
Pagi ini mentari bersinar dengan cerahnya.. Hmm.. maksudku mentari yang di langit. awan-awan putih terlihat terbang rendah. suasana ruangan kerja Lantana terlihat sangat tenang. hanya terdengar bunyi keyboar yang di tekan-tekan, bunyi pendingin ruangan juga bunyi mesin printer.
Lantana sendang asik mencatat laporan yang diberikan atasannya untuk di ketik ulang dan di perbaiki. Lantana sih tidak mau pusing, dia tinggal scan laporan yang ada lalu edit deh. jadi pekerjaannya bisa cepat selesai.
Tak lama kemudian, pintu ruangan CEO terbuka. Seketika aura horror menyeruak ke seluruh ruangan. Suasana berubah jadi tegang, kecuali Lantana yang masih asik dengan tugasnya.
"Siapa di sini yang sedang senggang??" Tiba-tiba suara seorang yang begitu menggelegar terdengar dari arah pintu CEO
seketika semua staff di ruangan itu menjawab "Lantana, tuan..!" kompak serentak.
Lantana yang merasa namanya di panggil langsung berdiri tegak dari duduknya sembari helagapan. "iya.. iya.. saya..!! ada apa??" Lantana mengacungkan tangannya
"kamu bisa merapikan bunga?" tanya bosnya langsung
"bi.. bisa tuan.." jawab Lantana tergagap
"ke ruangan saya sekarang..!" CEO itu langsung berbalik arah ke ruangannya kembali.
"ta.. tapi tuan,, i.. ini.." Lantana menunjuk layar komputernya.
"udah sini, ini saya yang ngerjain." Arini langsung duduk di kursi Lantana.
"Sudah sana.. samperin Tuan esnya.." serentak teman-teman Lantana mendorongnya ke arah ruangan CEO
mau tak mau lantana masuk ke dalam ruangan.
"apa yang harus saya kerjakan, tuan?" tanya Ana setelah berada tepat di depan meja bossnya
"rapikan semua bunga yang ada di ruangan ini.. potong cabangnya yang sudah panjang, lalu buang tangkai yang sudah layu.." perintahnya
"hmmm.. alat-alatnya ada di mana, tuan??" tanya Ana polos
Tuan es menatap gadis muda di depannya. dia heran, apa ini beneran karyawannya?? secara dari penampilan sangat sangat sangat seperti anak kecil. memang sih,di kantor ini tidak ada seragam formal yang diwajibkan bagi karyawannya. sosok gadis di depannya saat ini memakai kemeja putih longgar dengan setengah lengan, celana jeans panjang, rambut coklat tua ikal dengan kepang ke samping dan hiasan jepit rambut bunga matahari. dilihat pula anting-antingnya berbentuk bunga matahari kecil dan gelang juga cincin berbentuk bunga matahari. Tuan Es mengangkat satu alisnya.
"tuan??" Ana melambaikan tangannya di depan wajah bossnya.
__ADS_1
"ohh.. uhuk.. ehkemm.. alat-alatnya ada di lemari pojok sana.. kalo sudah selesai motongin, lanjutkan dengan memberi pupuk dan jangan lupa menyiramnya" perintahnya yang langsung dijawab dengan anggukkan oleh Ana 'kenapa aku jadi malah bengong memperhatikan penampilan dia??' batin tuan es.
Lantana mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dilihatnya ruangan itu penuh dengan bunga mawar merah semu kehitaman. "kenapa warna bunganya serem banget?? gak ada cerah-cerahnya.. ini mah jadi kayak ruangan horor bukan ruangan CEO. eh kan emang CEO kita horor.." Lantana menggereutu melihat-lihat bunga mawar itu.
Tuan es yang mendengar gumaman Lantana langsung menoleh ke arahnya "apa yang sedang kamu bicarakan??" tanyanya
"eh.. tidak ada, tuan. bunganya cantik.." jawab Lantana dengan senyumnya
"ya.. saya tau.. cepat laksanakan tugasmu.." Tuan es kembali memeriksa berkas di hadapannya.
