
"Aku lapar." Kalista tersenyum memperlihatkan barisan gigi putihnya, tangannya sibuk mengusap perut buncitnya.
"Mau makan apa?" Tanya Arka sambil terus menggenggam tangan Kalista.
"Cheesy potato rosty, Udang havermut cabe bawang, pudding cokelat, minumannya jus kiwi." Saat ini Kalista sangat ingin memakan makanan tersebut, lagi pula dengan kondisinya yang seperti sekarang ini, Arka pasti akan menuruti semua keinginan Kalista. Bukannya Kalista ingin memanfaatkan situasi, tapi memang pada faktanya Arka yang bersalah dalam hal ini.
"Delivery kali ya." Arka mengusak puncak kepala Kalista, tangannya meraih ponsel di atas nakas. Lalu memesan makanan yang Kalista mau.
"Aku ke dapur dulu." Arka bangkit, bahkan sudah sesiang ini saja kepalanya masih terasa berat dan pusing. "Minum berapa banyak sih gue tadi malam." Gumamnya dalam hati.
Arka membuka kulkas, mengambil sekotak susu lalu menuangkannya pada gelas. Meneguknya sampai habis satu gelas.
"Ah sial, masih berat dan pusing aja kepala gue." Arka memukul-mukul pelan kepalanya, kemudian memijit pelan dahinya.
"Abis berapa botol bro!" Andy menepuk pundak Arka, kemudian ikut duduk di kursi sebelah Arka di dapur.
Arka menoleh sekilas, kemudian memalingkan wajahnya, lalu menoleh lagi. "Andy." Arka memekik kaget, kembali lagi menatap Andy, kini tatapannya sangat intens dan menelisik.
Wajah Andy biru-biru, penuh luka lebam. Sama seperti wajahnya sekarang, namun bedanya muka Arka sedikit bonyok dan luka lebamnya pun tidak banyak, karena di pukul pak Anggara, sedangkan Andy luka lebamnya agak parah dan itu di pukul olehnya.
"Sorry." Arka masih menatap wajah Andy, wajah itu di hajar oleh Arka tadi malam. Padahal Andy sudah sangat berjasa, mencari Arka kesana-kemari, menjemputnya di club malam, dan bahkan sampai melerai adu mulut Arka dan Kalista.
"Enteng banget bro! Sorry doang! Nggak lihat apa ni muka gue bonyok parah, sakit loh gue." Andy menatap Arka jengah.
"Yaudah lu mau apa? Orang BU kaya lu mah palingan maunya naik gaji, mau berapa lipat?" Arka masih berusaha meneguk kembali susu yang baru saja di tuang ke dalam gelas.
"Nah setuju! Terserah lu aja berapa, yang penting lu ada niat kompensasi gitu loh." Andy terkekeh sambil merangkul pundak Arka.
"Lu kalau mau makan cari aja di meja makan, kalau mau di buatin makanan apa gitu bilang aja sama pelayan nanti mereka masakin." Ucap Arka.
"Gue udah makan kok! Bokap lu memberikan jaminan kenyamanan di rumah ini, karena kinerja gue bagus bro! Keren kan gue bisa nemuin lu di club malam, malahan ikut baku hantam juga sama lu." Andy tersenyum mengejek.
"Seru juga sih tadi malam gue nonton live streaming baku hantam pendiri perusahaan Anggara dengan anak satu-satunya yang sekarang menjadi CEO dari perusahaan itu sendiri. Kalau gue videoin udah viral tingkat internasional mencakup dunia tuh." Andy terkekeh sambil memegangi perutnya karena sakit da geli kebanyakan tertawa.
"Gue lagi di pukul sama bokap, lu senang? Gila bro lu nggak waras." Arka mendelikkan matanya kesal.
"Gue nggak waras? Lantas apa kabar seorang CEO yang menampar istrinya? Bahkan sampai mendorong istrinya hampir terjatuh, padahal kondisinya lagi mengandung. Ngeriiiiiii sumpah, nggak nyangka lu sejahat itu." Andy meninju pelan perut Arka.
