SUN FLOWER

SUN FLOWER
PERTEMUAN ANDRE DENGAN KALISTA


__ADS_3

"Kak, ini gimana sih? Nggak sinkron atau emang akunya kurang teliti." Gina membawa beberapa berkas ke hadapan Andy yang memang lagi sibuk dengan laptop di hadapannya.


"Apaan?" Tanya Andy cuek, manik matanya sama sekali tidak teralihkan dari laptop itu.


"Ini." Gina langsung saja memperlihatkan berkas tersebut tepat di hadapan kepala Andy.


"Ya ampun Gina, lu kan tau gue lagi fokus kerja." Dengus Andy dengan kesal, Andy langsung merampas berkas tersebut.


"Fokus kerja itu emang bagus, tapi kalau ada orang di sebelah lagi ngomong tuh di hargai, minimal alihkan dulu pandangan dfj laptop." Gina malah mencibir Andy.


Andy tidak lagi berbicara, Andy sangat paham sekali berdebat dengan makhluk yang bernama wanita tidak akan selesai dalam waktu satu jam. Andy lebih memilih fokus pada berkas itu.


"Lu kurang teliti Gina, periksa lagi deh! Kalau kerja yang fokus dong, nggak usah mikirin jodoh." Cibir Andy pada Gina, Andy sangat suka meledek Gina.


"Apaan sih? Nggak jelas banget." Gina langsung mengambil paksa berkas tersebut.


"Dua puluh lima tahun tuh udah cukup banget buat menikah, kalau dua puluh enam keatas kayanya ketuaan deh. Gina, mendingan biang deh ke pacarnya yang tajir melintir itu, untuk segera melamar. Nggak mau kan jadi perawan tua." Entah mengapa Andy tiba-tiba mencibir Gina dengan kata-kata itu.


"Masalahnya untuk bapak Andy apa ya? Ini kan kehidupan pribadi saya, kenapa pak Andy repot-repot mengurusinya? Bapak kurang kerjaan ya?" Gina mulai tersulut emosi.


"Gue cuma ngingetin aja gin, ngapain marah-marah sih? Pms ya? Kalista udah beranak dua, Risa sudah menikah, Tiara sudah di lamar, Gina apa kabar?" Andy semakin memojokan Gina dengan pertanyaannya itu.


"Jangan kaget kalau nanti gue tiba-tiba nyebar undangan. Btw, pak Andy kapan menikah? Pak Arka sudah beranak dua, Riko sudah menikah, Evan sudah melamar kekasih hatinya. Hati-hati loh kalau menjelang kepala tiga nanti wanita juga pada nggak mau, udah bau-bau rambut beruban." Sinis Gina dengan senyum menyeringai, kali ini Gina merasa menang karena telah menyindir Andy.


"Jangan kaget ya kalau nanti gue sebar undangan, satu Minggu lagi rencananya gue mau ke rumah Karin. Mau bertemu dengan orangtuanya, sekaligus punya niat baik untuk mempersuntingnya anaknya." Andy tersenyum manis setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya.


"Gue ngga akan kaget! Gue juga nggak pusing urusan jodoh tuh, karena gue paham seratus persen urusan jodoh itu rahasia sang pencipta." Setelah terdiam beberapa saat ketika mendengar penjelasan dari Andy, akhirnya Gina memilih untuk mengucapkan kalimat itu.


Gina langsung beranjak keluar dari ruangan tersebut, membawa berkas tadi dengan perasaan geram. Ada kesal, marah, emosi, dan sedih juga tentunya.


Andy masih menatap punggung itu dengan senyum yang sulit untuk diartikan, hari ini Andy sudah puas meledek Gina. Melihat wajah Gina yang kusut aja Andy suka banget.


"Woy, si Gina diapain? Keluar dari ruangan ini mukanya di tekuk, suram banget kaya wanita belum beli skincare." Ujar Arka yang baru saja datang.


"Dia cemburu bro, soalnya gue mau mempersunting Karin." Andy langsung tertawa terbahak-bahak.


