SUN FLOWER

SUN FLOWER
PAMER KEMESRAAN DI DEPAN ANDRE


__ADS_3

"Biarin sayang! Andre itu masih lajang, makanya kita panas-panasin dulu biar dia kebelet nikah." Celetuk Arka sambil terkekeh.


"Ide bagus!" Kalista mengacungkan ibu jarinya.


"Btw, pak Andre masih lajang? Hmm, di kantor ada Gina loh yang masih lajang juga. Gimana kalau pak Andre kita jodohin sama Gina aja." Manik mata itu berbinar karena sudah mendapatkan ide brilian.


"Sembarangan! Gina itu punya Andy, mau nanti di marahin Andy?" Jari telunjuk dan jari tengah Arka sudah mendarat di hidung Kalista, menjawilnya dengan pelan.


"Yang paling benar tuh di do'akan agar jodohnya di dekatkan, cepat halal kan bagus ya nggak bro." Arka menaik turunkan sebelah alisnya sembari melirik Andre.


"Do'anya aja bro!" Andre pun tersenyum.


"Terus ini jus kiwinya kapan jadinya?" Tanya Kalista pada Arka.


"Bentar! Tungguin di sini." Arka memundurkan kursinya dan langsung bangun, sebelum benar-benar pergi ke dapur Arka terlebih dahulu mencium puncak kepala Kalista.


Kalista melanjutkan lagi makannya, entah mengapa nafsu makannya meningkat pesat malam ini. Kalista begitu menikmati semua hidangan yang tersaji diatas meja makan ini.


"Kenal Arka dari kapan?" Tanya Andre tiba-tiba.


Kalista tidak langsung menjawab pertanyaan Andre, Kalista terus menerus menguyuh makanan yang terdapat di dalam mulutnya, lalu menelannya hingga habis.


"Nggak nanya kapan nikah aja gitu?" Tanya Kalista sambil tersenyum menatap Andre.


"Sebenarnya kalau di tanya kenal Arka dari kapan? Ya jawabannya dari aku usia 5 tahun. Pertemuan singkat di sebuah taman, lucunya kita malah berjodoh." Kalista menjeda ucapannya sejenak, mengambil gelas yang berisi air mineral dan meneguknya.


"Nah waktu kecil itu kita hanya ketemu beberapa kali doang, sampai pada akhirnya tempat aku kerja CEOnya di gantikan oleh anaknya. Saat itu juga aku nggak tahu, kalau CEO baru itu teman kecil aku. Ceritanya complicated banget sih, berbelok-belok sama sekali nggak lurus. One day Arka ngelamar aku, ternyata selama Arka menjadi CEO tuh sambil mencari-cari informasi tentang teman masa kecilnya. Sang pemberi cinta sudah mentakdirkan kita untuk hidup bersama, setelah tujuh belas tahun terpisah akhirnya kita di persatukan dalam ikatan suci pernikahan, dan di karuniai dua anak kembar." Imbuhnya lagi.


"Oh gitu. Kamunya juga tebar pesona kali ya sampai Arka jatuh hati sama kamu." Celetuk Andre berlagak sok tahu.


"Tebar pesona sih nggak, cuma ya gimana gitu kalau wajah cantik plus body bagus, rata-rata kaum Adam yang memiliki hormon normal bakalan tertarik kan? Lagi pula, aku tuh tipe orang yang jutek banget. Arka juga cuek banget, sampai beberapa kali aku harus debat dulu walaupun itu urusan kantor. Arka bahkan sempat melontarkan beberapa kata kasar sama aku, tapi skenario Allah itu indah." Ujar Kalista.


"Ketika Arka menyatakan perasaannya dan langsung melamar, kamu langsung mengiyakan gitu aja? Itu kebelet nikah atau gimana sih?" Pertanyaan dari Andre ini cukup membuat Kalista memutarkan matanya jengah.


"Nggak dong! Aku mikir ini itu dulu, mempertimbangkan banyak hal dan lain sebagainya. Tapi karena Arka itu teman masa kecil aku, dan Arka juga sudah tahu kehidupan aku dari kecil hingga sekarang. Dengan bismillah aku menerimanya, aku siap menjalankan ibadah bersamanya. Walaupun pada saat itu usia aku baru 22 tahun, tapi Alhamdulillah Arka itu bisa menyakinkan aku dari segi apapun, bisa menghapus semua keraguan yang ada di dalam diri aku." Kalista.


