riko menepuk pundak Risa.
"Ah iya kak?" Tanyanya, tepukan dari Riko berhasil membuyarkan lamunan Risa.
"Kenapa?" Tanya Riko lagi.
"Haikal kok belum pulang ya? Aku khawatir banget." Ujar Risa dengan ekspresi wajah gusar.
Risa langsung bangkit dari meja makan, berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tadi di letakkan di kasur. Begitu sampai di kamar, Risa langsung mengambil ponsel itu dan terdapat beberapa panggilan tidak terjawab, dan ada beberapa pesan WhatsApp dari Haikal.
"Kak, kondisi ayah memburuk. Kalau bisa Kaka kesini sekarang ya."
Itulah salah satu pesan WhatsApp dari Haikal, Risa membacanya dengan hati bergetar, bulir-bukir bening air kristal berjatuhan terus menerus dari matanya.
Risa merasa dunia kejam padanya, ayahnya di berikan penyakit yang Risa sama sekali tidak sanggup membiayai pengobatannya, mungkin jika tidak ada Riko dan Arka Risa sekarang sedang stres dan depresi memikirkan biaya pengobatan.
"Bagaimana ini?" Hanya kalimat dan pertanyaan itu saja yang sekarang muncul di benak Risa. Selama ini saja biaya pengobatan ditanggung pak Arka, dan nggak mungkin juga kan pak Arka bakalan membiayai pengobatan ayah Risa secara terus menerus, Risa juga merasa malu dan sangat merepotkan.
Risa bersimpuh di dekat kasur di kamarnya, air matanya terus menerus mengalir membasahi pipinya, Risa menjambak rambutnya berkali-kali. Sebenarnya Risa sangat ingin sekali teriak dan menjerit melampiaskan keluh kesahnya, tetapi ada daya? Ada Riko di rumah ini, dan ada Dennis juga yang belum sepenuhnya mengerti tentang situasi dan keadaan ini.
Riko sudah selesai menghabiskan nasi goreng kecap plus telur ceplok, Dennis juga sudah selesai makannya. Risa tak kunjung kembali ke ruang tamu, Riko takut terjadi apa-apa pada Risa, bahkan Riko sempat insecure Risa sakit atau pingsan.
Riko segera menggendong Dennis dan bertanya pada Dennis dimana kamar Risa? Dan Dennis menunjukan kamar kakaknya.
Sontak saja Riko kaget setengah mati, begitu membuka pintu kamar, manik matanya menangkap sosok Rsa yang sedang bersimpuh dan menangis tersedu-sedu.
"Ada apa?" Tanya Riko sambil memegang bahu Risa.
Risa menundukkan kepalanya, Risa juga menghapus sisa-sisa air matanya, Risa tidak mungkin menceritakan kondisi ayahnya sekarang, lagi pula Risa tidak ingin melibatkan Riko dalam masalah keluarganya.
"Nggak apa-apa kak." Jawab Risa sambil tersenyum, walaupun sisa-sisa air matanya telah di hapus, tetapi mata sembabnya tidak bisa membohongi Riko.
"Cerita aja sa." Riko masih berusaha membujuk Risa agar menceritakan beban yang sedang mengganggu pikirannya.
Dennis si bocah 7 tahun yang sangat aktif dan manja itu belum sepenuhnya mengerti apa yang kakaknya rasakan, Denis malah meledek Risa, katanya kaya anak kecil masih suka nangis.
"Ini udah malam kak, mending Kaka pulang aja. Sekalian Kaka arah jalan pulang, aku sama Dennis numpang sampai RS ya, boleh nggak kak?" Tanya Risa, mata sembapnya sangat terlihat jelas.
"Boleh! Yuk, Denis langsung ke mobil, Kaka Risa mau siap-siap dulu." Ujar Riko sambil menuntun Denis pergi ke halaman depan, Riko tahu pasti ada yang tidak beres.
