
"Pelayan!!!!!" Pak Anggara berteriak-teriak pada pelayan.
Begitu Arka memutuskan sambungan telepon, badan Oma langsung gemetaran, tidak lama kemudian Oma pun ambruk di lantai tak sadarkan diri.
Pak Anggara dan beberapa pelayan membopong badan Oma dan memindahkannya ke ranjangnya. Ada yang memijit kakinya, ada juga yang mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung dan dahinya.
Pak Anggara menitipkan Oma pada pelayan, dirinya langsung pergi bersama pak Jaka menuju kantor Anggara.
Semuanya menjadi panik, bahkan pak Samin pun sempat meneteskan air mata. Jika saja dia tahu akan ada kejadian seperti ini, mungkin dia akan menahan nyonya mudanya untuk pergi tadi sore.
Para pelayan tak henti-hentinya berdoa, semoga nyonya mudanya itu baik-baik saja dan selamat dari marabahaya. Bahkan sampai ada yang terisak-isak, Kalista merupakan nyonya yang baik hati dan tidak sombong, sangat menghargai para pelayannya. Maka dari itu mereka semua bersedih ketika mendengar kabar bahwa nyonya muda di culik.
Mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, mang Jaka melajukan mobilnya sangat cepat. Suasana kantor tampak sepi, karena ini sudah malam dan para karyawan pun telah pulang.
Pak Anggara langsung berlari menuju ruangan Arka, di belakangnya pak Jaka mengikuti langkahnya. Begitu pintu ruangan Arka terbuka, alangkah kagetnya pak Anggara melihat putra sematawayangnya sedang bersedih dan menonjok-nonjok tembok tiada henti.
Tidak lama setelah pak Anggara datang, Riko dan Evan pun sampai di kantor Anggara. Keduanya berlari dengan tergesa-gesa menuju ruangan Arka.
Pak Anggara bergerak maju mendekati Arka. Memegang tangannya agar berhenti menonjok-nonjok tembok.
"Dengarkan ayah! Kamu tidak bisa seperti ini, menonjok-nonjok tembok tidak akan berguna terhadap apapun, lebih baik sekarang kita mencari keberadaan istri kamu."
Arka mulai melunak, matanya sembap. Bagaimana mungkin dirinya bisa begitu tenang, sementara istrinya belum di temukan. Apakah istrinya sudah makan? Apakah istrinya berada di tempat yang nyaman?
"Kuatkan hatimu! Panjatkan do'a pada yang maha kuasa, insyaAllah istrimu selalu berada dalam lindungannya."
Gina menyodorkan segelas air mineral pada Arka, Arka meminumnya sampai habis. Lalu dia menangis kembali di pelukan ayahnya.
Arka menangis?
Bahkan gunung es pun mencair ketika separuh belahan jiwanya menghilang.
"Apa sudah ada yang menelepon polisi?" Tanya pak Anggara.
"Jangan telepon polisi! Sekarang kita berpencar terlebih dahulu mencari Kalista, Arka takut kalau langsung lapor polisi mereka akan mencelakakan Kalista. Arka mau Kalista dan janinnya selamat." Arka berbicara masih dengan terisak-isak.
"Tenang saja, Kalista pasti bakalan ketemu." Riko menepuk bahu Arka, mencoba menenangkan Arka sebisa mungkin.
Mereka semua mulai berpencar mencari keberadaan Kalista, bahkan seluruh bodyguard pun ikut mencari Kalista. Arka menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki kegiatan Marcelino hari ini.
Entah mengapa Arka merasa menghilangnya Kalista berhubungan dengan Marcelino. Arka, pak Anggara, dan Evan menelusuri jalanan kota. Tetapi masih belum ada titik terang.
Ting.. satu pesan masuk ke ponsel Arka. Btw Arka menggunakan ponsel yang satunya lagi ya, soalnya ponsel yang biasa di kenakannya telah di retas.
"Marcelino hari ini tadi jam 10:00 WIB pergi ke kafe, bertemu dengan seorang pria muda dan wanita ini." Terlampir foto Marcelino sedang tertawa bahagia bersama Randy dan Yoora.
"Tetapi setelah itu Marcelino langsung pergi ke kantornya. Jam 16:00 kembali pulang ke kediamannya."
