SUN FLOWER

SUN FLOWER
PANGGIL BUNDA


__ADS_3

Selain pergi makan ke restoran, ternyata Kalista dan Oma juga meminta jalan-jalan. Jadilah Arka seorang sopir yang mengemudi atas perintah istri dan Omanya.


Sebelum benar-benar sibuk menuruti perintah dua wanita yang sedang duduk di kursi belakang, Arka menghubungi Andy terlebih dahulu, memberitahukan bahwa dirinya tidak bisa datang ke kantor.


Setelah puas berjalan-jalan nggak jelas tanpa tujuan, akhirnya Arka berkata dirinya lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya. Lagi pula hari sudah semakin sore.


Begitu sampai rumah Arka langsung bergegas membersihkan dirinya. Tidak lama kemudian beberapa mobil bak datang membawa belanjaan perlengkapan bayi. Pak Anggara sampai geleng-geleng kepala karena saking kagetnya melihat perlengkapan bayi sebanyak itu.


Para pelayan sibuk membawa perlengkapan bayi, menuju kamar bayi yang telah di persiapkan oleh Arka. Sore itu menjadi sore yang sangat sibuk untuk para pelayan.


*****


"Udah sore woy! Nggak pulang lu? Apa jangan-jangan lu mau nambah bonus ya? Buat biaya nikahin si Gina." Celetuk Evan yang tanpa permisi tiba-tiba masuk ke ruang kerja Evan dan Arka.


Wajar Evan bertanya seperti itu, karena jarum jam sudah menunjukan pukul 17:30 WIB, semua karyawan kantor sudah pulang, hanya ada Evan yang masih membereskan semua dokumen yang berserakan di mejanya. Dan security yang tugas shift malam.


"Udah sore kan? Terus lu ngapain datang ke sini? Mau nemenin security jaga malam?" Cibir Andy, namun manik matanya sama sekali tidak teralihkan dari tumpukan dokumen di mejanya.


"Sengaja mampir! Gue kira lagi lembur. Pengen lihat wajah calon istri, taunya dia udah pulang." Ucap Evan santai, tangannya sibuk mempermainkan kunci mobilnya.


Andy menatap Evan sekilas, lalu duduk tepat di sebelah Evan. "Calon istri? Pinta dong sama orang tuanya! Diam-diam bae, nanti keburu di embat cowo lain!" Ujar Andy.


"Gue sih tenang aja, toh gue udah jadian sama Gina." Imbuhnya lagi, tangannya merogoh sesuatu di saku jasnya, kini ditangannya terdapat satu buah benda berbentuk love beludru berwarna merah marun.


Evan membulatkan matanya. "Mau tunangan lu? Kapan? Kok gue nggak tahu? Mama nya si Gina udah ngerestuin emang?" Cecarnya dengan pertanyaan beruntun.


"Pas nggak nih di jari Gina?" Evan merebut kotak love itu, lalu mengamati dengan seksama, bagikan tukang mas yang sedang menerawang takut mas nya palsu.


"Nanti nunggu orang tua gue dulu, mamanya Gina sih udah ngerestuin. Pas lah, yakali kegedean atau kekecilan, jangankan ukuran jari Gina, ukuran beha nya aja gue tahu." Jawab Andy dengan sangat enteng.


"Wah parah! Udah di apapin aja woy? Sampai tahu ukuran beha." Evan tersenyum miring, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Munafik! So polos banget sih lu. Sesama cowo harusnya sekali lihat juga lu udah tahu lah ya kira-kira ukuran beha nya berapa?" Ujar Evan.


"Lihat di blue film ya lu? Atau majalah dewasa? Haha. Oke deh nanti gue kalau ketemu Gina mau gue perhatiin biar gue tahu ukuran beha nya." Celetukan Evan memancing emosi Andy.


"Sialan! Nggak boleh! Awas aja lu berani macam-macam sama Gina, gue matiin lu kalau berani menargetkan Gina untuk berfantasi." Umpat Andy, tangannya menoyor kepala Evan dengan lumayan keras.


"Awwwww.. sakit beg*. Kalem aja kali, gue tuh nggak mungkin nusuk lu dari belakang, lagian gue juga ada Tiara." Evan menepis kasar tangan Andy yang berada di kepalanya.


"Bagus!"


