
Hari itu selepas dari makam ayah dan bundanya. Kalista memutuskan untuk main kerumah mama Lisa. Hanya main saja, sekedar mengusir kebosanan di rumah. Kalista sama sekali tidak menceritakan kisah rumah tangganya, tidak menceritakan sikap Arka yang tak kunjung berubah. Mama Lisa tahunya Kalista dan Arka selalu baik-baik saja.
Saat itu Nathan dan Nayla sibuk bermain sama mama Lisa, dan Kalista hanya tiduran saja di sofa sambil menikmati cemilan.
Selepas adzan Zuhur Kalista memutuskan untuk pulang, sebenarnya Kalista masih betah, tetapi kalau pulang sore nanti mama Lisa pasti akan menyuruh Arka untuk menjemputnya. Arka mana mau, lagi pula nanti ketahuan hubungannya dengan Arka sedang tidak baik.
Saat itu Kalista memesan taksi online, dan meminta diantarkan ke salah satu mall yang terkenal di Jakarta. Kalista ingin mengajak Nathan dan Nayla bermain di mall.
Di mall itu manik mata Kalista menangkap sosok Arka yang sedang menikmati makan siang bersama wanita lain. Dilihat dari penampilannya sih seperti seorang wanita pekerja kantoran, awalnya Kalista berpikir mereka sedang makan siang sambil membahas urusan bisnis atau kerjasama. Tapi yang membuat kalista heran dan curiga adalah, disana hanya Arka dan wanita itu saja. Dimana Andy selalu asisten pribadi? Dimana Gina selalu sekretaris? Harus kah mereka berduaan saja?
Kalista merasakan sesak di dadanya, kepalanya terasa pusing, dan sebentar lagi akan turun hujan di kelopak matanya.
Kalista kembali lagi memesan taksi online, pergi ke kantor Arka untuk memastikan apakah suaminya ada di kantor? Barang kali kalista salah melihat, dan pria yang berada di restoran yang terdapat di mall tersebut bukan Arka.
Ketika Kalista melangkahkan kakinya masuk ke gedung pencakar langit itu, semuanya karyawan menyambutnya, ada yang menyapa dan ada pula yang tersenyum ramah.
Kalista langsung masuk ke lift, dan menekan angka 5. Saat ini bisa di bayangkan bagaimana repotnya kalista menggendong bayi kembarnya.
Sembari melewati semua ruang kerja karyawan, Kalista tetap menampilkan senyuman manisnya. Kalista tidak mungkin mengerucutkan wajahnya.
"Arka dimana?" Tanyanya Kalista ketika pintu ruangan Arka terbuka.
Disana ada Andy dan Gina. Mereka sedang sibuk dengan setumpukan dokumen. Mereka berdua pun kaget dan langsung menengok kearah sumber suara.
"Bapak Arka sedang meeting di kafe anggrek." Ujar Gina dengan gelagapan, dapat Kalista lihat wajahnya terlihat gusar.
"Andy, benar Arka meeting di kafe anggrek?" Tanya Kalista dengan sorot mata tajam, dalam hatinya sebenarnya Kalista sudah merasa gedek, karena Kalista tahu saat ini mereka sedang berbohong.
"Iya benar bu, sedang meeting di kafe anggrek." Andy langsung mengiyakan jawab Gina, berusaha menyakinkan Kalista bahwa semua itu benar dan dirinya sama sekali tidak berbohong.
"Oh rapat." Ujar Kalista sambil mendaratkan bokongnya pada sofa, menggendong Nathan dan Nayla secara bersamaan cukup membuat pinggangnya terasa nyeri, bahkan kalista merasa pinggang dan bahunya sebentar lagi akan remuk.
"Lalu, mengapa kalian berdua ada di sini? Seharusnya kan kalian mendampingi CEO kalian meeting?" Tanya Kalista serius.
"Soalnya di sini lagi banyak kerjaan banget bu, semuanya harus beres nanti sore. Sehingga bapak Arka memutuskan untuk menghadiri meeting tersebut sendirian." Jawab Gina spontan, Gina lumayan pintar juga beralibi.
"Andy, kliennya pria atau wanita ya?" Tanya Kalista lagi.
"Pria." Jawab Andy singkat, dalam hati Andy sudah mulai curiga bahwa Kalista mengetahui tentang Arka hari ini.
"Meeting di kafe anggrek, kliennya pria. Tapi, prianya cantik. Kafe anggrek sekarang pindah lokasi ya? Kok tiba-tiba ada kafe anggrek di kawasan mall elite di ibu kota?" Cibir Kalista dengan senyum sinisnya, sakit sekali rasanya di bohongi oleh orang lain.
Deg.
Andy dan Gina langsung terdiam. Benar saja dugaan Andy, pasti Kalista sudah bertemu dengan Arka yang sedang makan siang. Keduanya sama sekali tidak bisa berkata-kata, mereka memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya.
"Mereka kapan selesai meegingnya?" Tanya Kalista lagi.
"Kurang tahu bu, saya juga kurang mengerti mengenai kerja sama apa yang mereka bahas. Jadi saya tidak bisa memastikan kapan meetingnya selesai." Jawab Andy datar.
"Oh begitu! Emang sekarang apapun yang di kerjakan oleh atasan, Asisten pribadi dan Sekretaris nggak tahu ya? Kok bisa ya seorang CEO mempunyai banyak waktu?" Ujar Kalista yang sudah mulai jengah dengan semua ini.
