
Seharian ini kepala Arka terasa pusing. Pusing memikirkan kerjaan kantor dan pusing memikirkan Kalista takut pergi meninggalkannya. Arka berencana setelah pulang ngantor akan pergi ke makam ayah dan omanya.
Jam ngantor telah selesai, Arka pergi ke pemakaman ayah dan omanya. Disana Arka kembali menangis, menangis tersedu-sedu. Sampai sekarang pun Arka masih belum ikhlas di tinggalkan oleh ayah dan omanya. Semuanya terasa sangat berat bagi Arka.
Tepat ketika suara adzan magrib berkumandang, Arka memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Pakaiannya sangat kotor oleh tanah pemakaman, bajunya terlihat lusuh. Begitu sampai, para pelayan merasa heran apa yang terjadi dengan Arka?
Kalista mulai berubah, dirinya kini selalu menghindari Arka. Mereka memang tinggal seatap, tetapi keduanya tidak saling sapa, tidak saling tersenyum, bahkan sampai sekarang pun Arka masih belum bertanya kabar mengenai Nathan dan Nayla.
Sikap dingin dan cuek Arka tak kunjung berubah, itulah mengapa Kalista merasa sangat bosan dengan semua ini. Satu bulan lebih ini mengajarkan Kalista untuk selalu terbiasa tanpa bantuan Arka, apa-apa Kalista kerjakan sendiri. Kalista selalu pergi imunisasi anaknya sendiri, terkadang Kalista merasa sedih melihat orang-orang yang membawa anaknya imunisasi tuh disertai ayahnya.
Kalista juga pergi ke tempat les renang tanpa Arka, di sana beberapa orang dan beberapa petugas bertanya, kemana Arka? Dulu memang diantar Arka, saat itu juga sikap Arka sangat romantis. Keromantisannya membuat semua orang merasa iri, mereka bilang Kalista adalah wanita yang sangat beruntung. Ketika pertanyaan itu telah di lontarkan, Kalista hanya bisa menjawab lagi banyak kerjaan di kantor, dan tidak bisa di handle oleh siapapun.
Nathan dan Nayla itu semakin membesar, pakaian yang dulu Kalista dan Arka beli pun sudah banyak yang kekecilan atau tidak muat. Kalista pergi ke mall, mengendarai mobilnya sendiri. Sambil menggendong Nayla dan mendorong Nathan di troli. Kalista begitu lincah dalam mengasuh mereka, Kalista juga sangat pandai dalam memilih pakaian untuk anaknya.
Beberapa orang di mall menatap dan memperhatikan Kalista, mereka semua kagum bagaimana cara Kalista membawa bayi kembar sedangkan dirinya hanya seorang diri di tengah keramaian seperti ini.
Setelah itu Kalista pergi ke kafe yang terdapat di mall tersebut. Kalista meminta di bawakan air hangat di dalam mangkuk yang agak besar, air hangat itu Kalista gunakan untuk merendam botol susu Nathan dan Nayla, setelahnya Kalista meminta waiters untuk menuangkan air hangat kedalam botol susu tersebut. Ya, Kalista membawa susu formula, tidak mungkin kan Kalista menyusui di tempat seperti ini? Kalista bahkan menuangkan beberapa tetes susu itu ke punggung tangannya, setelah dirasa tidak terlalu hangat, barulah Kalista memberikannya pada Nathan dan Nayla.
Tidak jauh dari meja tersebut, sepertinya ada yang sedang melaksanakan meeting. Di mejanya terdapat laptop, dan beberapa dokumen-dokumen yang siap di tanda tangani. Ketika Kalista meliriknya, ternyata orang itu malah sedang menatap Kalista, lalu tersenyum ramah sembari melambaikan tangannya.
Hari-hari berat itu masih terasa, sikap Arka tak kunjung membaik. Maka dari itu kalista selalu menyibukkan diri untuk mengurus Nathan dan Nayla. Kalista mulai berpikir, untuk apa dirinya menggalaukan Arka? Untuk apa dirinya selaku menangis setiap malam? Semua itu tidak berguna dan hanya menyiksa hati dan batinnya saja.
Usia Nathan dan Nayla kini sudah memasuki 6 bulan. Di usia ini mereka sudah boleh makan MP ASI. Kalista sangat bahagia, dia selalu mencari resep menu MP ASI untuk balita 6 bulan di google, ataupun Kalista sengaja berkonsultasi kepada dokter.
Setiap harinya Kalista selalu memberikan menu yang berbeda, tujuan utamanya agar Nathan dan Nayla tidak merasa bosan. Masa-masa usia 6 bulan ini sungguh sangat merepotkan Kalista, kedua bocah itu sudah bisa duduk, mengucapkan kata bubun yang berarti bunda, bahkan Arka saja tidak tahu bahwa kedua bocah kembar itu sudah bisa mengucapkan kata ya ya yah, yang berarti ayah. Yang bikin Kalista heran adalah kedua bocah kembarnya sudah bisa merangkak, mengacak mainannya dan kadang-kadang kalau pagi suka menepuk-nepuk punggung Kalista, berusaha membangunkan bundanya yang masih tertidur pulas. Kalista tersenyum dan bersyukur, tumbuh kembang kedua bocahnya lebih cepat daripada balita di usianya.
Kalista menggendong keduanya, menuruni satu persatu anak tangga. Di meja makan sana ada Arka yang sedang menikmati makan malamnya. Seperti biasa, tidak ada sapaan bahkan aura dinginnya sangat terasa menusuk tulang.
Beberapa pelayan menyiapkan tempat duduk balita yang disertai pengaman. Tempat duduk balita untuk makan di meja makan itu baru datang kemarin, Kalista membelinya di online shop. Arka mendudukan kedua balitanya, tepat di meja makan di hadapan Arka. Sementara Kalista pergi ke dapur untuk membuatkan MP ASI.
"Taraaaaa, menu kali ini adalah pure kabocha, wortel dan bayam. Ini enak banget loh, kesayangan bunda pasti suka." Ujar Kalista yang muncul dari dapur, di tangannya terdapat mangkuk kecil.
Kalista duduk di dekat kedua balitanya, Kalista juga mengambil makanan kedalam piringnya. Jika dulu Arka melarangnya untuk makan satu meja dengannya, kali ini Kalista tidak perduli. Statusnya masih menjadi istri darinya, itu artinya rumah ini juga rumahnya. Mengapa harus di larang? Sekarang Kalista lebih memilih untuk tidak memperdulikan apapun itu yang Arka larang.
"Bismilah..hirahman..nirrahim." setelah itu Kalista melantukan do'a sebelum makan. "Makan yang lahap sayang." Kalista menyuapi mereka.
Mereka berdua selalu menyukai menu MPA ASI yang Kalista buatkan, entah tangan Kalista itu ajaib atau memang dirinya pintar merayu anaknya untuk makan? Intinya menu apapun yang Kalista buatkan selalu mereka habiskan.
Kebiasaan makan Kalista adalah, satu suapan untuk mereka, lalu Kalista juga menyendokkan makannya kedalam mulut. Terus saja begitu sampai kedua balitanya menghabiskan MP ASI nya, dan Kalista juga menghabiskan makanannya. Makan seperti itu lebih Kalista sukai, karena menurut Kalista itu namanya makan bersama-sama.
