
Kalista masih terlelap di pelukan Arka, mereka berdua sudah bermain sampai 3 sesi, dari jam 10malam berakhir jam 12tengah malam. Sekarang Kalista masih sangat mengantuk, sedangkan Arka ada rapat jam 11:00 pagi ini.
Arka mengerjapkan matanya perlahan, jarum jam menunjukan angka 08:00, sebenarnya masih sangat ngantuk, namun kerjaannya juga penting.
Arka memindahkan tangan Kalista dari perutnya, namun tangan Kalista malah menempel lagi di perut Arka. "Sayang, aku ada rapat pagi ini." Arka mengusap rambut Kalista lembut.
"Jam berapa?" Katanya sambil mengeratkan pelukannya, matanya masih enggan untuk terbuka.
"Rapat jam 11:00 pagi ini, sekarang jam 08:00, banyak yang harus aku siapkan sayang." Arka masih bertanya lembut.
"Telpon Gina, suruh siapkan semua berkas yang di perlukan! Aku masih ngantuk, mau peluk kamu terus." Kalista semakin mengeratkan pelukannya pada Arka.
Arka meraih ponsel di atas nakas, kemudian mencari kontak yang akan di hubungi. "Hallo, selamat pagi. Gina siapkan semua berkas yang di butuhkan untuk rapat, saya ke kantor agak siangan. Istri saya lagi manja, mau dipeluk terus-terusan, nggak mau bangun dari ranjang." Tut.. Tut.. Arka langsung memutuskan sambungan telpon itu.
Gina adalah sekretaris baru yang menggantikan Kalista, namun Gina hanya sekretaris biasa, tidak ada embel-embel "Pribadi-nya" Meja kerja Gina pun berada di luar ruangan Arka, itu semua diatur oleh Kalista.
Kalista menatap Arka, matanya membulat sempurna. "Ko di bilangin?" Kalista cemberut dan menggerutu.
"Kenapa? Benar kan istriku lagi manja." Arka mencium telinga Kalista.
"Kenapa harus bilang sama Gina? Malu tahu." Arka memukul pelan lengan Arka.
"Oh iya, kalau di kantor kamu jangan dekat-dekat sama Gina! Aku nggak suka."
"Cie cemburu, duh makin cinta deh."
Mereka berdua masih berada diatas ranjang, tanpa sehelai benang pun di badan mereka, karena semalam setelah selesai mendayung mereka langsung tertidur. Tubuh mereka hanya di tutupi oleh selimut tebal.
Tangan Kalista mulai bergerak, mengelus pelan perut Arka. Bahkan Kalista menyenderkan kepalanya diatas dada Arka. Arka yang menerima sentuhan di perutnya itu, menjadi semangat lagi untuk mengulang mesranya cinta mereka tadi malam.
"Sayang..." Arka menatap Kalista dengan nafas yang memburu.
"Apa?" Kalista tersenyum geli melihat wajah tampan suaminya ketika sedang bergairah.
"Aku berangkat kerja siangan demi kamu! Imbalannya apa?" Kini mereka dalam keadaan tidur menyamping dan saling berhadapan, Arka menatap Kalista penuh cinta.
"Imbalannya tiduran dalam pelukan aku." Lagi-lagi Kalista memeluk Arka, saat ini Kalista tidak ingin Arka beranjak dari ranjangnya.
"1 sesi lagi ya sayang." Tangan Arka menyentuh dada Kalista, dan mempermainkannya.
Tanpa Arka duga, Kalista malah lebih aktif, mencium leher Arka sambil menggigit-gigit kecil sehingga meninggalkan beberapa tanda kissmark di leher itu.
"Sayang ko berhenti?" Arka menggerutu, tetapi tidak ada respon dari kalista. Kemudian Arka menoleh, di lihatnya Kalista yang tertidur dengan nafas teratur, Arka mencium kening Kalista, di tatapnya wajah istrinya itu yang bersih dan cantik walaupun tanpa sentuhan make up. "Lagi manja banget, sampai nahan aku buat ke kantor, cuma pengen dikelonin sampai siang." Arka mencium pipi Kalista gemas. Lalu Arka pun tertidur, karena memang masih ngantuk.
Sudah 2 jam mereka tertidur, Kalista bangun dan langsung memakai piyamanya yang tergeletak di lantai.
"Sayang bangun, jam 10:00 nih." Kalista menepuk-nepuk pelan pipi Arka.
