
"Laper banget aku." Ujar Kalista seraya membuka pintu apartment.
"Tunggu bentar." Arka yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa itu pun langsung mengambil ponsel dan segera delivery makanan.
"Nggak nyaman banget tidur pakai baju gini?" Ucap Kalista. Arka langsung menatapnya heran. "Tadi pagi juga mau mandi sebenarnya, cuma nggak ada baju ganti." Lanjutnya.
"Jadi kamu nggak ganti baju tidur karena nggak ada baju? Oh my God, kenapa nggak bilang sih?" Cibir Arka dengan bibir mencebik.
Arka kembali sibuk memainkan ponselnya, tangannya sibuk mengetikkan beberapa kata atau mungkin beberapa kalimat.
"Aku mandi dulu." Ujarnya sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Punggung itu pun menghilang seraya di tutupnya pintu kamar mandi.
Sementara menunggu Arka mandi, Kalista sibuk membaca beberapa novel miliknya yang sudah lama di tinggalkan, duduk santai di dekat jendela sambil menikmati semilir angin pagi yang masih bersih, semilir angin sepoi-sepoi itu menerpa pipi Kalista. Sejuk dan sangat terasa segar. Sudah lama sekali Kalista tidak menikmati waktu membaca novel dengan suasana seperti ini. Lumayan kangen juga pada beberapa kegiatan yang sering di lakukannya di apartment ini.
Membaca tapi tidak mengeluarkan suara, itu lebih membuat Kalista fokus membacanya ketimbang membaca dengan suara keras. Manik matanya asyik menelisik satu demi satu kata hingga menjadi sebuah kalimat utuh.
Sudah lima belas menit Arka melaksanakan ritual bersih-bersihnya. Tetapi, belum ada tanda-tanda akan keluar. "Mandi apa semedi sih? Lama banget." Gumam Kalista dengan lirih, kemudian kembali membaca novel yang sedang di genggamnya.
"Aku sudah selesai, mandi gih."
Tepukan tangan Arka di bahu Kalista cukup membuatnya terperanjat, karena Kalista terlalu asyik membaca.
"Bajunya?" Kalista mendongakkan kepalanya pada suaminya itu seraya bertanya.
"Mandi aja dulu! Baju mah gampang." Ujar Arka sambil mengusak puncak rambut Kalista.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Kalista memperhatikan Arka terlebih dahulu tanpa berkedip. Makhluk tuhan yang kini menjadi suaminya itu benar-benar sangat tampan, badannya atletis dan super keren, di tunjang pula dengan materi yang memumpuni. Wanita mana pun pasti menginginkannya.
"Jangan melamun! Suamimu ini memang tampan, dan suamimu ini tidak akan berpaling sedikitpun. Jangan khawatir, cepat sana mandi." Ujar Arka yang kini sedang membuka lemari apartment Kalista, terdapat beberapa baju Arka di sana.
Kok bisa ada baju Arka? Ya bisa dong! Kan mereka suami istri. Setelah resmi menikah mereka pernah tinggal di apartment ini, baik apartment Arka maupun apartment Kalista.
Setelah Kalista masuk ke kamar mandi, Arka buru-buru mengambil ponselnya. Tadi malam detektif suruhannya telah mengirim banyak sekali pesan, tetapi Arka tidak bisa membacanya karena di sampingnya ada Kalista.
"Arrrgggghh! Sialan! Keparat!" Geram Arka dengan suara pelan dan tertahan.
Beberapa pesan itu memberikan informasi yang sangat luar biasa, Arka tersulut emosi, dan bahkan ubun-ubunnya terasa mendidih.
"Tunggu beberapa hari lagi! Gue bakalan balas semuanya." Melempar ponselnya asal ke atas kasur, kemudian menjambak rambutnya di sertai rasa geram.
Arka bercermin, dan merapihkan rambutnya. Bahkan dia berusaha menutupi emosinya, agar semua terlihat normal. Walau bagaimanapun Kalista tidak boleh tahu mengenai hal ini, semua ada waktunya.
"Ko duduk di situ?" Tanya Kalista yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Arka sedang duduk di lantai, di pojokan kamar. Matanya terpejam, karena masih memikirkan pesan yang di kirim oleh detektif suruhannya.
"Sakit?" Kalista berjongkok di hadapan Arka, punggung tangannya di tempelkan di dahi Arka.
