SUN FLOWER

SUN FLOWER
PERETAS HANDAL


__ADS_3

Di sebuah kafe Marcelino terlihat sangat gusar, tangannya menggenggam ponsel. Sesekali umpatan-umpatan kasar keluar dari mulutnya.


Marcelino kembali lagi menekan salah satu nomor yang akan di hubunginya, namun orang tersebut tak kunjung menjawab panggilannya.


"Sialan! Brengsek! Kemana bocah tengik itu?" Ucapnya sambil memukul-mukul pelan meja di kafe tersebut, giginya menggertak.


30 menit kemudian datanglah Yoora dan Randy. Mereka berdua berjalan beriringan, kekehan-kekehan keluar dari mulutnya. Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Sorry telat!" Tanpa rasa bersalah sedikit pun Randy langsung duduk begitu saja di hadapannya.


"Kalian tahu nggak sih? Gue udah nunggu lama di sini." Geram Marcelino, wajahnya terlihat seram.


Yoora memandangnya sebal, mendelikkan matanya jengah "Nggak usah marah-marah! Ingat umur! Tua bangka!" Sarkas Yoora.


Marcelino semakin di buat geram oleh ucapan gadis berkebangsaan Korea itu. Mulutnya ceplas ceplos ringan, asal ngomong begitu saja tanpa di pilah dan di pilih atau mungkin tanpa filter.


"Hari ini kita bahas mengenai rencana kita untuk menculik istrinya si Arka." Marcelino berbicara dengan terang-terangan, bahkan banyak orang yang sedang berada di kafe itu langsung menoleh kepadanya karena mendengar kata 'menculik'


Randy memandang Yoora sekilas, mengedikkan bahunya, lalu menatap Marcelino "Atur aja dah! Gue mending bagian eksekusi."


Randy memang tipe pria yang malas-malasan, wajar saja perusahaannya sampai di akuisisi oleh Arka, toh kepribadian Randy nya saja begitu. Acuh tak acuh, tidak peduli. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya banyak duit atau kaya raya.


"Ya elu juga bantu mikir!" Sarkas Marcelino sambil menendang kaki Randy.


"Berisik lu pak tua! Gue udah ada rencana! Dan gue yakin ini akan berhasil, nanti kalau Kalista sudah ada di tangan gue, gue hubungi kalian berdua." Yoora tersenyum membayangkan rencananya itu.


Randy dan Marcelino langsung mengarahkan pandangannya, berfokus pada Yoora. "Rencana apa?" Tanyanya berbarengan.


Alih-alih bukannya menjawab, Yoora malah hanya tersenyum sumringah. Beberapa detik kemudian barulah mulutnya terbuka "Sesuatu! Yang jelas ini sangat-sangat spesial, bahkan Arka pun akan murka."


Senyum kemenangan mereka tampilkan sebaik mungkin, bahkan Marcelino dan Randy langsung berpikir bahwa rencananya Yoora akan berhasil. Mereka terlalu meremehkan Arka. Ingat ya, merendahkan artinya menyerahkan diri pada lawan!


Pertemuan pun akhirnya selesai, Marcelino kembali lagi ke kantornya, Randy membawa Yoora check in ke salah satu hotel bintang 5. Mereka akan bercinta memadu kasih, padahal tidak ada ikatan pernikahan di dalamnya.


Setelah satu jam bergulat di atas ranjang, Yoora segera membersihkan badannya, dan memakai pakaiannya kembali. Setelah rapi dia menghampiri Randy yang masih terbaring di ranjang, mengecup bibir Randy sekilas tanda perpisahan, karena Yoora langsung pergi untuk menemui orang yang akan membantunya menculik Kalista.


*****


Semenjak usia kandungan Kalista memasuki bulan ke 3, Kalista sudah tidak mual lagi dan bahkan sudah bisa makan nasi.


Namun ada yang beda dari Arka, setiap pagi Arka selalu merasa pusing, malas bangun pagi, malas mandi pagi, dan bahkan Arka sekarang lebih manja. Minta di kelonin pagi-pagi, suka cium-cium pipi Kalista setiap saat, ingin Kalista selalu memasak makanan kesukaannya. Padahal pas awal-awal tahu Kalista sedang mengandung Arka sama sekali tidak mengizinkannya untuk masak.


