
"Hahahaha" Arka dan Andy tertawa terbahak-bahak, meledek Riko yang baru saja di tolak oleh Risa.
Bahkan Arka dan Andy diam-diam merasa kagum atas perubahan diri Risa, Risa yang lemah itu telah menghilang berganti menjadi Risa yang tegas dan sedikit galak.
"Biasalah wanita, Risa kaya gitu ke gue, karena Risa merasa malu. Wanita mana sih yang nggak malu ketemu sama orang yang pernah melihat tubuh mulusnya tanpa tertutup sehelai benang pun?" Riko berkata begitu seperti sedang menghibur dirinya yang baru saja di tolak mentah-mentah oleh Risa.
"Kalista nggak kaya gitu tuh! Kalista juga nggak malu ketemu gue, walaupun gue udah sering banget lihat tubuhnya tanpa penutup atau tanpa sehelai benang pun." Celetuk Arka dengan sangat santai.
"Kalau itu konteksnya beda bro! Kalian kan pasangan suami istri, yakali malu-malu." Riko memutar matanya jengah.
"Kalau Kalista malu-malu, nggak bakalan ada Nathan sama Nayla lah!" Celetuk Andy dengan mata mendelik.
"Ya tetap ada lah! Walaupun malu-malu tetap gue paksa, dia kan istri gue, sudah seharusnya melayani gue diatas ranjang maupun dalam rumah tangga yang lainnya." Ucap Arka sambil beranjak dari meja kerjanya, sekarang Arka menyandarkan punggungnya di sofa.
"Iya-iya, terserah atur aja gimana baiknya. Toh kalian yang berumah tanggakan? Bukan gue! Gue gimana mau berumah tangga, nggak punya pasangan, nggak punya pacar lah intinya. Padahal gue mau nikah tahun ini, nggak keren dong kalau gue nikah usia kepala tiga, ketuaan." Ucap Andy yang menghentikan aktifitasnya sejenak, jari jemarinya masih menempel diatas keyboard laptopnya.
Andy kembali teringat pada kata-kata yang Gina lontarkan. Kalimat sederhana tapi cukup menyakitkan hatinya dan harga dirinya.
Arka mendengarkan apa yang barusan Andy katakan, Arka juga mengamati perubahan wajah Andy.
"Terus lu gelisah, galau, merana gitu? Bro tolong deh, galau lu tuh di buat-buat. Masih ingat dengan wanita yang namanya Gina? Gue paham banget, Gina bilang gitu itu nggak sadar karena Gina dalam keadaan emosi." Riko menatap Andy dengan tatapan tajam, mata elang itu seperti akan menusuk atau mungkin menguliti Andy hidup-hidup.
"Gina berbicara seperti itu memang dalam keadaan emosi dan tidak sadar, tapi apa yang di ucapkannya itu muncul dan berasal dari alam bawah sadarnya. Pada intinya, Gina memang menginginkan sosok pria seperti itu kan? Gue cukup tahu diri, dan gue juga tahu gimana caranya berjalan mundur. Gue sih balik badan dulu, baru jalan." Ujar Andy, Andy memang tipe pria kalem tetapi sangat sulit untuk melupakan suatu hal.
"Kalau menurut gue sih, sebenarnya kalian berdua tuh sama-sama egois dan tidak ada yang mau mengalah." Kata Arka sambil menatap Andy.
"Iya tuh benar!" Riko menimpali dan membenarkan apa yang Arka katakan.
"Bukan masalah egois, tapi ini masalah hati. Kalian berdua mana tahu sih gimana sakitnya hati gue? Kalian berdua nggak mungkin berada di posisi gue. Gue sempat mikir, pencarian gue bakalan tamat di Gina. Gue nabung, kerja keras, berusaha dapatkan uang semaksimal mungkin. Gue udah siap nikah bulan ini juga, tapi dengan budget seadanya, kalau untuk acara sederhana gue mampu, mau teman princess tapi budget menengah gue bisa, tapi kalau minta princess bak istana di negeri dongeng dengan segala pernak pernik segala macamnya, beserta dayang-dayangnya yang harus memakai gaun senada dengannya, ya sudah juga. Budget gue nggak akan cukup, masih banyak yang lainnya juga deh." Ujar Andy secara detail, Andy berkata dengan jujur dan apa adanya. Karena Gina orangnya cukup sederhana, Andy sempat berpikir bahwa Gina mau menikah dengannya. Menikah dengan uang hasil jerih payahnya, namun ternyata Gina juga menginginkan sesuatu hal yang lebih.