Arka hanya menggeliat saja diatas kasur, matanya masih terpejam. Kalista berinisiatif mengecup bibir Arka. Ternyata dengan buasnya Arka malah menjejalkan lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Kalista, niat awal hanya mengecup eh malah jadi lumayan repot.
"Kalau kaya gini sih aku malah makin betah diem di rumah sayang." Arka mengecup pelan kening Kalista.
Kalista mengambilkan handuk, lalu mendorong Arka masuk ke kamar mandi. Kalista menyiapkan setelan kerja Arka yang di letakkan di atas kasur.
Kalista bergegas ke dapur untuk membuatkan segelas susu hangat, dan roti selai cokelat kesukaannya Arka.
"Aku kayanya nggak keburu sarapan." Arka melilitkan dasi di lehernya, Kalista langsung mengambil alih dasi ditangan Arka, karena menurut Kalista ini adalah kegiatan yang paling menyenangkan untuk dilakukan, karena ketika Kalista melilitkan dasi, Arka akan menatap wajahnya.
"Istrimu yang cantik ini sudah membuatkan sarapan, di hargai ya wahai suamiku yang tampan." Sepotong roti masuk kedalam mulut Arka, di jejalkan oleh Kalista.
Arka berhasil menghabiskan dua potong roti, Kalista memberikan segelas susu hangat yang langsung di minum habis oleh Arka. "Enak kan?" Tanya Kalista sambil tersenyum. "Susu ini mah nggak ada enak-enaknya, lebih enak punya kamu." Arka berbisik di telinga Kalista, sambil menghembuskan nafasnya perlahan. Kalista menjadi sedikit ngeri, dan mencubit pinggang Arka.
__ADS_1
Tin..tin.. suara klakson mobil terdengar dari luar, itu berarti Andy sudah datang untuk menjemput Arka. Kalista mengantarkan Arka ke depan. Kalista mencium punggung tangan Arka, lalu Arka mencium kening Kalista. Ketika Arka akan masuk ke dalam mobil, Kalista mencium pipi Arka "Semangat kerja sayang, jangan genit!" Arka menatap istrinya itu "Iya sayang, jangan kemana-mana ya, kalau mau makan gofood aja. Ohiya jangan lupa mandi." Arka mengedipkan matanya, mobil pun melaju menuju kantor.
"Jam berapa ini bro? Tumben banget berangkat kerja siangan." Kata Andy yang sedang fokus mengemudi.
"Istri gue lagi manja banget, dia juga jadi lebih agresif. Semalam aja sampai 3 sesi, biasnya 2 sesi aja dia udah tumbang. Sampai kewalahan gue."
"Mantap dong lu!"
"Mantap sih mantap, tapi ya capek banget berasa mau copot nih lutut gue."
"Udah tua sih lu jadi lemah, Kalista sih wajar daun muda." Andy terkekeh.
"Tadi pagi aja, dia malah nahan gue di ranjang. Dengar suara manjanya gue jadi nggak tega ninggalin dia pergi kerja."
"Elu sih aslinya bukan nggak tega, tapi jadi pengen tidur lagi yeee kan?" Andy meledek Arka.
Arka tidak lagi menghiraukan ledekan Andy, mobil melaju dengan sangat cepat. Arka masuk ke ruangannya dan membaca semua berkas yang telah disiapkan Gina.
Sementara itu, setelah kepergian Arka Kalista langsung membersihkan dirinya. Bermake-up sedikit, rencananya hari ini Kalista akan pergi ke apotek, sesuai arahan mama Lisa(mamanya Arka) Kalista akan membeli testpack. Kalista juga baru ngeh, haid terakhirnya setelah nikah dengan Arka, dan sampai sekarang belum haid lagi. Namun Kalista tidak mau terlalu memusingkan hal itu dan tidak akan memberitahukan Arka dulu, soalnya takut tidak sesuai harapan.
Seperti biasa Kalista menggunakan jasa taksi online. Sebenarnya Arka akan memberikan sopir untuk Kalista, namun Kalista menolak, soalnya kan pakai taksi online juga mudah.
Sampai di apotek, Kalista langsung meminta testpack yang paling bagus, yang hasilnya akurat. Pegawai apotek merekomendasikan beberapa testpack terbaik, setelah cukup lama Kalista menimang ini dan itu, akhirnya Kalista membeli testpack yang paling mahal dan kualitasnya pun bagus, sebanyak 4 pcs dengan beragam merk. Jika nanti hasilnya positif, Kalista akan mencoba tespack yang lainnya, hanya ingin memastikan saja, siapa tau testpack nya eror gitu hehe.
