SUN FLOWER

SUN FLOWER
PRIA ITU 2


__ADS_3

"Pas tadi lu mau bunuh diri, lu mikirin perasaan orang tua lu dulu nggak? Dia rawat lu susah payah dari bayi sampai sesukses sekarang, dan lu malah mau ninggalin mereka hanya karena ulahnya Shafa si wanita murahan itu?" Perkataan Kalista tajam sekali seperti pisau belati yang menancap di hati pria itu.


"Ah shit! Gue beg* banget sih tadi. Mamih papih maafkan kebodohan anakmu ini."


"Waktu kecil lu di ajarin jalan kan, waktu belajar jalan lu terjatuh, disitu lu harus bangkit! Sama hal nya seperti sekarang, kalau lu terpuruk berarti lu harus bangkit! Tunjukan pada Shafa bahwa dia bodoh telah menyia-nyiakan pria sebaik lu!" Kalista menepuk-nepuk pundak pria itu.


"Segala sesuatu hal di dunia ini pasti ada timbal baliknya. Percaya nggak percaya karma itu ada! Lu tunggu tanggal mainnya aja." Lagi-lagi Kalista tersenyum simpul.


"Lu harusnya bersyukur, karena sudah dijauhkan dari wanita kaya ular seperti Shafa. Lu nggak boleh sedih, lu harus bangkit! Dia aja baik-baik tanpa lu! Yakali lu hancur cuma karena wanita sebiji doang! Ingat lu harus jadi pria tangguh!"


"Nah sekarang yang harus lu lakuin adalah blok semua ATM yang udah lu kasih ke Shafa, stop tagihan kartu kredit! Biarin aja tagihannya dia yang bayar, lu udah bukan siapa-siapa nya lagi! Jangan mau biayain hidup dia lagi! Dan satu hal lagi, apartment yang lu kasih atas nama siapa?"


"Atas nama gue lah." Jawab pria itu.


"Good, usir dia apartment lu! Biarkan dia hancur bersama selingkuhannya itu alas teman lu!" Ucap Kalista dengan mata berbinar dan senyum menyeringai.


"Nggak sabar gue pengen lihat Shafa hancur!" Pria itu pun tersenyum menyeringai.


"Kesetiaan itu mahal! Jangan pernah berharap sama orang yang murahan!" Ujar Kalista.


"Iya elu benar!" Pria itu mulai menarik garis bibirnya jadi melengkung.


"Ada jatuh cinta berarti ada juga patah hati! Konsekuensi memang begitu bukan? Siap jatuh cinta berarti siap patah hati! Lu harus ingat ya cepat atau lambat, siap tidak siap, patah hati akan menampar lu dengan tidak sopan dan tanpa permisi." Bibir mungil Kalista masih saja asyik mengeluarkan berbagai kata-kata.


"Lu Dewi cinta ya? Paham banget tentang cinta dan patah hati." Pria itu memandang wajah Kalista, mau tidak mau pria itu harus mengakui bahwa Kalista cantik.


"Gue Dewi cinta? Boleh ngakak nggak sih? Aslinya gue belum pernah pacaran!" Kalista terkekeh, karena dirinya disebut Dewi cinta.


"Serius?" Bola matanya pria itu membulat sempurna mendengar perkataan Kalista.


"Wah gue suka nih tipe-tipe cewe yang masih polos kaya gini." Pria itu mencolek dagu Kalista dengan menaik turunkan alisnya.


"Tapi sayang gue belum mencintai lu, nggak tau kalau bulan depan." Kalista menjulurkan lidahnya.


"Gue mau ceritain kisah hidup gue! Sebenarnya gue nggak pernah ceritain kisah hidup gue ini ke orang lain, gue hanya cerita ke orang-orang terdekat gue aja. Tapi melihat lu patah hati sampai mau bunuh diri, kayanya lu harus tahu deh kisah hidup gue ini, biar lu bisa berpikir lebih jernih bahwa masalah lu lebih kecil dibanding masalah yang udah pernah gue lewati." Ujar Kalista, pria itu tidak banyak membantah! Malah ia segera memfokuskan pendengarannya.

__ADS_1


"5 tahun yang lalu orang tuaku kecelakaan, mobil yang dikendarai ayah hangus terbakar, ayah meninggal di tempat, sedangkan bunda di rawat di RS sampai beberapa bulan, hingga bunda menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itu gue baru berusia 17 tahun dan duduk di bangku SMA kelas 3."


"Setelah kasus kecelakaan itu, tiba-tiba rumah gue disita begitu saja, dengan keterangan orang tua gue banyak hutang. Padahal, saat itu usaha orang tua gue sedang lancar-lancar nya dan bahkan polisi pun menyatakan itu murni kecelakaan, ya walaupun sebenarnya gue nggak percaya kalau itu hanya kecelakaan biasa."


