SUN FLOWER

SUN FLOWER
KENAPA TUHAN BEGITU TIDAK ADIL?


__ADS_3

Kalista masih bergelut dengan pekerjaannya, sepuluh menit lagi jam kantor selesai. Arka diam-diam memperhatikan Kalista, tetapi Kalista sama sekali enggan untuk melirik Arka.


Drrrrrt drrrt, tiba-tiba ponsel Kalista bergetar.


"Hallo." Kalista mengangkat panggilan telepon tanpa melihat nama yang memanggilnya itu.


"Ketemu di cafe anggrek ya! Jam 5 sore ini." Kata orang diseberang telpon itu.


"Hah ngapain?" Terdengar dari suaranya orang yang menelpon itu adalah dokter Rian, karena Kalista sudah sangat familiar sekali dengan suara dokter Rian.


"Ada yang harus di omongin! Cukup penting." Suara dokter Rian terdengar pasrah dan lirih, seperti sedang mengalami suatu masalah.


"Tapi maaf, nggak bisa jemput." Kali ini ucapan dokter Rian cukup datar dan dingin, tiba-tiba ada rasa sedih menyusup kedalam hati Kalista.


"Iya nggak apa-apa, aku bisa kesana sendiri. Setelah pulang ngantor aku langsung otw." Setelah selesai Kalista berbicara, dokter Rian langsung memutuskan sambungan telpon.


Kalista memandang layar ponselnya, dengan mimik wajah yang was-was dan cemas, karena dokter Rian tidak seperti biasanya. Kemudian Kalista mendesah pasrah.


Arka yang duduk tepat di depan meja Kalista, matanya sibuk memperhatikan Kalista dan mendengarkan semua percakapan Kalista ditelpon. Dahinya berkerut ketika melihat ekspresi sedih Kalista.


"Buru-buru banget?" Asisten Andy memperhatikan Kalista yang sibuk merapihkan meja kerjanya.


"Iya." Kalista tersenyum simpul menatap Andy sekilas.

__ADS_1


"Mau kemana?" Andy penasaran, sebenarnya itu di suruh oleh Arka.


"Urusan pribadi! Harus tahu kah?" Ujar Kalista masih dengan senyum simpulnya. Andy pun tidak membuka mulutnya, ia hanya menanggapi nya dengan tersenyum.


*****


Setelah jam kantor selesai, Kalista terburu-buru memanggil taksi menuju cafe anggrek. Kalista merasakan ada sesuatu hal yang tidak biasanya, dihatinya semacam ada perasaan mengganjal, ada perasaan takut juga akan perubahan nada bicara dokter Rian yang tiba-tiba dingin.


Kalista sampai di cafe anggrek, celingak-celinguk mencari keberadaan dokter Rian. Mata Kalista menangkap sosok dokter Rian disampingnya ada wanita cantik.


"Pak dokter." Sapa Kalista ramah, tak lupa senyum manisnya ia tampilkan. Dokter Rian tidak membalas sapaan Kalista, bahkan tatapannya juga datar, malah terkesan jutek.


Wanita yang di sampingnya langsung menatap Kalista dari ujung kaki sampai ujung kepala, mimik wajahnya berubah masam dan sinis.


"Kenalin, ini Fani calon istriku." Kalista terperangah, karena ia tahu selama ini dokter Rian tidak dekat dengan wanita manapun selain dirinya, makanya dia kaget mendengar kata 'calon istriku'.


"Gue Fani, dokter spesialis kandungan!" Ada nada sombong dibalik ucapannya itu.


"Gue tugas satu rs sama Rian. Gue sama Rian di jodohin, dan udah tunangan seminggu yang lalu."


"Tidak ada cinta diantara kita berdua, perjodohan ini pun diatur oleh orang tua kita."


"Tapi lu harus ingat ya Kalista, dokter Rian itu calon suami gue! Dan calon suami gue itu nggak boleh dekat sama cewe lain!" Tatapannya nyeleneh dan sinis, seperti sedang meremehkan Kalista.

__ADS_1


"Gue dengan lapang dada, udah bisa nerima kehadiran dokter Rian walaupun sedikit sulit. Tapi.. gimana gue bisa cinta sama dokter Rian kalau lu dekat-dekat terus! Gue nggak suka suami gue nantinya dekat sama lu, apalagi ngurusin kehidupan lu! Pasti bakalan rumit." Fani berbicara blak-blakkan, dokter Rian malah diam saja.


"Aku tuh sama sekali nggak ada perasaan apa-apa sama dokter Rian, aku anggap dokter Rian itu Abang aku. Nggak usah cemburu ya ka Fani." Kalista tersenyum simpul, Fani malah berdecak sinis.


"Pokonya lu jauhin dokter Rian!" Perintah Fani! Kalista melirik dokter Rian, dia malah asyik makan tanpa menghiraukan tatapannya.


"Baiklah, aku cukup tahu diri ko. Keberadaan aku ternyata mengganggu kalian berdua, maaf selama ini aku ngerepotin dokter Rian."


"Oiya satu hal ya, walaupun kalian bersatu karena perjodohan, walaupun tidak ada cinta di hati kalian masing-masing, tapi seiring berjalannya waktu cinta itu pasti hadir. Pilihan orang tua kalian pasti terbaik! Jangan menypelekan pernikahan, pernikahan itu sakral. Pernikahan itu hubungan jangka panjang, saling menjaga dan saling mencintai ya." Ucap Kalista tulus.


"Cih bocah sosoan nasehatin!" Fani mencibir Kalista, tatapannya sinis.


"Aku pamit ya." Kalista langsung pergi dari kafe itu, air matanya terus menerus mengalir.


Hatinya terasa perih, sakit sekali. Pertama, Arka yang memberikan segala perhatiannya, giliran Kalista sudah membuka hati munculah teman kencannya.


Sekarang dokter Rian pun harus menjauh, padahal dokter Rian adalah orang yang paling dekat dengan Kalista, bahkan sudah dianggap Abang.


"Kenapa? Kenapa tuhan begitu tidak adil? Hidupku selama 5 tahun belakangan ini menderita sekali, akankah Tuhan berkenan mengulurkan tangannya untuk merangkulku? Apakah selanjutnya tuhan pun akan mengambil ibu kost? Kalau sampai itu terjadi, kamu bukan tuhan ku lagi!" Kalista terus saja berbicara sambil berjalan, kakinya melangkah entah kemana? Pikirannya sedang kacau, air mata tidak henti-hentinya mengalir.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2