"Itu kan gue di bawah pengaruh alkohol, gila kali kalau gue sadar nggak mungkin gue kaya gitu, lagian kan lu tahu lah cinta gue sama Kalista tuh kaya gimana?" Jawab Arka.
"Cinta? Apaan tuh cinta? Salah aja nggak merasa bersalah, istri cuek malah di biarin. Kalau nggak paham dimana letak kesalahan yang lu perbuat, minimal tegur lah biar problem cepat kelar! Lu punya mulut pajangan doang gitu ya?" Cibir Andy.
Karena Andy tahu Arka orangnya sangat keras kepala dan jarang mau mendengarkan nasihat dari orang lain kecuali dari pak Anggara, Oma, dan Kalista. Mumpung sekarang lagi kaya gini, Andy pun memberanikan diri memberikan beberapa petuah.
"Gue masih heran sama diri gue sendiri, kemarin-kemarin akal sehat gue kemana? Gue kaya lepas kendali, ini tuh kaya bukan gue! Kaya ada sesuatu di badan gue." Arka berbincang dengan Andy sambil menahan rasa sakit di kepalanya karena kebanyakan minum.
"Ada setan iblis di diri lu! Ruqyah gih ke orang pintar!" Andy menyikut lengan Arka sambil tertawa terbahak-bahak, Andy merasa lucu dengan pernyataan Arka.
"Tuan, ini makanan yang tuan delivery." Pelayan membawakan beberapa bungkusan makanan di tangannya, dan meletakkannya diatas meja di depan Arka.
"Terimakasih bi." Arka tersenyum.
Arka mengambil piring dan sendok, menuangkan makanan kedalam piring, menatanya serapi mungkin agar makanan tidak terlihat berantakan.
"Mau? Pesan sendiri aja nanti gue yang bayarin. Soalnya ini pesannya bini gue." Arka berjalan menuju kamarnya, di tangannya terdapat baki yang isinya tidak lain adalah makanan dan jus pesanan Kalista.
"Gue nggak mau! Disini juga banyak makanan enak kok."
Suara Andy tidak terdengar jelas, langkah kaki Arka sudah semakin menjauh. Tiba-tiba Arka teringat sesuatu. "Hubungi Gina, handle semua pekerjaan kantor" Arka membalikkan badannya sekilas kemudian membuka pintu kamarnya.
"Oke!" Jawab Andy singkat, tangannya mengeluarkan benda berbentuk pipih yang tidak lain adalah ponsel. Kali ini Andy tidak akan chat via WhatsApp, tapi Andy akan menelpon karena alasan pekerjaan, aslinya sambil modus karena kangen dan ingin mendengar suara Gina.
Ketika pintu terbuka, Arka melihat Kalista sedang mengusap kumpulan cairan bening yang terkumpul di pelupuk matanya. Arka meletakkan baki diatas meja kecil di sudut kamar, kemudian menghampiri Kalista. "Ada yang sakit?" Arka mengusap pelan rambut Kalista, hatinya merasa resah dan gelisah melihat mata sendu milik istrinya.
Tidak ada jawaban, Kalista hanya menggelengkan kepalanya saja. Namun matanya masih terus berkaca-kaca, jika berkedip sekalipun air bening itu pasti terjatuh.
"Ada apa? Coba bilang, jangan bikin aku khawatir sayang." Arka berkata dengan sangat lembut, manik matanya kini menatap tajam mata istrinya.
"Kaki aku jelek, udah nggak mulus lagi, pasti kamu bakalan jijik dan nggak suka, pasti kamu bakalan cari wanita lain yang lebih cantik, lebih mulus." Suaranya bergetar, Kalista sesenggukan takut Arka akan meninggalkannya.
Arka menggenggam erat jemari Kalista, menatap Kalista intens, tersenyum menatap istrinya. "Maaf, ini semua salah aku." Pandangan Arka menyendu. "Tapi, sampai kapanpun aku nggak bakalan tinggalin kamu, nggak bakalan selingkuh. Kamu takut kaki kamu nggak mulus lagi? Tenang aja sayang aku bakalan cari dokter kulit terbaik untuk memuluskan kembali kaki kamu." Arka mengecup kening Kalista.