Memang sudah 3 hari ini Arka selalu begitu, Kalista berpikir bahwa Arka sedang tidak enak badan. Dan sempat berpikir akan membawanya ke dokter.


Hari ini pun begitu, mual pagi-pagi, keinginannya aneh-aneh. Masa pagi-pagi buta yang bahkan matahari pun masih bersembunyi, Arka minta buah kedondong. Kalista menatapnya heran, suami kesayangannya itu menghabiskan 4 buah kedondong dalam waktu 2 menit.


"Kamu nggak kerja hari ini?" Kalista sengaja membangunkan Arka dengan kalimat itu, habisnya Arka susah bangunnya dan 3 hari belakangan ini berangkat kerjanya jam 11:00 WIB terus.


Arka menggeliat di atas ranjang, menyibak selimut yang menutupi wajahnya. "Mau! Aku mau bangun, tapi berikan dulu kiss di bibirku." Ucapnya dengan senyuman manis miliknya.


Mau tak mau, akhirnya Kalista pun memberikan apa yang suaminya minta itu. Kalista tidak mau berdosa karena tidak menuruti kemauan suaminya.


Pagi yang hampir menjelang siang itu pun menjadi saksi bahwa dua insan ini sedang bercumbu bahkan deruan napasnya terdengar sangat memburu, mungkin satu diantara mereka kehabisan napas? Entahlah hanya mereka yang mengetahuinya.


Kiss dari istrinya itu cukup untuk membangkitkan energi Arka hari ini, begitu selesai bercumbu Arka langsung bangun dan segera membersihkan dirinya.


Kalista sibuk membereskan kamar, dan menyiapkan stelan kerja untuk Arka.


Rutinitas membereskan kamar memang sudah menjadi kebiasaan Kalista, kamar ini harus selalu Kalista yang membereskan dan membersihkannya. Para pelayan nggak boleh ikut campur, begitulah Kalista si keras kepala.


Pemandangan indah yang ada di kamar ini dan selalu di nantikan Kalista yaitu melihat tubuh atletis milik suaminya yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang masih meneteskan air.


Pandangan mata Kalista menyipit, Tuhan dengan segala caranya telah menciptakan sosok yang sangat sempurna. Kalista selalu tergoda dan bahkan sangat tergiur oleh tubuh tegap laki-laki yang sudah beberapa bulan ini resmi menjadi suaminya.


Langkah kakinya bergerak maju, begitu sudah dekat Kalista langsung membentangkan tangannya lalu memeluk Arka. Memainkan jari-jarinya yang lentik di dada Arka, menjelajahinya dan membentuk garis-garis yang tidak jelas.


"Aku nggak masuk kerja deh hari ini." Arka membalas pelukan istrinya, malah pelukannya semakin bertambah erat. Mengusap rambut indah milik istrinya. Kepalanya menunduk, lalu mata mereka saling bertemu.


Kamar ini memang memiliki akses untuk cahaya matahari masuk, sinarnya menerpa wajah Kalista dan Arka. Kalista berjinjit menatap manik mata suaminya, sudut bibirnya terangkat naik. Mungkin jika saat ini ada seseorang yang mengambil gambar atau mengabadikan, momentnya sangat pas dan pose alami mereka juga sangat bagus.


"Kenapa nggak masuk kerja?" Kalista mengalungkan tangannya di leher Arka, tetesan air di rambutnya mengenai tangan Kalista.


Arka menatap Kalista gemas. Istrinya itu memang sangat memukau, bahkan Arka merasa jatuh cinta setiap harinya.


"Nggak tega ninggalin istri yang cantiknya nggak pernah luntur." Ucapnya dengan senyum mengembang.


Tiba-tiba pintu terbuka begitu saja, di ambang pintu pak Anggara berdiri kaku. Matanya membulat sempurna dan mulutnya sedikit menganga. Terlihat olehnya, anak dan menantunya itu sedang mematung dan saling bertatap-tatapan.


"Maaf ganggu!" Pak Anggara langsung menutup pintu, dan berlalu begitu saja.


Kalista yang ke-gep sama ayah mertuanya itu, langsung mendorong tubuh Arka agar menjauh dari dirinya. Mukanya terlihat memerah.


"Kamu sih!" Ujarnya canggung sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kok nyalahin aku? Padahal tadi siapa coba yang sengaja nyamperin aku sampai meluk-meluk segala." Arka meledek Kalista, dan terkekeh geli mentertawakan istrinya.


