SUN FLOWER

SUN FLOWER
DRAMA DAN KECEMBURUAN 2


__ADS_3

Riko memicingkan matanya dan telinganya berusaha mencuri dengar tentang apapun itu yang di ucapkan oleh Gina, Tiara, Risa dan Kalista. Entah ada apa dengan Riko? Mendengar itu semuanya tiba-tiba hatinya terasa sesak.


Manik matanya masih tetap terfokus pada Risa yang masih mengotak-atik ponselnya, jari tangannya lincah menari-nari diatas keyboard, seolah-olah Risa memang sedang membalas chat dari si cowok yang ngajak kenalan tadi di kafe.


"Kalian ke mall?" Tiba-tiba Riko bertanya begitu, manik matanya terus saja menatap Risa tanpa berkedip.


Risa?


Merasa bingung dan kikuk, sebenarnya tadi dirinya tidak ikut ngemall, bahkan tidak ikut juga nongkrong cantik di kafe. Malahan, barusan saja dirinya membalas chat dari adiknya, bukan dari pria yang tiada katakan. Karena sesungguhnya itu hanya drama saja, drama yang di buat atas inisiatif Tiara dan Gina.


Risa memiliki ujung bajunya, tubuhnya merasa tidak sinkron dengan pikirannya. Bahkan Risa tidak mampu untuk menatap Riko.


Gina tersenyum puas, Tiara juga sama seperti Gina. Mereka berdua sudah bisa menilai bahwa Riko mulai memiliki rasa pada Risa. Merasa kasihan pada Risa yang seperti terjebak oleh keisengan dirinya, akhirnya Tiara bantu menjawab pertanyaan yang Riko ajukan. Tiara mengatakan mereka bertiga tadi pergi ke salah satu mall elite di Jakarta, mall yang sangat terkenal dan sering di masuki oleh orang-orang tajir.


"Loh kenapa bengong sih ini yang mau mantai." Tiara mencolek dagu Risa, Tiara ingin Risa segera kembali menguasai keadaan, karena drama yang akan di mainkan masih panjang.


Gina juga berusaha menggoda Risa, untuk saat ini Gina masih tidak ingin berbicara dengan Andy. Hatinya masih gedek dan rasa kecewanya masih belum reda.


"Mereka maunya kita pergi bareng-bareng, soalnya kan tadi cowo putih tingginya itu ada 3 orang. Katanya pas banget jadi 3 pasang, kaya ngedate rame-rame gitu. Cuma tadi mau bilang ke Tiara sama Ginanya nggak enak, soalnya kan kalian berdua punya pacar, kalau aku sih oke-oke aja, soalnya nggak pucar, lagi nggak ada gebetan juga." Ujar Risa dengan cengir yang menampilkan seluruh deretan giginya. Senyumnya tampak kikuk karena takut drama yang di mainkanna terlihat jelek.


"Ya ampun gemas banget sih, ngapain sih takut-takut, gue sih ikut aja. Lumayan loh kapan lagi bisa jalan sama roti sobek? Benar banget tuh kata Kalista selain tampan mereka juga punya nilai plus, yaitu tajir. Sesekali nyobain jalan sama roti sobek yang tajir, nggak apa-apa kali, siapa tahu aja gue bisa jadi nyonya sehari." Celetuk Gina di sertai dengan kekehan-kekehan kecilnya.


Andy?


Tiba-tiba terdiam, karena kaget dan panik begitu mendengar Gina menerima ajakan mantai dari si pria tajir yang katanya ketemu di kafe di salah satu mall elite. Andy paham betul Gina bukan tipe wanita seperti itu, namun begitu mendengar kalimat Gina yang mengatakan "Sesekali nyobain jalan sama roti sobek yang tajir, nggak apa-apa kali, siapa tahu aja gue bisa jadi nyonya sehari." Kalimat itu seperti menampar pipi Andy, dan Andy juga langsung tersadar, selama ini dirinya memang belum mampu membahagiakan Gina dari segi materi, bahkan dirinya juga masih sangat jauh dari kata tajir. Memang benar, jika di bandingkan dengan Arka, Evan, dan Riko, Andy lah yang ekonominya paling minim, ekonominya sangat biasa-biasa saja. Tapi kehadiran Gina di hidupnya membuatnya lebih semangat dalam bekerja, Andy juga sudah punya planning kedepannya bakal buka usaha kecil-kecilan. Tapi, jika Gina lebih memilih pria tajir itu, dirinya bisa apa? Harapannya seperti pupus dan kandas begitu saja.