Lagi-lagi Andy dan Gina terdiam. Mereka cukup kewalahan hanya untuk menanggapi apa yang Kalista ucapkan. Mereka tahu, kalaupun mereka menjawab sudah pasti Kalista bisa menangkalnya. Dan Kalista malah akan semakin muak kepada mereka berdua.
"Dari kapan mereka meeting?" Walaupun ini cukup menyesakkan dada dan hatinya, tetapi Kalista juga sangat penasaran dan ingin mengetahuinya.
"Sekitar empat puluh lima menit yang lalu." Jawab Andy dan Gina bersamaan, jawaban ini mereka kompakan dan bisa langsung menjawab spontan karena mereka emang benar tidak berbohong untuk durasi waktunya.
"Oh begitu." Kalista mengangguk-anggukan kepalanya, Kalista terlebih dahulu mencium Nathan dan Nayla. Kalau tidak ada mereka berdua, Kalista pasti tidak akan sanggup menghadapi kenyataan ini.
"Mau minum apa Bu? Atau mau makan apa?" Tanya Gina, barangkali Kalista belum makan.
"Saya nggak butuh minum, dan saya nggak butuh makan. Karena saya sudah sangat kenyang dengan drama hari ini yang kalian berdua dan boss lagian ciptakan." Kalista sudah bosan menatap Andy dan Gina. Percuma Kalista layangkan tatapan tajam, toh mereka berdua tetap tidak jujur padanya.
"Gina, Andy, saya salah apa sama kalian berdua. Kok tega banget sih kalian berdua bohongin saya?" Terdengar dari ucapan Kalista yang barusan, ucapan itu sangat pasrah dan terdengar lirih.
Andy dan Gina menundukkan kepalanya. Mereka berdua merasa sangat bersalah sekali sama Kalista, Arka memang tidak menyuruh mereka berdua untuk berbohong, tetapi mereka berdua tidak sanggup dan tidak tega untuk memberitahukan perihal yang sesungguhnya. Karena mereka juga tahu, kejujuran itu bakal menyakiti hati Kalista.
Kalista duduk dan mengotak-atik ponselnya, tidak berselang lama dirinya bangun dari duduknya. Kembali menggendong si kembar, lalu keluar dari ruangan itu tanpa pamit.
Kalista berusaha memfokuskan dirinya pada kedua anaknya. Kalista ingin sekali mengenyahkan Arka dari pikirannya. Sepanjang perjalanan dari kantor ke rumahnya sangat tidak terasa, karena selama perjalanan itu Kalista hanya melamun.
Setelah sampai di rumah, Kalista meminta pelayan untuk memandikan Nathan dan Nayla. Kalista juga pergi membersihkan badannya. Setelah selesai, mereka bertiga memutuskan untuk tidur siang.
Sore harinya Kalista terbangun oleh suara deru mobil di halaman depan, ternyata Arka sudah pulang. Kalista melihat perubahan yang sangat signifikan dari wajahnya, wajah duka itu telah menghilang, kini wajah Arka nampak berseri dan bahagia.
Tetapi wajah itu langsung berubah ketika bertemu dengan Kalista, Arka kembali memasang wajah datar, tidak ada senyum berseri di wajah itu.
It's oke, i'm fine! Hanya itu bisa Kalista ucapan pada dirinya sendiri, aslinya sih Kalista ingin sekali memaki dan menghujat suaminya. Apalagi Kalista mengetahui makan siang suaminya dan perempuan itu. Entah itu emang beneran ada suatu hal kerja sama bisnis yang di bahas, atau memang mereka sengaja makan siang bareng.
Malam harinya Arka kembali menunjukan gelagat yang mencurigakan. Tepat pada jarum jam yang menunjukan angka 20:00 WIB, Arka sudah sangat rapi sekali dengan pakaian casuanya. Baju hitam polosan, celana jeans hitam panjang, sepatu all star. Rambutnya di tata sangat rapi, bahkan menggunakan Pomade yang sangat mengkilap.
Hal aneh yang Arka tunjukan juga, Arka memakai parfum yang baunya sama sekali belum pernah Kalista cium. Bahkan Arka membawa parfum itu dalam kantungnya. Kapan Arka beli parfum?
Apakah Arka akan pergi kencan malam ini? Pergi ke kafe yang banyak lampu kerlap-kerlip? Atau pergi ke bioskop menonton film romance? Atau mereka akan pergi jalan-jalan menikmati udara malam? Atau mereka akan pergi ke taman, duduk di bangku taman, menatap langit yang bertaburan bintang-bintang sambil menikmati permen kapas?
Entah lah Arka akan pergi kemana bersama siapa? Kalista tidak ingin terlalu jauh memikirkan Arka dengan wanita lain.
Kalista mencoba untuk tertidur, walaupun hatinya gelisah dan pikirannya tidak tenang. Tetapi setiap kali Kalista menatap kedua anaknya yang masih kecil dan tidak berdosa itu, bibir Kalista tersenyum, mereka berdua adalah sumber kekuatannya.
*****
Mentari sudah mulai memancarkan sinarnya, sinarnya yang menyilaukan mata masuk ke kamar Nathan dan Nayla melalui celah-celah gorden. Kalista mengerjapkan matanya, mengucek kedua bola matanya. Meregangkan otot-ototnya yang kaku.
Kalista bangun, dan melihat jam dinding yang menunjukan pukul 08:15 WIB. Pantas saja sinar mentari sudah ada, toh udah jam segini. Arka juga pasti sudah berangkat ngantor.
