SUN FLOWER

SUN FLOWER
WEEKEND SERU!


__ADS_3

Matahari telah keluar dari tempat persembunyiannya, cahaya nya masuk ke kamar Arka melalui celah gorden. Pasangan suami istri itu masih tertidur pulas di atas ranjang. Selimut tebal masih menyelimuti tubuhnya.


Alarm pun tidak mampu membangunkan pasangan suami istri itu, tangan Arka meraba-raba jam weker diatas nakas, lalu mematikannya.


Rasa lelah dan kantuk masih menguasai Arka dan Kalista, semalam mereka habis menyelesaikan percintaannya. Dua insan yang kelelahan itu sama sekali tidak menghiraukan ketukan pintu sejak tadi pagi.


Arka menggeliat di atas ranjang. Matanya masih terpejam, lalu memeluk Kalista dan tertidur lagi. Jam menunjukan pukul 10:00 WIB, mereka masih belum bangun juga.


Padahal tadi malam, Arka sudah berjanji pada Kalista akan olahraga lari pagi. Soalnya kata dokter Fani Kalista harus sering-sering olahraga.


Lari pagi itu tidak akan terjadi hari ini, karena sekarang aja sudah pukul 10:00 WIB, lari pagi jam segini? Sudah telat, tapi mungkin masih bisa, namanya lari siang.


Ringtone ponsel Arka berbunyi dan cukup memekikkan telinga, mau tak mau Arka bangun dan segera menerima panggilan telepon itu.


"Kami sudah kirim email, silahkan bapak Arka mengeceknya." Ucap seseorang di sebrang telepon, orang itu adalah bodyguard yang Arka sewa untuk menjadi mata-matanya.


"Iya." Jawab Arka datar, lalu memutuskan sambungan telepon itu.


Arka duduk di tepian ranjang, tangannya memijit-mijit pelan pelipisnya. Kepalanya terasa sangat pusing.


Kalista menarik tangan Arka, hingga Arka terjatuh di dekat tubuh istrinya yang hanya berselimut itu. Kalista memeluk Arka, semenjak hamil, Kalista menjadi semakin agresif.


"Sayang sudah jam 10:00 WIB." Ujar Arka yang kini matanya telah terbuka sempurna.


Kalista mendelikkan matanya jengah, kemudian memejamkan kembali kelopak matanya. "Ya terus? Bodoamat ah" ucapnya sambil merubah posisi tidurnya dari telentang menjadi menyamping.


Arka memandang punggung istrinya, senyum seringainya muncul kembali. "Nggak mau bangun ya? Mau coba sekali lagi juga boleh." Diusapnya punggung itu.


"Nggak mau! Cape tahu! Jangan siksa aku dan dede bayi." Ketus Kalista.


"Jangan siksa? Padahal tadi malam jelas-jelas aku yang di siksa, sampai bonyok nih."


Tadi malam Kalista memang agresif sekali, sehingga leher dan dada Arka pun jadi korbannya.


Arka memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, guyuran air terasa sangat segar di tubuhnya. Bahkan Arka merasa ingin sedikit berlama-lama di kamar mandi.


Arka keluar dari kamar mandi, tubuh bagian bawahnya hanya tertutupi handuk. Dada bidangnya terlihat sempurna, ditambah lagi perut kotak-kotaknya sangat menggoda.


Rambutnya basah, air masih bercucuran. Wajahnya terlihat tampan sempurna. Arka bergerak maju, menuju lemari. Biasanya istrinya yang selalu menyiapkan baju untuknya, bahkan pakaian dalam juga selalu di siapkan oleh istrinya. Tetapi tidak untuk hari ini, Kalista masih berbaring di ranjang.


Walaupun berbaring, tetapi mata Kalista sudah tidak terpejam. Semenjak Arka keluar dari kamar mandi, dirinya terus saja menatapnya. Sungguh indah Tuhan menciftakan suaminya dengan paras yang tampan rupawan.


Kalista bahkan sering terhipnotis oleh punggung lebar dan perut kotak-kotaknya. Tubuh suaminya itu sangat menggiurkan kaum hawa.


Ternyata Arka pun memperhatikan Kalista dari pantulan cermin "Kenapa? Aku semakin tampan? Atau mau di temani tidur lagi?" Kini Arka berbalik badan dan berjalan menghampiri istrinya.