Kalista kembali menghampiri Arka, di jawilnya hidung mancung suaminya. "Cepat pakai baju! Nanti masuk angin!"


"Kalau masuk angin, kamu kerokin aku aja."


"Ogah!" Kalista langsung melangkahkan kakinya keluar kamar.


Setelah selesai memakai baju, menata rambutnya, dan memakai dasi. Arka pun menyusul Kalista ke meja makan. Mereka makan berdua, karena Arka bangunnya siang jadi Oma dan pak Anggara sudah makan lebih dulu.


"Pelayan beli beras merk apa sih? Murah apa ya bau banget!" Arka menyataukan ibu jari dan telunjuknya untuk menjepit hidungnya, berharap agar aroma nasi tidak tercium dan masuk melalui rongga hidung.


Kalista sibuk mengunyah makanannya, dia sama sekali tidak menghiraukan gerutuan Arka. Piring makannya telah kosong, Kalista bangkit dan segera memindahkan nasi yang ada di meja makan, agar Arka dapat menikmati dan berselera makan.


Semalam Kalista chatting via WhatsApp, bertanya pada dokter Fani mengenai apa yang akhir-akhir ini Arka keluhkan. Awalnya Kalista sangat khawatir, takut suaminya sakit. Tapi ternyata suaminya mengalami morning sickness.


Morning sickness yang biasanya dialami Kalista kini telah berpindah pada suaminya, pantas saja Kalista sudah mulai bersahabat dengan nasi, dan sudah tidak mengalami muntah-muntah dan mual di pagi hari.


"Mau makan apa suamiku?"


"Makan kamu boleh nggak sih?" Ucapnya dengan seringai.


"Jangan ngaco! Cepat mau makan apa?" Ketus Kalista.


"Sosis bakar saus tomat yang dimasak langsung oleh istriku." Sahut Arka.


"Baiklah suamiku."

__ADS_1


Kalista bergegas ke dapur, membakar sosis sesuai kemauan suaminya. Sementara Arka masih duduk di kursi meja makan, matanya sibuk menatap layar ponsel mengecek agendanya hari ini.


15 menit berlalu, sosis bakar saus tomat pun telah tersedia di meja makan. Arka memakannya dengan lahap.


Kalista memperhatikannya, senyumnya muncul seketika. Kalista sangat paham bagaimana rasanya orang yang mengidam ketika memakan sesuatu yang sangat di inginkannya. Selama ini Arka selalu menuruti apa yang Kalista mau, kini giliran Kalista menuruti kemauan Arka.


"Terimakasih istriku." Arka menatap Kalista dengan tatapan lembut.


"Hari ini aku akan sangat di sibukkan oleh kerjaan, ada rapat penting dan ada janji temu juga dengan klien. Perusahaan lagi mengalami sedikit masalah. Mungkin aku pulang larut malam, tapi aku akan menyelesaikannya dengan cepat."


"Iya nggak apa-apa, jangan khawatirkan aku. Aku akan selalu di rumah menunggu kepulangan suamiku, semangat kerja ya sayang." Ujar Kalista yang kini berdiri di samping Arka.


Arka masih enggan masuk ke dalam mobil, padahal pak Jaka telah menunggunya. Aku menatap manik mata Kalista, ada rasa tidak rela untuk meninggalkannya.


"Kamu bisa nggak ikut aku ke kantor? Temani aku gitu?" Arka masih terus menerus menatap Kalista, ada rasa cemas dan khawatir yang berlebihan mengganjal di hati dan pikirannya.


"Nggak! Nanti kamu malah nggak fokus kerjanya, aku nunggu di rumah dan akan selalu baik-baik saja. Sayang semangat ya kerjanya." Kalista mengecup pipi Arka, lalu membawa telapak tangan Arka untuk menyentuh perutnya.


Arka menghembuskan napasnya pasrah, menarik tangan istrinya, sehingga badan mereka pun menyatu dan berdempetan. Arka mendekap Kalista sangat erat, seolah-olah mereka akan berpisah untuk beberapa saat.


Kalista bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya. Kalista bertanya, namun Arka pun tidak tahu jawabannya. Saat ini Arka hanya ingin berada di dekat Kalista, dan tidak mau kehilangan Kalista.


Tangan Kalista dengan lincahnya mengusap punggung Arka, menenangkannya. Arka mencium kening Kalista, mengecup puncak kepalanya, dan yang terakhir mengobrol dengan janin yang berada di perut Kalista.