Berkali-kali Arka melayangkan tatapan penuh tanya, tetapi tidak Kalista hiraukan. Kalau memang dirinya ingin bertanya, mengapa tidak bertanya saja? Mengapa hanya menggunakan isyarat mata?
"Bibi, tolong di bersihkan ya." Pinta Kalista dengan ramah, kemudian dirinya kembali lagi membawa dua balitanya ke kamarnya.
Kedua bocahnya anteng mengacak-acak mainannya. Kalista sudah memastikan bahwa semua mainannya aman dan tidak berbahaya. Kalista mencoba membereskan lemari pakaian si kecil, memilah dan memilih mana yang masih muat dan tidak.
Baju Kalista yang berada di kamar ini hanya sedikit, sedangkan Kalista juga sekarang sudah mulai banyak kegiatan, malu juga rasanya kalau hanya memakai baju yang itu-itu saja.
Arka kan kaya?
Mengapa Kalista tidak membeli baju baru saja?
Pertanyaan seperti itu pasti muncul di benak kalian, tetapi Kalista mencoba untuk berhemat. Membeli barang yang sangat penting dan sangat di butuhkan saja. Selebihnya Kalista gunakan untuk membeli kebutuhan Nathan dan Nayla. ATM Kalista memang tanpa limit, tetapi kalau sikap Arka dingin terus seperti itu kalista malu menggunakan ATM itu, nanti dikira dirinya yang boros.
Kalista pergi ke kamar Arka untuk mengambil beberapa bajunya di lemari. Ketika Kalista membuka knop pintu, yang pertama di lihatnya adalah Arka sedang rebahan di kasurnya, bermain ponsel sambil tersenyum.
Entah ada apa di layar ponselnya itu? Kalista jadi merasa curiga, apakah Arka bermain di belakangnya? Apakah Arka mempunyai wanita lain? Tiba-tiba dadanya terasa sesak, setelah sekian lama tidak tersenyum kepadanya, sekarang Arka malah tersenyum menatap layar ponselnya.
Dengan hati yang terasa sesak, Kalista buru-buru mengeluarkan bajunya. Mengambil beberapa baju, Kalista menutup lemari dengan sangat kencang sehingga menimbulkan bunyi.
Arka hanya menatapnya saja, Arka juga merasa heran mengapa Kalista mengambil baju-bajunya.
"Mau kemana?" Tanya Arka masih dengan nada dinginnya.
"Mau cari pria yang bisa menyayangi dan mencintaiku dengan tulus, intinya sih mau cari ayah sambung buat Nathan dan Nayla." Ujar Kalista sambil terus berjalan, walaupun kali ini Kalista berbicara dengan nada sombong, tetapi manik matanya tetap berkaca-kaca, itulah sebabnya Kalista tidak mau membalikan badannya.
Kalista juga menutup pintu kamar Arka dengan sedikit membantingnya. Lalu kembali ke kamarnya, dan merapihkan baju-bajunya.
Malam itu Kalista kembali menangis, kali ini hatinya terasa sangat sesak dan sakit. Bahkan Kalista juga merasakan kepalanya pusing. Menangis dan terus menangis, hingga mata itu lelah dan Kalista tertidur.
Keesokan paginya, Kalista bangun pagi-pagi sekali. Membersihkan badannya, lalu juga memandikan Nathan dan Nayla. Kalista sarapan lebih awal, tidak lupa kedua anaknya juga ikut sarapan.
Arka yang sedang sarapan menatap Kalista dengan heran. Kalista sudah rapi, begitu juga dengan kedua anaknya. Kalista juga memoles wajahnya sehingga terlihat lebih cantik.
"Pak, saya tidak usah di antar ya." Ucap Kalista kepada seorang sopir di rumahnya.
Setelah Kalista pergi, Arka langsung menggebrak meja makan. Beberapa makanan itu tumpah bercampur dengan segelas susu yang gelasnya telah pecah.
Mood Arka mendadak jelek, bahkan dirinya langsung berangkat ke kantor dengan wajah kusut.
Padahal hari ini tuh Kalista pergi ke pemakaman ayah dan bundanya. Kalista mencurahkan segala isi hatinya di sana, Kalista juga kembali memperkenalkan kedua anaknya yang super aktif.
*****
Hari ini Riko menjemput Risa, hari ini mereka berdua akan melakukan foto prawedding. Risa itu orangnya tidak ribet, apapun yang dikatakan Riko langsung di iyakan.
Risa tidak banyak memilih konsep, dia hanya mengusukan satu konsep diri sepuluh konsep yang akan mereka lakukan sekarang.
"Eh cantik banget." Ujar Riko ketika Risa masuk ke dalam mobilnya.
Risa mendelikkan matanya jengah. "Gombal." Ujarnya dengan bibir mencebik.
Riko hanya terkekeh pelan mendengar celetukan dari calon istrinya itu. Sebenarnya Riko telah melamar Risa sebelum ayah dan omanya meninggal. Tadinya pernikahan mereka akan di langsungkan bulan kemarin, tetapi melihat Arka yang masih di rundung duka, sehingga Riko memundurkan jadwal pernikahannya. Riko maunya semua sahabatnya datang, dan mereka berkumpul dengan riang dan gembira. Pernikahan adalah suatu momen bahagia sekaligus penuh haru.
Tetapi semua sahabatnya itu juga belum mengetahuinya, Riko diam-diam melamar Risa, mereka semua akan tahu nanti ketika undangan telah tersebar.
"Sa, kalau udah nikah mau tinggal di apartment atau beli rumah aja?" Tanya Riko yang masih fokus menyetir.
Karena Risa sedang bermain ponsel, sehingga dirinya tidak fokus mendengarkan Arka.
"Atau mau bangun rumah aja? Nanti kamu sebutin deh mau rumah yang seperti apa? Pasti aku turutin kok." Imbuhnya lagi.
Kali ini juga masih belum ada jawab dari Risa, Riko meliriknya sekilas. Risa masih fokus dengan ponselnya, tiba-tiba Riko menjadi geram dan emosinya memuncak.
"Orang tuh kalau ngomong yang di dengarkan, susah banget gitu ya menghargai calon suami?" Riko membentak Risa, merampas ponselnya dan melemparkan ke kursi belakang.
Risa menyaksikannya dengan mulut menganga dan mata membulat sempurna. Baru kali ini Risa melihat ekspresi kemarahan Riko yang begitu mengerikan. Riko bahkan sudah mengabaikan, dan melajukan mobilnya seperti orang kesetanan.
Risa mencoba mengajak Riko berbicara, tetapi masih tetap tidak di dengar.
Mobil telah sampai di tempat pemotretan yang pertama. Sebuah studio foto sederhana, tetapi di dalam sana para photographer telah menunggunya.
"Selamat pagi pak, silahkan mengganti dulu pakaiannya." Ujar salah satu desainer yang mempersiapkan baju. Iya mempersiapkan, karena mereka tidak mendesain sendiri bajunya.
Riko langsung mengganti pakaiannya, tema pemotretannya yang pertama adalah serba hitam. Bahkan studio foto ini juga sudah di sulap beraura gelap.