Kalista menatap Arka jengah. "Dih dasar suami genit." Kalista menjulurkan lidahnya.


"Biarin genit, kan udah sah." Arka mencolek dagu Kalista, mengusak rambutnya perlahan, lalu mengecup keningnya. "Selamat pagi menjelang siang sayang."


Kalista mendorong badan Arka yang barusan mencium keningnya "Ih aku belum mandi!" Kalista merasa canggung. Suaminya telah ganteng dan rapi sedangkan dirinya masih belum turun dari ranjang.


Hari ini Arka memakai pakaian casualnya, rambutnya masih basah dan bersinar terkena terpaan sinar matahari yang masuk ke kamarnya. Wangi maskulin tercium dari tubuhnya.


Arka duduk di tepian ranjang, kemudian menatap istrinya dengan penuh cinta. "Mau sarapan apa?" Arka mencubit gemas pipi Kalista.


Kalista terdiam sesat, dan berpikir. "Hmmm aku mau roti goreng yang isinya kacang ijo, udah sih itu aja, palingan sama susu bumil." Ujar Kalista santai.


Arka mengambil ponselnya untuk delivery roti goreng isi kacang ijo. "Yaudah aku turun dulu ke dapur." Arka berjalan melangkah keluar kamar.


Di dapur Arka segera menyiapkan susu untuk Kalista, tidak berselang lama roti goreng isi kacang ijonya telah nyampe.


"Kalista nggak turun?" Pak Anggara bertanya seraya duduk di kursi dapur.


"Belum mandi dia! Malah mau sarapan dulu katanya." Ucap Arka yang sibuk memindahkan roti goreng ke dalam piring.


"Oh gitu." Pak Anggara memperhatikan Arka, terdapat noda-noda merah di lehernya. Pak Anggara tersenyum, dia memaklumi biasalah anak muda.


Arka membawakan sarapan untuk istrinya, begitu masuk ke kamar Kalista masih tetap tiduran di ranjang.


"Bangun dulu dong!"


Kalista bangun menjadi terduduk di ranjangnya, selimut tebal di lilitkan ke tubuhnya. Matanya terlihat seperti lelah, mungkin kantuk masih menguasainya.


"Mandi dulu gih, biar segar." Arka menyelipkan beberapa helai rambut Kalista.


"Sarapan dulu!"


Lalu mereka berdua pun sarapan, Kalista sangat menikmati roti gorengnya itu, sesekali Arka menyuapinya. Dan terakhir meneguk habis susu bumil yang telah Arka siapkan.


Setiap kali selesai makan atau pun sarapan, Arka selalu mengelap sudut bibir Kalista. Kalista pernah menolak, namun Arka tidak menanggapinya. Tapi sejujurnya Kalista juga merasa senang dan bahagia di perhatikan oleh Arka.


Kalista melilitkan selimut tebal di tubuhnya, berjalan dengan susah payah menuju kamar mandi. Tepat di pintu kamar mandi Kalista menjatuhkan selimut tebal itu, lalu masuk ke kamar mandi.


Kalista merendam tubuhnya di bathtube, aroma mawar dari sabun membuatnya merasa rileks, nyaman dan terasa sangat menyegarkan. Kalista enggan menyudahi ritual bersih-bersihnya, namun pintu telah berbunyi beberapa kali, diketuk oleh Arka.


"Bawel banget sih!" Kalista melangkah keluar, wajahnya cemberut.


"Aku tuh khawatir, jangan lama-lama di kamar mandi, nanti masuk angin."


Biasanya Kalista yang selalu menyiapkan baju Arka, sekarang malah Arka yang menyiapkan baju untuk Kalista. Dasar laki-laki, menyiapkan baju untuk istri warnanya sangat monoton, dress merah, bahkan semua pakaian dalamnya juga berwarna merah.


Arka susah payah menelan ludahnya, di hadapannya itu istrinya sedang mengenakan pakaian. Tubuh moleknya terlihat sangat sempurna, bahkan Arka enggan berkedip satu detik pun.


"Apa?" Ketus Kalista.


"Ah nggak! Ayo aku bantu keringkan rambutmu."


Kalista duduk di depan cermin, memoleskan make up ke wajahnya. Arka di belakangnya sedang sibuk mengeringkan rambut Kalista.


"Mau ke mana yang? Bibirmu merah merona menggoda dan membangkitkan gairahku." Ujar Arka sambil memeluk leher istrinya dari belakang.


