
Ferrari hitam berhenti tepat di depan gerbang. Seorang pria berjas hitam dengan style yang sangat rapih turun dari Ferrari tersebut, dan menghampiri pak Samin yang memang security di kediaman Anggara.
"Permisi pak, ibu Kalista ada?" Tanyanya dengan sangat ramah dan sopan.
Pak Samin bukannya menjawab, malah memperhatikan pria tersebut. Dari ujung kaki sampai ujung kepala tak luput dari pandangannya.
"Ada perlu apa? Apakah sudah ada janji?" Tanya pak Samin, matanya masih terus menelisik pria tersebut.
Pria itu mengerutkan dahinya, kemudian dia teringat bahwa beberapa waktu lalu Kalista sempat di culik. Mungkin security ini takut kalau nyonya di culik lagi.
"Saya Gerry, Kaka seniornya Kalista waktu kuliah di Harvard university." Gerry memperkenalkan dirinya, dan berusaha meyakinkan pak security bahwa dirinya bukan orang jahat.
Pak Samin merogoh saku bajunya, mengeluarkan ponselnya. Lalu mencari kontak yang akan dia hubungi.
"Hallo, maaf pak mengganggu. Ini ada tamu seorang pria. Katanya mau bertemu dengan ibu Kalista tetapi belum membuat janji." Ujar pak Samin sambil menempelkan ponselnya di telinganya.
"Tahan dulu, jangan suruh masuk! Saya segera pulang." Jawab Arka di sebrang telepon.
Arka melirik arloji yang melingkar di tangannya, waktu menunjukan pukul 14:00. Kemudian Arka menyuruh Andy dan Gina untuk menghandle semua pekerjaannya, karena setelah pulang ke rumah Arka sama sekali tidak berniat untuk kembali lagi ke kamar.
Arka langsung menyambar kunci mobilnya, berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift. Begitu keluar dari kantor angin kencang langsung menampar pipinya. Hari ini cuaca sangat cerah, matahari memancarkan sinarnya sangat bagus di sertai angin kencang. Namun sayang angin kencang ini telah bercampur dengan debu dan polusi. Karena terburu-buru Arka sampai tidak sempat memakai masker untuk menutupi mulut dan hidungnya.
Sopir dan beberapa orang pengawal telah menunggu tepat di depan kantor. Arka segera masuk dan memerintah pada pak sopir untuk melajukan mobilnya menuju kediaman Anggara.
Pak Samin berusaha menahan Gerry dengan sopan, pak Samin mempersilahkan Gerry untuk duduk di tempat security. Karena cuaca hari ini sangat panas Gerry pun mengiyakan tawaran pak Samin.
"Penjagaannya ketat banget pak." Ujar Gerry sambil memperhatikan sekitar, manik mata Gerry menangkap banyak sekali orang-orang berseragam Hitam menjaga kediaman Anggara.
"Lebih di perketat saja, soalnya kami semua tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi lagi pada nyonya kami." Pak Samin kini duduk di dekat Gerry.
Gerry mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Tidak berselang lama beberapa mobil yang beriringan pun sampai di depan gerbang. Arka turun dari mobil dan langsung menghampiri Gerry yang sedang duduk di post pak Samin.
Mata Arka menyipit begitu mengetahui bahwa tamunya itu adalah Gerry.
"Sorry bro, gue nggak tahu tamunya itu lu!" Arka pun merangkul pundak Gerry.
"Nggak apa-apa bro, gue paham ko." Gerry pun merangkul bahu Arka.
Mereka berdua pun berjalan masuk, mobilnya di parkiran oleh para pengawal Arka.
Begitu Gerry melangkahkan kakinya masuk menuju rumah megah ini, para pelayan menyambutnya dengan hangat. Dan di persilahkan duduk di ruang tamu.
Arka berjalan ke kamarnya, menemui istrinya, untuk memberitahukan ada tamu yang mencarinya.
Begitu pintu kamar terbuka, istrinya itu sedang tertidur. Tetapi telinga Kalista cukup peka terhadap suara pintu yang di buka, padahal Arka membuka pintunya sangat pelan sekali.
