
Kini Arka berjongkok di hadapan Kalista, dan merogoh sesuatu di saku jasnya.
"Kalista, Will you marry me?"
Kalista tidak bisa berkata-kata, bulir-bulir air mata terus saja berjatuhan membasahi pipinya, dadanya terasa sesak. Seharusnya satu kalimat dari Arka itu membuatnya bahagia, tapi Kalista tidak merasa begitu.
Semua orang yang berada disana semuanya sedang berharap-harap cemas menanti jawaban Kalista.
"Kepada nona Kalista dipersilahkan untuk menjawab niat baik dari tuan Arka." Suara mc terdengar nyaring di telinga Kalista.
Kalista masih terus mengeluarkan air matanya, lalu ia menggelengkan kepalanya. Arka menatap Kalista heran, semuanya menjadi terdiam melihat Kalista menggelengkan kepalanya.
"Aku cuma mau jadi wanita satu-satunya, tidak mau jadi bayangan orang lain. Dan lebih tidak mau lagi bersanding dengan kekasih orangain! Selama ini aku memang selalu berharap bahwa ka Willi akan datang melamar aku, tetapi aku tidak berniat untuk bahagia diatas penderitaan orang lain." Kalista terisak-isak, ia berbicara sambil menangis.
"Nak, tolong di pikirkan lagi ya! Oma sangat berharap mempunyai cucu menantu seperti kamu." Oma pindah duduknya menjadi di samping Kalista, dan sedang menggenggam tangan Kalista.
"Maaf Oma, Kalista Ng..nggak bisa." Kalista menatap Oma dengan air mata yang semakin meleleh.
"Ta, coba deh lihat gue, tatap mata gue! Apakah di mata gue tersirat sebuah kebohongan? Gue serius ta, gue sangat serius dan tulus dengan semua ini! Acara hari ini juga semuanya gue yang setting." Arka menggenggam tangan Kalista dengan masih berjongkok di hadapan Kalista.
"Ini bukan sekedar rasa tertarik, ini tulus dari hati gue, gue mau lu jadi istri gue, seutuhnya milik gue, jadilah teman hidup gue, gue mohon ta." Arka masih menggenggam tangan Kalista, Arka mulai berkaca-kaca.
"Gue nggak bisa." Kalista melepaskan tangan Arka.
"Kenapa?" Tanya Arka sambil mengusap cairan yang keluar dari matanya.
"Selesain dulu hubungan kamu sama Yoora." Sengit Kalista.
Arka tersenyum mendengar ucapan Kalista.
"Gue sama Yoora nggak ada hubungan apa-apa, sumpah deh." Arka menatap Kalista.
"Nggak ada hubungan apa-apa? Lalu kelakuan kalian dikantor itu apaan?" Kalista makin ketus nada bicaranya.
"Gue bisa jelasin semuanya, gue.." ucapan Arka terjeda, dipotong oleh Kalista.
"Nggak perlu." Kalista bangkit dari duduknya, tiba-tiba dokter Rian menghampiri Kalista, merangkulnya seraya menenangkan Kalista.
"Telinga kadang salah mendengar, begitu pun dengan mata yang kadang salah melihat. Apalagi hati, sering banget salah menduga. Sekarang nggak ada salahnya kan dengarkan penjelasan Arka terlebih dahulu." Dokter Rian duduk menemani Kalista.
"Gue sama Yoora cuma sebatas teman, dulu sih iya teman kencan. Tapi itu dulu! Sekarang gue udah bukan laki-laki seperti itu, kalau pun iya dulu gue memang seseorang yang sangat brengsek! Namun, gue pastikan gue nggak akan kaya gitu lagi."
"Yoora itu gadis yang licik, tujuan dia datang ke Indonesia sebenarnya bukan kangen sama gue, tetapi lebih ke ingin menghancurkan hidup gue. Selama gue di Indonesia dan terpisah jarak dengannya, Yoora berpacaran dengan Randy. Yoora datang ke Indonesia untuk menjebak gue, berencana mengambil alih perusahaan Anggara. Tetapi karena gue sudah mengetahui rencananya, jadi gue memainkan sedikit drama ketika dia datang ke kantor. Perasaan gue padanya sudah pudar ketika gue memutuskan untuk menetap di Indonesia, karena semenjak gue di Indonesia gue sebenarnya sudah tau semua kebusukan dia, termasuk hubungan gelapnya dengan Randy."