Risa membuka lemarinya, mengambil sweater untuk membalut tubuhnya agar lebih hangat, Risa juga mengambilkan sweater untuk Denis. Karena buru-buru, jadinya Risa hanya mengunci pintu saja, bahkan meja makan saja tidak di bersihkannya.
Riko sudah duduk di kemudi setir, dengan Dennis di sebelahnya. Riko tersenyum melihat tingkah laku Denis yang sangat aktif, entah sudah berapa banyak mulut kecilnya bertanya-tanya tentang mobil.
"Denis duduk di belakang ya sama Kaka." Risa membuka pintu mobil dan akan memindahkan Denis ke kursi belakang.
"Nggak mau!" Jawabnya tegas.
"Udah sa duduk di depan aja, cukup kok itu untuk duduk kamu dan Denis, badan kalian juga kecilkan?" Riko berusaha memberikan solusi agar Denis dan Risa tidak terlibat lebih jauh dalam perdebatan mereka.
Risa menuruti saran dari Riko, Risa duduk berdempetan dengan Denis. Mobil baru melaju saja Denis sudah heboh, bertanya ini lah itu lah, bahkan Risa sampai pusing mendengarnya. Ya begitulah Denis, terlihat sangat norak. Maklum Dennis jarang sekali naik mobil bagus, seringnya naik angkot ikut ibunya ke pasar.
"Denis diam deh! Kaka pusing ini!" Bentak Risa dengan suara kerasnya, suasana hati Risa sedang tidak baik, celotan yang keluar dari mulut Denis malah membuat otaknya semakin terasa mendidih.
Pelupuk mata Denis di penuhi dengan cairan bening yang sebentar lagi akan tumpah membasahi pipinya.
"Makanya lagi pusing, Denis diam ya." Riko mengusap lembut puncak kepala Denis. Riko tahu sebabnya Risa itu Kaka yang baik untuk adik-adiknya, tetapi saat ini Risa benar-benar sedang tidak baik. Riko memang belum tahu apa yang terjadi pada Risa, tetapi Riko yakin bahwasannya Risa sedang berada dalam situasi yang sulit.
Denis mengangguk pada Riko, telapak tangannya berusaha menghalau cairan bening yang belum tumpah itu. Kemudian Denis memeluk Risa dengan erat, Risa pun memeluk Denis, Risa mengusap puncak kepala Denis. Satu tangan Risa terangkat untuk memijat-mijat pangkal hidungnya.
Mobil telah sampai, Riko memarkir mobilnya ditempat yang lumayan agak jauh. Risa dan Denis turun, sebelumnya Risa telah menyuruh Riko untuk pulang saja. Tetapi Riko menolak, Riko sangat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Risa berjalan tergesa-gesa sambil menuntun Dennis, Riko mengikutinya dari belakang. Setelah melewati lorong yang cukup panjang, terlihat dari arah yang berlawanan Haikal sedang berjalan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Tadi ayah sempat kritis, kondisinya melemah. Kemudian ayah membaik, ayah terus-terusan bertanya tentang Kaka." Ujar Haikal dengan napas terengah-engah.
Risa dan Haikal langsung berlari menuju tempat dimana ayahnya di rawat. Mereka berdua cukup kalut, sampai-sampai meninggalkan Denis yang bengong menatap punggung mereka yang telah menjauh.
Klek, Risa membuka pintu ruangan ayahnya di rawat. Di sana ayahnya terlihat sangat kurus, beberapa selang tertancap di hidung dan lengannya. Terbaring lemah diatas kasur rumah sakit, kondisinya sangat lemah sekali. Telat di sisi ranjang ada ibunya Risa yang setia memegang tangan sang suami.
Melihat kondisi ayahnya yang semakin lemah, Risa tak kuasa menahan tangisnya. Risa berhambur memeluk ayahnya, aliran air mata sama sekali tidak bisa di cegah.
"Nak." Suaranya hampir tidak terdengar.
Melihat pintu yang terbuka, Riko juga ikut masuk ke ruangan tersebut sambil menuntun Denis.
