
Ting tong.. Ting tong.. Ting tong..
Suara bell apartment Kalista berbunyi beberapa kali, Kalista masih terlelap dalam tidurnya, mimpi indah enggan membangunkannya.
"Kemana sih Kalista?" Gerutu Tiara yang sudah berada di depan apartment kalista, sudah memencet bel berkali-kali tapi si penghuni tak kunjung membuka pintu.
"Masih terlelap di pulau kapuk nih bocah." Ujar Bima yang mengintip keadaan apart Kalista dari balik jendela.
"Jangan ngintip-ngintip bro, keciduk pak Arka kelar hidup lu!" Bimo memperingatkan Bima agar tidak melakukan hal-hal yang akan membuat Arka murka.
Ini weekend, itulah mengapa sudah siang seperti ini Kalista masih terlelap, mungkin mimpinya sangat indah sehingga matanya tidak mau terbuka, atau mungkin sedang bermimpi makan permen kapas atau sedang makan bakso.
Tiara, Bima dan Bimo sebenarnya sudah punya acaranya masing-masing di weekend ini, tetapi karena perintah dari pak Arka yang sama sekali tidak bisa diganggu gugat, akhirnya mereka merelakan semua kegiatan weekend kali ini. Soalnya kalau menolak perintah dari boss besar itu sangat berbahaya, akibatnya bisa fatal.
Berkali-kali Tiara menggerutu karena sudah lebih dari sepuluh kali memencet bell, tetapi masih belum ada yang membuka pintu juga.
"Terakhir kalinya gue pencet bell, kalau masih nggak bangun juga, gue rela deh di pecat, persetan sama boss besar, bodoamat dah pokonya gue nggak peduli." Cerocos Tiara sambil memencet bell tetapi mulutnya masih terus menggerutu.
"Berisik banget sih, ini weekend woy! Gangguin tidur gue aja lu lu pada." Sewot Kalista yang membuka pintu, lalu menunjukan wajah nggak sukanya.
"Lu pikir gue mau ngelakuin ini? Harusnya sekarang gue lagi jalan sama dia, gegara..." Tiara terpancing emosi dan hampir saja keceplosan.
"Mendadak pms lu ra? Sabar kali lah kau, jangan emosi begitu." Bima menenangkan Tiara yang mulai kesal karena harus menuruti perintah pak Arka.
"Ayo masuk!" Kalista mempersilahkan para sahabatnya untuk masuk.
"Kalem dikit lah, ingat ini perintah pak Arka. Walaupun kita nggak suka, tapi tidak bisa di pungkiri jika ini berhasil gaji kita naik trus dapat bonus pula." Bisik Bimo di telinga Tiara.
"Gaji plus bonus loh ra! Nanti kalau udah cair kita shopping lah." Bima pun ikutan berbisik ditelinga Tiara.
"Gue nggak kekurangan materi, jadi rada malas aja. Beda sih sama kalian kaum anak kost yang makannya pake mie instan diakhir bulan." Cibir Tiara pada Bima dan Bimo.
"Ya Tuhan tolong hamba mu ini sedang di hina! Berilah hamba sedikit rezeki untuk menjadi miliarder!!" Bima menangkat kedua tangannya khas orang sedang berdo'a.
"Amiin" sahut Bimo.
"Bangun dong nggak usah mimpi terus!" Tiara menjitak kepala Bima.
"Ini tuh bukan mimpi, ini harapan dan do'a."
__ADS_1
"Do'a seorang hamba yang teraniaya itu sering dikabulkan loh ra." Celetuk Bimo.
"Recok banget sih, kaya anak ayam nggak di kasih makan." Kalista berkomentar, karena sejak tadi ketiga sahabatnya itu berdebat terus.
Drrrrrrtttt.. drrrrrrt..
Ponsel Bimo bergetar.
"Jangan berisik pokonya! Rangga nelpon gue."
"Hallo."
"Lu dimana Bim?" Tanya Rangga diseberang telpon.
"Gue dirumah, ada apa?" Kalista hendak membuka mulut tetapi mulutnya berhasil di bekap oleh Tiara.
"Gue pengen ngumpul sama kalian."
"Ah sorry ga, hari ini gue ada acara. Si Tiara juga kemarin bilangnya ada acara sama temannya." Sebenarnya Bima nggak enak berbohong pada Rangga, tapi apalah daya.. ah sudahlah.