Kini Kalista berada di minimarket, memberi beberapa cemilan dan permen yuppi. Perasaan Kalista tidak enak, seperti ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Kalista merinding dan segera berjalan setengah berlari ke arah kasir. Sesudah membayar Kalista langsung keluar, sambil matanya tetap celingak-celinguk lirik kanan kiri.
"Pak, ko saya merinding ya. Kaya ada yang ngikutin saya." Dengan nafas ngos-ngosan Kalista masuk kedalam taksi online tersebut.
"Memang ada yang ngikutin mbak, dari depan apartment saja sudah diikuti, awalnya saya nggak ngeh bmw hitam ngikutin kita, tapi pas mbak turun di apotek bmw itu juga ikutan berhenti di tepat di belakang mobil saya ini. Bahkan tadi pas mbak masuk ke minimarket aja, bmw itu parkir di sebelah sana dan orangnya langsung masuk ke minimarket. Rencananya saya akan bilang setelah mbak keluar dari minimarket, tapi mbak nya udah sadar duluan."
"Jangan jalan dulu pak, bentar saya hubungi suami saya dulu." Kalista sibuk mengotak-atik ponselnya, menghubungi Arka. Nyambung sih tapi nggak diangkat, Kalista panik dan gemetaran.
Padahal ponsel Arka ada di tangan Gina, disilent karena rapat akan segera di mulai, Gina mengetahuinya, namun ia sengaja tidak memberitahukan Arka. Selama ini Gina selalu merasa bahwa Kalista selalu merepotkan Arka.
"Antar saya ke kantor Anggara saja pak. Agak ngebut ya, saya takut soalnya." Kalista sangat gelisah dalam duduknya.
Karena kecepatan laju mobil bertambah, akhirnya mobil telah sampai di kantor Anggara. Kalista merogoh 2 lembar kertas merah.
"Ini ongkosnya pak, nggak usah di kembalian. Terimakasih sudah mengantarkan saya dengan selamat, dan ini nomor telpon saya, jika terjadi sesuatu pada bapak yang di lakukan oleh orang dalam bmw itu, langsung hubungi saya! Hati-hati di jalan ya pak." Kalista tersenyum, kini hatinya sedikit lebih tenang karena telah sampai di depan gedung pencakar langit milik suaminya, dan keadaan di luar pun sangat ramai.
"Terimakasih banyak ya mbak." Sopir taksi online itu langsung melajukan mobilnya. Bmw itu benar-benar memang mengikuti Kalista, ketika Kalista sampai di kantor, bwm itu langsung putar arah.
Kalista masuk ke dalam kantor, karena hari ini ada rapat, jadi Kalista tahu Arka ada di ruangan mana. Dengan mata yang berkaca-kaca karena menahan takut, sedikit gemetaran juga. Kalista langsung masuk ke ruang rapat.
Begitu membuka pintu, Arka sedang presentasi, semuanya tampak serius memperhatikan. "Sorry.." kata Kalista, dan masih mematung di dekat pintu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nggak sopan banget, udah tahu lagi rapat malah masuk gitu aja." Gina memandang sinis ke arah Kalista.
"Tutup mulutmu!" Arka membentak Gina.
Kemudian menghampiri Kalista, dan menyuruhnya untuk duduk di kursinya. Arka merasa ada yang aneh dengan istrinya, dia menggenggam tangan Kalista sekilas, lalu mencium puncak kepalanya seraya mengusap air mata yang akan jatuh.
"Minum dulu sayang." Arka memberikan segelas air mineral.
Arka melanjutkan lagi rapatnya, sedangkan Kalista hanya duduk sambil memperhatikan suaminya. Karena sudah lama tidak menjadi sekretaris pak Arka, kini Kalista menatap Arka tanpa berkedip, manusia yang sedang presentasi berdiri di depan itu sungguh sangat sempurna, rambut yang tertata rapi, hidung mancung, badan tinggi menjulang, berkulit putih bersih, sangat cocok dengan stelan jas yang di kenakannya.
"Rapat saya akhiri! Selamat menjalankan aktifitas seperti biasanya." Semua karyawan meninggalkan ruangan rapat itu, kecuali Arka, Andy dan Gina.
"Gin, susun hasil rapat barusan, dan segera laporkan pada saya."
"Iya pak." Namun Gina masih belum beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Ko tadi gemetaran?" Arka membelai lembut pipi Kalista, tiba-tiba Kalista memeluknya dengan mata yang berkaca-kaca. Mulutnya masih belum bersuara.