Tidak ada jawaban, tapi kelopak mata Arka telah terbuka. Tiba-tiba di bibirnya itu muncul sebuah senyum seringai, dan Arka terus menerus menatap Kalista dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kamu sangat seksi." Arka mengendus-endus badan Kalista, wangi sabun aroma mawar itu menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Bahkan wanginya semakin membuat Arka semakin betah berada di dekatnya.
"Mesum!"
"Awwwwwww, sakit sayang." Arka meringis sakit, karena Kalista mencubit pinggangnya.
Mata Kalista memutar jengah, kemudian dia berjalan ke arah lemari. Membuka lemari dan mengambil dalaman yang akan di kenakannya.
"Kaitin bra aku ya! Perut buncit ini semakin membuatku merasa susah." Pinta Kalista, kemudian dia berdiri membelakangi Arka.
"Dengan senang hati." Jawab Arka sangat antusias, "Di sini dong!" Arka menarik badan Kalista agar berdiri di depan cermin.
Kalista beridiri di depan cermin, handuk hanya menutupi setengah dari badannya. Badan bagian atasnya ter-ekpose dengan sempurna, perut buncit yang menyembul itu pun terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Arka?
Bukannya mengaitkan bra, dia malah sibuk memperhatikan Kalista dan dirinya melalui pantulan cermin. Dari pantulan cermin itu ia dapat melihat tubuh istrinya, wajah cantiknya, dan wajah dirinya yang terlihat mesum.
"Cepat dong! Aku kedinginan nih." Gerutu Kalista.
__ADS_1
Arka segera tersadar dari lamunannya, dan tangannya secara lincah langsung mengaitkan bra.
"Ngagetin aja, padahal dari tadi aku lagi menatap tubuh indah kamu melalui pantulan cermin." Ucap Arka dengan cengir yang memperlihatkan barisan gigi putihnya.
Bukan hanya itu, Arka juga sibuk menciumi tengkuk Kalista. Aroma shampoo yang Kalista pakai, membuat Arka semakin ingin mencium puncak kepalanya. Rambutnya sangat wangi.
"Dressnya mana?" Tanya Kalista.
"Ini."
Arka memberikan sebuah dress rumahan khusu ibu hamil, dress berwarna merah cabe dengan manik-manik yang menghiasai bagian perutnya, dan sedikit renda yang menghiasi ujung dress tersebut. Terlihat sangat sederhana, namun harganya pasti selangit, biasa lah ya orang kaya.
Tadi ketika Kalista sedang mandi, salah satu pegawai dari sebuah mall yang sangat terkenal di Jakarta mengirimkan satu buah dress pesanan Arka.
Ketika Kalista sedang sibuk merias wajahnya, tiba-tiba bell apartmentnya berbunyi. Arka membuka pintu, tidak lama setelah itu di tangannya ada beberapa kantong makanan pesanan Arka. Delivery makanan sudah datang.
Arka juga membantu Kalista mengeringkan rambutnya, dan itu memang sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi ketika hari sabtu dan minggu, dan setiap hari ketika sore. Iya hanya Sabtu dan Minggu, karena kalau hari-hari biasa Arka sibuk ngantor, dan Kalista mandinya sekitar jam 08:00 WIB, sedangkan Arka sudah berangkat ngantor dari jam 07:30 WIB. Kecuali ketika mereka sudah melakukan hubungan suami istri, barulah Kalista mandi pagi-pagi sekali.
"Sarapan dulu yuk."
Arka meletakkan beberapa potong roti kedalam piring, tidak hanya itu Arka juga memesan nasi goreng spesial dengan ceplok telor. Bahkan Arka si suami siap siaga itu membeli satu kotak susu bumil. Mereka sarapan dengan lahap, Kalista lah yang makannya paling banyak. Maklum, Kalista kan makan untuk porsi 3 orang.
"Ada beberapa berkas dan dokumen yang harus aku tanda tangani, ke kantor dulu ya sebentar." Arka yang baru saja menyelesaikan sarapannya itu pun langsung berdiri dan mengambil susu untuk Kalista.
"Iya aku ikut, terimakasih." Ucap Kalista sembari mengambil susu yang Arka berikan.
