
Andy sudah tiba di kantor pagi-pagi sekali. Karena hari ini adalah hari Senin, harinya untuk produktif. Andy juga sengaja datang pagi untuk menghindari kemacetan ibu kota.
Tujuan lainnya yaitu Andy ingin melihat ekspresi wajah Gina. Kemarin Gina kan pergi begitu saja dari rumahnya, malahan menangis sambil berlari. Sebenarnya Andy juga kepikiran, malahan tadi malam sempat ingin menghubungi Gina. Tetapi tidak bisa, nomor Andy di blokir. Andy jadi semakin yakin, bahwa Gina cemburu pada Karin.
Sambil menunggu kedatangan Gina, Andy segera menyalakan komputernya. Berkutat dengan kerjaan hari ini lebih awal, hari ini memang banyak sekali pekerjaannya, baik itu meeting maupun ketemu klien.
Tidak terasa Andy sudah duduk lebih dari 30 menit, berkutat dengan komputer di hadapannya. Andy bangkit dan meregangkan otot lehernya yang mulai terasa pegal. Andy juga berjalan ke luar dari ruangannya, mau melihat Gina apakah sudah datang atau belum?
Andy mengerutkan dahinya, kursi itu masih kosong. Seharusnya Gina sudah datang, berhubung hari ini banyak pekerjaannya. Seharusnya semua dokumen untuk meeting dan bertemu klien Gina yang siapkan.
Kembali lagi ke ruangannya, Andy mencoba berpositif thinking, mungkin Gina terjebak macet. Andy kembali lagi pada rutinitasnya.
"Selamat pagi."
Tiba-tiba Arka masuk ke ruangan itu, tetapi tidak sendiri. Ada Kalista dan Kedua anaknya juga yang ikut serta.
"Pagi! Tumben banget nih bawa anak istri ke kantor." Andy mengerutkan dahinya sembari bertanya bingung.
"Mau gimana lagi? Mereka maksa pengen ikut, sebenarnya gue malas sih bawa mereka. Kalau ada mereka tuh bawaannya gue mau mesra-mesraan terus, tapi gue kasian sama mahluk jones yang ada di ruangan ini." Jawab Arka dengan gamblang.
"Ledek terus! Gue terima kok." Bibir itu mencebik karena kesal.
"Emang kenapa kalau ada kita di sini? Andy ke ganggu?" Tanya Kalista yang kini sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Eh nggak! Nanya aja ya nyonya Arka, tumben banget gitu loh." Ujarnya secara spontan, Andy malah takut Kalista tersinggung karena ucapannya.
"Gina cuti 4 hari, sekarang lu siapkan semua berkas dan dokumen yang di butuhkan untuk meeting dan bertemu klien. Selama Gina nggak masuk kerja, tugasnya dialihkan ke elu semua ya." Ujar Arka.
"Hah cuti? Cuti kenapa? Mendadak banget." Andy terperanjat karena kaget, sekarang Andy menatap Arka dan meminta penjelasan.
"Sakit katanya! Mamanya langsung yang menghubungi gue, tapi gue lupa nanya sakit apa?" Ucap Arka.
"Jangan-jangan Gina kecelakaan, ketabrak mobil gitu? Aaaaarrrrggghh tahu gitu kemarin gue kejar aja." Andy mengerang dan berteriak frustasi, tangannya menjambak rambutnya sendiri.
"Hush ah! Jangan ngomong macem-macem, ngeri tahu. Emang kemarin ada apa di antara kalian berdua?" Kini Kalista mencoba ikut andil dalam percakapan tersebut.
"Ceritanya panjang! Tapi kok pikiran gue nggak enak ya, hati gue juga nggak tenang. Apakah sekarang Gina baik-baik saja?" Wajah itu menjadi gusar, Andy bahkan gelisah dalam duduknya.
"Ceritain dulu sedetail mungkin!" Pinta Kalista dengan sedikit memaksa Andy.
"Jadi kan kemarin Gina datang ke rumah gue, bawain makanan gitu. Yang buka pintu si Karin, masih dengan muka banyaknya dan baju minim ciri khas cewe kalau tidur. Tidak lama gue juga keluar, cuma pake kaos sama celana pendek gitu kan. Gue juga kemarin nggak tahu kalau yang bertamu itu adalah Gina. Terus dia kaya kaget gitu kan? Kotak makanan yang di tangannya aja jatuh sampai rumah gitu, terus Gina lari, kata Karin sih sambil nangis." Dengan deru napas yang memburu Andy pun mencoba menjelaskan tentang kejadian kemarin.
