
Seorang guard segera berlari ke dalam mansion dan tak lama beberapa maid membawa mangkuk yang diminta. Vino mengisi mangkuk-mangkuk itu dengan biji bunga matahari dan memerintahkan para maid dan guard untuk memasukannya ke dalam tanah seluas lahan yang sudah tersedia.
Tak berselang lama, biji bunga sudah tertanam dengan sempurna. Para maid dan guard berbagi tugas menyiram biji dan memasukan urea kedalam tanah. Berkebun selesai setelah matahari meninggi. Vino membawa kembali stoples yang berisi dua pertiga lagi biji bunga ke dalam kamarnya.
"Apa tuan punya pabrik kuwaci di Indonesia??" gumam salah satu maid.
"Mungkin.. Tapi, kalau melihat pohon bunga mawar itu, sepertinya bunga matahari ini pun menggambarkan kekasih hatinya" tebak maid yang lain
Merasa Vino sudah meninggalkan halaman, para maid asik membicarakannya. Menebak-nebak gadis seperti apa yang digambarkan bunga ini.
Vino selesai membersihkan diri dari keringat yang memenuhi tubuhnya. Ia terlihat lebih segar dengan stelan formalnya. Para maid tidak bisa berhenti mengagumi ketampanannya, bahkan ada yang bermimpi menjadi "bunga matahari" itu.
Mike menghampiri Vino yang tengah makan, bersama seorang pemuda dengan kacamata besar di wajahnya. Meski besar, kacamata itu terlihat lebih elegan di wajah pemuda itu.
"Tuan.." ucap Mike dari belakang Vino
Vino menghentikan sarapannya dan menoleh ke arah Mike. "Ada apa??" tanyanya dengan mode datar
"Ini, tuan.. Saya membawa keponakan saya yang baru lulus kuliah jurusan manajemen.." ucap Mike
Vino melanjutkan sarapannya yang tinggal beberapa suap. "Lalu??"
"Saya membawanya ke sini untuk menjadi sekretaris tuan, tuan.." jelas Mike
Vino menyelesaikan makannya dan meminum air lalu mengusap mulutnya dengan tisu. Meski gerakan biasa, tapi begitu elegan ketika Vino yang melakukannya.
"Bagus.. Apa aku bisa mempercayainya??" ucap Vino
"Tentu, tuan.." ucap pemuda itu semangat. "Em.. Nama saya Thomas, panggil saja saya Tom.." ujar Tomas
"Berpengalaman jadi sekretaris?" ucap Vino
"Saya magang menjadi asisten manager saat sebelum kelulusan" jelas Thomas
__ADS_1
Vino berdiri dan membenarkan jas nya. "Sudah sarapan?" ucapnya
"Haa?? Su.. Sudah, tuan.." Thomas tercengang dengan pertanyaan bos barunya. Bagaimanapun dia khawatir karena dia berkerja tanpa interview terlebih dahulu.
"Baiklah.. Pelajari ini.." Vino menyerahkan tab kepada Thomas. Thomas segera meraihnya dengan gugup. "Kerja mulai sekarang.. Surat kontrak menyusul" ucap Vino
Thomas mengangguk dan mengikuti Vino ke perusahaan.
*
"Berita terkini.. Beberapa orang berpakaian lengkap berwajah asia memasuki perusahaan Stevenson Company.. Benarkah perusahaan ini akan pemindahan kekuasaan..?? Tapi siapakah yang melakukan ini? Sementara pemilik perusahaan tidak ada yang berkerja? Benarkah Alex sudah kembali??" ucap seorang presenter cantik membacakan berita di layar kaca, dilanjutkan dengan jurnalis menjelaskan apa yang tengah terjadi di Stevenson Company.
Walt yang tengah duduk di dalam jeruji besi segera menghambur ke tralis dan menyaksikan berita dari tv milik sipir.
