SUN FLOWER

SUN FLOWER
Rpisode 13


__ADS_3

Suatu hari di akhir pekan. Lantana tengah sibuk menyusun laporan mingguan sekaligus bulanannya. Kaki mungilnya bulak balik ke mesin fotocopy dan kursinya untuk mencetak laporan ahirnya. Sebelum makan siang, Lantana sudah beres dengan laporannya bulan ini, tinggal menunggu makan siang dan rapat bulanan setelah makan siang.


Lantana tengah meregangkan otot-ototnya yang kaku. Tiba-tiba Nindy, salah satu staff di ruang Lantana menghampirinya.


"Hai Ana.." sapanya dengan senyum cerah


"Hai Nin.. Ada apa??" jawab Lantana ramah


"Aku punya sesuatu buat kamu.. Ini lagi hits banget di sosial media.. Imut dan lucu banget.. Kamu pasti suka" ucap Nindi semangat


"Apaan tuh?? Penasaran.." balas Lantana


"Tada....." Nindi menunjukkan sesuatu di tangannya


"AAAAAAAAAAAAAAA.........!!!!!" Jerit Lantana kencang. Lantana langsung menjatuhkan dirinya dan  menjauhi Nindi dengan panik dan terus menjerit seraya ngesot sebisa mungkin. Tanpa sadar Lantana terus ngesot hingga menabrak kaki meja di belakangnya yang tersimpan di atasnya kumpulan dokumen. Karena kerasnya benturan Lantana, akibatnya meja itu jatuh dan dokumen di atasnya ikut jatuh dan menimpa kepala Lantana.


BRUGHH


Lantana langsung tak sadarkan diri. Semua orang panik melihat keadaan Lantana tak terkecuali Nindi. "Kenapa?? Bukannya Lantana tidak takut sama binatang apapun??" tanya Nindi dan yang lain panik


Mendengar jeritan yang keras, Vino segera berlari menuju sumber suara. Karena dia mengenal suara jeritan itu. Vino langsung menghambur ke kerumunan yang tengah membereskan dokumen yang mengubur Lantana berikut meja yang menimpanya juga.


"Ada apa ini??" ucap Vino panik setelah memastikan siapa yang berbaring itu


Seketika suasana menjadi tegang. Wajah Nindi sudah semakin pucat. "I... Ini tuan, Lan.. Lantana pingsan.." ucap Viska tergagap


"Saya tau! Kenapa bisa pingsan??" bentak Vino seraya meraih tubuh Lantana ke pukannya. Wajahnya menjadi gelap karena tubuh Lantana sangat dingin. "JAWAB!!!" Bentaknya karena karyawannya pada diam semua


"Sa.. Saya tuan.." jawab Nindi dengan air mata yang berderai di pipinya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan pada Lantana??"


"Sa.. Sa... Saya.. Saya me me memberikan ini pada Lantana.." jawab Nindi seraya menunjukkan dua buah mainan ulat di tangannya. Ukurannya sebesar jari telunjuk orang dewasa, tapi detailnya sangat kompleks seolah itu ulat asli.


Rahang Vino menegang dan wajahnya semakin gelap. "STEVA..!! SIAPKAN MOBIL SAYA SEKARANG!!" Teriak Vino pasa sekretarisnya.


Semua staff bingung mencerna apa yang terjadi. Bahkan mereka banyak yang saling pandang dan saling berbisik. Vino mengangkat Lantana di gendongannya dan membawanya meninggalkan ruangan. Lantana terlihat sangat lemas dan putih pasi. Keadaan menjadi hening mencekam dan Nindi menangis seketika karena ketakutan.


"Gue gak tau kalo Lantana bakal takut banget sama ulet.." tangis Nindi


"Kita juga gak ada yang tau, Nin.. Moga aja Ana gak apa-apa.." hibur Arini


"Tapi dampak dari phobia bisa parah banget loh.." ucap Tomi


"Tom.. Plis lah jangan bikin suasana semakin canggung.." bujuk salah satu staff


"Lagian kalian gak tanya-tanya dulu sih.. Gak nyari tau dulu, maen kasih-kasih aja.."


"Terkadang orang akan menyembunyikan apapun yang menjadi ketakutannya.."


"Lihat tuan es sepanik itu lihat Lantana, gue yakin bos ada apa-apa sama Ana" ujar salah satu staff


"Iya bener banget, gue lihat matanya takut dan khawatir banget saat lihat Lantana tergeletak di lantai.." jawab yang lain


"Habis lah.."