"Lalu, setelah menikah bagaimana? Kalian kan nggak tahu pribadi masing-masing. Ada penyesalan nggak?" Tanyanya lagi.


"Iya kita memang nggak tahu sikap dan sifat asli dari masing-masing diri kita ini. Sejauh ini sih fine-fine aja, yang aku suka darinya sikap mesum dan romantisnya. Arka juga katanya baru tahu di balik sikap jutek dan cueknya aku itu ternyata aku tuh manja banget." Kalista menutup mulutnya sambil tersenyum mesem.


"Kita juga sama-sama belajar untuk menjadi pasangan suami istri terbaik. Aku berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku, dan aku pun berusaha menjadi bunda yang baik untuk kedua anakku. Arka juga begitu, dia selalu bisa mengayomi aku dan anak-anak, dia selalu berusaha menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Intinya dalam rumah tangga itu kita perlu kerja sama, komunikasi harus lancar. Dan aku pun harus mengerti kesibukannya di kantor." Kalista kembali lagi meneguk air mineral.


"Arka itu kan masih muda, penampilan oke, perawatan mantap, good looking intinya sih. Sedangkan kamu hanya hanya menjadi ibu rumah tangga, yang notabenenya seluruh waktu kamu di habiskan di rumah untuk mengurus si kecil. Apakah kamu nggak takut Arka akan bermain dengan wanita di luaran sana?" Kali ini pertanyaan Andre cukup membuat Kalista tersenyum miring. Bisa Kalista tebak, dari semua pertanyaan basa-basinya ini adalah pertanyaan inti yang ingin di ajukan pada Kalista.


"Iya suami saya masih muda, badannya proporsional, good looking, uangnya banyak. Wanita mana sih yang tidak tertarik kepadanya? Wanita manapun pasti akan bertekuk lutut di hadapannya, bahkan mungkin secara nggak sopan mereka akan membayangkan untuk menjadi istrinya, untuk bisa tidur bersamanya. Aku paham banget mengenai hal itu, dan aku memberikan kepercayaan tinggi padanya. Aku tahu suami aku itu orangnya seperti apa? Dan aku percaya dia tidak akan melakukan tindakan tidak senonoh di luaran sana." Sebuah kalimat yang panjang lebar Kalista lontarkan untuk menjelaskan pada Andre.


Beberapa kali Kalista melirik ke arah dapur, sudah berapa menit berlalu mengapa Arka tidak juga kembali? Apakah membuat jus kiwi memakan waktu untuknya? Atau mungkin dia kerepotan? Apa blendernya rusak?


"Ketika pak Andre bertanya seperti itu, apakah di benak pak Andre hanya Arka saja yang jadi incaran para wanita di luaran sana? Aku juga merasakannya, walaupun aku sudah menjadi seorang istri dan sudah melahirkan dua bocah kembar. Contoh simpelnya, ketika aku berada di mall ada seseorang yang mencoba mendekati aku, ketika aku berada di taman sedang melakukan jogging ada pula pria yang mencoba merayuku, memintaku untuk menjadi istrinya, dan berusaha memfasilitasiku dengan segala kekayaan miliknya." Kalista mencoba menatap Andre sekilas, pria yang Kalista sebutkan adalah pak Andre sendiri.


"Aku boleh bangga tidak sih? Seorang mama muda tetapi masih menjadi incaran para pria di luaran sana. Bahkan ada yang terang-terangan tidak mempermasalahkan aku sudah melahirkan dua anak. Dari sosmed saja banyak sekali pesan yang masuk, para pria ganjen mulai berani menggoda. Itulah mengapa Arka keberatan jika aku pergi keluar hanya dengan dua bocah kembar saja. Arka takut akan ada banyak orang yang mencoba menggoda istrinya ini. Jadi pada intinya kita sama-sama berkomitmen untuk membangun kepercayaan, berusha untuk membangun dinding kuat agar tidak tergoda oleh siapapun di luaran sana." Kalista mengakhiri kalimatnya, percakapannya dengan Andre ini sudah terlalu panjang dan mulai menjalar.