"Oh gitu, yaudah deh lain kali aja. Sorry bro udah ganggu." Rangga langsung memutuskan sambungan telpon. Bimo kini bisa bernafas lega, karena tidak ingin berlama-lama berbohong.
"Intinya ceritanya panjang, mandi gih! Gue mau bawa lu ke suatu tempat, cepat pokonya waktunya udah mepet banget. Tiara langsung mendorong Kalista masuk ke kamar mandi.
Kalista sedang mandi, Tiara, Bima dan Bimo duduk di sopa. Mereka berpakaian rapih, Bima dan Bimo memakai batik yang senada cuma berbeda corak, sedangkan Tiara memakai dress seperti akan kondangan.
Ketika Kalista selesai mandi, Tiara menyerahkan paper bag yang berisi gaun cantik. Awalnya Kalista menolak, karena menurutnya ini sedikit janggal. Setelah perdebatan panjang, dan Tiara mengatakan bahwa Tiara akan membawa Kalista ke wedding party saudaranya di kota B, akhirnya kini Kalista mengenakan gaun yang di berikan oleh Tiara. Sebenarnya, gaun itu telah di siapkan oleh Arka.
Kalista ber-make up agak beda dari biasanya, karena Kalista tidak ingin mengecewakan Tiara dengan penampilan yang seadanya di acara nanti.
Mereka lalu berangkat ke kota B, semobil berempat. Selama perjalan mereka sibuk bersenda gurau. Kalista tampak bahagia sekali dengan celotehan para sahabatnya ini. Kalista sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnya hari ini tuh dirinya lah yang menjadi pemeran utama.
Setelah 2 jam perjalanan, kini mereka telah sampai di kota B. Kalista tertegun, karena yang mereka datangi adalah taman yang sering ia kunjungi ketika kecil. Tiba-tiba Kalista teringat pada Willi. Taman tersebut sudah di sulap menjadi taman yang cantik, banyak bunga yang menghiasinya, bunga yang berwarna kuning lah yang sangat dominan.
Namun, Kalista merah aneh. Katanya, wedding party tapi cuma tersedia sekitar 11 kursi, dan satu kursi yang bentuknya cantik seperti kursi pelaminan.
Ketika Kalista melangkahkan kakinya menuju taman itu, Kalista tak henti-hentinya bertanya pada Tiara. Karena Kalista memakai gaun berwarna hitam, sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih. Tiba-tiba beberapa orang yang memegang kamera, mengambil foto Kalista dengan berbagai pose Kalista yang sedang berjalan.
Kalista semakin di buat bingung, ketika Tiara mengarahkannya untuk duduk di kursi yang seperti kursi pelaminan itu. Kemudian Tiara, Bima dan Bimo duduk di kursi yang berada di hadapan Kalista, tidak lama kemudian duduklah dokter Rian dan dokter Fani, entahlah mereka datang darimana dan mau ngapain?
__ADS_1
Lalu munculah Evan, Andy, dan Riko, belum hilang rasa bingung Kalista, tiba-tiba kini pak Anggara dan Oma pun nampak disana. Semua kursi telah terduduki oleh mereka semua dan satu supir pak Anggara.
Kalista berdiri akan menghampiri Tiara dan bertanya sebenarnya ini acara apa? Namun tiba-tiba "Kepada nona Kalista dipersilahkan duduk kembali." Mata Kalista celingukan mencari sumber suara, oh my God ternyata itu suara mba mc. Ada mc segala? Kalista semakin tidak habis pikir.
Mereka yang duduk di kursi di hadapan Kalista, semuanya tersenyum tatkala Kalista menatap mereka. Terutama Oma, senyum omah sangat sumringah, Kalista bisa melihat aura kebahagian yang terpancar di mata Oma. Semuanya mengenakan batik, tampak rapi sekali.
Tiba-tiba seorang pria duduk di sebelah Kalista. Pria itu memakai jas yang senada dengan gaun Kalista. Kalista semakin diam membisu ketika mengetahui pria itu adalah Arka.
Para fotografer segera memotret mereka dengan pose yang alami, Arka tersenyum pada Kalista. "Nggak usah tegang ya, santai aja." Arka mengusap punggung tangan Kalista.
"17 tahun yang lalu, waktu gue masih anak-anak berusia 10 tahun, gue sering banget main ke taman ini. Taman ini adalah sebuah tempat ternyaman buat gue kala itu." Arka tersenyum melirik Kalista.