"Lu tuh bisa, berusaha lagi deh." Riko menepuk bahu Andy.
"Iya bisa! Gue harus bekerja keras berapa lama supaya dapat membuat pelaminan bagaimana istana negeri dongeng? Keburu beruban dong gue." Sengit Andy, padahal Andy sedang berusaha move on dari Gina, tetapi Arka dan Riko selalu mendorongnya untuk balikan.
"Lu bisa! Dan dengan otak cerdas dan jiwa bisnis yang lu miliki, gue yakin banget sebenarnya lu udah punya planning untuk kedepannya. Gue juga tahu, lu nggak bakal diam aja kan ketika Gina ingin mencari pria tajir. Gue tahu ndy, lu sebenarnya sedang merencanakan sesuatu, tapi gue juga tahu, lu nggak akan buka mulut sekarang." Arka berkata tegas, sambil menatap Andy yang masih duduk di hadapan meja kerjanya.
"Tau deh, pusing gue." Ujar Andy dengan bibir mencebik.
Andy melanjutkan kembali pekerjaannya, sedangkan Arka dan Riko mengobrol santai. Tentu saja bukan sekedar mengobrol sesuatu hal yang unfaedah, Arka juga menasehati Riko. Menasehati sekaligus memberikan sebuah tips dan trik agar Risa bisa kembali menerima Riko.
Waktu terus berjalan, Arka dan Andy sama-sama sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Riko juga masih ada di kantor Anggara, dia memilih menunggu sampai jam ngantor usai. Kali ini Riko benar-benar serius ingin menjadikan Risa sebagai pendamping hidupnya, sebagai istri yang akan selalu di lihatnya ketika bangun tidur, namun Riko juga sadar diri dengan apa yang telah di perbuatanya, tentunya Risa bakalan agak susah untuk percaya dan bakalan susah juga untuk di dapatkan.
Riko sudah bertekad dan tidak akan menyerah, Riko juga tidak bisa menunggu hari esok. Maka dari itu, Riko memilih untuk rebahan di ruangan pribadi Arka yang ada di kantor ini. Riko membunuh waktu dengan main game, lalu tiba-tiba jarinya secara refleks malah melihat-lihat dekorasi wedding, tidak hanya sampai di situ saja, Riko juga membuka situs belanja online, Riko memasukkan banyak sekali barang-barang wanita ke troli. Rencananya Riko akan membeli semua itu untuk Risa, anggap saja sebagai hadiah, walaupun belum tahu juga Risa bakalan menerimanya atau tidak.
Jarum jam menunjukan angka 15:55 WIB, itu tandanya 5 menit lagi jam ngantor telah selesai. Riko bangkit dari rebahannya, sekarang dirinya mengambil kunci mobil dan langsung menuju ke parkiran. Dan langsung melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan gerbang kantor.
Arka dan Andy juga langsung membereskan semuanya, mereka bersiap-siap pulang. Jam pulang ngantor memang sangat di tunggu-tunggu oleh Arka, karena biasanya Kalista beserta dua buah hatinya tengah menunggunya di teras rumah.
Tepat ketika Arka dan Andy keluar dari ruangannya, ada Tiara, Risa, dan Gina sedang bersama dan beriringan.
"Pakai lift khusus CEO aja, lift karyawan lagi rusak." Ujar Arka dengan cuek, jari jemarinya sibuk dengan ponselnya, manik matanya juga sibuk menatap layar ponsel.
"Tidak usah pak, terimakasih. Kita bisa pakai tangga darurat saja." Ujar Gina dengan sopan.
