SUN FLOWER

SUN FLOWER
RAMBUT BARU 1


__ADS_3

Arka dan Kalista ada di taman belakang! Mereka sedang membakar baju, flatshoes, dan segala macamnya yang Kalista pakai di hari penculikan itu.


Bahkan hari ini pun Arka akan menemani Kalisat ke spa, badannya terasa pegal dan kaku, setelah itu Kalista meminta di temani potong rambut.


Kalista ingin berubah menjadi orang yang baru, ingin menghilangkan kesialan beberapa hari lalu. Kalista tidak ingin mengingat kejadian itu. Bahkan Kalista sempat shock ketika mengetahui berita tentang dirinya menjadi hot news di tv, dan menjadi headline koran. Walaupun Arka sudah berusaha menjauhkan Kalista televisi dan ponsel, namun diam-diam Kalista mengetahuinya.


Sudah beberapa hari Arka sengaja nggak masuk kerja, demi menemani istrinya itu. Setiap harinya Arka selalu menemani istrinya tak kurang dari satu detik pun, mereka hanya terpisah ketika mandi. Arka takut kalau istrinya tidak di temani, takut pikirannya akan terganggu dan mengingat kembali kejadian hari itu.


"Masuk yuk!" Arka langsung menggandeng tangan Kalista, Arka tidak ingin berlama-lama di dekat perapian ini, takut kesehatan istrinya terganggu karena terkena asap sisa pembakaran.


Oma di bantu para pelayan sedang menyiapkan makanan di meja makan. Semua pelayan nampak bahagia melihat nyonya nya sudah kembali ceria seperti biasanya.


"Duduk sayang!" Ujar Oma


Arka dan Kalista langsung duduk, di hadapan mereka ada Oma dan pak Anggara. Cukup lama Kalista memperhatikan semua makanan yang tersaji, semuanya tidak ada yang menggoda selera Kalista.


"Mau yang lain nyonya?" Ujar salah satu pelayan, pelayan yang satu ini cukup peka dengan apa-apa yang Kalista inginkan.


"Omelette telur, sosis bakar. Semuanya pedas. Maaf ya bu."


Kalista seperti tidak enak mengucapkan itu, karena pelayan itu telah memasak banyak makanan.


"Tidak apa-apa, tunggu sebentar ya nyonya." Pelayan pun berlalu ke dapur, membuatkan omelette telur dan sosis bakar yang di inginkan Kalista.


Arka, Oma dan pak Anggara masih belum menyentuh makanannya, mereka ingin makan bareng-bareng. Sementara itu Kalista makan buah terlebih dahulu.


Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, omelette telur dan sosis bakar pun telah tersaji di hadapan Kalista.


Kalista makan begitu lahap, omelette telur dan sosis bakar itu sama sekali tidak ada yang menyentuhnya, itu khusus Kalista. Arka pun sekarang sudah bisa makan nasi, tetapi tetap saja morning sickness nya masih berlangsung.


Setelah selesai makan, Kalista kembali ke kamar. Tadinya mau pergi ke spa, namun hari ini malah turun hujan. Mungkin Tuhan sedang menurunkan rezekinya.


Arka masih melarang Kalista menonton televisi, karena merasa bosan akhirnya Kalista memutuskan untuk membaca novel, duduk santai di dekat jendela sambil menikmati kentang goreng.


Selama masa kehamilan, Kalista memang sangat doyan makan dan ngemil, berat badannya saja sudah naik 5kg.


Ketika sedang asyik membaca novel, telinganya cukup jelas mendengar suaminya itu sedang menerima telepon, terdengar pula beberapa umpatan yang keluar dari mulut Arka.


Kalista beranjak dari duduknya, menyingkap gorden sedikit untuk melihat suaminya yang berada di balkon kamar. Kalista dapat menerka dan menyimpulkan bahwa suaminya itu sedang menahan amarah, terlihat jelas dari raut wajahnya.


Kalista kembali duduk dan membaca novel yang ada di tangannya. Setelah sambungan telepon berakhir, Arka pun kembali masuk ke kamarnya.


"Serius amat." Arka berdiri di belakang Kalista sambil mengusap rambut Kalista hingga beberapa helai jatuh ke depan menghalangi matanya.


