SUN FLOWER

SUN FLOWER
PARFUM SIAPA?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 20:30 WIB, Arka belum pulang. Tadi sore Kalista menanyakan pada Andy, kata Andy Arka hari ini malah pulang lebih dulu. Saat ini Kalista sangat mengkhawatirkan Arka, Kalista mondar-mandir terus dari kamar sampai ke pintu utama, dirinya sudah seperti setrikaan saja.


Berkali-kali Kalista mengintip dari celah gorden, namun tanda-tanda kepulangan suaminya itu masih belum terlihat. Sekarang Kalista memilih duduk di sofa, menunggu kepulangan Arka.


Oma dan pak Anggara sepertinya sudah tertidur, tetapi entah lah mereka berdua sudah masuk ke kamarnya. Kalista terus menerus menghubungi Arka tetapi ponselnya tidak aktif.


Hati dan pikirannya tidak bisa tenang, rasa cemas dan khawatir selalu menyelimutinya.


Suara mesin mobil terdengar dari luar rumah, pak satpam dengan sigap langsung membuka pintu gerbang. Arka turun dari mobil dan langsung masuk. Ketika membuka pintu, Arka sangat kaget ketika mendapati Kalista yang tertidur sambil terduduk tepat di bawah pintu.


"Kok bisa?" Tanya Arka kepada pelayan yang sedang menghampirinya dengan napas terengah-engah.


"Itu tuan, tadi nyonya sepertinya sangat mencemaskan tuan, sudah dari sore nyonya mondar-mandir terus dari kamarnya sampai ke pintu ini, bahkan beberapa kali nyonya sepertinya menghubungi tuan. Saya sudah menyuruhnya untuk istirahat saja di kamarnya, tetapi nyonya menolak dan lebih memilih untuk menunggu kepulangan tuan. Tadi juga sudah saya bangunkan, tapi nyonya masih kekeuh nggak mau pindah ke kamarnya." Pelayan itu menjelaskan dengan suara gemetaran, bagaimana tidak gemetaran Arka bertanya sambil memberikan tatapan menyeramkan.


Tanpa banyak omong lagi, Arka segera menggendong Kalista ala-ala bridal style, memindahkannya dari depan pintu menuju kamarnya.


Arka membaringkan Kaista diatas kasur dengan sangat hati-hati sekali, Arka tidak ingin Kalista terbangun. Kecupan itu mendapat begitu saja di kening Kalista.


"Sosoan jutek, aslinya khawatir kan." Arka menyentil hidung Kalista dengan sangat gemas, tetapi tetap saja Kalista tidak terbangun karena tidurnya terlalu pulas dan nyenyak.


Arka berbaring di sebelah Kalista, memandang wajah istrinya. Berkompromi dengan hati dan pikirannya memikirkan kenapa sekarang hubungannya dengan Kalista menjadi renggang? Bahkan Arka merasa bersalah karena pulang kerja malah nongkrong dulu di kafe, sementara istrinya di rumah menunggu perasaan cemas, gelisah, was-was, dan sangat mengkhawatirkannnya.


Mata itu mulai lelah, perlahan dengan perlahan mata itu tertutup dengan sendirinya. Rasa lelah membuat Arkan gampang terlelap, bahkan tanpa membersihkan badannya, dan juga tanpa mengganti pakaian yang sedang di kenakannya.


Keduanya sudah terlelap bersama mimpinya masing-masing, suasana semakin sunyi hanya terdengar pergerakan jarum jam yang menempel di dinding, dan juga suara jangkrik di luar rumah.


Keesokan harinya, sesuatu hal yang kemarin kembali terulang. Tidak ada morning kiss, tidak ada sapaan, bahkan sampai saat ini Kalista masih menunggu Arka untuk meminta maaf padanya, perihal bentakan di kantor, dan kepulangannya yang super telat tadi malam.


Namun kenyataannya apa? Keduanya saling diam! Arka juga tidak peka terhadap kemarahan istrinya.