"Sesering juga nggak apa-apa kali, wanita kan butuh di manja. Manjakan lah diri kalian sesering mungkin, baik itu perawatan wajah maupun perawatan tubuh, ngemall, nongkrong cantik, photo shoot, dan lain sebagainya. Wanita itu emang seharusnya seprti itu, wanita harus menikmati hidup dengan layak dan damai." Arka mencoba menimpali perkataan Gina.


"Wanita itu harusnya seperti gue, tidak bekerja dan senantiasa menikmati hidup. Perawatan harus sesering mungkin, kuku-kuku di jari tangan aja harus cantik. Wanita yang cantik di sukai oleh pria yang tajir, tugas kita sebagai wanita hanya satu, yaitu melayani pria kita dengan setulus hati, dan sebaik-baiknya." Ujar Kalista enggan senyuman yang membuat pipinya terlihat semakin mengembang.


"Iya, kamu mah perawat aja. Biarkan aku sebagai pria yang bekerja keras, yang penting kamu tidak melupakan kewajiban kamu, dan memberikan hak yang memang seharusnya menjadi milikku. Yang utama dan yang paling terpentingnya adalah selalu bisa memberikan kepuasan dan kehangatan di ranjang." Ah dasar Arka, dalam keadaan seperti ini saja ucapannya masih menjurus ke ranjang. Tidak lupa, Arka juga memberikan kecupan manis di pipi Kalista.


"Nah setuju banget nih sama pasutri yang satu ini." Tiara langsung mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Serasi banget nih ayah dan bunda satu ini." Ucap Risa dengan tersenyum ramah. Risa mulai terbiasa dan berusaha mengakrabkan diri dengan bapak CEO dan istrinya ini.


Tiba-tiba terdapat satu motif di ponsel Gina, tentu saja Gina sangat bahagia. Dalam keadaan seperti ini semesta pun mendukungnya, satu motif pesan dari mamanya cukup mempermudah alur drama yang sedang di mainkannya.


"Pilih saja salah satu lantai yang kalian ingin kunjungi, kalian juga bebas tentuin mau nginap di hotel atau resort yang mana saja. Sekalian bikin list kegiatan disana, biar waktu ngedatenya tidak mubazir." Gian membawa chat itu, tentu saja itu palsu, karena yang sebanarnya isi chatnya bukan seperti itu, malahan sangat melenceng jauh.


Gina berusaha membalas chat itu, chat dari mamanya memang wajib di balas cepat. "Gini ya rasanya mau ngedate sama pria tajir, ya ampun ini itunya saja sampai detail banget, nggak kebayang nanti kalau nikah pelaminannya kaya apa ya? Jangan-jangan mewahnya melebihi pelaminan Kalista dan pak Arka." Celetuk Tiara, manik matanya menatap langit-langit kamar Nathan dan Nayla seperti orang yang sedang membayangkan betapa indahnya nanti ketika menikah dengan si tajir.


"Iya nih, kegue juga nanya dengan pertanyaan yang sama. Kalian berdua terima beres aja deh, gue yang menentukan semuanya. Mulai dari pantai, villa, kegiatan di sana, dan tidak lupa spa, massage, luluran, treatment rambut dan sebaginya. Dan yang paling tidak boleh terlewatkan adalah ngemall, karena mereka bertiga adalah pria tajir, sudah seharusnya kita menguras isi atmnya." Tiara sangat lincah mengetikkan beberapa kata yang di susun menjadi sebuah kalimat. Tidak lupa Tiara juga menatap Gina dan Risa dan memberikan satu kedipan genit.


Evan sama sekali belum bersuara, lidahnya maish terasa kelu dan pikirannya belum sepenuhnya mencerna apa yang Tiara, Gina, dan Risa bicarakan.


Baru kali ini juga Evan merasa hatinya sesak, Evan benar-benar merasakan kecemburuan yang sebenarnya. Evan itu orangnya emang suka genit pada semua wanita, tetapi di hatinya tetap hanya Tiara, dan Tiara juga yang menjadi satu-satunya wanita yang ingin Evan bawa ke pelaminan.