"Ngobrolin apa sih? Serius banget kayanya." Arka baru saja datang dengan membawa segelas jus kiwi permintaan dari istrinya.


"Ngobrolin..,"


"Tadi gue nanya awal mulanya kisah cinta kalian, penasaran banget soalnya lu punya bini masih muda gitu." Andre langsung memotong ucapan Kalista.


Kalista?


Bodoamat sih nggak peduli, Kalista malah sibuk menikmati segelas jus kiwi buatan Arka. Lagi pula Kalista juga merasa bahwa Arka sengaja membawa Andre ke rumahnya, atau mungkin Arka tahu bahwa Andre menyukai Kalista? Beberapa pemikiran itu ada di benak Kalista.


"Beneran hamil ya?" Arka masih penasaran, apalagi ketika melihat Kalista makan dalam jumlah banyak.


"Aku sih berharap nggak! Bukannya nggak mau hamil, tapi belum siap. Nathan dan Nayla masih kecil, dan aku masih ingin merawat mereka berdua dengan sepenuh hati. Kebayang nggak sih nanti kalau nanti tiba-tiba mereka punya adik, yang ada kasih sayangnya aku bakalan terbagi. Belum lagi ngurusnya, repot banget deh." Ucap Kalista sembari bekas bibirnya di pinggiran gelas.


"Kalau pun hamil ya harus di syukuri sih, kamu nggak usah ngeluh dan banyak mikirin ini itu. Aku tahu istriku selalu berusaha menjadi istri yang baik dan bunda yang baik, aku tahu kok istriku nggak mau pakai jasa baby sitter. Tapi kamu tenang aja, kan ada mama sayang. Nanti mama yang akan bantu kamu ngurusin anak-anak." Arka mencoba memberikan beberapa pengertian pada Kalista.


"Terus kamu masih sibuk ngantor? Masih sibuk sama urusan kerjaan? Enak aja, kamu yang hamilin, kamu tanggung jawab dong." Kalista mendengus kesal.


"Emang kapan aku nggak tanggung jawab sayang? Mau tanggung jawab yang sepeti apa lagi? Sebutin sayang aku kurang apa? Biar aku bisa introspeksi diri." Arka selalu tenang menghadapi Kalista yang sedang marah.


"Aku mau kamu punya banyak waktu ketika aku hamil." Lirih Kalista pelan.


"Terus apa lagi?"


"Aku punya beberapa syarat, dengerin ya!" Pinta Kalista.


"Kalau aku hamil, aku mau mama Lisa bantuin rawat Nathan dan Nayla. Kamu harus punya banyak waktu untuk aku, kerja kamu cukup Senin sampai Kamis saja, Jum'at Sabtu Minggunya buat aku. Kamu nggak boleh lembur, kamu nggak boleh ketemu klien cewe tanpa di temani Gina. Pokonya selama aku hamil aku mau dekat-dekat terus sama kamu titik nggak usah ngebantah!" Rajuk Kalista.


"Oke deal! Syaratnya enak banget sih." Arka mencubit pelan pipi Kalista.


"Nggak boleh ketemu klien cewe tanpa di temani oleh Gina? Kamu cemburu sayang?" Arka bersiap meledek Kalista.


"Iya cemburu! Kalau kamu bertemu klien cewe bersama Andy, bisa jadi kan Andy mulutnya udah kamu sumpel buat nggak lemes. Kalau sama Gina kan enak, nanti aku bisa tanya-tanya." Ucapnya dengan sedikit sewot.


"Aku mana berani ganjen ke cewe lain, nanti konsekuensinya pisah kamar. Duh ngeri." Jawab Arka sambil tercengir.

__ADS_1


Makan malam pun berakhir, Kalista segera beranjak naik ke kamarnya. Beberapa pelayan sibuk membereskan meja makan, sedangkan Arka dan Andre malah sibuk bermain game. Entah sudah berapa jam mereka main game, sampai akhirnya mereka ketiduran di ruangan itu.


Kicauan burung telah terdengar, Kalista mengerjapkan matanya dan mencoba menepuk-nepuk sisi ranjangnya. Sisi ranjangnya kosong, Arka tidak ada di sana, itu artinya tadi malam Kalista tidur sendirian.