Walaupun sebenarnya Gina juga sangat ingin menggunakan lift CEO karena tentunya ada Andy juga, tapi nggak mungkin langsung mengiyakan begitu saja.
"Iya kalian pakai tangga darurat saja, palingan nanti sampai di rumah kaki kalian langsung kaku. Yakin mau lewat tangga darurat saja? Ingat loh kalian pakai hells." Ucap Andy sembari terus melangkah menuju lift.
"Pakai lift saja, hemat waktu, lebih efisien, dan tidak capek." Ujar Risa dengan senyum mengembang.
"Yang otaknya berfungsi kayanya kamu doang sa." Ujar Andy sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Apa katanya barusan? Yang otaknya waras? Oh my God, Andy benar-benar menyindir Gina. Mimik wajah Gina langsung berubah drastis, merah padam. Gina juga sangat merasa kesal dan jengkel.
"Saya juga berfungsi pak, tapi saya nggak merespon karena jari jemari saya lagi terfokus ke ponsel." Ujar Tiara membela diri, tanpa sadar Tiara juga berarti beranggapan hal yang sama dengan Andy.
Dengan langkah gontai dan malas, akhirnya Gina juga ikut masuk ke dalam lift khusus CEO. Arka dan Andy membiarkan para gadis untuk masuk terlebih dahulu, kemudian mereka berdua juga ikut masuk. Arka membisikan sesuatu ke telinganya Andy, Andy beberapa kali mengangguk tanda mengerti. Para gadis hanya menatap dan memperhatikannya saja.
Mereka telah berada di halaman depan kantor. Yang membuat para gadis merasa aneh adalah Arka dan Andy terus berjalan di belakang mereka, padahal seharusnya Arka dan Andy mengambil mobilnya di parkiran.
Tiba-tiba Arka memegang lengan Risa dengan sangat kencang, daripada memegang mungkin lebih tepatnya mencengkram.
__ADS_1
"Ada pak?" Tanya Risa dengan bingung. Bukan hanya Risa yang bingung, Gina dan Tiara juga merasa bingung.
Andy dengan sigap langsung membuka pintu mobil Riko, lalu mempersilahkan Risa masuk. Andy berkata sangat lembut dan sopan, tetapi Risa tidak mau masuk. Dengan sangat terpaksa Arka dan Andy mendorong tubuh Risa agar masuk ke dalam mobil Riko. Terkesan memaksa dan sedikit kasar.
"Kunci dari dalam, biar aman dan Risa nggak kabur." Perintah Arka pada Riko.
"Siap." Riko mengacungkan ibu jarinya.
"Bicarakan baik-baik sampai tuntas, pokoknya harus kelar hari ini! Gue udah bantuin lu, pesan gue cuma satu, sekalipun Risa menolak, lu jangan kasar, jangan sakiti, dan jangan perkosa dia! Awas aja kalau lu mesum." Sarkas Andy, Andy takut Riko mesum di dalam mobil.
"Yakali." Ucap Riko sambil melajukan mobilnya. Riko sama sekali tidak memperdulikan Risa yang berontak di sampingnya.
"Tindakan kalian tuh salah! Itu namanya pemaksaan, gimana kalau Risa di lecehkan, atau di perkosa?" Teriak Gina sambil menatap tajam manik mata Andy.
"Emang ya cewe tuh ribet banget, apa-apa di bikin ribet. Untung saja Kalista berbeda, tidak ribet, dan tidak suka teriak-teriak kaya mantan lu." Celetuk Arka dengan gaya santainya, bahkan Arka langsung menarik lengan Andy untuk segera pergi ke parkiran.
"Sabar gin sabar, gue yakin kok ada hal penting yang harus kak Riko bicarakan, makanya dia sampai minta bantuan pak Arka dan Andy." Tiara mengusap punggung Gina seraya menenangkannya.
"Aaaaarrrrggghh, emosi gue tuh. Kenapa sih sekarang gue nggak dianggap? Omongan gue nggak pernah di dengar? Kenapa cuma Risa yang dibikin hubungannya membaik, gue juga mau." Emosi Gina masih naik turun, di ujung kalimatnya tersirat sebuah kepasrahan.