"baik, tuan.." jawab Lantana mengangguk
Lantana mulai mengeluarkan gunting tanaman dari lemari penyimpanan. ia sampai terkesima, karena di dalam ruangan CEO yang super creepy ini tersimpan peralatan merawat bunga dengan sangat komplit dan rapi. "kenapa gak beli lahan aja si sekalian? tanam bunga yang banyak, bukan malah nanem di dalam ruangan kayak gini.." gumam Lantana lagi.
Tuan es memperhatikan gerak gerik Lantana yang aktif bergerak dengan ceria sembari memeriksa dan merapihkan bunga-bunga kesayangannya. terlihat kaki mungilnya berlari ke sana ke mari memotong bunga dan membuangnya ke tong sampah. mungkin dia kerepotan jika harus bulak balik seperti itu, ahirnya lantana mengambil kantong plastik untuk membuang daun, ranting dan juga batang yang sudah layu.
suasana menjadi hening dan tenang, hanya terderngar bunyi gunting tanaman dan langkah kecil dari Lantana. sesekali Tuan es melihat Lantana mengusap jidatnya yang berkeringat.
"hei.. siapa namamu??" tanya tuan es memecah kesunyian.
"emm??!! nama saya Lantana, tuan. tapi teman-teman saya memanggil saya Ana.." jawab Ana santai.
"Lantana adalah bunga kecil yang ceria.. ya seperti saya ini.. kecil tapi selalu ceria.." Ana tidak mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya
"apa kamu suka bunga lantana??" nanya lagi itu bosnya
"suka, saya suka semua bunga.. karena mereka cantik semua.." jawab Lantana lagi
"apa kamu punya bunga kesukaan??" banyak nanya juga ini bos
"ada, kalo menurut saya,, semua bunga itu cantik.. dan semua bunga itu punya karakternya masing-masing. psykolog pernah mengatakan, bunga kesukaan bisa menunjukkan kepribadian seseorang yang menyukainya. saya suka banyak bunga, karena mereka punya karakter masing-masing. yang kalo digabungkan bisa menjadi sebuah instrumen yang sangat indah. sama seperti manusia, kalo mereka disatukan dengan beberapa orang yang punya karakter sama, pasti akan sangat membosankan walau mungkin kadang terlihat unik. tapi kalo digabungkan dengan beberapa karakter, maka lingkungan itu akan terlihat lebih hidup.." tutur lantana
Tuan es termenung mendengar kata-kata dari Lantana. memang benar, dia menykai bunga mawar karena bunga itu menggambarkan seorang yang pernah ia sayangi dalam hidupnya. seorang perempuan anggun dan elegan, wajahnya akan menjadi sangat cantik ketika ia tertawa setelah menerima bunga mawar merah darinya. ingatannya menerawang jauh ke beberapa tahun ke belangang mengenang masa masa indah bersama orang tersayangnya, sampai lamunannya buyar, ketika alunan merdu dari Lantana menerobos masuk kedalam telinga tuan es.
Lagi-lagi ia terhipnotis oleh tingkah gadis di hadapannya. gadis itu bersenandung sembari merapikan bunga yang sudah agak besar pohonnya. sesekali Ana bebicara dengan pohon mawar itu.
__ADS_1
"kamu cantik, tapi kamu serem.. warnamu mengerikan, pohonmu apalagi.." Ana terus memotng tangkai pohon itu dengan hati-hati.
Tuan es yang memperhatikan itu tanpa ia sadari mengembangkan senyumnya, senyum tulus yang telah lama hilang dari wajahnya. seandainya Ana melihat senyum itu, dijamain ana bakalan klepek-klepek. secara ana selalu mengagumi orang-orang tampan.