Kalista bangun, membuka tirai gorden dan membuka jendela. Kalista berdiri di dekat jendela, menghirup udara segar dari luar. Kalista merentangkan kedua tangannya, semilir angin segar menampar wajahnya dengan kasar, beberapa helai rambutnya bergoyang tak beraturan.
"Hallo anak bunda, kalian sudah bangun? Kalian kok tidak rewel dan tidak menangis? Kalian hebat banget, uluh-uluh bunda sayang banget nak." Kalista mencium Natha dan Nayla, mereka berdua tersenyum.
Mereka berdua sama sekali tidak rewel dan tidak menangis, mereka berdua seperti mengerti apa yang sedang bundanya rasakan, mereka telah menjadi anak yang hebat.
Kalista membawa keduanya mendekati jendela, di sana ada sinar matahari. Kalista menjemur keduanya selama kurang lebih 10 menit.
"Arka pulang jam berapa bi?" Tanya Kalista yang sedang berjalan menuju meja makan.
"Tuan pulang jam dua belas malam nyonya." Jawab bibi pelayan dengan ragu, sebenarnya bibi itu tidak tega untuk mengatakan hal itu.
"Wajahnya gimana bi? Bete atau sumringah?" Tanya Kalista serius.
"Sumringah." Jawab bibi pelayan dengan lirih, tetapi masih bisa terdengar oleh Kalista.
"Tadi pagi sebelum berangkat kerja wajahnya gimana? Apakah bau parfumnya seperti parfum yang di pakainya tadi malam." Kalista menuangkan air mineral kedalam gelas, meneguknya sembari menunggu jawab dari sang pelayan.
"Masih tetap sumringah, wangi parfumnya juga sama seperti tadi malam." Ujar bibi pelayan.
"Cih sosoan jadi ABG lagi padahal udah punya anak dua." Kalista berdecih dan mendengus kesal.
"Oh iya bi, tolong buatkan bubur beras merah ya buat Nathan dan Nayla. Kalau untuk saya sarapan, nggak usah siapin apa-apa. Biar nanti saya makan roti saja." Ujar Kalista.
"Baik nyonya." Bibi pelayan mengangguk tanda mengerti.
Ting tong..
Suara bel berbunyi.
Kalista yang sedang melangkahkan kakinya menuju tangga pun segera berbalik badan.
"Biar saya saja yang buka bi." Ucap Kalista sembari berjalan menuju pintu utama.
"Nyari siapa ya?" Tanya Kalista sembari membuka pintu utama.
"Kak Gerry." Kalista berteriak histeris, kemudian dia langsung memeluk Gerry dengan erat.
Kalista begitu girang mendapati Gerry bertamu ke rumahnya. Dulu Gerry ini sering sekali menolong Kalista semasa kuliah, apalagi sedang hubungan Kalista dengan Arka sedang renggang. Kehadiran Gerry cukup membuat Kalista merasa bahagia.
"Lepasin, kamu bau asem." Gerry mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Kalista.
"Biarin aja." Ujar Kalista bersikukuh, sekarang Kalista malah menyandarkan kepalanya di dada bidang Gerry.
"Kamu itu sudah bersuami, nanti salah paham. Aku sih sebenarnya nggak keberatan kaya gini ya ta, asalkan kamunya janda." Gerry mencoba memundurkan bahu Kalista, karena walau bagaimanapun ini akan membuat salah paham. Gerry tidak mau kalau sampai dirinya di sebut sebagai perebut bini orang.
"Biarin aja! Suamiku nggak ada kok kerja." Ucap Kalista sambil tersenyum tipis.
"Iya Kaka tahu ko, tapi kan disini ada pelayan, ada security, dan tentunya ada cctv juga." Gerry menyentil pelan hidung Kalista.
"Hmmm iya sih! Biarin aja deh." Ucap Kalista masih dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Gerry mengamati raut wajah Kalista, ada yang berbeda dengan Kalista. Setelah menikah Kalista tidak pernah memeluknya, tetapi kali ini Kalista malah memeluknya dengan erat, seolah-olah Kalista sedang mencari ketenangan dengan memeluk Gerry.
"Hubunganmu dengan suamimu baik-baik saja kan?" Tanya Gerry masih dengan memperhatikan raut wajah Kalista.
"Baik-baik aja kok." Secepat kilat Kalista mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat ceria.
"Beneran?" Gerry kembali memastikan.
"Iyalah beneran. Btw, mau lihat anakku nggak?" Kalista mencoba mengalihkan perhatian Gerry, agar Gerry tidak terus bertanya mengenai hubungan rumah tangganya.
Kalista sebenarnya sangat ingin menceritakan perihal rumah tangganya yang sedang terguncang ombak, dan terombang-ambing nggak jelas. Tetapi Kalista kembali berpikir, tidak seharusnya masalah rumah tangganya di ketahui pihak luar.
"Mau banget! Itu juga di mobil bawain oleh-oleh mainan buat Nathan dan Nayla." Jawab Gerry.
"Ayo kak masuk dulu." Kalista menarik pergelangan tangan Gerry, dan membawanya ke ruang tamu.
"Duduk dulu kak, biar nanti bibi bawain minum." Pinta Kalista.
"Aku ke atas dulu kak, kedua anakku belum mandi, jadi mau mandiin dulu mereka."
Kalista segera menjauh dari ruang tamu, melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga. Ekor mata Gerry meliriknya, lalu menatapnya dengan seksama. Kualitas memang ceria, tapi tidak seceria seperti dulu. Senyum yang ada di wajah Kalista saat ini hanya sebuah senyum kepalsuan, sebuah senyuman yang lebih tepatnya di sebut topeng, yang berfungsi untuk menutupi hatinya yang sedang lara.
