SUN FLOWER

SUN FLOWER
SATU KAMAR


__ADS_3

"Woy lama banget sih! Gue nunggu udah hampir 30 menit nih!" Protes Andy.


"Yaelah belum juga sejam lu nunggu." Kemudian Arka masuk ke dalam mobil.


"Yang bikin lama nih bocah! Dandan sampe dua jam!" Celetuk Arka.


"Enak aja! Saya make up cuma 15 menit doang, liat aja nih muka cuma pake cushion sama lipstik doang." Kalista membela diri, memang benar jika dilihat wajah Kalista sekarang make up nya natural.


"Palingan lu yang lelet!" Sarkas Andy pada Arka.


"Protes mulu! Gue pecat lu dari perusahaan gue!" Arka mengancam.


"Perusahaan bokap lu! Jangan lupa itu!" Celetuk Andy mengingatkan.


"Iya, tapi gue anaknya! Dan itu akan diwariskan ke gue!" Arka menjawab bangga.


"Bapak-bapak debat aja terus! Mau turun ngga? Ini udah sampai bandara loh." Kalista mengingatkan, perjalanan dari apartment ke bandara sama sekali tidak terasa, karena Arka dan Andy beradu mulut terus.


"Gue nggak mau dipanggil bapak-bapak! Ketuaan kesannya!" Arka mendelik kesal.


"Ya kan kalau dikantor gitu!" Ucap Kalista datar.


"Udah sana kalian turun!" Andy mengusir, agar Kalista dan Arka segera turun dari mobil.


Kalista dan Arka turun, mereka menyeret koper mereka masing-masing.


"Kalista." Andy memanggil namanya.


"Ya?"


"Kamu cantik!" Andy memuji Kalista, karena memang Kalista terlihat cantik dengan pakaian casualnya.

__ADS_1


"Terimakasih." Pipi Kalista merona, sedangkan Andy langsung tancap gas meninggalkan bandara.


"Segitu bahagianya lu di panggil cantik? Pipi lu langsung semerah cabe rawit! Atau jangan-jangan ini untuk pertama kalinya ada cowo yang bilang lu cantik?" Arka berkata sambil meledek Kalista.


"Bahagia? Jelas saya sangat bahagia! Dan bapak harus tahu, banyak sekali cowo yang bilang saya cantik, bahkan saya sampai bosan dengarnya! Dan cuma bapak doang yang nggak bilang saya cantik, entah bapak gengsi ngomongnya atau apalah, atau jangan-jangan bapak nggak normal ya? Atau mungkin bapak gay? Iiiiiih serem banget, ngeri deh." Kalista pura-pura bergidik ngeri padahal itu hanya meledek Arka saja.


"Saya normal! Mau coba dibuktikan?!" Arka menatap Kalista dengan menaikkan turunkan alisnya ditambah dengan senyum menyeringai yang membuat Kalista makin bergidik ngeri.


*****


Setelah menempuh perjalanan udara, sekarang Kalista mengalami jet lag. Kedatangan mereka langsung disambut oleh supir yang diutus asisten Andy. Didalam mobil tampak hening, Kalista memejamkan matanya dan memijit keningnya, ia merasa pusing karena beberapa jam tadi berada diatas awan. Mobil terus melaju membawa mereka ke hotel. Ketika sampai di depan hotel, Arka langsung menggenggam erat tangan Kalista, karena Arka khawatir Kalista pingsan atau sakit.


"Permisi, reservasi atas nama Arka William Anggara." Arka melakukan check in terlebih dahulu.


"Baik, kamar lantai 3 no.48. ini kuncinya!" Resepsionis tersenyum ramah sambil menyerahkan kunci kamar.


"Satu lagi?" Tanya Arka bingung karena resepsionis itu hanya memberikan 1 kunci kamar.


"Baiklah, pesan satu kamar lagi!" Arka berkata dengan nada datar.


"Mohon maaf, sudah tidak ada kamar yang kosong. Hari ini sampai beberapa hari kedepan kamar sudah penuh." Resepsionis itu meminta maaf, dan menyesali karena tidak ada kamar kosong.


Arka menatap resepsionis tersebut dengan malas, sekarang Arka kesal banget sama Andy, karena Andy lah yang memesan kamar.


