
R I K O ???
"Andy chat, ngajak ke coffee shop. Gimana nih?" Tanya Arka yang baru saja selesai memakaikan seat bell Kalista.
Kalista yang sedang sibuk dengan ponselnya itu pun langsung menoleh pada Arka. Manik matanya menatap Arka intens. "Udah lama kan nggak ke sana? Kamu juga udah kangenkan nongkrong di Coffee shop itu?" Tanya Kalista yang masih tetap menatap Arka.
Mobil melaju dengan perlahan, Arka dan Kalista melambaikan tangan pada mama Lisa dan Dino. Setelah selesai makan mereka langsung menonton televisi, Arka dan mamanya mengobrol banyak hal, Kalista bahagia melihatnya. Karena Kalista mengetahui bagaimana rasanya di tinggalkan oleh orang tua, apalagi kematian yang memisahkannya, luka itu teramat sakit dan terasa pedih. Kalista juga tahu bagaimana Arka kesulitan tidur di malam hari, karena selalu di hantui mimpi buruk perlakuan mamanya di masalalu.
"Jadi gimana sayang, boleh nggak nih ke coffee shop?" Tanya Arka sekali lagi, berusaha memastikan apakah Kalista mengizinkannya atau tidak? Manik matanya melirik Kalista sekilas kemudian kembali fokus pada kemudi setir.
Sebenarnya ini sudah sore, dan Kalista merasa lelah. Tapi Kalista juga tidak mau menjadi istri egois, sudah lama juga Arka tidak nongkrong di Coffee shop. Pasti Arka selalu merindukan kegiatan-kegiatan di masa lajangnya, dan Kalista tidak ingin terlalu mengekang. Selama ini Kalista selalu menanamkan satu statement, "Arka boleh melakukan kegiatan apapun asalkan itu positif, Arka boleh pergi dan nongkrong kemanapun asalkan dirinya ikut serta." Terlalu posesif nggak sih? Tapi, menurut Kalista itu adalah salah satu cara aman agar dirinya tidak kehilangan jejak Arka. Bukannya Kalista tidak mempercayai Arka, Kalista hanya takut Arka di rebut wanita lain. Soalnya Arka merupakan titisan pria tampan dengan tubuh tegap sempurna, roti sobeknya ciwi-ciwi banget deh.
"Iya boleh." Jawab Kalista pelan, tangannya sibuk memijit-mijit pelan dahinya. Bukan karena pusing, karena sebenarnya ia ingin segera pulang ke rumahnya.
Ada rasa senang yang menyusup ke dada Arka karena Kalista mengizinkannya untuk pergi ke coffee shop, istrinya itu tidak banyak melarang, dan bahkan terkesan selalu membolehkannya. Senyum sumringah tersungging di bibir Arka, tepat ketika Arka akan mengucapkan kata terimakasih, manik mata Arka melihat jelas istrinya sedang memijat dahinya.
"Sakit? Merasa pusing? Nggak enak badan? Cape? Lelah? Atau ingin pulang sayang?" Pertanyaan beruntun Arka lontarkan begitu saja, Arka tidak tega melihat gurat kelelahan di wajah istrinya itu. Walaupun pada dasarnya Arka memang sangat ingin ikut serta dalam acara nongkrong sambil ngopi bersama sahabatnya, tetapi semua itu bisa di cancel. Karena bagi Arka, Kalista adalah segalanya.
Kalista menyadari aktifitas memijit dahi, dan gurat kelelahan di wajahnya terlihat sempurna oleh Arka. "Dahi aku gatal sayang, aku nggak kecapean, nggak merasa lelah, dan bahkan aku juga rindu suasana coffee shop. Rindu aja gitu dulu pernah manggung di sana." Sebisa mungkin Kalista langsung mengubah ekspresi wajahnya, berusaha terlihat ceria di depan Arka. Agar Arka tidak merasa khawtir, dan acara nongkrong sambil ngopi yang Arka inginkan tetap terlaksana.