Sementara Riko mengganti pakaiannya, Risa malah sedang sibuk di make up. MUAnya itu benar-benar sangat bawel, seperti mempunyai 5 mulut. Risa sampai pening dan kepalanya keleyengan mendengarkan ocehannya. Setelah selesai Risa langsung berganti pakainya. Dress mini tanpa bahu dan lengan. Dibagian dadanya terdapat lekukan yang mencetak dadanya. Panjang dressnya saja hanya sampai lutut. Kakinya di balut oleh sepatu boots hitam. Rambutnya di urai dan di curly.
Make up natural ternyata sangat cocok dipadukan dengan pakaian hitam. Walaupun make up natural, tetapi lipstiknya tetap menggunakan warna merah merona.
Riko sebenarnya terpesona melihat penampilan Risa, begitu seksi dan mempesona. Wajahnya terlihat sangat cantik, tetapi kemarahannya sewaktu di mobil masih belum usai.
Para photographer langsung mengarahkan berbagai macam gaya, tetapi gaya Riko sangat kaku. Sehingga perlu beberapa shoot, dan itu terjadi berulang kali.
"Senyum dong, yang ikhlas! Jangan kaku gitu!" Risa marah-marah pada Riko, Risa itu tidak suka dengan acara pemotretan ini. Kalau bukan Riko yang memaksa dia mana mau, maka dari itu Risa ingin segera menyudahi acara pemotretan ini.
"Lagi malas!" Jawab Riko asal.
Risa benar-benar merasa gedek, dirinya langsung menyuruh para photographer untuk mengambil gambar. Risa tidak memerlukan pose yang diajarkan photographer, dirinya membuat posenya sendiri.
Para photographer sangat tercengang, Risa yang tadinya terlihat kalem dan pendiam, kini mendadak berubah menjadi seorang gadis kecil yang penuh pesona. Risa berpose dengan gaya yang sangat dewasa, bahkan dirinya mengarahkan Riko untuk menatapnya dengan tatapan sensual, tidak hanya sampai di situ saja. Risa juga mengarahkan Riko untuk memeluknya dari belakang. Tangannya menempel tepat di perutnya, Risa mendongakkan kepalanya dan mereka kembali saling bertatapan, pose pemotretan yang seperti ini lah yang sangat Riko sukai, tidak usah di suruh senyum dirinya berinisiatif sendiri tersenyum, bahkan senyumnya menyeringai dan terlihat mesum.
Sudah tahu memakai dress sangat minim, Risa malah semakin menciftakan pose yang sangat vulgar. Risa duduk di lantai, satu kakinya di selonjorkan, dan satu laginya di tekuk. Kedua tangannya ditarik ke belakang dan menempelkan telapak tangannya ke lantai sehingga tangannya itu berfungsi untuk menopang punggungnya. Risa mendongakkan kepalanya keatas, dan Riko berada di sebelahnya tetapi mendongakkan kepalanya seperti berada di atasnya. Entah Risa sadar atau tidak, pahanya yang putih mulus itu ter-ekpose sempurna, bahkan dadanya juga sedikit menyembul keluar dari dressnya.
"Perfect!" Para photographer mengacungkan tangannya, bahkan desainer dan MUA pun terkagum-kagum pada Risa.
Risa yang memang merasa lelah, kini malah merebahkan dirinya dilantai. Tubuh mungil nan putih itu sangat cocok sekali menggunakan dress hitam.
"Bangun! Disitu dingin, lagi pula itu tubuh kamu ter-ekpose loh, aku nggak mau tubuhnya calon istri aku di lihatin oleh orang lain." Ujar Riko sambil mengulurkan tangannya pada Risa.
Risa bangun, karena ia juga menyadari beberapa bagian tubuhnya terlihat sangat jelas.
"Istirahat dulu ya! Modelnya kecapekan!" Ujar Riko.
"Oke! Modelnya kan kecapean pak, di dalam istirahat ya jangan beraktifitas." Ujar salah satu photographer meledek Riko.
Sebagi sesama laki-laki, photographer itu menyadari bahwa sejak pemotretan itu berlangsung, gairah Riko sangat terlihat karena pose dari calon istrinya itu sendiri.
"Kalau bertukar ludah kayanya nggak bikin capek sih, yang ada juga malah semangat nih modelnya." Riko terkekeh geli, yang lainnya malah pada mentertawakan. Risa yang merasa malu akhirnya mencubit pelan pinggang Riko sehingga Riko meringis sakit.
Riko membawa Risa ke ruang ganti pakaian. Risa mencopot sepatu bootsnya karena kakinya terasa panas, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding tembok.
"Ngapain ngeliatin?" Tanya Risa ketus, semenjak Kalista masuk ke ruang ganti Riko terus menerus menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu cantik!" Riko tersenyum menyeringai kemudian duduk tepat di sebelah Risa.
"Udahan yu pemotretannya, kan yang tadi juga udah banyak! Aku capek kak." Ujar Risa, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Riko.
"Sabar dulu dong! Baru juga satu, masa udah capek. Semangat dong." Riko mengusap rambut Risa dengan sangat pelan dan lembut.
"Aku lapar kak." Risa tercengir sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Riko berjalan ke luar, mengambil beberapa Snack di dalam mobil. Lalu masuk kembali ke ruangan ganti itu. Riko memang harus ekstra sabar dalam menghadapi Risa, gadis ini sepertinya sengaja membuatnya agak repot dan susah. Karena keadaan sudah berbalik, dulu Riko yang menolak Risa walaupun Risa memang tidak mencintainya. Tetapi kini Riko lah yang sangat mengejar Risa, Riko menjadi sangat bucin.
"Kamu nggak takut gendut?" Tanya Riko. Riko bertanya seperti itu karena melihat Risa itu sukanya ngemil terus.
"Kalau aku gendut, kamu nggak suka?" Bukannya menjawab, Risa malah berbalik nanya.
"Sukalah! Kamu kurus aja aku suka, apalagi kamu gendut makin suka lah. Berarti daging di badan kamu itu nambah, dan itu enak jadi empuk." Riko menjawil pelan hidung Risa.
Setelah Risa menyelesaikan ngemilnya dia langsung mengganti pakaiannya. Pemotretan kembali di lanjutkan, berbagi macam pose Risa keluarkan. Kali ini Riko juga nampak lebih semangat.
Tadikan temanya indoor, sekarang mereka berpindah tempat untuk tema yang outdoor. Dalam sehari penuh itu Riko menjalani pemotretan prawedding di 7 tempat. Bahkan Risa menjadi sangat lelah dan merasa bosan karena harus berganti-ganti pakaian.
Pemotretan telah usia, Risa berjalan dengan gontai, masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di sebelah Riko.
"Mau nikah harus seribet ini kah?" Tanya Risa sambil memijat-mijat pelan dahinya.
"Iya ribet. Foto prawedding juga penting sih, nantikan bisa kita kasih lihat ke anak-anak kita. Kenapa kamu capek ya sa?" Tanya Riko sambil membelai pelan pipi Risa.
"Ini kan akad nikah yang resmi sa, tapi sebenarnya kita sudah menikah lebih dulu. Enakan kaya dulu ya sa, nggak ribet. Rebahan di kasur langsung gas aja." Celetuk Riko, alisnya terangkat naik turun.
"Apa sih, nggak jelas!" Risa sangat tidak ingin membahas persoalan dirinya yang dulu. Walau bagaimana pun itu merupakan dosa besar.