"Sudah-sudah.. Kita makan siang aja yuk.. Bentar lagi rapat bulanan nih.." potong Viska karena keadaan semakin kacau


Nindi berjalan dengan lesu karena merasa bersalah. Ia menangis dan tidak pergi ke kantin. Dia akhirnya memutuskan untuk mengambil tas Lantana kemudian menyusulnya ke rumah sakit untuk minta maaf.

__ADS_1


*


Vino bergegas menancap mobilnya menuju rumah sakit pusat kota yang letaknya tidak jauh dari perusahaannya. Begitu sampai rumah sakit, ia langsung menggendong Lantana ke ruang UGD dengan terus memanggil Ners untuk menolongnya. Tak lama para medis menghampirinya dan langsung membawa Lantana ke lantai VIP sesuai perintah Vino.


Vino mengacak rambutnya frustasi setelah dokter membawa Lantana masuk ke dalam ruangan. Vino duduk di kursi lorong rumah sakit kemudian meraih ponselnya menekan nomor seseorang.


"Halo ayah.. Ini Vino yah.. Hm.. Baik yah.. Ini yah, Lantana.. Lantana masuk rumah sakit.. Iya yah.. Nanti Vino jelasin.. Di RS pusat kota yah.. Hm.. Iya ayah.." ucap Vino pada seseorang di sebrang panggilan


Vino duduk termenung dengan menyatukan tangannya di atas paha dan menaruh kepalanya di atas jari-jarinya yang terlipat. Beberpa menit berlalu, dokter belum juga keluar dari dalam ruangan. Tak lama suara langakah kaki orang berlari mendekati Vino. Vino mengangkat kepalanya dan mendapati ayah dan bunda Lantana beserta Nindi di belakang mereka.


"Nak Vino.. Lantana kenapa? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit??" serbu ayah yang masih menggunakan pakaian dinas nya


"Lantana pingsan karena syok" jawab Vino lesu


"Syok?? Kenapa bisa syok?? Dia lihat apa??" Bunda menjerit khawatir


"Tanyakan pada dia, bun, yah" Vino menunjuk Nindi yang tengah menundukkan kepalanya. "Ngapain kamu ke sini? Mau mastiin kalo Lantana pingsan beneran??" ucap Vino sarkas


Ayah dan bunda Lantana syok mendengar perubahan emosi dan nada bicara Vino yang menjadi dingin dan menyeramkan. Mereka beralih ke gadis yang tadi mengikutinya di belakang.


"Sa.. Saya mau minta maaf.. Sa.. Saya tidak.. Saya tidak tau kalo.. Kalo Lantana Phobia sama ulat.." Ucap Nindi tergagap


"APA!!!" Bunda menjerit kaget "kamu memberikan anak saya apa??" ucap bunda dengan nadanya yang khas (galak)


"Bun.. Bun.. Udah dong.. Jangan teriak teriak.. Kan di sini banyak orang sakit.. Mana tau ada yang sakit gigi, entar bunda kena omel loh.." ayah berusaha menenangkan bunda


"Gak lucu, yah.. Sekarang kamu jelasin..! Kenapa Lantana sampe pingsan.. Kamu gak tau? Lantana sangat takut sama ulat..?? Ralat, Lantana gak bisa denger ulat, dia menyebutnya larva.


Nindi sudah tidak lagi menahan air matanya karena takut. Ia hanya menunduk sembari sesegukan dan sesekali mengusap air mata dengan tangannya. Ayah berusaha membujuk Nindi dan membawanya ke tempat duduk seraya terus menghiburnya.

__ADS_1


"Kamu gak salah kok.. Anak kami memang sangat takut sama serangga satu itu.. Tapi dia gak pernah mau kasih tau siapapun, karena ada alasannya. Sekarang kamu tenang ya.. Coba.. Kalo sudah tenang, baru cerita.." ucap ayah lembut


Perlahan Nindipun tenang, dan mulai menceritakan kejadian sebelumnya di perusahaan. Ayah mendengarkan dengan seksama. Ibu sudah menghambur ke pelukan Vino seraya menangis.  Ia ingat kejadian terakhir kali Lantana masuk rumah sakit karena syok oleh phobianya. Dan mereka hampir kehilangan Lantana selamanya.


__ADS_2