Begitu isi pesan dari mata-matanya, kemudian Arka membalas pesan tersebut, menyuruh mereka untuk tetap mengawasi gerak-gerik Marcelino.
Arka menaruh mata-mata di sekitaran kediaman Marcelino, berharap menemukan titik terang tentang keberadaan Kalista.
Andy, Riko dan Gina mencari di kawasan Utara, semua jalanan telah mereka telusuri tetapi memang masih belum menemukan Kalista. Gina telah berkali-kali turun dari mobil bertanya pada orang-orang yang mereka temui di jalanan.
Dua jam sudah berlalu namun Kalista tetap masih belum di temukan. Arka melamun, tangannya menyeka sisa-sisa air mata yang keluar dari dalam matanya.
Rasa tidak enak yang muncul di pikiran Arka ternyata merupakan sebuah firasat. Arka masih mengingat bagaimana istri tercintanya itu membuatkan sosis bakar keinginannya pagi tadi. Senyum manisnya masih membekas di ingatan Arka.
Mereka semua memutuskan untuk berkumpul kembali di kantor Anggara. Pikiran dan hati Arka terasa kacau, jam menunjukan pukul 21:00 WIB.
Arka keluar dari mobil, langkahnya gontai dan terseok-seok, pikirannya melayang kemana-mana, lalu pikiran itu pun tertuju lagi pada Kalista.
Semuanya tidak ada yang berhasil menemukan Kalista, Arka bahkan keadaannya saja sudah terlihat jelas sangat kacau balau. Rambut acak-acakan, mata yang sembap, kemeja yang telah keluar dari celananya. Sudah tidak ada kesan rapi dari bapak CEO yang super dingin ini.
*Gedung Tua dijalan XX
Keadaan di gedung tua semakin gelap gulita, samar-samar hanya cahaya bulan yang menemani. Ruangan tersebut sangat pengap dan berdebu. Bahkan Kalista kesulitan untuk bernafas, dadanya terasa sesak.
Rangga tak henti-hentinya menikmati cumbuannya pada leher Kalista, ribuan tetesan air mata telah Kalista jatuhkan. Bahkan sekarang Kalista menganggap dirinya sangat kotor, sempat terpikir di benaknya bahwa dirinya sudah tidak pantas lagi untuk menyandang gelar nyonya Arka.
Badan Kalista sudah tidak bertenaga, terakhir kali Kalista makan adalah ketika bersama Arka. Sebenarnya Rangga sudah berkali-kali menyuruh Kalista makan, namun Kalista tidak mau. Bukan karena takut di racun, Rangga sangat mencintai Kalista, mana mungkin dirinya meracuni Kalista.
"Ini jam berapa? Mana suami lu? Dia sama sekali nggak peduli." Rangga membelai lembut pipi Kalista, mengusap rambut Kalista yang sudah berantakan.
Karena sering bergerak, akhirnya tali yang mengikat kaki Kalista terlepas. Kaki Kalista menendang tepat di tubuh bagian bawahnya.
"Arrrrgh! Brengsek!" Rangga meringis kesakitan, kemudian dia balik menendang kaki Kalista.
Sakit?
Rasa sakit itu sudah Kalista rasakan sejak sore tadi, semesta masih belum menunjukan kebaikannya, bahkan suami tercintanya pun belum menyelamatkannya.
*Kantor Anggara.
Arka mengusap wajahnya gusar, pikirannya masih berfokus pada Kalista.
"GPS." Arka berteriak sehingga mereka semua terlonjak kaget, dan menghampirinya.
Arka melacak keberadaan Kalista melalui ponselnya. Arka baru menyadari bahwa dirinya memasang GPS di flatshoes yang Kalista kenakan.
"Kalista ada di jalan XX." Arka bangkit dan merampas kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Mereka semua langsung bangkit, sembari berjalan ke parkiran mereka sempat mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan. Nanti di sana mereka semua akan mengepung gedung tua itu.
Tak lupa pak Anggara langsung menghubungi pihak kepolisian. Polisi datang begitu cepat, polisi mengerahkan 6 anggota kepolisian. Arka berpesan pada bapak polisi agar tidak menghidupkan suara sirine mobil polisi agar tidak memancing kecurigaan.