Arka di buat geram ketika melihat Kalista sudah cantik di pagi buta seperti ini "Ngapain dandan sih? Masih pagi juga, matahari aja masih ngumpet." Ujar Arka dalam hatinya, tangannya sibuk melilitkan dasi di lehernya.


Arka semakin geram ketika melihat Kalista sedang sarapan seorang diri, tidak menyiapkan sarapan untuknya, bahkan tidak menawarinya untuk sarapan. Di mata Arka, Kalista sekarang seperti orang asing. Bukan Kalista istrinya si cantik, manis, manja, perhatian dengan segala caranya. Kalista itu telah menghilang selama dua hari.


Arka menyiapkan susu untuknya sendiri, meneguknya sampai habis. Lalu berangkat kerja tanpa pamit dan kata. padahal ini masih pagi buta, dan belum ada kemunculan sang fajar.


Kalista menoleh, menatap punggung lebar yang biasa mendekapnya setiap malam. Suaminya tidak peka terhadap kesalahannya, sedangkan Kalista juga egois tidak mau menegurnya terlebih dulu.


Rasa sesak dan gemuruh di dadanya sudah tidak bisa di tahan lagi, laju air mata yang sudah membendung itu tumpah begitu saja membasahi pipinya. Matanya memerah dan terus menerus menetes, hidungnya merah. Punggung tangan Kalista berusaha menyeka dan menahan aliran air mata.


"Pagi-pagi sekali sudah sarapan? Bayi di perutmu seperti kelaparan ya?" Oma menghampiri Kalista, suaranya terdengar sangat ramah.


Kalista segera memalingkan wajahnya, tidak mungkin dirinya memperlihatkan kondisi wajahnya saat ini. "Iya lapar banget Oma, Kalista masuk kamarnya Oma, nggak enak badan." Ucapnya, jalannya menyamping sehingga wajahnya tidak terlihat oleh Oma.


Terdengar dari suara Kalista, Oma menyadari bahwa Kalista habis menangis. "Kalian sudah dewasa, Oma yakin kalian bisa menyelesaikan masalah kalian, semoga kalian berdua tidak sama-sama egois!" Oma bergumam dalam hatinya.


"Ya Allah tolong perbaiki hubungan rumah tangga cucuku dan istrinya." Imbuhnya lagi, Oma berdoa, meminta kepada sang maha kuasa.


"Tadi malam Arka pulang nggak?" Tanya Oma pada pelayan, karena Oma tidak mengetahui kepulangan Arka, bahkan pagi ini saja Oma sudah tidak mendapati batang hidung Arka di rumah ini.


"Pulang nyonya, nyonya muda bahkan sampai ketiduran di depan pintu karena menunggu tuan pulang." Jawab pelayan sesuai dengan apa yang di ketahuinya.


"Ketiduran? Kamu tahu menantu saya ketiduran tapi tidak kamu bangunkan?" Oma menatap pelayan itu dengan tatapan galak.


"Sudah saya bangunkan nyonya, tetapi nyonya muda tidak mau pindah ke kamarnya, katanya mau menunggu kepulangan tuan Arka. Nyonya muda sangat mengkhawatirkan tuan Arka nyonya." Pelayan itu menjelaskan dengan kepala tertunduk.


"Lalu?"


Ya ampun Oma sedang mengintrogasi pelayan dengan pandangan mata tajam dan menusuk.


"Setelah tuan datang, tuan langsung menggendong dan memindahkan nyonya ke kamarnya. Pagi ini juga tuan dan nyonya sama sekali tidak saling menyapa, tuan mengabaikan nyonya yang sedang sarapan, sehingga nyonya menangis sedih. Maaf nyonya besar, saya mengetahui semua ini, bukan maksud saya untuk mengintip, hanya saja saya khawatir dengan keadaan nyonya, nyonya kan sedang hamil dan itu sangat tidak baik untuk moodnya dan untuk janinnya juga." Pelayan tetap saja berkata panjang lebar dengan kepala tertunduk, terlalu segan dan tidak sopan jika menatap manik mata nyonya besar.