"Nangis kenapa? Masalahnya apa sih? Nggak paham gue sama pikirannya kaum wanita, kecuali istri gue." Arka langsung mengatakan pengecilan untuk Kalista, kalau tidak nanti Kalista bisa marah-marah.
"Eh tunggu, Karin itu siapa?" Tanya Kalista dengan raut wajah bingung.
"Adik gue!" Jawab Andy singkat.
"Gina tahu nggak Karin itu adiknya Andy?" Tanya kalista lagi.
"Nggak! Gue dulu sempat telponan sama Karin di depan Gina, gue bilang Karin pacar gue." Jawab Andy masih dengan wajah gusarnya.
"Halah ******! Jadi Gina itu menganggap Karin pacarnya Andy, dan ketika Gina datang bertamu melihat penampilan kalian berdua yang baru bangun tidur, otomatis pikirannya menebak kalian berdua tidur seranjang. Kesimpulannya Gina cemburu dan merasa sakit hati. Tujuan utama cutinya selama empat hari adakah untuk menghindari Andy, berusha meminimalisir pertemuan hingga hatinya kembali pulih dan sembuh, atau berusaha membangkitkan kembali hatinya yang rapuh gitu." Kalsita ini emang otaknya lumayan cepat tanggap, dia bisa langsung mengambil kesimpulan mengenai apa yang telah Andy jelaskan.
"Iya sih gue juga sempat mikir Gina cemburu, tadi malam gue sudah mencoba menghubungi Gina, tapi nggak bisa, nomor gue di blok kayanya." Andy menjawab lirih.
"Sekarang gue harus gimana dong?" Tanyanya.
"Selesaikan sendiri lah! Terserah elu mau kaya gimana juga, intinya kalau lu masih suka bilang suka, kalau lu udah nggak suka, tolak dengan halus. Sekarang mendingan fokus dulu ke kerjaan, kerjaan Gina lu yang handle ya." Perintah Arka.
Dengan langkah gontai Andy pun berjalan ke luar dari ruangan ini. Duduk di kursi kerja Gina malah membuat dirinya semakin mengingat Gina.
Benar saja, Andy keduanya lamban sekali. Pikirannya selalu tertuju pada Gina, Andy bahkan berkali-kali mengusap wajahnya gusar. Di sisi lain Andy ingin menghampiri Gina, tetapi Andy belum siap dan belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Andy ingin mengetahui gelewbih dahulu bagaimana perasaan Gina? Yang membuat Andy cemas adalah takut Gina beneran sakit, atau jangan-jangan kemarin Gina mencoba melukai dirinya sendiri? Atau terjadi musibah pada Gina?
Andy segera menepis semua pemikiran buruk itu, Andy berharap Gina baik-baik saja. Andy mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.
Setelah itu rapat pun di mulai, Arka memimpin rapat dengan sangat baik. Mood Arka cukup bagus hari ini, sebab Kalista dan kedua anaknya ada menemani dan menyemangatinya bekerja. Berbeda jauh sekali dengan Andy, saat ini tidak ada semangat dalam dirinya.
*****
Ini sudah masuk jam istirahat, Arka dan Andy barusan pergi untuk bertemu klien. Mau tidak mau Arka meninggalkan Kalista, tetapi tidak masalah bagi Kalista, karena Kalista juga ingin menyapa teman-teman lamanya, termasuk Bima dan Bimo.
Kalista berjalan keluar dari ruangannya, satu anaknya di panggilannya, satunya lagi di stroller. Berjalan sambil menggendong Nathan dan mendorong Nayla di stroller.
Nathan dan Nayla ini lumayan cukup menarik perhatian, banyak sekali karyawan dan karyawati yang mencoba mengajaknya berinteraksi. Tetapi Kalista tidak membiarkan mereka semua untuk memegang, Kalista takut anaknya terkena penyakit kulit karena di pegang oleh banyak orang. Walaupun mereka merasa tangannya bersih, tetapi kan yang namanya kuman ataupun virus ukurannya sangat kecil dan tak kasat mata.
"Selamat siang ibu dan kedua balita kembar." Seorang karyawan yang bertubuh kurus kecil itu menyapa Kalista dengan senyum mengembang.
Kalista menjawab sapaannya, Kalista juga balik tersneyum. Tetapi sebenarnya Kalista sama sekali tidak tahu siapa karyawan itu? Cukup asing di pandangan Kalista, mungkin itu karyawan baru. Tetapi mengapa sudah mengenal dirinya? Begitu juga kedua balitanya?