"Sa, kita kan mau nikah resmi. Kaya dulu lagi yuk, sekali aja." Riko menatap Risa tersenyum menyeringai.
Risa melotot, bahkan tatapannya sangat seram. "Aku nggak mau! Aku mau jadi istri sah dulu! Jangan maksa, aku nggak suka."
"Iya nggak! Orang bercanda juga." Ucap Riko.
"Oh iya, pertanyaan aku tadi pagi belum kamu jawab loh sayang."
"Pertanyaan yang mana sayang?" Tanya Risa selembut mungkin, Risa langsung ngeuh pasti yang Riko tanyakan itu seputaran rumah. Makanya Risa bersikap lembut, dan memanggil Riko dengan sebutan sayang, karena takut Riko menjadi marah lagi.
"Kamu panggil aku dengan sebutan sayang karena takut aku marah lagi, betul kan?" Riko menatap Risa.
"Betul!" Jawab Risa dengan polosnya tanpa rasa bersalah.
"Dasar! Nyebelin!" Riko mendelikkan matanya jengah.
"Nanti kalau udah nikah mau tinggal di mana? Apartment? Beli rumah? Atau bangun rumah sendiri?"
"Aku mau tinggal di rumah ayah ibu!" Jawab Risa dengan mantap.
"Tapi aku nggak ngizinin! Aku nggak mau!" Jawab Riko dengan tegas.
"Loh kenapa? Rumah ayah ibuku jelek? Terlalu sempit? Banyak nyamuk jadi kamu nggak nyaman?"
"Bukan gitu! Aku sama sekali tidak mempermasalahkan ukuran rumah ayah ibu mertuaku...,"
"Lalu, kamu mau misahin aku dengan ayah ibu dan adik-adik aku?" Risa tersulut emosi, bahkan dirinya juga memotong ucapan Riko yang belum selesai.
"Aku mau nikahin kamu karena aku sayang dan cinta sama kamu, aku tuh mau menjadikan kamu sebagai pendamping hidup aku. Sama sekali tidak ada niatan buat misahin kamu dengan ayah ibu, tetapi setelah menikah kan kamu sudah menjadi tanggung jawab aku, kamu harus nurut sama aku sebagai suami kamu. Aku mau kita pisah rumah, jangan serumah terus sama orang tua, lah kalau gitu kapan kita mandirinya?" Ucap Riko menjelaskan dengan sangat hati-hati.
"Kalau pisah rumah kan lebih bebas lebih leluasa, mau ngapain aja enak kan?" Imbuh Riko lagi.
"Nah kan ini yang aku nggak suka dari kamu, pikiran kamu tuh mesum terus." Hardik Risa dengan suara keras.
"Bukan masalah mesum! Tapi kalau udah sah menjadi sepasang suami istri, kewajiban kamu memang untuk melayani suami kan? Seluruh tubuh kamu sudah sepenuhnya menjadi hak aku. Aku mau kita pisah rumah tuh bukan semata-mata mau beraktifitas ranjang terus menerus. Tujuan utamanya tuh agar kita hidup mandiri tanpa ada campur tangan dari orang tua. Aku juga nggak larang kamu buat ketemu orang tua kamu, kalau pun kamu mau menginap di rumah orang tua kamu juga ya ayo aja aku mah. Paham nggak?"
__ADS_1
"Iya paham!"
"Loh kok kesini? Ini mau kemana?" Tanya Risa sambil celingak-celinguk memperhatikan jalanan dari kaca mobil.
Riko sengaja melajukan mobilnya menuju kawasan apartment mewah. Dirinya memang tinggal di apartment ini, dan Risa sama sekali tidak mengetahui dimana Riko tinggal.
"Turun sayang!" Riko membukakan pintu mobil dan menjulurkan tangannya pada Risa.
"Aku tinggal di apartment sini, kamu nggak tahu kan? Makanya aku bawa kamu kesini. Sa, hidup tuh nggak bisa cuek terus. Masa iya udah mau nikah tapi kamu masih nggak tahu dimana aku tinggal?" Ucap Riko sembari berjalan menuntun Risa.
Risa hanya diam saja. Semua yang di katakan Riko itu benar, sudah mau menikah tapi dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Riko. Bahkan hari ini Risa baru tahu ternyata Riko tinggal di apartment ini. Risa tidak tahu apakah Riko itu anak tunggal, anak pertama, atau anak keberapa? Apakah Riko mempunyai adik? Kalista bahkan tidak mengenal keluarga Riko.
Begitu pintu terbuka, Riko langsung membawa Risa masuk kedalam apartment. Untuk ukuran seorang cowok, apartment ini terlalu luas dan sangat bersih sekali. Bahkan mungkin sama sekali tidak ada debu. Risa berjalan-jalan melihat-lihat setiap ruangan. Dapur terlihat sangat bersih, bahkan kompornya juga sangat mengkilat. Tepat di dekat meja makan, Risa membuka tutup saji, di sana terdapat masakan rumahan.
"Ada art?" Tanya Risa pada Riko.
"Ada lah! Aku mana sanggup bersihin apartemen ini? Apalagi masak, malas ah! Kalaupun terpaksa masak pasti mie instan." Jawab Riko.
"Perempuan?"
"Iya perempuan." Jawab Riko lagi.
"Tinggal di sini?" Tanya Risa semakin mendesak Riko.
Riko yang sedang merebahkan tubuhnya diatas sofa itu pun langsung bangun dan menghampiri Risa. "Nggak sayang. Dia datang pagi, sorenya pulang. Makanya itu makanan diatas meja makan masih anget, dia tuh kayanya baru pulang sekitaran 15 menit yang lalu."
"Setiap hari dimasakin sama art?" Tanya Risa, Risa memutuskan untuk mulai peduli tentang hidup calon suaminya.
"Nggak juga! Biasnya aku makan d coffee shop, kadang beli di luar, kadang beli street food, atau kadang delivery juga. Tadi aku WhatsApp art, suruh dia masak, soalnya aku mau bawa kamu ke sini."
"Art kamu save nomor WhatsApp kamu?" Risa membulatkan kedua bola matanya.
"Iya! Kan kalau ada sesuatu hal yang mendesak biasnya dia hubungi aku."
"Contohnya?"
"Contohnya apa ya?" Riko berusaha mengingat apa kira-kira yang pernah terjadi di apartmentnya. "Oh iya, waktu itu tabung gas bocor, apinya menyambar sampai ke atap. Sedangkan dia nggak bisa matiin api yang sudah keatas."
"Kalau berangkat atau pulang dia sendiri kan?"
"Kalau berangkat sih sendiri, tapi kalau mau pulang kadang aku anterin sampai pertigaan, nggak sering juga sih soalnya kalau aku mau ke coffee shop aja."
"Dia penampilannya gimana?"
"Sederhana."
"Suka genit ke kamu?"
"Kadang-kadang."
"Dia cantik nggak?"
"Cantik." Jawab Riko sambil memainkan ponselnya.
Risa langsung berubah menjadi badmood, bibirnya manyun 5cm.
"Sejatinya wanita kan memang cantik, tapi masih cantikan kamu sayang." Riko tersenyum, hatinya bersorak gembira ternyata kekasihnya bisa juga cemburu.