"Seandainya tadi malam aku nggak mabuk, ini semua nggak bakalan terjadi." Arka sangat merasa bersalah, emosinya tadi malam benar-benar di luar kendali, seperti ada setan yang bersarang di tubuhnya.
"Udah nggak apa-apa, aku dan dede laper banget nih." Kalista berusaha tersenyum, walaupun sekarang kakinya sedang ngilu. Luka-luka akibat tertusuk beling pecahan guci itu terasa sangat perih terkena obat merah.
__ADS_1
Arka dengan sangat telaten menyuapi Kalista, sesuap demi sesuap makanan itu masuk ke dalam mulut Kalista. Kalista juga menyuruh Arka makan, karena Kalista tahu Arka belum makan. Tadi pagi hanya sarapan sedikit, setelahnya keduanya malah terlelap tidur.
"Enak banget kan menu pesanan ku?" Kalista berbicara, namun kalimatnya tidak terdengar fasih, karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Biasa aja!" Jawab Arka singkat.
Kalista memicingkan matanya, menatap Arka tanpa berkedip sepersekian detik. "Biasa saja? Wah parah! Lidah kamu kayanya mati rasa deh." Cerocos Kalista dengan tatapan matanya yang masih sulit untuk diartikan.
"Lidahku normal! Tapi emang makanan ini tuh biasa saja! Makanan yang paling enak versi aku tuh masakan Oma dan masakan kamu! Makanan apapun akan terasa sangat lezat dan nikmat jika ada campur tangan Oma dan istriku tercinta." Senyum itu mengembang di pipinya, tangan Arka mencubit pelan hidung Kalista.
"Masa?" Tanya Kalista pura-pura tidak percaya, namun senyum sumringah yang menghiasi wajahnya sama sekali tidak bisa di sembunyikan.
"Swear yang! Nanti kalau kamu udah sembuh tolong buatin aku redvelvet ya." Pinta Arka.
"Oke." Jawab Kalista yang langsung saja memeluk Arka.
Sementara di luar gerbang, terdengar bunyi klakson mobil. Tetapi pak satpam tidak membukakan pintu gerbang.
"Pak, kenapa gerbangnya nggak di buka?" Tanya Evan yang baru saja keluar dari mobil.
Pak satpam yang lagi celingak-celinguk pun tersenyum melihat Evan. "Sebentar ya, saya lapor dulu." Ujarnya, pak satpam langsung masuk tergesa-gesa ke dalam rumah.
"Apa-apaan sih? Kaya nggak kenal muka kita aja, pakai lapor dulu segala. Dikira gue ******* apa ya?" Cerocos Evan yang langsung masuk kedalam mobil.
"Kenapa bro?" Riko memicingkan matanya.
"Tamu wajib lapor 24 jam!" Jawab Evan datar, tangannya memukul-mukul stir.
"Permisi tuan, di depan ada teman-temannya tuan muda, apakah di izinkan masuk?" Tanya pak satpam.
Pak Anggara yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran, mendongakkan kepalanya. "Siapa pak?" Tanyanya sambil memicingkan matanya.
"Saya tidak tahu namanya, tapi saya ingat wajahnya. Mereka sering berkunjung ke sini." Ucap pak satpam.
"Kasih masuk!"
Pak Anggara memang memerintahkan pak satpam untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke kawasan rumahnya. Kondisi saat ini sedang tidak memungkinkan, akan sangat berbahaya jika ada yang melihat kondisi Kalista. Apalagi kalau mereka tahu Kalista seperti itu karena ulah Arka, sudah bisa di pastikan karir Arka di dunia bisnis akan merosot. Mungkin para investor akan menarik kembali sahamnya, dan pastinya juga akan ada beberapa rekan bisnis yang membatalkan kerjasama bisnisnya. Maka dari itu pak Anggara membatasi jumlah tamu yang berkunjung ke rumahnya, atau lebih tepatnya sih tidak menerima tamu selain kerabat, dan teman dekatnya Arka ataupun Kalista.