"Ya ampun, mau sampai kapan?" Tanya Arka sambil menatap Andy dengan penuh perhitungan.


"Sampai tiba di waktu yang tepat." Andy langsung cengir kuda.


"Btw, kenapa baru datang? Kesiangan lu?" Tanya Andy pada Arka.


"Bukan urusan lu! Mau gue datang pagi, datang siang, datang sore, atau datang malam sekalipun bukan urusan lu! Ini kan kantor gue, perusahaan gue, bukan urusan lu!" Jawab Arka dengan nada tengil ciri khas dirinya.


"Sombongnya amit-amit, segitu nanya doang. Padahal ya nanya itu sama dengan perduli. Kok bisa ya Kalista jatuh cinta pada CEO modelan gini?" Cibir Andy.


"Iya sih gus juga bingung kenapa Kalista bisa jatuh cinta sama gue ya? Padahal gue ini nggak ganteng, badan biasa aja, style juga rendah, gue nggak punya apa-apa, padahal..,"


"Gila merendah untuk meroket! Udah deh kerja aja, ngapain ngobrol sih?" Celetuk Andy yang akan fokus kembali dengan laptopnya.


Baik Arka maupun Andy kini mulai kembali pada rutinitasnya, bergelut dengan sekumpulan berkas dan dokumen. Keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya.


Tepat di luar ruangan ini ada Gina yang kerjanya tidak bisa fokus, ucapan Andy yang akan mempersunting wanita bernama Karin terngiang-ngiang di telinga Gina. Gina merasa hancur dengan kabar tersebut, walau bagaimanapun sampai sekarang juga Gina masih berharap pada Andy. Sama sekali tidak terpikirkan oleh Gina bahwa Andy akan menikah dengan wanita selain dirinya.


Beberapa kali Gina memukul meja, tetapi tidak terlalu keras. Gina tiba-tiba merasa dehidrasi sehingga dirinya terus menerus meneguk air mineral. Susah payah Gina mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya menyala karena terdapat satu notif. Dan wallpaper ponselnya adalah foto dirinya bersama dengan Andy ketika masa-masa menjalin kasih.


"Hallo, permisi." Tanyanya dengan ramah. Tetapi Gina sama sekali tidak menghiraukannya, Gina masih sibuk menutup telinganya dan memejamkan matanya.


"Hallo, permisi. Mbak sakit?" Tanyanya lagi, kali ini suaranya agak sedikit keras, barangkali Gina tidak mendengarnya.


"Ah iya apa?" Gina gelagapan karena di depannya ada seorang pria berpakaian rapi.


"Maaf saya sedikit pusing, ada yang bisa saya bantu." Kali ini suara Gina sudah normal, dan Gina pun mencoba untuk bersikap ramah bagaimana selayaknya seorang sekretaris.


"Saran saya, kalau mbaknya pusing mendingan istirahat saja atau mungkin cuti dulu sehari." Ujarnya.


"Ah ini pusingnya mendadak, dan sekarang sudah sembuh. Maaf, bapak nyari siapa?" Tanya Gina lagi.


"Bapak Arka ada? Saya ingin bertemu dengan beliau."


"Apakah sebelumnya sudah ada janji?" Gina malah berbalik tanya.


"Belum."


"Baiklah, tunggu sebentar buat saya hubungi terlebih dahulu."


Gina langsung menekan beberapa digit angka, menempelkan gagang telepon pada telinganya.


"Hallo."


"Ya?" Ujarnya singkat di sebrang telepon.


"Ada yang ingin bertemu dengan bapak, tetapi sebelumnya belum membuat jadwal."


"Siapa namanya?" Tanya Arka.


Kali ini Gina merutuki kebodohannya, Gina lupa menanyakan nama pria tersebut. Gina menjauhkan gagang teleponnya, mencoba menutupnya dengan tangannya.


"Nama bapak siapa?" Tanya Gina pelan, sebisa mungkin Gina tidak mengeluarkan suara. Sebelumnya bapak Andre ini menjalin kerja sama dengan perusahaan Anggara, hanya saja Gina lupa siapa namanya?