"Kalau pria itu tahu lu sudah tidak perawan apa dia masih mau?" Celetuk Riko dengan wajah nyeleneh sedang meledek dan menjatuhkan mental dan rasa percaya diri Risa.


Deg! Benar saja perkataan Riko barusan cukup membuat mental dan rasa percaya diri yang Risa terjatuh, bahkan porak poranda. Risa merasa bola matanya memanas, hatinya langsung merasa resah dan gelisah, apa yang di katakan Riko cukup membuat dirinya insecure pada masa depannya. Apakah nanti akan ada orang yang mau menerimanya? Apakah akan ada pria yang mencintainya? Apakah karena dirinya sudah tidak perawan nantinya bakalan menikah dengan duda? Masih banyak pertanyaan lainnya yang berjibaku dan berkecamuk di pikiran Risa, bahkan kini lidahnya terasa kelu, la santannya semakin tidak jelas seiring dengan banyaknya cairan di bola mata itu.


"Nggak semua pria mempermasalahkan hal itu, intinya sih jika dia benar-benar mencintai Risa dengan sepenuh hati, tentunya saja dia bakalan menerima Risa apa adanya. Pria yang baik dan tulus mencintai wanita tidak menilai pria atau tidaknya, intinya sih dia ingin sang wanita itu menemaninya seumur hidupnya, baik dalam suka maupun duka, dan selalu menjadi support system untuknya terhadap apapun yang di lakukannya." Ucap Gina panjang lebar, jujur saja Gina sangat geram dengan pertanyaan yang Riko ajukan.


"Hidup tidak selalu tentang tubuh yang sudah di jamah, intinya pernikahan itu menyatukan dua insan yang sama-sama mencintai, menyayangi dan ingin memiliki. Makanya si pria menjadikan wanita itu istrinya, yaitu agar bisa hidup seatap dengannya dalam naungan rumah tangga yang sah. Masa lalu tetaplah menjadi masa lalu, baik buruknya masa lalu itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa berubah menjadi lebih baik untuk masa depan." Tiara merangkul Risa, berusaha menyalurkan enegeri dan semangatnya. Risa menang pernah terjebak dalam lembah hitam, tali tidak sepatutnya Riko mencela dan menjatuhkannya, apalagi Riko sendiri lah yang mendorongnya masuk dalam lembah hitam itu.


"Lantas bagaimana dengan Riko, Riko sendiri sudah tidak perjaka, dan memaksa seorang gadis yang baru berusia 22 tahun untuk menemaninya tidur dengan embel-embel menjamin biaya perawatan ayah si gadis itu. Jika ini di laporkan pada pihak berwajib bisa di jerat pasal loh, apalagi si gadis juga melakukannya karena terpaksa dan merasa tertekan." Kalista embfajukan pertanyaan pada Riko lengkap dengan senyum seringai seperti sedang meledek Riko dengan blak-blakkan.


"Sorry sorry aja sih, gue nggak maksa! Sama sekali nggak maksa, gue cuma memberikan penawaran, dan Risa menerimanya dengan sukarela. Ngapain bawa-bawa pihak berwajib, nanti masuk koran muka Risa kau di taro di mana?" Riko masih membela dirinya, dan di ujung kalimatnya Riko juga masih sempat-sempatnya meledek Risa.


"Nggak maksa? Kalau emang nggak maksa kenapa nggak negabantuin secara ikhlas, kenapa harus pake syarat. Saat itu Risa lagi kesusahan, hidupnya seperti berada di ujung tanduk, dia mengiyakan bukan berarti mengikhlaskan dirinya untuk kamu nikmati, hanya saja saat itu dia sedang berada di jalan buntu, dan berada di puncak keputusasaan. Dengan berat hati Risa mengambil jalan sesat itu, dirinya rela tersesat dalam lembah hitam hanya demi ayahnya hidup. Begitu besar rasa cinta, sayang, dan hormat Risa sama ayahnya. Apa tidak pernah terpikir di benak Riko bahwa Risa merupakan gadis yang baik dan berbakti pada kedua orang tuanya?" Sarkas Kalista. Kalista ingin sekali menyadarkan Riko bahwa Risa bukan wanita yang seperti ada di dalam pikirannya, Kalista ingin Riko menyadari bahwa tidak merupakan gadis yang sayang dan berbakti pada kedua orang tuanya.


