
Setelah jam ngantor Kalista langsung menuju RS, rencana ia akan membayar cicilan tunggakan.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Ucap resepsionis itu dengan senyum mengembang, selalu ramah! Kesan itulah yang Kalista rasakan.
"Bayar tunggakan atas nama Luna, pasien kecelakaan lima tahun yang lalu." Kata Kalista, lalu tangan Kalista merogoh dompet yang berada di dalam tasnya.
"Tunggakan administrasi atas nama ibu Luna sudah lunas mba."
"Lunas? Nggak mungkin mbak, saya kan belum melunasinya dan masih ada beberapa kali tunggakan lagi yang belum saya bayar." Sengit Kalista.
"Tetapi memang sudah di lunasi, dari keterangannya sudah dilunasi sejak 3 Minggu yang lalu." Resepsionis itu menjelaskan dan memperlihatkan layar monitornya pada Kalista.
"Ah iya, yasudah terimakasih mbak." Kalista lalu pergi dan berinisiatif menjumpai dokter Rian, karena sekarang yang berada di pikiran Kalista mungkin saja yang melunasinya adalah dokter Rian.
"Pak dokter." Kalista membuka pintu ruangan dokter Rian tanpa permisi, dan di sana juga ada dokter Fany.
"Nggak punya sopan santun!" Dokter Fany memandang Kalista dengan sorot mata kebencian.
"Maaf." Ujar Kalista, karena telah menjadi sebuah kebiasaan ketika Kalista berkunjung ke RS untuk membayar biaya administrasi almarhum bundanya, Kalista selalu mampir ke ruangan dokter Rian. Tapi Kalista lupa, bahwa kini dokter Rian telah berubah.
"Saya kesini cuma mau bertanya aja ko pada pak dokter." Kalista memompa oksigen sejenak.
"Apa pak dokter melunasi biaya administrasi alm.bunda?" Tanya Kalista tanpa berbasa-basi, karena pernah beberapa kali dokter Rian berkata akan melunasi biaya administrasi itu.
"Cih, memangnya situ siapa? Sampai-sampai calon suami saya harus melunasinya?" Dokter Fani berdecih dan berkata dengan angkuh dan sinis.
"Saya tidak membayar, bahkan tidak melunasinya." Ucap dokter Rian datar.
"Lalu siapa?" Kalista berkata lirih dan pelan.
"Permisi telah mengganggu waktu pak dokter dan bu dokter." Kalista pamit dengan sopan, dan langsung keluar dari ruangan itu.
Sepanjang perjalanan menuju ke apartment, pikiran Kalista terus saja menerka-nerka perihal siapa yang melunasi biaya administrasi yang selalu menjadi tunggakannya itu.
"Pokonya siapapun kamu yang telah melunasinya, terimakasih ya wahai kamu orang baik, semoga hidupmu selalu berjaya." Ujar Kalista sambil menatap langit.
*****
"Semua baju-baju ini buat aku ya?" Mata Yoora berbinar-binar melihat deretan baju-baju yang sedemikian cantiknya tersusun rapi di lemari khusus di apartment Arka.
"Jangan di sentuh!" Ucap Arka tegas, karena sesungguhnya semua baju-baju itu adalah baju yang Kalista inginkan, Arka sengaja membeli semua baju yang Kalista pegang di mall waktu itu.
"Kenapa? Ini semua tuh surprise buat aku kan? Iya kan sayang." Yoora masih saja menatap baju-baju itu.
"Iya, tapi hanya boleh di pakai kalau kamu sudah resmi jadi istri aku." Arka berkilah agar Yoora tidak memakai baju itu sekarang.
"Pakai sekarang boleh nggak."
"Kenapa? Toh kamu nantinya bakalan jadi istri aku."
"Iya tapi kan.."
"Tapi kan apa?" (Bilang aja setelah rencana lu berhasil, lu bakalan tinggalin gue haha tidak semudah itu ferguso! Gue tidak sebeg* yang lu pikirkan) suara hati Arka.
__ADS_1
"Udah ayo berangkat! Dinnernya nanti malah kemalaman!" Arka menarik tangan Yoora dan mereka pun berangkat menuju salah satu kafe yang ada di kawasan mall elite.