"Andre." Jawabnya sama pelannya seperti Gina, Andre mengerti sikap kurang teliti yang Gina lakukan.


"Bapak Andre."


"Suruh masuk ke ruangan saya. Tolong kamu bikinkan kopi 3 ya." Sambungan telepon pun langsung di tutup.


"Bapak di persilahkan masuk ke ruangan bapak Arka." Ujar Gina memberitahukan perintah Arka.


Tentunya bukan cuma Andre saja yang masuk ke ruangan Arka, Gina juga ikut masuk ke ruangan itu karena di suruh membuatkan kopi, Gina terbiasa membuatkan kopi di pantry yang terdapat di ruangan itu.

__ADS_1


"Waduh, suatu kehormatan besar nih pak Andre datang bertamu." Arka berdiri dari kursinya, menyambut kedatangan Andre dan mempersilahkannya duduk.


"Apanya sih lu bro, malah gue nggak enak nih bertamu di jam kerja." Manik mata Andre menangkap sekumpulan berkas yang berada di atas meja kerja Arka.


Gina masuk ke pantry, membuatkan kopi sachet'an. Gina tidak pandai meracik kopi, lagi pula Gina sudah yakin banget kopi racikannya tidak akan di sukai oleh CEOnya. Tidak butuh waktu lama untuk membuatkan kopi, Gina sudah menaruh tiga cangkir kopi tersebut diatas meja di dekat sofa. Lalu Gina kembali lagi mengerjakan tugasnya.


"Nemu dimana tuh asisten pribadi modelan kaya gitu? Tekun dan ulet banget kerjanya." Andre menatap Andy yang masih tidak bergeming dalam duduknya, Andy sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari laptop, jari-jarinya sibuk menari diatas keyboard.


"Itu asisten pribadi sekaligus sahabat gue sih. Dia tuh orangnya emang gitu, rajin, tekun, ulet, pekerja keras." Arka mencoba mendeskripsikan tentang Andy.


Andy yang merasa dirinya sedang di bicarakan, langsung saja menghentikan sejenak aktifitasnya. "Hallo bapak Andre, selamat datang di ruangan CEO perusahaan Anggara." Mencoba menyapa untuk sekedar formalitas saja. Andy tidak begitu suka dengan pribadinya Andre ini.


"Hallo." Andre menyapa balik dengan kalimat singkat, karena Andre sadar bahwa Andy sedang sibuk.


"Sorry banget bro, gue nggak enak banget gangguin jam kerja loh. Sebenarnya gue nggak lama sih, gue mau mampir dan menginap dikediaman lu." Ucap Andre.


"Nginep di rumah gue? Boleh, tapi nanti sore ada lembur, jadi agak telat gitu sih. Mungkin mepet ke magrib atau agak makanan." Jawab Arka.


"Nggak masalah, nanti gue chat lu deh. Atau mungkin nanti gue nunggu di pertigaan." Andre menyesal secangkir kopi, meneguknya sedikit.


Lalu Arka dan Andre pun terlibat dalam sebuah obrolan ringan, sesekali keduanya sama-sama menyesap kopi yang di sajikan. Setelah beberapa menit berlalu, Andre pun pamit dengan alasan lada kerjaan mendadak.


Selepas kepergian Andre, Andy langsung menghentikan aktifitasnya. Menghampiri Arka dan mendaratkan bokongnya di sofa mpuk di sebelah Arka.


"Lu beg*k atau gimana sih?" Andy menatap Arka dengan tatapan menusuk dan mematikan.


"Maksud lu?" Arka pun berbalik tanya.


"Dia itu Andre, seorang pria yang mencintai istri lu. Seorang pria yang terang-terangan mencintai istri lu dan berniat akan menyayangi kedua anak lu juga. Lu bolehin dia nginep di rumah lu tuh maksudnya apaan? Heran deh gue, nanti yang ada dia macam-macam sama istri lu. Gue aja sampai ngeri membayangkannya." Andy menoyor pelan kepala Arka.