"Lebih serius kamu!" Ucap Kalista datar.


Arka memicingkan matanya, feeling-nya langsung menebak bahwa Kalista mencuri dengar percakapannya.


"Maksudnya?" Tanyanya sambil menatap manik mata istrinya.


"Ada yang kamu sembunyiin?" Kalista lebih serius dari Arka, tatapan matanya tajam.


"Nggak ada!" Jawab Arka simple, dan berusaha setenang mungkin.


"Yakin" interogasi dari istrinya membuatnya bulu kuduk nya merinding.


"Barusan aku dapat telepon dari pihak kepolisian, menyuruh aku datang ke sana. Terus Rangga sama Yoora masing-masing di hukum 12 tahun atas dasar tindak pidana penculikan dan percobaan pemerkosaan."


Akhirnya Arka memilih jujur, karena istrinya itu sangat jeli terhadap hal-hal kecil. Daripada sampai cekcok karena masalah sepele, lebih baik jujur kan?


"Bagus dong! Kenapa? Nggak rela ya mantan teman kencan membusuk di penjara?" Kalista mendelikkan matanya jengah.


Arka terkekeh geli melihat sikap istrinya, kemudian dia menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Kalista.


"Aku suka kalau istriku cemburu, itu artinya istriku mencintaiku dan takut kehilanganku." Arka mengendus-endus hidung Kalista, dan kecupan singkat pun ia berikan di bibir Kalista.


"Dengar baik-baik sayang, aku marah karena menurutku hukaman itu nggak setimpal dengan apa yang kamu alami, 12 tahun! Terlalu sebentar, aku maunya mereka di hukum mati atau minimal di penjara seumur hidup.


"Sudahlah biarin saja! Toh sekarang mereka sudah di hukum."


"Iya sayang, aku berjanji hari mengerikan itu tidak akan datang dan terjadi lagi sama kamu, aku akan selalu berada di sisi kamu. Sesulit apapun itu aku akan selalu melindungimu." Arka memeluk istrinya.


"Aku sangat bersyukur mempunyai suami seperti kamu, pria yang selalu memanjakanku, selalu memberikan semua yang terbaik buat aku." Mata Kalista memerah dan berkaca-kaca.


"Aku juga bersyukur punya istri macam kamu, cantik, pintar, dan __" ucapan Arka terjeda sejenak, senyum seringai telah dia tampilkan. "Sangat pas di ranjang." Bisiknya di telinga Kalista, ucapannya itu disertai dengan hembusan nafasnya yang perlahan.


"Ih mesum lagi kan?" Kalista cemberut dan mendorong tubuh Arka agar tidak menghimpit tubuhnya.


"Mesum itu normal! Lagian enak nih lagi ujian, dingin-dingin hangat." Arka menaik turunkan alisnya.


"Nggak!" Ketus Kalista.


"Hujannya udah reda, eh lihat tuh ada pelangi." Telunjuk Arka lurus ke depan menunjuk langit melalui jendela kamar.


Kalista mengarahkan pandangannya sesuai dengan arah jari telunjuk Arka. Dan.. "cup." Bibir Arka telah mendarat di pipi Kalista.

__ADS_1


Kalista membelalakan matanya, kemudian menatap Arka intens. Suaminya itu memang selalu begitu, tidak peduli mereka berada di manapun, kecupan pipi dan gandengan tangan tidak akan bisa di pisahkan dari Arka.


Kalista mendorong Arka, hingga tubuh Arka terpental di atas ranjang. Dengan segala pesonanya Kalista mencoba menggoda suaminya, kedipan mata, bibir mungilnya itu di manyunkan seindah mungkin.


Tangan Kalista mencoba melepaskan kancing kemeja arak, dan terbukalah kemeja itu menampilkan dada bidang dan perut kotak-kotak milik suaminya. Dada bidang dan perut kotak-kotak itu sangat menggoda dan menggiurkan bagi Kalista, Kalista menyukainya. Apalagi ketika jari-jari Kalista bermain-main di dada itu, membuat garis-garis dan guratan tidak jelas.


Kalista hanya ingin menggoda suaminya saja, setelah puas bermain-main di dada suaminya, Kalista pun merebahkan tubuhnya di samping tubuh Arka.