"Bagus! Tetap perhatikan menantu saya dari jauh." Oma menepuk punggung pelayan itu, senyum manis kini mengembang di pipinya.


Kalista di kamarnya masih terus saja menangis terisak-isak, ini untuk pertama kalinya dalam menjalani rumah tangga mereka saling berdiam mengabaikan, tidak bertegur sapa lewat dari satu hari.


KALISTA (POV)


Rasa sayang dan cinta untuk suami gue semakin bertambah dan tidak akan berkurang sedikit pun. Selama seminggu babymoon sekaligus honeymoon di Bali, suami gue tercinta Arkana William Anggara sangat-sangat memanjakan gue. Apapun yang gue inginkan selalu di penuhinya.


Suami gue memang selalu the best dengan segala perlakuan dan perhatiannya, pengertian juga. Walau kadang-kadang sebal juga sih karena suami gue itu mesum, tapi gue suka.


Banyak momen yang tercipta di Bali, apalagi honeymoon nya. Memang benar-benar real honeymoon, karena waktu itu kita gagal honeymoon. Dan ternyata honeymoon ketika perut sudah isi juga menyenangkan.

__ADS_1


Dan yang paling membahagiakan adalah ketika maternity shoot, Arka benar-benar menuruti semua keinginan gue. Semua tema yang gue mau, di turutinya. Bahkan si suami gue itu sampai memanggil desainer profesional yang karyanya selalu boming dan melejit, padahal itu sudah larut malam. Orang mungkin bilangnya "Wajar, dia kan banyak duit. Lagi pula CEO dari perusahaan terkenal, desainer mana berani menolaknya." Oke gue akui itu memang benar, tetapi suami gue memberikan upah yang setimpal ko. Bahkan mungkin diatas rata-rata, tenang saja suami gue bukan tipe orang yang cuma memanfaatkan kinerja dan kemampuan doang. Kedisiplinan intinya yang paling utama, jika kinerjanya bagus maka bayarannya juga lebih tinggi lagi, plusnya bisa dapat bonus. Lagi pula meraka happy kok bisa bekerjasama dan terlibat dalam pembuatan baju maternity ini.


Tidak hanya desainer, Arka juga langsung menghubungi photographer kelas tinggi, Maternity Organizer, MUA hits terkenal dan profesional, serta hair stylist. Dan Arka juga langsung membooking beberapa tempat yang di jadikan lokasi untuk babymoon. Sebenarnya tempat-tempat itu tidak kosong, apalagi hotel Cara Cara Inn, tetapi Arka dengan segala caranya mampu membooking tempat-tempat itu.


Maternity berjalan lancar, dan berjalan sesuai rencana. Sebelum pulang suami gue itu mentlaktir orang-orang yang telah berjasa dalam mensukseskan maternity ini. Ini cuma makan biasa, sebagai bentuk dan rasa terimakasih kami kepada mereka.


Intinya banyak sekali momen yang tercipta selama di Bali. Dan yang paling berkesan dan tak terlupakan adalah ketika suami gue melakukan surfing, benar-benar membuat gue sport jantung. Suami gue itu menjadi topik utama yang paling hot di kalangan wanita-wanita yang sedang santai di pinggir pantai. Awalnya gue sempat insecure, karena wanita-wanita yang memperbincangkan Arka adalah wanita-wanita seksi berbikini dan mempunyai body bagus.


Ketika suami gue melakukan surfing, gue menikmati keindahan secret beach, dan menikmati pesona alam di sekitar pantai ini. Duduk di tepi pantai, meminum air kepala muda sambil memperhatikan sang suami sedang berlaga diatas ombak.