"Gue tahu! Gue juga ingat bangat malahan. Jadi begini, gue bolehin nginep di rumah, karena gue mau memberikan surprise sama dia. Malam ini dia harus tahu, kalau wanita yang dia taksir itu adalah istri gue. Nggak usah khawatir bro, cctv rumah gue on semua. Justeru karena dia bakalan nginep di rumah gue, gue bakalan sering-sering berdekatan dengan Kalista. Gue juga mau menunjukan berbagai momen mesra nan romantis di hadapannya." Arka menjelaskan panjang lebar tentang maksud dan tujuannya.


"Yasudah, tapi tetap harus hati-hati. Orang lagi jatuh cinta kan suka nekat, belum tahu juga kan apa yang akan dia lakukan ketika mengetahui bahwa Kalista itu adalah bini lu." Andy makan tetap menasehati Arka untuk berhati-hati.


"Siap86, pokoknya gue nggak bakalan ngasih celah sedikitpun." Arka mengepalkan tangannya, senyum sinis terpancar dari wajahnya.


*****


Hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan untuk Kalista, kedua bocahnya begitu aktif dan lumayan rewel. Sehingga dirinya begitu kewalahan, berlari kesana kemari mengejar bola yang di jatuhkan oleh Nathan.


Kalista merasa punggungnya sakit, bahunya juga pegal banget. Setelah selesai menyuapi dan menyusui, akhirnya Nathan dan Nayla pun tertidur dengan tenang. Kalista begitu lega melihat kedua malaikat kecil itu tertidur dengan nyaman, itu artinya waktu istirahat untuk Kalista sudah tiba.


Waktu menunjukan pukul 19:15 WIB, namun Arka tak kunjung menampakan batang hidungnya. Tadi sih bilangnya lembur, tapi Kalista nggak tahu kalau Arka lembutnya sampai malam. Kalista merebahkan tubuhnya yang terasa kaku diatas sofa, mencoba membunuh waktu dengan membaca novel. Namun ternyata manik matanya itu juga terlihat lelah dan lemah, lambat laun Kalista pun tertidur dengan posisi telentang di atas sofa.


Dua puluh lima menit telah berlatih, di luar sana terdengar suara klakson mobil. Bibi pelayan langsung berjalan dengan tergesa-gesa, karena sudah sangat hafal dengan suara deru mobil sekaligus klaksonnya. Itu artinya tuannya sudah pulang.


Ting Tong.


Arka memencet bel, pelayan langsung membukakan pintu.


"Selamat datang tuan." Sapa pelayan dengan seramah mungkin, di samping Arka itu berdiri seorang pria asing.


Arka terdiam sejenak, padahal dari perjalanan tadi Arka sangat berharap Kalista lah yang membuka pintu. Ekspektasi Arka, Kalista membuka pintu dengan hanya memakai piyama lengan pendek dan celana pendek seperti biasanya, rambut pendeknya itu tergerai indah, dan langsung memeluk dan mencium dirinya seperti hari-hari biasanya. Karena kalau Arka lembur, Kalista selalu menunggu kepulangannya.


"Nyonya ketiduran di sofa ruangan tamu, nyonya dari tadi menunggu kepulangan tua. Sebenarnya saya mau membangunkannya dan menyuruhnya untuk tidur di kamar saja, tapi sayang tidak tega melihat tidurnya yang nyenyak itu. Lagipula Nathan dan Nayla hari ini sungguh sangat aktif, sehingga nyonya kewalahan mengasuhnya." Pelayan itu begitu rinci menceritakan tentang Kalista dan tentang hari ini.


"Oh oke." Jawab Arka singkat.


Arka langsung saja mempersilahkan Andre untuk masuk ke rumahnya. Arka berjalan menuju ruang tamu diikuti oleh langkah Andre di belakangnya.


Arka tersenyum melihat Kalista yang sedang tertidur, telentang dengan sebuah tangan menutup dahinya. Wajahnya itu terlalu bersinar dibawah sinar lampu yang menyala.