"Penyesalan itu datangnya memang selalu di akhir. Dan pak Andy juga terlalu menanggapi dengan perasaan, kalaupun nanti tidak berjodoh dengan pak Andy, pasti semesta memberikan jodoh yang semestinya kok." Ucap Tiara.
"Iya ra, ini semua juga salah gue kok. Waktu itu gue terlalu emosi dan tidak sadar juga dengan apa yang gue ucapkan. Menyesal banget sumpah deh." Manik mata Gina menyendu, terdapat aura kesedihan di sana.
Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Arka ingin segera sampai di rumah, bertemu dengan Kalista dan kedua buah hatinya. Arka juga tidak membunyikan klakson kepada pak security, dan biasanya Arka juga membunyikan klakson pada Gina dan Tiara yang masih berada di dekat gerbang.
Tin...tin
Kali ini Andy yang membunyikan klakson, menurunkan sedikit kaca mobilnya. "Ra, tunggu di sini. Evan kayanya mau jemput. Dia udah otw kok, mungkin bentar lagi sampai." Ujar Andy.
"Iya pak, makasih infonya. Tapi, kak Evan nggak kontek aku dulu, agak aneh gitu." Ucap Tiara sambil tersenyum.
"Mau ngasih kejutan kali, dia kan bucin, maunya romantis terus." Ucap Andy yang masih belum melajukan mobilnya.
"Nggak apa-apa bucin, apalagi romantis. Saya suka kok." Tiara tercengir menampilkan deretan gigi putihnya.
"Oh iya pak, saya nitip Gina dong. Tolong diantarin sampai di rumahnya." Pinta Tiara, Tiara baru ingat pada Gina, padahal tadi Tiara sudah berjanji akan pulang bareng dengan Gina.
"Nggak usah! Apaan sih, gue mah gampang." Gina buru-buru menyela, karena Gina tahu Andy pasti bakalan menolak.
Gina semakin merasa geram terhadap kelakuan Andy. Hubungan diantara mereka bukannya membaik malah semakin renggang dan semakin menjauh.
*****
Riko melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Sebenarnya Riko juga belum ada tujuan mau kemana? Apalagi sekarang Risa berisik banget, nggak bisa diam, dari tadi berontak terus. Beberapa kali Risa menggedor-gedor kaca mobil, Riko sangat was-was karena takut kaca mobil pecah dan melukai tangan Risa, dengan kondisi Risa yang seperti sedang di culik, tidak mungkin dong Riko membawanya ke kafe, atau mall, melewati jalan raya saja Riko tidak berani, karena takut dianggap menculik seorang gadis.
"Aku mau pulang!" Dengan napas yang terengah-engah Risa berkata begitu pada Riko.
"Iya sa nanti pulang, tapi ada yang mau gue omongin dulu." Jawab Riko, suaranya pelan dan lembut.
Salut juga sama Riko, dari tadi Risa berontak, berteriak, bahkan sempat memukul lengan dan pahanya. Tapi Riko masih sabar, bisa menahan emosinya, dan bahkan dia tidak berkata kasar sedikitpun.
Riko masih melajukan mobilnya, entahlah ini dimana? Nama tempatnya apa? Intinya tadi Riko telah melewati beberapa sawah, dan sekarang dirinya sedang berada di tengah jalan yang di kiri dan kanannya di penuhi dengan pohon Pinus.
Gelap dan mendung telah bercampur sehingga langit terlihat menghitam dan sedikit mengerikan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan menggelegar, kilatan petir yang berwarna merah keorenan seperti sedang membelah langit. Hujan turun dengan sangat deras, Riko mengehentikan laju mobilnya. Karena jalanan ini berada dekat dengan pohon Pinus, sehingga jalanan terasa licin, aja Riko merasa cemas jika harus terus mengemudi.
Risa nampak gelisah, duduknya tidak tenang. Kepalanya tertunduk, manik matanya sibuk menatap ke bawah. Sesekali tangannya terangkat menutupi telinganya.