"Nyari makan yuk." Andy bangkit dan menutup tirai gorden ruangan kerjanya.


"Kuy!" Evan pun ikutan bangkit.


"Nyari makan ke mana nih? Kafe atau restoran? Atau ke coffee shop si Riko?" Tanya Evan pada Andy.


"Kafe? Restoran? Coffee shop? Bosan gue! Maunya lesehan aja pinggir jalan." Ujar Andy, tangannya masih sibuk memutar kunci di pintu ruangannya.


Setelah memastikan semuanya sudah terkunci, Andy dan Evan pun berjalan ke luar kantor.


"Gimana nih? Masing-masing atau satu mobil?" Tanya Evan.


"Satu mobil aja! Gue nebeng, lagi malas nyetir."


"Oke."


Evan yang mengemudi, sedangkan Andy duduk di sebelahnya. Tangannya sibuk memainkan ponselnya, terkadang senyum sumringah muncul begitu saja menghiasai wajahnya.


Tanpa bertanya pun Evan sudah bisa menebak, palingan juga si Andy bucin lagi chattingan sama Gina.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalan sekitar 40 km, akhirnya mobil menepi di pinggir jalan. Sebuah rumah makan sederhana dengan menu makanan khas Sunda, bahkan lokasinya tepat di pinggir jalan raya, makannya lesehan.


Walaupun sederhana, tapi kebanyakan yang makan di tempat ini adalah mereka-mereka yang bermobil, mereka-mereka yang bekerja kantoran. Sama sekali tidak ada gengsi, lagipula rumah makan ini higenis kok.


"Bu, menu biasa ya." Ujar Andy kepada pelayan wanita yang usianya mungkin sudah setengah abad.


"Siap den." Jawab ibu pelayan.


Ibu pelayan itu telah sangat hafal dengan menu biasa yang di pesan oleh Andy. Karena mereka memang sering makan di tempat ini, walaupun Evan sempat tinggal di luar negeri, tempat ini masih tetap menjadi tempat makan favoritnya.


Tidak berselang lama, ibu pelayan datang membawa nampan yang berisi pesanan Andy dan Evan. Satu bakul kecil berisi nasi dari beras Cianjur dengan wangi yang sangat khas, sambal terasi yang di bubuhi perasan jeruk limo, ayam goreng krispi, cah kangkung, pepes ikan mas dengan daun kemangi, sayur bayam jagung. Menu itulah yang menjadi menu andalan mereka. Eh iya lupa, minumnya teh tawar yang di campur dengan perasaan lemon.


Mereka makan dengan sangat lahap, makan di tempat lesehan seperti ini memang sangat mereka rindukan, apalagi makan ala-ala orang Sunda kan menggunakan tangan, sama sekali tidak ada satu pun orang yang makan pakai sendok. Kecuali pas mengambil sayur bayam, karena kalau pakai tangan yang kesembilan cuma bayamnya, airnya tidak.


Menselonjorkan kaki, punggung menyender di pinggiran dinding anyaman bambu khas rumah makan ini. Menatap jalan raya yang di penuhi lalu lalang kendaraan roda dua ataupun roda empat. Menatap hiruk pikuk jalanan kota Jakarta.


"Club malam yuk." Ajak Evan pada Andy.


Andy yang sedang bermain ponsel kemudian mengalihkan pandangannya pada Evan. "Mau jajan? Gue sih ogah!" Andy mengedikkan bahunya, lalu lanjut lagi menatap layar ponselnya.


"Bukan jajan cewe! Udah lama gue nggak ke club malam, pengen lihat suasana disana aja sih. Nggak minum alkohol, pesan jus aja. Ikut joget-joget doang seru kayanya." Ujar Evan.


Andy menghembuskan napas pelan, manik matanya menatap Evan. "Berhenti jadi diri lu yang seperti itu, kalau benar-benar niat mau mempersunting Tiara mulai berbenah diri, perbaiki hidup. Jangan sekali-kali pergi ke club malam! Mungkin orang-orang bilang club malam adalah surganya dunia, tapi menurut gue sih nerakanya dunia! Daripada jajan di luar mendingan nikah sih menurut gue, menikmati hidup bersama wanita pilihan kita, wanita yang kita cinta. Menikah kan ibadah, kalau jajan di clubbing itu namanya maksiat." Andy berusaha menasehati Evan, bukannya Andy merasa dirinya sudah benar. Namun Andy tidak ingin melihat Evan clubbing, minum-minum, dan main gila dengan wanita liar.