"Tuh lihat wanita cantik yang ada di cermin, itu adalah wanitaku. Orang lain nggak boleh menyentuhnya."


"Posesif."


"Biarin!" Arka mengecup puncak kepala Kalista.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Masuk!"


"Permisi, tuan ada tamu yang mencari tuan dan nyonya." Ujar pelayan.


"Siapa?"


"Maaf tuan saya lupa menanyakan namanya!" Pelayan itu pun tertunduk, malu atas ketidak telitiannya.


Arka langsung menggandeng tangan Kalista, begitu mereka sampai di ruang tamu, ternyata tamu yang di maksud adalah dokter Rian, dokter Fani, dan dokter Reyhan.


"Ngapain sih mereka?" Arka semakin mengeratkan genggamannya.


"Dua laki-laki yang sedang duduk di sofa itu adalah laki-laki yang pernah naksir aku loh! Hihi." Kalista berbisik sambil cekikikan di telinga Arka.


Arka menghentikan langkahnya, memegang bahu Kalista. Kini posisi mereka berhadapan. "Bodoamat! Aku nggak peduli! Yang penting seluruh dunia tahu bahwa kamu istriku! Milikku! Teman hidupku! Ibu dari anak-anakku! Jangan harap laki-laki manapun bisa menyentuhmu atau bahkan merebutmu? Sorry sorry aja nih! Gue nggak bakalan ngasih celah!" Arka berkata tajam dan penuh penekanan! Kemudian mencium pipi Kalista, lalu kembali lagi melanjutkan langkahnya.


"Ngapain sih sampai datang ke rumah?" Ketus Arka dengan tatapan jengah.


Kalista mencubit pelan pinggang Arka, suaminya itu kalau ngomong kadang suka nggak di filter.


"Duh galak banget nih calon bapak!" Dokter Rian terkekeh geli melihat sikap Arka. "Mau ketemu adik nggak boleh?" Imbuhnya lagi.


"Nggak usah di jenguk, toh bukan adik kandung juga kan!" Ujarnya datar, raut wajahnya sama sekali tidak berubah.


"Yaelah masih aja cemburu, kan Kalista udah jadi bini lu! Tenang aja kali kita nggak bakalan merebutnya!" Sahut dokter Reyhan.


Dokter Fani diam dan hanya jadi pendengar setia mengenai perdebatan para cowok di hadapannya itu. Kemudian manik matanya menangkap noda-noda merah di leher Arka, dia pun tersenyum dan "Kalista gerak cepat nih! Leher suamimu berubah jadi macan tutul!"


Arka langsung menghentikan perdebatannya, memeluk istrinya dan menunjukan noda-noda merah itu. "Ini adalah tanda cinta, biasalah bro istri gue emang doyan menggigit." Arka tersenyum menyeringai, kemudian mengedipkan sebelah matanya.


Wajah kalista seketika berubah warna menjadi merah seperti tomat, "Itu sebenarnya__"


"Sebenarnya tadi malam kalian telah melakukannya." Kalimat pelengkap dari dokter Reyhan langsung di sambut gelak tawa oleh mereka semua, tertawa bahkan sampai perutnya terasa sakit.


Karena malu Kalista pun menyembunyikan wajahnya di balik punggung suaminya.


"To the point dong kalian kesini mau ngapain?" Ujar Arka tanpa berbasa-basi.


"Kita kesini mau minta maaf soal kemarin, sorry banget nih kita bohongnya keterlaluan. Awalnya cuma becandaan doang, gue kira lu nggak bakal nurut gitu." Kata dokter Reyhan.


Pelayan datang membawakan membawakan minuman segar dan beberapa cemilan.


"Silahkan diminum tuan-tuan!" Ucapnya sopan sambil meletakkan minuman dan cemilan itu di atas meja, kemudian kembali lagi ke dapur.


"Ah sudahlah! Toh sudah berlalu juga kan!" Ujar Arka dengan sangat santai.


"Eh ada tamu?" Pak Anggara dan Oma muncul dari arah dapur, wajar mereka berdua tidak mengetahui ada tamu, soalnya mereka sedang menikmati secangkir teh di taman belakang.


Dokter Reyhan, dokter Rian, dan dokter Fani langsung bangkit dan menyalami tangan Oma dan pak Anggara. Dokter Reyhan memperkenalkan dirinya, soalnya pak Anggara dan Oma memang belum mengenalinya.