Dengan berat hati Arka pun masuk ke dalam mobil, dari kaca mobil saja Arka masih terus menerus menatap Kalista. Ada rasa sesak di hatinya, entah ini apa? Atau mungkin sebuah firasat?


"Semoga istriku selalu dalam lindunganmu ya Allah." Arka bergumam dalam hatinya.


Sepanjang perjalan menuju kantor, Arka habiskan dengan melamun. Pikiran-pikiran negatif sangat menggangu hati dan batinnya.


Begitu sampai di kantor, Arka langsung di sibukkan oleh pekerjaan kantor yang sangat menumpuk. Sejumlah dokumen dan berkas-berkas untuk di tandatangani telah menumpuk di meja kerjanya.


Gina sibuk mengurus berkas-berkas yang memang di perlukan untuk rapat penting hari ini. Ada beberapa strategi untuk mengatasi masalah yang akan di bahas dalam rapat nanti. Gina bolak balik ke ruangan Arka untuk meminta Arka mendatangani berkas yang di perlukan untuk rapat.


Andy pun sama sibuknya, dirinya masih terus berkutat di depan komputer kerjanya.


"Gin janji temu dengan klien jam berapa?" Tanya Arka, tetapi matanya masih tetap berfokus pada dokumen yang sedang di tandatanganinya.


"Jam 5 sore pak." Jawab Gina.


Arka mendongakkan kepalanya, merasa aneh dan heran mengapa kliennya meminta ketemu di sore hari. "Kenapa janji temu harus di jam pulang ngantor sih?" Gerutu Arka dengan wajah jengahnya.


Energi Arka memang cukup terkuras untuk hari ini, wajah lelahnya sangat terlihat jelas.


Rapat telah selesai, berjalan sesuai dengan rencana. Tidak banyak karyawan yang berdebat, semua strategi yang Arka keluarkan langsung di setujui oleh para karyawan.


Gina di bantu Andy langsung menyusun laporan hasil rapat. Mereka menyelesaikannya bersama-sama.


Sementara itu di kediaman Anggara, setelah Arka berangkat kerja. Kalista langsung membersihkan badannya. Hari ini Kalista memakai dress rumahan ala-ala bumil. Dress berwarna merah muda ini terlihat sangat cocok di kulit mulus Kalista, di tambah lagi perutnya yang menyembul semakin memancarkan aura cantiknya.


Karena tidak ada kegiatan, Kalista memilih untuk bersantai sejenak di taman di belakang rumahnya. Beberapa pelayan menemaninya, tidak tahu saja Kalista bahwa pelayan-pelayan itu memang di suruh Arka untuk selalu mengawasi kegiatan istrinya.


Duduk-duduk santai di taman, sambil melihat bunga-bunga mawar yang telah bermekaran, sangat memanjakan mata. Kalista adalah orang yang rendah hati, dia sama sekali tidak pernah memandang rendah para pelayannya. Bahkan Kalista sering berinteraksi dan berbincang-bincang dengan para pelayannya, tak jarang pula Kalista memberikan bonus, karena kinerja mereka cukup memuaskan.


Mereka bercanda tawa ria di taman belakang, sambil menikmati beragam cemilan dan segelas jus jeruk. Yang menikmati cemilan bukan hanya Kalista, tetapi para pelayan juga. Awalnya mereka sungkan, tetapi Kalista selalu memaksa.


Sebenarnya menurut Kalista, pelayan di rumah ini tuh terlalu banyak. Tapi perintah Arka sama sekali tidak bisa di ganggu gugat, demi keselamatan Kalista lah, demi bayinya dan agar Kalista tidak kecapean.


Rasa kantuk mulai menyerang Kalista, dia meringkuk di ranjangnya hingga tertidur. Dua jam sudah Kalista terlelap, langit pun bahkan sudah menjadi kembali cerah, hujan dan petirnya tidak jadi datang, atau mungkin sebenarnya hujan telah datang ketika Kalista tidur? Entahlah, ranting-ranting dan dahan pohon di halaman rumah Anggara sama sekali tidak basah.


Kalista melirik ponselnya, waktu menunjukan pukul 15:00 WIB. Kalista bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, Kalista kebelet pipis. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada satu pesan WhatsApp dari suaminya.