Dan pak Anggara pun yakin, yang berkunjung ke rumahnya sekarang pasti Evan dan Riko. Karena cuma mereka saja teman dekat Arka yang bebas masuk ke kediaman Anggara. Dan Andy juga tentunya, tetapi kan hari ini Andy memang berada di rumah ini.
Mobil mulai melaju dan terparkir telat di halaman utama kediaman Anggara. Evan dan Riko segera turun dan memencet bell.
Pintu terbuka, pelayan tersenyum ramah. "Silahkan masuk tuan." Ujarnya, kemudian menutup pintu dan berlalu ke arah dapur.
"Selamat siang om." Sapa Evan yang melihat pak Anggara sedang membaca koran di ruang tamu.
"Siang." Jawab pak Anggara.
Evan dan Riko pun langsung menyalami tangan pak Anggara, kemudian di persilahkan duduk di sofa. Pak Anggara bangkit dan undur diri, katanya ada beberapa kerjaan yang memang harus di kerjakan di ruang baca, ruangan miliknya.
"Woy kampret ngapain lu pada kesini?" Andy dengan sangat santainya menghampiri Evan dan Riko.
Evan dan Riko menatapnya penuh tanya. Disiang bolong kaya gini Andy ada di kediaman Anggara, mukanya biru-biru luka lebam, jalannya agak tertatih-tatih. Menggunakan kaos hitam dan celana boxer.
"Kenapa? Siapa yang ngehajar lu? Bilang! Gue mau hajar balik." Evan berkata dengan lantang, tangannya mengguncangkan bahu Andy.
"Ceritanya panjang! Nggak bakalan selesai kalau gue ceritain sekarang." Ujar Andy.
"Mau lihat yang lebih parah! Ayo!" Andy bangun dari duduknya, dan membawa Evan dan Riko berjalan menuju kamar Arka.
"Arka kenapa? Feeling gue nggak enak nih!" Saut Riko. "Arka lebih parah? Gue bunuh yang nyelakain sahabat-sahabat gue!" Napasnya agak berat dan gusar, emosi mulai muncul di didirinya.
Andy hanya menanggapinya dengan senyum simpul, Evan dan Riko benar-benar mengira Arka dalam kondisi parah, padahal yang kondisinya parah adalah Kalista.
"Lu nggak apa-apa?" Evan langsung merangkul bahu Arka.
Padahal saat itu Arka dan Kalista baru selesai makan, bahkan tangan Arka masih sibuk mengelap sisa-sisa makanan di sudut bibir Kalista.
"Gue nggak apa-apa woy! Ganggu aja lu lu pada! Nggak sopan banget woy masuk kamar gue tanpa izin, tanpa permisi, tanpa ngetik pintu! Oh my God, gimana coba kalau gue lagi ena-ena." Arka menghempaskan tangan Evan dengan kasar.
"Pikiranmu tuh kearah situ mulu! Dasar mesum." Kalista menoyor kepala Arka pelan.
"Normal sayang! Lagian kan aku mesum juga punya kamu yang udah halal, jadi no problem! Kalau mereka mesum, itu nggak boleh! Percuma kan mesum juga, jomblo!" Ledek Arka sambil menunjuk Evan, Andy, dan Riko.
"Gue ada Tiara woy!" Jawab evan.
__ADS_1
"Gue juga ada Gina!" Jawab Andy tak mau kalah.
"Oke-oke, gue jomblo ngenes!" Riko berkata dengan jengah.
Semuanya tertawa mentertawakan Riko, tetapi juga mendoakan Riko agar segera di pertemukan dengan jodohnya. Tetapi merdeka tidak sadar, bahwa mereka pun belum tentu berjodoh dengan para gadis yang mereka mau.
"Btw! Kenapa lu juga bonyok?" Evan menatap, mdneliksik, dan menyelidiki setiap inci luka-luka lebam di wajah Arka.
"Kalista kenapa kakinya di perban? Terus kakinya juga bengkak?" Riko pun ikut bersuara karena melihat Kalista hanya berbaring di ranjang dengan berselonjor kaki. Apalagi hari ini Kalista menggunakan dress rumahan yang panjangnya hanya sebatas lutut, jadi luka di kaki itu terlihat cukup jelas.