Kalista segera bangun, dan segera menarik tirai gorden. Di balik jendela itu terlihat sangat jelas, jalanan masih kosong melompong. Kalista berjalan ke balkon, berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Berusaha menghirup udara segar yang belum tercampur polusi. Kalista juga menyempatkan untuk berolahraga sebentar, hanya untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku.


Sekarang Kalista berjalan ke kamar kedua bocah kembarnya, ketika pintu terbuka ternyata Nathan dan Nayla sudah bangun. Bocah itu tidak rewel, tidak menangis, malah tersenyum ketika tahu siapa yang masuk. Seperti biasa, Kalista selalu menyusui mereka di pagi hari. Setelah keduanya kenyang, barulah memandikannya.


Tidak hanya Nathan dan Nayla saja yang mandi, Kalista juga ikutan mandi. Karena ini weekend, jadinya Kalista tidak terlalu repot menyiapkan segala keperluan Arka sebelum berangkat ke kantor. Ketika Kalista berganti pakaian, dan memoleskan make up di wajahnya. Nathan dan Nayla malah asyik mengacak-acak mainannya.


"Bangun!" Kalista menggoyangkan tubuhnya Arka yang masih tengkurap tanpa bantal.


Yang di bangunkan Arka, yang bangun duluan malah Andre. Andre bahkan memandang Kalista dengan intens.


"Hallo pak Andre, selamat pagi. Silahkan membersihkan badan terlebih dahulu, nanti kita sarapan bersama." Kalista menyapa seramah mungkin, Kalista kesal sih Andre menatapnya dengan tatapan tidak biasa.


Andre bangun dan langsung menuju kamar tamu, tetapi sembari berjalan pun Andre sempat-sempatnya membalikan badannya untuk menatap Kalista dari kejauhan.


"Bangun!" Kalista tetap menggoyang-goyangkan tubuh Arka, tetapi tubuh itu sama sekali tidak bergeming. Bola matanya masih asyik terpejam.


"Awwwwww, sakit sayang." Arka meringis sambil mengusap pinggangnya. Ya, Kalista mencubitnya. Karena kesal dengan Arka yang tak kunjung bangun.


"Iya aku bangun." Arka bangun dan langsung merentangkan kedua tangannya, berusaha meregangkan otot-ototnya. Arka juga langsung mencium dan memeluknya Kalista secara paksa.


"Mandi dulu! Kamu bau." Kalista meronta dan berusaha melepaskan tubuh Arka darinya. Kalista juga menjepit hidungnya menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Arka pun menuruti perintah dari istrinya, Arka langsung pergi ke kamarnya dan membersihkan badannya. Sedangkan Kalista langsung ke meja makan, menyuapi kedua anaknya terlebih dahulu. Andre juga belum keluar dari kamar tamu.


"Arka mana?" Tanya Andre yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di kursi di hadapan Kalista.


"Lagi mandi!" Jawab Kalista, tetapi pandangan matanya tetap tidak teralihkan dari kedua buah hatinya.


"Oh gitu. Eh ini yang cantik dan tampan namanya siapa? Duh apalagi yang cewe cantik banget nih kaya bundanya." Andre pun mencoba berinteraksi dengan Nathan dan Nayla.


"Yang cantiknya namanya Nayla, dan yang tampan namanya Nathan. Nathan tampan kok kaya ayahnya. Salam kenal ya om." Jawab Kalista seolah-olah dirinya adalah bocah kembar tersebut.


Andre masih tetap memperhatikan Kalista yang sedang menyuapi anaknya. Dimata Andre Kalista ini adalah sosok perempuan sempurna, cantik dan multitalenta. Kalista menyuapi anaknya dengan telaten, bahkan Kalista bisa banget merayu anaknya agar makan dengan lahap. Selama menyuapi makan pun Kalista sembari mengajaknya bermain, Kalista sangat periang dan kedua anaknya jadi ceria.


"Anak ayah makannya lahap banget, pasti MP ASI buatan bunda enak banget ya?" Mencium bocah kembarnya secara bergantian.


"Iya dong! Nathan dan Nayla udah selesai sarapannya. Sekarang ayah, bunda dan om Andre sarapan dulu. Sayangnya bunda jangan rewel ya, kalian anak banget loh." Ujarnya.


Kalista lalu mengambilkan nasi goreng untuk Arka, untuk Andre, dan untuk dirinya juga. Ketiganya sarapan dengan tenang.