Tiba-tiba Arka ingin membuat sebuah pertunjukan yang akan di saksikan secara langsung oleh Andre. Arka segera berjongkok dan mengendus-endus pipi Kalista, mencubitnya pelan, lalu menjilat bibirnya sekilas. Kalista hanya menggeliat pelan, sama sekali tidak membuka kelopak matanya. Arka malah semakin ingin menjahili istrinya tercinta, Arka memasukan lidahnya kedalam bibir mungil itu. Sontak saja Kalista langsung meresponnya, bahkan Kalista juga melingkarkan tangannya di leher Arka sehingga kepala Arka tertarik sempurna untuk berada tepat diatas wajahnya.


Andre?


Berdiam mematung melihat Arka sedang mencumbu istri tercinta. Andre tidak bisa melihat dengan jelas wajah dari istrinya Arka, karena wajah itu terhalangi oleh Arka.


Cumbuan itu berlangsung kurang lebih tiga menit, karena Kalista mulai kehabisan pasokan oksigen, akhirnya cumbuan itu terlepas begitu saja. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, Kalista mencoba untuk bangun dari telentang hingga terduduk.


"Ada tamu loh." Ujar Arka.


Mendengar kata tamu, Kalista langsung tersadar. Berarti barusan cumbuan dirinya dengan Arka di saksikan oleh tamu tersebut. Kalista langsung merapihkan rambutnya, dan mengancingkan kemeja atasnya yang terbuka enatah kapan itu.


"Kamu kenapa nggak bilang ada tamu sih? Jahil banget lagi cium-ciumin aku di depan tamu." Kalista merasa malu, dan menenggelamkan wajahnya di dada Arka.


Andre terdiam sejenak, suaranya itu begitu lembut dan sepertinya dia mengenali suara itu. Tetapi diaman


"Kenapa? Malu? Ngapain malu, kita mah udah halal sayang." Arka mencoba menenangkan Kalista, mengusap lembut rambutnya.


"Udah tidak usah malu, kalian kan pasangan suami istri yang tercatat di KUA. Saya bisa memakluminya." Ujar Andre dengan suara selembut mungkin.


Kalista mulai menguasai dirinya kembali, kemudian melirik ke arah tamu yang Arka maksud.


"Hallo, saya Kalista istrinya Arka." Mengulurkan tangannya, tetapi manik matanya masih tertunduk ke bawah.


"Hallo, saya Andre rekan kerja pak Arka." Andre menjabat tangan Kalista, tepat ketika itu Kalista menatap Andre.


Deg.


Andre speechless, wanita yang ada di hadapannya ini adalah wanita yang selama ini dirinya idam-idamkan akan menjadi istrinya. Tetapi takdir begitu kejam dan mentertawakannya, bahwa wanita tersebut adalah Kalista istri dari rekan kerjanya sendiri. Andre melihat dengan sangat jelas, bibir mungil Kalista berwarna kemerahan karena di gigit oleh Arka.


"Ah baiklah, kalian berdua kan baru sampai. Lebih baik kalian berdua membersihkan badan terlebih dahulu, kemudian kita makan malam." Kalista mencoba mencairkan suasana dan menarik pelan tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Andre.


"Tamu kita ini mau menginap sayang." Ujar Arka.


"Menginap? Baiklah, pak Andre bisa menggunakan kamar tamu itu." Kalista mencoba menunjuk salah satu kamar tamu yang berada di lantai dasar.


Kalista menyuruh pelayan untuk mengantarkan Andre ke kamar tamu, sementara dirinya dan Arka pergi ke lantai atas. Kalista mencoba menyiapkan baju untuk Arka, dan Kalista juga mengambilkan baju Arka untuk di pakai Andre.

__ADS_1


Ketika Arka sudah masuk ke kamar mandi, Kalista segera turun ke lantai satu. Menghampiri Andre yang berada di kamar tamu, dan Kalista langsung masuk begitu saja.


Gerak gerik Kalista tidak luput sedikitpun dari penglihatan Andre. Kalista begitu cantik dengan piyama berwarna hitam motif bunga-bunga kecil, warna hitam itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambut pendeknya yang tergerai indah itu pun membuat Andre semakin terpesona. Tapi ketika melihat bibirnya yang sedikit bengkak dan berwarna merah, Andre menjadi geram.