"Ayah sudah bosan berada di sini, lagi pula biaya untuk pengobatan jantung ini biayanya sangat mahal. Ayah tidak ingin terus menerus merepotkan teman kamu yang baik itu, yang telah membiayai perawatan pengobatan ayah. Ayah juga minta maaf sama kamu nak, ayah sebanarnya tidak ingin membebankan biaya sekolah Haikal sama denis ke kamu." Kata ayahnya, manik matanya menatap Risa dengan sorotan yang sulit diartikan.
"Ayah ingin pulang ke rumah saja ya nak, tolong di urus semuanya. Ayah ingin tidur di rumah." Imbuhnya lagi.
Risa menggeleng-gelengkan kepalanya, air mata tak henti-hentinya berjatuhan dan membasahi pipinya. Bukan hanya Risa yang menangis, sang ibu dan Haikal juga menangis.
"Ayah di sini dulu aja ya sampai sembuh, untuk biaya perawatan nggak usah di pikirkan, tenang saja Risa akan berusaha semaksimal mungkin." Risa mengusap laju air matanya, memaksa tersenyum sambil mengusap lembut lengan ayahnya.
"Ayah pulang saja, biaya pengobatan ayah ini terlalu membebankan kamu nak. Ayah tidak ingin kamu terfokus pada ayah, sehingga kamu melewatkan masa-masa muda kamu, kamu harus menikah. Nak, ayah takut tidak ada umur, ayah ingin menjadi wali pernikahan kamu." Suaranya sangat kecil, bahkan hampir tidak terdengar.
Ucapan ayahnya sangat menampar hati Risa. Menikah? Bagaimana mungkin menikah, dengan siapa Risa akan menikah? Bahkan kosa kata "Pernikahan" sama sekali tidak ada di benak Risa.
"Risa akan menikah, tapi nggak sekarang. Gimana mau menikah, calonnya saja belum ada." Risa terkekeh pelan, Risa berusaha menampilkan wajah cerianya, padahal pikirannya sanhat bercambang.
Jika ia menikah, siapa yang akan membiayai pengobatan ayahnya, yang akan membiayai adik-adiknya sekolah, siapa yang akan memenuhi kebutuhan pokok di rumahnya. Tidak mungkin kan membebankan ke suaminya? Lagi pula belum tentunya juga suaminya mau menanggung semuanya.
Sorot mata ayahnya menangkap satu sosok asing di ruangan ini, sosok itu dari tadi sibuk mengajak Denis berbicara.
"Dia siapa?" Tanyanya, sorot matanya masih tertuju pada Riko. Namun karena suaranya sangat pelan, sehingga Riko tidak mendengarnya dan terus saja mengajak Denis berbicara.
Risa, ibu dan Haikal langsung saja menoleh mengikuti ekor mata ayahnya Risa memandang Riko. Mereka semua baru menyadari, ternyata sedari tadi Riko berada di ruangan ini.
"Itu Riko, teman Risa yah. Dia teman Risa yang membiayai pengobatan ayah, sebanarnya ada satu lagi orang baik yang membiayai pengobatan ayah, yaitu boss di tempat Risa kerja." Risa tidak mungkin hanya menyebut Riko teman saja, toh memang benar dulu riko telah membiayai pengobatan ayahnya hingga 1 M.
Mendengar Risa memperkenalkan dirinya pada ayahnya, Riko menoleh dan tersenyum. Riko juga menghampiri ayahnya Risa, dan berusaha mencium punggung tangannya.
"Nak maafkan ayah dan Risa yang telah merepotkan kamu, ayah janji suatu saat nanti ayah akan mengganti uang nak Riko, dan maafkan ayah dan Risa juga yang sudah membebankan nak Riko dalam hal ini." Ayahnya Risa berucap dengan lirih.
"Ah tidak apa-apa, tidak usah di ganti saya ikhlas kok." Ujar Riko sambil tersenyum simpul, dalam hatinya Riko berkata ini bukan perkara ikhlas, dan Riko juga sebenarnya sangat malu. Bukan Riko yang membiayai pengobatan perawatan ini, Risa lah yang membiayai semuanya dengan menjual tubuhnya pada Riko. Riko juga menyesal pada perbuatannya terdahulu, kenapa dulu dirinya begitu tega pada Risa, orang yang sedang berada dalam masalah besar malah di berikan pilihan yang sulit.