"Bocah kembar! Gue kangen banget nih!" Bimo buru-buru bangun dari duduknya, berusha menghampiri Kalista dan akan mencoba meraih Nathan di pangkuan Kalista.
"Stop! Lu cuci tangan suku deh atau pakai hand sanitizer juga. Sorry ya bukannya apa-apa tapi yang namanya kontak sama bayi atau balita tangan itu harus higenis. Sorry banget loh gue nggak maksud.." Kalista menyetop langkah Bimo, jujur saja Kalista juga agak sedikit takut Bimo menyalahkan arti ucapan dan larangannya barusan.
"Oke, gue paham." Bimo pun kembali lagi terduduk, dan langsung menggunakan hand sanitizer.
Tidak hanya Bimo, Bima dan Tiara pun melakukan hal yang sama. Selanjutnya mereka sibuk dengan si kembar, ada yang menguyel-uyel pipinya seperti squishi. Ada yang mengajaknya berfoto, pokonya mereka sangat menyayangi Nathan.
Kalista malah sibuk makan, maklum sudah lama tidak mencicipi makanan ibu kantin di lantai dasar. Biasanya kan Kalista beserta Tiara dan ban bemo selalu nangkring di kantin ini. Ibu kantinnya juga sangat ramah, itulah mengapa Kalista selalu betah. Point plusnya kadang ibu kantin membiarkan Kalista dan ketiga temannya untuk menghitung di tanggal tua.
Suap demi suap itu telah masuk kedalam rongga mulut Kalista, mengunyahnya lalu menelannya. Kalista bagaikan wanita rakus atau mungkin tidak makan selama beberapa hari. Dia memesan beberapa porsi makanan dengan menu yang berbeda-beda, seolah-olah tidak ada hari esok atau tidak akan datang lagi ke tempat ini.
"Pelan-pelan aja makannya! Anak lu anteng kok bareng gue." Tepuk Tiara di pundak Kalista. Dari tadi manik mata Tiara tidak lepas dari memandang Kalista.
"Iya." Jawab Kalista yang hampir tidak jelas karena mulutnya di penuhi oleh berbagai macam makanan.
Tidak ada obrolan diantara mereka berempat, karena Kalista yang masih sibuk makan. Setelah Kalista selesai makanan barulah mereka akan memulai percakapan.
__ADS_1
"Kenyang bu? Tuan Arka tidak memberikan lu makan berapa lama sih? Heran gue, cakep-cakep tapi rakus banget." Celetuk Bima sambil memandang Kalista.
"Enak aja lu! Sembarangan banget lu d ngomong! Gue makan enak terus tiap hari, bahkan restoran ternama pun bisa gue beli. Alasan pertama gue makan banyak hari ini adalah.. karena kangen lah gue udah lama nggak makan makanan di kantin ini. Hitung-hitung nostalgia masa-masa gue kerja dulu." Jawab Kalista sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
"Iya percaya nyonya! Pak Arka uangnya kan numpuk, nggak ada niatan buat sedekah apa ya? Berbagi dong sama gue, geu pengen halalin anak orang nih." Celetuk Bimo sambil menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk lambang 'peache'.
"Nggak bisa! Diantara kita bertiga harus gue dulu yang nikah?" Spontan Tiara menjawab seperti itu. Wajahnya langsung memerah seperti cherry.
"Ketahuan lu kebelet nikah? Lu udah nggak tahan ya?" Goda Bima yang semakin membuat wajah Tiara bersemu merah.
"Ngapain sih mau nikah cepat? Biar bobo ada yang nemenin? Biar tidur ada yang meluk? Atau kepengen punya anak kembar kaya gue? Atau jangan-jangan sebenarnya elu udah nggak tahan ya pengen merasakan surganya dunia?" Kalista ikut-ikutan meledek Tiara, bahkan Kalista juga membisikan beberapa kalimat di telinga Tiara. Tiara bergidik ngeri sambil membukatkan manik matanya.
"Iya gue nggak tahan pengen nikah, gue pengen hidup bahagia. Gue pengen punya partner dalam kehidupan ini, gue pengen seseorang yang akan selalu menjaga dan mencintai gue selamanya. Gue pengen punya sandaran dalam segala hal, baik itu keluh kesah maupun kebahagiaan. Gue mau menyerahkan seluruh hidup gue padanya, tetapi dia juga harus sayang sama mami gue. Gue tuh nggak seberuntung kalian, gue punya bokap bejat banget. Tapi gue meminta kepada sementara untuk mengirimkan gue seseok pria yang akan melindungi, menjaga, mengayomi, dan menuntun gue pada jalanNya." Deru napas Tiara naik turun ketika mengakan itu semua, nada bisa ada menggebu-gebu, tersirat sebuah emosi di dalamnya.