Riko sudah tidak bisa menanggapi ucapan Kalista, apa yang barusan di ucapkan Kalista cukup terserap dan masuk ke dalam otaknya. Pikirannya terus saja menari-nari tenang Risa, memang benar apa yang di katakan Kalista, Risa menang merupakan gadis yang baik, hanya saja semata sedikit mengujinya.


"Udah deh, ngapain bahas masa lalu gue yang kelam sih. Gue juga udah lupain segalanya tentang itu, nggak usah mikirin kedepannya gue bakal gimana? Apa bakalan ada yang mau menerima gue yang sudah tidak suci ini? Gue mah orangnya nggak ribet, dan nggak mau insecure juga pada masa depan gue. Gue kalau nggak nikah seumur hidup gue nggak masalah, yang terpenting ayah sehat, ibu sehat, dan semua adik-adik gue sehat walafiat. Nggak nikah justeru kayanya lebih seru, bisa kerja lebih lama dan membantu bisya sekolahnya adik-adik gue." Ujar Risa santai. Dari hari pertama dirinya menyerhakan tubuhnya pada Riko, Risa memang sudah berencana tidak akan menikah seumur hidup. Risa takut tidak menemukan pria yang menerimanya apa-apanya, palingan yang mau padanya juga duda, sedangkan Risa sama sekali tidak mau menikah dengan duda, apalagi dudanya punya anak.


Semua mata tertuju pada Gina, mereka semua terbelalak hampir tidak percaya, ternyara Risa mempunyai pikiran seserius itu. Entah itu perkataan tidak ikhlas atau memang karena dirinya merasa tertekan dan gelisah.


"Nggak boleh begitu, walau bagaimanapun perempuan harus menikah. Punya suami itu enak loh, apalagi kalau punya anak. Cabut tuh statementnya, dan berdoa pada Allah agar di dekatkan dengan jodoh." Kalista mengusap lembut rambut dan punggung Risa. Risa ini seumuran dengannya, dan tidka seharusnya Risa mengalami hal berat seperti ini.


Tiara dan Gina juga berusaha menyemangati Risa, namun lagi-lagi Risa ini seperti Kalsista, keras kepala dan susah di atur. Selalu mengikuti apapun kehendaknya sendiri.


Setelah itu mereka bertiga kembali sibuk pada dramanya, Meraka membahas ini dan itu seolah-olsh tiga pria tajir yang merayunya itu beneran ada, beneran nyata, dan beneran mengajaknya holiday.


Tiara dan Gina bahkan sampai merencanakan akan memakai pakaian yang agak terbuka, dan akan mengenakan baju santai yang bertali bahu sangat kecil, yang panjangnya hanya sebatas paha.


Mendengar hal itu tentu saja ubun-ubun Evan terasa mendidih. Evan bahkan berkali-kali mengajaknya berbicara tetapi sama sekali tidak di gubris. Tiara sangat jengkel pada Evan yang ganjen, Tiara ingin menghukum Evan dengan cara yang lumayan sadis.


Mereka bertiga mengaliri topik obrolan mengenai pria tajir, karena mereka merasa dramanya sudah lumayan cukup panas dan membuat para kekasihnya mati kutu, atau kekasihnya kepanasan. Gina juga mengatakan bahwa pria tajir itu super sibuk, walaupun ini weekend tetapi saja selalu ada klien yang mencarinya, bukan hanya urusan bisnis dan kerjaan saja, terkadang klien itu mengajak main golf ataupun sekedar makan siang.

__ADS_1


"Ini kok kalian jadi kaya maisng-maisng gitu ya, jadi ada dua kubu. Kubu wanita dan kubu pria. Kalian kesini mau lihat anak gue atau mau ngapain sih? Atau mau saling diam-diaman sama antara dua pasang kekasih?" Celetuk Arka sambil memperhatikan raut wajah Evan, Andy, Tiara dan Gina.


Riko sama Risa sengaja tidak di sebut, karena mereka berdua tidak ada hubungan pacaran. Hubungan mereka berdua sebelumnya hanya berdasarkan perjanjian, persyaratan dan kesepakatan. Tetapi Arka juga tahu kok, bahwa sesungguhnya Riko mulai menaruh perasaan pada Risa.


"Lihat bayi kembar lu lah." Andy langsung menjawab, Andy juga langsung teringat pada tujuan awalnya datang ke kediaman Anggara.