"Nak nanti punya anak banyak yah! Seru nih kaya gini." Ujar Oma, Oma memang selalu menginginkan kehangatan dan keramaian di rumah ini.


"Kalista maunya 4 ma." Kata Arka.


"11 juga boleh ma." Jawab Kalista asal.


Dokter Reyhan pamit undur diri terlebih dahulu, karena walaupun ini weekend dirinya masih tetap ada jadwal di RS.


Mereka semua lalu menikmati cemilannya, sambil mengobrol santai.


Tiba-tiba datang Evan dan Tiara. Arka menatap Evan dengan penuh kemenangan, Tiara tampak canggung di perhatikan oleh mereka semua.


"Kok barengan?" Tanya Kalista, soalnya Kalista tahu perkembangan hubungan Evan dan Kalista.


"Gue baru sampai barusan, tapi lihat dia lagi bengong depan gerbang, yaudah gue suruh masuk. Jadinya barengan deh." Ujar Evan menceritakan yang sejujurnya.


"Bosan di rumah sendirian, dari pagi udah WhatsApp Kalista tapi nggak ada respon, yaudah nekat datang kesini, tapi nggak berani masuk jadi bengong deh depan gerbang." Tiara berkata dengan polosnya.


Oma tersenyum kemudian mempersilahkan Tiara untuk duduk di sampingnya. "Kalau bosan di rumah main aja kesini, nggak usah sungkan ya nak cantik." Oma mengusap lembut rambut Tiara.


Tiara menatap Oma, perempuan yang usianya tidak muda lagi ini sedang memperlakukannya lembut. Tiara bagaikan terkesima, sudah lama sekali maminya tidak memanjakannya, memeluknya, menciumnya, bahkan terakhir kali maminya menyiapkan sarapan saja Tiara sudah lupa.


Evan dan Kalista adalah dua orang yang paling peka. Mereka memperhatikan raut wajah Tiara, Tiara sangat menginginkan kasih sayang dari orang tuanya.


Setelah terdiam beberapa saat, Tiara pun segera mengembalikan fokusnya lagi. "Beneran boleh ma?"


"Iya boleh." Ujar pak Anggara.


"Terimakasih ya Oma dan pak Anggara, sudah berbaik hati mengizinkan Tiara untuk bermain dan berkunjung ke rumah ini." Ucap Tiara.


"Mumpung lagi ngumpul, gimana kalau kita para wanita berperang di dapur, kita memasak untuk pria-pria yang kita cintai ini pasti seru nih!" Kalista memberikan ide yang cukup brilian.


Oma langsung menyetujuinya, sedangkan dokter Fani dan Tiara malah diam seperti sedang melamun.


Dokter Rian menyenggol lengan dokter Fani. "Masak sana!" Ucapnya. Dokter Fani malah memberikan tatapan galak pada dokter Rian.


"Aku nggak bisa masak, bisa sih palingan masak telur dadar atau telur ceplok, masak air sama masak mie instan doang." Fani mengusap wajahnya, malu tidak bisa memasak.


"Aku juga nggak bisa masak, palingan cuma bantu-bantuin Kalista doang. Sekalinya masak kalau nggak gosong ya keasinan." Tiara pun merasa malu berbicara jujur di dekat Evan.


"Kalian tuh wanita-wanita macam apa sih sampai nggak bisa masak? Lihat tuh bini gue udah cakep seksi pintar masak pula. Sempurna." Arka membanggakan istri tercintanya itu.


"Mending sana deh kalian kursus masak sama istri gue! Di jamin kalian langsung bisa masak dan masakan kalian enak."


"Tapi sayang kamu jangan sampai kecapean ya!" Arka hampir saja lupa kalau istrinya itu sedang mengandung.


Kalista, Tiara, Fani, dan Oma pun bergegas ke dapur. Mereka membongkar kulkas terlebih dahulu, mengeluarkan berbagai macam sayuran dari kulkas.


Para pelayan tidak boleh ada yang ikut campur, mereka mau masakannya itu benar-benar murni hasil masakannya sendiri, tanpa ada campur tangan dari orang lain.


Oma memakai apron warna putih dengan motif bunga tulip, Kalista memakai apron warna kuning motif lebah, Tiara memakai apron warna ungu motif hello Kitty, dan Fani memakai apron warna biru motif doraemon. Semua apron itu adalah milik Kalista.