Hari berubah dari pagi perlahan menjadi sore. setelah makan siang, Ana diperintahkan untuk melanjutkan membereskan bunga di ruangan bosnya. entah mengapa, tuan es merasa betah jika Ana yang berada di ruangannya. mungkin itu dikarenakan Ana yang ceria dan tidak pasang wajah waspada seperti karyawan yang lain.
Biasanya, jika tuan es menyuruh karyawan lain yang membereskan bunganya, mereka akan diam tanpa kata. dengan gerakan yang canggung seperti tikus yang menghindari pengawasan kucing. berbeda dengan Ana, dia tidak menampakan raut takut atau waspada sedikitpun di wajahnya. malah ia berani bersenandung atau malah bernyanyi di ruangan itu, padahal kalau orang lain sudah dapat dipastikan bernafas aja curi-curi kesempatan.
setelah beberapa lama kemudian, akhirnya tugas Ana tinggal satu pohon bunga mawar yang paling besar di ruangan ini. pot bunga yang ini diletakan di dekat jendela kaca yang sangat tinggi di sebelah timur. sehingga, ia akan mendapat sinar matahari langsung setiap pagi. Kupu-kupu terlihat berterbangan melalui jendela yang di buka. Ana melongok keluar jendela memastikan ketinggian ruangan yang sedang ia pijak.
tidak terlalu tinggi, hanya 4 lantai dari bawah. pantas saja kupu-kupu ada yang sampai ke sini.
Ana sudah mulai curiga dengan pohon mawar ini. selain besar, barusan bunga ini dihampiri oleh kupu-kupu. Ana memberanikan diri memotong ranting-ranting mawar yang sudah memanjang. baru setengah perkerjaan, tiba-tiba sesuatu jatuh ke tangan kanannya yang tidak tertutup baju.
Binatang lunak seukuran jempol kaki yang panjangnya kira-kira 5 cm menempel erat pada tangan kanan Ana. Bulunya yang lebat beragerak-gerak dengan lembut. Ana yang melihat itu sontak saja menjerit sekencang-kencangnya sembari mengibaskan tangannya kuat kuat hingga gunting tanaman di tangannya terlempar entah kemana. sayangnya, makhluk itu tetap nempel di tangan Ana membuat ana semakin menjerit histeris dan berlari mundur sampai terjatuh.
Para karyawan yang berada di ruangan Administrasi langsung berkumpul di depan pintu ruangan CEO penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam.
Tuan es yang kaget dengan jeritan Ana pertama kali langsung berlari mendekati Ana. dilihatnya tangan Ana, di sana terdapat ulat bulu yang sangat montok menempel di tangan Ana. Ana terus mengibaskan tangannya hingga ulat bulu itu telempar jauh entah kamana. Ana tidak sadar jika ternyata ulat bulu itu sudah tidak ditangannya. dia terus menjerit dan meronta, hingga akhirnya tuan es memeluknya.
"sudah.. sudah.. binatangnya sudah tidak ada.." tuan es mendekap Ana yang sudah menagis histeris seraya menjauhkan tangan kanannya.
"enggaaaa... pengen dibuang tangannyaaa...." Ana histeris di pelukan tuan es. tuan es yang melihat aksi Ana tak kuasa menahan tawa. hingga tawanya lolos dari penjagaannya.
"masa tangannya mau di buang..?? ulatnya sudah gak ada kok.. tuh lihat..!" tuan es meraih tangan Ana.
"Gak mauuu..... mau di buang tangannyaaaa... gak mau pake tangan ini lagi.. buaaaangg...!!!!" Ana semakin menjauhkan tangannya dan semakin histeris. sontak hal itu membuat tuan es tertawa lepas.
Tbc
***
**udah 1400 kata loh ya.. udah banyak kan??
nah loh gimana jadinya kalo tangan Ana di buang?? 😅😅
__ADS_1
phobia itu ada loh..! jadi maafkan kelakuan Ana ya.. 😄 semoga terhibur.. nantikan kelanjutan episodenya..
babay.. 🙋**