__ADS_1
Mobil melaju sangat cepat, di tengah perjalanan ada satu mobil yang akan mengarah ke gedung tua itu. Tetapi mobil itu malah menepi dan memberikan ruang untuk rombongan mobil Arka, sahabatnya, bodyguard, dan para kepolisian.
Jalanan menuju gedung tua itu sangat gelap, sangat minim pencahayaan, yang ada hanya sinar rembulan yang remang-remang.
Arka gelisah dalam duduknya, rahangnya mengeras, pikirannya terus menerus berkelana pada Kalista. Arka berjanji pada dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Kalista, maka Arka akan membunuh pelakunya!
Mobil telah sampai, Arka langsung turun dan melangkah dengan tergesa-gesa ke dalam gedung tua itu. Arka menendang pintu sampai pintu terbuka.
Hal yang pertama di lihatnya adalah istrinya sedang terduduk lemas di kursi dengan tangan terikat ke belakang, dan pria di hadapan istrinya itu sedang berusaha menggunting bra yang di kenakan Kalista.
Arka beelari menghampiri, dan langsung menendang Rangga. "Rangga!" Teriakan Arka bergema di gedung tua, tatapannya tajam menusuk pada Rangga. Ubun-ubunnya terasa panas dan bergejolak.
"Brengsek! ********! Keparat!" Arka terus menerus menedang Rangga, hingga Rangga pun jatuh tersungkur karena hilang keseimbangan!
Arka mengangkat tubuh Rangga agar berdiri, Arka mencengkram kerah baju Rangga. "Beg*, gobl*k! Dasar keparat beraninya kau menyakiti istriku." Arka melayangkan bogem mentah pada pipi Rangga. Keluar lah darah segar dari dalam mulutnya.
Kini tangannya terus menerus meninju perut Rangga, Rangga telah babak belur menjadi samsaknya Arka.
Arka bagaikan orang kesetanan dan hilang kendali, akal sehatnya hilang di kalahkan emosi dan hawa nafsunya. Bahkan mungkin jika tidak segera di hentikan Arka pasti akan membunuh Rangga dengan tangannya sendiri.
Yoora menatap ketakutan, diam-diam menyelinap pergi ke arah belakang gedung itu. Berniat melarikan diri, tetapi pihak kepolisian telah menunggunya di belakang dan langsung meringkusnya.
"Udah! Lu bisa membunuhnya, kalau lu di penjara nanti siapa yang akan menemani istri lu lahiran." Andy menahan tangan Arka agar tidak memukul Rangga lagi.
Anggota kepolisian langsung membawa Rangga ke teras depan gedung tua itu.
Arka melepas jasnya, di pakaikannya untuk menutupi tubuh bagian depan Kalista yang bajunya telah di robek oleh Rangga.
Andy melepaskan ikatan tali di tangan Kalista. Arka menangis menatap wanita kesayangannya terkulai lemas tak berdaya. Pipi Kalista lebam-lebam, kakinya biru. Matanya sayu dan sembap, suaranya serak.
"Maaf aku telat." Arka mengusap lembut pipi Kalista, dan mencium puncak kepalanya.
Arka memangku Kalista ala-ala bridal style, begitu Arka keluar dari gedung tua itu para awak media telah menantinya, banyak sekali yang mengambil fotonya.
Beberapa wartawan mengajukan beberapa pertanyaan pada Arka, namun Arka mengabaikannya dan langsung membawa Kalista masuk ke dalam mobilnya.
Kalista duduk di dalam mobil, Arka menitipkannya sebentar pada Gina. Arka menghampiri seorang wanita yang sudah di ringkus oleh pihak kepolisian.
"Plak!" Tamparan ini khusus buat lu yang sudah menculik istri gue. "Plak!" Yang ini untuk menjelaskan pada lu bahwa gue semakin membenci elu! "Plak plak plak plak plak plak! Plak! Plak! " Arka menampar Yoora langsung delapan kali khusus untuk membalaskan rasa sakit Kalista.
Pipi mulus Yoora sudah berubah warna menjadi merah kecoklatan. Tapi, dasar manusia tidak punya hati. Sudah di tampar berkali-kali dirinya masih saja bisa menunjukan senyum sinis dan mentertawakan Arka.
"Sudah biarkan pihak kepolisan yang mengurus! Prioritas utama lu sekarang adalah bini lu!" Ujar Evan sambil menengkan Arka.