"Ceritanya pan...,"
"Gue punya waktu buat mendengarkan cerita lu!" Evan langsung memotong ucapan Arka, Evan merasa tidak puas dengan jawaban Arka yang sama seperti jawaban Andy.
"Gue tadi malam pergi ke club! Minum banyak sampai mabuk, di jemput paksa oleh Andy atas perintah bokap gue! Terus gitu deh namanya orang mabuk kan nggak sadar, lepas kendali, gue ngamuk-ngamuk pas sampai rumah." Arka menjeda dulu kalimatnya, jujur Arka sangat bergetar hatinya ketika mengingat kejadian itu. Apalagi saat tadi pagi dirinya melihat rekaman cctvnya.
"Gue nggak sanggup cerita." Bola mata Arka memanas, cairan telah berkumpul di pelupuk matanya. Arka menunduk dan berusaha menahan laju air mata yang memaksa ingin keluar.
Kalista merangkul Arka, menariknya ke pelukannya. Menghapus air bening itu, mengusap rambutnya lembut.
Evan dan Riko melayangkan tatapan penuh tanya, mereka berdua bingung sebenarnya apa yang telah terjadi tadi malam? Kenapa Arka tidak sanggup menceritakannya? Bahkan Arka sampai menangis ketika di suruh bercerita.
Andy tanpa banyak omong langsung menyuruh pelayan untuk membawa laptop dan memperlihatkan rekaman cctv tadi malam. Evan dan Riko menonton tanpa berkedip bahkan berkali-kali mulutnya ingin melontarkan kata-kata kasar untuk memaki Arka, namun mereka urungkan. Karena mereka juga tahu bahwa Arka berkelakuan seperti itu pengaruh dari minuman alkohol dan sama sekali tidak sadar. Walaupun pada intinya Arka tetap salah.
"Ngeri sumpah! Bayangin kalau Kalista jatuh pas di dorong Arka? Keguguran tuh janin." Bisik Riko di telinga Evan, suaranya lumayan cukup keras sehingga terdengar oleh Andy. Bahkan mungkin Arka dan Kalista juga mendengar.
Andy langsung memukul kepala Riko. "Mulut lu! Gue simpel kaos kaki nih!"
"Sorry!" Jawab Riko singkat.
"Sekarang lu lihat pipi istri lu yang biru luka lebam karena di tampar oleh telapak tangan lu, lihat kaki istri lu yang penuh perban karena terluka dan mengeluarkan banyak darah akibat pecahan beling guci yang lu tendang. Yang ada di hadapan lu itu istri lu! Istri yang dengan gampangnya bisa rela dan ikhlas memaafkan, menerima lu kembali dengan segala kesungguhan dan ketabahan hatinya. Istri yang cantiknya luar biasa, pintar di bidang akademik, pintar masak, pintar beres-beres rumah, pintar ini dan itu, mungkin bukan hanya pintar tapi cerdas. Wonder women yang multitalenta di segala bidang. Walaupun keadaan nyawanya dan nyawa janin di perutnya sudah berada di ujung tanduk tadi malam, tapi dia dengan sepenuh hatinya bisa memaafkan dan menerima lu kembali untuk terus menjadi suaminya, suami yang seharusnya menyayanginya, mencintainya, melindunginya dari berbagai macam marabahaya. Wanita cantik dan masih muda kaya gini tuh banyak di incar para laki-laki, apalagi Kalista babyface banget. Jangan di sia-siakan." Evan menepuk pundak Arka sembari memberikan beberapa petuah. Sebenarnya Evan sangat ingin sekali menghujat dan melontarkan beberapa kata kasar untuk memaki Arka, namun kondisinya sekarang tidak tepat.
Arka mengangguk, tangannya bergetar seraya menggenggam tangan Kalista. Ditatapnya manik mata istrinya itu, laju air mata terus menerus membuat jalan di pipi Arka, Arka tidak bisa menahannya agar tidak tumpah.