Tidak berselang lama pelayan membawakan minuman untuk Gerry, pelayan itu menyapa Gerry dengan sangat ramah. Awalnya, Gerry ingin bertanya mengenai apa yang terjadi dengan Kalista? Namun, hal itu Gerry urungkan, karena Gerry paham betul dengan status dirinya yang hanya sebagai orang luar.
Hari ini Kalista sangat malas memandikan Nathan dan Nayla, Kalista menyuruh pelayan untuk memandikan mereka berdua. Kalista menyiapkan pakaian gantinya.
Jari jemari itu sangat terampil dalam memakaikan pakaian dan mendandani keduanya. Bayi kembar itu sudah harum mewangi.
"Permisi nyonya." Pelayan yang lain mengetuk pintu, di tangannya ada berbagai macam mainan pemberian dari Gerry.
Bukan hanya satu pelayan, bahkan ada tiga pelayan yang membawakan mainan itu, dan ketiganya pun sangat kewalahan membawanya.
"Simpan aja di sudut sana bi, nanti saya bereskan." Ucap Kalista yang sedang memakaikan bando lucu di kepala Nayla.
Kalista Kembali lagi menghampiri Gerry, sembari mengendong kedua anaknya. Usia Natha dan Nayla sudah memasuki 6 bulan itu sudah bisa duduk, dan kepalanya sudah tegak. Itulah mengapa Kalista berani menggendong keduanya, karena leher mereka akan aman dan baik-baik saja.
Melihat Kalista yang berjalan ke arahnya, Gerry langsung bangun dari duduknya dan bersiap akan mengambil alih salah satu anak Kalista yang masih berada di pangkuannya.
"Anakmu sudah gede ta." Gerry langsung mengambil Nayla dari pangkuan Kalista, menggendongnya dan mencium pipinya dengan gemas.
"Oh ini yang namanya Nayla, kok cantik banget ya. Seratus persen gen Nayla mirip bundanya." Gerry malah mengangkat-angkat Nayla dengan gemas.
Nayla itu bayi yang baik, di gendong sama diapun dia akan merasa nyaman. Contohnya? Hari ini tuh Nayla baru banget ketemu Gerry, tetapi dia langsung mau sama Gerry. Mau di gendong, mau di cium, mau di ndusel-ndusel tangannya. Padahal baru kenal, Nayla sama sekali tidak menangis, malahan Nayla senyum dan ketawa terus. Mungkin karena sudah lama tidak diajak ngomong oleh ayahnya, sekarang Nayla malah punya sosok laki-laki lain di bandingkan ayahnya.
"Anakku yang satunya lagi cemberut nih, pengen di gendong sama om Gerry." Kalista menguyel-uyel pipi Nathan yang bulat.
"Nggak mau ah, om maunya sama Nayla aja." Gerry masih sibuk bermain dengan Nayla, mencubit pelan pipi dan hidungnya.
"Sarapan dulu yu kak."
"Kamu belum sarapan? Padahal suami kamu sudah berangkat kerja? Kok kedengarannya janggal ya?" Gerry tersenyum kikuk pada Kalista, sejujurnya pertanyaan itu keluar secara spontan.
"Kaka datang aja aku baru bangun loh, boro-boro sarapan bareng suami." Ucap Kalista dengan nyeleneh.
"Terus peran kamu sebagai istri apaan?" Tanya Gerry sembari berjalan mengelilingi Kalista.
Kalista membalikkan badannya, menatap Gerry sambil tersenyum menyeringai. "Peran aku sebagi istri adalah melayaninya, nemenin melek olahraga malam sampai keringatan." Kalista menjulurkan lidahnya meledek Gerry.
"Aish, ngeri banget. Tega banget bilang kaya gitu ke pria ganteng yang masih cowo." Gerry menoyor pelan bahu Kalista.
"Katanya pria ganteng? Kok jomblo?" Tanya Kalista disertai dengan ledekan yang cukup jleb banget di hati.
"Soalnya dulu gue tuh sama lu, lu nya nggak peka, tau-tau ngundang aja. Merana kan gue? Jomblo kan sampai sekarang, karena nggak bisa move on. Ngenes banget loh ta." Gerry berusaha berterus terang mengenai rasa yang terpendam sejak lama, toh sekarang juga Kalista sudah menikah kan.
Kalista membulatkan bola matanya, mencoba meyakinkan dirinya kembali bahwa telinganya tidak salah mendengar.
"Really?" Tanya Kalista sambil menatap manik mata Gerry.
"Woy ah ngapain sih natapnya sebegitunya? Serem tahu." Gerry mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang, Gerry juga mencoba untuk tertawa terbahak-bahak.
"Aku udah punya anak dua, ka Gerry masih suka nggak? Nggak malu kan kalau punya istri yang statusnya janda? Yuk nikah." Tawar Kalista. Ekspresi wajahnya masih sama dengan ekspresi wajah Kalista seperti biasanya.
"Terus suamimu mau di kemanain? Nggak usah bercanda deh, yuk sarapan." Gerry mengacak puncak rambut Kalista, lalu menarik pergelangan tangannya hingga ke meja makan.
Kalista menyuapi kedua anaknya bubur beras merah, dirinya juga mengoleskan selai cokelat pada roti, lalu memberikannya ke Gerry.
Kalista menitipkan kedua anaknya pada Gerry, Kalista memutuskan untuk membersihkan badannya.