"Sayang, temui aku sekarang di jalan XX, aku menunggumu dan aku sangat mencintaimu. Aku punya kejutan untukmu, datanglah sendirian jangan membawa sopir ataupun bodyguard." Begitulah isi pesannya.


Kalista membaca pesan itu berulang-ulang, benarkan suaminya? Biasanya suaminya selalu mewanti-wanti tentang keselamatannya, mengapa kali ini berbeda? Mengapa tidak boleh membawa sopir ataupun bodyguard.


Tanpa berpikir panjang, Kalista langsung memesan taksi online. Kemudian men-touch up make up seadanya. Hari apa ini? Kejutan? "Ah suamiku memang selalu bisa membuatku bahagia, romantis." Gumam Kalista sambil memoleskan lipstik di bibirnya.


Ketika Kalista keluar dari kamarnya, di bahunya tersampir tas kecil yang isinya adalah ponsel. Awalnya Kalista memakai sandal jepit, kemudian ganti menjadi flatshoes dengan warna senada dengan dress rumahan yang di kenakannya, itu adalah rekomendasi dari salah satu pelayannya.


Kalista melangkahkan kakinya, senyuman bahagia terpancar dari wajahnya. Oma dan pak Anggara hanya tersenyum saja, dan berpesan agar hati-hati di jalan.


Bahkan ketika Kalista keluar dari gerbang yang tinggi menjulang ini, para sopir dan bodyguard hanya tersenyum saja. Tidak ada yang melarangnya seperti biasa.


Kalista berpikir mungkin semuanya telah diatur oleh Arka.


Ternyata semuanya telah mendapat pesan WhatsApp dari Arka, mulai dari oma, pak Anggara, dan bahkan sopir dan para bodyguard pun telah di hubunginya.


Bersamaan dengan berangkatnya Kalista, di kantor sana ternyata Arka pun mendapatkan pesan dari Kalista.


My Wife❤


15:13 WIB


Aku di rumah baik-baik saja, semangat kerja ya sayang. Nanti pas pulang belikan aku makanan yang pedas-pedas.


Love you😘


Rasa lelah yang Arka rasakan seketika menghilang, istrinya di rumah baik-baik saja. Padahal dari pagi Arka merasakan tidak enak hati, seperti akan ada suatu kejadian. Tapi mungkin itu hanya firasat belaka.


Taksi telah berhenti sesuai dengan alamat tujuan. Kalista tidak begitu familiar dengan jalan ini. Kiri-kanan hanya ada pohon-pohon Pinus yang tinggi menjulang, cahaya matahari tidak pandai menembus rimbunnya daun Pinus. Jalanan ini sedikit lembap dan kurang pencahayaan, sunyi senyap plus mendung.


Sebelum turun dari taksi Kalista sempat menanyakan pada sopir taksi tersebut, kata sopir taksi memang benar ini alamatnya. Taksi pun berbalik arah dan meninggalkan Kalista, ada hawa takut menyusup ke relung hati Kalista.


Tiba-tiba ada satu tangan membekap mulutnya, lalu membawanya ke sebuah gedung tua yang tidak berpenghuni di sekitaran pohon Pinus itu.


Kalista meronta-ronta, berharap segera di lepaskan dan berharap pertolongan semesta. Ada satu tangan lagi yang mencoba menutup mata Kalista. Air mata telah berjatuhan membasahi pipinya.


Kalista di dudukan di kursi, tangannya di ikat ke belakang. Penutup matanya di buka.


Betapa kagetnya Kalista melihat orang yang sedang tersenyum di hadapannya, dia adalah Rangga dan Yoora.


"Hai, lama tak jumpa. Makin cantik aja ya." Tangan Rangga dengan bebasnya membelai pipi mulus Kalista.


Kalista tidak menanggapi ucapan Rangga, bagaimana bisa menanggapi mulutnya saja masih di bekap. Sorotan mata Kalista sudah menunjukan kemarahan. Kalista menatap Rangga dengan tatapan kebencian.


Yoora segera mendekat, tangannya menyentuh kulit tangan Kalista. "Wow mulus juga ya kulit lu, pantas saja si Arka langsung berpaling dari gue." Tiba-tiba Yoora mengeluarkan pisau kecil. "Kalau misalkan kulit mulus ini terkena goresan pisau dan meninggalkan bekas luka, kira-kira Arka masih cinta ga ya?"