"Ayo pulang! Istri lu lemas banget, dia perlu di bawa ke dokter." Sahut Riko.
"Iya, nggak usah ke rs. Gue udah meminta dokter kandungannya datang ke rumah."
Diam-diam dari kejauhan ada yang sedang menyaksikan kejadian ini. Dua orang pria bersembunyi di semak-semak. Dia adalah Marcelino dan Randy. Tadinya dia memang datang kesini karena di kabari Yoora, bahwa Yoora telah berhasil menculik Kalista. Tetapi di perjalan tadi dirinya melihat iring-iringan mobil yang di kawal polisi menuju ke gedung tua ini. Sehingga kini dirinya dan Randy selamat dari kasus ini.
Jika di tanya apakah Arka marah? Tentu! Arka sangat marah, terlebih lagi marah pada dirinya sendiri, karena terlalu lama menyelamatkan istrinya.
Begitu mobil sampai di kediaman Anggara, para pelayan mengucap syukur bahwa nyonya mudanya sudah kembali. Oma yang telah sadar pun langsung menghampiri cucu menantu kesayangannya itu.
"Bersihkan tubuh istri saya!" Arka membaringkan Kalista di ranjangnya. Kemudian dia keluar menuju dapur untuk membuatkan bubur dan susu untuk istrinya.
Sementara itu para pelayan sedang mengelap membersihkan tubuh Kalista. Kalista sama sekali tidak berbicara sedikit pun, pandangan matanya kosong. Para pelayan pun menatapnya sedih, nyonya yang biasanya ceria kini seperti tidak mempunyai gairah lagi untuk tersenyum.
Alphard putih berhenti tepat di kediaman Anggara. Seorang pria dan wanita berpakaian dokter langsung keluar dan berjalan dengan langkah sangat cepat.
"Kalista mana? Dia nggak kenapa-napa kan? Kenapa bisa terjadi penculikan sih? Kamu jagain istri saja nggak becus!" Cerocos dokter Rian yang langsung menghampiri Arka.
"Sorry nih pak dokter, keadaan sedang kalut. Jangan memarahi Arka, dia juga udah berusaha sebaik mungkin menjaga bininya, tapi Tuhan memang telah menuliskan garis takdirnya seperti ini, kita sebagai manusia bisa apa?" Evan mencoba untuk berbicara, agar dokter Rian tidak menyalahkan Arka.
Arka sama sekali tidak menggubris perkataan dokter Rian, karena jauh di lubuk hatinya Arka juga memang menyalahkan dirinya sendiri.
"Udah jangan malah-marah! Yang terpenting sekarang adalah memeriksa kondisi Kalista terlebih dahulu." Ujar dokter Fani.
Mereka semua masuk ke dalam kamar Kalista. Kalista terbaring lemas di ranjang, sudah tidak ada senyum yang biasanya selalu di tampilkan, tatapan matanya kosong lurus menatap ke depan.
"Ta." Dokter Rian memanggilnya lirih, namun tidak ada respon. Telinga seolah tidak mendengar, jiwa raganya seolah tidak berada di sini.
Dokter Fani segera memeriksa kandungan Kalista. "Semuanya normal-normal saja, janinnya hebat! Cuma mungkin batin Kalista sedikit terguncang." Ucap dokter Fani.
"Temani dia dan sesering mungkin ajak berbicara, kejadian ini mungkin membuat dirinya kaget, tapi kita yang berada di dekatnya sebisa mungkin bantu dia untuk melupakan kejadian yang telah di alaminya hari ini!" Imbuhnya lagi.
Dokter Fani memeluk Kalista. "Cepat pulih ya, jangan memikirkan apapun. Ingat di perutmu ada janin yang akan menjadi acuan semangatmu menjalani hidup."
Apakah Kalista merespon pelukan dan ucapan dokter Fani? Tidak! Jangankan berbicara, bergerak sedikit pun tidak.
"Nak sekarang sudah aman. Jangan memikirkan apapun." Kini Oma yang memeluk Kalista dan berusaha menenangkannya.
"Makan dulu ya, kamu belum makan dari siang. Kasian si Dede bayi juga pasti kelaparan." Arka mencoba menyuapi Kalista, namun mulut itu sama sekali tidak terbuka.