"Hari ini mau kemana?" Di sela-selanya mengunyah nasi goreng Arka menyempatkan untuk bertanya.


Kalista menoleh pada Arka, tetapi belum bisa menjawab karena mulutnya masih di penuhi nasi goreng.


Kalista meraih gelas yang berisi air mineral, kemudian meneguknya.


"Hari ini aku mau pacaran dulu sama kamu." Jawab Kalista sambil tercengir memperlihatkan seluruh deretan giginya.


"Gimana tuh maksudnya? Kok aku nggak paham?" Tanya Arka dengan ekspresi wajah bingung.


"Tadi subuh aku udah hubungi mama, mau nitip Nathan dan Nayla sampai sore. Pulang dari rumah mama, kita ziarah suku ya ke ayah bunda aku, mau aku jengukin mereka sekalian mau curhat. Terus udh itu kita pacaran deh!" Kalista menjelaskan dengan ekspresi wajah ceria.


"Tumben banget nih Nathan dan Nayla nggak di ajak, aneh banget nih biasanya kan Nathan dan Nayla harus ikut serta." Ya Arka memang merasa ada yang aneh pada istrinya.


"Sekali-kali lah, udah lama kan kita nggak quality time berdua, nggak bermesraan, nggak gandengan tangan di tempat umum, sekarang waktu yang tepat untuk pacaran. Tapi tenang aja ya, walaupun aku mau titipkan Nathan dan Nayla di rumah mama, aku udah siapin asi dan susu formula, lengkap dengan mp ASI-nya juga." Ujar Kalista.


"Planning yang sempurna, yaudah mau pacaran di mana?" Tanya Arka sambil menarik turunkan alisnya.


"Mau pacaran kaya remaja yang lagi bucin, nggak mau masuk ke mall cuma numpang foto, nggak mau nongkrong tapi pesan es jeruk doang. Aku mau kencan ala orang biasa, makan bakso minumnya teh botol Sosro. Beli gorengan pinggir jalan minumnya es kelapa muda. Terus berburu jajanan pasar deh." Kalista sangat antusias sekali, mungkin sudah terbayang di pikirannya bahwa pacarannya atau kencannya bakalan terasa indah.


"Really?" Tanya Arka dengan ragu.


"Iya, kenapa? Kamu nggak suka merakyat? Mau pacarannya di mall, shopping, makan di restoran atau kafe terkenal, nonton bioskop, booking hotel gitu?" Sewot Kalista, bahkan Kalista memutarkan mata jengahnya berkali-kali.


"Bukan gitu! Aneh aja gitu, dengan style yang sangat fashionable kaya gini kencannya sederhana banget. Padahal kamu usaha cantik banget dengan dress seperti itu. Tapi aku sangat setuju dengan kalimat terakhirnya, kita booking hotel juga ya tanpa si bocah kembar." Senyum menyeringai itu telah muncul, bahkan kalista langsung bisa mengartikan arti dari senyuman itu.


"Nggak! Kita pacarannya sampai sore aja. Jemput Nathan dan Nayla di rumah mama, terus pulang." Tutur Kalista.


"Mendingan Nathan dan Nayla suruh nginep di rumah mama aja." Arka makan kekeuh dan bersikeras.


"Terus kita mau ngapain?" Kalista memicingkan matanya, dan menatap Arka dengan sorotan tajam.


"Mau bercinta, bermesraan, beraktifitas di malam hari, bikin Dede bayi buat Nathan dan Nayla." Arka mulai menggoda Kalista.


"Mesum!" Bibir kalista mencebik.


"Suruh siapa mau jadi istrinya si mesum?" Arka bertanya pada Kalista.


"Loh, suruh siapa coba kamu lamar aku? Suruh siapa kamu jatuh cinta sama aku? Hey, jangan lupa kamu lamar aku dengan membawa keluarga kamu lengkap beserta sahabat dan teman dekat aku." Celetuk Kalista.


"Kalau kamu nggak suka kan kamu bisa nolak sayang, kenapa kamu terima coba? Kamu matre ya? Kamu lihat aku dari segi fisik dan materi ya? Hayo ngaku." Cibir Arka sambil meledek Kalista.