"Silahkan mandi terlebih dahulu, dan ini pakaian gantinya." Ujar Kalista ramah, kemduain meletakkan pakaian ganti tersebut diatas ranjang.


Kalista akan beranjak pergi keluar dari kamar tersebut, tetapi tangannya di cengkal oleh Andre.


"Ingat saya kan? Ketemu di mall dan di taman. Beberapa waktu lalu kamu ada masalah sama Arka? Beberapa waktu lalu kamu di campakkan olehnya? Dia memperlakukan kamu dengan tidak baik kan?" Tanya Andre dengan beruntun, manik matanya menatap Kalista dengan tajam.


"Oh jadi ini toh pria yang melirik saya waktu di mall, dan mengajak saya berkenalan di taman. Dunia ternyata sempit ya, ternyata kamu rekan kerjanya suami saya. Wah suatu kebetulan ini namanya." Jawab Kalista dengan senyum mengembang.


"Waktu semakin larut pak, mendingan mandi dulu deh. Nanti kita makan malam bersama." Kalista langsung melepaskan tangan Andre, dan berlalu keluar kamar. Walau bagaimanapun juga tidak baik jika Kalista berlama-lama di kamar tamu dengan Andre.


Sementara menunggu Arka dan Andre mandi, Kalista segera membantu pelayan untuk memasak. Bukan memasak sih, lebih tepatnya menghangatkan makanan. Kalista juga membantu mengupas melon dan semangka, lalu memotongnya kotak-kotak. Entah mengapa kalau makan malam Kalista sukanya cuci mulut makan buah melon dan semangka.


"Wah enak nih." Arka menghampiri Kalista yang sedang menatap makanan diatas meja.


"Iya dong! Ada tamu loh, masa iya kita nggak sambut dengan makanan enak." Ujar Kalista.


"Kamu duduk dulu sayang, ajak pak Andre juga duduk. Aku mau ganti piyama dulu, tadi ketumpahan minyak dikit soalnya." Tanpa menunggu persetujuan dari Arka, Kalista langsung saja naik keatas, ke kamarnya.


Arka dan Andre sudah duduk di meja makan. Tetapi mereka belum memulai makan karena masih menunggu Kalista. Tidak berselang lama, Kalista pun sedang menuruni satu persatu anak tangga. Tadi piyamanya bersama hitam dengan motif bunga kecil, sekarang sudah berganti piyama menjadi warna kuning.


"Loh kok belum makan sih?" Tanya Kalista heran.


Kemudian Kalista mengambilkan nasi dan lauk berserta sayur untuk Arka. Kalista juga melakukan hal yang sama untuk Andre.


"Bau apaan sih?" Kalista bangun dari duduknya, dan langsung menjauhkan diri dari meja makan.


"Kamu kenapa sayang? Nggak dan yang bau loh, hidung kamu bermasalah apa gimana? Sayang ayolah kita makan bersama, ada kak Andre lih disini. Sayang jangan buat aku mau." Ucap Arka sambil terus menatap Kalista.


"Bau apaan sih? Kepala aku pusing?" Teriak Kalista, tangannya sudah berpindah memijat pekan kepalanya.


"Parfum gue apa ya? Tapi nggak mungkin kayanya, kalau pun iya istri lu pasti sudah bereaksi dari tadi." Andre malah mengendus-endus wangi parfumnya.


"Kamu nggak suka dimsum deh kayanya, padahal aku sengaja beliin loh, kata kamu beberapa hari yang lalu mau makan dimsum. Yaudah aku kasih pelayan aja." Arka langsung membawa dimsum ke dapur, memberikannya pada pelayan.


Arka langsung menghampiri Kalista, mencoba memijat pelan dahinya. "Dulu waktu hamil si kembar, kamu benci banget sama nasi. Kok sekarang kamu benci banget sama dimsum? Apa jangan-jangan kamu hamil lagi sayang." Tangan Arka bergerilya meraba dan menggerayangi perut Kalista. Menelusup masuk ke dalam piyamanya.