Nathan tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dan langsung menangis. Arka mengangkatnya dan langsung memberikannya pada pangkuan Kalista, mungkin Nathan merasa haus dan ingin mimi.


"Anak bunda sayang, haus nak? Cup cup cup mimi dulu ya nak." Kalista mengusap lembut puncak kepala Nathan.


"Tunggu dulu!" Arka langsung beridiri dan mencari-cari sesuatu untuk di tumpukan popok bayi.


"Anak ayah mimpinya untuk sementara di tutup dulu ya, soalnya lagi banyak para pria hidung belang di sini, bahaya nanti mereka lihat dada bunda." Celetuk Arka sambil melebarkan kain popok yang lumayan tebal untuk menutup Nathan dan dada Kalista.


Nathan pun mimi dengan tenang, Kalista menyusuinya dengan tenang juga, karena dadanya di halangi dengan kain popok. Kain popoknya di pegangi oleh Arka, bukan di halangi dengan kain popok yang di taruh di kepala bayi dan dada Kalista, karena itu terlalu berbahaya nanti bayinya sesak napas.


"Yaelah bro! Gue nggak napsu tuh sama bini orang." Ujar Evan dengan wajah jengahnya.


"Iya nggak napsu karena ini bini gue, coba kalau ini bini orang lain? Pasti lu dekatin kan?" Celetuk Arka.


"Gue ngerasa dada bini lu membesar tiga kali lipat dari sebelumnya, sekarang malah gede banget. Gue salah lihat atau gimana nih?" Celetuk Riko dengan senyum menyeringai.


"Gue tuh habis lahiran, dan sekarang sedang menyusui. Wajar saja bentuk badan gue jadi membesar." Sengit Kalista dengan emosi yang memuncak.


"Parah lu! Diam-diam perhatiin bentuk tubuh istri gue." Arka menoyor kepala Riko, bukan menoyor pelan, karena kali ini Arka lumayan emosi.


"Wajar lah, istri gue itu baru lepas bersalin, dan sekarang sedang dalam masa menyusui. Jadi badannya agak sedikit membesar, kalaupun istri gue nggak bisa langsung lagi seperti dulu, ya nggak apa-apa, malahan enak di peluknya lebih mpuk." Arka mencium pipi Kalista, lalu tangannya terulur mengusap Nathan.


"Kalian ke ruang tamu dulu deh, bini gue jadi nggak bebas menyusuinya, disana juga sudah di siapkan minuman dan beberapa cemilan." Arka menyuruh para pria untuk keluar sebentar dari kamar ini, karena Arka melihat Kalista sangat tidak nyaman dan tidak leluasa menyusui Nathan.


Selepas mereka semua keluar, Arka langsung melepaskan lain yang menutupi Nathan dan dada Kalsita. Nathan begitu asyik dan menikmati asupan gizinya.


"Drama kalian luar biasa." Arka mengacungkan ibu jarinya lengkap dengan ibu jari kakinya kepada tiga wanita yang kini ada di hadapannya.


"Berbakat jadi artis kan saya?" Celetuk Tiara sambil memamerkan dan membanggakan dirinya sendiri.


"Iya berbakat jadi artis dengan peran tersakiti." Ledek Arka dengan tawanya terbahak-bahak.


"Jahat banget." Tiara mendengus kesal dan sebal.


"Aww.. bunda geli banget nak." Ujar Kalista dengan suara halus miliknya, matanya juga merem melek menahan geli akibat Nathan mininya sambil di unyel-unyel.


"Ih apaan sih?" Kalsita mendelikkan matanya jengah.


"Yaudah iya nggak apa-apa nak, sekarang kamu mimi dulu sampai puas, supaya nanti malam tidurnya nyenyak dan pulas. Soalnya, nanti malam giliran ayah yang dapat jatah mimi di bunda." Arka menaik turunkan sebelah alisnya, dan menatap Kalista dengan tatapan mesum. Arka ini sangat to the point, dan bahkan tidak malu-malu, padahal disini masih ada Gina, Tiara, dan Risa.


"Tahan dong pak! Istri baru lahiran masa mau di makan gitu aja! Nggak sabaran banget sih." Celetuk Gina, ekpresi wajahnya serius, sama sekali tidak terdapat senyum simpul di sana.