"Kenapa aku terima? Karena aku hati dan perasaan aku luluh sama kamu, aku terharu dengan segala jenis perjuangan kamu buat dapatin aku. Terlebih lagi kamu adalah teman masa kecilku, ka Willi yang selalu aku idam-idamkan buat jadi suami aku. Wajar dong aku terima, aku suka kamu, aku cinta kamu, tapi aku nggak matre. Lagian kamu juga cinta mati kan sama aku? Kamu aja buang buket bunga dari Rangga, kamu cemburu kan? Waktu di Surabaya diacaranya om Bayu, kamu cemburu kan sama Alvin? Kamu juga cemburu kan sama Gerry? Bahkan masih banyak orang-orang yang cinta sama aku. ****** lu nikahin wanita secantik gue, siap-siap aja gue diembat sama orang lain, yang lebih tampan, lebih tajir, materinya seantero jagat raya." Mulut mungilnya itu berbicara sangat cepat sekali, bahkan di akhir kalimatnya tiba-tiba Kalista menjadi menyebalkan.

__ADS_1


"Nah kan aku suka kamu yang jujur, kamu yang ngaku suka sama aku. Biar ku tebak sayang, pasti kamu diam-diam kalau mau tidur halu dulu ya? Berharap aku jadi suami kamu, berharap kamu tidur dalam hangatnya delapan tubuhku. Aku suka kamu yang jujur dan terang-terangan, kalau suka ya mendingan ngaku, nggak usah gengsi. Tapi aku juga jujur sih, pertama kali jadi CEO di kantor dan tahu punya sekretaris cantik kaya kamu, ya aku suka. Jujur banget, kamu itu cantik, bodynya bagus, tapi sayang jutek banget. Sekretaris pribadi juga salah satu jalan ninjaku agar bisa lebih dekat, lebih banyak waktu bersama." Arka tersenyum, saat ini Arka kembali mengingat masa-masa awal jadi CEO di kantor.


"Gimana aku nggak cemburu juga, istri cantikku ini banyak yang ngincer. Makanya aku harus ekstra jagain kamu biar nggak di ambil orang lain. Tapi tentunya nggak cuma kamu doang yang di rebutin banyak pria, aku juga di di incar banyak kaum hawa. Makanya kita harus sama-sama jaga hati. Love you." Arka menggenggam erat jari jemari Kalista.


"Jangan lupa ya pasangan bucin, di hadapan kalian ini ada tamu yang notabenenya masih jomblo. Tolong banget hargai saya, jiwa kejombloan saya meronta-ronta melihat keuwuan kalian berdua." Gerry memang dari tadi sarankan di hadapan pasangan suami istri itu, Gerry menyaksikan dan mendengar langsung planning mereka tentang hari ini. Dan semua ini cukup membuat Gerry merasa sesak, karena Gerry awalnya sudah ada rencanya ingin merebut wanita cantik yang ada di hadapannya ini.


"Sorry bro! Biasa nih istri kalau bucin emang kaya gitu." Celetuk Arka memojokan Kalista.


"Aku di kambing hitamkan! Menyebalkan." Cibir Kalista yang langsung melahap kembali nasi goreng di piringnya.


"Riko sama Risa belum honeymoon loh, gimana kalau kita ikut mereka. Honeymoon bareng gitu." Arka menatap Kalista berharap Kalista menyetujuinya.


"Nathan dan Nayla di bawakan?" Tanya Kalista.


"Nggak dong! Nathan sama Nayla mau aku tutup mama aja." Kata Arka.


"Nggak bisa ah, aku mana bisa nggak ketemu Nathan dan Nayla sehari aja? Aku nggak bisa, nanti aku kangen mereka. Aku nggak mau honeymoon lagi, kalau kamu kan bisa di rumah juga." Kalista berkata lirih, Kalista tidak akan sanggup melakukan perjalanan jauh tanpa di bocah kembar.


"Kalau di rumah kan udah biasa, aku mau suasana yang baru. Sekalian holiday soalnya aku sibuk kerja, refreshing sayang, kamu juga butuh udara segar loh." Arka masih berusaha membujuk Kalista agar mau ikut dengannya.