Setelah check in dan melakukan transaksi pembayaran, Arka langsung membawa Kalista ke kamar hotel. Arka langsung menyimpan koper miliknya dan milik Kalista di sisi ranjang.


"Lu tidur dulu deh! Jangan sampai sakit! Acaranya aja belum mulai." Arka menyuruh Kalista tidur karena Kalista mengalami jetlag.


Kalista yang memang merasa kepalanya sangat pusing, tidak banyak komentar dan menuruti perintah Arka. Ia segera merebahkan dirinya dikasur, secara perlahan matanya terpejam. Sepuluh menit kemudian Kalista sudah tertidur pulas, terlelap dalam mimpinya.


Arka yang sedang duduk di sofa, perlahan memperhatikan Kalista.

__ADS_1


"Gue emang gengsi untuk mengatakan bahwa lu itu cantik! Apalagi hari ini aura kecantikan lu nambah lima kali lipat, pokonya hari ini lu keren dengan pakaian casual seperti ini." Arka menatap Kalista dari kejauhan, gadis itu tertidur tanpa membuka sneakers nya terlebih dahulu.


Sebenarnya ketika berada diatas awan pun, Arka telah puas memandangi wajah Kalista yang duduk disebelahnya.


Hari ini Kalista memakai celana jeans hitam, hoddie crop berwarna putih, sneakers putih, rambut diikat cepol sedikit berantakan, serta kacamata bening yang bertengger di hidung bangirnya. Kalista nampak sangat cantik dengan pakaian casualnya itu, dan kacamata nya menambah kesan manis.


Arka yang hanya rebahan di sofa sambil memainkan ponselnya merasa bosan. Ia bangkit lalu berjalan menuju kaca, setelah mendapat udara dari kaca jendela yang di buka. Akhirnya Arka memutuskan untuk rebahan di kasur, karena rebahan di sofa terasa tidak nyaman. Berawal dari rebahan hingga akhirnya Arka pun ketiduran.


Arka membuka matanya, lalu menatap jam dinding yang menempel di sudut ruangan. Jarum jam menunjukan pukul tujuh malam. Arka perlahan bangun, dan menoleh ke samping, Kalista masih terlelap, sepertinya enggan sekali untuk membuka mata.


Arka memutuskan untuk membersihkan diri, masuk kamar mandi, lalu asyik dengan ritual mandinya itu. Setelah ritualnya selesai, Arka keluar dari kamar mandi, Arka mengeringkan rambut basahnya dengan handuk, lalu duduk di depan cermin rias di kamar tersebut.


Kalista mengerjapkan matanya perlahan, lalu matanya terbuka lebar. Ia menatap ke segala penjuru arah kamar, hingga matanya menangkap sesosok makhluk yang sedang duduk di depan meja rias.


"Bapak ngapain disini?" Kalista bertanya, karena kaget mengapa Arka berada di kamarnya?.


"Lu tidur kaya orang mati! Kebluk banget." Arka menatap Kalista dari pantulan cermin.


"Andy pesan kamar, tapi lupa nyebut 2 kamar. Cuma satu kamar, terus kamar yang lain penuh semua. Kalau lu mau pindah hotel, ya silahkan! Bawa barang-barang lu sekarang dan cari hotel yang kira-kira dekat dari sini."


"Lu pergi sendiri aja! Gue malas nganter! Lagian kan salah lu tidur kebo banget, coba kalau lu bangun dari sore, mungkin lu sekarang udah pindah hotel."


"Gue saranin sih lu tidur disini aja, satu kamar sama gue! Gue nggak akan macam-macam ko, lu tidur di kasur, biar gue tidur di sofa. Kalau lu pindah hotel, gue takutnya besok lu telat datang ke-acaranya Om Bayu, dan kemungkinan terbesarnya semua hotel telah penuh, karena undangan om Bayu sangat banyak." Arka berkata panjang lebar.


Kalista mulai jengah dengan semua penjelasan Arka, ia mulai berpikir haruskah satu kamar dengannya? Atau pindah hotel? Dipikir bagaimana pun juga seorang wanita tidak boleh satu kamar dengan pria yang bukan muhrimnya. Kalista memijit-mikit kecil keningnya, bukan karena jetlag nya belum hilang, tapi kali ini pusing karena harus satu kamar dengan Arka.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2