Arka menjelaskan secara detail, namun Kalista masih tetap tidak percaya. Sehingga Andy, Riko dan Evan pun ikut menjelaskan semuanya, mereka menjelaskan secara bergantian. Kalista ingin mempercayai ucapan mereka, namun terasa sulit.
Pak Anggara dan Oma merasa gelisah, karena Kalista belum juga memberikan jawaban. Tiara sudah mencoba meyakinkan Kalista, tetapi Kalista masih belum sepenuhnya mempercayai ucapan Arka.
"Jadi intinya kamu cemburu ketika cewe Korea itu datang." Dokter Rian menyentil hidung Kalista. "Sekarang dengarkan kata hatimu!" Dokter Rian kembali ke tempat duduknya.
"Gini aja deh, nanti kalau emang gue masih ada hubungan dengan Yoora, lu boleh buang cincin ini dan pergi meninggalkan gue." Ujar Arka.
"Will you marry me?" Sekali lagi Arka berjongkok di hadapan Kalista.
__ADS_1
Air mata Kalista malah semakin tumpah, setelah terdiam beberapa saat akhirnya Kalista menganggukkan kepalanya. Fotografer tak henti-hentinya mengabadikan momen itu.
"Jawabannya gimana?" Arka masih menanti jawaban Kalista, harap-harap cemas karena takut Kalista menolaknya.
"Yes, i do." Ucap Kalista dengan air mata mengalir tetapi sudut bibirnya terangkat, Kalista tersenyum sambil menangis bahagia.
Arka berkaca-kaca dengan senyum mengembang menghiasai wajahnya, dengan segera Arka menyematkan cincin di jari manis Kalista, lalu memberikan sebuah buket bunga matahari berukuran besar.
Arka berdiri dan langsung memeluk erat Kalista, Arka mencium pipi kanan kiri Kalista. Dua sejoli itu sedang bahagia, pelukan pun terasa hangat dan enggan untuk di lepaskan.
Semuanya tampak berbahagia, pak Anggara langsung memeluk Oma, Tiara menangis haru menyaksikan momen bahagia sahabatnya itu, Bima dan Bimo saling merangkul. Andy, Evan dan Riko tersenyum. Sedangkan dokter Fany langsung memeluk dokter Rian.
"Ekhem.. belum sah ya! Awas aja loh!" Seru pak Anggara ketika melihat Arka akan mencium bibir Kalista, Kalista menjadi kikuk dan kembali lagi memeluk Arka.
"Selamat ya sayang." Oma memeluk Arka kemudian beralih memeluk Kalista.
"Congrats ta, gila ih gue pengen nikah muda." Tiara mencium pipi Kalista, kemudian memeluknya. Evan yang berada di samping Arka pun melirik Tiara, kemudian tersenyum simpul.
"Jangan bilang lu jatuh cinta sama Tiara." Bisik Andy di telinga Evan.
"Oh namanya Tiara, lumayan cantik ya dia." Balas Evan dengan berbisik juga di telinga Andy.
"Akhirnya Bidadari ada yang lamar, selamat beybih." Bima memeluk Kalista, Arka tidak suka melihatnya dan akan menarik tangan Bima.
"Sayang, ini sahabat aku loh." Akhirnya Akra tidak jadi menark tangan Bima, tetapi wajahnya berubah jadi cemberut.
"Selamat ya ibu peri." Bimo memeluk Kalista "Terimakasih ya cunguk." Mereka kemudian tertawa.
"Hi, congrats ya. Maaf dulu gue salah paham sama kedekatan lu sama Rian." Dokter Fany pun memeluk Kalista.
"Cemburu ya bu dokter." Kalista meledek dokter Fany.
Tiara, Bima, dan Bimo pamit izin pulang lebih dulu, begitupun dengan dokter Rian dan dokter Fany. Mereka bilang ada urusan yang mendesak.
Kini yang tersisa hanya ada Kalista, Arka, Evan, Andy, Riko, pak Anggara, Oma, dan pak supir. Mereka semua sedang menikmati jamuan yang memang sudah di persiapkan untuk acara lamaran tersebut.
"Acara pernikahan nya akan di langsungkan bulan depan ya, silahkan kalian pilih tanggalnya mau tanggal berapa?" Ucap pak Anggara yang kini sedang menikmati jus mangga.