"Oh iya om, ada yang ingin saya sampaikan." Ucapan Riko terhenti sejenak, dia memang Risa sekilas. Entah mengapa begitu Riko mengatakan pada ayah Risa ada yang di ucapkan, secara spontan Risa langsung menang Riko, seolah-olah Risa tahu apa yang akan di ucapkannya.
"Riko sama Risa cuma teman, nggak ada hubungan lebih dari itu. Tetapi, jauh di lubuk hati Riko sebenarnya Riko sangat ingin mempersunting Risa sebagai pendamping hidup Riko untuk selamanya, atau dalam artian Riko sangat menginginkan Risa untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anak Riko." Ucap Riko dengan gamblang dan sangat terang-terangan.
Risa sangat shock, bahkan mulutnya sampai menganga dengan sempurna. Jadi, malam ini detik ini juga Riko sedang melamarnya, dengan sangat gentle Riko berbicara langsung dengan ayahnya Risa. Risa merasa ini terlalu cepat, dan Risa juga belum bisa memastikan apakah hatinya condong pada Riko atau tidak. Risa ingin sekali menolak, karena Risa tidak tahu jelas dan pasti bagaimana perasaaan Riko yang sebenarnya. Apakah Riko menginginkannya hanya karena nafsu semata, atau memang Riko bersungguh-sungguh memintanya untuk menjadi seorang isteri?
"Nak, pria baik ini melamarmu. Ayah sangat ingin melihat kamu menikah, ayah ingin menyaksikan sendiri bagaimana anak gadis ayah satu-satunya ini menjadi seorang istri dari laki-laki baik yang sangat mencintainya." Ucap ayahnya, ayahnya sangat berharap Risa menerima lamaran ini.
Ibunya menghampiri Risa, mengusap lembut punggung Risa. Sebagai sekarang ibu, tentunya ibunya Risa sangat paham dan tahu betul bagaimana perasaan anaknya, ini merupakan situasi yang sulit bagi Risa. Usapan di punggung itu berharap bisa membuat Risa tenang dan mengambil keputusan yang terbaik.
"Kak, terima saja. Barangkali ini keinginan terakhir dari ayah, lagi pula Kaka tahu sendiri kan bagaimana kondisi ayah sekarang, ayah juga mengatakan takut tidak ada umur, daripada Kaka menyesal di kemudian hari, lebih baik Kaka terima saja lamarannya Kaka ganteng ini. Kayanya Kaka ganteng ini juga tabiatnya baik kok, cocok banget malah sama kakakku yang cantik ini." Bisik Haikal di telinga Risa.
Risa mencoba mempertimbangkan perkataan ayahnya dan juga perkataan Haikal. Setelah berpikir cukup lama dan mempertimbangkan segala hal, akhirnya Risa sudah mempunyai keputusan di benaknya.
Risa mengambil napas yang banyak, kemudian dengan perlahan Risa menghembuskannya. "Aku bersedia menjadi istri dan ibu dari anak-anak kak Riko." Ucapnya dengan lantang dan tegas, setelah itu Risa memejamkan matanya, berharap keputusannya itu baik dan benar, serta membawa kebahagiaan untuk keluarganya terutama sang ayah yang terbaring lemah.
Semuanya tersenyum sumringah, senyum bahagia. Dennis juga tersenyum walaupun Denis belum mengerti dengan semua ini. Semuanya bahagia, terkecuali sebagai ibu yang matanya berkaca-kaca sehingga menjadi sebuah genangan yang siap kan tumpah ruah. Sang ibu menarik tubuh Risa, mendekapnya sangat erat. Ibunya tahun ini bukan keinginan Risa, Risa melakukan semua ini semata-mata untuk membahagiakan ayahnya.
"Alhamdulilah." Ucap ayah Risa dengan girang.