"Gue merasa dunia menjadi gelap, kehidupan gue hancur. Status masih pelajar uang darimana untuk biaya perawatan bunda? Alhamdulilah semesta masih berbaik hati, dokter yang menangani bunda adalah dokter yang murah hati. Dokter itu bernama Rian. Dokter Rian terus mensupport gue agar bangkit dari keterpurukan."


"Berkat support dari dokter Rian, akhirnya gue bangkit kembali. Karena gue udah nggak punya orang tua, mau nggak mau otak gue harus berputar bagaimana caranya gue bisa mengenyam pendidikan tinggi dengan usaha gue sendiri. Ternyata benar usaha tidak akan mengkhianati hasil, gue dapat beasiswa kuliah di Harvard university, bahkan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari selama gue kuliah gue kerja sebagai buruh cuci piring di restoran ternama dekat kampus."


"Selesai kuliah gue kembali ke Indonesia, kerja kerja kerja tiap hari kerja, upah kerja gue pake buat bayar tunggakan biaya perawatan bunda gue. Soalnya waktu itu gue nggak punya penghasilan, beruntung banget pihak RS memberikan keringanan dengan mencicil setelah bekerja."


"Gimana? Complicated banget nggak sih hidup gue? Drama banget kan hehe." Kalista tersenyum simpul, eh tunggu.. mata pria itu berkaca-kaca.


"Lu wanita kuat! Hebat! Gue salut." Tiba-tiba pria itu memeluk erat Kalista.


"Iya gue tau, gue emang hebat." Kata Kalista dengan nada sombongnya.


"Lu berapa tahun sih?" Pria itu memperhatikan raut wajah Kalista.


"22 tahun." Jawab Kalista datar sambil menjejalkan permen kapas ke dalam mulutnya.


"Eh baru nyadar gue, lu masih pake stelan kantor dengan bertelanjang kaki dan masih berkeliaran di jam segini, lu ngapain?" Pria itu menyipitkan matanya.


"Bisa bawel juga ya lu bucin! Tadi sore pas selesai ngantor gue emang belum pulang ke apartment, gue jalan-jalan dulu cari angin, karena kelamaan jalan jadi hells nya gue copot masukin tas, kan pegal kaki gue." Ucap Kalista santai.


"Yakin nih cari angin?"


"Lagi kacau sih gue hehe." Kalista memamerkan deretan gigi putihnya itu.


"Buka mulut lu!" Perintah Kalista, pria itu secara spontan langsung menganga, dan Kalista segera memasukan permen kapas kedalam mulut pria itu.


"Gimana enak kan permen kapasnya? Ini tuh enak banget kalau pas lagi kacau kaya gue, atau pas lagi galau kaya elu." Kata Kalista dengan cengir kudanya.


"Iya enak cil."


"Kenapa panggil gue bocil sih, gue udah dewasa!" Sengit Kalista.

__ADS_1


"Gue lebih dewasa!"


"Yaudah-yaudah terserah elu deh!" Kalista memutar bola matanya dengan jengah.


"Lu harus bisa ubah rasa sakit yang sekarang sedang lu rasakan, rasa sakit itu harus menjadi sumber kekuatan!"


"Jalani semuanya seperti semula disaat Shafa belum hadir di hidup lu, ingat lu pernah baik-baik saja tanpa Shafa!!"


"Tuhan memang tidak menjanjikan langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar. Tapi, ketahuilah bahwa Tuhan selalu memberi pelangi selepas badai. Hidup itu harus banyak bersyukur." Kalista menggenggam erat jemari pria itu, dan tersenyum simpul.


"Jadi gimana? Masih mau loncat ke sungai?" Tanya Kalista.


"Nggak! Terimakasih sudah menjadi pendengar yang baik, terimakasih sudah menceritakan pengalaman hidup. Terimakasih atas semua saran dan nasihatnya, gue bahagia bisa bertemu dengan bocil kaya lu." Pria itu senyumnya menghangat.


"Sama-sama.." Kalista pun tersenyum tak kalah manis.


"Oiya udah malam nih, gue harus pulang. Besok ngantor soalnya." Kalista bangkit dari duduknya.


"Obatin tangan lu dulu yu." Pria itu baru ingat bahwa tangan Kalista terluka.


"Nggak usah deh nanti aja di apartment, oiya lu pulang kemana?" Kalista berbalik tanya.


"Hotel kayanya, nggak mungkin gue ngerepotin sahabat gue, soalnya ini udah larut banget." Pria itu melirik arloji yang melingkar ditangannya.


"Ogitu." Kata Kalista.


"Pake sepatu gue nih! Kaki lu pasti sakit jalan tanpa alas kaki." Si pria telah bersiap akan mencopot sepatunya.


"Nggak usah! Udah sana lu pulang! Istirahat! Jangan sampai otak lu eror lagi, bucin ko nggak ketulungan." Kata Kalista yang langsung disambut gelak tawa oleh pria itu, pria itu pun secara spontan langsung mengusak puncak kepala Kalista.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2