Arka merangkak naik ke tubuh Kalista, tatapan mata mereka pun bertemu. Arka dengan napasnya yang memburu menatap intens manik mata istrinya.


"Dosa loh mempermainkan suami." Ucapnya, sekarang napasnya terdengar berat karena sedang menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.


"Aku nggak mau ya siang-siang kaya gini!" Kalista memberikan tatapan galak.


Kalista menyesal telah membangunkan gairah suaminya, biasanya kalau sudah begini suaminya itu tidak akan berhenti merayu, sampai haknya di berikan. Sekarang saja Kalista susah bergerak karena sudah berada di bawah Kungkungan badan suaminya.


"Ini kan salah kamu, lagian kamu juga nggak lupa kan sama kewajiban seorang istri?" Arka masih mencoba menahan gejolaknya setenang mungkin.


Dan akhirnya terjadilah pergulatan cinta pasangan suami istri tersebut, Arka melakukannya dengan sangat lembut dan pelan-pelan. Karena Arka tidak ingin menyakiti janin di perut istrinya.


30 menit sudah mereka beraktivitas, dan akhirnya Kalista merasa lelah dan mengantuk. Arka menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Sedangkan dirinya langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Punggungnya di penuhi oleh bekas cakaran, Kalista selalu mencakar-cakar punggung Arka ketika sedang melakukannya.


Kalista mengerjapkan matanya, matanya langsung melirik jam yang menempel di dinding. Pukul 13:00 WIB, Kalista bangun dan langsung menuju kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan badannya, Kalista keluar kamar mandi masih menggunakan handuk.


"Cantik." Ujar Arka yang kembali lagi berfokus menatap layar laptop di depannya.


Kalista enggan untuk menanggapinya, dirinya masih sibuk memilih baju yang akan di kenakannya. Setelah sekian lama memilih baju, akhirnya pilihan Kalista jatuh pada dress hitam setulut dengan aksen payet bunga-bunga kecil di bagian perut dan pinggangnya.


"Bantu aku mengeringkan rambut!"


"Iya nyonya Arka."


Kalista sibuk memoleskan make up di wajahnya, sedangkan Arka sibuk mengeringkan rambut Kalista.


Di luar udara sangat cerah, setelah hujan reda matahari langsung muncul kembali. Mungkin mataharinya ngumpet sejenak, untuk beristirahat setelah lelah menerangi seluruh dunia.


Kalista berjalan dengan semangat, di belakangnya Arka mengikuti langkahnya. Berjalan sambil bersenandung, entah apa yang membuat hatinya merasa begitu senang.


"Mau kemana nak?" Oma yang sedang duduk santai di teras rumah pun memperhatikan Kalista.


"Spa, badanku pegal-pegal." Ujar Kalista dengan senyum mengembang di pipinya.


Arka melajukan mobilnya menuju tempat spa yang paling elite, dirinya akan memberikan yang terbaik untuk Kalista. Sebelum berangkat ke tempat spa tersebut, Arka telah menghubungi pihak spa. Jika nanti dia dan istrinya tiba di tempat spa, satu pun karyawan tidak boleh ada yang menyinggung atau membicarakan tentang penculikan itu.


Kalista masuk ke salah satu ruangan, dan langsung melepaskan pakaian di ganti dengan kain yang telah di sediakan di spa ini, Kalista langsung melakukan treatment relaksasi, pijatan itu terasa sangat lembut di kaki dan tangan Kalista. Apalagi ketika di pijat bagian punggung, rasa nyaman membuat Kalista seperti ingin tertidur.


Setelah selesai di pijat Kalista langsung pindah ke suatu tempat yang di khususkan untuk luluran, para karyawan itu mengoleskan sejenis cream lembut di tangan dan kaki Kalista.


Setelah dua jam, treatment pijatan dan luluran itu akhirnya selesai. Kalista membersihkan dirinya kemudian memakai pakaian kembali.


Arka melihat istrinya tanpa berkedip, wajah istrinya semakin kinclong. Senyum terpancar dari wajahnya. Padahal Kalista sama sekali tidak melakukan treatment apapun di wajahnya. Memang suaminya itu aneh, yang di pijat dan luluran kan kaki, tangan, sama punggung. Kenapa muka yang di komentari?