Satu tetes air mata kembali lolos dari mata Arka, tatapan mata Arka sendu. Tidak pernah sekali pun terpikir di benaknya akan datangnya hari ini, hari yang sangat menyiksa jiwa raga dan batinnya.
"Aku mohon banget sayang, cobalah makan walaupun sedikit. Yang penting perutmu terisi makanan." Arka menangis sesenggukan sambil menggenggam tangan Kalista.
Semuanya menatap mengiba pada Kalista, kamar yang biasanya hanya ada Arka dan Kalista, kini kamar ini menjadi ramai ada pak Anggara, Oma, dokter Rian, dokter Fani, Evan, Riko, Andy, Gina.
"Kenapa semuanya ngeliatin aku? Kenapa?" Kalista menatap semua orang yang berada di kamarnya, sorotan matanya menatap tajam.
"Kalian jijik sama aku? Iya tahu aku kotor, aku kotor." Kalista berteriak-teriak sambil menjambak rambutnya sendiri, Kalista frustasi terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kalian semua keluar!" Kalista menunjuk-nunjuk semua orang, air mata berderai kembali lagi membasahi pipinya.
Dokter Fani langsung menyuruh semua orang untuk keluar, sekarang dikamar itu hanya ada Arka dan Kalista. Arka kewalahan harus membujuk Kalista dengan cara seperti apa lagi? Hatinya bagaikan hancur berkeping-keping, janjinya untuk selalu menjaga Kalista kini seolah telah sirna.
Gadis cantik yang mengenakan piyama berlari ke masuk ke dalam rumah Anggara. "Kalista mana?" Nafasnya ngos-ngosan, semenjak melihat berita di tv bahwa telah terjadi penculikan dan bahkan percobaan pemerkosaan di jalan XX, namun telah di gagalkan oleh pihak kepolisian.
Tanpa berpikir panjang Tiara langsung naik grab, tanpa mengganti piyamanya terlebih dahulu.
"Nak kamu harapan Oma yang terakhir, kamu satu-satunya sahabat Kalista yang paling dekat. Oma mohon nak, coba bujuk Kalista untuk makan, dan bujuk untuk melupakan kejadian hari ini."
Tiara masuk ke kamar Kalista, di sana Arka cukup kewalahan untuk membujuk Kalista. Arka memberi ruang pada Tiara, dirinya sedikit menjauhkan diri dari Kalista.
"Ta, udah nggak apa-apa ya." Tiara memeluk Kalista, Kalista pun merespon pelukannya. Tangisnya kembali pecah di pelukan sang sahabat.
"Kuat ya ta, janin lu aja kuat banget. Sehat-sehat dong kalian, kasian loh pak Arka sampai menderita melihat keadaan kamu yang seperti ini."
"Gue kotor ra. Gue udah nggak pantas menjadi istrinya Arka." Kalista sesenggukan, otaknya kembali merekam kejadian tadi sore. Betapa buasnya Rangga menikmati lehernya.
"Itu kan bukan maunya lu ta, lagian rasa cinta pak Arka sama sekali tidak menggoyahkan hatinya untuk berpaling dari lu ta, lihat aja walaupun sekarang lu merasa kotor, apakah pak Arka juga menggap lu kotor? Nggak kan?"
"Coba buka kembali hati dan pikiran lu ta, tatap suami lu, betapa hancur dan berantakan hatinya melihat keadaan lu yang seperti ini. Bahkan dia sangat beringas memukul Rangga dan menampar Yoora. Dia seperti itu demi siapa? Demi lu! Lu istri kesayangannya, istri tercintanya!"
Hati Kalista pun melunak, di tatapnya manik mata sang suami. Matanya sama sembap seperti dirinya, keadaannya kacau, bahkan wajahnya saja terlihat sendu dan murung.
Kalista memeluk Arka, tangisnya masih belum berhenti. Arka mengusap punggung Kalista, menenangkannya. Mencium pipinya dan bahkan mencium puncak kepalanya.
"Makan ya!" Ujar Arka.
Kalista mengangguk, Arka dengan telaten segera menyuapkan sesendok demi sesendok bubur, hingga bubur pun hampir habis.