"Tapi aku nggak mau kalau ninggalin anak-anak, ngertiin naluri aku sebagai seorang ibu please." Manik mata itu berubah menjadi sendu, di satu sisi dirinya tidak tega menolak ajakan suaminya, di sisi lainnya dirinya tidak akan pernah bisa meninggalkan Nathan dan Nayla walau hanya sehari saja.


"Yaudah iya!" Jawan Arka datar. Ekspresi wajahnya juga biasa saja, tidak terlihat marah tetapi juga terlihat flat.


"Kalau nggak gini aja deh, kita holiday sekaligus honeymoon lagi tapi ajak mama. Di sana nanti tugas mama jagain Nathan dan Nayla. Biarin deh Nathan dan Nayla tidur sama mama, asalkan Nathan dan Nayla masih dalam pantauan aku aja." Kalista mengusukan salah satu ide yang di anggapnya bisa menjadi pilihan tengah atau alternatif untuk keinginan mereka berdua.


"Itu mama aku, bukan baby sitter loh." Sarkas Arka.


"Aku nggak bilang itu baby sitter loh, aku.."


Arka menyetop ucapan Kalista, karena ponselnya berbunyi. "Ya hallo, ah oke gue berangkat sekarang." Jawabnya pada seseorang di senang telepon itu.


Tanpa berkata apapun, Arka langsung bangun dan bergegas keluar rumah. Tidak ada sedikitpun penjelasan pada Kalista, bahkan Arka juga melupakan Andre tamunya.


Kalista menatap punggung Arka yang sudah menghilang, di luar sana terdengar deru mesin mobil dan klakson yang menandakan minta di bukakan pintu gerbang. Kalista cukup paham, mungkin Arka marah karena dirinya telah menolak ajakannya. Tetapi mengapa harus seperti ini? Mengapa Arka harus cuek pada Kalista tepat di depan Andre? Mengapa? Mengapa? Mengapa? Masih banyak mengapa di benak pikiran Kalista.


Semudah itu Arka melupakan tentang keinginan Kalista untuk pacaran tepat di hari ini? Untuk quality time berdua dan menjelajahi kulineran Nusantara? Semudah itu Arka melupakannya?


"Tempramen banget, Arka sudah sering bersikap seperti itu?" Andre dengan tidak sopan menyentuh punggung tangan Kalista.


Kalista segera tersadar dan menguasai dirinya, Kalista langsung menarik tangannya yang sedang di genggam oleh Andre. "Nggak segitunya, diantara kita memang sering terjadi kesalahpahaman. Tetapi, untuk kali ini agak berbeda, pasti ada sesuatu hal yang terjadi makanya suamiku buru-buru pergi. Biasanya untuk urusan yang seperti ini suamiku nggak bakalan bilang atau ngasih tahu, karena akunya juga khawatiran orangnya." Kalista masih membela Arka, apalagi orang sedang berada di hadapannya ini memang menginginkan dirinya. Celah kecil di rumah tangganya bisa saja di manfaatkan olehnya.


"Jangan terlalu percaya! Belum tahu kan Arka itu si luaran sana sikapnya seperti apa? Lagipula dia juga nggak konsisten, cepat banget berubah. Tadi masih bilang sayang, cinta, romantisan. Kok sekarang berubah seratus delapan puluh derajat? Cuek iya, mana pergi gitu aja nggak bilang-bilang." Cibir Andre dengan bibir mencebik.


"Memang benar kata orang, setelah berumah tangga akan banyak cobaan dan godaan setan. Dulu aku berpikir setan itu nggak kasat mata, ternyata setan juga bisa berwujud manusia." Sinis Kalista sambil menatap Andre, setan yang Kalista maksud itu adakah Andre.


"Untuk ukuran seorang pembisnis seharusnya pak Andre mempunyai kosa kata yang baik dan benar sesuai dengan EYD dan PUEBI, diksi juga penting loh pak. Saya heran juga sih sebenarnya, pak Andre itu kan rekan kerjanya suami saya, dan bertamu ke rumah saya. Mengapa pak Andre terkesan seperti sedang menjatuhkan harga diri suami saya di depan saya?" Tanya Kalista secara gamblang, Kalista mulai tersulut emosi.


"Bukan seperti itu. Saya hanya menilai, jika penilaian saya salah saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu kok." Jawab Andre sesopan mungkin.


