
Rosse menangis melihat kejadian tidak mengenakan di hadapannya. Jeorge yang terkena pukulan justru malah tertawa
"Seberapa marahnya pun kamu sama aku, tidak akan merubah kenyataan bahwa Rosse mengandung anakku..! Lagi pula kami melakukannya tidak jarang.. Dan harus kamu ingat, bahwa yang setia akan kalah sama yang selalu ada" Ucap Jeorge menang.
"Kau memang manusia yang diciptakan tanpa otak..!! Manusia hina..!! Menjijikan!! Tidak tau terima kasih!!" maki Vino. Dia bersiap meninju wajah Jeorge lagi namun di tahan oleh Rosse.
"Cukup Vino..!! Jangan bertindak seperti ini.. Aku memang sudah tidak cinta lagi sama kamu..!!" teriak Rosse yang berhasil menghentikan aksi Vino.
"Jadi selama ini kamu pura-pura sayang sama aku?" tanya Vino dengan nada lebih rendah
Rosse hanya menunduk dan sesegukan.
"*****..!!!" umpat Vino di hadapan Rosse. Ia berlalu menininggalkan Rosse dan Jeorge. Jeorge memanggil Vino namun hanya diacungi jari tengah olehnya.
Setelah itu Vino kembali ke kumpulan seribu mawar yang tadi ia siapkan. Ia mengambil bahan bakar di mobilnya dan menaburkannya di atas mawar-mawar dan membakarnya. Nyala api membumbung tinggi di atas tumpukan mawar. Perlahan mawar-mawar itu layu mengering dan menjadi abu. Rosse menangis semakin menjadi melihat aksi Vino. Dia berusaha menghampiri namun Jeorge menahannya.
Vino pergi dari tempat itu mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Dia memandangi cincin yang baru saja ia akan berikan pada Rosse. Dengan kesal ia melemparkan cincin itu ke luar jendela mobilnya.
Setelah beberapa hari, ia kembali ke Indonesia dan mengganti kewarga negaraannya jadi WNI. Vino melanjutkan usaha kakeknya yang sudah hampir bangkrut jadi maju kembali bahkan lebih maju. Ia melanjutkan study s2 di jerman dan tidak pernah lagi kembali ke Amerika hingga detik ini.
Flash back off
"Huuuu... Hik.. Hik.. Hikk... Sedih banget.." ucap Lantana seraya mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangannya.
Vino menoleh ke arah Lantana dan syok dengan keadaan Lantana saat ini. "Kamu!!? Kenapa malah jadi kamu yang nangis..??" Vino mengusap pipi Lantana dengan ekspresi bingung. antara sedih, heran, dan ingin tertawa.
"Lagian, teman kamu kok tega semua sih?? Sahabat dan pacar malah selingkuh.. Padahalkan udah ditolongin... Hik.. Hik.." ucap Lantana sambil sesegukan
__ADS_1
"Udah.. Saya sudah melupakan mereka kok.. Berkat kamu.." elus Vino di kepala Lantana
"Bohong..!! Kamu pasti gak bisa melupakannya kan? Buktinya kamu tadi masih judes aja sama Jeorge.." isak Lantana
"Emangnya saya harus gimana?? saya sudah melupakan kejadian itu, tapi bukan berarti saya bisa memaafkan apa yang mereka perbuat kan,,? Kalau kamu lupain orang-orang yang nyakitin kamu gimana emangnya??" tanya Vino lembut
"Hm?? Aku?? Aku bakal lupain mereka semua.. Kemarin aja waktu reuni SMA ada orang yang selalu nge-bully aku pas sekolah.. Terus aku heran kenapa dia ikut reuni di SMA kami. Aku bilang "kenapa kamu ikut reuni di SMA kami?" dia jawab. "Kan saya juga sekolah di sini". Aku tanya sama semua teman-teman, dan jawaban mereka sama.. Aku malah gak inget sama sekali.." jelas Lantana jujur
"Lah.. Itumah beneran di lupain dong.. dasar Lantana,, Lantana.." Vino mencubit pipi Lantana gemas
"Mawar di kantor juga.. Kamu belum bisa lupain cewek itu kan?" desak Lantana lagi
"Hmmm... susah ya debat sama kamu.. Bener sih,, saya belum bisa sepenuhnya lupain dia.. mungkin kebiasaan juga, atau mungkin saya memang bodoh.. saya tidak bisa melihat sekeliling.. padahal di sekitar saya ada gadis yang lebih cantik dan lebih lembut dari dia.. Saya akan membuangnya.. saya menemukan bunga yang lebih cantik dari mawar.. Lagi pula mawar itu tidak hanya melukai aku, tapi juga melukai kamu yang tidak bersalah kan.." ucap Vino
"Aku? Kenapa aku?" Lantana heran
"Kamu gak ingat ulat bulu yang menempel di tanganmu?" Vino mengingatkan
Vino tertawa melihat kelakuan Lantana yang lagi-lagi menggemaskan.