"Gue yakin Evan yang terbaik buat lu. Bukannya Evan nggak mau melamar dan menghalalkan lu sesegera mungkin, tetapi gue yakin masih ada beberapa hal yang sedang Evan urus. Sabar dulu aja, gue yakin kok elu pasti bahagia dengan pernikahan lu nanti." Tangan Kalista mengusap punggung Tiara dengan lembut.
"Ra, semua manusia di ciptakan berbeda-beda. Kalau lu bilang lu nggak beruntung karena punya papi yang berkelakuan seperti itu, gue juga nggak beruntung karena masalah finansial. Kita sama-sama nggak beruntung, hanya beda konteks saja." Bima pun tersenyum sambil menyemangati Tiara.
"Nggak usah ada acara melow-melow kaya gini, percaya deh guys gue pengen nangis bombay." Celetuk Bimo.
"Iya-iya udah deh! Gue beruntung banget punya kalian bertiga." Ujar Tiara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sedih, kedua anak gue nggak di anggap." Ujar Kalista.
"Maksudnya punya kalian bertiga plus dua member baru yang masih krucil itu." Tiara pun terkekeh, tangannya Kemabli sibuk menguyel-uyel Nayla dan Nathan.
"Oh iya gue mau cerita nih." Seru Kalista.
"Boleh!" Ucap Bimo.
"Langsung aja lah! Mau cerita juga pake ngomong dulu." Sarkas Bima.
"Gue telat haid entah satu bulan atau dua bulan, tapi gue baru ngeh sekitaran seminggu atau dua Minggu yang lalu gitu deh." Kalsita menjeda sejenak kalimatnya, dan menyeruput es jeruk kesukaannya.
"Gue takut hamil." Lirih Kalista pelan, manik matanya celingak-celinguk kesana-kemari mencoba memastikan apakah ada orang yang mendengar atau tidak.
Suasana hening, ketiganya malah bengong dan melongo begitu saja. Tidak ada yang merespon, tetapi manik matanya tetap berfokus pada Kalista.
"Gue ngomong di dengerin nggak sih? Kalian punya kuping nggak sih? Respon dong." Geram Kalista sambil mendengus kesal.
"Harus respon apaan? Gue malah kaget pas dengar lu bilang takut hamil. Elu trauma hamil gegara ngelahirin Nathan dan Nayla ya? Elu masih keringat rasa sakitnya gitu?" Tanya Tiara dengan serius.
"Gue juga sama kagetnya! Seorang istri takut hamil? Bukannya kalau udah olahraga di ranjang tanpa pengaman pasti bakalan hamil?" Bimo juga bertanya dengan ekspresi wajah bingung.
"Takut hamil kenapa sih? Elu kan punya suami? Kalian ena-ena dari jam sepuluh malam sampai subuh juga nggak bakal ada yang grebek, kalian sepasang suami istri. Apa yang harus di takuti lagi?" Bima juga tak kalah bingungnya dari Tiara dan Bimo.
"Sumpah ya! Gue tuh takut bukan karena trauma terhadap rasa sakit ketika ngelahirin Nathan dan Nayla, gue juga bukan takut hamil yang sepeti sekarang ada di otak dan pikiran kalian. Gue takut hamil karena gue merasa belum siap, soalnya Nathan dan Nayla masih kecil. Gue takut perhatian dan kasih sayang gue itu terbagi, gue takut mereka nggak ke urus. Jujur, sebenarnya gue mau merawat dan mencurahkan semua kasih sayang gue itu buat Nathan dan Nayla." Kalista mencoba menjelaskan, karena ketiga sahabatnya itu salah pemahaman.
"Oh begitu! Tapi kalau hamil mau gimana lagi? Lu nggak mungkin bakal gugurin kandungan lu kan? Dosa, lagian lu mana tega sih ngebunuh darah daging lu sendiri." Ujar Tiara.
"Kalau hamil ya di syukuri aja, itu namanya rezeki. Banyak anak banyak rezeki, urusan ngasuh Nathan dan Nayla mah ada Tiara kan." Celetuk Bimo.
"Gila banget lu Bima, lu belum nikah sih, mana paham enaknya bikin anak." Lidah Kalista melet-melet, Kalista sengaja meledek Bima.