Sebelum mulai memasak, Oma meminta salah satu pelayan untuk mengambil gambar mereka. Dari mulai pose serius, hingga foto ala-ala chef di tv, Oma memegang wajan, Kalista memegang spatula, Fani memegang pisau, dan Tiara memang panci.


Oma sangat bahagia, dari dulu Oma selalu menginginkan punya anak banyak. Namun apa daya? Tuhan hanya mempercayainya untuk mengurus satu anak.


Kalista memasak udang asam pedas kesukaan Arka. Oma memasak ayam rica-rica kesukaan pak Anggara. Oma dan Kalista sudah mulai bertempur, sedangkan dokter Fani dan Tiara masih bengong, sambil melihat-lihat sayuran. Mereka berdua kebingungan mau masak apa?.


"Kenapa bengong?" Kalista menepuk pundak dan Tiara dan Fani bersamaan.

__ADS_1


"Bingung mau masak apa? Lagian nggak tahu kak Evan suka makan apa?" Tiara cengir kuda.


"Orang kalau jatuh cinta, di masakin apa aja juga pasti di makan, asalkan yang masaknya orang terkasihnya." Ucap Oma.


Kalimat Oma mampu membuat otak Tiara bergerak, "Aku mau masak nasi goreng aja." Ujar Tiara.


Mungkin bagi sebagian orang nasi goreng tidaklah spesial dan sangat mudah memasaknya, tapi untuk seseorang yang tidak bisa masak, nasi goreng lumayan cukup sulit.


Tiara sibuk berkutat dengan ponselnya, dia search google bahan-bahan dan cara memasak nasi goreng. Akhirnya Tiara memutuskan membuat nasi goreng dengan sayuran dan telur ceplok.


Dokter Fani pun mengikuti jejak Kalista, search google untuk mencari resep-resep masakan. Scroll scroll scroll hingga jarinya berhenti menarik layar ponsel. Sekarang Fani tahu, dia akan memasak sayur bayam pakai jagung.


Oma dan Kalista telah selesai memasak, maklum kan mereka berdua memang sudah sering dan terbiasa memasak.


"Yah asin." Dokter Fani mencicipi sayur bayam hasil masakannya. Raut wajahnya kecewa, dan dia mengangkat panci akan menumpahkan sayur bayamnya itu.


Oma menghampirinya, dan mengusap lembut punggung Fani. "Jangan di buang, calon suamimu pasti akan memakannya, dia akan menghargai usaha dan kerja keras calon istrinya."


Akhirnya dokter Fani memindahkan sayur bayam ke dalam mangkok, hatinya cukup was-was, antara takut di ledek atau makanannya akan di lepehkan oleh dokter Rian.


Nggak jauh beda dengan dokter Fani, nasi goreng buatan Tiara kemanisan, dan telur ceplok nya kecoklatan alias gosong.


"Udah nggak apa-apa, pria-pria kalian itu akan menghargai usaha kalian. Nanti juga mereka akan mengucapkan kata 'enak' biasanya begitu kan kalau sedang jatuh cinta." Ucap Kalista untuk menenangkan Tiara dan dokter Fani.


Selama para wanita memasak, para pria sibuk bermain catur. Bahkan suara-suara heboh yang mereka ciptakan di ruang tamu sampai terdengar ke dapur.


Pelayan sibuk menata hasil masakan mereka di meja makan. Dan beberapa pelayan lainnya pun sibuk menyiapkan es jeruk segar atas perintah Kalista.


"Ayo makan! The girls telah selesai menyelesaikan challenge memasak untuk para pujaan hati." Kalista langsung menarik tangan Arka untuk mengikutinya.


Di meja makan hasil masakan mereka telah tersusun rapi, sesuai dengan urutan kursinya. Arka duduk di kursi sebelah Kalista, begitupun dengan yang lainnya, mereka pun duduk saling bersebelahan dengan pasangannya masing-masing.


Kalista mengambilkan nasi ke piring Arka, lalu menambahkan udang asam pedas di pipinya.


"Terimakasih istriku." Arka sempat-sempatnya mencium Kalista terlebih dahulu sebelum mencicipi masakan istrinya itu.


Begitu udang asam pedas masuk ke dalam mulut Arka, Arka sampai merem melek menikmati masakan istrinya itu.