Setelah selesai mandi, Kalista mengenakan dress dengan kerah Sabrina yang panjangnya hanya selutut. Kehadiran Gerry membuat semangat di diri Kalista bangkit kembali, memoleskan make up tipis di wajahnya. Dan mengcurly rambutnya yang lumayan susah panjang.
Rencananya Kalista ingin meminta di temani ke mall. Karena melihat penampilan Gerry yang casual membuat Kalista semakin yakin, Gerry pasti sedang free. Kalista ingin ngemall, hanya sekedar nongkrong ataupun menikmati menu restorannya. Sudah lama juga kan Kalista tidak ngemall dengan santai, semenjak kepergian Oma dan pak Anggara, Kalista selalu ngemall selalu ngemall sama Nayla dan Nathan, dan itu cukup merepotkan.
"Mau kemana?" Gerry menatap Kalista dari ujung kaki hingga ujung kepala. Penampilan Kalista ketika memakai piyama dan penampilannya yang sekarang seratus delapan puluh derajat jauh berbeda.
"Ngemall yuk kak." Ajak Kalista sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Hah ngemall? Seorang ibu dari dua anak kembar, mempunyai waktu untuk ngemall?" Tanya Gerry dengan heran.
"Punya lah, jangan jadi orang tua yang kuno deh. Ibu rumah tangga juga perlu melihat dunia luar, yang terpentingnya sih jangan sampai anak terbengkalai." Tuturnya, Kalista kini memangku Nayla.
"Btw ta, emang udah izin sama suami?" Gerry mencoba memastikan, lagi-lagi dirinya tidak ingin di sebut melarikan istri orang lain.
"Bodoamat aja, izin-izin tuh ribet! Please deh ini tuh pernikahan, bukan penjaraan." Bibir itu mencebik, setiap kali dirinya mengingat Arka sedang makan bersama dengan perempuan itu, hati Kalista terasa sesak.
Gerry menaikan sebelah alisnya, instingnya mengatakan sebenarnya Kalista sedang tidak baik-baik saja.
"Oma sama ayah mertua kamu mana? Kok dari tadi aku datang, aku nggak melihat mereka?" Gerry sangat merasa heran, biasanya kalau dirinya berkunjung ke ruang ini Oma dan pak Anggara menyambutnya dengan ramah.
"Oma dan ayah meninggal karena kecelakaan di malang, kurang lebih dua bulan yang lalu." Manik mata Kalista berkaca-kaca, ini semua memang takdirnya, tetapi menatap Arka harus menjauhinya? Menyalahkannya? Apakah Arka sebenci itu padanya?
Tiba-tiba Gerry speechless. Tubuhnya terasa kaku, tetapi otaknya memaksakan untuk berpikir. Apakah renggangnya hubungan Kalista dan Arka di sebabkan oleh kematian ayah dan omanya?
"Turut berduka cita ya ta, sorry gue baru tahu." Gerry merasa bersalah karena bertanya sesuatu hal yang cukup menyedihkan buat Kalista.
"Nggak apa-apa ka, yaudah to otw." Ajak Kalista dengan tidak sabar.
Hari itu Kalista ngemall bareng Gerry. Sebelum berangkat Kalista bilang dulu ke pelayan. Karena kan takutnya ada yang menanyakannya, atau mungkin Arka tiba-tiba kembali baik dan menanyakannya. Mungkin kedengarannya mustahil, tapi kan siapa tahu aja, Allah itu maha membolak-balikkan hati hambanya.
Gerry dan Kalista sama-sama menggendong Nathan dan Nayla. Penampilan Kalista lebih tepatnya seperti ABG yang sedang mengasuh bayi, orang tidak akan mengira bahwa itu adalah anaknya, pasti mengiranya adakah keponakannya. Tetapi kalau jalan sama Gerry, orang-orang mengira bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang mempunyai anak kembar.
Ngemall hari ini di sponsori oleh ATM Gerry, apapun yang Kalista beli yang bayarnya adalah Gerry. Bahkan Gerry memaksa Kalista untuk membeli banyak mainan untuk Nathan dan Nayla.
Makan siang mereka di restoran yang ada di mall tersebut. Gerry juga malah sibuk mengurus Nathan dan Nayla, Gerry seperti sedang memberikan Kalista waktu untuk menikmati ngemall malam ini.
Gerry menyuruh Kalista untuk memotong rambutnya menjadi pendek, lalu mewarnainya. Kalista menuruti saran dari Gerry, Kalista juga memang merasa repot dengan rambut panjangnya.
Kalista masuk ke barber shop yang ada di mall tersebut, memotong rambutnya menjadi sebahu, lalu mewarnainya. Rambutnya kali ini terlihat lebih bagus, perpaduan warna ash grey bagian atasnya, lalu ujung rambutnya di warnai warna ungu yang warnanya hampir pudar.
Kalista tidak ingin menjadi bunda yang egois, yang hanya memikirkan kepentingannya saja. Kalista juga mengajak kedua anaknya bermain, Kalista sibuk dengan boneka dan Barbie, sedangkan Gerry sibuk dengan mobilan. Kedua bocah kembar itu terlihat sangat bahagia dan semakin aktif.
Hari itu benar-benar membuat Kalista sangat bahagia. Bahkan sebelum memutuskan untuk pulang pun Kalista menyempatkan dirinya untuk makan sore, karena nanti di rumah mereka tidak akan makan.
*****
Kerjaan kantor hari itu tidak terlalu banyak, bahkan ketika jarum jam menunjukan angka 15:15 WIB, Arka memutuskan untuk pulang lebih awal. Karena memang ada waktu luang, dan Arka merasa badannya gerah sekali.
Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Arka juga menyempatkan untuk membeli beberapa makanan di pinggir jalan. Entah mengapa hari ini dirinya sangat ingin makan street food, dan entah kenapa juga hari ini Arka sangat ingin makan yang pedas-pedas.
Ketika mendengar bunyi klakson dari mobil Arka, beberapa security langsung lari tergopoh-gopoh dan membuka gerbang. Mereka tersenyum seraya memberi hormat kepada tuannya.
Dulu waktu Arka dan Kalista masih harmonis, jam segini tuh biasanya Kalista sedang lesehan, selonjoran kaki sambil menonton film kartun untuk Nathan dan Nayla.
Pelayan membukakan pintu, Arka mencopot pantofelnya dan melonggarkan dahinya. Manik matanya melihat ke ruang tamu, tetapi ruang tamu itu kosong. Arka juga melirik ruang keluarga, tapi lagi-lagi Kalista dan kedua bocahnya tidak ada di sana.
Arka bergegas masuk ke kamarnya, ketika melewati kamar Nathan dan Nayla, kamar itu tampak sunyi. Sehingga Arka mengira bahwa Kalista dan kedua anaknya sedang tidur.
Arka membersihkan badannya, mengganti pakaiannya, mengusir rambutnya, lalu keluar dari kamarnya. Arka mencoba menengok kamar Nathan, membuka knop pintu dengan pelan dan hati-hati sekali, Arka takut membangunkan mereka.
Pintu terbuka, kamar itu kosong dengan keadaan box bayi dan kasur lantai dalam keadaan tapi. Arka sangat bisa memastikan, anak-anaknya tidak menyentuh box bayi itu selain tadi pagi.
Manik mata Arka membulat sempurna ketika melihat banyak mainan baru di sudut kamar itu. Bahkan hanya sekali lihat saja, Arka langsung mengetahui harga mainan itu tidak murah.
Arka merogoh ponselnya dari saku celananya, memeriksa apakah ada notif penagihan masuk atau tidak? Arka semakin mengernyitkan dahinya, tidak ada tagihan apapun, lalu Kalista pakai uang dari mana untuk membayar semua itu?
Berdiri di dekat jendela, Arka mencoba menghirup udara dari luar. Arka berbalik badan, satu kasur lantai, satu bantal, satu guling, dan satu selimut itu langsung mengingatkannya kepada Kalista. Jadi selama ini Kalista tidur hanya beralaskan kasur lantai saja?
Street food yang Arka letakkan di meja makan sama sekali tidak menarik perhatiannya, Arka memutsuakka untuk duduk sembari menonton di ruang tamu.
__ADS_1
"Tuan, nyonya pergi ke..,"
"Stop! Saya tidak ingin mendengar apapun tentangnya." Arka langsung memotong ucapan pelayan itu. Dari mulut Arka mengatakan tidak ingin mendengar apapun tentang Kalista, tetapi sebenarnya Arka sangat ingin tahu dimana Kalista berada sekarang?
"Baik." Pelayan itu langsung membalikkan badannya. Dalam hatinya ia mendumal, sosoan tidak ingin tahu dimana istrinya berada? Padahal hampir semua pelayan menyaksikan bahwa Arka mencari Kalista ke ruang tamu, ruang keluarga, dan bahkan masuk ke kamar Nathan dan Nayla.
Semua pelayan langsung mendelikkan matanya jengah. Selain keras kepala, tuannya itu sangat gengsian dan terkesan sedikit munafik.
Arka mencoba membunuh waktu dengan bermain ponsel. Membuka akun media sosialnya, hingga bermain game juga. Sekarang jarum jam menunjukan angka 16:45.
Sementara itu di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal, Kalista dan Gerry sedang berjalan menuju parkiran. Seharian full Kalista menghabiskan waktu di mall, tidak ada rasa capek sedikitpun.
Mobil melaju dengan perlahan, Gerry dan Kalista sibuk berbincang. Nathan dan Nayla sih sudah kenyang, sehingga mereka bisa diam sempurna.
Tidak terasa mobil telah sampai di depan gerbang kediaman Anggara, manik mata Kalista menangkap satu mobil Alphard milik suaminya sudah terparkir di halaman depan.
"Kak, aku turun di sini aja. Kaka langsung pulang ya." Kalista melepas seat beltnya, bersiap turun dan menggendong Nathan dan Nayla.
"Loh aku nggak diajak masuk, aku kan sekalian mau bertemu dengan suami kamu." Gerry mengerutkan sebelah alisnya, mengapa dirinya dilarang untuk masuk? Apakah Arka akan marah karena Kalista menghabiskan waktu seharian ini dengannya? Jika Arka marah, Gerry siap menceritakan semuanya dan meminta maaf.
"Biar suami aku ngiranya aku punya selingkuhan, hehe." Ujarnya polos lalu disertai dengan kekehan geli. Wajah itu malah semakin terlihat imut.
"Oke! Langsung istirahat ya bunda muda." Gerry mengedipkan sebelah matanya.
"Oke, thank you atas waktu dan belanjaan hari ini." Kalista tersenyum, lalu menggendong Nathan dan Nayla.
Security membantu Kalista mengeluarkan barang-barang belanjaan hari ini. Semuanya hanya mainan Nathan dan Nayla, karena Kalista tidak ingin membeli baju, ataupun barang-barang yang lainnya.