Pisau telah menempel di kulit Kalista, namun Rangga segera merebutnya dan memasukkan kedalam tasnya.


"Jangan menyakitinya! Atau lu akan gue bunuh!" Bentak Rangga pada Yoora.

__ADS_1


Yoora pun mengalah, dan memilih berjalan mundur. Tanpa sepengetahuan Rangga, ternyata diam-diam Yoora tertawa dalam hatinya. "Nikmatin dulu tubuh wanita yang teramat lu cintai, karena pada akhirnya gue akan membunuh Kalista dan menghancurkan lu." Senyum sinis terpancar di bibirnya.


"Gue lepaskan lakban di mulut lu, tapi lu janji jangan berteriak ataupun berisik."


Kalista tidak mampu menjawab, dan tidak pula menganggukkan kepalanya. Satu-satunya yang mampu ia keluarkan adalah air mata!


Rangga dengan sangat hati-hati melepaskan lakban dari mulut Kalista, mengusapnya lembut. Lalu menawarkan sebotol air mineral.


"Minum dulu nih! Maaf membuatmu kaget." Ucapnya dengan sopan dan perlakuannya sangat lembut.


Namun sayang, Kalista sudah tidak bisa melihat kelembutan hati Rangga. Justru sekarang Kalista sangat-sangat membenci Rangga.


"Ini nggak di racun loh!" Tawarnya lagi.


Boro-boro ingin menanggapi ucapannya, Kalista malah mendelikkan matanya jengah, lalu mengalihkan pandangannya ke sebalah kanan, Kalista sama sekali tidak ingin melihat wajah Rangga.


"Kalian pikir setelah menculik gue, kalian bisa aman? Jangan mimpi! Suami gue bakalan datang nyelamatin gue. Dan kalian berdua bakal mendekam di penjara!" Suara Kalista meninggi dan penuh dengan emosi.


Hal itu malah membuat emosi Rangga terpancing, Rangga melemparkan botol air mineral itu ke dinding yang sudah usang.


"Mau lu apa sih? Gue udah baik-baik sama lu, gue udah perlakukan lu dengan lembut. Sekarang mau lu apa sih?" Rangga memencet kedua pipi Kalista, saking kencangnya bahkan sampai meninggalkan lebam di pipi Kalista.


"Datang nyelamatin lu! Nih lihat suami lu sedang bersama wanita lain." Yoora memperlihatkan ponselnya, di sana ada Arka yang sedang duduk, kemudian ada seorang wanita seperti akan memeluknya. Kalau di lihat sekilas wanita itu memang seperti memeluk Arka, tapi mata Kalista melihat kejanggalan di foto itu.


"Terus gue percaya sama foto sampah kaya gitu? Kalian pikir gue orang bodoh? Sorry ya IQ gue jauh lebih tinggi diatas lu!" Bentak Kalista pada Yoora.


"Benarkah begitu? Ya sudah kita tunggu kapan suamimu akan datang." Yoora tersenyum mengejek.


"Gue mau pulang! Gue nggak mau berada disini bersama setan laknat kaya kalian!" Teriak Kalista dengan lantang, emosinya mendadak memuncak.


"Plaaaak!" Satu tamparan mendarat di pipi Kalista, itu di lakukan oleh Rangga.


Darah segar mengucur dari dalam mulut Kalista, Rangga merasa panik dan menyesali perbuatannya.


"Sayang maaf." Mencoba mengusap pipi Kalista, namun Kalista segera menjauhkan kepalanya dari tangan Rangga.


Yoora menatap nanar pada Kalista, senyum sinis penuh seringai selalu terpancar dari wajahnya. "Dua makhluk bodoh, yang satu gampang di percaya, dan satu lagi emosian." Batinnya bersorak gembira.


Waktu terus berjalan, kini terdengar suara azan magrib. Itu artinya sekarang sudah jam 6 sore.


"Berapa bulan?" Tangan Rangga aktif mengelus perut Kalista di balik dress rumahannya itu.


"Lu tinggalin Arka! Nggak usah khawatir soal janin di perut lu, walaupun itu benihnya Arka, gue yang akan bertanggung jawab." Di kecupnya perut Kalista.


Kalista menangis semakin kencang, dan berharap semoga Arka segera datang menyelamatkannya.


"Gue lebih baik mati, daripada harus hidup satu atap sama iblis kaya lu Rangga!" Teriakan Kalista semakin kencang, sambil diiringi isak tangis.