"Really?" Arka menautkan sebelah alisnya, Arka tidak percaya begitu saja mengenai apa yang Kalista katakan barusan.
"Ya ampun sayang aku beneran loh. Daripada banyak tanya kaya gitu, mendingan kamu fokus nyetir deh. Soalnya aku masih mau hidup lama dan menua bareng kamu." Kalista mengedipkan sebelah matanya, terlihat sangat genit namun terlihat mesra juga.
"Duh istriku." Senyum itu tersungging kembali di bibir Arka, Arka juga sempat mengusak puncak kepala Kalista. Walaupun begitu, tangannya tetap fokus kemudi setir.
Arka memutar beberapa musik klasik, jalanan tidak semacet tadi siang, bahkan terasa lebih lancar. Kalista bersandar pada kursi mobil, tangannya sibuk berselancar di layar ponselnya, apalagi kegiatan wanita yang sangat menyenangkan? Membuka salah satu aplikasi online shop, scroll scroll scroll, Nemu yang ciamik, nemu yang unik dan cantik, masukkan ke troli atau langsung beli. Dulu Kalista lebih sering masukkin ke trolli hanya sebagai referensi atau koleksi, jarang sekali membelinya. Tetapi, setelah menikah dengan Arka, justru Kalista lebih sering beli sekarang daripada memasukkan ke troli.
Belanja di online shop itu memang sangat mudah, sama sekali tidak ribet karena nggak harus berangkat ke mall atau butik. Walaupun Kalista suka belanja online, tetapi dirinya masih bisa mengendalikan hawa nafsunya untuk belanja. Kalista lebih mengutamakan membeli barang yang menurut kegunaannya lebih penting. Arka juga merupakan sosok suami yang baik dan pengertian, dia malah sering banget menyuruh Kalista belanja online. Menurut Arka belanja online yang Kalista lakukan terlalu sedikit.
"Jangan cuma masuk troli doang, beli dong!" Celetuk Arka yang masih fokus mengemudi.
"Kamu tuh kalau belanja dikit banget, nggak usah ngirit deh. Jangan lupakan satu hal, suamimu ini seorang miliarder." Imbuhnya lagi, Arka memang selalu mengucapkan kata itu.
Kalista adalah Kalista, tidak bisa di samakan dengan orang lain. Apalagi di samakan dengan Yoora, perbedaannya mencapai 180°derajat. Kalista si cantik, dengan prestasi segudang, sederhana, tidak matre, dan tidak boros. Sedangkan Yoora si cantik (karena perawatan), prestasi hanya di bidang permodelan, suka kemewahan, harus selalu menggunakan barang-barang branded, gila shopping dan sangat boros.
"Sayang uang! Kalau nggak penting-penting banget mendingan nggak usah di beli, palingan juga nantinya cuma jadi koleksi, lebih parahnya cuma menuhin lemari doang. Lagian kan mubazir, mendingan uangnya di sumbangin ke orang yang lebih membutuhkan." Ujar Kalista.
Ucapan Kalista berusaha cukup membuat hati Arka menghangat, sudut bibirnya terangkat naik menjadi sebuah garis lengkungan indah. "Kamu boleh sayang uang, tapi lebih utamanya kamu harus sayang aku." Arka terkekeh pelan sambil mengusap lembut paha Kalista.
"Uang aku banyak! Bukannya sombong atau mau pamer, aku cuma pengen bahagiain kamu. Apapun yang kamu mau silahkan beli! Aku orangnya nggak romantis, bahkan kalau mau ngasih kamu hadiah aja aku harus Googling ataupun cari referensi dulu di YouTube. Jadi, selama kamu menemukan sesuatu yang kamu suka, silahkan di beli. Jangan ragu buat pakai uang aku! Kamu harus ingat, uang aku adalah uang kamu!"