Karena Kalista merasa bahwa ini tuh sudah lebih dari cukup, Kalista sudah nyalon, potong rambut, mewarnai rambut, pedi medi, makan dua kali, bermain sampai have fun, dan di belikan banyak mainan untuk Nathan dan Nayla.
Gerry langsung putar balik. Kalista segera masuk, langkahnya di ikuti oleh security yang ditangannya sedang menenteng beberapa goddy bag yang isinya berbagai macam mainan.
Pintu terbuka, beberapa pelayan menyambut dengan riang. Kalista pun tersenyum menyapa para pelayan tersebut.
Arka memperhatikan Kalista. Dari ujung kaki hingga ujung kepala semuanya tidak luput dari pantauan Arka. Dress dengan leher Sabrina, sehingga leher dan bahu putihnya ter-ekpose sempurna. Arka juga salah fokus pada rambut Kalista, rambut panjang itu kini berubah menjadi pendek, bahkan warna juga sudah ganti. Kalista tampak sangat cantik dengan penampilan barunya.
"Darimana?" Tanya Arka dengan mimik wajah serius.
Kalista menengok sumber suara, menatap Arka sekilas. Tetapi mulut Kalista enggan untuk menanggapi pertanyaan Arka.
Arka mengambil alih Nathan dan Nayla. First time, setelah Oma dan ayahnya meninggal, baru kali ini juga Arka kembali menggendong Nathan dan Nayla.
"Nonya mau makan apa? Biar saya siapkan." Tanya salah satu pelayan dengan sopan.
"Tidak usah bi, saya sudah kenyang." Kalista tersenyum ramah.
"Oh iya pak, mainan Nathan dan Nayla taruh di kamarnya, tepatnya di sudut, satukan dengan mainan yang lainnya." Perintah Kalista.
"Baik bu." Ujar securuty ini.
"Perlu saya siapkan bubur beras merah untuk Nathan dan Nayla?" Tanya pelayan lagi.
"Tidak usah bi, mereka juga sudah kenyang." Kalista tersenyum.
"Mendingan bibi bantuin Arka aja menggantikan baju Nathan dan Nayla, mereka nggak usah mandi, di lap aja." Imbuhnya lagi.
Kalista langsung melenggangakan kakinya, menaiki satu persatu anak tangganya. Kalista berubah menjadi wanita cantik, bentar-bentar mengusap rambutnya, melirik kukunya yang sudah di cat sangat cantik.
Perubahan Kalista terpantau jelas di mata Arka. Arka merasa curiga, bersama siapa Kalista pergi? Pergi kemana? Siapa yang membelikan mainan anaknya? Apakah Kalista bermain di belakangnya? Apakah Kalista sedang puber kedua?
Nathan dan Nayla langsung saja menjadi sasaran empuk Arka untuk di cium dan di ndusel-ndusel. Arka merasa sudah sangat kangen sekali kepada kedua anaknya itu, kurang lebih dua bulan Arka tidak menyapa anaknya. Tidak terasa kini Nathan dan Nayla sudah semakin aktif, sudah mulai makan MP ASI, sudah bisa duduk dan merangkak.
"Bi, tolong bantu saya lap badan Nathan dan Nayla ya." Pinta Arka sambil menggendong Keuda anaknya.
"Siap tuan." Jawab pelayan.
Ketika Arka membawa mereka ke kamar mandi, tiba-tiba "Ya ya yah." Ucap Nathan sambil memukul-mukul pelan pipinya.
Arka membulatkan matanya, manik matanya itu sangat berbinar. Binar yang sangat bahagia, Arka sangat bahagia karena anaknya sudah bisa mengucapkan ya ya yah yang berarti ayah.
"Pintar banget nak." Arka terharu, karena sudah dua bulan ini dirinya tidak tahu perkembangan anaknya. Tahu-tahu sekarang Nathan sudah bisa manggil dirinya dengan sebutan ayah.
"Bu u na. Bu u bun." Ucapan itu keluar dari mulut mungil Nayla, Arka mengerutkan dahinya, mencoba mengerti bahasa bayi, apa maksud dari ucapan Nayla yang tersenggal-senggal barusan.
"Bu u na, Bu u bun." Lagi-lagi Nayla mengucapkan kalimat itu, tetapi kali ini tangannya menunjuk-nunjuk ke lantai dua, tepatnya ke kamarnya.
"Oh...bunda?" Tanya Arka pada Nayla. Nayla pun tersenyum sumringah.
Pelayan mengelap badan Nayla dan Nathan, Arka hanya melihatnya saja. Setelah itu tubuh mereka berdua di tutupi handuk. Arka menggendongnya menuju kamar mereka.
Arka membuka pintu kamar, Kalista sedang sibuk dengan ponselnya, posisi badannya tengkurap dan kedua kakinya tertekuk terangkat. Kalista bahkan memakai earphone, sehingga dirinya tidak mendengar suara pintu terbuka.
Arka membuka lemari pakaian Nathan dan Nayla, ketika itulah Kalista melihat Arka. Kalista hanya menontonnya saja, tanpa ada niatan membuka earphone. Arka memakaikan baju Nathan dan Nayla, tetapi lupa untuk memakaikan minyak telon di tubuhnya.
Kalista mengambil Nathan dan Nayla, membuka baju mereka, mengoleskan minyak telon ke tubuhnya, agar tubuhnya itu terasa hangat. Setelah itu Kalista menggendong Nathan, menimang-nimangnya sambil menyanyikan lagu Nina Bobo. Lambat laun Nathan tertidur, Kalista menidurkannya di box tempat tidurnya. Kalista juga melakukan hal yang sama pada Nayla, sehingga mereka berdua tertidur dengan lelap.