Tiara keluar dari kamar sahabatnya, sejak masuk ke kamar itu Tiara sudah berusaha setegar mungkin untuk menguatkan sahabatnya. Namun ternyata hati memang tidak bisa di bohongi, Tiara pun mempunyai sisi rapuhnya.
"Pak Arka lagi menyuapi Kalista." Ujarnya sambil menyeka air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Alhamdulilah." Semuanya mengucap kata itu, para pelayan bahkan sampai ada yang sujud syukur.
Semuanya nampak lebih tenang, bahkan mereka sekarang berkumpul di ruang tamu.
Semua stasiun tv sedang ramai memberitakan perihal penculikan Kalista. Bahkan hastagnya menjadi trending di Twitter. "Hot news, seorang istri pengusaha muda Arkana William Anggara, nyonya Kalista di culik dan pencobaan pemerkosaan."
"Untuk kesehatan dan pemulihan mental Kalista, besok sebisa mungkin Kalista jangan sampai pegang ponsel dan mengetahui berita-berita mengenai dirinya, kalau bisa televisi pun jauhkan." Ucap dokter Fani.
Arka keluar dari kamar menghampiri dokter Fani.
"Ada nggak sih obat untuk menenangkannya." Tanya Arka.
"Ada. Aku suntikkan pada Kalista ya." Ucapnya.
"Aman kan ke janinnya?"
"Aman, tenang aja!"
Setelah mendapat suntikan penenang dari dokter Fani, Kalista pun tertidur sangat pulas. Deru napasnya terasa berat namun teratur, dahinya berkerut, mungkin beban pikiran masih bersarang di otaknya.
Arka memperhatikannya, diusapnya lembut wajah istrinya yang sedang tertidur itu, di kecupnya perlahan, lalu menyelimutinya agar tubuh istrinya itu tidak kedinginan.
Tanpa sadar Arka pun tertidur lelap di sisinya. Sama seperti Kalista, Arka pun sama berpikir bahwa ini adalah yang sangat melelahkan dalam hidupnya.
Pak Anggara membuka pintu kamar Arka secara perlahan, dilihatnya anak dan menantunya itu sudah tertidur pulas. Arka memeluk Kalista sangat erat.
"Udah pada tidur, kalian silahkan beristirahat! Terimakasih dan maaf. Terimakasih telah membantu anak saya, dan maaf jadi telah merepotkan kalian semua." Ucap pak Anggara.
"Ah nggak apa-apa pak, tolong menolong kan memang kewajiban manusia." Ujar Riko.
Semuanya pun tampak tenang. Oma beranjak dari duduknya, kantuk telah menyerangnya.
"Pak, saya boleh menginap nggak? Ini sudah terlalu larut untuk pulang, lagian saya takut nggak dapat grab." Ujar Tiara malu-malu.
"Boleh, silahkan tidur di kamar tamu manapun, lagi pula menantu saya butuh kamu di sisinya."
"Evan juga nginap ya pak__"
Belum sempat Evan menyelesaikan kalimatnya, tangan Andy lebih dulu merangkulnya.
"Kita kesininya besok lagi aja, nggak usah menginap! Dasar modus! Halalin dulu makanya!" Celetuk Andy.
"Gin, kamu kan perempuan nggak baik juga pulang larut malam, lebih baik kamu menginap saja temani Tiara." Ucap pak Anggara.
"Nah loh karma, nggak bisa balik berduaan kan lu juga haha." Evan meledek Andy.
"Eh sorry sorry aja nih, permisi banget! Calon pengantin mau pulang." Dengan mesranya dokter Rian menggandeng erat tangan dokter Fani.
"Gue yang jomblo bisa apa? Miris! Pamit pulang ya pak, semoga Kalista cepat pulih." Riko menyalami tangan pak Anggara, kemudian pamit pulang.
Rumah menjadi kembali sepi, para sahabat Arka sudah pulang. Hanya ada Tiara dan Gina yang menginap.
Semakin malam semakin sunyi, hanya ada bunyi jangkrik yang terdengar saling bersahutan.
----------------------------------🌻🌻
I'm come back again guys! Tulisan panjang yang sangat menguras otak, hati, dan pikiran. Semoga nanti malam bisa up lagi, do'akan ya hehe😂
Jangan lupa like dan coment yang banyak biar author semakin rajin up!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