"Saya? Mana tahan! Lagian saya kepingin dong nyobain itu tuh." Arka dengan terang-terangan menunjuk tepat ke dada Kalista. "Dulu sering saya cobain dan nggak ada airnya, karena sekarang lagi ada airnya makanya saya mau nyobain." Bahkan tangan Arka menyentuh sekilas dada Kalsita yang terlihat lebih besar itu.


Lalu, Kalista dan Arka terlibat adu mulut, percekcokan kecil yang awalnya Arka hanya minta mencoba dadanya, sedangkan Kalista tidak mau.


"Btw, emang benar sih apa yang di katakan Riko. Sekarang ukuran dada Kalista meningkat pesat, bahkan terlihat lebih besar dan seksi." Ujar Tiara dengan cengir kuda, manik matanya memperhatikan dada yang membesar itu.


Kalista melotot tajam pada Tiara, sudah tahu sekarang Arka sedang membicarakan keinginannya, Taira malah membuat Arka semakin merasa panas dan ingin segera matahari terbenam, agar malam segera datang.


"Udah deh kok jadi ribut sih? Nggak ada salahnya loh kalau pak Arka ingin mencicipi rasanya air susu ibu, toh pak Arka dan ibu Kalista sudah halal, tidak ada yang melarang, dan sah-sah saja kalau kalian mau mencobanya sekarang juga." Gina berusaha menengahi, tetapi kesannya malah semakin membuat Kalista tersudut.


"Bunda sayang, dengarkan apa yang Gina katakan?" Arka menyelipkan beberapa helai rambut Kalista yang jatuh ke bagian depan.


"Tapi aku nggak mau, ini tuh bukan sekedar geli aja. Ini sakit dan sangat perih. Mendingan beberapa hari ini kasih mereka susu formula dulu deh, p****g aku sakit lecet kayanya, padahal Nathan dan Nayla nggak punya gigi, kenapa bisa sampai gini sih?" Kalista bagusnya meletakkan Nathan kembali ke box tidurnya, kemudian dia menatap salah satu bagian tubuhnya itu yang terasa perih, bahkan di bola matanya itu sudah terkumpul genangan air yang siap tumpah membasahi pipi.


"Jangan nangis! Aku tahu kamu adalah bunda yang kuat." Arka langsung merangkul Kalista dan mencium puncak kepalanya.


"Hal kaya gitu memang biasa terjadi ketika punya bayi, saya rasa semua perempuan pasti bakalan mengalaminya." Ujar Gina, nada bicaranya terdengar menenangkan Kalista.


Arka maish terus menengkan Kalista, Arka kita hanya melahirkan saja yang sakit, ternyata setelah melahirkan maish ada rasa sakit-sakit lainnya.


Untung saja Nayla maish tertidur pulas, bisa di bayangkan dong kalau Nayla sudah bangun dan menangis ingin asi, sedangkan Kalista sedang sakit.


"Sudah kan?" Andy kembali lagi ke kamar Nathan dan Nayla.


"Ngapain lagi tuh malah peluk-pelukan? Pamer kemesraan? Ya ampun segitunya." Cibir Evan dengan nada bicaranya khas ledekannya.


"Sirik aja! Mendingan bujuk tuh wanita lu biar nggak main sama para pria tajir." Arka mendelik kesal, kemudian menjulurkan lidahnya pada Evan.


Suasana kembali hening, para wanita sangat sibuk sekali dengan ponselnya. Para pria malah pada bersandar di tembok, Evan menopang dagu, Andy memijat-mijat pelan dahinya, sedangkan Riko bersandar sambil memejamkan matanya.


Andy merasa ini semua harus segera di selesaikan, ini semua salah paham, dan Andy tidak ingin Gina pergi bersama pria tajir itu, apalagi sampai meninggalkannya.

__ADS_1


"Gin." Andy beringsut maju mendekati Gina, duduk tepat di sebelah Gina.


Gina malah semakin sibuk dengan ponselnya, Gina sedang menscroll-scroll aplikasi online shop kegemarannya, entah sudah berapa banyak baju maupun barang yang Gina masukkan ke troli. Biasanya Gina tidak seperti itu, hanya saja sekarang Gina sedang berusaha menyibukkan diri agar bisa mendiamkan Andy lebih lama.