"Gue juga maunya gitu, sekarang terakhir deh mumpung gue belum nikah." Kata Evan sambil tersenyum memamerkan deretan giginya.


"Malas! Lu aja sendiri."


"Oke! Gue ke club ya! Lu pulang pesan grab aja." Satu ancaman yang sekarang bisa di gunakan Evan, berhubung Andy nggak bawa mobil dan menumpang di mobilnya. Sekarang terserah Andy deh mau memilih ikut ke club malam, atau pulang pakai grab.


Andy mendelikkan matanya, membuang napasnya kasar. "Iya ke club! Sebentar aja, dan jangan minum!" Andy langsung memakai sepatunya, setelah sebelumnya membayar makanannya. Naik ke mobil dan menutup pintu mobil dengan sangat kasar bahkan sampai menimbulkan dentingan keras.


Lagi pula, Andy memang sangat-sangat tidak ingin menggunakan grab. Entahlah kenapa? Terkadang Andy lebih memilih nebeng daripada harus naik grab.


Jalanan malam cukup lenggang, apalagi jalan menuju club malam ini memang terkenal tidak pernah macet. Banyak mobil-mobil yang mengarah ke sana. Selama perjalanan ini Andy sama sekali tidak tertarik untuk membuka mulut, telinga bahkan sampai di pasang earphone, mendengarkan lagu favoritnya, sambil menyenderkan punggungnya di senderan kursi.


"Dah sampai bro! Ayo turun." Evan melepas seat belt, lalu turun.


Dengan langkah malas, Andy pun berusaha mengikuti langkah kaki Evan.


Hingar bingar musik sangat memekikan telinga, berbagai macam wanita dengan baju minim alias kurang bahan sedang berjoget disana. Pria pun sama, bahkan tangan-tangan mereka ada yang sedikit nakal dengan menyentuh bagian-bagian tubuh wanita.


Bau aroma alkohol yang sangat menyengat, menyeruak masuk ke hidung Andy. Kerlap-kerlip lampu cukup membuat Andy merasa pusing.


"Penuh! Mendingan balik bro!" Andy menepuk bahu Evan, mata Evan masih menatap sekeliling tempat ini. Semua bangku memang sudah terisi penuh.


Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada salah satu meja kosong. Tetapi di meja itu terdapat tas perempuan, hanya ada satu tas, berarti dia sendirian.


"Duduk sini aja, tasnya cuma satu. Berarti dia sendirian." Evan berkata sambil menarik tangan Andy agar duduk di meja tersebut.


*****


Di kediaman Anggara, Arka dan Kalista sedang sibuk menyusun barang-barang di kamar si kembar. Sebenarnya yang sibuk itu Arka, Kalista hanya menjadi penyuruh dan pengarahnya saja.


"Ini bagusnya dimana?" Arka bertanya pada Kalista, di tangannya terdapat semacam kotak yang tidak terlalu besar yang akan di pergunakan untuk menyimpan bedak bayi.


"Dekat tempat tidur, bagusnya sih di simpan diatas lemari aja." Jawab Kalista yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Okey." Jawab Arka.


"Finally, sakit pinggang." Arka meregangkan otot-otot tangannya yang kaku, kemudian memegang pinggangnya yang terasa nyeri.

__ADS_1


"Sibuk banget sama ponsel." Cibir Arka, karena ketika Arka mengatakan sakit pinggang, sama sekali tidak ada respon dari Kalista.


"Tiara kemana ya? Nggak bisa di hubungi, nomornya nggak aktif. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya." Ucap Kalista, gurat wajah cemas dan khawatir sangat terlihat jelas.


"Udah tidur kali, terus lupa charger ponsel." Kata Arka, sambil mengusap rambut Kalista.


"Tenang aja, nggak akan terjadi apa-apa padanya. Lagipula ada Evan di belakangnya." Arka masih berusaha menengkan Kalista. Arka pun sedikit khawatir, karena feeling dari Kalista biasanya memang benar.


"Ayo berpikir positif." Arka mencium puncak kepala Kalista.


"Iya." Jawab Kalista pelan, kemudian mendekap badan Arka dengan sangat erat.