"Seperti biasa, masakan istriku selalu wenak!" Arka mengacungkan jempolnya, bibirnya manyun akan mencium Kalista. "Nggak mau, nanti pipi aku bau amis sama panas." Tolak Kalista.


"Masakan ibu juga selalu enak, terimakasih ya bu." Pak Anggara mengunyah makanannya itu.


Dokter Rian dan Evan sama sekali belum mencoba hasil masakan wanita-wanitanya itu.


"Sayang nggak ada niatan buat ngambilin nasi ke piring aku?" Dokter Rian menatap Fani.


Fani tampak malu dan canggung, tapi tetap dia menuruti keinginan calon suaminya. Piring telah terisi nasi dan sayur bayam bercampur jagung.


"Asin." Begitu makanan masuk ke dalam rongga mulut, dokter Rian langsung memejamkan matanya menahan asin.


Tawa Arka hampir meledak, Kalista langsung membungkam mulut Arka.


"Abisin! Enteng banget bang ngomong asin? Asin begitu juga penuh perjuangan masaknya!" Ketus Kalista menatap tajam dokter Rian.


Evan menikmati nasi goreng buatan Tiara. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, tidak ada komentar apapun yang keluar dari mulutnya. Padahal nasi gorengnya kemanisan dan telor ceploknya agak gosong.


"Bro enak?" Kaki Arka menendang kaki Evan.


"Enak banget." Evan masih terus mengunyah nasi goreng miliknya, bahkan sudah hampir habis.


"Iya dong enak, kan ada rasa cinta dan kasih sayang." Ledek Kalista, Tiara hanya diam saja dan mendengarkan.


"Emang kalian udah jadian?" Tanya Arka.


"Tanya Tiara aja." Ucap Evan pelan.


"Ra?" Tanya Tiara.


"Belum!" Jawabnya pelan, tangannya meremas ujung dress nya.


"Jangan mau ra, Evan adalah seorang pemain wanita, pokonya dia tuh laki-laki brengsek!"


Evan menatap Arka tajam, matanya melotot, mungkin bola matanya hampir akan keluar. "Gobl*k lu! Bukannya bantuin gue dapatin hatinya Tiara, lah elu malah jatuhin harkat martabat gue sebagai laki-laki gentle!" Evan merasa jengkel dengan sahabatnya itu.


"Santai bro! Gue becanda doang! Tenang aja dah Evan ini orangnya setia, kemarin putus karena ceweknya selingkuh!" Arka menjelaskan yang sebenarnya.


"Jangan debat di meja makan! Ayo habiskan dulu makanannya!" Tegas Oma.


Mereka semua menghabiskan makanan itu tanpa tersisa, bahkan dokter Rian yang mendapat sayur bayam keasinan pun masih tetap menghabiskan makanannya sampai habis. Para wanita pun ikutan memakan hasil masakannya.


"Alhamdulilah kenyang!" Gumam Evan sambil mengusap perutnya.


"Masak itu bukan sesuatu hal yang gampang, terkadang dalam perjuangan di dalamnya, misalkan kecipratan minyak panas ketika menggoreng daging atau ikan, atau tangan terkana wajah panas, dan lain-lain. Maka dari itu kita sebagai pria harus menghargai masakan para wanita kita, mereka telah berjuang untuk membuat perut kita tidak kelaparan. Jangan lupa ucapkan terimakasih pada wanita terkasih." Jelas pak Anggara.


Mereka semua pun memeluk pasangannya masing-masing, kecuali Evan. Karena Evan dan Tiara belum resmi berpacaran, Evan mengucapkan terimakasih sambil mengusap puncak kepala tiara.


"Weekend kali ini terasa sangat menyenangkan." Ujar dokter Rian.


"Weekend seru!" Kalista.


"Weekend bahagia!" Arka.


"Weekend kenyang!" Pak Anggara.


"Weekend penuh cinta!." Evan.


"Weekend bergembira!" Tiara.


"Weekend belajar masak!" Fani.


"Intinya weekend kebersamaan ,yang sangat seru, penuh cinta, penuh kasih, berbahagia, bergembira dan sangat berkesan." Ujar Oma sambil tersenyum manis.


----------------------------------🌻🌻


Aku nulis panjang lagi nih, cape banget😂


Jangan lupa like dan coment yang banyak biar author semakin rajin up!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2