*****
Sementara itu di apartment Kalista.
"Bete banget, pengen ke karaoke tapi nggak ada teman, hmmm apa gue nonton aja ya? Sekarang kan tunggakan ke RS udah ada yang bayarin, jadi gue nggak perlu ngirit lagi."
Kali ini Kalista ingin tampil berbeda. Ingat tidak Kalista pernah membeli baju dengan style Korea? Itu loh pas ngemall bareng Tiara, Bima, Bimo dan Rangga. Baju itu kan sampai sekarang belum pernah Kalista pakai.
Kalista memakai rok rempel motif kotak berwarna mocca, panjangnya 15 cm diatas lutut, dipadukan dengan kaos crop putih polos, di lehernya melingkar scrap. Rambutnya di gerai, bagian ujung bawah rambutnya di curly, memakai speakers putih.
Puluhan kali Kalista menatap dirinya melalui pantulan cermin, cantik? Itulah yang akan cermin katakan bila dirinya bisa bersuara.
"Yakin masih cantikan Yoora? Gue juga nggak kalah cantik kan dengan style Korea begini? Lihat aja nanti bakalan ada puluhan pasang mata yang memandang gue." Kalista tersenyum sambil terus menatap dirinya dari cermin.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Kalista, dari semenjak dirinya masuk ke mall dan menonton bioskop, banyak sekali yang memperhatikan penampilannya, begitu cantik dan seksi.
Setelah film selesai di putar, Kalista buru-buru keluar karena merasa risih diperhatikan oleh pria yang sedang duduk di pojokan bioskop.
"Awwww.." Kalista memekik kaget, karena jalan tergesa-gesa sampai tidak memperhatikan keadaan sekitar dan sekarang dirinya tertabrak oleh pria yang memakai pakaian casual.Beruntung pria itu berhasil menahan Kalista, sehingga Kalista tidak terjatuh.
"Kalau jalan lihat-lihat dong." Kalista marah-marah dan sibuk merapihkan rambutnya.
"Kamu juga jalan nggak lihat-lihat." Sama hal nya dengan Kalista, pria itu pun berbicara tak kalah sengitnya.
"Kamu tuh ya... Eh lu kan pria bucin." Kalista baru sadar ketika melihat wajah laki-laki itu.
"Oh malaikat penolong gue, sorry sorry tadi nggak sengaja." Pria itu tersenyum ramah. "Evan." Pria itu mengulurkan tangannya pada Kalista.
"Gue kira tadi gue nabrak onnie Korea? Taunya lu bisa cantik juga ya?" Evan terkekeh sambil menggoda Kalista.
"Baru nyadar lu, kalau gue cantik!" Kalista menyombongkan dirinya sambil mendelikan matanya.
"Sama siapa lu disini? Ikut gue yu, gue lagi mau dinner sama sahabat-sahabat gue." Evan langsung menarik lengan Kalista agar mengikuti langkahnya.
"Gue sendiri, tadi abis nonton. Eh nggak apa-apa nih gue ikut gabung, btw tlaktir kan?" Kalista berusaha memastikan, karena Kalista tahu jika pria yang sekarang sedang menuntunnya adalah pria tajir.
"Bawel deh, ikut aja lah!"
Dari sudut kafe, Arka, Yoora, Andy dan Riko memperhatikan dengan seksama, Evan sedang berjalan kearah mejanya dengan menggandeng wanita cantik yang cukup seksi, dengan menampilkan sebagian perut bagian pusarnya.
"Ke toilet bentar, baliknya dapat bidadari dia." Celetuk Riko yang tetap masih memandang Evan dari jarak 10 meter.
"Tau gitu mah gue aja yang ke toilet." Andy menimpali perkataan Riko.
Arka tidak banyak berkomentar, karena di sampingnya ada Yoora, tetapi Arka seperti mengenali wanita yang sedang digandeng oleh Evan.
"Kenalin nih, malaikat penolong gue kemarin malam." Evan mencoba mengenalkan Kalista pada sahabat-sahabatnya.