"Riko sudah siapin cincin, jadi malam ini Riko dan Risa tunangannya ya. Dan secepatnya Riko juga bakalan melamar Risa." Riko mengeluarkan sebuah kotak cincin berbentuk love dari saku jasnya.
Risa membulatkan matanya dengan sempurna, sepertinya Riko memang benar-benar telah merencanakan ini semuanya. Buktinya, kotak cincin saja sudah tersedia di saku jasnya. Dua buah cincin dengan desain yang sangat sederhana, namun sangat elegan dan tampak mewah. Riko menyematkan cincin cantik itu ke jari manis Risa, begitu pula sebaliknya. Haikal mengabadikan semuanya dalam sebuah potret yang diambil melalui ponsel Riko. Semuanya di foto dengan tersenyum bahagia.
Yang sangat bahagia dalam acara ini adalah ayahnya Risa. Ibunya Risa tidak henti-hentinya memeluk Risa, ibunya Risa berdoa semoga Risa bahagia dengan pilihan yang sulit ini.
Malam semakin larut, ayahnya Risa sudah tertidur. Risa menyuruh ibunya untuk tidur, begitupula dengan Haikal. Karena ibunya besok harus kembali menemani ayahnya, Haikal harus sekolah. Sedangkan Denis sudah terlelap dalam pangkuan sang ibu, mungkin sekarang Denis sedang berjibaku dengan mimpinya.
Risa mengendap-endap pergi keluar, membuka pintu saja sangat pelan sekali, Riko mengikutinya.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Riko.
"Aku mau sendiri dulu, tolong jangan ikuti aku!" Ucap Risa pelan tapi tegas, bahkan sorot mata Risa menatap Riko dengan penuh kebencian.
Akhirnya Risa dan Riko pergi dengan berlawanan arah. Tanpa mereka sadari, ibunya Risa mengintip dan mencuri dengar percakapan mereka. Benar saja dugaannya, feeling seorang ibu emang tidak pernah salah. Risa menang tidak mencintai Riko, tidak terasa kini pipinya telah basah oleh air mata yang berjatuhan.
*****
Hari sudah berganti pagi, sang rembulan yang semalam telah setia memeringati bumi, kini akan di gantikan oleh matahari. Tugas mereka berdua sama-sama menerangi bumi, hanya saja berbeda dari segi waktu.
Risa mengerjapkan matanya yang sebenarnya masih sangat mengantuk. Tangan Risa berusaha mengucek kedua bola matanya, setelah kelopak matanya terbuka. Risa menatap jarum jam yang menempel di dinding menunjukan pukul 06:00 WIB.
Risa terpaku pada satu jas yang menempel di bahunya. Manik mata Risa celingak-celinguk menatap sekeliling ruangan ini, kemana Riko? Semalam Riko tidur dimana? Pertanyaan itu terus saja menari-nari di benak Risa. Semalam Risa memang melepas sweaternya untuk menyelimuti ibunya, dan tahu-tahu Riko juga melepas jasnya untuk menyelimuti Risa.
Setelah selesai membangunkan ibu, Haikal, dan Denis Risa bergegas pergi ke toilet sekedar untuk mencuci mukanya, setalah itu Risa kembali lagi ke ruangan ayahnya.
Tidak berselang lama pintu terbuka, munculah sosok Riko yang menenteng plastik makanan. Riko membeli bubur ayam untuk sarapan semuanya. Semuanya mengambil bagiannya masing-masing, begitu pula dengan Risa.
Setelah menghabiskan sarapannya, Haikal pamit pulang terlebih dahulu, karena jarum dari rumah ke sekolah Haikal lumayan memakan waktu.
"Dennis sekolah bu." Tanyanya dengan nada suaranya hampir terdengar lucu.
"Bolos dulu sehari nggak apa-apa kan dek, hari ini ibu harus menemani ayah jadi tidak bisa mengantar Denis ke sekolah." Jawab ibunya.