"Aku nggak mau hamil! Nathan dan Nayla aja masih kecil, mereka masih memerlukan kasih sayang aku seutuhnya." Beberapa bulir bening mulai berjatuhan membasahi pipinya.


"Tapi kalau kamu beneran hamil gimana? Ya harus terima dong sayang. Ingat nggak waktu sore-sore di kamar Nathan dan Nayla, kamh lupa minum pil kontrasepsi kan? Dan sejak saat itu juga kamu belum menstruasi. Bisa jadi kamu beneran hamil sayang." Arka malah memeluk Kalista dengan erat, jika emang Kalista hamil anak ketiga, justeru Arka sangat bahagia.


"Kamu sih! Padahal aku masih mau fokus sama Nathan dan Nayla. Kalau sampai aku beneran hamil, nanti anak ketiga ini kamu aja yang ngurus." Bentak Kalista sambil melepaskan tangan Arka yang melingkar di bahunya.


Andre masih setia menyaksikan drama yang terjadi pada pasangan suami istri itu. Andre merasakan gejolak yang tidak biasa di hatinya ketika mendengar Kalista hamil anak ketiga. Ada rasa panas yang menjalar dalam tubuhnya.


"Udah nggak usah bengong! Mendingan makan malam dulu sayang. Nanti kita pikirkan cara terbaiknya." Arka mengecup puncak kepala Kalista.


"Duh sorry ya bro, di luar dugaan."


"Santai aja lah." Jawab Andre pelan.


Makan malam pun berlangsung dengan tenang. Kalista tidak lagi berontak, malahan Kalista sibuk makan dengan lahap. Diam-diam Arka masih memperhatikan perut Kalista, apakah perut itu membuncit? Apakah di dalam perut itu tumbuh janin anak ketiga? Apakah Kalista benar-benar hamil seperti dugaannya?


"Mau minum apa?" Tanya Arka.


"Jus kiwi enak kayanya!" Jawab Kalista spontan.


"Bentar, aku suruh pelayan bikinkan dulu."


"Aku maunya kamu yang bikin."


"Oke. Tapi ada syaratnya loh."


"Apaan?" Tanya Kalista masih dengan memperhatikan manik mata Arka.


"Kiss dulu dong sayang." Arka merajuk manja.


Benar saja, Kalista langsung memberikan ciuman singkat di bibir Arka. Baik Arka maupun Kalista seolah-olah tidak perduli bahwa di hadapan mereka ada mahluk yang bernama Andre.


"Udah sana!" Kalista melepaskan ciuman itu.


"Kurang lama! Kurang luas, kurang bergairah, banyak kurangnya deh pokonya." Arka mencebik kesal.


"Mau yang lama? Nanti malam di kamar." Kalista mengedipkan sebelah matanya.


"Beneran sayang?" Jawab Arka antusias, Arka sangat-sangat bahagia mendengar jawaban dari Kalista.


"Bohong lah! Seharian aku kecapean, punggung aku sakit, bahu aku pegal. Masa iya mau di tambah-tambahin lagi capeknya." Kalista mendelikkan matanya jengah.


"Nanti aku pijatin kamu kok sayang."


"Emang harus itu!"


"Pijat plus-plus tapi ya!"


"Astaga, kenapa otak kamu mesum terus? Aktifitas ranjang mulu yang di pikirin." Kalista menoyor pelan kepala Arka.


"Ini semua salah kamu! Siapa suruh coba kamu cantik, body bagus, mana kalau di ranjang suka minta nambah pula. Aku kan jadi makin betah di rumah, makin betah minta jatah, makin betah bikin dede." Arka tersenyum menyeringai.


"Arka stop! Ada tamu loh, kamu nggak punya malu banget sih ngomongin urusan ranjang." Bibir mungil itu kini manyun seperti bebek.


"Biarin sayang! Andre itu masih lajang, makanya kita panas-panasin dulu biar dia kebelet nikah." Celetuk Arka sambil terkekeh.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2