"Gunain aja uang aku, toh aku kerja keras juga buat istri dan anak-anakku, di masa sekarang dan di masa yang akan datang, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar masa depan anak-anakku cerah dan lebih baik lagi di banding aku." Imbuhnya lagi, Arka memang terkesan jutek, tapi sebenarnya ia adalah pemikir untuk hari esok dan hari yang akan datang. Bahkan urusan warisan saja sebenarnya sudah ada di kepala Arka. Lebih dari itu, Arka juga berencana untuk membuka bisnis baru di bidang kuliner. Jika Arka memiliki 3 orang anak, maka masing-masing dari anaknya akan mendapatkan warisan itu sesuai yang telah Arka tentukan.
Misalnya anak pertama di beri amanah untuk mengelola perusahaan Anggara, anak kedua di berikan amanah untuk mengelola pusat perbelanjaan yang paling terkenal di Jakarta, dan anak ketiga di berikan amanah untuk mengelola sebuah restoran atau kafe yang baru saja Arka rencanakan.
Semuanya sudah Arka pikirkan dengan matang, bahkan untuk biaya hidup di hari tua saja Arka sudah menyiapkannya. Arka berjanji kepada dirinya sendiri jangan sampai nyusahin anak di hari tua kelak.
"Selama ini aku selalu gunain uang kamu, tapi di gunakan dengan bijak dan hanya untuk hal-hal yang menurut aku penting saja. Tapi aku juga sering banget kok beli barang-barang yang wajib di miliki wanita tetapi jarang di gunakan. Contoh utamanya yaitu brush make up, aku udah punya banyak, tapi aku masih suka kegoda aja kalau nemu brush yang lucu-lucu gitu. Padahal aku kalau make up cuma gunain brusha 3 atau 4, sisanya jadi pajangan." Ucap Kalista sambil tersenyum kaku.
"Itu namanya kebutuhan wanita, dan menurut aku itu juga penting. Cuma brush doang, duit aku juga nggak bakalan habis, apa perlu juga aku bawa kamu ke pabriknya?" Tanya Arka dengan senyum miring.
"Ngapain?" Tanya Kalista bingung.
"Numpang bercinta." Ucap Arka dengan keras, tawanya menggelegar di dalam mobil, Arka tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Karena sibuk mengobrol, perjalanan jadi tidak terasa. Mobik telah sampai tepat di parkiran coffee shop. Arka mematikan mesin mobilnya, kemudian turun sambil menggandeng tangan Kalista.
Suasana coffee shop sangat ramai, maklum ini weekend dan hari juga sudah petang. Banyak sekali muda-mudi yang sedang menjalin cinta, mengumbar kisah asmara mereka di hadapan secangkir kopi dan sepotong cake. Rona kebahagian terpancar dari wajah-wajah mereka.
Manik mata Arka tersorot tajam ke segala arah penjuru, manik mata itu masih mencari objek yang sedang di carinya. Semua sudut hampir sudah tertangkap, namun segerombolan sahabat bersama dengan para pasangannya itu pun masih belum terlihat.
"Loh tadi katanya mereka di Coffee shop, tapi ko nggak kelihatan ya batang hidungnya." Manik mata itu masih terus celingak-celinguk kesemua sudut ruangan.
Tiba-tiba dari ujung sudut sana ada sebuah tangan yang terangkat, melambaikan tangan pada Arka dan Kalista. Tangan itu adalah tangan Evan, mereka sedang duduk di sudut coffee shop, sudut itu memang lumayan jauh dari tempat Arka berdiri sekarang. Wajar saja tidak terlihat, karena terhalang oleh beberapa kursi yang sedang di duduki oleh pengunjung.
Mereka memang pintar sekali mencari tempat duduk, walaupun posisinya ada di sudut pojok kanan, namun view dari sana terlihat sangat indah. Mata-mata mereka di manjakan oleh berbagai macam tanaman, mulai dari bunga liar hingga memang bunga yang sengaja di tanam untuk mempercantik taman itu.
"Loh bawa Kalista? Kirain sendirian." Celetuk Evan ketika melihat Arka dan Kalista semakin mendekat ke kursi mereka, ucapan Evan memang tidak terlalu kencang, namun masih cukup terdengar jelas di telinga Arka maupun di telinga Kalista.