Kalista mengerjapkan matanya, mengucek bola matanya berkali-kali seakan-akan tidak percaya bahwa suaminya itu sekarang ada di kamarnya.
"Ada apaan? Ko udah pulang?" Kalista menyibakkan selimutnya, lalu matanya melirik jam dinding yang menunjukan angka 14:20.
Arka menghampiri istrinya, mengecup puncak kepalanya. "Ada tamu yang mencarimu." Ujar Arka sambil mengusap pelan rambut Kalista.
"Siapa?" Kalista menatap Arka dengan dahi berkerut.
"Samperin aja yuk." Ajak Arka.
Kalista keluar dari kamar dengan rambut yang lumayan berantakan dan wajahnya sedikit kusut ciri khas orang bangun tidur. Walaupun penampilannya sangat tidak oke, tetapi tertolong oleh wajah cantiknya.
"Kak Gerry." Kalista berjalan lebih cepat agar segera sampai di hadapan Gerry.
Gerry melihat Kalista sampai tidak berkedip, adik juniornya ini yang selalu di bantu ketika kerepotan, kini sudah dewasa, sudah menikah, dan kini perutnya buncit, perut itu sangat terlihat karena menyembul di balik dress rumahan yang Kalista kenakan.
"Wah ternyata sudah isi." Gerry tersenyum ramah sambil menjabat tangan Kalista.
__ADS_1
"Iya alhamdulilah, Kaka apa kabar?" Kalista tersenyum memamerkan deretan giginya, senyumnya itu semakin menambah aura cantiknya.
"Alhamdulilah baik, sorry ya ta waktu pernikahan kamu Kaka nggak datang. Waktu itu lagi ada kerjaan yang lumayan penting." Ucap Gerry yang menyampaikan permintaan maafnya.
"Widih orang penting, schedule nya padat." Ujar Arka yang tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Kalista.
"Ah pak Arka bisa aja nih, masih pentingan juga pak Arka." Gerry terkekeh pelan.
Diselang-selang obrolan mereka, pelayan pun datang membawakan minuman segar dan berbagai macam cemilan. Gerry dan Arka pun mengobrol sangat asyik seolah-olah mereka sudah pernah bertemu dan sudah akrab.
"Ta, soal penculikan itu gimana?" Gerry bertanya tampak ragu, Arka segera memberikan tatapan tajam pada Gerry, Arka tidak mau siapapun mengungkit masalah penculikan itu.
Kalista terdiam untuk beberapa saat, kemudian menggenggam erat jemari Kalista. "Nggak apa-apa kok, pelakunya juga udah di penjara." Ujar Kalista santai, senyum manis masih bertengger di pipinya.
Arka memperhatikan Kalista, menatap istrinya secara intens. Setiap kali Arka mengingat kejadian penculikan itu, Arka selalu merasa bahwa dirinya telah gagal melindungi istrinya tercinta.
"Aku baik-baik saja." Kalista tersenyum ramah pada Arka, Kalista pun tahu bahwa Arka selalu merasa bersalah atas kejadian itu.
"Sorry, gue malah ungkit kejadian itu." Gerry merasa bersalah, terlebih lagi Arka memberikannya tatapan menyeramkan.
"Nggak apa-apa sih, aku juga udah baik-baik aja. Sempat trauma dikit, tapi ya mau gimana lagi selain di lupain? Memang nggak bakalan bisa lupain secara instan, semuanya kan memang butuh proses. Semua orang pun nggak bakalan mau menghadapi hari yang mengerikan itu, tapi balik lagi pada takdir. Percaya takdir? Semuanya telah di gariskan di takdirnya masing-masing." Satu bulir bening lolos dari mata Kalista.
Arka segera mengusap bulir bening itu, lalu mendekap Kalista ke pelukannya.
"Nah ini nih yang gue suka, Ista selalu menjadi wanita kuat." Gerry menepuk pundak Kalista.
"Eh iya tadi aku udah bikin pudding cokelat, mau cobain nggak?"
"Mau!" Jawab Arka dan Gerry barengan.
Ketika Kalista berjalan menuju lemari es untuk mengambil pudding cokelat buatannya, dari arah luar terdengar bunyi klakson mobil. Mungkin pak Anggara sudah pulang.