"Gina." Panggil Andy sekali lagi, kali ini tangan Andy mendapat tepat di bahu Gina.


Gina menepis tangan Andy dengan kasar, lalu kembali terfokus pada layar ponselnya. Gina bahkan enggan sekali untuk menatap manik mata Andy.


"Maaf, tadi bohongin kamu. Sumpah demi apapun sebenarnya sama sekali nggak ada niatan buat bohong, tadi tuh lepaskan dan kepepet banget. Mau jujur tapi takut kamu marah, lagian yang punya ide nongkrong itu Evan, terus yang nyuruh matiin ponsel itu Riko. Katanya kita di suruh menikmati waktu sebagai pria normal yang tidak ada gangguan dari wanita." Andy berusaha menjelaskan segalanya pada Gina, Andy ingin acara diam-diaman ini segera usai dan berakhir.


"Menikmati waktu sebagai sesama pria tanpa ada gangguin dari wanita, tetapi di sana juga kalian mencoba bermain-main dengan wanita. Otak kamu di taro dimana? Seorang asisten pribadi CEO otaknya dangkal? Kamu bodoh Andy?" Cibir Gina dengan sangat jelas, bahkan tatapan matanya menusuk tajam.


"Itu Evan dan Riko! Aku nggak kaya gitu Gina! Aku berani bersumpah, aku ikut karena aku juga berusaha nyari kado buat anak Arka, setelahnya memang nongkrong tetapi aku nggak main wanita, nggak godain wanita! Aku selalu sadar, bahwa aku punya wanita, ada hati yang harus selalu aku jaga. Gina, aku nggak pernah bercanda soal hati, aku sepenuhnya cinta dan sayang sama kamu." Andy berbicara dengan sangat serius dan sungguh-sungguh, Andy menggenggam erat pergelangan jari jemari Gina.


Gina langsung menarik tangannya dari genggaman Andy. "Tapi tetap saja kamu bohongin aku! Kamu nggak jujur, dan asalkan kamu tahu ya, sekali kamu bohongin aku, selamanya aku nggak bakalan percaya lagi sama kamu! Aku mau kita putus! Dan aku lebih memilih dia si pria tajir di banding memilih kamu, dia lebih bisa membahagiakan aku, daripada nunggu kamu yang cuma bilang aku serius, aku lagi berusaha untuk menghalalkan kamu. Alah bulshit! Semua pria sama saja, manis di mulut doang!" Gina menunjuk-nunjuk Andy dan berbicara dengan nada tinggi. Gina kalap dan tidak bisa mengontrol emosinya.


Duaaaaaarrrrr


Bagai tersambar petir di siang bolong, Andy tiba-tiba merasa tubuhnya kaku, bahkan sangat kaku. Telinga, hati dan pikirannya berusaha mencerna semua kata yang Gina ucapkan. Apakah ini nyata? Ternyata ini sungguhan, dan Gina ingin hubungannya segera berakhir. Andy menatap Gina dengan tatapan kacau, rumit, dan sangat sulit di artikan. Andy merasa dunianya tiba-tiba runtuh tidak tersisa, Andy memang bukan pria tajir dengan segudang uang. Namun Andy memiliki perasaan yang cukup sensitif.


"Gina?" Kalista menatap Gina dengan tatapan tak percaya, Gina yang selalu kalem mendadak jadi seekor singa yang sedang mengamuk. Bahkan Gina sampai mengatakan kata putus.


"Kontrol emosi please! Dinginkan hati dan pikiran lu! Sadar nggak apa yang barusan lu katakan? Gue mohon banget sama lu, jangan pakai emosi dan pikirkan sekali lagi." Tiara merangkul dan mengusap punggung Gina, Tiara berharap Gina segera menguasai dirinya kembali.


"Gue sadar terhadap apa yang gue ucapkan." Ujar Gina dengan suara yang mulai merendahkan.


Andy semakin beringsut mundur, apa barusan kata Gina? Sadar terhadap apa yang di ucapkannya? Oke, itu berarti Gina memang serius ingin mengakhiri hubungannya.


"Kak Gina." Risa juga berasa tidak enak melihat situasi seperti ini.