Selanjutnya Nathan dan Nayla di seragam pada Bima dan Bimo, sedangkan Kalista mencoba untuk quality time bareng Tiara. Lama tidak mengobrol santai dan asyik hanya berdua saja, Kalista pun segera mencurahkan segala isi hatinya. Kalista juga menceritakan tentang Andre. Saking asyiknya mengobrol, tidak terasa waktu istirahat telah berakhir.
Tiara, Bima dan Bimo segera meninggalkan kantin dan kembali lagi pada rutinitasnya. Sedangkan Kalista masih setia duduk di kursi itu, menyuapi Nathan dan Nayla MP ASI. Ibu kost juga menghampirinya dan mengajaknya untuk bercakap-cakap.
Waktu menunjukan pukul 13.45 WIB, Arka dan Andy pasti sudah kembali. Kalista pun segera kembali lagi ke ruangan Arka. Nathan di gendong, dan Nayla di dorong di stroller.
"Eh sorry ganggu." Setelah membuka pintu kalsita buru-buru membalikan badannya. Di ruangan itu ada Arka yang sedang berbicara dengan Andre, Kalista takutnya mereka sedang mengobrol mengenai urusan bisnis.
"Nggan apa-apa bun, bukan masalah kerjaan. Masuk aja kali, sungkan amat." Arka terkekeh melihat istrinya yang tiba-tiba bersikap gugup.
"Kirain." Jawab Kalista lirih.
Kalista langsung masuk dan duduk di sebelah Arka. Arka mengobrol dengan Andre, Kalista malah sibuk mengajak Nathan dan Nayla bermain.
"Tumben banget istrinya tuan CEO ikut ke kantor? Mulai ngerasa takut ada yang ngegodain suami ya?" Celetuk Andre dengan senyum ledekan.
"Ikut ke kantor bukan berarti takut suami di godain wanita lain, atau rekan kerja wanita. Lebih tepatnya kangen suasana kantor, kangen nongkrong dan makan di kantin. Maklum sebelum status saya menjadi nyonya Arka, tadinya saya adalah sekretaris pribadinya bapak Arka. Ikut ke sini juga bukan mau ngerepotin loh, justeru aku perhatikan suamiku kerjanya malah tambah semangat." Ujar Kalista sembari bergelayut manja di lengan Arka.
"Bini gue nggak pernah takut gue kepincut wanita lain, karena gue nggak pernah bosan punya istri seperti dia. Dia orangnya romantis dan punya banyak ide di otaknya, selain menyiapkan menu makan yang selalu berbeda dan bervariasi, bini gue juga pintar banget memuaskan hati, pandangan, dan hasrat suami." Antuasias sekali Arka menceritakan hal itu, Arka juga mengecup puncak kepala Kalista.
"Gue nggak pernah menyangka bakal bersanding di pelaminan bareng dia, gue juga nggak pernah paham mengapa dia begitu memikat hati gue. Intinya gue selalu di buat jatuh cinta sama dia, tidak ada satu detik pun terlewati tanpa memikirkannya." Manik mata Arka menatap dalam pada manik mata Kalista. Kedua insan itu saling pandang-pandangan di saksikan oleh Andre dan kedua bocah yang tidak mengerti apa yang sedang di lakukan oleh kedua orang tuanya.
"Iya udah nggak usah tatap-tatapan depan gue lah, nggak kaisan apa gue ini jones loh." Andre mendengus kesal, niat hati datang ke kantor Arka untuk mengobrol santai, eh malah di suguhi kisah romantisnya pasutri itu.
"Oke! Intinya gue sangat bersyukur memilikinya, bisa menikmati senyumnya dan bisa menikmati seluruh tubuhnya. Bahagia memiliki dua bocah kembar yang terlahir dari rahimnya. Point plusnya dia good looking, cakep, segera, daun muda, dia juga..,"
"Puji terus sampai aku lupa diri! Jagain dulu nih anak kamu, aku kebelet pipis." Kalista menyerahan Nathan ke pangkuan Arka, sedangkan Nayla masih santai di strollernya.
"Anak kita sayang! Hasil persilangan aku dan kamu." Arka tersenyum menyeringai.
Kalista sudah tidak memperdulikannya, Kakuta langsung pergi ke ruangan khusus untuk Arka yang ada di ruangan itu. Karena Kalista memang sangat kebelet pipis, segera masuk ke kamar mandi dan langsung membuang cairan berlebih itu.
Setelah pipis, Kalista mencoba merebahkan badannya dulu di kasur. Berdiri di depan kaca dan menatap jalanan yang lumayan padat merayap. Kalista juga menyempatkan untuk bercermin dan membenarkan make up-nya yang mulai luntur.