"Ngapain sayang?" Tanya Oma yang cukup membuat Kalista kaget.
Kalista dan Oma membawa pudding cokelat ke ruang tamu, di bantu oleh beberapa pelayan.
Kak Gerry langsung mencium tangan Oma, begitu juga pak Anggara. Karena ketika Kalista dan Oma berjalan ke ruang tamu, pak Anggara pun masuk, baru pulang.
"Silahkan di nikmati ya nak Gerry, saya pamit undur diri untuk membersihkan badan terlebih dahulu."
Pak Anggara pun berlalu masuk ke kamarnya, begitu pula dengan Oma Weny, Oma tidak ingin mengganggu percakapan mereka.
Arka dan kak Gerry langsung menikmati pudding cokelat yang di sajikan oleh Kalista.
"Enak banget ta, beuh istri idaman banget ini mah. Cantik iya, pintar iya, jago nyanyi iya, plusnya pintar masak pula. Paket komplit." Kak Gerry mengacungkan jempolnya pada Kalista.
"Nah makanya itu gue milih Kalista untuk menjadi ibu dari anak-anak gue, sekaligus menemani gue sampai maut memisahkan." Arka berkata dengan sombongnya, biasalah Arka memang selalu begitu jika ada orang lain yang memuji segala kelebihan yang di miliki istrinya.
Kalista tidak banyak menanggapi, dirinya lebih memilih diam dan menyimak saja. Sesekali tersenyum memperhatikan dua pria yang saling memuji dirinya sambil menikmati pudding cokelat buatannya.
"Ah kenyang." Gerry mengusap perutnya.
"Di sini berapa lama kak? Tidur di hotel apa gimana?" Tanya Kalista.
"Sore ini juga langsung pulang, tadi ada janji temu dengan klien di sekitaran kafe sini, jadi sekalian aja silaturahmi ke sini, sambil bawa kado juga soalnya waktu pernikahan kalian gue nggak datang, taunya aja pas ketemu Kalista nya udah buncit." Gerry terkekeh sambil memperhatikan perut Kalista.
"Buru-buru banget! Nginap sini juga nggak apa-apa, ada beberapa kamar tamu kosong kok." Ucap Arka.
"Maunya sih gitu, tapi di kantor masih banyak kerjaan. Mau nggak mau harus balik sore ini juga sih." Kata Gerry dengan nada pasrah.
"Btw ini juga udah sejam disini, gue balik deh. Gue bawa kado, tapi kadonya ketinggalan di mobil."
Gerry pun berpamitan pada pak Anggara dan Oma, setelah itu Kalista dan Arka mengantarkan Gerry sampai ke halaman depan.
Gerry tampak sibuk mencari kado yang ketinggalan di mobil. "Ini kadonya, bukanya nanti ya di kamar, biar sosweet." Ujar Gerry sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Bini lu adalah wanita paling hebat sedunia, jaga dia ya bro!" Gerry merangkul bahu Arka.
"Duh lebay banget deh!" Protes Kalista yang mendengar kata 'paling hebat sedunia'
Setelah berpamitan Gerry pun langsung melajukan mobilnya, keluar dari kediaman Anggara menuju tempat tujuannya.
Cuaca hari ini benar-benar sangat cerah, langit berwarna kebiruan bercampur dengan awan putih. Semilir angin sepoi-sepoi sangat terasa seperti sedang di kipas-kipas kan pada wajah Kalista.
Arka memeluk Kalista di halaman depan, para pelayan, sopir, para pengawal, dan pak Samin memperhatikan majikannya itu. Mereka semua tersenyum bahagia melihat kebahagian Kalista dan Arka. Mereka semua selalu di perlakukan baik oleh Kalista, apalagi Kalista sangat ramah dan sopan dalam berbicara. Walaupun Arka mukanya dingin dan jutek, tetapi Arka juga sama seperti Kalista baik terhadap semua pegawai di rumah Anggara.
"Cowo genit! Lepasin! Semua orang memperhatikan kita." Kalista berusaha melepaskan pelukan tangan Arka dari perutnya.