"Dapat kusimpulkan dari semua pertanyaanmu, kamu sedang cemburu. Cie, cinta ya sama aku." Riko menggoda Risa, Riko juga bahkan memeluknya dari belakang. Mencium wangi aroma dari shampoo yang Risa pakai, terus mencium puncak kepalanya juga.
"Diam deh! Aku mau tanya serius nih." Risa langsung membalikkan badannya, kini manik matanya beradu pandang dengan Riko.
"Kamu pernah ngapain aja dengan art kamu?" Tanya Risa dengan mimik wajah serius, Kalista bersumpah dalam hatinya, jika Riko pernah tidur dengan artnya, Risa akan membatalkan rencana pernikahannya itu.
"Ngapain ya? Aduh aku lupa!" Riko pura-pura memegang kepalanya.
"Ngapain?" Bentak Risa dengan sangat keras. "Kamu nidurin dia juga ya?" Keluar lah kalimat itu dari bibir Kalista.
"Nggak! Aku tuh nggak pernah ngapa-ngapain bareng art aku! Satu-satunya wanita yang aku tiduri, cuma kamu doang. And than, aku menyesal. Sumpah!" Riko mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Beneran?" Ujar Kalista.
"Iya beneran! Masa kamu lupa, itu loh kita kan tidurnya di ruangan aku di Coffee shop, siang-siang enak deh pokonya!" Dasar Riko si pria mesum, bukannya menjawab serius dirinya malah mengingatkan Risa kembali pada hari terkutuk itu.
"Ih bukan yang itu!" Risa mendengus kesal.
"Yang mana? Yang pas ketauan sama sahabat-sahabat aku?" Riko semakin tersenyum menyeringai.
"Bukan! Udah ah malas ngomong sama kamu yang isi otaknya seputaran bagian tengah paha." Celetuk Risa sambil mencubit lengan Riko.
"Kamu cemburu! Aku bahagia! Kamu cemburu? Aku suka! Semakin kamu cemburu, aku semakin sayang sama kamu. Love you." Riko merangkul Risa dan mencium puncak kepalanya secara paksa.
Riko kemudian mengajak Risa untuk mengitari seluruh ruangan yang ada di apartemennya. Mulai dari dapur, kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, ruang untuk olahraga, Riko menjelaskan semuanya. Saat ini Riko dan Risa tepat seperti seorang youtuber sedang membuat konten room tour apartment.
Riko sekarang membawa Risa ke kamarnya, kamar yang di tempati. Karena sebenarnya apartment ini memiliki 3 kamar, sedangkan yang ini adalah kamar yang memang di tempatinya.
Sebuah kamar yang ukurannya sangat luas, cat dindingnya berwarna putih dan abu-abu, semi-semi gelap gitu. Di dindingnya juga terdapat pernak pernik khas cowo. Ada satu lemari besar di sudut tembok, ada meja rias yang diatas mejanya hanya terdapat parfum dan lotion. Intinya, kamarnya sangat luas, tetapi isinya sedikit. Cuma ada kasur king size, lemari, meja rias, rak buku, sofa dan ada kulkas ukuran besar juga yang berdiri di dekat jendela kedua.
"Nanti kalau udah nikah dan kamu mau tinggal di apartemen ini, kamarnya kita ganti konsep aja. Terserah deh kamu mau yang kaya gimana, aku sih ngikut aja, senyamannya kamu aja sayang."
"Hmmmm." Hanya itu saja yang keluar dari mulut Risa.
Riko merebahkan tubuhnya diatas kasur yang super mpuk itu. Manik matanya menatap langit-langit kamarnya, pikirannya melayang ke hari dimana dia memperlakukan Risa dengan semena-mena. Jika waktu bisa di putar, Riko sangat ingin kembali memperbaiki sikapnya dan ingin berlaku sopan pada Risa, tentunya Riko juga ingin membantu Risa dengan ikhlas.
Risa berjalan melihat keadaan di luar sana melalui kaca jendela. Kemudian Risa membuka kulkas, di dalam kulkas itu isinya di penuhi oleh Snack, berbagi macam minuman kemasan, es krim dan buah-buahan. Risa mengambil apel yang berwarna merah pekat dan menggigitnya.
"Ngapain sayang?" Tanya Riko.
"Aku ingin jadi snow white." Ujar Risa sambil memperlihatkan apel yang baru saja di gigitnya. Di bibirnya itu tersungging seutas senyum manis.
"Terus kamu tertidur, nanti terbangun kalau aku cium kamu." Riko langsung berjongkok mencium dahi Risa.
"Bangun sayang, jangan duduk di lantai! Dingin loh." Ujarnya sembari tersenyum juga.
Risa duduk di sofa sembari menikmati buah apel yang berada di tangannya. Riko ikut duduk di sebelahnya, Riko terus menerus menatap Risa yang sedang sibuk mengunyah apel.
"Mandi yuk sa." Ajaknya pada Risa.
"Nggak!"
"Badanku lengket sama keringat."
"Itu kan badan kamu sayang, gih kamu aja yang mandi."
"Barusan kamu panggil aku apa?" Riko berusaha bertanya kembali, hanya untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar.
"Sayang, kenapa? Ada masalah?"
"Coba sekali lagi!" Pinta Riko dengan senyum sumringah.
"Sayang kamu kok bawel banget sih, usah deh sana mandi." Tangan mungil itu berusaha mendorong badan Riko dengan sekuat tenaga.
"Mandi bareng yuk!"
"Nggak mau!"
"Mandiin aku aja, mau nggak?"
"Ih ogah!"
"Kalau udah jadi istri, tapi kamu nggak mau mandiin aku awas aja ya, aku sentil hidung kamu."
"Bodo! Nggak takut!"
Merasa gemas sekali dengan celetukan Risa, Riko pun menjadi tidak tahan ingin mencium pipinya. Tetapi Risa itu sangat sulit untuk di cium, dirinya terus menerus menghindar. Sekalinya berhasil Risanya dalam keadaan tiduran diatas sofa, apel ditangannya jatuh tergeletak di lantai. Riko menindihnya, manik matanya bertemu, keduanya saling menghembuskan napas gusar, jarak wajah Risa dan wajah Riko hanya 5cm saja.
"Sa." Ucap Riko dengan lirih.
Risa tidak menjawabnya, tetapi manik matanya tetap terfokus pada manik mata Riko. Dalam posisi tubuh yang seperti itu, setan tentunya sangat gencar untuk menggoda dan menyesatkan mereka berdua.
Dengan perlahan tapi pasti, Riko menempelkan bibirnya ke bibir mungil Risa. Awalnya Riko hanya mengecupnya saja, tetapi godaan setan sangat dahsyat. Lidahnya menelusup masuk lebih dalam, kemudian mencari lidah Risa di dalam sana. Lidah mereka saling menarik dan saling berpagutan.
Lima menit telah berlalu, cumbuan itu masih berlanjut. Risa mulai kekurangan oksigen, dia melepas paksa bibirnya yang masih menempel di bibir Riko. Risa meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sedangkan Riko kini malah beralih ke lehernya, perlahan turun ke dadanya. 3 kancing kemeja yang Risa gunakan telah terbuka, daging sintal nan empuk itu menyembul keatas.