"Biar Risa aja yang nganter Denis sekolah, jadi hari ini Risa itu kerja. Gampang kok bu, nanti kak Riko yang bicara sama pak boss tempat kerja Risa." Ucap Risa sambil menyenggol lengan Riko.
"Gampang bu, bisa di atur." Riko mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Terus nak Riko gimana? Nak Riko juga harus bekerja kan?" Tanya ibunya Risa.
"Dia mah gamoang bu, kerjaannya bisa di handle oleh managernya. Lagipula dia itu pemilik coffee shop, karyawannya saja banyak. Dia mah tinggal duduk manis sambil memantau kinerjanya karyawannya." Celetuk Risa dengan bibir mencebik, sebenarnya Risa ini sedang meledek Riko yang memang kerjaanya seperti orang yang malas-malasan.
"Oh begitu. Ya sudah, maaf ya nak Riko ibu hari ini agak sedikit merepotkan."
"Sering-sering juga nggak apa-apa bu, jangan sungkan sama calon mantu ibu ini." Riko mengedipkan sebelah matanya pada ibu dan Risa.
Riko sedang mengantar Denis ke toilet, sementara itu sang ibu menarik Risa menjauh sebentar.
"Nak, ibu tahu kamu sebenarnya tidak mencintai nak Riko. Lagi-lagi kamu mengorbankan kan kebahagian kamu demi keluarga, ibu berharap kamu bahagia dunia akhirat nak." Risa sekarang berada dalam dekapan sang ibu, air mata ibunya tumpah membasahi bahu Risa.
Rasa damai dan tenang kini menyusup kedalam hati Risa. Seorang ibu memang tidak pernah salah menilai anak gadisnya.
"Kata siapa aku tidak mencintai kak Riko? Aku itu bukannya tidak mencintainya, tetapi belum mencintainya. Tidak dan belum itu mempunyai artis yang berbeda loh bu. Ibu tenang saja ya, kak Riko merupakan laki-laki yang baik, Risa pasti akan bahagia menjadi istrinya. Soal cinta? Seiring berjalannya waktu dan semakin banyak kita menghabiskan waktu berdua dan terbiasa saling bersama, cinta itu akan muncul dengan perlahan. Ibu tidak usah khawatir, nanti setelah Risa menikah Risa akan menjalankan peran seorang isteri dengan baik kok, akan Risa buktikan bahwa kak Riko beruntung memiliki Risa." Risa menjawab sambil tersenyum, bukan senyum paksaan apa lagi senyum palsu. Kali ini Risa benarkan mengatakan sesuai dengan kondisi hatinya.
Riko mendengar semuanya, ada perasaan hangat, dan tiba-tiba hatinya merasa berbunga-bunga. Riko sangat bahagia mendengar jawaban yang keluar dari mulut Risa.
Setelah itu Risa dan Riko pergi untuk mengantar Denis, Risa juga diminta tolong pada Riko untuk memintakan izin tidak masuk kerja. Sebelum berangkat ke sekolah, Risa pergi ke rumahnya terlebih dahulu. Karena seragam dan pelengkapan sekolah Denis masih ada di rumah. Lalu berangkat ke sekolah Dennis.
"Sekarang mau ke mana? Nggak mungkin kan mau nungguin Denis di sini sampai jam pelajaran Denis berakhir?" Tanya Riko.
"Nggak tahu kemana? Atau kalau nggak anterin aku pulang aja. Setelah itu kak Riko pulang ke coffee shop atau ke apartment, biar nanti aku yang jemput Denis." Kata Risa.
"Jemput pakai apa?" Tanya Riko.
"Yaelah kan ada angkutan umum, kalau nggak ya pakai gojek aja." Risa mendelikkan matanya jengah.
"Jangan deh! Mendingan aku nemenin kamu sa."
"Kenapa? Takut calon istrinya di godain gojek gitu?" Tanya Risa dengan ketus.
Apa katanya barusan?
Calon istrinya?
"Akhirnya, calon istri..." Riko meraih jari jemari Risa, kemudian mengecup mesra jari manis Risa yang tersemat sebuah cincin cantik.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