"Sa." Riko memegang punggung tangannya, Risa terperanjat dan langsung menatapnya intens.
"Serem banget." Ucapnya, sesekali kepalanya bergerak ke kanan aja ke kiri seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"Di tutup aja gordennya." Ujar Riko.
Risa langsung menutup gorden jendela mobil yang di sampingnya, begitu juga dengan Riko. Setelahnya, Risa langsung menyandarkan punggunya ke kursi mobil, menghembuskan napasnya dengan tenang.
"Setelah hujan reda langsung anterin aku pulang ya." Pintanya dengan mata terpejam, hujan deras yang diserahi kilatan petir cukup membuat Risa ketakutan.
"Iya." Jawab Riko dengan senyum mengembang, tangan Riko sekarang sedang menggenggam erat jari jemari Risa, tidak ada penolakan dan Risa pun membiarkannya. Biarlah, toh genggaman Riko cukup membuat Risa merasa tenang, dan telapak tangannya terasa hangat.
"Sa, gue mau ngomong. Tolong dengerin ya." Ucap Riko.
__ADS_1
Risa mengangguk tanda setuju.
"Pertama gue mau minta maaf, soal kejadian buruk tentang kita. Gue minta maaf karena telah menjerumuskan elu ke jalan yang salah, pokonya gue minta maaf karena telah melecehkan elu...,"
"Udah di maafin kok, santai aja deh. Toh nggak sepenuhnya salah Kaka kan? Ini terjadi karena sebuah perjanjian, ibaratnya simbiosis mutualisme, sama-sama saling menguntungkan, walaupun pada kenyataannya aku memang mengorbankan sesuatu hal yang sangat berharga di diri aku." Risa menghentikan sejenak ucapannya, Risa perlu memasok oksigen terlebih dahulu.
"Tapi di balik semua kejadian itu, semesta masih memberikan keberuntungan. Awalnya aku memang malu karena kepergok sedang begitu dengan Kaka, aku malu pada sahabat-sahabat kaka, aku merasa setress dan depresi,, tapi ternyata mereka semua baik, mereka tidak memandang aku hina, tidak merendahkannya aku, dan bahkan Tiara dan Gina bisa menerima aku sebagai teman sekaligus teman kantor. Pertemuan kita memang salah, tapi aku bersyukur karena ada hikmah di dalamnya. Ada pak Arka yang yang baik hati telah sukarela memberikan aku kesempatan untuk merasakan bekerja kantoran, ada kak Evan yang berbaik hati membiayai pengobatan ayah, dan ada kak Andy juga, pokonya mereka semua baik-baik deh. Terimakasih kak, kenal sama aku jadi kenal sama mereka juga." Imbuhnya lagi, Risa juga tersenyum hangat pada Riko.
Senyuman yang Risa berikan ternyata membuat Riko terpana, Riko terdiam dan mentap intens tepat pada manik mata Risa.
"Sa, nikah yuk!"
Risa berusaha memastikan apakah telinganya salah mendengar? Risa bersusah payah menelan salivanya, sekali lagi Risa mencoba mencerna apa yang barusan Riko katakan? Kata-kata yang barusan Riko lontarkan terus mengiang-ngiang di telinganya Risa.
"Ngomong apa kak?" Risa bertanya kembali, sekali lagi saja Risa ingin mendengar dan memastikannya.
"Nikah yuk!" Riko kembali mengulangi ajakannya.
"Jangan bercanda deh!" Risa tersenyum geli, bahkan Risa juga tertawa kecil.
Riko menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Risa, mensejajarkan kepala Risa dengan kepalanya.
"Dengerin gue! Apapun yang akan elu dengar semuanya real dari hati dan berdasarkan perasaan gue! Sa, gue mau lu jadi istri gue! Gue jatuh cinta sama lu sa." Riko berkata dengan sungguh-sungguh, manik matanya menatap tajam pada manik mata Risa.
"Bohongkan?"
"Gue serius!"