Setelah selesai sarapan, Arka membereskan terlebih dahulu apartment ini, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan apartment. Apartment ini sekarang tidak di tempati, dan Arka juga jarang sekali menyuruh orang untuk membereskannya. Maka dari itu Arka sekarang membereskannya, karena akan di tinggal lagi dalam waktu yang cukup lama. Mana mungkin Arka membiarkan Kalista dan kedua anak kembarnya menempati apartment kecil ini.
Kecil menurut Arka, kalau menurut orang biasa sih apartment ini luamayn luas dan sangat mewah. Tetapi, menurut Arka ini sangat sempit, dan bakalan sumpek. Arka akan selalu memberikan yang terbaik untuk istri dan kedua anaknya yang masih meringkuk di perut Kalista.
Kalista dan Arka kini sedang berada di lift, tangan Kalista selalu menempel di tangan Arka. Begitulah suami istri itu, selalu romantis dan harmonis, siapapun yang melihatnya pasti bakalan iri.
"Hi, bening banget mukanya kaya kaca. Membuat mata semakin betah memandang."
Sebuah sapaan yang cukup menghentikan langkah Arka dan Kalista. Siapa lagi kalau bukan si Abang eksotis yang mirip kaya bapak-bapak pensiunan yang sedang menikmati masa tua dengan secangkir teh dan membaca koran di halaman depan.
*****
Mobil telah sampai di depan kantor. Pak sopir langsung membukakan pintu untuk Kalista, sedangkan Arka membuka pintunya sendiri. Hari ini Arka memang memanggil sopir, karena mobil yang biasa di kendarainya kemarin terbakar di tepi jalan, karena kecelakaan itu.
Namun, setelah ini juga Arka meminta di bawakan mobilnya yang lain. Rencanya setelah dari kantor, Arka akan mengajak Kalista kulineran.
"Selamat pagi." Sapa resepsionis dengan ramah.
"Pagi." Jawab Arka dan Kalista secara bersamaan.
Mereka kemudian melangkah menuju lift, menekan angka 5. Tidak lama kemudian lift telah sampai, Kalista dan Arka langsung keluar, berjalan menuju ruangannya. Banyak sekali para karyawan yang menyapanya. Arka dan Kalista tidak menjawabnya, mereka hanya tersenyum saja.
"Pacaran mulu nih." Ucap Kalista yang melihat Andy dan Gina duduk berdekatan, mata mereka berdua sama-sama sibuk menatap layar komputer di depannya.
"Eh bu." Jawab Gina kikuk.
"Gawat, saham perusahaan,..."
"Gawat apa sih? Gue udah datang nih, mana berkas yang harus gue tandatangani." Arka langsung menyela ucapan Andy, matanya berkedip sebelah. Berusaha memberi kode pada Andy agar tidak meneruskan ucapannya.
"Ada apaan sih?" Tanya Kalista, matanya menatap Arka, Andy dan Gina bergantian. Sepertinya Kalista mulai curiga kepada mereka semua.
"Ini bu ada beberapa berkas yang harus di tandatangani, urgent banget. Siang ini saya ada meet up dengan klien untuk membahas suatu kerjasama."
"Siniin gin." Arka langsung mengambil setumpuk berkas, dan langsung saja menandatanganinya.
Untung saja Gina berhasil mengalihkan pembicaraan, kalau tidak Arka pasti bakalan di cerca banyak pertanyaan. Arka juga tahu sih, Kalista tidak akan percaya begitu saja. Tapi setidaknya kali ini Arka sedikit lebih lega, Arka juga akan memberitahukan semuanya, tinggal nunggu waktu yang tepat saja.
"Kalian kapan nikah?" Tanya Kalista pada Andy dan Gina.
"Secepatnya!" Jawab Andy, namun manik matanya masih tidak teralihkan dari komputer yang ada di hadapannya.
"Kapan secepatnya tuh?" Gina menatap Andy.
__ADS_1
"Sabar dulu mbak ya, masih muda ini kok, nggak bakalan jadi perawan tua." Andy menghentikan aktifitasnya sejenak, menatap Gina sambil tersenyum miring.
"Ih." Gina mendengus kesal.
Tangan Arka begitu aktif dan lincah, bergulat dengan setumpuk berkas dan dokumen. Bahkan pena saja begitu lincah menari-nari diatas dokumen itu.