"Sudah?" Arka mencubit gemas pipi istrinya.


"Udah, ringan banget nih badan." Ujar Kalista seraya melangkahkan kakinya keluar dari tempat spa.


Kini mobil melaju ke sebuah salon ternama, Arka mengantar Kalista yang ingin potong rambut. Sebenarnya Arka sangat menyukai rambut panjang milik Kalista, namun Arka menghargai keinginan Kalista. Karena Arka tahu bahwa istrinya tidak mencintai rambut panjangnya lagi, karena telah di sentuh oleh Rangga.


Sama seperti di tempat spa, karyawan salon pun sangat antusias menyambut kedatangan Arka dan Kalista. Tidak ada satu orang pun disalon tersebut yang memandang rendah Kalista.


Kalista memotong rambutnya sesuai dengan yang dia inginkan, potongan rambut ala-ala artis luar negeri lah yang menjadi pilihannya.


Rambutnya menjadi pendek, hanya sebahu. Kini Kalista melakukan treatment perawatan rambut. Mulai dari keramas, pemakaian conditioner, dan lain-lainnya.


Ketika sudah selesai, Kalista menatap dirinya sendiri melalui pantulan cermin, dirinya kini telah berubah, rambut pendek mambuatnya tidak mengenali dirinya sendiri.


Para karyawan menyarankan Kalista untuk mewarnai rambutnya dengan warna ungu di bagian bawahnya. Kalista menyetujuinya, karena biasanya saran dari para karyawan salon memang bagus.


Lagi dan lagi Kalista di buat terperangah oleh penampilannya, Kalista semakin tidak mengenali wajah siapa yang berada di pantulan cermin sekarang. Tangan-tangan karyawan itu mulai mengkritingkan rambut Kalista bagian bawah, agar terlihat lebih bervolume.


Bahkan Arka sampai tidak berkedip, matanya membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka. Sosok wanita yang sedang berjalan ke arahnya begitu cantik dengan penampilan barunya. Kalista si rambut panjang telah menghilang.


"Tambah cantik aja sayang." Arka memandang wajah Kalista secara intens, manik matanya terus saja menelusuri setiap inci wajah Kalista. Tangannya memegang rambut Kalista, lalu mencium puncak kepala Kalista.


Kalista tersipu malu atas ucapan dan perlakuan suaminya itu. Para karyawan dan pengunjung salon pun memperhatikannya, begitu romantis pasangan suami istri itu.


Arka mengeluarkan ponselnya dari saku jeans, mendekatkan wajahnya ke wajah Kalista. "Foto dulu dong!" Arka mengambil gambar dirinya dan Kalista, berbagai macam pose, mulai dari tersenyum, manyun, saling mencubit pipi, dan bahkan ketika Kalista kaget di cium Arka.


Arka mengunggahnya di akun media sosial miliknya, dengan caption "my beautiful wife and new hair." Tidak lupa akun media sosial Kalista di tandai, Lima menit setelah foto itu di unggah, komentar para netizen pun memenuhi kolom komentar. Banyak yang mengatakannya lebih cantik dengan rambut barunya, ada yang menyemangatinya, semua komentarnya positif.


"Ya hallo, oh oke 15 menit lagi sampai." Arka langsung mematikan kembali sambungan telepon, dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Ada apa?" Tanya Kalista dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Banyak dokumen yang harus di tandatangani, ayo ke kantor dulu sebentar." Arka menarik tangan Kalista agar mengikuti langkahnya.


"Nggak usah mengerutkan dahi, bumil jangan sering-sering berpikir, nanti anaknya pemikir." Imbuhnya lagi.


Kalista menatap Arka heran dan bingung, statement dari mana coba pemikiran kaya gitu. Tanpa banyak omong Kalista pun ikut naik ke dalam mobil.


"Ke kantor ya pak." Ujar Arka pada pak Jaka.


Arka selalu menggenggam tangan Arka, berkali-kali Arka melontarkan kata "Cantik!" Kalista sampai bosan mendengarnya.


Mobil telah sampai di parkiran kantor, Arka segera turun. Pasangan suami istri teromantis ini selalu bergandengan tangan.