"Erat banget, jadi pengen lanjutin yang tadi malam." Arka mencium puncak kepala Kalista, kemudian mencium pipi nya.
"Ish mesum!" Kalista mendorong tubuh Arka. "Nggak dosa ko mesum sama istri sendiri, ini nih tanda cinta yang kamu berikan tadi malam." Arka menunjuk noda-noda merah kissmark di lehernya. "Aku kan udah bilang sayang di tutup pake foundation." Kalista menggerutu. "Nggak apa-apa, aku mau pamerin ke orang-orang betapa buasnya istriku tadi malam." Arka menatap Kalista, Kalista langsung saja mendaratkan bibirnya di bibir Arka.
"Di ruangan aku saja sayang, disini mah nanti di ganggu Gina sama Andy." Arka memeluk Kalista dan akan membawanya ke ruangannya.
"Gin, kalau sudah selesai langsung bawa ke ruangan saya!"
"Iya pak!"
"Andy mau nemenin Gina?" Arka tersenyum meledek.
"Nggak! Gue mau ke kantin lah, soalnya kalau masuk ke ruangan lu makin ngenes dong gue."
"Ikut ke ruangan gue!"
Andy mengikuti langkah Arka, didepannya pasangan suami istri yang baru bersatu 2 bulan yang lalu itu sedang berjalan sambil bercanda tawa mesra. Andy merasa hatinya teriris di suguhkan pemandangan seperti itu. "Kapan ya gue punya pasangan?" Andy bergumam, tiba-tiba Andy tersenyum hangat melihat Arka sangat memanjakan Kalista. "Alhamdulilah, akhirnya sahabat gue buka hati untuk wanita. Gue tahu semua penderitaan lu, semoga Kalista memang wanita yang dikirim semesta khusus untuk membahagiakan lu bro." Andy masih bergumam dalam hatinya.
"Bentaran sayang, aku kebelet." Kalista langsung masuk ke kamar yang ada di ruangan Arka, masuk ke kamar mandi. Kalista buabf air kecil, airnya di tampung di gayung, kemudian mencelupkan testpack.
"Ada apaan?" Tanya Andy yang masih berdiri di samping Arka.
"Tadi pas Kalista datang mukanya tuh kaya ketakutan gitu, gemetaran juga. Gue mau tanyain ini, nanti kalau ada sesuatu yang tidak beres lu selidiki."
"Sepertinya gue mendengar kata lembur." Andy mengusap wajahnya kasar.
"Bonus bulan ini 4 kali lipat."
"Deal!" Andy menjabat tangan Arka, garis bibirnya melengkung, senyum sumringah terpancar dari wajahnya.
"Mata duitan lu." Arka langsung berjalan ke kamar.
"Sayang, ko lama?" Arka mengetuk pintu kamar.
Di dalam kamar mandi, Kalista masih menunggu tespack nya sampai garis dua, namun karena Arka sudah mengetuk pintu dan sedang menunggu dirinya, Kalista langsung menaruh gayung itu di sudut kamar mandi, dan meninggalkannya.
"Udah ko yang." Kalista keluar dari kamar.
"Ngapain aja sih? Ko lama?"
"Semedi." Jawaban Kalista langsung disambut oleh kekehan Andy.
"Coba ceritain tadi kenapa?" Arka mengusap pelan rambut Kalista.
"Tadi bwm hitam ngikutin aku terus, dari awal aku ke apotek, sampai aku ke supermarket aja di ikuti, bahkan kata sopir taksi online orang yang di bwm hitam itu ikut masuk ke supermarket. Ternyata bwm itu juga ikutin aku lagi sampai ke kantor, begitu sampai di depan dia langsung buru-buru putar arah. Tapi kata pak sopir, aku emang di ikuti dari pas keluar dari apartment." Kalista menjelaskan, jemarinya di genggam erat oleh Arka.
"Plat nomor nya?" Tanya Andy.
"Nggak perhatiin, keburu panik."
"Sekarang kan ada aku, tenang aja ya semaunya bakalan aman dan baik-baik saja." Arka memeluk Kalista, Arka sama sekali tidak ingin Kalista ketakutan. Arka memberikan isyarat mata pada Andy untuk menyelidikinya.
"Pak ini laporannya?" Suara Gina tidak mampu membuat Arka melepaskan pelukannya dari Kalista.
"Simpan saja diatas meja kerja saya." Kini Arka malah mencium kening Kalista, bagi Arka istrinya itu adalah segala-galanya.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