"Ko bulan depan? Kalau misalkan dimajuin jadi 2 minggu lagi boleh nggak yah?" Protes Arka, karena Arka ingin cepat-cepat mempersunting Kalista.
Mendengar jawaban Arka, semuanya yang ada di situ jadi tertawa terbahak-bahak, sedangkan Kalista mukanya berubah jadi merah karena malu.
"Ngebet kawin ya lu?" Ledek Andy dengan tawa yang semakin meledeknya.
"Pedang lu nggak sabaran ya?" Riko berbisik ditelinga Arka.
"Main solo dulu aja, sabar-sabar ya." Celetuk Evan dengan berbisik.
"Kemarin-kemarin di suruh nikah nggak mau, sekarang ko maunya nikah cepat?" Ledek Oma "Tapi bagus juga sih nikah cepat, biar Oma cepat nimang cicit." Oma tersenyum.
"Uhuk..uhuk" Kalista yang sedang menikmati makanannya pun tersedak ketika mendengar kata 'Cicit' dari Oma.
"Pelan-pelan sayang makannya?" Arka memberikan segelas air mineral pada Kalista, kemudian mengusap bibir Kalista menggunakan tissue.
__ADS_1
"Oh sayang ya sekarang mah." Kini pak Anggara pun ikut-ikutan meledek Arka.
"Kalau ayah si terserah kalian aja, kalau mau dimajuin 2 minggu lagi juga boleh. Tapi kalau menurut Kalista bagusnya gimana?"
"Kalista baru berusia 22 tahun pak, kalau misalkan tunggu 3 tahun lagi gimana? Tunggu sampai usia Kalista 25 tahun." Ujar Kalista.
"Nggak bisa! Usia gue sekarang 27 tahun, kalau nunggu 3 tahun lagi berarti gue udah kepala 3, ketuaan dong!" Lagi-lagi Arka protes.
"Alasan aja terus, dasar ngebet kawin lu." Cibir Evan sambil menoyor kepala Kalista.
"Nak, Oma kan sudah tua. Oma takut nggak keburu gendong cicit"
"Yaudah deh, gimana baiknya aja." Kata Kalista.
"Fiks ya 2 minggu lagi." Ucap Arka kegirangan.
"1 bulan lagi, pernikahan impian yang aku inginkan agak sulit soalnya. Perlu WO yang handal, dan pengerjaanya pasti agak lama." Ujar Kalista.
"Iya sayang, apa sih yang nggak buat kamu." Lagi-lagi Arka mencium pipi Kalista.
"Jangan cium-cium terus, kita semua yang ada di sini tuh jomblo, kasian dikit lah sama kita." Pak Anggara menepuk pundak Arka.
"Biarin aja, biar kalian semua makin merana." Arka tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
"Ko ibu kost nggak di undang kesini?" Kalista menatap Arka dengan tatapan mata yang sendu.
"Maaf, kelupaan." Arka baru ingat, tadi malam dirinya menghubungi Andy untuk menghubungi ibu kost, tapi begitu telponan dengan Andy dirinya malah membicarakan perihal acara hari ini.
"Itu ibu aku satu-satunya loh." Kalista terisak, karena ibu kost yang sudah di anggap ibu kandungnya itu tidak di undang.
"Mungkin Arka terlalu berambisi untuk hari ini, sehingga kelupaan untuk mengundang ibu kost. Nanti pulang dari sini Kalista sama Arka langsung saja ke rumah ibu kost, sekalian Arka minta restu ya nak." Oma menenangkan Kalista.
"Boleh nggak?" Kalista bertanya sama Arka.
"Boleh ko kalau mau cium, ya cium aja." Arka menggoda Kalista.
"Iiiiih maksudnya, pulang dari sini ke rumah ibu kost." Kalista merajuk.
"Iya boleh." Arka membelai pipi Kalista.
"Si bucin mesra-mesraan terus ya." Cibir Riko.
"Begitulah kalau orang sedang jatuh cinta, nggak peduli sejutek gimana pun bakalan kalah sama yang namanya bucin." Andy menimpali perkataan Riko.
"Sebulan lagi gue akan resmi menjadi suami, tidur ada yang ngelonin dong, uh." Arka makin menunjukan kemesraannya dengan memeluk erat Kalista.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1