"Gin, sorry banget nih bukannya gue mau ikut campur. Tetapi menurut gue ini semua adalah salah gue, gue yang minta Andy buat matiin ponsel, gue juga yang ngajak Andy nongkrong. Kalau hubungan lu jadi kaya gini, sumpah deh gue jadi merasa bersalah banget sama kalian berdua. Semua salah gue gin." Evan benar-benar merasa bersalah banget, apalagi Gina sampai mengatakan ingin putus. Padahal semuanya reall uluhnya Evan.


"Udah ah jangan di perpanjang lagi! Gina sudah memperjelas semuanya!! Ingat loh kita sedang berada di kamar si bayi kembar, nggak enak dong kita pada berisik banget, malu sama pak Anggara dan Oma." Andy sudah mulai kembali menguasai dirinya, nada suaranya terdengar kalem dan santai.


Namanya juga manusia, telihat tegar di depan, tetapi tidak ada yang tahu kan gimana isi hatinya?


"Santai amat bro! Lu nggak sakit hati atau patah hati gitu?" Riko menepuk pundak Andy.


"Lu pikir sendiri dah! Gue juga nggak bisa maksa Gina buat terus stay sama gue, sedangkan gue tahu betul gimana kondisi keuangan gue." Jawab Andy sambik tercengir menampilkan barisan gigi putihnya.


Gina?


Mungkin sekarang maish biasa saja, tetapi beberapa jam kedepan dia akan sadar mengenai apa yang telah di ucapkannya, mungkin juga Gina akan menyesal.


"Nah kan sampai lupa gue nggak nanya namanya si bayi kembar." Andy menatap kagum pada makhluk kecil yang berjenis kelamin perempuan yang sedang bobo nyenyak di box tempat tidurnya.


"Nathan dan Nayla." Ujar Arka lirih. Arka masih mengamati raut wajah Andy, sudah beberapa tahun kenal dengan Andy, dan sudah hampir setahun juga Andy menjadi asistennya di kantor, Arka sangat tahu bagaimana sensitifnya perasaan Andy.


"Nama yang bagus." Ujar Andy masih menatap Dede Nayla, "Buat gue satu deh!" Imbuhnya lagi sambil tersenyum.


"Enak aja lu! Buah hati gue nih." Sengit Arka.


"Mau? Bikin aja satu!" Celetuk Riko santai banget.


"Elu yang bikin aja malah di jaga! Coba kalau nggak di jaga, di perut Gina udah ada tuh janin anak lu." Ujar Evan santai.


"Permisi, numpang ke toilet ya." Risa langsung berdiri dan keluar dari kamar itu. Risa merasa canggung ketika barusan Evan menyebut namanya.


Manik mata Riko masih menatap punggung Risa yang sudah menjauh. Riko merasa Risa snagat mempesona, walaupun pakaian yang melekat di tubuh Gina sangat sederhana, celana jeans yang robek di lututnya, hoddie putih, dan rambut yang di gerai bebas. Kesan cantik semakin melekat pada Risa.


"Cantikkan Risa? Gimana? Udah seminggu nih, mulai menyesal nggak?" Tanya Andy sambil terus memperhatikan arah mata Riko yang tidak kunjung teralihkan menatap keluar pintu kamar.


"Mendingan nikahin aja deh! Terpesona saja bisa sampai bengong kaya gitu." Evan terkekeh sambil menepuk pundak Riko.


"Ih apaan sih?" Riko berusaha menormalkan nada suaranya, Riko merasa kikuk karena ke gep sedang memperhatikannya.


Mereka semua kemudian kembali mengobrol, Gina tidak banyak bicara dan cenderung ke pendiam. Sedangkan Andy berusaha menata hati dan pikirannya agar terlihat normal seperti Andy yang biasanya, walaupun sebenarnya hati Andy sedang berantakan.


Sementara Evan belum meminta maaf pada Tiara, Evan tahu situasi dan kondisi. Evan memilih untuk membicarakannya nanti, karena benar kata Andy tidak enak berdebat di kamar si bayi. Bukan tidak enak oleh Arka dan Kalista, tetapi lebih tepatnya tidak enak oleh pak Anggara dan Oma.


"Nyasar nggak?" Tanya Tiara sambil memperhatikan Risa yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"Hampir, untung saja di antar oleh pelayan yang super baik." Ujar Risa "Rumahnya gede banget sih, jadi pusing juga takut nggak bisa lagi kembali ke kamar ini." Celetuk Risa yang di sambut gelak tawa oleh mereka semua.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2