"Tolong... Tolong.." Kalista berteriak sekeras mungkin, berharap semesta mendatangkan malaikat penolongnya.


"Arka.. tolong.."


"Hahahaha." Yoora tertawa terbahak-bahak, mentertawakan kebodohan Kalista. "Disini sangat sepi, dan jarang di lewati orang! Jadi percuma lu teriak-teriak, nggak bakalan ada yang nolongin lu! Yang ada juga suara lu makin habis."


Dress rumahan yang Kalista kenakan terlihat sangat menggoda di mata Rangga. Rangga berusaha mencoba mencium bibir Kalista, namun Kalista menolaknya dan mengatupkan bibirnya sangat rapat.


"Tidak masalah! Leher juga enak."


Lidah Rangga menari-nari dengan bebasnya menelusuri setiap inci leher Kalista, Kalista berontak, meronta-ronta dan selalu berteriak. Yoora berinisiatif membantu Rangga dengan cara melakban mulut Kalista.


Rangga menggunting dress bagian atas Kalista, sehingga terlihat jelas lah segumpalan daging yang tertutup kain itu. Rangga semakin bernafsu, bersusah payah menelan saliva nya.


Lelehan air mata terus menerus terjatuh dari mata Kalista, mata Kalista mulai lelah, tenangnya seperti terkuras habis. Mulutnya dan hatinya tak henti-hentinya memanggil Arka meminta tolong.


Yoora merekam aksi Rangga yang sedang menjelajahi dan menikmati leher mulus Kalista. Kemudian mengirimkannya kepada Marcelino dan Randy, beserta alamat dimana dirinya berada.


*Di kantor Anggara.


Arka baru pulang dari janji temu dengan klien. Kliennya kali ini terasa sedikit aneh, dan genit.


Arka segera merebahkan tubuhnya di sofa, rasa lelah telah mendominasi badannya.


Tiba-tiba ia terperanjat dan langsung terduduk. "Kalian dengar nggak ada suara yang manggil gue, minta tolong gitu?" Ucapnya sambil menatap kanan kiri ruangannya.


"Nggak dengar!" Gina.


"Iya nggak dengar, perasan lu aja kali." Ujar Andy.


Dada Arka terasa sesak dan sakit sekali. Bahkan suara orang memanggil namanya dan meminta tolong pun terasa terngiang-ngiang di telinganya.


Ponsel di saku jasnya berdering, Arka mengambilnya. Tertera di layar ponselnya "Oma"


"Ya hallo," Arka menempelkan ponselnya di telinga.


"Nak, kamu dan Kalista segera pulang ya! Oma sudah memasak makanan kesukaan kamu dan Kalista, nanti kalau keburu dingin kan nggak enak."


Ucapan omanya membuat Arka shock, tangannya gemetaran, dadanya terasa sangat sesak.


"Jangan becanda ma, Kalista kan di rumah!"


"Loh bukannya tadi sore kamu menyuruhnya menemuimu, bahkan kamu menyiapkan sopir agar Kalista tidak usah pergi bersama bodyguard, bahkan kamu juga mengirim pesan pada Oma, ayah, dan para bodyguard. Jangan berbohong!" Suara Oma pun tak kalah paniknya.


"Kalista nggak ada di sini! Berarti ponsel kita di retas!" Arka langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Arka beringsut dan terduduk di lantai ruangannya, tanpa sadar air mata sudah keluar dari bola matanya.


"Ponsel gue di retas, ponsel orang-orang rumah juga di retas. Kalista dimana sekarang?" Ucapnya frustasi dengan lelehan air mata yang telah membasahi pipinya.


Andy dan Gina sempat bengong untuk beberapa saat, kemudian Andy mencoba menenangkan Arka terlebih dahulu.


"Peretas yang sangat handal." Gumam Gina seraya memperhatikan ponsel Arka yang tergeletak di lantai.


"Istri gue dimana sekarang?" Arka berteriak frustasi, bahkan sampai menonjok tembok.


----------------------------------🌻🌻


Panjang lagi nih tulisannya, sepanjang jalan kenangan barengan mantan wkwk, nggak deh becanda😁 do'akan ya semoga ide-ide ajaib menghampiri kepala author😂🙏


Jangan lupa like dan coment yang banyak biar author semakin rajin up!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit! follow juga authornya!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2