Berselancar di media sosial, mengunggah foto dirinya ketika di mall. Maka dari itu Kalista sangat sibuk dengan ponselnya, Kalista juga kembali memasang earphonenya. Arka memperhatikannya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Arka melihat Kalista dari sudut yang berbeda, Kalista sama sekali bukan Kalista yang biasanya.
Karena Arka tak kunjung keluar, dan kalista pun merasa badannya sudah sangat lengket oleh keringat, Kalista mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Ketika Kalista mandi, diam-diam Arka mengambil ponsel Kalista. Ponsel Kalista gebetan memakai lock screen, dan Arka sama sekali tidak bisa membukanya. Arka kembali di buat curiga, sebenarnya ada apa dengan Kalista?
Dengan rasa jengkel sekaligus rasa curiga yang membuatnya cemburu, Arka Kemabli menaruh ponsel itu.
Kalista keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya dililiti handuk. Rambutnya juga di liliti handuk, karena ini kamar Nathan dan Nayla, dan Kalista sama sekali tidak akan membiarkan lantainya basah.
Membuka lemari baju, mengambil piyama lalu balik lagi ke kamar mandi. Arka tersenyum kecut, ternyata dirinya dan Kalista sudah berjarak, bahkan Kalista saja tidak berani memakai piyama di hadapannya.
Sore menjelang magrib itu sama sekali tidak ada percakapan diantara mereka. Keduanya terkesan cuek dan saling tidak menganggap, tetapi Arka tak kunjung keluar dari kamar itu.
Duduk di depan cermin rias, mengeringkan rambutnya sendiri, memoleskan night cream di wajahnya, dan memakai lipstik tipis di bibirnya.
Otak Kalista berputar, sekarang dirinya harus ngapain? Mengapa Arka sama sekali tidak keluar dari kamar ini? Ingin membunuh waktu sembari menormalkan suasana dengan main ponsel, tetapi ponselnya sudah lowbatt.
Kalista mengisi daya ponselnya, tiba-tiba ide untuk membereskan mainan-mainan itu muncul di kepalanya. Kalista membereskan semuanya dengan rapi dan sempurna.
Arka mendekat, melihat dan memperhatikan merk apa itu mainan barunya Nathan dan Nayla. Arka kembali mengerutkan dahinya, mainan ini harganya cukup merogoh kantong sangat dalam, tetapi sama sekali tidak ada notif pengakuan dari kartunya.
"Siapa yang beliin?" Tanya Arka lirih, Arka juga malah membantu Kalista membereskan mainan-mainan itu.
Kalista?
Lebih memilih diam, mengapa dirinya harus menjawab pertanyaan dari Arka? Apakah Arka semakin tidak berniat meminta maaf pada Kalista? Yang benar saja, dua bulan lebih telah mendiamkan Kalista, jangan harap sekarang bisa baikan dengan cara yang mudah. Bagi Kalista ini adalah momen yang tepat untuk balas dendam.
"Kamu main di belang aku? Siapa dia? Kamu selingkuh? Ini semua di belikan selingkuhan kamu kan?" Manik mata itu menatap sangat tajam, sepeti ingin mencongkel bola mata Kalista saat ini juga.
Kalista mengangkat wajahnya, mengibaskan rambutnya yang berwarna sangat cantik itu. Wajahnya terlihat sangat glowing karena tertimpa cahaya lampu.
"Kepo!" Ucap Kalista sembari tersenyum sinis.
Kalista mengakhiri beres-beres mainannya. Mengambil parfum dari brand kesukaannya, brand itu mengeluarkan parfum terbarunya dan Kalista membelinya. Menyemprotkan parfum itu keseluruh tubuh, wanginya menyeruak di kamar ini, bahkan sampai masuk ke lubang hidung Arka.
"Parfum baru?" Arka bertanya kembali, berharap kali ini Kalista menjawabnya dengan ramah.
"Kepo!" Lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulut Kalista.
"Kamu mau tidur di kamar ini apa di kamar sebelah?" Tanya Kalista dengan serius.
Tiba-tiba senyum sumringah muncul begitu saja di wajah Arka, senyum yang sekian lama menghilang, bahkan kemarin-kemarin senyum itu malah di berikan kepada wanita yang makan siang bersama Arka. Kini malah Arka memberikan senyum sumringah itu untuk pertanyaan yang Kalista ajukan.
"Disini aja." Jawab Arka dengan semangat.
"Oh oke, nitip Nathan dan Nayla ya! Nanti kalau tengah malam mereka kebangun atau rewel, berikan susu formula biar dia tenang dan berhenti menangis. Aku tidur di kamar sebelah." Kalista akan beranjak ke kamar sebelah.
Arka buru-buru bangun, dia menarik pergelangan tangan Kalista. Membalikan badannya sehingga mereka berdua berhadapan. "Kamu nggak usah tidur di kamar sebelah, kamu urus anak aku aja! Ingat, dia maka aku! Bukan anak kamu!" Tegas Arka sambil memegang pipi Kalista seraya menekannya secara kencang.
Arka keluar dan membanting pintu. Wajahnya terlihat sangat emosi, bahkan di bola matanya seperti ada percikan api.
"Anak kamu? Seenak jidat, gue yang hamil, gue yang mengandung, gue yang melahirkan, gue yang capek segala-galanya, yakali ini bukan anak gue." Cibir Kalista, tetapi Kalista tersenyum puas, Arka sepertinya geram dan mulai cemburu.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1