"Yaaahhh... Eskrimnya asin.." Lantana melepeh cone es krim yang tinggal sepotong.
"Kamu nangis gak lihat-lihat sih.." Vino mencubit pipi Lantana lagi karena gemas
"Udah si jangan cubit-cubit mulu.. Entar dower lagi pipinya.." keluh Lantana. Namun Vino semakin gemas dengan tingkahnya.
"Pulang yuu.. Udah malem nih.. Nanti ayah nyariin.." rengek Lantana
__ADS_1
"Kan saya udah bilang.. Kamu jawab dulu tawaran saya baru saya anterin pulang.."
"Yaudah.. Saya pulang sendiri aja.." Lantana berdiri dan siap meninggalkan Vino
"Eh???... Ana!!! Tunggu...!!!"
Vino mengejar Lantana yang sudah berlalu jauh meninggalkannya. "ngambek lagi..?? iya.. iya.. aku gak bakal maksa kamu kok.. yuk pulang yuu.." Vino dengan santai menautkan jari-jari tangannya di jari jemari Lantana. "mau beli itu nggak??" Vino menunjuk penjual cutton candy
"enggak ah.. udah malem.. ngantuk nih" Jawab Lantana jujur
Vino mengangguk dan menuntun tangan Lantana hingga ke mobilnya. ia membukakan pintu untuk Lantana dan Lantana langsung duduk tanpa ba bi bu. Lantana melihat kembali tangannya yang tadi di genggam Vino. tanpa sadar pipinya merona merah.
"kenapa?" tanya Vino setelah masuk ke dalam mobil dan mendapati Lantana yang tengah asik senyum-senyum sendiri.
"enggak.. ada yang lucu aja.." Kilah Lantana
Vino menjalankan mobilnya membelah jalanan yang masih ramai karena malam minggu. ia melirik lantana yang sudah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi tanpa daya.
"makasih ya hari ini.." Ucap Vino memecah keheningan
"hmm..?? hm hm.." jawab Lantana seraya mengangguk. "makasih untuk apa?" tanyanya
Vino menggelengkan kepalanya. bagaimana tidak? tadi mengangguk, tapi tak lama malah bertanya lagi. "makasih karena udah mau nemenin saya jalan-jalan"
"seneng banget keknya,, padahal cuman jalan-jalan doang" Jawab Lantana
"yaaa... makasih juga, karena kamu sudah memberikan kenyamanan"
__ADS_1
sebenarnya Lantana merasa bingung dengan apa yang dibicarakan Vino, tapi dia mengangguk setuju. Vino terkekeh Lagi. Jika Vino perhatikan, Lantana memang gadis manja, tapi juga rajin. Dia juga cerdas, dilihat dari kinerjanya di perusahaannya. dia juga ramah dan baik hati. mudah menyebarkan kegembiraan dan menjadi teman ngobrol yang menyenangkan. penampilannya modis walau terlihat di manja-manjakan. Vino juga tidak mengerti, apakah gadis yang dikaguminya ini pura-pura bodoh atau emang bodoh beneran.
tak lama mobil mereka tiba di halaman rumah minimalis yang halamannya di penuhi bunga matahari. Vino menoleh ke arah Lantana dan mendapati gadis itu sudah tidak bersama kesadarannya lagi. Vino berusaha membangunkan Lantana, namun gadis itu masih tetap tidur. ahirnya, vino kembali menggendong Lantana sampai ke kamarnya.