Karena hari ini Kalista menggunakan dress yang panjangnya lima centi diatas lutut, Kalista pun merasa tidak nyaman karena kurang leluasa geraknya. Kalista membuka lemari yang terdapat di sudut di ruangan itu, dan mengambil satu celana jeans dan baju kaos polos berwarna kuning.
Kalista menggantikan pakaiannya, penampilannya kali ini terlihat lebih fresh dan simple. Kalista juga menciptakan flatshoesnya dan menggantinya dengan sandal jepit yang biasa di gunakan untuk ke air.
Begitu Kalista keluar dari kamar, Andre langsung menatapnya tanpa berkedip. Sesosok mahluk yang bernama Kalista itu tadi masuk ke ruangan itu menggunakan dress, sekarang keluar dengan pakaian simpel, tidak ribet, dan malah terlihat semakin cantik.
"Loh, kok ganti baju?" Tanya Arka ketika melihat Kalista berjalan menghampirinya.
"Iya! Ini enak sih simpel, dress tadi lumayan agak pendek, jadi aku kurang leluasa, dan berasa di batasi dalam bergerak." Jawab Kalista.
__ADS_1
Benar saja? Sekarang Kalista lebih aktif bergerak? Kalista mengambil botol susu Nathan dan Nayla, mengambil air hangat dan melarutkannya. Kedua bocah kembar itu sangat lahap, mereka kehausan, karena tadi juga sudah makan MP ASI.
"Aduduh bunda kena cakarnya Nathan." Kalista menepis pelan tangan Nathan yang barusan mencakar wajahnya. Tetapi senyum di wajahnya tak kunjung hilang, Kalista sama sekali tidak marah kepada Nathan. Kalista merupakan sosok bunda yang sangat sabar.
"Jangan nakal dong jagoannya ayah, jangan sakiti bunda ya sayang." Arka mengecup puncak kepala Nathan.
Arka memang tipikal suami yang manja dan genit, tetapi Arka juga sangat romantis. Namun, sikap romantisnya itu meningkat dengan pesat ketika Andre ada di hadapannya. Arka merasa Andre itu selalu mengawasi gerak-gerik Kalista. Walaupun Andre sudah mengetahui Kalista itu istrinya Arka, sepertinya Andre belum menyerah juga.
*****
"Arrrrrrrgggghhh sialan! Kenapa sih gue suka sama bini orang? Kenapa sih nggak gue duluan aja yang ketemu sama dia? Kenapa gue bisa jatuh cinta banget sama dia? Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Andre memukul stir mobilnya, bahkan laju kecepatannya aja diatas normal atau diatas rata-rata.
Mengendarai mobil bagaikan orang kesetanan, tidak memperdulikan aturan lalu lintas. Beberapa kali tangannya menjambak rambutnya sendiri.
Dalam keadaan seperti ini Andre lebih memilih untuk datang ke diskotik. Ini memang masih sore, tetapi dirinya sudah tidak memperdulikannya. Andre memesan minuman alkohol dalam jumlah banyak, sudah bisa di pastikan dirinya akan kehilangan kesadaran dan mulai mabuk.
Kepalanya sudah terasa pening, lampu kerlap-kerlip dan hingar bingar musik dj sudah menguasai kepala Andre. Andre mulai mabuk berat, tetapi menurutnya ini malah terasa ringan.
Beberapa kali Andre mengajukan air matanya, lalu berjoget. Karena meminum alkohol dalam jumlah banyak, sekarang Andre sudah tidak bisa berdiri lagi, sekarang dirinya malah terkapar dengan dan membenamkan kepalanya diatas meja bar tersbeut.
Andre (POV)
Gue orangnya Playboy, suka berganti-ganti pasangan dan suka sembarangan mencium wanita. Gonta-ganti pasangan merupakan hal yang biasa menurut gue, selama ini gue belum pernah tuh merasa cinta kepada seseorang dengan sangat berlebihan. Dan gue juga tidak pernah menyangka akan jatuh cinta beneran.
Bermula dari meeting di sebuah restoran yang terdapat di salah mall terbesar di ibu kota. Gue benar-benar merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, seorang wanita yang cantik membawa dua anak. Apakah gue salah? Apakah gue tidak normal? Menurut gue ini hal wajar, tetapi bodohnya gue tidak mempertanyakan apakah wanita itu bersuami atau tidak.
Tidak ada kesempatan untuk mengobrol pada hari itu, wanita itu pergi menjauh membawa kedua bocahnya. Gue masih tetap penasaran siapa wanita tersbeut? Dia cantik, wanita yang gue ajak jalan juga sebenarnya tak kalah cantik. Tetapi memang really baru kali ini gue merasakan hati gue bergetar hebat dan jantung berdegup kencang ketika melihat wanita itu.