Arka semakin mempererat pelukannya, dia mengendus-endus wangi rambut Kalista. "Biarin aja! Mereka mau protes? Gue pecat tanpa pesangon!" Ujar Arka.
"Dasar jahat!" Kalista mencubit pelan lengan Arka.
Arka langsung berjongkok di hadapan Kalista, mengusap lembut perut Kalista. "Nak mamamu jahat, masa ayah di cubit." Seolah-olah Arka sedang mengadu pada bayi di kandungan Kalista.
"Ayahmu genit nak, ya Allah mama sampai kewalahan sama sikap manjanya." Kalista pun ikut-ikutan mengadu pada bayi di perutnya.
Setelah itu Kalista langsung mengajak Arka ke kamarnya. Arka mengamati kado yang di berikan oleh Gerry. Sebuah kotak yang tidak terlalu besar, di bungkus oleh kertas berwarna merah muda, di kasih pita berwarna merah. Bungkusnya membuatnya terlihat sangat cantik.
"Tebak-tebakan dulu yuk, apa ya kira-kira isinya!" Kalista mengangkat kado itu, kemudian melayangkannya di udara. Tidak berat dan juga tidak terlalu ringan.
"Hmm kelamaan. Langsung kita eksekusi aja." Arka merebut kado di tangan Kalista, dan langsung merobek kertasnya.
Begitu kertasnya sudah terlepas, mata Arka terbelalak ketika melihat isi kado tersebut. Arka menatap Kalista dengan senyum menyeringai, kemudian berjalan ke arah pintu dan menguncinya dari dalam.
Kalista menatap Arka terheran-heran, dahinya berkerut bahkan Kalista menautkan sebelah alisnya. Kalista masih saja menatap Arka bingung. Arka malah menghampiri Kalista, lalu....
"Aku memang sangat ingin melihat kamu pakai ini sayang." Arka memperlihatkan isi kado tersebut, senyum seringai masih belum hilang dari wajahnya.
Kalista terbelalak dan terlonjak kaget. "Aku nggak mau pakai itu!" Bola mata Kalista membulat sempurna, dan langsung melotot tajam pada Arka.
"Sayang kalau nggak di pakai kan mubazir, lagian kan ini kado dari Gerry masa nggak di pakai? Berarti kamu nggak menghargai Gerry dong." Arka beralibi agar Kalista mau memakai itu.
"Bukannya gitu, aku nggak pantas pakai bikini itu lagian perut aku lagi besar." Kalista pun mencoba membela dirinya agar Arka tidak terus menerus memaksanya.
"Oke baiklah, akan ku simpan sampai bayi ini lahir, setelah lahir perut kamu nggak akan buncit lagi, jadi okelah." Arka mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan ke arah lemari untuk menyimpan kado itu.
Kalista memutarkan bola matanya jengah, kemudian menatap Arka malas-malasan. Arka yang mengetahui sikap istrinya itu langsung saja menagkupkan tangannya di pipi Kalista.
"Jangan cemberut! Kamu jelek!" Arka menjawil hidung Kalista.
"Yakin aku jelek! Mau tau nggak orang-orang terdekat kamu yang jatuh cinta sama aku? Pak Evan, pak Riko, dokter Rian__"
Belum sempat Kalista menyelesaikan ucapannya, ucapannya itu langsung di potong begitu saja oleh Arka.
"Percuma mereka suka kamu! Toh yang pada akhirnya menjadi suami kamu kan aku, memilikimu seutuhnya, dan akan selalu bersamamu sampai maut memisahkan." Arka menatap masuk kedalam manik mata Kalista. Mata bulat itu selalu mempesona di pandangan Arka.
"Ah sosweet, jadi pengen selingkuh!" Kalista menjulurkan lidahnya pada Arka berusaha untuk menjahili suaminya.
"Amit-amit ya Allah." Arka mengelus perut Kalista.
Satu detik kemudian mereka pun larut dalam canda tawanya. Begitulah sepasang suami istri ini, setiap harinya selalu romantis.
----------------------------------🌻🌻
Hii, author kembali lagi😂 maafkan beberapa hari ini tidak update dikarenakan author sedang tidak enak badan🙏 do'akan agar author sehat selalu, supaya bisa update setiap hari.
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1