Arka memutarkan bola matanya jengah, tangannya masih tetap menggenggam erat jari jemari Kalista. "Elu aja kesini bawa Tiara, yakali gue yang udah halal nggak bawa bini. Lagian ya, kemanapun gue pergi gue akan selalu mengajak istri." Tangannya menarik satu kursi dan mempersilakan Kalista untuk duduk terlebih dahulu.
"Tuh dengerin! Nanti kalau kita udah nikah kamu harus kaya pak Arka." Tiba-tiba Gina menepuk pelan lengan Andy.
Andy menoleh pada Gina, senyuman di bibirnya semakin memperlihatkan pipinya yang mengembang. "Siap tuan Puteri, istri adalah segalanya." Telapak tangan itu tidak mampu kalau hanya berdiam diri saja, gatal sekali rasanya jika tidak mengusak puncak kepala Gina.
Tiara menatap kagum pada Arka dan Andy. Jika di bandingkan dengan Evan, Arka dan Andy memang lebih dewasa dari beberapa hal, berbeda sekali dengan Evan yang kadang-kadang masih labil, masih suka centil gitu kalau lihat cewek cakep, pokonya Evan belum dewasa dari segi sikap.
"Kenapa Tiara bengong? Menyesal ya pacaran sama Evan karena sikapnya belum dewasa?" Ujar Arka to the point.
Tiara mengerjapkan matanya beberapa kali, senyum itu terukir di bibirnya. Tidak terlalu lebar dan sedikit kaku. Tidak menimpali ucapan Arka juga, sepertinya Tiara memang sedikit menyesal menjalin kasih dengan Evan.
"Bukan menyesal karena menjalin hubungan sama kak Evan, hanya saja sedikit ragu mengenai bagaimana hubungan ini kedepannya? Dari awal masuk ke coffee shop ini saja mata kak Evan tidak henti-hentinya jelalatan melihat wanita cantik, seksi, dan bening. Apalagi kalau nemu yang mulus kaya bihun, mungkin bola matanya berubah menjadi love-love merah." Setelah speechless beberapa saat, barulah Tiara berbicara blak-balakan, senyumnya terlihat kaku bahkan terkesan di paksakan, atau dalam kata lain senyuman itu adalah senyuman kepalsuan.
Yang barusan Tiara katakan sesuai dengan kondisi hatinya saat ini. Tiara tidak ingin memendam segala resah dan gundah gulana, Tiara ingin hatinya terasa plong.
"Aku berjanji aku akan lebih serius sama kamu, tolong support aku dalam segala hal. Aku memang sudah memenangkan hati mamimu, tapi aku belum mampu memenangkan hati papimu. Mendengar ambisi hidupnya yang telah kamu ceritakan, aku menarik kesimpulan bahwasannya tidak akan mudah untuk memenangkan hati papimu. Maka dari itu, saat ini aku sedang berusaha memantaskan diriku untuk bisa bersanding dengan kamu, dengan Tiara si putri satu-satunya, si anak kesayangan maminya." Setelah mengakhiri kalimatnya, Evan mengecup mesra jari jemari Tiara yang sedang di genggamnya.
Kalista menyikut lengan Tiara. "Gimana ra? Masih belum yakin? Feeling gue sih Evan beneran serius, tapi emang benar sih mata elangnya tajam banget kalau lhat cewe." Kalista terkekeh pelan.
Ya ampun dasar Kalista, bukannya menenangkan hati Tiara dia malah semakin membuat kobaran api di hati Tiara semakin berkobar.
"Tips dari gue nih! Biar aman mendingan mata si Evan di pakein lakban aja. Biar mata elangnya nggak jelalatan." Celetuk Andy sambil tersenyum menyeringai.
"Gue setuju banget tuh!" Arka menimpali ucapan Andy.
"Sahabat macam apa sih? Gue lagi berusaha meyakinkan cewe gue, kok kalian malah nyalain sumbu kompor?" Evan menatap jengah pada Arka dan Andy.