Di hari weekend gue pergi ke sebuah taman di kawasan perumahan xx, gue pergi ke taman itu karena menurut beberapa teman gue taman di kawasan perumahan tersebut itu selalu ramai. Sehingga gue memutuskan untuk jogging di taman tersebut.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Di taman itu gue Kemabli bertemu dengan wanita cantik itu. Gue langsung berpositif thinking, mungkin ini cara Tuhan kembali mempertemukan kami sebelum menyatukan kami.
Beberapa hari tidak bertemu, perempuan itu bodynya malah semakin bagus, terbentuk dengan sempurna. Apalagi sekarang pakaiannya yang lumayan dress cukup menampilakan seluruh lekuk tubuhnya. Kedua bocahnya juga tetap aja, tetapi kali ini tidak di gendong melainkan di stroller.
Gue mencoba mendekatinya dan berbincang-bincang, ternyata wanita itu sikapnya cukup dingin. Bodohnya gue malah mengiming-imingi materi, jelas dia menolak. Oke, gue rasa ini adalah kebodohan gue yang cukup fatal.
Rasa suka gue padanya semakin berkembang, gue selalu memikirkannya. Gue suka padanya, dan gue pun akan mencintai kedua anaknya. Walaupun sebenarnya gue nggak tahu apakah dia punya suami atau hanya seorang baby sitter? Gue nggak paham sama diri gue sendiri, tetapi semakin di pikirkan gue malah semakin suka dan sayang kepadanya.
Kebodohan gue yang paling gue rutuki adakah mencurahkan segala keluh kesah hati ini kepada rekan kerja gue yang baru saja menjalin kerjasama. Kebetulan dia juga rumahnya di sekitaran taman tersebut. Gue kan senang, merasa punya peluang untuk ketemu wanita tersebut. Gue ceritain semuanya, termasuk rasa cinta dan sayang gue padanya. Gue dengan gamblang, blak-blakkan dan tanpa sensor sedikitpun menceritakan semuanya, benar-benar detail dan tidak ada yang terlewat, termasuk bagian yang paling gila, berencana untuk merebutnya dari suaminya. Bunga-bunga asmara di hati gue sedang tumbuh subur dan sempurna.
Hingga pada akhirnya hari itu datang, hari dimana gue akan menginap di rumah Arka. Hari dimana gue sangat berharap akan bertemu kembali dengan wanita yang gue suka.
Hari gue gue menunggu di pertigaan komplek perumahan tersebut, karena gue nggak tahu rumah Arka tepatnya yang mana?
Tibalah gue di kediaman Arka, pelayan membukakan pintu dan memberitahukan bahwa istri Arka ketiduran di sofa. Langkah kaki gue mengikuti kemana langkah kaki Arka melangkah. Arka menghampiri istrinya dan mencumbu istrinya tepat di hadapan gue. Gue sih nggak peduli, toh mereka sudah menikah, sudah halal, yakalai mau gue lsrang. Saat itu gue hanya tersenyum saja menyaksikan sikap manja Arka, maklum kalau dalam urusan bisnis Arka ini cukup jutek.
"Kamu kenapa nggak bilang ada tamu sih? Jahil banget lagi cium-cium aku di depan tamu."
Deg.
Gue speechless, suara itu? Suara itu sangat tidak asing? Gue mengenali suara tersebut? Di saat gue masih terdiam memikirkan suara tersebut, pasangan suami istri itu malah sibuk berdebat, hingga pada akhirnya..
"Hallo, saya Kalista istrinya Arka."
Dia cantik, dia wanita yang gue maksud itu. Tangannya terulur, gue menjabat uluran tangannya dan menyempatkan melirik Arka. Gue tidak menyangka, wanita yang gue taksir itu merupakan istrinya rekan kerja gue. Takdir begitu kejam pada gue, gue di tertawakan oleh takdir. Gue nggak tahu apakah Arka tahu atau tidak mengenai wanita yang gue maksud, seandainya Arka tahu mungkin sekarang dia sedang mentertawakan gue. Ada sedikit rasa sesak di hati ini, ketika melihat bibir wanita berwarna kemerahan karena telah di cumbu oleh suaminya.
Malam itu dia cantik, cantik banget dengan piyama berwarna hitam dengan motif bunga kecil-kecil, warna hitam itu sangat cocok dan membuat kulitnya semakin mencolok berwarna putih bersih.