Nggak nyangka gue tuh, sungguh nggak nyangka. Ketika badan sedang bengkak alias berbadan dua kaya begini ternyata masih ada yang menggoda dan mengajak berkenalan, mulai dari pria lokal maupun mancanegara. Tidak heran sih, karena memang gue ini cantik dan mempesona.


Lalu gue?


Sorry gue nggak tergoda, gue nggak doyan bule haha. Gue punya suami cakep, tampan, tajir melintir, apa sih yang harus gue cari lagi? Seumur hidup gue hanya akan setia pada Arka seorang. Celotehan para pria ganjen itu sama sekali tidak gue tanggapi, gue mengabaikannya begitu saja.


"Wow, that is awesome!"


"Looks cool, and so beautiful."


"The man should be mine."


Gue?


Masih sibuk menikmati air kelapa muda sambil bermain ponsel.


"Gila-gila parah itu keren banget!"


"Body nya gila nggak masuk akal, cakep banget. Roti sobek gue."


Apaan sih para wanita ini? Kenapa heboh banget? Setampan apa sih pria yang sedang mereka bicarakan itu? Lebih tampan dari suami gue atau lebih tampan dari oppa Korea?


Gila guys, gue kaget sekaget-kagetnya. Ternyata pria tampan yang sedang menjadi buah bibir mereka adalah suami gue sendiri. Gedek banget gue, merasa kesal dan jengkel.


Pantas saja mereka semua bersorak genit. Ternyata suami gue terlihat sangat mempesona. Bermain surfing menari-nari diatas ombak, spotnya pas banget. Aksinya begitu lincah dalam menaklukan ombak, bangun dan berdiri di lakukannya dengan sangat indah. Gue aja ngilu dan ngeri menyaksikannya, tapi ciwi-ciwi itu malah semakin memperhatikan Arka.


Gerakan Noseriding, KickFlip, Ariel Moves, Tube Ridding di lakukannya dengan sempurna. Semuanya menjerit-jerit menyaksikan suami gue, sedangkan gue ngerasa sport jantung, atau bahkan jantung gue berasa mau copot. Tolong!


Menari diatas ombak dengan bertelanjang dada, punggung lebar dan bahu kekarnya itu terlihat sangat atletis dan mempesona, di tambah lagi perut kotak-kotak yang sangat menggiurkan iman kaum hawa. Begitulah, tidak heran kenapa semua wanita itu sangat terpesona dan tergila-gila pada suami gue.


"Hi, gila kan benar ini orang cakep benar dah." Wanita berbikini hitam menatap Arka intens, suaranya genit, bahkan bahasa tubuhnya sangat menggoda.


"Arka." Gue kaget banget ternyata si wanita berbikini merah mengenali suami gue. Dalam hati gue mikir "wah bahaya nih!"


"Gue Ashila, teman SMA lu, ingat nggak? Yakali lupa lu kan waktu SMA ngebet banget pengen jadi pacar gue."


Oh my God! Wanita si bikini merah yang namanya Ashila itu benar-benar sangat kepedean sekali. Mukanya terlihat sangat sumringah, ucapannya sangat renyah, sepertinya dia sangat terpesona oleh ketampanan Arka, apalagi sekarang rambutnya sedang basah dan berantakan, semakin menambah kesan handsome nya.


Intinya sih suami gue sama sekali tidak tergoda, yang ada juga kayanya jijik banget sama wanita yang namanya Ashila itu. Dari percakapan mereka gue bisa menyimpulkan, dulu Ashila selalu pilih-pilih teman, terutama pilih-pilih pacar, sombong karena anak orang kaya, suka merendahkan orang lain yang kastanya rendah, dan membuly orang-orang miskin.


"Body lu yang rata kaya gitu, cuma modal dada gede doang sama sekali tidak ada apa-apanya di banding istri gue."


W O W suami gue berkata dengan lantang, satu kalimatnya itu cukup membuat hati gue berbunga-bunga. Wanita mana yang tidak bahagia ketika suaminya sendiri membanggakannya di depan wanita yang pernah di cintainya.