"Gue Kalista." Karena sedari tadi Kalista sibuk mempermainkan ponselnya, sampai tidak sadar bahwa sahabat nya Evan adalah Arka, Andy dan Riko yang memang sudah Kalista kenal. Kalista langsung membulatkan matanya sempurna antara shock dan gugup.
"Udah kenal." Arka, Andy, dan Riko menjawab bersamaan.
__ADS_1
"Sekretaris gue itu!" Arka menatap Kalista tajam, karena ia tidak suka Kalista di gandeng oleh Evan, dan tidak suka melihat perut Kalista yang ter-ekpose.
"Anjiiir sempit banget ya dunia, btw duduk dulu Kalista." Evan menarik kursi untuk di duduki oleh Kalista.
Mereka semua kemudian mulai makan, Kalista tidak banyak berbicara, karena merasa canggung ditatap secara intens oleh Arka.
"Kalista tadinya sendirian?" Tanya Riko yang tetap asyik menyantap makanannya.
"Iya sendirian, tadi abis nonton. Tadinya pengen karaoke tapi teman gue nggak pada bisa." Ujar Kalista.
"Oh gitu."
"Lu cantik banget ta pake style Korea." Kini Andy yang memberikan pujian pada Kalista, tujuan Andy adalah membuat Arka cemburu.
"Cantik kan gue lah! Gue kan model yang memang asli berkebangsaan Korea!" Ucap kang Yoora dengan nada sombongnya.
"Iya cantik, cantik banget malah." Arka membelai indah rambut Yoora, sekedar untuk memanasi Kalista.
"Yoora, nikah yu." Ucapan Arka itu cukup membuat Kalista tersedak oleh makanannya, sehingga Kalista menjadi terbatuk-batuk.
"Kenapa lu bocil? Pengen nikah juga?" Evan bertanya sambil memijit-mijit tengkuk Kalista.
"Mungkin tahun depan." Yoora masih berusaha menormalkan senyum kaget nya.
"Mundur terus." Arka menggerutu karena setiap diajak nikah jawaban Yoora selalu seperti itu, tetapi dalam hati Arka tersenyum karena sesungguhnya ia telah mengetahui rencana Yoora.
"Sayang ngertiin deh, ohiya sayang udah ini aku mau shopping ya." Mulai deh Yoora merajuk manja pada Arka.
Tiba-tiba ponsel Evan berdering, Evan melihatnya sekilas, memandang acuh tak acuh lalu ponselnya diletakkan kembali diatas meja.
"Siapa?" Tanya Kalista penasaran.
"Shafa."
"Jawab! Sekarang kita saksikan air mata palsu penyesalan miliknya." Kalista antusias sekali, dan sekarang duduknya sudah berpindah ke dekat Evan.
"Sayang.. kamu dimana? Maafin aku, aku salah. Aku butuh kamunya, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku rela tinggalin dia demi kamu sayang. Sayang aku mohon, kasih tahu aku sekarang kamu lagi ada dimana?" Wanita bernama Shafa itu terisak-isak diseberang video call, suara hatinya menyayat sedih.
"Hii, gimana? Enak jadi gembel? Gimana enak nggak nyakitin gue? Haha mampus karir lu hancur, gue adalah orang yang paling bahagia melihat hidup lu menderita, pergi sana sama pria miskin yang lu pilih itu. Sekarang hidup gue jauh lebih bahagia tanpa adanya wanita ular berbisa yang matre kaya lu. Ini pacar baru gue, jauh lebih cantik dari lu, dan yang pasti wanita ini jauh lebih dewasa dan bisa menerima gue apa adanya. Ingat ya, gue tidak sebucin dan setol*l kemarin-kemarin!!" Evan berbicara dengan lantang, dan memperkenalkan Kalista sebagai pacar bohongan ya.
"Sayang dengarkan penjelaskan aku dul..." Evan langsung memutuskan secara sepihak.
"Pacar baru nih gue?" Tanya Kalista menggoda Evan.
"Kalau lu mau." Jawab Evan santai, sementara Arka langsung melotot ke arah Evan.
"Sorry gue trauma terhadap janji manis." Perkataan Kalista cukup menyinggung Arka.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