"Kenapa bilang cinta? Kenapa ngajak nikah? Jangan bilang karena udah nggak kuat nahan nafsu, nggak ada aku jadi nggak ada pelarian? Jangan bilang cinta berdasarkan nafsu." Ketus Risa sambil mendelikkan matanya.
"Dulu gue memang salah, dulu gue memang memandang elu dengan penuh nafsu, tapi kali ini gue serius sa. Semua yang gue rasain tulus dari hati gue. Gue tahu dan gue juga sadar, nggak mungkin lu bisa percaya gitu aja. Tapi gue mau, lu pikirin sekali lagi. Gue mau nikah sama lu, gue mau lu jadi pendamping hidup gue, jadi ibu dari anak-anak gue. Kalau bisa nanti pas nganterin elu, gue mau ketemu dan ngobrol sama orang tua lu."
"Stop! Aku belum bisa mikir!" Risa memijat-mijat dahinya, Risa merasa ini terlalu singkat dan terlalu terburu-buru.
"Nggak usah di pikirin sekarang, tapi nanti coba pikirin ya." Ucap Riko sedikit memaksa.
Hujan masih deras, kilatan petir yang menyala-nyala masih menyiksa langit. Risa terdiam melamunkan apa yang baru saja Riko katakan, pikiran Risa melayang dan bercabang, banyak yang harus di pertimbangkan.
Tiba-tiba Riko mendengar suara sesuatu, Riko tersenyum kemudian tangannya sibuk meraih beberapa kantong kresek di kursi belakang.
"Laper kan? Nggak ada makanan berat sih, adanya cuma cemilan aja." Riko menyerahkan satu kantong kresek yang isinya berbagai macam cemilan.
Tanpa ba-bi-bu Risa langsung mengambil kantong keresek itu, membuka bungkusan cemilan yang bertuliskan keripik Maicih level 10. Risa nampak sangat menikmati keripik itu, sekarang bibir mungilnya telah berubah menjadi merah karena rasa pedas dari keripiknya.
Terjebak dijalan yang lebih tepatnya seperti hutan Pinus, dengan kondisi hujan deras yang diserahi kilatan petir, langit yang menghitam karena ini juga hampir magrib. Bisa berdekatan dengan Risa yang telah sekian lama menjauh, bisa mendengar suara Risa, bisa melihat ekspresi wajah Risa dari yang serius, senyum manis, marah, jengkel, kesal, bahkan teriakan Risa yang frustasi karena ingin keluar dari mobil. Sungguh Riko sangat menikmati suasana yang seperti ini.
"Uhuk.. uhuk.."
Riko terperanjat dan segera kembali menguasai dirinya, Riko langsung membuka tutup botol air mineral dan memberikannya pada Risa.
"Minum dulu sa, makannya pelan-pelan dong." Riko mengusap-usap tenguk Risa.
Risa tersedak keripik pedas, matanya berkaca-kaca, hidungnya merah, dan bahkan ingusnya sedikit meler.
Riko mengambil tissue, dan mengelap ingus Risa yang keluar dari hidungnya.
"Jangan kak, jijik tahu." Risa melotot, menurut Risa ingus adalah sesuatu hal yang masuk dalam kategori menjijikan.
"Udah diem aja deh! Tenang, gue nggak jijik kok."
"Jangan makan Maicih lagi deh, ganti aja cemilannya kan banyak. Sekalian suapin gue." Imbuhnya lagi, Riko juga tersenyum kikuk karena tahu Risa pasti menolak.
Dengan wajah jengah, akhirnya Risa mengganti cemilannya. Risa mengambil Snack jagung rasa balado, membuka bungkusannya lalu memasukkan kedalam rongga mulutnya, Risa juga menyuapi Riko. Tangan Riko kan kotor karena terkena ingus Risa, lagi pula ini cuaca sangat dingin dan udah hampir magrib, cacing di perut Riko juga pasti pada protes ingin asupan makanan.
Bersambung...
----------------------------------π»π»
Maaf jarang up, akhir-akhir ini author sakitπ
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€