Sudah sepuluh menit berlalu, tetapi Arka masih belum kembali. Dengan perasaan yang tidka tenang, Kalista segera mengambil ponselnya. Mencari kontak yang akan di hubungi. Ponsel sudah tertempel di telinga, tetapi belum ada jawaban.


"Ya hallo, ada apa?"


"Ndy, di kantor ada masalah nggak? Kok Arka tiba-tiba pergi dengan terburu-buru sekali." Tanya Kalista dengan cemas, ternyata Kalista menelpon Andy.


"Nggak ada masalah apa-apa, nggak usah khawatir. Palingan juga si bucin lagi merencanakan sesuatu. Tunggu aja di rumah, duduk manis dengan tenang. Percaya deh, Arka itu lagi punya urusan kecil. Gue tutup ya, sumpah lu ngeselin ganggu jam tidur gue." Telepon pun langsung di tutup.


Kalista hanya bisa terduduk lemas di depan meja makan. Mana si Andre juga nggak pamit pulang, dia malah ikutan duduk dan terdiam tepat di hadapan Kalista.


Untuk mengalihkan dan menyembunyikan rasa khawatir di dirinya, Kalista mencoba mengajak Nathan dan Nayla untuk berinteraksi, berlian dan bernyanyi lagu anak-anak.


"Aku sadar selama ini aku belum menjadi suami yang baik untuk kamu, belum menjadi ayah yang baik untuk anak-anak. Kadang aku masih mempunyai sifat memaksa, aku lupa kalau hidup aku bukan cuma tentang aku, aku masih egois untuk beberapa hal. Kadang aku nggak bisa ngalahin ego di diri aku sendiri, tapi aku bersyukur dong istri aku selalu mensupport dan menerima aku apa adanya."


Tidak terdengar deru mesin mobil, tetapi tiba-tiba Arka muncul dari dapur. Membawa seikat bunga mawar merah berukuran besar dengan harum mewangi yang sangat menyengat.


"Aku minta maaf untuk kesalahan aku di beberapa hari yang lalu. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan memperbaiki diri dan berusaha menjadi suami sekaligus ayah yang baik. Jangan pernah bosan sama sikap dan tingkah laku aku, tetap temani aku untuk melangkah ke masa depan. Aku cinta kamu sampai kapanpun, aku sayang kamu dan anak-anak. I Will always love you now and forever." Arka mencium puncak kepala Kalista.


Kalista yang memang sejak tadi tidak bisa menahan tangisnya itu pun langsung bangun dan memeluk Arka dengan erat. Air mata masih berjatuhan membasahi pipinya, semakin deras dan matanya menjadi sembap.


"Udah dong jangan nangis, nanti kan kita mau ke rumah mama. Nanti aku kena samsak sama mama gara-gara lihat mata kamu sembap. Mama kan udah bilang, nggak ada rela melihat mantu kesayangannya menangis karena aku. Hey sayang, tolong kerja samanya dong." Arka mengusap punggung Kalista, mencium wangi rambutnya dan mencium puncak kepalanya.


"Aku takut." Ujarnya dengan lirih, tetapi masih tetap memeluk Arka.


"Takut kenapa sayang?" Tanya Arka bingung.


"Aku takut kamu marah gara-gara nolak ajakan kamu untuk honeymoon tanpa Nathan dan Nayla. Kamu sukses membuat aku gelisah dan khawatir dalam waktu dua puluh menit. Kamu jahat." Kalista berkata sembari memukul-mukul pelan dada Arka.


"Maaf tadi aku emang agak emosi sedikit, tetapi aku sadar aku kan udah menjadi suami sekaligus ayah. Kok aku egois banget ya? Kok aku tega akan meninggalkan darah daging aku sendiri. Aku minta maaf loh sama kamu dan anak-anak." Ucap Arka.


"Drama banget sih pasutri ini. Gue Kamit pulang deh daripada gue jadi jones disini." Andre menepuk bahu Arka dan Kalista, dan langsung berjalan ke luar rumah.


"Yaudah yuk kerumah mama, terus kita jenguk ayah sama bunda di tempat peristirahatannya. Selanjutnya kita pacaran kaya ABG bucin, kencan indah sembari menjelajahi kuliner Nusantara. Yuk, kita ciptakan momen baru untuk hari ini sayang." Arka kembali mencium dahi Kalista.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2