"Sayang, aku sakit pinggang. Pijitin ya!" Arka meringis sambil memegangi pinggangnya.


"Yaudah ayo." Kalista menurut begitu saja, karena walau bagaimana pun Arka sudah sangat berjasa untuk hari ini. Bahkan sekarang saja baru selesai menyusun barang-barang bayi.


Kalista dan Arka sudah berada di kamarnya. Kalista sedang memijat pinggang Arka dengan sangat lembut.


"Yang..."


"Apa?"


"Nanti kalau anak kita sudah lahir, kamu jangan di panggil mama ya." Ucapnya.


"Kenapa?" Tanya Kalista.


"Nggak suka! Panggilnya bunda saja, aku takut sesuatu yang pernah terjadi sama aku, terjadi juga sama anakku." Arka beringsut, lalu memperbaiki posisi duduknya. Wajahnya terlihat sendu.


"Oke panggil bunda. Tenang saja, kamu adalah cahaya hidupku, beserta anak kembar di perut ini. Asalkan kamu nggak selingkuh, aku nggak bakalan ninggalin kamu." Kalista mengusap puncak kepala Arka.


"Nggak bakalan. Tetap menjadi istriku, temani aku seumur hidupku. Dan tolong jaga dan rawat anak-anak kita sebagai mana mestinya, berikan dia kasih sayang seorang ibu."


"Karena aku tahu, bagaimana rasanya ditinggalkan mama, bagaimana di telantarkan dan tidak dapat kasih sayangnya. Aku akan selalu bekerja keras untuk mencukupkan ekonomi keluarga kecilku ini." Imbuhnya lagi, lalu Arka mencium mesra kening istrinya, tak lupa juga perut buncitnya.


Suasana melow itu mendorong Arka untuk mencium bibir Kalista. Yang tadinya hanya ingin menciumnya sebentar aja, kini malah semakin dalam dan liar. Mereka berdua saling berlomba-lomba mencari celah untuk memasok oksigen. Dari posisi yang tadinya duduk, kini sudah berubah menjadi tiduran.


Arka sangat menyukai pesona Kalista selama masa kehamilan ini, gairahnya sangat kuat. Bahkan kadang Kalista yang berinisiatif lebih dulu.


Tidak sampai di situ saja, kini kecupan itu pindah ke leher Kalista. Bahkan tangan Arka pun tidak bisa diam, mencoba melepaskan kancing-kancing piyama yang melilit di badan Kalista.


Pergulatan cinta antara dua sejoli pasangan suami istri itu sangat romantis. Arka melakukannya dengan sangat lembut dan penuh ke hati-hatian. Walau bagaimana pun Arka tidak boleh egois dengan memikirkan kenikmatan dirinya saja, Arka juga harus memikirkan keselamatan buah hatinya, dan memikirkan kenyamanan Kalista.


Badan mereka telah menyatu, tidak ada sehelai benang pun yang menutupinya. Bulir-bulir keringat memenuhi dahi Arka dan Kalista, keduanya sangat menikmati permainan ini.


Kalista mendesah pasrah ketika berada di kungkungan badan Arka. Badan tegap atletis itu sedang berada di atas tubuhnya. Deru napasnya terdengar sangat jelas. Penyatuan itu sedang berlangsung, namun tangan Arka tidak bisa diam bermain-main di antara dada Kalista. Bahkan Arka pun sering sekali memberikan tanda kissmark di dada dan leher Kalista.


"Arka... Arrrrghh."


Setiap pelepasan itu terjadi Kalista memang selalu memanggil nama Arka tanpa embel-embel sayang ataupun suami. Arka tidak mempermasalahkan itu, bahkan dirinya merasa sangat senang ketika menyebutkan namanya itu. Suaranya terdengar nikmat dan seksi.


"Terimakasih." Arka mengecup kening Kalista, kemudian menutupi tubuh polos itu dengan selimut putih tebal.


Kalista benar-benar tidak mempunyai tenaga sedikitpun untuk bangun, tenaganya sudah terkuras habis seiring dengan dilakukannya pergulatan cintanya dengan Arka. Lambat laun tubuh dan mata yang lelah itu pun terpejam.


Arka memilih untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Karena badannya terasa sangat lengket di basahi oleh keringat. Guyuran air dingin di malam hari, terasa sangat segar membasahi kulitnya.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2