Riko sangat menyukainya, bahkan dia juga menggigitnya pelan. Tangan Riko menelusup masuk kedalam kemeja itu, meraba punggung Risa, mencari kaitan bra nya. Kaitannya terlepas, dada yang indah itu seperti bahagia terlepas dari kain pembungkusnya.
Riko semakin menyukainya, mulutnya terus menerus melahap dada milik Risa. Kecupan demi kecupan Riko berikan, dia juga menggigit kecil ujungnya sehingga Risa merasakan geli dan nikmat.
Dada yang bersih itu kini sudah berubah menjadi macan tutul. Noda merah bertebaran di area dada kiri dan dada kanan.
Risa merasakan tubuhnya mulai pegal karena di tindih oleh Riko yang bobot badannya melebihi dirinya, lagi pula bagian tubuh bawah Riko sangat mengganjal, dan itu sangat terasa sekali oleh Risa.
"Kak, berat!" Ucap Risa dengan napas ngos-ngosan. Wajar saja deru napasnya sangat memburu, Riko telah membuatnya mengerang dan meracau mengeluarkan suara aneh-aneh. Rasa geli dan nikmat yang dulu pernah dia rasakan, kini terulang lagi.
"Maaf!" Riko langsung bangun dan duduk di bawah sofa.
Riko juga langsung membangunkan Risa, mendudukannya dan mengaitkan kembali bra-nya. Riko juga mengancingkan Kembali baju kemeja Risa.
"Maaf sayang, aku kelewatan." Ujarnya sambil merapihkan kembali rambut Risa. Kebiasaan buruk Riko adalah ketika sedang bercumbu, tangannya selalu bermain-main di rambut Risa.
"Minum nih! Aku mandi dulu sayang! Kalau laper kamu makan aja, atau ngemil aja ya." Ucapnya sambil tangannya mengacak rambut Risa.
Riko masuk ke kamar mandi, sementara Risa masih bertanya-tanya pada dirinya. Apa yang barusan terjadi? Mengapa dirinya tidak menolak? Pikirannya melayang-layang.
Karena merasa haus, akhirnya Risa kembali membuka kulkas. Mengambil satu botol minuman rasa kelapa, dan kembali memakan buah apel. Duduk di lantai dengan kulkas terbuka, sambil mengunyah apel, Risa terus menerus menatap semua isi kulkas ini. Kalau kulkasnya yang di rumah kan keseringan di isi sayuran, tahu tempe, sama ikan atau daging. Itu pun isinya nggak penuh, kalaupun ada botol minum, isinya hanya air mineral saja.
Di kamar Riko ini, Risa seperti menemukan harta Karun. Kalau tidak malu sih, rasanya Risa ingin sekali jingkrak-jingjrak bahagia. Risa bahkan sempat membayangkan bagaimana kalau Haikal dan Denis diajak ke sini, Haikal pasti akan mengambil minuman-minuman bersoda, dan Denis akan rebutan snack dengan Risa.
"Ya ampun sayang, ngapain lagi di situ? Bangun nggak, itu lantainya dingin." Teriak Riko yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Risa membalikan badannya, menatap Riko sekilas dengan alis terangkat sebelah. "Awwwww! Kamu ngapain sih keluar kaya gitu?" Risa menjerit pelan, kedua telapak tangannya terangkat menutupi mata dan wajahnya.
"Ada yang ketinggalan, ngapain sih di tutupin? Toh kamu juga sudah melihat seluruh tubuh aku ketika telanjang bulat kan?" Ujarnya dengan tawa sinis.
"Ih! Apaan yang ketinggalan?" Tanya Risa sembari menggerutu.
"Ambilin shampoo di laci meja rias, baru ngeh aku shampo aku di kamar mandi ternyata udah habis." Ucap Riko.
Risa bangun, menutup pintu kulkas. Dan mencari shampoo yang Riko maksud, lalu berjalan mendekat ke Riko. Telapak tangan yang sebelah masih menutupi wajahnya.
"Nih!" Risa memberikan shampoo itu.
Riko bukannya mengambil shampoo itu, dia malah menarik tangan Risa sehingga kini mereka berjarak sangat dekat.
"Nih!" Risa kembali menyodorkan shampoo itu.
"Dari tadi masuk ke kamar mandi ngapain aja?" Gerutu Risa, Riko telah masuk ke kamar mandi dari lima belas menit yang lalu, tapi badannya belum basah sama sekali.
"Nuntasin apa yang tadi kamu bangunkan!" Ujar Riko dengan santainya.
"Apanya!" Tanya Risa bingung.
Riko menarik paksa telapak tangan Risa yang digunakan untuk menutupi wajahnya, wajah itu bersemu merah.
"Tuh! Tadi bangun gara-gara kamu!" Riko menunjukan sesuatu di bagian bawahnya yang kini sangat menonjol.
"Ih!" Risa melotot, wajahnya semakin memerah. Kakinya sibuk menendang-nendang pelan kaki Riko.
"Sa, kalau kamu nggak bisa diam, nanti handuknya jatuh dan aku terpaksa membaringkan kamu di tempat tidur. Mau nggak?" Riko malah semakin menjadi-jadi.
Risa akhirnya diam, dan Riko memeluknya sebentar. Sebuah pelukan yang sangat erat, sampai-sampai Risa kesulitan untuk bernapas. Risa merasa Riko mendekap tubuhnya dan agar dadanya menempel di dada telanjangnya.
Risa kembali harus menengkan dirinya, kejadian hari ini terasa begitu banyak. Alih-alih mencoba memikirkan apa yang terjadi dengannya, Risa malah merebahkan dirinya di kasur hingga tertidur lelap.
Begitu Riko keluar dari kamar mandi, dirinya malah mendapati Risa yang tertidur pulas. Riko menghampirinya, menyelimutinya dan mengecup dahinya. Dia memandang Risa sekilas, kemudian garis bibinya terangkat. Dirinya kini semakin dekat dengan calon istrinya.
Sambil menunggu Risa bangun, Riko menyempatkan dirinya untuk menghubungi ibu Risa. Memberitahukan bahwa pemotretannya belum selesai. Riko terpaksa berbohong, karena walau bagaimanapun juga seorang ibu pasti akan mengkhawatirkan anaknya.
Riko membawa beberapa dokumen pekerjaannya ke kamarnya, biasanya sih Riko mempunyai ruangannya tersendiri, tetapi karena ada Risa, jadi dia bekerja di kamarnya.
Tok.. tok.. tok.
"Permisi pak, saya ica." Ujarnya di luar pintu sana.
Riko menghentikan aktifitasnya sejenak, membuka pintu dan menghampiri ica si asisten rumah tangganya. Hari ini memang jadwalnya Ica berbelanja dan memenuhi isi kulkas Riko yang di dapur. Belanja sayuran untuk stock satu Minggu, beserta ikan dan daging-dagingnya.
Ica juga masuk ke kamar Riko, manik matanya membulat sempurna ketika melihat ada sesosok gadis cantik di tempat tidur Riko. Raut wajahnya berubah, ada aura kemarahan di sana. Ica memasukan berbagai macam buah agar kulkas itu terisi penuh kembali.
"Kok bapak kerjanya disini?" Tanya Ica.
__ADS_1
Ica memang hafal betul dengan kegiatan Riko, baik itu kerjaannya maupun kebiasannya.