Setelah surfing, kita kembali ke villa. Istirahat, karena besoknya kita pulang. Tapi sebelum pulang wajib kudu harus shopping dulu, lebih utamanya beli oleh-oleh. Tibalah hari esok, ternyata gue hampir saja melupakan salah satu keinginan gue, yaitu berwisata ke kebun jeruk kintamani. Ini ngidam parah, dari dulu sebelum hamil wkwk. Karena lihat dari vlognya selebgram Bali.


Setelah puas berada di kebun jeruk kintamani, memetik buah jeruk dan langsung di makan di situ. Akhirnya mutuskan untuk membeli oleh-oleh.


Lagi-lagi di pasar juga ketemu Ashila, lengkap dengan Hilda si parasitnya. Gue nggak habis pikir sama Ashila, sudah di tolak mentah-mentah dan di rendahan sama suami gue, tetapi tetap saja dirinya masih berusaha menggoda. Benar-benar urat malunya sudah putus. Bahkan dengan pedenya dia bilang kasih kesempatan untuk jadi pacarnya, dengan catatan dan syarat Arka harusnya menceraikan gue.


Pengen banget gue teriak ke telinganya. "H E L L O W, LU SIAPA?" Suami gue aja sampai jengah, jengkel, dan bergidik ngeri.


Tanpa aba-aba apapun, Arka langsung saja menjejalkan lidahnya ke mulut gue. Bercumbu dengan mesra di hadapan Ashila dan Hilda. Padahal ini di pasar, emang benar dah suami gue itu mesumnya tingkat dunia.


Selesai sudah babymoon sekaligus honeymoon ini, selama seminggu di Bali benar-benar merasakan kasih sayang, serta kehangatan dari seorang suami. Suami yang sangat siap siaga dalam segala kondisi.


Setelah pesawat landing, ternyata pak Jaka menjemput dan sudah ada di depan bandara. Kita langsung pulang, karena badan ini terasa lelah dan lemah, tidak ada membersihkan badan, pokonya begitu sampai rumah kasur langsung menarik diri gue ini untuk segera rebahan, bahkan sampai tertidur pulas.


Pagi-pagi sekali suami gue sudah bangun, gue kira dia tidak ngantor untuk hari ini. Secara gitu gue aja masih lelah, tak berdaya tanpa tenaga, dan enggan untuk membuka mata. Dia malah bersiap ke kantor, gue titipkan oleh-oleh untuk ban bemo.


Permasalahan sesungguhnya muncul ketika h+1 kepulangan dari bali. Pelayan bilang Arka tidak sarapan, dan langkahnya terlihat buru-buru sekali. Jadi gue berinisiatif untuk membawakan makanan, gue sempatin gue yang masak, bukan pelayan! Karena gue cukup khawatir dengan perutnya, seharian kemarin cukup melelahkan, apalagi sekarang tugas kantor pasti numpuk. Suami gue nggak boleh telat makan, gue takut dia sakit.


Makanan yang sudah matang segera di masukkan ke kotak makan Tupperware. Tiba-tiba datang dokter Rian dan dokter Fani, bertamu dan membawakan oleh-oleh. Mereka berdua baru pulang dari honeymoon. Mereka tidak lama, karena masih ada tugas di RS. Akhirnya gue nebeng mobilnya deh, ya sekalian aja gitu soalnya satu arah.

__ADS_1


Mobil telah sampai, perjalanan sama sekali tidak terasa karena gue melamun. Langkah kaki ini gue seret memasuki kantor Anggara, resepsionis dan beberapa karyawan menyapa ramah. Resepsionis itu juga mengatakan bahwa suami gue sedang memimpin rapat.


Gue lebih memilih menunggu di ruangannya, begitu masuk gue langsung mengamati meja kerja suami gue. Benarkan dugaan gue, sejumlah dokumen dan berkas-berkas penting menggunung di mejanya.