"Handle semua kerjaan kantor ya. Hari ini gue bawa istri gue jelajahi kulineran nasi Padang." Ucap Arka.
"Siap." Andy mengacungkan ibu jarinya.
"Jelajahi makanan Korea, Amerika, atau makanan dari negara mana gitu. Lah ini bapak CEO yang banyak duit malah mengajak istrinya menjelajahi kulineran nasi Padang." Cibir Andy yang sebanarnya sedang meledek Arka.
"Bosan! Gue udah lama banget nggak makan nasi Padang, dan gue kangen." Arka telah selesai menandatangani sejumlah berkas, kemudian meletakkannya di meja kerja Andy.
"Sebagai warga negara yang baik kita harus bangga dan mencintai produk dalam negeri, salah satunya dengan mencintai makanan daerah. Lagipula, menurut survei rendang adalah makanan terenak rangking 1 di dunia. Gila banget nggak sih? Mantap bangetkan Indonesia." Imbuhnya lagi.
"Nah betul tuh." Gina pun menimpali perkataan Arka.
"Tapi, kadang-kadang warga +62 ini suka pada bar-bar." Ujar Andy.
"Itu hanya sebagian dari orang-orang bodoh! Dikit-dikit bar-bar, dikit-dikit kemakan hoax, dikit-dikit viral langsung jadi artis, mending kalau viralnya berfaedah dan ada nilai edukasinya. Ya namanya juga warga +62." Ucap Arka sambil memutar bola matanya jengah.
"Handle kantor, gue mau makan enak nih." Arka langsung bangkit dari duduknya dan langsung menggandeng Kalista keluar dari ruangannya.
"Oke." Jawab Andy.
Ketika sudah keluar dari ruangan tersebut, ternyata ponsel Arka ketinggalan di ruangannya.
"Sayang, ponsel aku tertinggal. Tunggu dulu ya bentar." Arka jalan setengah berlari menuju ruangannya.
Klek.
Pintu terbuka, Arka langsung masuk dan menyambar ponselnya yang tergeletak diatas meja.
"Kalian nggak perlu panik memikirkan masalah saham, gue bisa urus semuanya. Tenang aja, semua bakalan baik-baik saja, dan satu hal lagi, Kalista jangan sampai tahu." Arka berbicara dengan sangat cepat, jika memakan durasi sedikit saja Kalista pasti bakalan curiga.
Andy dan Gina langsung paham, mereka menganggukan kepala. Bahkan, Andy saja bisa langsung menebak, bahwa Arka sengaja meninggalkan ponselnya, berusaha mencari celah untuk mengobrol dengannya dan Gina.
"Yuk sayang!" Arka kembali menggandeng tangan Kalista. Keluar dari kantor dan langsung menuju rumah makan Padang yang paling terkenal dan paling laris di Jakarta. Namanya yang paling laris, tentunya semua makanannya di jamin enak dong.
Mengendarai mobil dengan sangat tenang, sesekali Arka menyalakan musik klasik agar Kalista merasa nyaman dan tidak merasa bosan. Jalanan lumayan macet, karena di depan sana terjadi sebuah kecelakaan. Dan terjadilah kemacetan yang sama sekali tidak bisa di hindari, deretan mobil telah berjejer rapi sampai ke belakang.
"Sayang, di tas kamu ada parfum nggak?" Tanya Arka.
"Ada." Jawab Kalista. "Buat apa?" Tanyanya lagi, tangannya sibuk merogoh tas kecilnya itu untuk mencari parfum.
"Minta dikit, karena tadi pagi aku nggak mandi." Arka tersenyum kikuk.
Kalista langsung mengalihkan pandangannya dari tas kecil, sehingga kini manik matanya menatap Arka sangat intens.
"Apa barusan katanya? Nggak mandi? Terus tadi pagi memakan durasi lama di kamar mandi, ngapain aja?" Gumam Kalista dalam benaknya.
Beberapa pertanyaan itu telah siap Kalista lontarkan.
"Aku nggak mandi, lap badan aja. Soalnya lukanya belum kering. Kamu pasti lupa deh kalau punggung aku terluka." Arka meraih pipi Kalista, lalu mengusapnya lembut.
Bersambung.....
Selanjutnya di RM Padang bakal ada kejadian tidak terduga. Tungguin yaπ
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1