Di kantor orang yang pertama kali menatap Kalista dan berkomentar cantik, adalah resepsionis. Kemudian pada keryawan lainnya pun melontarkan ucapan yang sama.


"Gin, dokumennya udah ada di meja kerja saya?" Tanya Arka begitu sampai di depan pintu ruangannya.


Gina yang sedang sibuk dengan sejumlah berkas di tangannya pun menjadi terperangah. "Ah iya udah ada di meja kerja bapak!" Ucap Gina, mata Gina menatap Kalista. "Bu Kalista terlihat makin cantik, makin keliatan kaya ABG."


Arka menatap Kalista lalu tersenyum, memang benar istrinya ini sangat cantik. "Ah Gina, bisa aja." Kalista terkekeh karena di katakan ABG.


Sama seperti Gina, Andy pun merasa Kalista sangat cantik dengan rambut barunya.


Sementara Arka sibuk dengan dokumennya, Kalista di suruh menunggu di kantin saja bersama dengan sahabatnya, termasuk ban bemo juga.


"Makin cakep sih beb?" Bimo memperhatikan Kalista.


"Masa?"


"Iya cakep banget, makin terlihat gadis 18 tahun." Sahut Bima.


"Tapi gadis 18 tahunnya ini sedang mengandung!" Kalista tertawa.


"Kenapa potong rambut? Suami lu kan suka banget sama rambut panjang lu!" Ujar Tiara.


"Buang sial!" Ucap Kalista datar.


"Sorry ya gue belum sempat jenguk!" Pandangan mata Bimo menyendu, dia pun menyaksikan Kalista di berita.


"Emang gue kenapa? Gue nggak apa-apa kali." Kalista mengibaskan rambutnya dengan penahan.


Bima menyikut lengan Bimo.


"Widih cakep banget dah kipas-kipas rambut kaya artis."


"Artis doang mah lewat!" Celetuk Tiara.


"Btw, hubungan lu sama Evan gimana? Udah ada kemajuan atau masih jalan di tempat?" Mulut mungil Kalista mengeluarkan kalimat itu.


Seketika itu juga Bima dan Bimo langsung menatap Tiara intens, selama ini ban bemo memang tidak mengetahui kedekatan Tiara dan Evan.


"Kok gue nggak tahu?" Kalimat Bimo itu sukses membuat Tiara terdiam.


"Udah nggak mau curhat sama kita kayanya!" Sahut Bima yang sama kagetnya dengan Bimo.


Tiara panik dan gelagapan. "Bukan gitu, jadi ceritanya gue mau cerita sama kalian itu nanti kalau emang hubungan gue dengan Evan sudah resmi." Ucap Tiara sepelan mungkin, karena takut ada yang menguping.


"Emang sekarang?" Tanya Bima penasaran.


"Masih jalan di tempat! Nggak tahu sebenarnya kak Evan suka sama gue apa nggak? Kaya ngebaperin doang." Ucapnya pasrah, kedua telapak tangannya sudah berpindah menutupi mukanya.


"Chatting setiap hari, memberikan perhatian sampai ke hal-hal kecil, tapi ya gitu belum di tembak juga guenya!" Imbuhnya lagi dengan wajah yang kurang bersemangat.


"Ngebet banget lu pengen di tembak? Jangan mau lah mati loh ntar!" Celetukan Bimo itu tidak tepat waktunya.


"Ish beg* banget sih lu?" Kalista menoyor kepala Bimo.


"Belum kali, sabar dulu dong!" Bima mengusap punggung Tiara.


"Sabar aja dulu, mau ngapain sih buru-buru? Kebelet kawin lu?" Kalista terkekeh.


"Mungkin Evan lagi mencari moment yang pas, feeling gue sih dia kayanya mau langsung lamar lu deh." Imbuhnya lagi.


"Mau banget!" Tiara menjawab antusias.


"Emang nih bocah kebelat kawin!"


Mereka semua pun mentertawakan Tiara.


----------------------------------🌻🌻


Ngebut lagi nulisnya😂 proses review-nya agak lama😪😪😪😪 sedih aku tuh maunya langsung di lulusin aja😂😂😁


Jangan lupa like dan coment yang banyak biar author semakin rajin up!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2