Setelah beberapa menit, Andy dan Gina masuk. Gina mengatakan Arka masih di ruang rapat, sedangkan Andy hanya tersenyum sekilas.


Tidak berselang lama, pintu kembali terbuka. Terlihatlah wajah suami gue yang kusut, guratan wajahnya memperlihatkan bahwa suami gue kecapean, bahkan ditangannya saja terdapat setumpuk dokumen.


"Kamu ngapain kesini? Nggak bisa tunggu di rumah aja? Suami kamu itu lagi sibuk kerja."


Arka? Suami gue yang sangat menyayangi dan memanjakan gue. Tiba-tiba berubah menjadi seperti orang asing, dia bahkan berani membentak gue di depan Andy dan Gina.


Mata ini terasa sangat panas, mungkin air mata juga sudah memberontak ingin keluar dan menetes berjatuhan. Bentakannya terus menerus terngiang-ngiang sangat jelas di ingatan. Iya gue tahu, dia lagi banyak kerjaan. Tapi, emang nggak bisa di omongin baik-baik? Kenapa harus membentak sih? Hati ini sangat terasa sakit, bahkan seperti luluh lantak begitu saja.


"Bawain makan? Nggak perlu! Disini banyak kantin, aku tinggal beli! Aku bisa sendiri!"


Nada bicaranya masih meninggi, sorotan matanya menatap gue tajam. Kemudian dia pergi ke kamar, diikuti oleh Andy untuk mengerjakan dan mempelajari dokumen-dokumen itu, intinya kerjanya di ruangan itu.


Niat baik gue hari ini sama sekali tidak di hargai. Sayang sekali, padahal udah sempat-sempatnya masak. Bisa sendiri kan? Oke kita lihat saja! Dari sini lah awal mulanya keretakan rumah tangganya muncul.


Walaupun gue udah di bentak, gue juga malah berinisiatif membantu kerjaan suami gue. Semua dokumen dan berkas yang menumpuk di mejanya gue kelarin semuanya, bahkan gue pulang ke rumah hampir magrib.


Pulang naik taksi online, malah kepergok Oma dan ayah. Dicecar beberapa pertanyaan, untungnya masih bisa beralibi. Maafkan aku tuhan, aku telah berbohong kepada Oma dan ayah mertuaku.


Sudah malam, tapi suami gue masih belum pulang. Gue positif thinking dong, mungkin kerjaannya masih belum kelar. Maklum ditinggalin selama seminggu. Dan gue masih menunggu itikad baik dari Arka, minimal minta maaf dan mengakui kesalahannya.


Namun mata ini telah lelah, sehingga tertidur sebelum Arka pulang.


Ketika bangun pagi, dan menoleh ke sisi kasur. Suami gue ternyata ada, juga sudah membuka matanya, hanya saja masih rebahan. Tidak ada sapaan, dan ternyata tidak meminta maaf juga. Kesal sendiri kan gue, yaudah langsung mandi setelah itu bersolek cantik di depan cermin rias. Tidak ada mempersiapkan baju kerja, dasi, sepatu, dan lainnya. Dia kan bisa sendiri! Dia nggak butuh gue.


Tidak ada siapkan sarapan, ataupun membuatkan segelas susu. Pokonya biarkan saja, dia bisa dan mampu melakukannya tanpa gue! Kemarin ngebentak begitu kan?


Malu sebenarnya diam-diaman dan tidak saling sapa, apalagi Oma dan ayah kayanya memperhatikan dan cukup peka juga.


"Kok nggak enak? Ini beda." Ucapnya setengah berteriak, kemudian meletakkan kembali gelas susu itu diatas meja.


Nah kan beda? Emang ada yang lebih paham dari gue? Pelayan saja tidak bisa menyamakan susu buatan gue. Sorotan matanya menatap gue tajam, tapi gue sih cuek aja. Ngapain sih? Kan bisa sendiri!