"Udah nggak jaman sumbu kompor bro! Jamannya udah berlalu, sekarang pakai gas lebih praktis." Arka menepuk-nepuk bahu Evan, mulutnya terus saja mengeluarkan kekehan-kekehan kecil.
"Kita tahu kok lu lagi berusaha meyakinkan Tiara, gue juga udah lihat kesungguhan yang telah elu tunjukan pada Tiara. Tapi elu emang belum mampu mengendalikan mata elang milik lu itu, jadi kalau emang benar-benar mau serius, lebih baik lu ilangin deh kebiasaan melirik-lirik cewe cakep. Tiara kurang apa sih? Dia juga cakep banget kok." Imbuhnya lagi, Arka berusaha memberikan pencerahan pada Evan.
"Aku tahu kok, untuk merubah suatu kebiasaan jelek itu nggak gampang. Aku juga yakin kamu pasti bakalan berubah, berubah membutuhkan sebuah proses dan waktu yang panjang. Jika memang kamu mau serius, aku bisa bantu merubah sedikit demi sedikit semua kebiasaan jelek kamu. Aku tahu sebuah usaha tidak akan mengkhianati hasil, contoh terdekatnya adalah pak Arka. Aku tahu gimana dinginnya pak Arka pada Kalista, bahkan semua ucapan yang pernah di lontarkannya pada Kalista pun aku mengetahuinya, aku bahkan sampai salut banget sama Kalista. Kalista hebat banget bisa merubah pak Arka dari yang tadinya dingin, jutek, cuek, ketus, bisa sampai menjadi suami yang baik, bertanggung jawab, dan bucinnya nggak ketolongan." Ucap Tiara terang-terangan.
Arka membulatkan matanya sempurna, kok Tiara? Semudah itu dia mengatakan apapun tentang Arka.
"Bingung pak Arka? Jangan bingung, saya adalah sahabat Kalista satu-satunya. Apapun yang Kalista alami pasti selalu di ceritakannya pada saya, termasuk pak Arka yang tiba-tiba mencuri ciumnya di ruangan kantor, mencium dahinya secara sengaja ketika pak Arka tanpa permisi masuk ke apartment Kalista, bahkan sampai kejadian yang di Surabaya pun Kalista ceritakan semuanya. Tapi, semenjak menikah, Kalista sudah tidak menceritakan apapun lagi pada saya. Padahal saya pribadi sangat ingin tahu bagaimana malam pertama itu terjadi, namun sayang Kalista terlalu menutup rapat kisah ranjangnya."
"Aku tuh sengaja nggak ceritain kisah setelah menikah, aku merasa kasian sama kamu ra, soalnya kamu jomblo. Aku takut kamu nggak kuat dan nggak tahan mendengar kisah asmara aku dalam naungan rumah tangga." Kalista menjulurkan lidahnya, dia meledek Tiara.
"Tenang ra, kamu sudah tidak jomblo lagi. Aku akan selalu ada bersamamu, nanti kalau kita udah nikah kita balas perbuatan mereka ya." Evan merangkul bahu Tiara.
__ADS_1
Sementara Andy dan Gina malah tampak asyik mendiskusikan sesuatu hal yang entah apa itu? Keduanya membahas sesuatu yang telah di lihatnya dari layar ponsel Gina.
Arka menyeruput moccacino, lalu ibu jarinya mengusap bibir gelas bekas isapannya itu. Bingung nggak kapan Arka pesan moccacino? Semua karyawan di Coffee shop ini sudah hafal sama sahabat-sahabat Riko, bahkan mereka juga hafal banget kopi apa yang mereka minum? Pancake apa yang mereka suka? Bahkan mereka juga tahu ketika Kalista ikut berkunjung ke coffee shop itu mereka akan menyajikan jus kiwi ataupun jus mangga. Mereka tahu sebenarnya kalista menyukai Affogato dan pancake durian. Namun semenjak hamil Kalista stop makan makanan itu, Kalista lebih fokus meminum dan memakan yang menurutnya sehat untuk janinnya.