"Gadis cantik itu lagi tidur, dia nggak suka sendirian dan takut gelap. Kalau di tinggalin nanti takut nangis." Ujar Riko, dia sama sekali tidak melirik Ica seidkitpun, karena masih terfokus pada kerjaanya.
"Memangnya wanita itu siapa?" Tanya Ica lagi.
"Ka Riko."
Belum sempat Riko menjawab pertanyaan dari Ica, Risa keburu bangun dan memanggilnya. Di tempat tidur itu Risa masih mengerjapkan matanya, mengucek kedua bola matanya, lalu meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku.
"Sudah bangun sayang, haus nggak? Mau minum? Atau laper? Atau mau makan apa?" Riko menghampiri Risa, mengusap rambutnya lembut dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
Ica masih berdiri mematung di tempatnya, Ica mendengar Riko memanggil perempuan yang tertidur itu dengan sebutan sayang. Ica juga menyaksikan betapa lembutnya sikap Riko kepada perempuan itu.
"Dia siapa?" Tanya Risa.
"Itu Ica, art di apartment ini."
"Oh."
"Pulang yuk, ibu pasti nungguin aku dengan khawatir." Pinta Risa.
"Nggak mau mandi dulu?"
"Nanti aja deh di rumah." Ucap Risa.
"Yaudah ayo pulang!"
"Pak, bisa antarkan saya sampai pertigaan." Ica meminta diantarkan sampai pertigaan. Entah Ica sengaja atau gimana.
"Nggak bisa kan yang, kamu kan mau anterin kamu pulang." Risa memeluk lengan Riko dengan manja, Risa merasa sebal kepada Ica yang bersikap tidak tahu malu.
"Saya mohon pak, ini kan sudah malam." Ica malah memasang wajah iba, berharap Riko mau mengantarkannya sampai pertigaan.
"Iya! Terakhir!" Jawab Riko cuek.
"Kalau cemburu kamu semakin cantik?" Bisik Riko di telinga Risa, Riko juga merangkul Risa dengan mesra.
"Bodoamat!" Risa berkata tegas. Tapi dirinya malah mengalungkan tangannya di leher Riko. Menatapnya penuh gairah dan berjinjit mencium bibir Riko sekilas.
"Kok sebentar! Mau yang lama ah." Riko merajuk manja, jarang-jarang kan Risa berinisiatif menciumnya lebih dulu.
"Sabar, sebulan lagi! Yo ah, kasian art kamu nanti pulangnya kemalaman." Risa langsung menggandeng tangan Riko, dan berlalu keluar dari apartment itu.
"Bentar! Kunci mobil ketinggalan di kamar." Secepat kilat Riko langsung melenggangkan kakinya masuk ke apartment untuk mengambil kunci mobilnya.
"Kenal pak Riko dimana? Dekat udah berapa lama?" Tanya Ica dengan ketus, raut wajah tidak sukanya sangat terlihat jelas.
"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" Tanya Risa sembari terkekeh.
"Dasar gila!" Ica memandang Risa dengan sinis.
"Kenal di Coffee shop, gue kan dulu manager di Riko's coffee shop and cake. Tapi sekarang udah pindah kerja sih. Nggak lama juga sih, nggak sampai setahun juga." Risa berusaha menjawab pertanyaan dari Ica dengan sangat santai.
"Terus di Coffee shop, lu ngegoda pak Riko?" Tanya Ica lagi.
"Gue tuh nggak pernah ngegoda, emang dasarnya tubuh gue aja yang sangat menggoda." Lalu Risa tertawa.
"So banget sih!"
"Pasti lu hamil ya!" Cetusnya dengan sinis.
"Waduh mulutmu ca, semesum itu kah tampang saya? Risa itu wanita baik-baik mana mau dia di tidurin duluan." Jawab Riko tegas, sekarang Riko paham bahwa artnya tidak menyukai calon istrinya.
"Ca, tolong yang sopan dong sama Risa. Risa itu calon istri saya, kurang lebih sebulan lagi dia juga akan menempati apartment ini." Riko meminta artnya untuk lebih sopan, karena Riko takut Risa tidak mau tinggal di apartmentnya.
"Iya pak!" Jawab Ica disertai senyuman, tapi Risa tahu itu merupakan senyuman palsu.
Risa benar-benar berubah menjadi manja, untuk membuat Ica merasa geram dan kesal. Risa bahkan pura-pura lupa memasangkan seat beltnya, sehingga Riko lah yang memasangnya. Segalanya Risa mengucapkan terimakasih dan mencium pipi Riko.
"Yang, emang kalau belanja sayuran harus malam kaya gini ya?" Risa merasa penasaran, mengapa Ica harus berbelanja malam hari.
"Nggak tahu, itu kan Ica bukan aku." Ujar Riko.
"Ah itu, pagi kan saya sibuk beres-beres apartment." Ica berusaha mengalihkan.
Risa merasa tidak puas dengan jawaban Riko maupun Ica.
"Nanti kalau udah nikah, kamu ya yang belanja. Kita ke supermarket, aku yang dorong troli kamu yang ngambilin buah atau sayurannya. Seru loh kayanya, kaya Arka dan istrinya." Ucap Riko penuh antusias.
"Boleh tuh! Atau kalau nggak nanti kita battle belanja aja."
"Terus nanti kita punya anak kembar ya!" Pinta Riko.
"Emang bisa?"
"Ya gimana di kasihnya aja deh hehe."
Risa dan Riko terus saja berceloteh, mereka membahas pemotretan prawedding tadi, membahas mengenai mahar, dekoran, akad, dan resepsi.
Karena Risa membahas semua ini, akhirnya Riko memutuskan untuk sekalian membicarakan mengenai honeymoon. Riko memberikan beberapa pilihan tempat yang akan di datanginya untuk honeymoon. Riko membebaskan Risa untuk memilih, mau di dalam negeri maupun di luar negeri.
Riko juga sekalian membahas rumah, Risa memutuskan untuk tinggal di apartment. Dengan syarat dirinya boleh kapan saja mengunjungi ayah dan ibunya, tetapi Haikal dan Denis juga boleh main ke apartmentnya kalau lagi libur sekolah.
Risa juga berencana mengubah dekorasi kamar Riko. Konsepnya mau yang putih kalem dan tenang. Bukan apa-apa sih, karena Kalista tidak menyukai yang gelap-gelap.
Ica merasa dirinya hanya menjadi debu, kotor tidak terlihat dan tidak dianggap. Setelah sampai si pertigaan, Ica langsung turun dan mengucapkan terimakasih.
"Sayang."
"Apaan sih?" Ketus Risa.
Riko tersenyum simpul, benar saja dugaannya. Risa berubah menjadi romantis dan manis sekali hanya karena ada Ica, itu artinya Risa memang cemburu.
"Sumpah, itu art kok nyebelin banget? Nggak sopan lagi ke aku." Risa mendengus kesal, sebenarnya dirinya ingin sekali menjambak rambut Ica.
"Biasnya dia sopan, kok hari ini mendadak jadi gitu ya?"
"Dia tuh sopan sama kamu, karena dia punya perasaan lebih. Sedangkan aku ini calon istri kamu, makanya dia judes banget sama aku. Mana mulutnya tuh maen celetak-celetuk aja gitu. Untuk seorang art, dia itu sangat kurang ajar! Masa iya aku di sangka hamil."