"Turunin gengsi dan ego! Hubungan perlu komunikasi dan saling terbuka! Jika diantara kalian berbuat kesalahan, maka akui itu dan segera meminta maaf. Merasa tidak bersalah tetapi minta maaf duluan itu juga bagus! Sikap seperti kadang memang di perlukan, agar hubungan semakin awet dan menghindari percekcokan dalam rumah tangga. Apalagi cewe kadang suka nggak merasa bersalah atau ingin menang sendiri, belajar mengalah tidak akan menurunkan citra harga diri lu sebagai seorang pria!" Riko juga memberikan pendapat nya.
"Thanks bro! Kalian bertiga tuh memang the best banget!" Arka mengacungkan jempolnya pada Andy, Evan dan Riko.
"Btw! Sorry banget ko kemarin gue buat onar di kafe lu, sorry juga Van gue kemarin nampar lu, dan untuk lu Andy sorry-sorry banget gue udah mukul lu, nggak tahu berterima kasih memang gue ini, udah ngerepotin dan di bantuin segala hal, tapi balasan gue malah gitu." Arka berbicara sangat serius dan meminta maaf sangat tulus.
"Ah udahlah, kaya kesiapa aja lu mah." Andy merangkul bahu Arka.
"Oh ada tamu, pantasan aja ada minuman di atas meja tapi nggak ada orangnya, ternyata di sini toh." Oma masuk ke kamar dan langsung duduk di tepi ranjang.
Evan dan Riko menyalami punggung tangan Oma, dan berbasa-basi menanyakan kabar Oma.
Oma menatap Kalista, senyum hangat selalu terpancar di wajahnya. "Ada yang sakit? Nanti sore ganti perban, dan di obati lagi. Oma sudah nyuruh dokter dan beberapa perawat untuk datang ke sini, kalau dokter tidak bisa menginap, sedangkan beberapa perawat akan tinggal sementara waktu untuk merawat luka di kaki kamu sampai sembuh." One mengusap puncak kepala Kalista.
"Yah Oma padahal cuma luka gini doang loh, jangan repot-repot." Ujar Kalista.
"Apanya yang repot sih? Malahan ini Oma juga di suruh suami kamu nak, biarin aja! Toh dia memang bersalah dalam hal ini." Ucap Oma.
"Benar tuh Oma!" Celetuk Evan dengan tersenyum menyeringai pada Arka.
"Kalista minta kompensasi dong sama Arka, mau aset perusahaan atas nama lu gitu." Saut Riko samb tertawa.
"Aset perusahaan? Haha itu sih udah pasti untuk Kalista dan anak-anaknya, benar begitu bukan bapak CEO?" Ucap Andy.
"Betul banget asisten pribadi bapak CEO!" Arka menepuk pundak Andy. "Tanpa lu suruh juga, gue memng sudah berniat seluruh aset perusahaan untuk istri dan anak-anak gue kelak." Arka memeluk Kalista.
"Arka!" Suara itu menggelegar, menggema di ruangan kamar Arka, pak Anggara berbicara sangat keras dan kencang sekali, dari intonasi nada bicaranya sepertinya pak Anggara sedang marah besar. Membuka pintu kamar Arka saja menggunakan tendangan maut kakinya. Suasana kamar Arka terasa sangat mencekam dan mengerikan.
"Apa-apaan ini?" Pak Anggara melemparkan ponselnya, mendarat tepat di betis Arka. Arka meringis karena lemparan dari ponsel itu lumayan keras.
"HOT NEWS! Arkana William Anggara seorang CEO muda berbakat dan muititalent dari perusasahaan Anggara, terlihat sedang bersama kekasih gelapnya di sebuah club malam." Arka terlonjak kaget dan beringsut mundurnya. Wajahnya murka, emosi sudah memuncak, mendidih dan bergejolak di ubun-ubun kepalanya.
----------------------------------🌻🌻
Hallo readers, maaf sudah beberapa hari tidak up. Kesibukan tanggal muda di dunia nyata sama sekali tidak dapat di hindari😭 🙏besok-besok di usahakan up lagi setiap hari, tapi agak mepet ke malam🙏 Tetap dukung author agar semangat menulis ya🙏 maaf sudah membuat kalian menunggu🙏🤗
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit.
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1