"Btw, Riko mana?" Tanya Kalista yang baru saja menyadari bahwa Riko tidak bergabung di meja ini, bahkan Riko juga tidak menyambut kedatangannya.
"Nah itu dia, dari tadi kita hubungin nomornya sih aktif, tapi nggak di angkat. Mau tanya sama manager coffee shop, tapi ibu managernya juga tidak menampakan batang hidungnya." Ucap Andy.
"Kalian sudah hampir dua jam ada disini, dan Riko belum menghamoiei kalian?" Tanya Kalista.
"Belum." Jawab Tiara dan Gina bersamaan namun sangat singkat.
"Aneh." Lirih Kalista, tidak biasanya Riko seperti ini.
"Sibuk banget kayanya si Riko." Ujar Evan.
"Sibuk apaan? Ngurus coffee shop ini? Ah nggak seribet ngurus berkas-berkas di kantor." Celetuk Andy santai, tangannya terlipat di depan dada.
"Siapa tahu kan memang lagi sibuk merekap pengeluaran bulanan dan pemasukan bareng ibu manager." Kata Evan.
"Harusnya kan itu kerjaannya bu manager." Gina pun menimpali ucapan Evan.
"Iya juga sih! Pacaran kali ya mereka." Evan terkekeh, entah mendapat bisikan dari mana tiba-tiba dia mengatakan Riko dan bu manager sedang pacaran.
"Bisa saja dong mereka sedang merekap data pemasukan dan pengeluaran, itu emang tugas bu manager, tapi bu manager juga bisa langsung mendiskusikan dengan atasannya. Karena ini memang urgent banget sih, siapa tahu ada yang tidak sinkron atau apa gitu?" Ucap Kalista dengan penuh percaya diri, semua yang di ucapkannya menang ada benarnya juga.
"Nah dengerin tuh apa kata mantan sekretaris gue yang sekarang malah jadi istri gue." Ujar Arka, bibirnya secepat kilat langsung mendarat di pipi Kalista.
Setalah itu Arka bertanya pada salah satu waiters mengenai keberadaan Riko, mereka mengatakan Riko ada di ruangannya. Arka sempat meminta waiters itu untuk memanggilkan Riko, namun mereka menolak. Pasalnya tidak ada yang boleh masuk ke ruangannya kecuali bu manager. Riko juga kadang-kadang berkata pada seluruh karyawan coffee shop bahwa dirinya tidak ingin di ganggu.
"Gue takut Riko stress sendirian di ruangannya, gue mau samperin." Arka bangkit dari duduknya. Bukan cuma Arka saya yang bangkit, Kalista, Andy, Evan, Gina dan Tiara segera mengekori Evan dari belakang.
Ruangan kerja Roko ini lumayan berjarak pada aula utama coffee shop, terletak hampir di pojok dan terbelakang. Dari bagian luar saja saja sudah terlihat bahwa ruangan ini sangat nyaman, arsitekturnya sangat unik, temboknya aja di cat sangat cantik.
"Kalian ngerasa ada sesuatu yang aneh nggak sih?" Arka menghentikan langkahnya sejenak, berbalik badan dan bertanya pada istri dan sahabatnya itu. Setelah. semuanya menggelengkan kepalanya, karena mereka memang tidak mendengar suara apapun.
Arka kembali melangkah, kini langkah kakinya sudah semakin dekat dengan pintu ruangan Riko. Suara yang Arka maksud itu kini terdengar lagi, kali ini terdengar sangat jelas. Suara yang sangat tabu dan ambigu.
"Kali ini gue mendengar apa yang tadi lu tanyakan." Ucap Evan dan Andy bersamaan, para wanita juga sudah menyadari perihal suara aneh tersebut.
Tangan Arka sudah memegang knop pintu ruangan Riko, sekali dorong dan tekan saja ruangan itu akan terbuka. Dengan berbagai macam pikiran di kepala, Arka akhirnya membuka pintu itu..
.......
.......
"R I K O ? ? ? ? ?" Ucap mereka semua secara bersamaan.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-teman🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