"Silahkan mandi terlebih dahulu, dan ini pakaian gantinya."
Dia sangat ramah, senyum manis tersungging di bibirnya. Sangat berbeda sekali dengan beberapa waktu lalu ketika gue ajak berkenalan di taman, jutek dan ketus. Satu hal lagi yang saat ini ada di pikiran gue, sepertinya Arka tidak tahu wanita yang gue maksud itu adakah istrinya. Kalau Arka tahu, seratus persen dia tidak akan mengizinkan istrinya menyiapkan pakaian ganti buat gue.
"Ingat saya kan? Ketemu di mall dan di taman. Beberapa waktu lalu kamu ada masalah sama Arka? Beberapa waktu lalu kamu di campakan olehnya? Dia memperlakukan kamu dengan tidak baik kan?" Gue terlalu to the point bertanya, gue sangat berambisi mendapatkannya. Bahkan gue kehilangan kontrol, bahwa ini di rumahnya, di rumah ini juga ada suaminya.
"Oh jadi ini toh pria yang melirik saya waktu di mall, dan mengajak saya berkenalan di taman. Dunia ternyata sempit ya, ternyata kamu rekan kerjanya suami saya. Wah suatu kebetulan ini namanya." Dia menjawab dengan intonasi yang biasa saja, bahkan di akhir kalimatnya dia membalikkan seutas senyuman.
"Waktu semakin larut pak, mendingan mandi dulu deh. Nanti kita makan malam bersama." Menepis tangan gue, dan langsung berlalu keluar begitu saja.
Di hadapan meja makan itulah hati gue merasa panas terbakar api cemburu. Mereka berdua berdua soal bau makanan, dan kemungkinan besarnya Kalista hamil lagi.
Parah! Parah banget sumpah, mereka berdua bercumbu tepat di hadapan gue. Arka begitu memanjakan Kalista, mungkin karena dia bahagia mempunyai istri cantik plus masih muda. Feeling gue mengatakan bahwa sebenarnya Arka sudah tahu wanita yang gue suka itu adalah istrinya.
Selama gue berada di rumah itu, mereka berdua sibuk pamer kemesraan. Bahkan mereka juga blak-blakkan mau tidur bareng. Tapi hati gue semakin sakit mendengar hal itu, maka dari itu gue menghabiskan semalaman untuk bermain game, dengan tujuan Arka nggak tidur sama bininya.
Pagi-pagi sekali suara nyaring milik Kalista itu sudah terdengar, sedikit menggerutu sambil membangunkan Arka. Dan di situ gue kembali terpesona dengan penampilannya, tetapi terpesonanya gue nggak bisa bertahan lama, karena ternyata baju mereka couple.
Lagi-lagi di meja makan bukan hanya untuk makanan atau sarapan, mereka kembali berdiskusi. Kali ini gue mendengar kata pacaran. What? Gue bingung loh sumpah, udag nikah tapi masih pacaran?
Sialan banget nih si Arka, pake segala ngomongin honey moon. Ini niatnya apaan sih? Mau manas-manasin gue? Belum tahu lu, nanti gue rebut bini lu!
Drama pun kembali di mulai, Arka tiba-tiba pergi meninggalkan Kalista beserta kedua anaknya, melupakan janjinya begitu saja. Setan memaksa gue untuk menghasut Kalista, setan masih setia membisikan beberapa kata agar gue mengambil alih hati Kalista.
Tetapi semuanya hanya drama atau mungkin akal-akalan Arka saja. Ujung-ujungnya mereka tetap menampilkan ke-uwuan mereka terus.
Gue? Cuma jadi jomblo ngenes yang emang benar-benar ngenes, di suguhkan pemandangan romantis, dan gue sama sekali tidak bisa menyentuh wanita cantik itu. Gue nggak tahu kedepannya bakalan seperti apa? Intinya kalau semesta mengizinkan aku ingin merebutnya dan membahagiakannya.
Beberapa hari sudah berlalu, sekarang gue menyempatkan untuk dikunjungi ke kantornya Arka. Gue juga sudah berusaha untuk melupakan Kalista, karena gue tahu rasa yang gue miliki itu salah.
Tetapi tetap saja gue masih tidak terima melihat keromantisan mereka, hari ini gue kembali terpesona dari awalnya dress hingga kaos polos berwarna kuning. Sebuah warna yang sangat cocok sekali dengan dirinya dan menyatu di kulitnya.
Gue merasa gila, iya gue merasa gila karena terobsesi pada istri orang lain. Gue tahu ini salah, tapi gue sulit untuk menghentikannya.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