"Jadi kamu cemburu?"
"Iya, aku cemburu!"
"Aku tuh kesal banget, bete deh pokonya. Jangan biarkan dia masuk ke kamar kamu dong, seenaknya aja tuh masuk kamar majikan. Harusnya dia tahu diri dong, tahu batasan. Kalau tadi tidak ada aku di kamar kamu, berarti kamu sendirian kan. Terus nanti dia mau godain kamu gitu? Gatal banget sih dia jadi perempuan."
"Iya-iya dia gatal! Kamu mah baik, cantik lagi." Riko berusaha menengkan Risa agar tidak menggerutu.
"Nanti mah nggak usah ada art, aku sendiri aja bisa kok ngurus apartment."
"Nanti kamu capek sayang, yaudah nanti deh cari art yang baru aja."
"Nggak usah, nanti art nya perempuan lagi kan? Mendingan aku aja yang beres-beres apartment."
"Iya lah, emang ada art laki-laki? Kalau pun ada aku nggak bakal merekrut dia untuk jadi art di rumah aku. Nanti kalau aku kerja, terus dia godain kamu. Ih nggak rela."
"Nah kamu juga takut kan aku digodain, sama aku juga takut kamu di godain si Ica kecentilan itu."
Malam ini Riko di buat tersenyum, Risa benar-benar telah mencintainya.
"Mama bawel banget nih, chatting aku terus." Riko menatap layar ponselnya sekilas, sebelah tangannya masih fokus menyetir.
"Balas aja! Wajar lah, siapa tahu mama kamu emang lagi kangen sama kamu?"
"2 Minggu lagi juga ketemu sama mama."
"Eh mama malah video call. Aku menepi dulu deh."
"Hallo mah, apa kabar? Sehat?"
"Alhamdulilah mama sehat, mama chat kamu tapi lama terus di balasnya." Ujar sang mama di layar ponsel Riko.
"Hari ini Riko super sibuk ma, ini aja lagi di jalan. Nih Riko dalam mobil, mama ngertiin Riko dong." Ujar Riko sambil terkekeh.
"Alasan terus kamu mah! Ini udah malam nak, kamu mau kemana?" Tanya sang mama dengan raut wajah khawatir.
"Mau nganterin pulang calon istri, mau lihat ma." Arka langsung mengarahkan ponselnya pada Risa.
Tiba-tiba Risa menjadi gugup, bahkan ekspresinya terlihat sangat lugu. Tangannya berusaha merapihkan rambutnya yang terlihat berantakan.
"Hallo Tante, apa kabar?" Tanya Risa dengan gugup, Risa takut mamanya Riko tidak menyukainya. Ini juga untuk pertama kalinya Risa melihat wajah mama Riko.
"Oh ini calon mantu mama, pantesan aja Riko buru-buru melamarmu nak, sampai nggak mau nunggu kedatangan mama. Ternyata kamu secantik itu. Salam kenal ya nak." Mama Riko sangat antusias sekali, untuk pertama kalinya anaknya begitu serius terhadap seorang wanita.
"Ah Tante bisa aja..,"
"Eits, jangan panggil Tante. Panggil mama aja ya cantik." Mama Riko langsung memotong ucapan Risa.
"Iya ma."
"Ma lihat nih, dia tuh gugup banget. Katanya takut mama nggak suka sama dia." Riko mencubit pelan pipi Risa.
"Mama sangat setuju dengan pilihan anak mama kali ini, mama tahu pilihan anak mama kali ini benar-benar serius. Cuma lihat dari wajah saja, mama sudah tahu wanita cantik ini berkepribadian baik, dan selalu berbakti kepada kedua orang tuanya."
"Duh mama lupa siapa namanya wanita cantik calon mantu mama ini?" Imbuhnya lagi.
"Nama aku Risa Tante." Risa kali ini tersenyum lebih tulus, hatinya merasa tenang karena ternyata mamanya Riko menyetujuinya.
"Duh, pantesan aja anak mama yang pecicilan ini langsung mengikatnya. Takut keburu Risa di gaet pria lain?" Mama Riko meledek Riko.
"Iya gitu deh ma, abisnya dia cakep sih."
"Tapi kok Risa mukanya di tekuk sih?Pasti kamu buat salah ya sama dia?"
"Risa lagi cemburu sama art yang ada di apartment aku ma. Gitu kan dia mah kalau cemburu, kadang suka meluk-meluk Riko sampai Riko sesak napas."
"Eh bohong ma, Riko nih mah yang nakal suka nyosor duluan, kalau meluk aja Risa sampai sesak napas."
"Tapi tadi kamu beneran cemburu kan?" Tanya Riko sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya." Risa tersenyum kalau sembari menampilakan deretan giginya.
Mereka berdua berdebat tanpa memperdulikan mama Riko yang belum memutuskan sambungan video callnya.
"Nah gitu dong! Aku kan makin suka sama kamu." Secepat kilat Riko langsung mengecup pipi Risa.
"Eh! Kalian berdua ini apa-apaan maksudnya? Mau manas-manasin mama ya? Mana papa masih sibuk di kantor pula."
"Ih kasian mama kesepian!" Ledek Riko sambil menjulurkan lidahnya.
"Biarin aja! Nanti kalau papa udah pulang mama bisa kelonan, bisa bobo berdua pakai selimut." Kini malah mama Riko yang memanas-manasi Riko.
"Iya ma iya, Riko mah apa atuh? Mau tidur sama Risa aja harus nunggu sebulan lagi." Riko memutarkan matanya jengah.
"Sabar dong sayang. Pokonya anak mama tidak boleh merusak anak gadis orang lain." Ucap mama Riko, mama Riko tidak ingin anaknya melakukan sex pranikah.
"Iya mama sayang, Riko nggak kaya gitu kok."
"Risa mana? Mama mau bicara serius dulu!"
Riko memberikan ponselnya pada Risa. "Apa mama?" Tanya Risa sambil tersenyum.
"Nak, kalau Riko berlaku mesum atau semena-mena sama kamu, kamu hajar aja ya. Kelemahan laki-laki ada pada tubuh bagian bawahnya, kalau Riko macam-macam tendang aja itunya. Pokonya siksa aja dia kalau berani macam-macam. Kalian berdua harus bisa melawan hawa nafsu, pokonya kalian bersabar ya, sah kok sebulan lagi." Mama Riko memberikan nasihatnya kepada Risa.
"Iya mama, nanti Risa patahin tangannya." Jawab Risa.
"Bagus nak!" Mama Riko mengacungkan jempolnya.
"Sudah dulu ya, papamu sudah pulang. kamu anterin calon mantu mama, bawa mobil jangan ngebut! Hati-hati di jalan." Ujar mama Riko.
"Siap ma." Jawab Riko.
"Tuh kan, mama aku tuh setuju sama pilihan aku. Gimana nggak setuju coba? Calon mantunya cantik dan berkepribadian baik, point pentingnya sayang sama orang tuanya." Ujar Riko yang kembali melakukan mobilnya.
"Sa, mama nggak tahu aja calon mantunya sudah aku tidurin." Riko tersenyum menyeringai, dan Risa langsung mencubit pinggangnya.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