"Kehidupan gue waktu kecil tidak seperti kehidupan anak-anak normal pada umumnya. Di usia gue yang masih kecil itu, gue harus merasakan dan mengalami apa itu yang namanya broken home. Wanita yang seharusnya gue sebut mama itu, sering banget mukul gue. Hampir setiap hari gue di pukul mama. Mama gue gila harta, wanita matre! Sedangkan ayah pada saat itu profesinya hanya karyawan biasa. Hal itu lah yang membuat mama gelap mata, dan berselingkuh terang-terangan dengan pria kaya. Mama berkelakuan seperti binatang, melakukan hal dewasa di depan gue, benar-benar kelakuan binatang. Trauma akan perlakuan mama ke gue waktu kecil, hingga kini setiap malam gue selalu bermimpi buruk tentang itu." Mata Kalista terasa panas dan sudah berkaca-kaca ketika mendengar kisah masa kecil Arka.
"Gue nggak pernah ngerasain kasih sayang seorang mama, bahkan mama meluk gue pun enggan. Miris banget kan hidup gue? Ketika gue merasa sedih dengan keadaan orang tua gue yang sedang berada diambang kehancuran dan kacau balau, lalu di taman ini lah senyum gue kembali lagi. 17 tahun yang lalu gue bertemu dengan gadis kecil bernama bunga. Gadis kecil itu dengan polosnya berkata "Aku akan menyayangi Kaka, jadi kalau lagi sedih Kaka bisa cerita sama aku" pada saat itu gue seperti mendapatkan cahaya kehidupan lagi." Kini Kalista telah menumpahkan cairan bening yang berada di pelupuk matanya, dirinya kaget mendengar pernyataan Arka barusan. Mereka semua yang sedang duduk pun ikut terbawa suasana.
"Berkat si gadis kecil itu lah gue yang selalu merana dan dirundung kesedihan akibat ulah mama, jadi bisa tersenyum kembali. Berhari-hari sering bermain di taman dengan dik bunga, hingga pada suatu hari ayah dan mama cerai, sehingga gue balik ke Jakarta ikut ayah untuk tinggal kembali bersama Oma, tapi yang gue sesali adalah gue nggak sempat pamitan pada si gadis kecil."
"Selama ini gue selalu ingin tahu keberadaan gadis kecil itu, gimana kehidupannya sekarang? Jujur gue kangen sama bunga. Padahal selama ini orang yang gue cari selalu berada di dekat gue, bahkan menjadi sekretaris pribadi gue. Takdir tuhan walaupun berlika-liku juga tetap indah ya." Kalista semakin deras menumpahkan air matanya, kini Arka menggenggam jemari Kalista.
"Kalau waktu bisa di putar, gue ingin meminta kepada semesta untuk di pertemukan dengan bunga, ketika bunga berusia 17 tahun. Gue udah cari tahu semuanya tentang kehidupan lu, dan lu adalah wanita hebat yang bisa melalui kehidupan dengan baik 5 tahun belakangan ini. Wanita yang tangguh dengan segala keadaan yang menghimpitnya." Arka memeluk Kalista dengan mata yang berkaca-kaca, Kalista membalas pelukan Arka semakin erat.
"Ta, ini gue Willi. Kaka masa kecil lu yang selalu lu bangga-banggain depan gue, yang selalu lu banding-bandingkan dengan gue. Mulai sekarang nggak usah banding-bandingkan Arka dengan Willi ya! Karena Arka dan Willi adalah orang yang sama."
Arka masih memeluk erat Kalista. Fotografer? Nggak usah ditanya, mereka sedari tadi juga sibuk terus memotret Kalista dan Arka. Sedangkan Tiara, Bima dan Bimo shock mendengar pengakuan pak Arka bahwa dirinya adalah Willi yang selalu Kalista cari. Dokter Rian dan dokter Fani berkaca-kaca terharu. Pak Anggara, Oma, Evan, Andy dan Riko mereka semua tersenyum bahagia.
"Nah waktu kecil gue pernah iseng ngajakin bunga buat jadi pacar gue, tapi kata bunga kalau udah jadi pacar bunga mau nikah sama ka Willi, mau jadi istrinya ka Willi." Sekarang muka Kalista merah padam, mengingat ucapannya waktu kecil itu.
"Dulu waktu kecil gue emang iseng, perkataan itu nggak serius. Sekarang gue udah besar, gue mau berkomitmen dengan ucapan gue, gue mau jadi laki-laki yang bertanggung jawab."
Kini Arka berjongkok di hadapan Kalista, dan merogoh sesuatu di saku jasnya.
"Kalista, Will you marry me?"
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