"pemindahan kekuasaan?? Apa bank mengambil alih kepemilikan? Atau pemegang saham tertinggi yang melakukan? Mengapa tidak ada yang datang ke keluarga Stevenson??" gumam Walt. "Apa mungkin Vino? Apa mungkin dia mau melakukan itu? Dari kecil dia tidak pernah tertarik pada perusahaan.. Bahkan aku tidak pernah mendengar kabar mengenai perusahaan kakek di Indonesia.. Alex tidak mungkin" gumam Walt lagi
Walt terus menebak kemungkinan demi kemungkinan, tapi otaknya lagi-lagi membantah setiap kemungkinan itu. Alex dan Vino ada di Asia, kemungkinan nya besar jika mereka yang melakukan. Tapi jika memang mereka, mengapa tidak ada yang membebaskan dia??
Sementara di rumah sakit, Rachel menatap nanar berita itu. Rachel segera membereskan barangnya dan bersiap pergi ke perusahaan. Bagaimanapun, dia masih hidup dan masih bisa berjalan, mengapa ada orang yang berbuat sesuka hati ke perusahaannya?
Akhirnya Rachel menghabiskan waktu 30 menit di jalan dari yang seharusnya 10 menit. Rachel buru-buru memasuki gedung pencakar langit yang berwarna biru karena kaca yang memantulkan bayangan langit. Rachel mrnggunakan lift khusus direksi ke lantai paling tinggi. Setelah tiba di sana, Rachel langsung bergegas ke pintu Ceo.
"Tunggu.. Nyonya..!! Anda ada perlu apa dengan Ceo??" ucap Tom menghentikan Rachel
"Kamu siapa??" ucap Rachel sembari menyipitkan matanya
"Saya Thomas, saya sekretaris baru di perusahaan ini.." jawab Tom dengan sopan
"Kemana sekretaris lama?" ucap Rachel lagi
"Mereka sudah di pecat karena meninggalkan pekerjaan di saat ceo tidak ada.." jelas Tom
"Saya mau bertemu Ceo.." ucap Rachel dengan ketus
__ADS_1
"Apa nyonya sudah membuat janji??" ucap Tom
"Saya Rachel Stevenson, istri Austin Stevenson,, apa perlu membuat janji untuk masuk ke ruang Ceo??" Rachel kehilangan kesabaran karena stress yang terus menekannya.
"Baiklah.. Mari saya antarkan.." ucap Tom
Tok tok tok
Tom mengetuk pintu ruangan Vino dan membukanya setelah mendengar izin dari dalam. Ketika pintu dibuka, pemandangan pertama yang dilihat adalah Vino yang tengah memegang alat siram tanaman dan menyiram pot-pot besar di dekat jendela.
"Vino..!?" ucap Rachel lirih
Vino menoleh dan mendapati seorang perempuan paruh baya dengan kerutan di wajah lebih banyak tanda sudah lama tidak di rawat dan ditekan stres yang berat.
"Ma..!" ucap Vino santai seolah setiap hari bertemu
Rachel melepas tasnya hingga jatuh ke lantai dan menghambur ke pelukan Vino dan menumpahkan air matanya di sana. Vino meletakan penyiram tanaman di meja dan menginstruksikan Tom untuk keluar dan balas memeluk mamanya.
Cukup lama Rachel menumpahkan bebannya. Meski seorang sosialita, Rachel sangat manja. Vino hanya mengelus punggung Rachel berharap agar wanita ini tenang.
"Kenapa kamu tidak memberi kabar kalau kamu sudah di New york?? Tidak taukah kamu? Mama sangat putus asa dan tidak tau bagaimana cara menjalani hidup" rengek Rachel dengan terus erat memeluk Vino
"Vino sibuk di perusahaan.. Vino gak sempat pergi kemanapun" jawab Vino santai.
Cukup lama Rachel menangis, setelah merasa lebih baik Rachel melepas pelukannya. Vino menuntun Rachel duduk di sofa.
"Mengapa kamu tidak pernah menghubungi kami? Mengapa kamu gak pernah pulang?" ucap Rachel kesal
"Aku punya kerjaan di sana, ma.. Setiap hari sibuk.. Perusahaan kakek yang sudah hampir bangkrut, aku selamatkan.. Dan aku harus berkerja keras agar perusahaan itu terus beroprasi" ucap Vino
"Setidaknya pulang beberapa kali,, atau beri kabar.. Jangan terus mengabaikan kami.." rengek Rachel
Tok tok tok
__ADS_1
Pintu ruangan Vino kembali di ketuk dari luar menginterupsi percskapan Vino dan Rachel.