Oma dan ayah memilih menyelesaikan serapan dengan cepat, kemduain pamit undur diri lebih dulu. Di meja makan ini hanya ada gue dengannya, gue sangat berharap Arka meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Hening, tiba-tiba dia buka suara, tapi bukan suara permintaan maaf. Sakit sekali rasanya hati ini, suami sendiri saja tidak meminta maaf setelah membentak di depan Andy dan Gina.


Dia mengatakan mau berangkat kerja, gue nggak peduli! Sekali lagi dia mengatakan mau berangkat kerja, gue tetap nggak peduli! Yang gue mau hanya permintaan maaf dari lu!


"Bruuuuuuuuk." tangannya menggebrak meja dengan sangat kencang. Kakinya menendang kursi, kemudian pergi berangkat kerja dengan wajah kesal dan jengah.


Satu hari sudah berlalu, permintaan maaf tak kunjung datang. Oke semesta gue kuat!


Waktu menunjukan pukul 20:30, suami gue belum pulang. Walaupun hubungan kita lagi renggang, tetapi tetap saja yang namanya hati dan perasaan tidak bisa di bohongi. Gue merasa cemas dan khawatir, takut dia kenapa-kenapa. Ponselnya tidak aktif, kata Andy bahkan hari ini Arka pulang lebih dulu.


Lantas kemana perginya suami gue? Hati yang gelisah tidak bisa hanya menunggu dan berdiam diri, gue bolak-balik dari kamar sampai ke pintu utama, mau cari keluar tapi takut Oma dan ayah marah, apalagi gue sedang berbadan dua.


Satu jam, dua jam, Arka masih tidak menampakan batang hidungnya. Mata ini mulai lelah dan tertidur di depan pintu utama.


Ketika bangun, ternyata sudah pagi. Dan ini gue tidur di kamar, oke gue paham mungkin Arka yang pindahin gue. Keduanya saling menatap sekilas, masih tetap saling diam dan tidak saling menyapa.


Eh tunggu, indera penciuman gue sangat tajam. Gue mencium bau parfum wanita yang sangat menyengat, dan bau parfum itu sepertinya berasal dari baju yang Arka kenakan, karena Arka masih menggunakan pakaian kerja tanpa menggantinya sebelum tidur.


Gue mandi dengan air mata yang berderai, tangis gue pecah dan terisak-isak. Pikiran gue kacau! Wangi parfum siapa? Apa iya suami gue berselingkuh? Tuhan, gue tidak bisa menerima kenyataan ini.


Setelah memastikan mata gue tidak terlalu bengkak karena habis menangis, gue segera menyudahi ritual bersih-, sedih ini. Keluar dari kamar mandi, mengganti pakaian, lalu kembali bersolek. Dengan hati dan pikiran kacau seperti ini, sebenarnya gue malas banget make up'an, cuma ya demi menyamarkan mata bengkak. Nggak lucu kan kalau ketahuan Arka, Oma atau ayah.


Di pagi buta seperti ini, sepertinya oma dan ayah belum keluar kamar. Gue memutuskan untuk sarapan lebih dulu, agar tidak bertemu Oma dan ayah. Gue takut mata bengkak ini ketahuan.


Arka menatap gue sangat tajam, kemudian dia membuat susu untuknya sendiri, meneguknya sampai habis. Lalu pergi berangkat kerja di pagi yang masih buta ini.


Sudah dua hari berlalu, itikad baik itu sama sekali tak kunjung datang. Sorotan mata ini masih saja memperhatikan punggungnya yang kian menjauh dan menghilang. Detik ini juga gue sangat berharap, suami gue itu membalikkan badannya dan meminta maaf. Namun, nihil!


Rasa sesak di dada ini sudah sangat menyakitkan, mata terasa panas dan tidak bisa menahan lajunya genangan air itu. Menangis terisak di depan meja makan, sakit sekali hati ini seperti ada ribuan belati yang menancap. Otak ini terus saja bertanya-tanya parfum siapa?


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2